• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yulfi Zawarnis

PUSTAKA

Judul Buku : Melipat Petang ke dalam Kain Ibu Jenis Buku : Kumpulan Puisi

Penulis : Isbedy Stiawan Z.S.

Isbedy Stiawan Z.S. lahir di Tanjungkarang, Lampung, 5 Juni 1958. Dalam sejarah kepenulisan-nya, Isbedy terlah melahirkan banyak karya sastra, baik berupa puisi maupun cerpen. Puisi dan cer-pen itu sebagian besar telah di-bukukan dalam bentuk buku kumpulan puisi dan buku kumpulan cerpen. Buku puisi yang pernah diterbitkannya di antaranya Me-nampar Angin, Lelaki yang Mem-bawa Matahari, dan Menuju Kota Lama. Buku terakhir memenangkan Sayembara Buku Puisi pada Hari Puisi Indonesia tahun 2014. Buku kumpulan cerpen yang pernah

puan Sunyi, Tumang, dan Perempuan di Rumah Panggung. Karya terak-hir memperoleh anugerah 10 besar buku prosa terbaik Khatulis-tiwa Literary Award pada tahun 2014. Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu dan November Musim Dingin merupakan karya terbaru Isbedy yang terbit di tahun 2016. Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu terbit pada Februari 2016. Buku ini berisi 83 judul puisi yang salah satu judul puisinya berjudul ”Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu”. Puisi ini mengisahkan tentang pergulatan batin penulis yang harus melupakan egonya demi menjunjung amanat

....

jika kau tinggalkan rumah, selalu ibu berpesan, ingatlah

senyum pertama ibu menyambut mula tangismu

di saat petang, batas antara siang dan malam akan ada

tawaran untuk melawan atau kalah di kaki langit

Sebuah nasihat yang lahir dari realitas kehidupan bahwa manusia memiliki masa-masa transisi. Dalam metafora siang dan malam, Isbedi menggunakan metafora petang. Ketiga kata ini tentunya saja bebas pemaknaannya. Tentunya tak perlu ditanyakan kepada penulis apa maksud dari puisinya tersebut. Bukankah puisi yang sudah dipubli-kasikan tak lagi menjadi milik pen-ciptanya?

Sekadar berfilsafat, rasanya tak salah kalau kemudian metafora siang dianalogikan dengan terang dan kebaikan. Malam dianalogikan dengan kelam dan keburukan. Dia antara keduanya itu ada abu-abu yang menjadi penentu apakah terang lebih dominan di-bandingkan kelam atau sebaliknya. Abu-abu inilah yang kemudian harus dikontrol agar tak terjerumus ke hitam.

Perjalanan seorang sastrawan, seringkali berangkat dari kekagu-man bahkan kejenuhannya terha-dap dunia sekitar. Dari kekaguman atau kejenuhan itulah kerap ter-cipta kaya-karya yang baik. Bagi seorang sastrawan tentunya bukan penilaian baik atau burukny karya yang mereka pedulikan, tetapi bagaimana mereka memperoleh kepuasan batin atas karya-karya yang mereka hasilkan. Namun

demikian, seorang sastrawan ten-tunya juga senang ketika karya yang mereka hasilkan dapat dinikmati dan diapresiasikan dengan baik oleh orang lain.

Menjadi seorang sastrawan bukanlah menjadi “pabrik kata-kata” semata. Seorang sastrawan

membutuhkan kejeniusan agar kata-kata yang dilahirkannya memiliki kejernihan yang dapat mewakili kegelisahan dan keingi-nannya. Tentunya kejeniusan itu, tidak serta merta dimiliki oleh seorang sastrawan. Pengalaman batin, keluasan wawasan, dan kecerdasan berbahasa menjadi bagian penting dalam melahirkan sebuah karya sastra.

