• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSENTASE TINGKAT PELAYANAN

B. RENCANA PENGEMBANGAN SPAM

Rencana Induk Pengembangan SPAM Kabupaten Bangka disusun untuk periode desain 15 tahun, yaitu 2015 – 2030. Perencanaan akan dibagi dalam 3 (tiga) tahap, yaitu :

 Program Pembangunan SPAM Tahap I Tahun 2015 s/d 2020.

Merupakan program pemenuhan kebutuhan air minum di wilayah Kabupaten Bangka sampai dengan tahun 2020. Dalam program Tahap I ini lebih difokuskan pada program rehabilitasi dan optimalisasi dan pengembangan sitem SPAM yang telah ada. Unit SPAM yang termasuk kedalam program pembangunan tahap I adalah:

- SPAM Kota Sungailiat (pelayanan kota Sungailiat dan sebagian kecamatan

Pemali)

- SPAM Kota Belinyu (pelayanan IKK Kota Belinyu).

- SPAM IKK Batu Rusa (pelayanan IKK Batu Rusa)

- SPAM IKK Bakam (pelayanan IKK Bakam)

- SPAM IKK Puding Besar (pelayanan IKK Puding Besar)

- SPAM IKK Mendo Barat (pelayanan IKK Mnedo Barat)

- SPAM IKK Riau Silip (pelayanan IKK Riau Silip

 Program Pembangunan SPAM Tahap II 2020 s/d 2025

Merupakan program pemenuhan kebutuhan air minum di wilayah Kabupaten Bangka sampai dengan tahun 2025, dengan program pembangunan unit SPAM baru dan peningkatan kapasitas SPAM untuk wilayah yang sudah memiliki fasilitas SPAM diseluruh wilayah Kabupaten Bangka.

 Program Pembangunan SPAM Tahap III Tahun 2025 s/d 2030

Merupakan program pemenuhan kebutuhan air minum di wilayah Kabupaten Bangka sampai dengan tahun 2030. Dalam program ini lebih kepada peningkatan kapasitas dan pelayanan SPAM.

3

33...222...333... SSStttrrraaattteeegggiii SSSaaannniiitttaaasssiii KKKaaabbbuuupppaaattteeennn BBBaaannngggkkkaaa (((SSSSSSKKK))) 222000111777---222000222111

Visi Sanitasi Kabupaten Bangka adalah “Bangka 2019; Sehat Air dan Sehat

Lingkungan”. Kata Sehat Air mengandung makna tersedianya air minum dan air bersih dengan kuantitas dan kualitas yang memenuhi standar kesehatan yang disertai perubahan perilaku masyarakat untuk mengadopsi konsep pembangunan

berkelanjutan dan kelestarian sumberdaya alam. Kata Sehat Lingkungan

mengandung makna terciptanya kondisi lingkungan yang bersih dan sehat yang disertai perubahan perilaku masyarakat dalam mengadopsi konsep pola hidup bersih dan sehat.

Misi Sanitasi di dalam RPJMD Kabupaten Bangka dipenuhi melalui misi Mewujudkan Kabupaten yang Sejahtera. Misi Sanitasi Kabupaten Bangka dituangkan dalam bentuk yang lebih konkrit pada setiap sub sektor sanitasi yaitu sub sektor air limbah domestik, sub sektor persampahan dan susb sektor Drainase.

Keterkaitan antara Visi dan Misi Kabupaten Bangka dengan Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Bangka dapat dilihat pada table 3.14 dibawah ini.

Tabel 3.14

Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Bangka Visi Kabupaten Bangka Misi Kabupaten Bangka Visi Sanitasi Kabupaten Bangka

Misi Sanitasi Kabupaten Bangka Bangka Bermartabat” Mewujudkan Kabupaten Bangka yang Sejahtera “Bangka 2019; Sehat Air dan Sehat Lingkungan”

