BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.9. Rencana Pengolahan Data dan Analisis
Data yang diperoleh kemudian disajikan secara deskriptif dalam bentuk narasi, table distribusi proporsi, dan analitik statistik SPSS ver.20. uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-smirnov. Jika data terdistribusi normal, selanjutnya dilakukan uji T dependent. Jika data tidak terdistribusi normal, dilakukan uji Wilcoxon. Taraf signifikansi dalam penelitian ini adalah α < 0,05 dengan interval kepercayaan CI : 95%.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2020 di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini merupakan studi analitik eksperimental, dengan mengambil sampel penelitian dimulai Januari- Desember 2019 pada pasien kanker kolorektal yang telah menjalani tindakan operasi definitif dan menjalani kemoterapi minimal 8 siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar CEA sebelum dan sesudah kemoterapi adjuvan capecitabin pada pasien pasca operasi kanker kolorektal di RSUP H Adam Malik Medan. Pada penelitian pasien dilakukan pemeriksaan kadar CEA pada saat sebelum kemoterapi dan dibandingkan pada saat sesudah kemoterapi.
4.1. Karakteristik Subjek
Penelitian ini diikuti oleh 58 subjek yang telah memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik subjek penelitian ditampilkan dalam bentuk frekuensi dengan persentase, rerata dengan simpangan baku, dan median dengan nilai minimum dan maksimum serta dilakukan uji normalitas ditampilkan pada tabel 4.1.
34
Tabel 4.1. Karaktersitik Subjek Penelitian
Karakteristik Subjek Nilai Pa
Usia (Mean, SD) 53,2 13,8 0,280
Berdasarkan tabel 4.1, diketahui karakteristik subjek dari 58 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Pada penelitian ini, usia sampel ditampilkan dalam nilai rerata dengan simpangan baku yaitu 53,2 13,8 tahun dengan p= 0,280. Subjek yang menjadi sampel berdasarkan jenis kelamin, masing-masing sebanyak 29 sampel, p= 0,999. Sedangkan, berdasarkan stadium klinis dari kanker kolorektal subjek, diketahui 28 subjek (48,2%) dengan kanker kolorektal stadium II, dan 30 subjek (51,8%) dengan kanker kolorektal stadium III, p=0,001. Sehingga secara statistik, karakteristik usia dan jenis kelamin sampel berdistribusi normal sementara berdasarkan stadium klinis tidak berdistribusi normal.
35
Dari tabel 4.1 juga didapatkan nilai Carcinoembryonic antigen (CEA) pada saat sebelum dimulai kemoterapi menggunakan capecitabine, dimana sampel dengan nilai CEA < 5 ng/ml sebanyak 27 sampel (46,5 %) dan pasien dengan nilai CEA > 5 ng/ml sebanyak 31 sampel (53,5 %). Kadar CEA selama penelitian ditampilkan dalam nilai median dengan nilai minimal-maksimal, pada saat awal penilaian (sebelum kemoterapi) didapatkan rerata kadar CEA adalah 5,7 (0,5- 876,9) dengan p= 0,049. Sementara, nilai CEA setelah siklus ke-8 adalah 4,95 (0,5- 786) (p= 0,001). Sehingga, secara statistik kadar CEA sebelum kemoterapi, dan setelah kemoterapi siklus ke-8 tidak berdistribusi normal dan tidak homogen (P<0,05).
Pada tabel ini juga ditampilkan respon terapi terhadap kemoterapi menggunakan capecitabine. Didapatkan sampel dengan respon komplit, yang mengalami penurunan kadar CEA >50% atau dengan nilai CEA < 3 ng/ml, setelah menjalani kemoterapi capecitabine sebanyak 18 sampel (31%). Sampel yang mengalami penurunan kadar CEA <30% atau dengan respon parsial sebanyak 12 sampel (20,7 %). Pada penelitian ini juga didapatkan 6 sampel (10%) dengan respon progresif, dimana kadar CEA setelah kemoterapi meningkat dibandingkan dengan nilai CEA sebelum kemoterapi. Sedangkan, 22 sampel (37,9 %) dengan stable respon, atau tidak terjadi perubahan nilai CEA selama kemoterapi capecitabine.
