HASIL PENELITIAN
4.4 Rerata kadar ADMA pada tiap kelompok tikus
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata kadar ADMA pada tiap kelompok. Hal ini dapat kita lihat pada gambar 4.5.
Gambar 4.5 Boxplot rerata kadar ADMA pada tiap kelompok tikus
Hasil uji statistik menggunakan ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan rerata kadar ADMA antar kelompok (p < 0,001). Tampak bahwa rerata kadar ADMA kelompok P1 tertinggi, sedangkan rerata kadar ADMA kelompok K(-) merupakan yang terendah dibandingkan kelompok yang lain. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Rerata kadar ADMA pada tiap kelompok tikus
Kelompok n ADMA (nmol/ml) Nilai p
Data berupa mean ± SD (standard deviation). Uji statistik menggunakan ANOVA searah (one way analysis of variance) yang diikuti post hoc Tamhane. *p < 0,05
Untuk mengetahui perbedaan rerata kadar ADMA antar kelompok, dilakukan analisis post hoc menggunakan Tamhane. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Analisis post hoc perbandingan kadar ADMA pada tiap kelompok tikus Interval kepercayaan 95%
Kelompok Perbedaan rerata Minimum Maksimum Nilai p
K(-) vs K(+) - 0,38 - 0,55 - 0,21 0,001*
Post hoc Tamhane. Jumlah tikus tiap kelompok 6 ekor. *p < 0,05
Pada tabel 4.4 dan tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa kadar ADMA secara berurutan dari yang paling rendah kepada yang paling tinggi sebagai berikut, yakni: K(-) < P3 < P2 < K(+) < P1. Pada tabel 4.5 di atas tidak terdapat perbedaan rerata kadar ADMA antara kelompok K(+) dengan P1 (p = 0,783) dan antara kelompok P2 dengan P3 (p = 0,864). Perbedaan yang bermakna dijumpai; antara kelompok K(+) dengan K(-) (p = 0,001), kelompok K(+) dengan P2 (p = 0,031), kelompok K(+) dengan P3 (p = 0,002); antara kelompok P1 dengan K(-) (p = 0,015), kelompok P1 dengan P2 (p = 0,047) dan kelompok P1 dengan P3 (p = 0,028).
4.5 Pengujian keberhasilan eradikasi
Pengujian keberhasilan eradikasi merupakan upaya menilai jumlah koloni bakteri H. pylori untuk evaluasi keberhasilan eradikasi bakteri H. pylori. Hasil potongan mukosa lambung daerah antrum dihancurkan, dihomogenisasi, dibuat pengenceran dan disebarkan pada media biakan TSAB untuk kemudian diinkubasi. Cawan diinkubasi dalam inkubator CO2 pada 370C dalam kondisi mikroaerofilik selama 72 jam. Koloni H. pylori diidentifikasi secara morfologi dan secara biokimiawi. Jumlah koloni per lempeng dihitung dengan menggunakan colony counter dan dinyatakan sebagai log CFU per dinding lambung. Pada gambar 4.6 disajikan hasil perhitungan jumlah koloni bakteri H. pylori pada tiap kelompok.
Gambar 4.6 Pertumbuhan bakteri H. pylori pada tiap kelompok setelah dilakukan kultur jaringan lambung untuk menguji keberhasilan eradikasi
Tabel 4.6 Pengujian keberhasilan eradikasi H. pylori
Kelompok n CFU Angka keberhasilan Nilai p
K(-) 6 Tidak terdeteksi 0/6 (0) -
K(+) 6 1600 (1600,00 – 4800,00) 0/6 (0) 0,05
P1 6 4200 (3000,00 – 80000,00) 0/6 (0) -
P2 6 Tidak terdeteksi 6/6 (100)
P3 6 Tidak terdeteksi 6/6 (100) -
Data berupa median (minimum-maksimum). Uji statistik menggunakan Kruskal-Wallis, yang diikuti post hoc Mann-Whitney. CFU = colony-forming unit.