Air Limbah Domestik

1. Peningkatan kuantitas dan kualitas Sarana dan Prasarana air limbah yang berwawasan lingkungan

Visi Kabupaten Bangka Misi Kabupaten Bangka Visi Sanitasi Kabupaten Bangka

Misi Sanitasi Kabupaten Bangka

Persampahan

2. Peningkatan kuantitas dan kualitas sarana, prasarana dan pelayanan persampahan

Drainase Perkotaan

3. Peningkatan sarana, parasarana dan pelayanan drainase pada kawasan terbangun dan kawasan rawan genangan.

Secara umum pentahapan pengembangan sektor sanitasi ini diturunkan dari issue- issue dan strategis sanitasi kota. Sedangkan issue strategis yang dirumuskan dari berbagai permasalahan baik dari faktor strategis internal dan eksternal juga memiliki keterkaitan yang erat dengan misi-misi yang sudah ditetapkan di atas. Dengan demikian ada hubungan korelasional yang kuat antara misi, issue strategis dan pentahapan pengembangan sanitasi Kabupaten Bangka.

A

AA... SSSuuubbb SSSeeekkktttooorrr AAAiiirrr LLLiiimmmbbbaaahhh DDDooommmeeessstttiiikkk

Sistem pengelolaan limbah cair yang ada di Kabupaten Bangka sistem yang diterapkan adalah dengan mengelompokan limbah cair, dalam 2 kelompok yaitu cairan limbah domestik dan non domestik. Pengelolaan limbah cair domestik direncanakan dengan sistem terpadu yang pengalirannya melalui sistem jaringan pipa pengumpul dan penyalur limbah cair untuk selanjutnya disalurkan menuju ke instalasi pengolahan limbah domestik. Penngelolaan limbah cair non domestik diusulkan untuk menggunakan sistem individu, kecuali pada kondisi dimana karakteristik limbah cair non domestik mempunyai karakter yang sama dapat dilakukan terpusat.

Daerah yang tercakup dalam sistem pengelolaan limbah cair mengikuti rencana tata ruang pada tahun perencanaan dan sub-sub wilayah pengembangan yang bersangkutan dan sub-sub wilayah pengembangan kemudian ditentukan blok-blok pelayanan.

Sedangkan timbulan limbah yang dihasilkan dan tiap jenis kegiatan dan masing- masing sub wilayah pengembangan tergantung dari standar rata-rata pemakaian air, faktor reduksi limbah cair dan luasan masing-masing kegiatan.

Faktor reduksi air bersih menjadi limbah cair merupakan acuan yang digunakan dalam memperkirakan besarnya limbah cair yang akan dibuang setiap harinya. Melihat hal ini penetapan beberapa faktor reduksi yang digunakan dalm perencanaan menjadi penting. Rujukan yang sering digunakan dalam menetapkan faktor reduksi biasanya berdasarkan kajian literarur yang besarnya 0,6-0,8.

Kriteria yang harus dipenuhi dalam perencanaan sistem jaringan pengumpul limbah cair adalah sifat aliran limbah cair didalam saluran merupakan sifat aliran dalam saluran terbuka dimana tinggi aliran berkisar antara 0.4-0.8 dan diameter saluran dan kecepatan aliran antara 0.6-2.5m/detik. Bila tinggi aliran kurang dari 5 cm dan kecepatannya kurang dari 0.6 m/detik, maka perlu dilakukan penggelontokan untuk menghindari pengendapan. Pengaliran diupayakan menggunakan energi grafitasi dilakukan pemompaan.

Saluran pembuangan limbah kawasan Kota Sungailiat dimaksudkan pada pembuangan limbah cair. Pembuangan air limbah menyangkut pembuangan air kotor rumah tangga (air cucian dan buangan WC), perdagangan dan jasa termasuk juga limbah industri.

Besarnya buangan limbah di kawasan Kota Sungailiat harus diantisipasi dengan baik supaya tidak mengganggu keseimbangan lingkungan disamping juga untuk mendukung rencana komprehensif kawasan Kota Sungailiat sebagai Pusat Primer Kecamatan Sungailiat. Penanganan buangan limbah Kota Sungailiat direncanakan sebagai berikut :

1. Pemeliharaan dan pengoptimalan fungsi saluran air kotor yang ada di kawasan Kota Sungailiat.

2. Pembuatan jaringan air limbah terpadu yang menuju pada satu pusat Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Utama sesuai dengan arahan RTRW Kabupaten Bangka 2010-2030.