36
4.2. Perbedaan Kadar Carcinoembryonic antigen (CEA)
Perbedaan kadar CEA sebelum kemoterapi menggunakan capecitabine dan setelah siklus ke-8 kemoterapi menggunakan capecitabine ditampilkan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2. Perbedaan Kadar CEA sebelum dan sesudah kemoterapi Waktu Pemeriksaan Kadar CEA (Median,
min-maks)
Nilai Pb
Sebelum kemoterapi 5,7 (0,5- 876,9) 0,001
Sesudah kemoterapi (0,5- 786)
b Uji Wilcoxon
Berdasarkan tabel 4.2, didapatkan perbedaan secara klinis rerata kadar CEA pada saat sebelum dengan sesudah kemoterapi ke-8 menggunakan capecitabine. Kadar CEA ditampilkan dalam median (min-maks), nilai CEA sebelum kemoterapi yaitu 5,7 (0,5- 876,9) ng/ml mengalami penurunan setelah kemoterapi menggunakan capecitabine yaitu (0,5- 786) ng/ml. Secara statistik, data bersifat nonparametrik sehingga digunakan uji Wilcoxon dan didapatkan perbedaan bermakna antara nilai CEA sebelum dan sesudah pemberian kemoterapi adjuvan capecitabine dimana nilai p = 0,001 (p < 0,05).
Pada grafik diatas menunjukkan perubahan kadar CEA sebelum dan sesudah kemoterapi menggunakan capecitabine. Diketahui rerata kadar CEA sebelum kemoterapi adalah 59,6 ng/ml, mengalami penurunan setelah dilakukan siklus ke 8, rerata kadar CEA menurun menjadi 45,6 ng/ml.
37
4.3. Perbedaan Kadar CEA dan Respon Terapi Capecitabine
Perbedaan kadar CEA pada saat awal sebelum kemoterapi dibandingkan dengan kadar CEA setelah siklus ke 8 kemoterapi capecitabine dan penilaian respon terapi capecitabine ditampilkan pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Perbedaan kadar CEA sebelum dengan sesudah kemoterapi N (%) Perubahan CEA (Median) Nilai pc
Dikarenakan data tidak berdistribusi normal, sehingga dilakukakan pengukuran non-parametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis. Dan data ditampilkan dalam hasil median (min-maks). Tabel 4.3 menunjukkan perbedaan kadar CEA berdasarkan respon terapi terhadap kemoterapi capecitabine. Didapatkan sampel yang mengalami respon terapi komplit atau mengalami penurunan kadar CEA hingga <3 ng/ml sebanyak 17 sampel (29,3%) dimana median penurunan kadar CEA adalah 0,6 (1-90) ng/ml.
Sementara, sampel yang mengalami respon parsial atau mengalami penurunan kadar CEA minimal 30% sebanyak 18 (31%) sampel dengan median penurunan CEA 3,3 (0,8-423,3) ng/ml. Sampel yang mengalami peningkatan kadar CEA atau progresif diketahui 7 (12,1%) sampel dengan peningkatan kadar CEA 11,9 (9-101,6) ng/ml dan pasien yang tidak mengalami perubahan signifikan pada kadar CEA sebesar 16 (27,6%) sampel. Sehingga secara statistik, didapatkan perbedaan bermakna pada respon terapi terhadap kemoterapi capecitabine, dimana p= 0,001.
BAB V PEMBAHASAN
Capecitabine dapat digunakan untuk terapi kanker kolorektal dalam beberapa cara, yaitu sebagai terapi adjuvan monoterapi, atau kombinasi dengan agen kemoterapi lain untuk kasus metastase atau bersamaan dengan radioterapi pada terapi kanker rektal (Hirsch, Zafar; 2011). Pada penelitian ini kami menggunakan capecitabine sebagai monoterapi untuk terapi pasien kanker kolorektal yang telah menjalani operasi definitif. Serum CEA adalah penanda tumor representatif untuk kanker kolorektal yang banyak digunakan untuk surveilans pasca operasi pada pasien kanker kolorektal, seperti yang direkomendasikan oleh pedoman yang dikeluarkan oleh American Society of Clinical Oncology (ASCO), European Society of Medical Oncology (ESMO) (Labianca et al, 2010).
Pada penelitian kami dapatkan penurunan kadar CEA setelah menjalani kemoterapi menggunakan capecitabine selama 8 siklus (5,7 (0,5- 876,9) vs
(0,5- 786) ng/ml {CEA sebelum vs CEA sesusudah kemoterapi siklus ke 8}).
Sejumlah penelitian juga menunjukkan penurunan selama pengobatan menggunakan capecitabine sebagai monoterapi, dimana didapatkan penurunan antara 51-76% (Hoff et al, 2001).
