• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resiko Akibat Tidak Adanya Lembaga Permodalan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

V.1. Resiko yang di hadapi Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Negara Petani kelapa sawit kebun rakyat di Desa Gunung Rintis Kecamatan STM. Hilir

V.1.2. Resiko Non Teknis

1. Resiko Akibat Tidak Adanya Lembaga Permodalan

Masalah klasik yang terus menerus mendera petani juga dialami petani kelapa sawit yakni sulitnya mendapatkan modal dari lembaga-lembaga keuangan dikarenakan begitu banyaknya syarat dan jangka waktu pemberian modal yang relatif lama. Petani lebih tertarik meminjam modal kepada tengkulak/ijon karena lebih cepat dan praktis sehingga pembelian pupuk dan saprodi lainnya tepat waktu tidak perlu menunggu 1 minggu atau 1 bulan. Peminjaman ini biasanya dengan bunga yang tinggi mencapai 5% perbulan dan pada akhirnya mengurangi pendapatan petani. Akhir-akhir ini sejak tahun 2009 di daerah penelitian telah ada program PUAP yang membantu modal masyarakat dengan prosedur seperti koperasi. Namun belum semua petani yang mendapatkan bantuan tersebut karena dana per gapoktan yang diberikan hanya 100 juta sedangkan petani sawit di daerah penelitian 120 petani.

Pada perkebunan PTPN IV telah ada lembaga permodalan yang membantu secara finansial yakni bank, asuransi dan bantuan pemerintah. Namun apabila suku bunga fluktuatif maka pengembalian modal pun akan berfluktuasi sehingga dapat menurunkan tingkat pendapatan.

2. Resiko Akibat Manajemen Keuangan Yang Kurang Baik

Petani kelapa sawit pada umumnya tidak membuat pencataan sehingga sering modal untuk usaha kelapa sawit digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Pencatatan ini selain memberi informasi untung ruginya usaha dapat juga sebagai bahan informasi dalam memperkirakan harga saprodi berikutnya sehingga pada bulan atau musim berikutnya petani dapat mempersiapkan modal. Pada saat panen sulit sekali mengendalikan pengeluaran (cost meningkat) maka pendapatan rendah. Banyak petani saat panen langsung membayar hutang, membeli keperluan sehari-hari dan hanya sedikit yang tersisa untuk modal berikutnya. Keadaan ini tidak lagi meningkatkan pendapatan untuk memperoleh keuntungan yang maksimum tetapi lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan hidup saja.

Pada perkebunan PTPN IV Kebun Adolina manajemen keuangan telah terkoordinir dengan baik. Manajemen Sumber Daya Manusia tergolong baik terbukti dari adanya pelatihan-pelatihan dan training. Hanya saja isu mengenai birokrasi yang kurang jelas mengenai perekrutan tenaga kerja secara internal atau tertutup menimbulkan resiko adanya paradigma kurang baik di masyarakat.

3. Resiko Akibat Kebijakan Pemerintah Yang Menghambat

Adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah seperti larangan ekspor, proteksi dan kuota adakalanya menghambat produktivitas perusahaan perkebunan. Perusahaan yang seharusnya dapat mengekspor sejumlah CPO per minggunya dapat mengalami penurunan penerimaan devisa karena kebijakan pemerintah yang menghambat sehingga tingkat pendapatan akan menurun. Kebijakan yang dinilai untuk melindungi negara dapat menimbulkan resiko kerugian jangka pendek bagi perusahaan perkeunan. Sedangkan resiko pada petani rakyat karena masalah ini adalah rendahnya harga yang ditawarkan petani.

4. Resiko Akibat AMDAL Yang Tidak Jelas

Setiap perusahaan besar termasuk perkebunan negara harus memiliki AMDAL/Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Analisis ini secara garis besar mengakaji mengenai penggunaan lahan (berkaitan dengan Hak Guna Usaha/ HGU), lingkungan yang sustainable, kontribusi perusahaan bagi negara, serta kompensasi yang diberikan kepada daerah tempat perusahaan dibangun. Apabila perusahaan todak memiliki kajian AMDAL yang jelas serta perlindungan hukum yang baik maka isu kerusakan lingkungan akan meningkat sehingga perusahaan tersebut tidak layak didirikan dan dapat diganggu gugat bahkan ditutup dengan biaya kompensasi yang besar karena dianggap merugikan negara. Berbeda dengan perkebunan rakyat yang tidak memerlukan AMDAL. Para petani rakyat hanya perlu memiliki surat tanah yang menandakan bahwa lahan itu adalah miliknya sehingga tidak ada resiko besar yang didapi.