Pada zaman Yunani seorang sastrawan dianggap sebagai pribadi yang memiliki kelainan secara

keji-waan. Akan tetapi, bukan berarti kelainan itu sebagai kelemahan seorang sastrawan. Sebaliknya, kegilaan sastrawan dalam wujud karya sastra yang dihasilkannya merupakan salah satu tolok ukur kejeniusan dan kejiwaan sastrawan tersebut.

Kejeniusan tentunya bukan satu-satunya syarat bagi sastrawan dalam menghasilkan karya yang bermutu. Secara spesifik, Goenawan Mohamad bahkan memberi syarat kedisiplinan agar karya sastra— dalam hal ini puisi—dapat terjaga koherensinya dalam imaji, bunyi, sugesti, kontras, dan keseimbangan.

Isbedy Stiawan Z.S. adalah salah satu sastrawan yang dengan kedi-siplinannya mampu menghasilkan karya-karya yang jenius. Wujud

kejeniusan itu dapat dinikmati dalam karya-karyanya, baik berupa puisi maupun cerpen. Isbedy ter-masuk salah seorang sastrawan

.... tapi di jalanjalan kau lihatlah terus bergerak

menetakkan detak agar matahari tak diam

yang jeli menangkap peristiwa sehingga seolah hampir setiap peristiwa dalam hidupnya dapat dituangkannya dengan indah ke dalam kata-kata.

Buku puisi Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu merupakan salah satu buku kumpulan puisi Isbedy yang sarat pesan. Peristiwa alam tak luput dari pencermatannya. Dalam puisi ”Hanya Pesiar” misalnya,

Pengetahuannya akan posisi matahari yang merupakan pusat dari tata surya membuatnya me-nyadari betul bahwa selama ini bumilah yang berputar mengelilingi matahari. Dalam puisi ”Hanya Pesiar” Isbedy mengajukan sarat agar matahari tak diam hendaklah manusia terus bergerak. Ini artinya, pengetahuan Isbedy akan ilmu alam da-pat diterpakannya dengan indah ke dalam rangkaian kata-kata.

Peristiwa alam memang selalu menarik untuk dijadikan puisi. Dalam puisi ”Dalam Mimpi” ter-dapat kutipan/kepalanya bagai

sapi/ mengasah tanduk/. Peristiwa ini tentunya hanya dapata diabadi-kan menjadi rangkaian kata dalam puisi oleh orang yang paham perilaku sapi. Dalam puisi ”Di Tangan Bara” terdapat kutipan/ kau seperti anaianai/ terbang tak tinggi/ pada lampu mati/ dapat dilihat pengamatan penulis terhadap perilaku hewan yang bernama anai. Rasanya anai-anai yang dimaksudkan oleh penulis adalah serangga bersayap yang muncul di musim hujan. Sebagian orang menyebut hewan itu laron. Tak semua orang paham bahwa laron termasuk ke dalam jenis anai-anai. Akan tetapi, penulis memilih menggunakan kata anai-anai tentunya dengan berbagai pertimbangan, terutama unsur keindahan bunyi.

Puisi-puisi Isbedy tak semata lahir dari pengamatan akan peris-tiwa alam. Pengalaman religius, pengetahuan akan budaya lokal, pengamatan akan peristiwa politik,

dan pengalaman mengunjungi tempat-tempat tertentu juga tak lepas dari puisi-puisinya. November Musim Dingin me-rupakan salah satu buku kumpulan puisi Isbedy yang mencatat dengan lengkap kisah perjalanannya menuju negeri Belanda pada November 2016. Sebagian besar puisi yang dimuat dalam buku November Musim Dingin bercerita tentang kerinduan Isbedy akan istri dan anaknya dan keluh-kesahnya mengadapi musim dingin di negeri Belanda. Pada akhirnya, bagi seorang penyair, setiap peristiwa adalah puisi. Baik atau buruknya puisi bukan lagi menjadi beban seorang penyair. Pembaca dan penikmat sastra bebas menafsirkan dan menilai karya sastra tanpa harus berkompromi dengan penulisnya.

*Staf Kantor Bahasa Lampung

PUSTAKA