3. Pembuatan Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) khusus yang dimaksudkan untuk mengelola limbah tinja penduduk agar prosesnya tidak merusak dan mencemari lingkungan.

4. Pembuatan jaringan pembuangan limbah/air kotor mikro yang melayani buangan limbah kawasan permukiman, perdagangan dan jasa, dan sarana lainnya untuk kemudian dialirkan menuju saluran buangan utama dan berakhir di IPAL atau IPLT.

5. Pembuatan jaringan pembungan limbah/air kotor secara mandiri oleh industri yang kemudian salurannya dialirkan ke saluran buangan utama yang berakhir di IPAL atau IPLT.

B

BB... SSSuuubbb SSSeeekkktttooorrr PPPeeerrrsssaaammmpppaaahhhaaannn DDDooommmeeessstttiiikkk

Dalam upaya mencapai target sanitasi persampahan jangka menengah 50% sampah terangkut ke TPA, 10% sampah tereduksi melalui 3R, mengurangi sampah dikelola mandiri oleh masyarakat hingga 30% dan mengurangi sampah yang tidak terolah hingga 10% maka Zona Pengembangan Persampahan Domestik Kabupaten Bangka dibagi ke dalam 3 bagian yaitu Prioritas Daerah Central Business District (CBD) atau Pusat Perdagangan dan Jasa meliputi Kecamatan Sungailiat Kelurahan Srimenanti dan Kelurahan Sungailiat, Kecamatan Pemali Kelurahan Air Ruai dan Desa Karya Makmur; Prioritas Daerah Urban yaitu Kecamatan Sungailiat meliputi Kelurahan Kenanga, Kecamatan Pemali meliputi Desa Air Duren, Kecamatan Puding Besar meliputi Desa Puding Besar dan Kecamatan Mendo Barat meliputi Desa Kace Timur; Non Prioritas Daerah Urban yaitu Kecamatan Belinyu meliputi Kelurahan Air Jukung dan Kelurahan Bukit Ketok.

C

CC... SSSuuubbbssseeekkktttooorrr DDDrrraaaiiinnnaaassseee LLLiiinnngggkkkuuunnngggaaannn

Secara umum permasalahan drainase yang terjadi hampir di setiap kabupaten /kota di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hampir relatif sama yaitu;

Saluran drainase pengumpul (minor drainage) berfungsi sebagai pengumpul air hujan yang berasal dari blok-blok daerah permukiman, komersial, industri dan saluran di tepi jalan, saluran drainase jenis ini berupa saluran buatan.

b. Saluran drainase utama (major/main drainage)

Saluran ini berfungsi sebagai saluran penyalur air hujan yang berasal dari saluran drainase pengumpul. Saluran jenis ini adalah saluran-saluran alami (sungai) dan saluran buatan besar yang berfungsi membawa air hujan ke laut. Mengingat daerah yang dilayani lebih luas, maka saluran drainase utama akan mempunyai dimensi yang lebih besar daripada saluran drainase pengumpul.

Sistem jaringan drainase sebagian besar terdapat di pusat-pusat kegiatan di sepanjang jalan utama. Sedangkan di luar pusat kabupaten dan daerah umumnya menggunakan sistem jaringan drainase alami yang sebagian besar masih berupa tanah serta dalam keadaan dangkal (tertutup tanah). Sistem drainase di wilayah ini kondisinya masih belum memadai, yang umumnya kondisi salurannya terputus dan belum menunjukkan suatu jaringan yang terpadu dan terpola.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa lokasi yang sistem drainasenya tidak berfungsi sebagaimana mestinya sebagai akibat rusaknya saluran drainase yang ada atau terjadinya penutupan saluran, bahkan di beberapa daerah masih belum terdapat jaringan ini. Kondisi ini menyebabkan limpasan air hujan terutama di daerah yang belum terdapat saluran drainase, air hujan secara alami dialirkan menurut kemiringan tanah. Keadaan ini menyebabkan terjadinya gerusan ataupun erosi di beberapa tempat terutama di daerah yang mempunyai tingkat kemiringan lereng sedang – tinggi, serta rawan terhadap timbulnya genangan-genangan akibat arus pembuangan air hujan yang kurang lancar atau debit air hujan yang melebihi daya tampung saluran drainasenya. Untuk menghindari terjadinya genangan pada saat musim hujan perlu dilakukan pengembangan sistem jaringan drainase yang berhierarki dan terpadu dengan penanganan secara menyeluruh.

