HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
V.1. Resiko yang di hadapi Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Negara Petani kelapa sawit kebun rakyat di Desa Gunung Rintis Kecamatan STM. Hilir
V.1.1. Resiko Teknis
Resiko Teknis mengarah kepada hal teknis yang berhubungan langsung dengan usaha budidaya, pengolahan, pemasaran yang pada akhirnya dapat mempengaruhi produksi secara langsung. Resiko yang dihadapi oleh petani rakyat tentunya berbeda dengan resiko yang dihadapi perkebunan. Resiko- resiko yang paling potensial dapat ditabulasikan pada tabel berikut:
Tabel 12. Jenis Resiko Teknis Yang Potensial Di Perkebunan Rakyat Desa Gunung Rintis dan Perkebunan Negara PTPNIV Kebun Adolina
no uraian perkebunan rakyat perkebunan negara
pilihan resiko potensial pilihan resiko potensial
1 Penyediaan bibit Sembarangan Kualitas dan kuantitas TBS dari tanaman yang dihasilkan tidak terjamin.
Unggul dan bersertifikat
Resiko sangat kecil, hanya beberapa yang tidak baik(≤ 5%).
2 Seleksi bibit Hanya pada saat penanaman ke lapangan
Petani hanya menyeleksi sesuai kondisi fisik bibit sehingga ada beberapa tanaman yang tumbuh tidak normal (kerdil) dan tidak merata.
Tidak tepat saat pemindahan dari prenursery ke main nursery dan ke lapangan
Tanaman tidak seragam dan kerdil
a. kerdil 5% produksi turun0,96 ton/ha/thn b.kerdil 10% produksi turun 1,92 ton/ha/thn c.kerdil 15% produksi turun 2,88 ton/ha/thn d.kerdil 20% produksi turun 3,84 ton/ha/thn
3 Penanaman -Jarak tanam
tidak tepat -Kedalaman tidak merata
-Tanaman kurang ruang gerak, penyerapan unsur hara tidak sama sehingga tumbuhnya tidak merata -Tanaman tidak kokoh
-Penanaman areal gambut tanpa pengerasan jalan -Kedalaman tidak merata
-Pada PTPN IV jarang terjadi ,apabila terjadi tanaman di atas umur 10 tahun ke atas dapat tumbang atau batang semakin turun ke tanah
-Pada PTPN IV jarang terjadi, namun bila kedalaman kurang merata maka tanaman tumbuh tidak merata dan kurang kokoh. 4 Pemberian pupuk a.Tidak sesuai
kebutuhan tanah dan tanaman b.Tidak dengan
sebar merata c.Pada saat curah
hujan tinggi d.Aplikasi dengan
dosis yang tidak merata
a. Tanaman sering kekurangan atau kelebihan unsur hara karena kurang mengetahui kebutuhan tanah terlebih dahulu sehingga fisik tanaman buruk b. Pupuk tidak terdistribusi dengan baik c. Pupuk yang diberikan terkikis air sehingga tanaman masih kekurangan pupuk
d. Pertumbuhan tidak merata sehingga produksi per tanaman berbeda-beda
a.Telah sesuai kebutuhan tanah dan tanaman
b.Tidak dengan cara sebar merata c.Pada saat curah hujan tinggi d.Aplikasi dengan dosis yang tidak merata
a.Tidak ada resiko (telah sesuai kebutuhan tanaman karena telah diteliti sebelumnya)
b.Hanya sebahagian akar tanaman yang menyerap pupuk sehingga produksi turun 3-5% untuk 15 tanaman
c.Hilangnya unsur hara N 11%, K 5%, P 3%, Mg 6%
d.Produksi berbeda sehingga turun 50%
no uraian perkebunan rakyat perkebunan negara
pilihan Resiko potensial pilihan resiko potensial
5 Penanaman
tanaman penutup tanah/ LCC(Land Cover Crop)
Tidak ada Banyak gulma yang tumbuh dan sangat mengganggu pertumbuhan tanaman karena dapat menyerap sebahagian unsur hara sehingga produksi pun kurang optimal
Ada
Telah dilakukan penanaman LCC
Kelembapan tanah baik.
Namun apabila tanaman kacangan tidak ada maka gulma meningkat sehingga produksi turun 16%.
6 Adanya Serangan hama
Serangan
kumbang, ulat api, ulat kantong
Daun dan batang sering rusak/berlubang sehingga mengganggu fotosintesis, penyerapan dan pendistribusian pupuk dan menurunkan produksi. Selain itu waktu yang digunakan tidak efisien
karena sebahagian petani mengendalikan secara tradisional
a.Kerusakan karena Oryctes b.Kerusakan karena tikus c. Karena ulat daun
Tanaman rusak dan kinerja pupuk turun 5-10%, mengurangi produksi:
a. tahun I:50%, II:31%, III 42% b. 7-10% dari kadar CPO
c. 40%
7 Adanya serangan
gulma dan penyakit
-Belum ditemukan penyakit yang jelas -Gulma di lahan dan di tanaman kelapa sawit
- Belum ada resiko karena penyakit. Belum ditemukan ganoderma
-Gulma di lahan dan di tanaman mengganggu efisiensi pemupukan.
