RENCANA PENGEMBANGAN SPAM
B. Sistem Pelayanan Perdesaan
7.2.2. Pengembangan Wilayah Pelayanan
7.2.1.1. Rencana Pengembangan Kawasan Perumahan dan Pemukiman
Kawasan pemukiman adalah kawasan yang diperuntukkan bagi pemukiman atau dengan kata lain untuk menampung penduduk yang ada di wilayah Kabupaten Jepara sebagai tempat hunian dengan fasilitas sosialnya. Kriteria kawasan permukiman meliputi :
- Kesesuaian lahan dengan masukan teknologi yang ada - Kesediaan air terjamin
- Tidak terletak di kawasan tanaman pangan lahan basah dan aliran irigasi baik - Dominasi penggunaan lahan yang ada meliputi pemukiman pedesaan dan
perkotaan
- Pada wilayah yang akan dikembangkan untuk kawasan pemukiman, sudah terdapat beberapa tempat hunian/pemukiman dengan sarana fasilitasnya, sehingga dalam pengembangannya tinggal mengembangkan fungsi tersebut - Memperhatikan distribusi pusat kota dan jangkauan pelayanannya
- Memperhatikan arah pengembangan yang terjadi
- Merupakan kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan Ibukota Kecamatan (IKK)
Lokasi kawasan permukiman terdiri dari dua yaitu : 1. Permukiman Kota
Kawasan permukiman kota mencakup wilayah pengembangan kota (untuk Ibukota Kabupaten dan IKK baik, yang telah mempunyai RUTRK maupun belum). Kebijaksanaan pemanfaatan ruangnya didasarkan pada tujuan pengembangan sarana prasarana penunjangnya yang meliputi penataan ruang kota yang mencakup penyusunan dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) rencana tata ruang kota.
2. Permukiman Pedesaan
Kebijaksanaan pemanfaatan ruang permukiman pedesaan didasarkan pada tujuan untuk mengembangkan kawasan permukiman yang terkait dengan kegiatan budidaya pertanian yang meliputi pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan yang terdapat dalam KTP2D. Sedangkan, permukiman pedesaan diluar KTP2D mencakup perkampungan yang ada dan arahan bagi perluasannya.
Pengembangan permukiman kota dipengaruhi dua faktor penting, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan ekonomi memungkinkan tersedianya kesempatan kerja. Hal ini akan meningkatkan daya beli masyarakat yang kemudian akan menumbuhkan lagi kegiatan ekonominya yang secara kualitatif akan meningkatkan pula permintaan akan fasilitas-fasilitas kegiatannya. Pertumbuhan penduduk secara kuantitatif akan meningkatkan permintaan terhadap berbagai fasilitas seperti perumahan dan fasilitas lainnya.
Skenario pengembangan wilayah kota yang terbaru telah dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jepara, dengan jangka waktu 20 tahun, yaitu sejak tahun 2010 sampai dengan 2029. Dengan demikian skenario pengembangan kota yang dapat dijadikan acuan untuk pengembangan sistem penyediaan air bersih adalah selama 15 tahun.
Pada umumnya kawasan perumahan dan pemukiman di suatu kota sangat dominan dalam penggunaan lahan. Pertumbuhan kawasan perumahan dan permukiman (KPP) ini dalam rencana yang telah disusun dikembangkan ke arah lahan kosong yang sampai saat ini masih berupa sawah atau tanah basah.
ekstensif merupakan pemekaran kawasan yang biasanya dikembangkan oleh pengusaha (pengembang). Kedua pola ini akan menyebabkan rumah-rumah menjadi bersambung antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya. Pola intensif menyebar ke seluruh kota dimana lahan-lahan yang merupakan tanah pekarangan / kebun rumah dibangun untuk pemukiman. Pola ekstensif berupa kawasan perumahan yang dikembangkan oleh pengembang dilakukan Kecamatan Jepara dan Kecamatan Tahunan serta di beberapa wilayah ibukota kecamatan lain di Kabupaten Jepara. Rencana pengembangan kawasan permukiman penduduk akan lebih mengarah ke Kecamatan Jepara, Tahunan, Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan dan Welahan.