Untuk keperluan pengembangan, perlu direncanakan suatu jaringan drainase yang baik. Dalam perencanaan sistem drainase Kabupaten Bangka diharapkkan tercipta

suatu pola drainase yang memenuhi persyaratan teknis dan memberi keuntungan ekonomis dalam pelaksanaan fisik konstruksi, operasi maupun pemeliharaannya.

Untuk perencanaan drainase mengingat jumlah ketersediaan air yang sangat terbatas perlu disarankan sedapat mungkin dengan cara mengelola air di permukaan sehingga tidak menimbulkan kerugian, baik di musim hujan maupun kemarau. Hal ini umumnya dilakukan dengan kegiatan “source control”, yaitu meredam puncak daerah aliran sumbernya misalnya dengan membuat kolam sehingga besarnya dimensi saluran drainase dapat diperkecil. Penempatan kolam dapat dikombinasi dengan taman dan hijauan kabupaten sehingga diperoleh manfaat yang maksimal. Mengingat air yang di tampung di dalam kolam dapat di manfaatkan untuk kegunaan yang sesuai misalnya penyiraman taman kabupaten dan sebagainya.

Jaringan pembuangan air hujan menampung air permukaan dari jalan, atap bangunan, air buangan wastafel, dan halaman. Jaringan pembuangan air hujan terdapat di pinggir trotoar yang berbatasan dengan pagar halaman. Terdapat dua tipe jaringan pembuangan air hujan yaitu pembuangan jaringan air hujan terbuka dan tertutup. Jaringan pembuangan air hujan direncanakan terbuka, kecuali apabila terdapat persimpangan dengan kebutuhan jalan dapat dipakai jaringan tertutup.

Perencanaan sistem jaringan drainase di Kabupaten Bangka dibutuhkan pembangunan dan peningkatan kualitas sistem jaringan infrastruktur drainase di beberapa kawasan yang menjadi prioritas untuk mengurangi wilayah genangan dan mengendalikan banjir. Pembangunan jaringan sistem drainase tersebut yaitu diantaranya :

 Pembangunan saluran drainase sepanjang 48.000 m di Kabupaten Bangka.

 Pembangunan saluran drainase pada kawasan permukiman perkotaan di

Kecamatan Sungailiat.

 Pembangunan saluran drainase sepanjang 1.000 m di Kelurahan Kuto Panji.

 Pembangunan saluran drainase sepanjang 500 m dan saluran induk sepanjang 100 m di Kelurahan Air Jukung Kecamatan Belinyu.

 Pembangunan saluran drainase Desa karya Makmur sepanjang 1.000 m.  Pembangunan saluran drainase Sudirman – Jelitik sepanjang 1.000 m .

 Lanjutan peningkatan saluran drainase primer Sungai Keladi Belinyu sepanjang 200 m.

 Lanjutan peningkatan saluran drainase primer Jln. A. Yani Perumahan Taman Pesona Bangka - Jln. Jend. Sudirman sepanjang 900 m.

 Lanjutan peningkatan pasangan talud drainase primer Pasar - Sungai Berok Belinyu sepanjang 1.000 m.

 Rehabilitasi dan pemeliharaan saluran drainase dalam Kota Sungailiat sepanjang 500 m.

 Rehabilitasi saluran drainase sepanjang 25.000 m di Kabupaten Bangka.

 Rehabilitasi saluran drainase permukiman di Kampung Nelayan Kecamatan Sungailiat.

 Rehabilitasi saluran drainase jalan di Kelurahan Parit Padang Kecamatan Sungailiat.  Normalisasi saluran drainase Merawang sepanjang 1.000 m.

 Normalisasi saluran drainase SPBU Kenanga 1.000 m.

 Pemasangan 20 unit gorong-gorong di Kelurahan Kenanga Kecamatan Sungailiat.