Pada tahun 1993, Ward dkk mengatakan bahwa penurunan kadar CEA berhubungan dengan respon dari tumor, sementara peningkatan kadar CEA menunjukkan progresivitas penyakit (Ward, 1993). Pada penelitian kami,
39
didapatkan penurunan kadar CEA ≥ 50% pada beberapa sampel, hal ini menunjukkan respon terapi terhadap kemoterapi capecitabine. Wang dkk, melakukan penelitian terhadap 136 pasien kanker kolorektal yang mengalami metastase, didapatkan penurunan lebih dari 50% kadar CEA setelah kemoterapi minggu ke 4 (Wang dkk, 2001). Yu Ping dkk, dalam penelitiannya juga mendapatkan beberapa pasien mengalami kemajuan sebelum minggu ke 8 kemoterapi (Yu Ping dkk, 2018).
Selain itu, pada penelitian ini juga didapatkan peningkatan kadar CEA setelah menjalani kemoterapi. Peningkatan kadar CEA umumnya menggambarkan progresivitas penyakit dan belum ada yang menjelaskan fenomena tersebut pada pasien kanker kolorektal yang menjalani kemoterapi (Sorbye & Dahl, 2004).
Namun, dikarenakan CEA dimetabolisme oleh hati, peningkatan kada CEA juga dapat diakibatkan oleh penyakit hati. Kemoterapi sering dihubungkan dengan peningkatan fungsi hati, dimana juga terjadi peningkatan kadar CEA yang merefleksikan kerusakan hati (Hermunen, Haglund, Osterlund, 2013).
Keterbatasan dari penelitian ini adalah penelitian ini merupakan studi retrospektif, sehingga efek samping dari kemoterapi capecitabine tidak tercatat secara lengkap. Lalu, setiap sampel menjalani kemoterapi tidak berdasarkan minggu yang sama, sehingga setiap siklus pada setiap sampel dapat berbeda.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN 6.1. Simpulan
Terdapat perbedaan kadar CEA antara sebelum dan sesudah kemoterapi dengan capecitabine pada pasien kanker kolorektal.
Terdapat penurunan kadar CEA setelah kemoterapi yaitu (0,5- 786) ng/ml dibandingkan sebelum kemoterapi, 5,7 (0,5- 876,9) ng/ml dengan p=0,001.
Terdapat efektifitas dan respon komplit dari pemberian kemoterapi adjuvan capecitabin setelah 8 siklus pada pasien kanker kolorektal yaitu sebanyak 17 sampel (29,3%)
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, capecitabine dapat digunakan untuk adjuvant kemoterapi pada pasien dengan kanker kolorektal.
Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai pengukuran kadar CEA guna menilai angka mortalitas pasien dengan kanker kolorektal.
Perlu dilakukan penelitian prospektif, guna mengetahui efek samping dan efikasi dari kemoterapi menggunakan capecitabine.
41
DAFTAR PUSTAKA
Alteri, R. et al, 2013. Colorectal Cancer Facts & Figure 2011-2013. Atlanta:
American Cancer Society
American Cancer Society, 2017. Colorectal Cancer Facts and Figures 2017-2019. American Cancer Society, Atlanta.
Bailey H., et al, 2013. Colorectal Surgery. Philadelphia : Elsevier Saunders;
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan
Cappell, Mitchell S, 2005. The Pathophysiology, Clinical Presentation and Diagnosis of Colon Cancer and Adenomatous Polyps. The Medical Clinic of North America. pp 1-42.
Ferri, F. F, 2018. Ferri’s Clinical Advisor: Colorectal Cancer, Saunders Elseviers, United States, 314-316.
Florensia, F. 2014. Karakteristik Pasien Kanker Kolorektal di RSUP Haji Adam Malik Tahun 2011 – 2013, Medan, Universitas Sumatera Utara.
Fumiokonishi, 2002. CEA Doubling Time and CEA Half-Life in The Prediction of Reccurences after Colorectal Cancer Surgery. Japan Journal Oncologi 32:
pp: 41-42.
Globocan, 2019. Cancer Today. [online] Available at: http://gco.iarc.fr/today/fact-sheets-cancers
Gunawan, B., 2016. Perbedaan Efektifitas Capecitabine Dan 5-Flourouracil + Leukovorin Terhadap Kadar Carcinoembrionik Antigen (Cea) Sebagai Kemoterapi Pada Karsinoma Kolorektal Stadium III. Tesis. Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Solo.
Harmunen, K. Haglund, C. Osterlund, P. 2013. CEA fluctuation during a single florouracil-based chemotherapy cycle for metastatic colorectal cancer.
Anticancer Research. 33;253-260
Hirsch, B. Zafar, Y, 2011. Capecitabine in the management of colorectal cancer.