Wilayah yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan pembangunannya tinggi di wilayah Kabupaten Jepara, dilihat dari tingkat pelayanan sistem prasarana wilayahnya adalah sebagai berikut :
- Jalur Demak – Jepara – Pati, adalah pusat perkembangan utama dengan ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan dan perkembangan wilayah tinggi di Kecamatan Jepara, Welahan, Kalinyamatan, Pecangaan dan Tahunan.
- Wilayah perkembangan yang cukup mendukung perkembangan wilayah adalah jalur Kudus – Jepara – Pati yang melewati Kecamatan Nalumsari dan Mayong. Konsep dan strategi yang akan dikembangkan pada konsep pembangunan dengan pertumbuhan ini adalah :
1. Stategi pengembangan pusat-pusat pertumbuhan utama (Growth Pole), yaitu memberikan alokasi pembangunan pada pusat-pusat pertumbuhan, dalam hal ini kota-kota yang berperan sebagai pusat pertumbuhan, adalah kota-kota yang berpotensi dalam pengembangan wilayah sekitarnya seperti Kecamatan Jepara, Welahan, Kalinyamatan, Pecangaan dan Tahunan. Sebagai penggerak dalam percepatan pertumbuhan wilayah, maka alokasi kegiatan yang dapat diterapkan di wilayah ini adalah :
- Memberi kebijaksanaan untuk membangun kawasan-kawasan perdagangan dan jasa di wilayah ini, untuk mendukung kawasan-kawasan industri yang berada pada kawasan – kawasan potensialnya.
- Memberikan kebijaksanaan untuk membangun prasarana dan sarana yang menunjang peran sebagai pusat pertumbuhan industri dan dihubungkan dengan pusat-pusat perdagangan dan jasa, sehingga terjadi jaringan pertumbuhan antara kawasan industri dan kawasan pusat-pusat pertumbuhan utama.
2. Strategi untuk menyebarkan pusat-pusat pertumbuhan, yaitu untuk mengurangi kesenjangan dan masalah-masalah yang ditanggung oleh kota utama, dengan mendorong pembangunan juga dialokasikan di kota-kota sekitar kota utama dan kota hinterland-nya (termasuk desa pusat pertumbuhan). Salah satu cara adalah dengan memberikan kemudahan-kemudahan bagi investor untuk membangun tidak hanya pada pusat utama saja, tapi juga pusat sekitarnya yang lain maupun kota hinterland lainnya, juga program pembangunan prasarana dan sarananya. 7.2.1.2. Rencana Pengembangan Kawasan Industri
Umumnya pengembangan kawasan industri yang telah ada tidak dapat dikembangkan secara ekstensif. Hal ini terkait dengan harga tanah yang sangat mahal untuk dibangun pabrik-pabrik baru. Kawasan industri yang dikembangkan secara regional tumbuh di sekitar kota diluar wilayah administrasi Kabupaten Jepara.
Kawasan peruntukan industri adalah bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan industri berdasarkan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kriteria yang memenuhi persyaratan lokasi industri, adalah : - Terletak pada jalur arteri
- Memenuhi syarat secara geografis - Tersedia sumber air baku yang cukup - Adanya sistem pembuangan limbah
- Tidak terletak di kawasan tanaman pangan lahan basah yang beririgasi dan yang berpotensi untuk perkembangan irigasi
Berdasarkan RTRW Kabupaten Jepara Tahun 2010, rencana pengembangan industri dengan membentuk kawasan peruntukan sebagai berikut :
- Pembangunan sebuah kawasan industri di Mulyoharjo untuk mewadahi banyaknya industri yang ada di Kabupaten Jepara. Di KIM (Kawasan Industri Mulyoharjo) akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mewadahi untuk menunjang aktivitas industri.
- Industri kecil dan menengah yang sejenis disatukan dalam kawasan sentra-sentra industri.
Kecamatan Jepara (Desa Mulyoharjo), untuk industri ukir akar dan patung Kecamatan Pecangaan, untuk industri tenun ikat Troso (Desa Troso)
Kecamatan Kalinyamatan, untuk industri kerajinan monel (Kriyan) dan emas Kecamatan Mayong, untuk industri kerajinan keramik
Kecamatan Welahan, untuk industri kerajinan anyaman rotan (Teluk Wetan) dan industri kue dan roti (Desa Bugo).