5. Resiko Akibat Hubungan Dengan Masyarakat Kurang Baik

Bukan hal yang baru pada suatu perusahaan terdapat suatu sub yang menangani hubungan kemasyarakatan. Bagian ini sering dikenal dengan bagian CSR (Coorporate Social Responsibility), suatu perusahaan memiliki beban sosial yang akan ditanggulangi dengan adanya CSR ini. Pada bagian ini akan mengurusi masalah yang terjadi di lingkungan eksternal perusahaan perkebunan. Masalah masalah baik itu mengenai hubungan perusahaan dengan masyarakat setempat, jaminan hukum dan keberlangsungan hidup ditangani dengan baik. Apabila suatu perusahaan tidak memiliki bagian ini dan hubungan perusahaan dengan masyarakat tidak baik maka akan timbul kesenjangan sosial yang pada akhirnya

menimbulkan kekacauan, perselisihan perusahaan dengan masyarakat atau perusahaan dengan lembaga hukum, demonstrasi yang dapat menghambat kinerja perusahaan perkebunan tersebut.

Lain halnya pada petani rakyat hubungan kemasyarakatan ini lebih diartikan pada hubungan dengan petani lain. Pada daerah penelitian ada petani yang memiliki hubungan kurang baik dengan petani lain. Sifat yang mementingkan kepentingan pribadi dan sombong menjadi dasar timbulnya resiko kesenjangan sosial yang pada akhirnya menimbulkan konflik. Konflik ini dapat menjadi perselisihan sehingga proses pemasaran dan informasi pasar yang diterima pihak-pihak tersebut berbeda-beda.

6. Resiko Akibat Tidak Ada Lembaga Perkumpulan Petani Sawit Rakyat Dan Tidak Ada Penyuluhan Mengenai Kelapa Sawit

Di Desa Gunung Rintis belum ditemukan suatu lembaga bagi pengusaha sawit. Lembaga yang diharapkan berfungsi sebagai tempat dimana petani kelapa sawit mendapatkan informasi mengenai teknik budidaya yang baik dan terpadu, pengolahan pasca panen, teknologi ramah lingkungan, investor, produk derivatif yang dihasilkan serta informasi mengenai harga yang uptodate. Bahkan di daerah penelitian jarang dilakukan penyuluhan terhadap tanaman perkebunan terutama kelapa sawit yang menjadikan petani sawit hanya melakukan teknik budidaya biasa, hanya puas dengan hasil yang minim tersebut (seperti pada lampiran pendapatan) dan sangat introvert terhadap perubahan.

Sedangkan pada PTPN IV telah ada lembaga perkumpulan bagi perusahaan kelapa sawit negara serta lembaga pemasaran hasil bersama sehingga resiko akan fluktuatifnya harga tidak terlalu berpengaruh. Selain itu si perkebunan PTPN IV ini ada lembaga peneliti dan staf ahli di bidang teknologi, budidaya dan sosial sehingga informasi mengenai teknologi dan informasi terbaru cepat didapat.

7. Resiko Akibat Track Dan Keadaan Politik Yang Tidak Stabil.

Dalam mengusahakan kelapa sawit ada istilah yang dikenal dengan track. Track merupakan masa/ musim dimana kelapa sawit berproduksi tidak normal. Masa ini biasanya terjadi pada kisaran bulan Februari hingga Juni. Mulai Februari hingga Juni produksi TBS biasanya tidak normal. Seberapa banyak pun pupuk diberikan sulit untuk mengembalikan produksi TBS seperti normal. Hal ini menyebabkan pendapatan petanipun menurun. Selain itu kondisi stabilitas negara pun mempengaruhi harga. Apabila kondisi politik tidak stabil biasanya harga TBS pun fluktuatif. Kondisi ini pernah dialami pada saat pemilihan presiden dan krisis global saat konflik kredit perumahan di Amerika.

Pada PTPN IV Kebun Adolina, track tidak menjadi masalah besar karena seberapa besar penurunan dan peningkatan jumlah TBS tidak terlalu mempengaruhi harga. Hal ini terjai karena PTPN IV masih dapat menyimpan seluruh hasil produksi dalam bentuk CPO. Namun saat terjadi kondisi politik yang tidak stabil harga CPO dapat berfluktuasi seiring suku bunga dan nilai valas yang juga berfluktuasi.

Dokumen terkait