3

33...222...444 AAArrraaahhhaaannn PPPeeennngggeeemmmbbbaaannngggaaannn RRReeennncccaaannnaaa TTTaaatttaaa BBBaaannnggguuunnnaaannn dddaaannn LLLiiinnngggkkkuuunnngggaaannn (((RRRTTTBBBLLL)))

Adapun program beserta target, pola pengelolaan, penanganan dan kontribusi pemerintah daerah di sektor tata bangunan dan lingkungan adalah sebagai berikut: Program Penataan Bangunan Gedung

1. Penguatan Kelembagaan Pengawasan Konstruksi Dan Keselamatan Bangunan

Gedung a. Target:

- Tindak lanjut UU Bangunan Gedung sampai dengan tingkat

kabupaten/kota b. Pola Pengelolaan:

- Diseminasi produk pengaturan bangunan gedung

- Peningkatan pemantapan kelembagaan BG

- Pelatihan-pelatihan teknis

c. Penanganan:

d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Melakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam memenuhi ketentuan bangunan gedung

- Operasional Tim Pengendalian BG

2. Dukungan Prasarana Dan Sarana Pusat Informasi Pengembangan Permukiman Dan Bangunan (PIP2B)

a. Target:

- Diprioritaskan pada kab/kota dengan penduduk 100-150 ribu dengan penangan tuntas

b. Pola Pengelolaan:

c. Penanganan:

- Bantuan teknis percontohan pendataan bangunan gedung dalam rangka

mendukung tertib pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung

- Bantuan teknis pembentukan sistem informasi bangunan gedung

d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Mempersiapkan kelembagaan yang menangani pendataan

- Menyusun dan menyempurnakan program computer untuk sistem

informasi bangunan gedung

- Melakukan pendataan bangunan gedung

- Melakukan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pendataan bangunan gedung

3. Percontohan Aksesibilitas Bangunan Gedung a. Target:

- Diprioritaskan pada bangunan umum dan bangunan pemerintah

- Mendukung tersedianya bangunan gedung umum yang dilengkapi

fasilitas dan aksesibilitas

b. Penanganan:

- Bantuan Teknis percontohan aksesibilitas c. Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Melakukan pengendalian pengawasan pemenuhan persyaratan

4. Penyusunan Rencana Teknis - Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK)

a. Target:

- Target lokasi mengacu pada RTRW

- Sesuai dengan kondisi, kebijakan, dan kebutuhan berdasarkan tingkat resiko kebakaran

b. Pola Pengelolaan:

c. Penanganan:

- Bantuan teknis penyusunan RISPK dalam mendukung skenario

pengembangan sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

- Membuat perda tentang pengamanan kebakaran

- Memberikan bimbingan, penyuluhan dan pelatihan

- Menyusun Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK)

Program Penataan Gedung & Rumah Negara

1. Program Rehabilitasi Bangunan Gedung Negara

2. Pengelolaan Bangunan Gedung Dan Rumah Negara

3. Bimbingan Teknis Pembangunan Gedung Negara

Program Penataan Lingkungan

1. Dukungan Prasarana Dan Sarana Untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan

Permukiman Kumuh Dan Nelayan a. Target:

i. Kawasan dengan luas 25-60 ha di Kota Strategis dan Metropolitasn

ii. Kota/Lokasi rawan bencana dengan prevalensi 4 kali/tahun iii. Kawasan kumuh di pusat kota, pusat kegiatan ekonomi kota

regional, dan kawasan kumuh nelayan

iv. Kepadatan Penduduk 200-750 jiwa/ha

v. Kepadatan Bangunan 100 unit/ha

b. Pola Pengelolaan:

c. Pendekatan: TRIDAYA

d. Penanganan:

i. Penyediaan PSD

ii. Peningkatan kualitas PSD

iii. Peremajaan kawasan: Land Sharing, Land Consolidation, Refunsionalisasi Kawasan, Review RTRK

iv. Rencana Tindak (CAP) Pemberdayaan Masyarakat, Rencana

Investasi Fisik, DED, Rencana Pembiayaan e. Kontribusi Pemerintah Daerah:

i. Fasilitasi pelaksanaan peningkatan kualitas lingkungan

permukiman kumuh

2. Dukungan Prasarana Dan Sarana Untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan

Permukiman Tradisional Dan Bersejarah a. Target:

i. Lingkungan permukiman dan bangunan tradisional, bersejarah, perdagangan, kelompok industri rumah tangga yang mempunyai ciri khas tertentu