Pada gambar 4.6 dan tabel 4.6 di atas tampak pertumbuhan koloni bakteri H.
pylori hanya pada kelompok K(+) dan P1. Pada kelompok lain tidak dijumpai pertumbuhan bakteri. Jumlah koloni bakteri lebih banyak pada kelompok P1 dibandingkan K(+) dengan p = 0,05 (uji Mann-Whitney).
BAB V PEMBAHASAN
Penelitian ini diawali dengan pretreatment streptomisin dan omeprazol untuk menghambat pertumbuhan bakteri lain dan mengurangi tingkat keasaman lambung. Pada dasarnya menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kolonisasi bakteri H. pylori di lambung (Werawatganon, 2014). Dalam penelitian ini tampak bahwa semua tikus dalam kelompok yang diinokulasi H.
pylori menunjukkan hasil tes urease positif.
Penelitian ini menunjukkan bahwa suatu hasil penelitian in vitro tidak selalu sejalan dengan hasil penelitian in vivo. Perbedaan hasil uji aktifitas anti bakteri suatu zat atau senyawa secara in vitro dan in vivo dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: waktu pengosongan lambung (gastric emptying time), tingkat keasaman lambung, ikatan dengan protein plasma (albumin) dan pembentukan biofilm oleh bakteri. Oleh karena itu banyak zat atau senyawa dengan sifat anti bakteri pada suatu uji in vitro, menjadi tidak efektif pada uji in vivo (Atif et al., 2015).
Kolonisasi bakteri H. pylori yang berlanjut dengan inflamasi pada mukosa lambung akan menyebabkan beberapa hal, diantaranya gangguan sekresi hormon gastrointestinal, seperti gastrin dan somatostatin. Somatostatin berperanan dalam mengatur motilitas lambung dalam hal ini relaksasi otot polos lambung, sedangkan gastrin selain berperan dalam pengaturan kontraktilitas lambung juga merupakan hormon utama dalam pengaturan sekresi asam lambung (Zhang et al., 2016). Kenaikan kadar somatostatin akan menekan produksi hormon gastrin
demikian pula sebaliknya. Keadaan ini akan berdampak pada gangguan motilitas lambung baik secara regional maupun secara keseluruhan (Huang, 2017). Pada infeksi H. pylori secara umum dijumpai adanya perlambatan pengosongan lambung yang disebabkan gangguan keseimbangan hormon-hormon gastrointestinal tersebut, aktifitas leukotrien dan NO. Selain itu juga terjadi peningkatan produksi asam lambung oleh karena kenaikan kadar dan aktifitas gastrin baik terlokalisir maupun keseluruhan di lambung (Zhang et al., 2016).
Manifestasi klinis ditandai dengan adanya keluhan sendawa, kembung, mual-muntah dan nyeri ulu hati (Siregar & Halim, 2014).
Untuk dapat mencapai sasaran dan bekerja efektif sesuai dengan fungsinya, sebagaian besar obat-obatan, seperti anti bakteri membutuhkan ikatan dengan protein plasma, terutama albumin, sebagai pengangkut obat-obatan tersebut melalui sirkulasi ke sel target atau jaringan tubuh (Tao, Chuah, Xu, & Wang, 2019). Albumin adalah protein utama yang terdiri atas suatu rantai tunggal dari 610 asam amino, disintesis di dalam hati dan bertanggung jawab pada sekitar 80%
tekanan osmotik (Bteich, 2019). Pada keadaan inflamasi, dalam hal ini infeksi H.
pylori, terjadi penurunan kadar albumin yang disebabkan oleh beberapa hal yakni:
penurunan sintesis albumin di hati, peningkatan degradasi albumin dan peningkatan laju transcapillary escape dimana terdapat kobocoran albumin menuju ruang interstitial oleh karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler. Selama fase inflamasi dan keadaan hipermetabolisme yang melibatkan sitokin pro-inflamasi, seperti IL-6 dan TNF-α, asam-asam amino pembentuk albumin dipergunakan oleh hati untuk meningkatkan sintesis protein fase akut seperti fibrinogen, komplemen, imunoglobulin, dan C-Reactive Protein (CRP)
yang mengakibatkan penurunan kadar albumin. Peningkatan protein fase akut merupakan respon tubuh dalam mengatasi infeksi (Komáromi et al., 2016).
