• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Tantangan

2) Tantangan Eksternal

7.4. RENCANA PROGRAM INVESTASI SEKTOR PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

7.4.1. Arahan Kebijakan Sub Sektor Air Limbah

Beberapa peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan air limbah, antara lain:

1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Nasional.

Pembangunan dan penyediaan air minum dan sanitasi diarahkan untuk mewujudkan

terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat serta kebutuhan sektor-sektor terkait lainnya,

seperti industri, perdagangan, transportasi, pariwisata, dan jasa sebagai upaya mendorong

pertumbuhan ekonomi.

2. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Pasal 21 ayat (2) butir d mengamanatkan pentingnya pengaturan prasarana dan sarana

sanitasi dalam upaya perlindungan dan pelestarian sumber air.

3. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air

Minum.

Peraturan ini mengatur penyelenggaraan prasarana dan sarana air limbah permukiman

secara terpadu dengan penyelenggaraan sistem penyediaan air minum.

4. Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air

Pengaturan Sarana dan Prasarana Sanitasi dilakukan salah satunya melalui pemisahan

antara jaringan drainase dan jaringan pengumpul air limbah pada kawasan perkotaan.

5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan

Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.

Mensyaratkan tersedianya sistem air limbah setempat yang memadai dan tersedianya

sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota.

6. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/I/1998 tentang Pedoman

Penetapan Baku Mutu Lingkungan

Mengamanatkan bahwa Pengolahan yang dilakukan terhadap air buangan dimaksudkan

agar air buangan tersebut dapat dibuang ke badan air penerima menurut standar yang

diterapkan, yaitu standar aliran (stream standard) dan standar efluen (effluent standard).

7.4.2. Isu Strategis Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman

Isu-isu Strategis Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman di Kabupaten Tapin yaitu:

1). Sebagian besar pengelolaan air limbah masih memanfaatkan pengolahan individu.

2). Dibutuhkan kebijakan pembangunan yang terintegrasi antara jalan dan drainase air

limbah rumah tangga dan lingkungan.

3). Hasil studi EHRA, perilaku BABS di kab. Tapin cukup tinggi 75,5%

4). Penyiapan layanan sedot Tangki septik belum ada pihak swasta yang menyediakan

5). Membutuhkan kesiapan IPLT

6). Tangki septik terdeteksi suspek aman

7). Ada kemungkinan sebenarnya cubluk

8). Perlu kampanye menumbuhkan kepedulian sanitasi sehat bagi ±25% keluarga yang

belum memiliki jamban

9). Bagi pemilik jamban tapi masih buang limbahnya ke non tangki septik/cubluk

10). Masih rendahnya penyediaan prasarana sanitasi yang memenuhi syarat.

11). Masih besarnya angka penyakit yang diakibatkan buruknya sanitasi lingkungan.

12). Terbatasnya dana APBD Kabupaten untuk pembangunan prasarana wilayah

7.4.3. Kondisi Eksisting Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman

Rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

Visi dan Misi sanitasi adalah konsep awal dalam penyusunan strategi sanitasi kota

yang diturunkan dari visi dan misi kabupaten. Secara gamblang akan dijabarkan dalam

penjelasan sub bab berikut ini :

Visi dan misi sanitasi diturunkan dari visi dan misi Kabupaten Tapin periode 2008 – 2012,

secara periodik sudah mencapai akhir masa jabatan kepala daerah tetapi tetap dipakai

sebagai acuan karena masih relevan dan belum adanya kejelasan tentang visi dan misi

kepala daerah periode 2013 – 2018 yang baru akan dilantik pada tahun 2013.

A. Visi Misi Sanitasi

Sumber : RPJMD Kab. Tapin Tahun 2008 - 2012 dan Pokja Sanitasi Kabupaten Tapin tahun 2012

Visi tersebut mengandung pengertian bahwa nilai-nilai religius yang dipegang teguh

masyarakat Kabupaten Tapin akan bergerak secara dinamis dan senantiasa menjadi bingkai

perilaku menuju masyarakat sejahtera. Penekanan akan pentingnya aspek agama bukan

berarti sebagai bentuk primordialisme untuk suatu agama tertentu, tetapi harus diartikan

secara umum bahwa nilai-nilai luhur yang dianut oleh semua agama semestinya dapat

diterapkan dalam membangun Kabupaten Tapin dan interaksi sosial sehari-hari.

Kabupaten Tapin yang religius, bahwa Visi Pembangunan Kabupaten Tapin

mencerminkan keinginan yang makmur sejahtera lahir dan bathin. Kabupaten Tapin yang

religius digambarkan dengan masyarakat Kabupaten Tapin yang memiliki jati diri dan

karakter yang berlandaskan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, melestarikan

dan menerapkan nilai-nilai keagamaan, norma sosial dan budaya yang berkembang

dimasyarakat.

Kabupaten Tapin yang sejahtera, digambarkan dengan kemudahan dalam akses

terhadap kebutuhan-kebutuhan akan hak dasar, yang meliputi; pangan, sandang,

perumahan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, kesempatan berusaha, dan rasa aman.

Masyarakat Tapin dengan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan menguasai IPTEK,

infrastruktur yang mantap dan pengelolaan Sumber Daya Alam yang berkelanjutan,

sehingga mampu sejajar dihadapan hukum, partisipasi publik dalam kebijakan

pembangunan, pendapatan perkapita yang tinggi dan merata, dengan mengandalkan pada

kemampuan dan kekuatan sendiri.

B. Tahapan Pengembangan Sanitasi

Penetapan sistem dan zona sanitasi dilakukan untuk mengidentifikasi sistem sanitasi

yang paling sesuai untuk suatu wilayah dan membantu perumusan program dan kegiatan

yang paling sesuai dengan kondisi wilayah berdasarkan sistem yang diusulkan. Sistem

sanitasi adalah suatu proses mulitilangkah dimana berbagai jenis limbah dikelola dari titik

timbulan (air limbah) ke titik pemanfaatan kembali atau pemrosesan akhir. Dalam

menetapkan sistem sanitasi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah :

a. Faktor pengelolaan (peraturan, pengelolaan kelembagaan, pengaturan O&M,

kepemilikan asset)

b. Faktor fisik wilayah (kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan dan topografi)

c. Faktor keuangan dan pendanaan (kapasitas fiskal, dukungan dan mekanisme

pendanaan)

Terkait dengan pilihan sistem yang sanitasi yang akan diterapkan dalam wilayah

kabupaten Tapin bersangkutan maka langkah pertama yang dilakukan perhitungan proyeksi

penduduk untuk 15 tahun mendatang dan klasifikasi wilayah berdasarkan kepadatan

penduduk yang dihitung berdasarkan daftar berikut :

Klasifikasi Wilayah Kepadatan Penduduk (org/ha) Rural < 25 Peri-Urban 25 – 100 Urban low 100 – 175 Urban Medium 175 – 250 Urban High > 250

Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Tapin tahun 2012

Berdasarkan daftar diatas maka dapat dilihat pada peta berikut bahwa sebaran

kepadatan penduduk Kabupaten Tapin masih 98% (132 desa) masih area rural atau desa

sementara hanya ada 3 desa yang termasuk peri urban. Hal ini tentu akan berdampak pada

pilihan sistem yang akan diterapkan pada subsektor air limbah, persampahan dan drainase

serta aspek PHBS, ketiga hal tersebut akan lebih rinci dijelaskan pada tahapan

pengembangan masing-masing subsektor (air limbah, persampahan, dan drainase)

Dokumen terkait