ii. Lingkungan permukiman dan bangunan yang berciri heritage/pusaka

b. Pola Pengelolaan: c. Penanganan:

i. Mengendalikan dan mengembangkan lingkungan untuk

menemukan kembali potensi yang dimiliki

ii. Meningkatkan kualitas lingkungan yang selanjutnya berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan hidup penghuninya d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

i. Rencana tindak dalam Rencana Jangka Menengah Revitalisasi Bangunan dan Lingkungan Tradisional-Kawasan, rencana pembiayaan dan rencana komunitas

ii. Surat Keputusan Bupati mengenai rencana tindak iii. Detail Architectural and Engineering Design (DAED)

iv. Kontribusi dana yang terpadu antara Pemerintah

Kabupaten/Kota, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Pusat maupun Swasta/Masyarakat

3. Dukungan Prasarana Dan Sarana Untuk Revitalisasi Kawasan Strategis a. Target:

i. Kawasan yang secara sosial-budaya perlu dihidupkan kembali

ii. Kawasan yang secara ekonomi pernah dan mempunyai potensi

untuk dikembangkan b. Pola Pengelolaan: c. Penanganan:

i. Menghidupkan kembali lingkungan yang telah mati, pada masa silam pernah hidup

ii. Mengendalikan dan mengembangkan lingkungan untuk

menemukan kembali potensi yang dimiliki

iii. Meningkatkan kualitas lingkungan yang selanjutnya berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan hidup penghuninya d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

i. Rencana tindak dalam Rencana Jangka Menengah Revitalisasi Bangunan dan Lingkungan Tradisional-Kawasan, rencana pembiayaan dan rencana komunitas

ii. Surat Keputusan Bupati/Walikota mengenai rencana tindak iii. Detail Architectural and Engineering Design (DAED)

iv. Kontribusi dana yang terpadu antara Pemerintah

Kabupaten/Kota, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Pusat maupun Swasta/Masyarakat

4. Penyusunan Rencana Teknis - Penyusunan Rencana Tata Bangunan Dan

Lingkungan (RTBL) a. Target:

i. Luas daerah perencanaan 30-60 ha

b. Pola Pengelolaan:

i. Berorientasi aspek kemampuan daya dukung social, budaya dan lingkungan

ii. Melibatkan peran masyarakat

iii. Berdasarkan pola efektivitas pemanfaatan ruang

iv. Kejelasan kelembagaan pengelola dan pemantau pelaksanaan c. Penanganan:

i. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

5. Penyusunan Rencana Teknis - Ruang Terbuka Hijau (RTH)

a. Target:

i. Ruang terbuka yang pemanfaatannya diisi dengan

tanaman/tumbuhan alami secara alamian ataupun budidaya b. Pola Pengelolaan:

i. Perencanaan RTH dilakukan sebagai bagian dari RTR Kota

ii. Rencana dan rancangan RTH merupakan penjabaran dari

RTBL/Rencana Teknik Ruang Kawasan c. Penanganan:

i. Bantek Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) ii. Arahan, lokasi, ukuran, fungsi, jenis tanaman iii. Prasarana dan sarana pendukung

d. Kontribusi Pemerintah Daerah:

i. Produk rancang bangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) disahkan

oleh Kabupaten/Kota

Program Pemberdayaan Masyarakat Di Perkotaan

1. Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (Paket)

2. Replikasi Pemberdayaan Masyarakat

3

33...222...555 AAArrraaahhhaaannn PPPeeennngggeeemmmbbbaaannngggaaannn KKKaaawwwaaasssaaannn SSStttrrraaattteeegggiiisss CCCeeepppaaattt TTTuuummmbbbuuuhhh KKKaaabbbuuupppaaattteeennn BBBaaannngggkkkaaa

Berdasarkan masterplan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) Kabupaten Bangka maka arah pengembangan infrastruktur KSCT Minapolitan Teluk Kelabat Kecamatan Belinyu adalah Sistem Transportasi Terpadu yang mensinergikan semua jenis prasarana dan sarana tranportasi yang telah ada agar dapat melayani pergerakan ke segala arah. Dasar-dasar pertimbangan yang dipergunakan dalam menyusun Sistem Transportasi Terpadu adalah:

a. Pusat-pusat kegiatan/permukiman dan sub pusat yang ada harus terhubungkan dengan jaringan transportasi massa antarmoda yang terpadu, menerus, berhierarki, dan kondisi yang baik.