Defisiensi albumin pada kondisi inflamasi ini akan berdampak kurangnya efektifitas obat-obatan tersebut.
Pembentukan biofilm oleh bakteri menjadi fokus penyebab resistensi bakteri dan kegagalan suatu ekstrak atau obat dalam eradikasi H. pylori. Biofilm merupakan lapisan sel-sel bakteri yang melekat erat ke suatu permukaan, berada dalam keadaan diam, tidak mudah lepas atau berpindah tempat oleh karena tertanam dalam suatu matriks eksopolisakarida, yakni extracellular polymeric substances (EPS) yang dihasilkan bakteri tersebut sebagai mekanisme pertahanannya (Hathroubi et al., 2018). Untuk dapat membentuk biofilm, tiap bakteri memiliki organ atau faktor virulensi seperti flagela (pergerakannya dirangsang aktifitas kemotaksis berbagai senyawa termasuk musin, bikarbonat, urea, garam dan beberapa jenis asam amino), quorum sensing (QS) sebagai sistem komunikasi antar sel bakteri dan molekul penyampai sinyal yang dikenal sebagai autoinducers (AIs) (Challa & Neelapu, 2019; Krzyzek & Gosciniak, 2018).
Matriks biofilm terdiri atas polisakarida, asam nukleat dan protein sebagai perekat, sumber nutrisi dan pelindung sel bakteri dari agen anti bakteri dengan mencegah penetrasi dan difusi anti bakteri tersebut pada biofilm (Yonezawa et al., 2015). Bakteri H. pylori dapat membentuk biofilm secara in vivo, maupun secara in vitro (dengan kondisi dan persyaratan tertentu). Biofilm merupakan mediator utama dalam infeksi (Attaran et al., 2017; Cammarota, Sanguinetti, Gallo, &
Posteraro, 2012). Bakteri yang membentuk biofilm pada mukosa lambung (in vivo) berbeda secara struktural maupun fungsional dengan bakteri yang hidup
bebas/planktonik (in vitro). Saat melekat pada epitel mukosa lambung, bakteri di dalam biofilm akan mendapat suplai nutrisi yang teratur dari lingkungan/inang sehingga pertumbuhan dan kolonisasi akan lebih baik (Shao et al., 2013).
Kemampuan pembentukan biofilm merupakan salah satu faktor virulensi H. pylori yang menyebabkan peningkatan toleransi terhadap anti bakteri, stresor dari lingkungan dan relatif lebih resisten terhadap fagositosis. Pembentukan biofilm menjadi dasar terjadinya resistensi terhadap anti bakteri (Lucio-Sauceda et al., 2019).
Bakteri yang planktonik ditandai dengan kepadatan populasi yang rendah dan oligotropik yang menunjukkan ketidakcukupan masukan nutrient (hanya mendapat makanan dari media pertumbuhan), hal ini menyebabkan aktifitas bakteri dan pertumbuhan menjadi lebih sedikit, sehingga eradikasi bakteri dengan ekstrak tertentu menjadi lebih mudah secara in vitro (Spósito et al., 2019). Pada penelitian in vitro anti bakteri yang dibutuhkan lebih sedikit, sedangkan pada penelitian in vivo konsentrasi anti bakteri yang dibutuhkan bisa lebih banyak, sekitar 10-1000 kali lipat dibandingkan penelitian in vitro untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal (Cardile et al., 2014).