Cancer Management and Research, 3:79-89
42
Hoff PM, Ansari R, Batist G, et al. 2001. Comparison of oral capecitabine versus intravenous fluorouracil plus leucovorin as first-line treatment in 605 patients with metastatic colorectal cancer: results of a randomized phase III study. J Clin Oncol. 19(8):2282–2292.
IKABDI, 2014. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kanker Kolorektal, Komite Penanggulangan Kanker Nasional, Jakarta.
Japaries, W., 2017. Buku Ajar Onkologi Klinis edisi Kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Kumar V, Abbas AK, Aster JC, 2015. Robbins Basic Pathology 9th ed.
Philadelphia: Elsevier p.95-96
Labianca R, Nordlinger B, Beretta GD, Brouquet A, Cervantes A, 2010. Primary colon cancer: ESMO clinical practice guidelines for diagnosis, adjuvant treatment and follow-up. Ann Oncol. 21(suppl 5):v70–v77
Lu, C, et al., 2017. Prognostic Evaluation of Platelet to Lymphocyte Ratio in Patients With Colorectal Cancer. Onco Target. Edisi 2017. Vol 8 No 49:
86287-86293.
Lubis, N. D, 2014. Profil Penderita Karsinoma Kolorektal di RSUP H. Adam Malik Medan pada Tahun 2009 – 2012. Medan. Universitas Sumatera Utara.
Najogi, Prafitri, 2017. Perbedaan Kadar Cea Sebelum, Sesudah Operasi dan Sesudah Kemoterapi dengan Regimen Folfox pada Karsinoma Kolorektal Stadium IIB-III di RSUP H. Adam Malik Medan. Repositori Institusi USU. Universitas Sumatera Utara
National Comprehensive Cancer Network, 2018. Clinical practice guidelines in oncology: colon cancer. NCCN Guideline.1-33.
Pulungan, Namira, 2019. Profil Pasien Kanker Kolorektal di RSUP H. Adam Malik Periode Januari 2018 – Desember 2018. Repositori Institusi USU.
Universitas Sumatera Utara
Raehaan, et al., 2014. Carcinoembryonic Antigen (CEA ) pada Kanker Kolorektal. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. Edisi Juli 2014. Vol 20 No 3: 192- 196.
Sabiston, 2012. The Biological Basis of Modern Surgical Practice 17th edition.
pp: 1966-1987
Sari, Wahid, Suchitra, 2019.Kemoterapi Adjuvan pada Kanker Kolorektal. Jurnal Kesehatan Andalas.
43
Schmoll HJ, et al, 2012. ESMO consensus guidelines for management of patient with colon and rectal cancer. A personalized approach to clinical decision making. Annals of Oncology Advance. 2012;23(10):2479-516.
Setianingrum, R., 2014. Klasifikasi Stadium Kanker Kolorektal Menggunakan Model Recurrent Neural Network. Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.
Smith G., Francis A, et al. (2002). Mutations in APC, Kirsten-ras, and p53—
alternative genetic pathways to colorectal cancer. Available in : www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.122612899
Van Custem, 2001. Oral Capecitabine Compared with Intravenous Flourouracil Plus Leukovorin in Patients With Metastatic Colorectal Cancer. Result Of A Large Phase III Study. Journal Clinical Oncology. Pp: 112-119.
Venook, Alan, 2005. Critical Evaluation of Current Treatments in Metastatic Colorectal Cancer. The Oncologist Gastrointestinal Cancer Journal.
California. p. 250-261
Wang J., et al, 2015. Combined Detection of Preoperative Serum CEA , CA19-9 and CA242 Improve Prognostic Prediction of Surgically Treated Colorectal Cancer Patients. Int J clin Path
Wang WS, Lin JK, Lin TC, Chiou TJ, Liu JH, Fan FS, et al. 2001.
Carcinoembryonic antigen in monitoring of response to systemic chemotherapy in patients with metastatic colorectal cancer. Int J Color Dis.
16:96–101.
Ward U, Primrose JN, Finan PJ, Perren TJ, Selby P, Purves DA, et al. 1993. The use of tumour markers CEA, CA-195 and CA-242 in evaluating the response to chemotherapy in patients with advanced colorectal cancer. Br J Cancer.67:1132–5.
Younesi, M., 2016. A Prospective Study of Serum Carcinoembryonic Antigen in Patients with Newly Diagnosed Colorectal Cancer and Healthy Individuals. Annals of Clinical and Laboratory Research
Yu Ping, Zhou, M. et al. 2018. The dynamic monitoring of CEA in response to chemotherapy and prognosis of mCRC patients. BMC Cancer. 18: 1076