b. Pengembangan terminal pada setiap pusat permukiman sesuai dengan

hierarkinya dan cakupan pelayanannya.

c. Jenis pergerakan tidak bercampur antara pergerakan regional, lokal, dan setempat. Pengembangan prasarana jalan diupayakan tidak berpengaruh atas fungsi kawasan lindung, Pengembangan jaringan jalan alternatif untuk menjamin kelancaran transportasi antara pusat pengembangan dan wilayah pendukungnya.

Sedangkan Konsep pengembangan transportasi di wilayah KSCT Agropolitan Mendo Barat adalah sistem transportasi terpadu yang mensinergikan semua jenis prasarana dan sarana tranportasi yang telah ada agar dapat melayani pergerakan ke segala arah. Interaksi yang masih kurang antara kota Petaling sebagai ibukota Kecamatan Mendo Barat dengan kawasan di bagian Barat Daya seperti Penagan dan Kota Kapur perlu diperhatikan untuk dapat mengatasi permasalahan keterhubungan antar kawasan. Untuk mengatasi masalah tersebut maka Pemerintah Kabupaten Bangka merencanakan pembangunan jalan lingkar barat untuk meningkatkan aksessibilitas melalui Kota Kapur, Labuh Air Pandan, Mendo, Kota Waringin dan Tanah Bawah.

Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menumbuhkan pusat- pusat pertumbuhan baru serta memberikan dampak peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat, maka pemerintah Kabupaten Bangka merencanakan penyediaan sarana transportasi antar wilayah yang terjangkau dan dapat melayani

pusat-pusat kecamatan. Rencana jaringan jalan yang menjadi perhatian dalam RTRW Kabupaten Bangka di lokasi KSCT Agropolitan Mendo Barat adalah:

a. Peningkatan Geometrik Jalan Kolektor Primer 1 :

 Pangkal Pinang – Puding Besar – Puding Gebak – (Mentok-Tj Kalian) b. Peningkatan Geometrik Kolektor Primer 2 :

 Simpang Pasir Garam - Penagan - Tj.Tedung dan Penagan - Kota Kapur

 Simpang Lumut - Puding Gebak

 Sungailiat – Puding Besar

c. Peningkatan Geometrik Jalan Kolektor Primer 4 :

 Rukam — Petaling;

 Sungailiat – Bakam

 Saing - Kota Waringin – Sungai Dua

 Penegang - Petaling

 Petaling – Pkl.Mendo – Labuh Air Pandan d. Jalan Lokal dan Rencana Pembangunan Jalan Lokal :

 Jalan Puding Besar – Balun Ijuk;

 Rencana pembangunan Jalan Puding Besar - Balun Ijuk - Kec. Gerunggang

- Desa Kace Timur;

 Rencana pembangunan jalan Mendo - Tanah Bawah;

 Rencana pembangunan jalan Puding Besar – Balun Ijuk;

 Rencana pembangunan jalan tembus yang menghubungkan Limbung

dengan Kimak – Sempan terhubung dengan ruas Sungailiat – Bakam sampai dengan ruas Simpang Lumut – Puding Gebak;

 Rencana peningkatan status jalan Tanah Bawah – Kapuk;

 Rencana pembangunan lingkar barat Kota Kapur – Labuh Air Pandan;  Rencana pembangunan lingkar barat Kota Kapur – Kota Waringin;

 Rencana pembangunan lingkar barat Mendo – Tanah Bawah;

 Rencana pembangunan jalan Lingkar Luar Desa Puding Besar.

Sistem terminal untuk kawasan ini merujuk pada pengembangan terminal tipe B yang yang akan dikembangkan di kecamatan Pemali sebagai ganti terminal tipe C yang saat ini berada di kecamatan Sungailiat. Pada ibukota kecamatan lainnya

(Bakam, Punding Besar, dan Petaling) perlu dikembangkan sub terminal yang akan

Dokumen terkait