• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESENSI BUKU

Dalam dokumen Mediakom Edisi 30 Juni 2011 - [MAJALAH] (Halaman 68-70)

iSTilah ’Perubahan Iklim’ sering digunakan secara tertukar dengan isilah ‘Pemanasan Global’. Fenomena pemanasan global adalah merupakan bagian dari perubahan iklim, karena parameter iklim idak hanya temperatur, melainkan ada parameter lain yang terkait seperi presipitasi, kondisi awan, angin, maupun radiasi matahari. Sedangkan pemanasan global merupakan peningkatan rata-rata temperatur atmosfer yang dekat permukaan bumi dan di troposfer, yang berkontribusi pada perubahan pola iklim global. Pemanasan global terjadi akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosir.

Perubahan iklim adalah berubahnya kondisi isik atmosir bumi yang terjadi idak hanya sesaat, tetapi dalam kurun waktu yang panjang, antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia (Kementerian Lingkungan Hidup, 2001). Perubahan iklim sudah terjadi baik secara global maupun regional termasuk di Indonesia.

Hasil peneliian Hulme and Sherrand (1999) di Indonesia mengalami peningkatan temperatur 0,03˚C/tahun dan hujan meningkat 2 hingga 3% pertahun. Perubahan periode ENSO (El Nino Southern Oscillaion), normal adalah 3 sampai 7 tahun, saat ini 2 sampai 5 tahun (Ratag, 2001).

Penanganan dampak perubahan iklim merupakan suatu upaya yang integraif dengan program

pembangunan suatu bangsa dan idak bisa dilakukan secara terpisah dari mainstream pembangunan secara umum. Sehingga upaya miigasi dan adaptasi perubahan

iklim harus diintegrasikan kedalam perencanaan pembangunan baik nasional maupun daerah. Dokumen Bappenas tentang Indonesia Climate Change Sectoral

Roadmap, prioritas teringgi aksi upaya tersebut

akan diintegrasikan kedalam sistem perencanaan pembangunan nasional.

Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan perlu dianisipasi, salah satu upaya sektor kesehatan adalah melakukan adaptasi. Dalam implementasi adaptasi terhadap perubahan iklim, program-program kesehatan harus diintegrasikan dalam pengarustamaan program- program pembangunan di sektor lain.

Dalam menghadapi isu perubahan iklim, sektor kesehatan perlu strategi untuk penguatan kapasitas lokal, peningkatan koordinasi pusat-daerah, perencanaan dan pendanaan, sosialisasi agar masyarakat lebih memahami terhadap isu perubahan iklim, meningkatkan ketahanan keluarga miskin dan kelompok rentan lainnya, dan melakukan peneliian-peneliian untuk menambah pemahaman akan dampak perubahan iklim. Untuk itu Kementerian Kesehatan menyusun strategi Adaptasi Dampak Perubahan iklim yang dapat dilaksanakan baik ingkat pusat maupun di daerah.

Buku ini berisi informasi yang mendasar tentang dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Informasi yang disampaikan untuk menumbuhkan pemahaman dasar tentang perlunya memberikan perhaian lebih terhadap dampak perubahan iklim. Diharapkan buku ini dapat memberikan pemahaman lebih baik bagi pihak- pihak yang terkait.§

Nomor Klasiikasi : 613.11

Judul : Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kesehatan

impresum : Jakarta : Kementerian Kesehatan RI : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan— 2011

kolasi : 42 hlm; 21 x 15 cm

iSbn : 978-602-8937-61-0

LENTERA

M

elayani itu kebutuhan, bukan beban, sehingga idak harus menghindar untuk memberikan pelayanan, apapun alasannya. Sebab hakekat melayani orang lain, adalah melayani diri sendiri. Apabila memperlakukan orang lain dengan baik, hakekatnya telah memperlakukan diri sendiri dengan baik. Sebalikya, bila memperlakukan orang lain idak baik, sesungguhnya telah memperlakukan buruk diri sendiri. Tegakah kita memperlakukan buruk kepada diri sendiri, padahal kita mampu memperlakukan orang lain dengan baik ?

Mungkin ada orang yang sinis dan ragu dengan pernyataan di atas, tapi survey membukikan demikian, sering menyebutkan “hukum karma”. Sebuah sebab-akibat yang akan terjadi dalam kehidupan. Kejadian sebab-akibat itu akan terjadi dalam waktu dekat atau jangka panjang atas perbuatan masa lalu. Banyak balasan baik atau buruk sebagai akibat perilaku kepada orang lain dimasa lalu.

Banyak jenis pelayanan dalam hidup ini, mulai dari yang paling sederhana, murah dan tanpa modal, sampai pemberian yang penuh pengorbanan dan perjuangan. Semakin besar pengorbanan dan perjuangan dalam memberi pelayanan, semakin besar manfaat bagi orang lain. Hal ini seperi yang dilakukan im sukarelawan Jepang untuk menjinakkan reaktor nuklir Fukujima, Jepang. Mereka siap dengan segala risiko yang akan menimpa diri, demi menyelamatkan manusia di muka bumi dari bahaya reaktor nuklir.

Sedangkan pelayanan yang mudah dan murah, idak memerlukan pengorbanan yang besar dan perjuangan yang sulit. Seperi memberikan pelayanan antar jemput bagi petugas jasa transportasi, milik pemerintah atau swasta. Pelayanan kesehatan di puskesmas, rumah sakit, klinik dan unit layanan kesehatan lainnya.

Mengapa mudah dan murah? Mudah, karena pelayanan tersebut sudah menjadi tugas harian, selalu berulang dengan kasus yang sama. Kalau ada pembelajaran sifatnya penambahan pengetahuan yang sudah ada, bukan hal baru yang belum diketahui. Murah, idak memerlukan biaya.

Cukup dengan bekal pengetahuan yang dimiliki dapat melayani kebutuhan masyarakat dengan baik. Bahkan masyarakat yang dilayani idak menerima pelayanan secara grais, mereka tetap rela mengeluarkan biaya atas jasa pelayanan tersebut. Bagi masyarakat miskin, jasa pelayanan ditanggung pemerintah melalui jamkesmas, jamkesda atau jaminan kesehatan lainnya.

Melayani itu kebutuhan, bukan beban, mau tahu bukinya? Pertama; lihatlah puluhan ribu pelamar ingin menjadi CPNS, mereka hakikatnya ingin menjadi pelayan. Walau formasi terbatas, mereka tetap berulangkali mengikui test untuk menjadi pelayan. Bukankah mereka butuh melayani? Terlepas setelah menjadi PNS ada yang meminta dilayani, bukan melayani.

Kedua; bagi mereka yang menjelang pensiun. Sejujurnya,

kalau ditanya dari lubuk hai yang paling dalam, mereka juga enggan meninggalkan mimbar pelayanan. Mereka tetap ingin memberi pelayanan, walau sudah paripurna. Ini buki bahwa melayani itu kebutuhan, bukan beban.

Sebagai pemberi layanan patut mensyukuri atas amanah tersebut. Masih banyak antrian panjang dibelakang yang siap mengganikan peran itu, jika kita sudah idak mau. Mari kita nikmai wujud pelayanan ini dengan melayani sepenuh hai. Walau banyak variasi dan aneka sifat masyarakat yang kita layani. Mari tetap tersenyum, bergembira dan berbahagia. Sebab kita telah mendapat amanah untuk melayani, sebagai kebutuhan hidup untuk dinikmai. Selamat menikmai….!§

Prawito

MELAYANI ITU

Dalam dokumen Mediakom Edisi 30 Juni 2011 - [MAJALAH] (Halaman 68-70)

Dokumen terkait