a.Terdapat ganoderma b. Gulma Mikoria
Tanaman sakit dan kinerja pupuk turun 15-50% bahkan mengurangi produksi: a.Ganoderma: 46%-tanaman mati b.Mikoria: 21% 8 Kesalahan pemanenan a. Buah mentah dipanen b. Cara panen tidak baik c. Memperpanjang interval panen ≥ 15hari
a.Tidak laku dipasarkan
b.Cara tidak benar dapat melukai TBS, banyak brondol lepas
c. Kematangan TBS tidak merata bahkan TBS dapat rusak dipohon
a. Buah mentah dipanen
b.Cara panen tidak baik
c.Memperpanjang interval panen ≥
15hari
a.Produksi selanjutnya turun. 4% dan mempersulit proses pengolahan
b. Produksi turun 4% c.17% buah brondol bahkan
meningkatkan ALB 50% dan menurunkan rendemen minyak
Dari tabel tersebut diketahui terdapat beberapa resiko yang paling potensial dari berbagai perlakuan yang dihadapi petani rakyat dan perkebunan negara:
1. Resiko Akibat Penyediaan Bibit Yang Sembarangan/ Tidak Bersertifikat Bibit bersertifikat merupakan bibit unggul yang dihasilkan dari hibrida-hibrida terbaik hasil persilangan dari tetua/parental yang diketahui mempunyai daya gabung berdasarkan pengujian dan prosedur seleksi RSS(Reciprocal Reccurent
Selection). Tetua/induk yang digunakan adalah Dura sebagai induk jantan dan
Psifera sebagai induk betina. Hasil persilangan tersebut menghasilkan Tenera yang terbukti memiliki kualitas yang lebih baik. Berbeda dengan bibit liar atau sembarangan, bibit ini diperoleh dari induk yang tidak jelas dan produksi yang dihasilkan tidak terjamin kualitasnya. Beberapa ciri fisik yang dapat digunakan untuk mengetahui benih atau bibit kelapa sawit liar adalah sebagai berikut:
Tabel 13. Perbedaan ciri fisik kecambah dan bibit liar dan unggul.
no. uraian unggul/bersertifikat liar/sembarangan 1. Ciri-ciri kecambah -tempurung biji bersih
-warna radikula kuningan dan plumula putihan dengan ukuran radikula lebih panjang dari plumula.
-pertumbuhan radicula lurus dan berlawanan arah
-tempurung biji mengandung serabut, permukaannya kasar dan kotor
-warna radikula dan plumula samar-samar panjang radikula dan plumula tidak seragam. -pertumbuhan radikula, plumula tidak jelas terkadang searah 2. Ciri-ciri bibit -pertumbuhan bibit seragam
-persentase pertumbuhan bibit abnormal rendah
-bibit terlihat lebih besar karena endosperm baik.
-tidak mudah terserang hama penyakit karena sebelumnya dilarutkan di larutan fungisida
- pertumbuhan bibit tidak seragam
-persentase pertumbuhan bibit abnormal cukup tinggi
-bibit terlihat kurus karena endosperm berisi cadangan makanan berukuran kecil
-lebih mudah terserang hama penyakit
Petani rakyat pada umumnya tidak mengetahui perbedaan bibit unggul yang bersertifikat dengan bibit yang tidak bersertifikat. Di daerah penelitian hampir seluruh petani membeli bibit yang berusia 9-12 bulan dari lembaga yang tidak jelas atau agen yang langsung menawarkan bibit ke petani dengan iming-iming memberikan produksi yang sama dengan bibit unggul dan harga yang terjangkau.. Mereka memilih bibit berdasarkan harga dan keadaan fisik tanaman tanpa mengetahui dengan jelas asal usul bibit tersebut dan bagaimana prediksi kondisi tanaman kelapa sawit pada masa yang akan datang. Sedangkan PTPN IV telah mengusahakan bibit bersertifikat dengan membeli bibit dari PT. Socfindo dan PPKS Sumatera Utara untuk mendapatkan benih yang berkualitas.
Apabila tidak menggunakan bibit bersertifikat maka akan terjadi resiko besar yakni kualitas tanaman dan kuantitas produksi yang akan dihasilkan tidak optimal. Tanaman dari bibit sembarangan biasanya tidak tahan hama penyakit, pertumbuhannya lebih lama sehingga menghasilkan produksi TBS tidak optimal dan dengan kualitas yang kurang memuaskan. Tak jarang para petani mengeluh karena buah yang dihasilkan berupa buah cengkeh yang tidak dapat diolah sehingga tidak laku dipasarkan.
2. Resiko Akibat Seleksi Bibit Yang Kurang Tepat
Seleksi bibit dengan sistem tanam 2 tahap biasanya dilakukan 2 x yakni dari
pre-nursery ke main pre-nursery dengan ciri-ciri berusia 3 bulan dan telah memiliki 4-5
helai daun dan dari main nursery ke lapangan dengan ciri-ciri berusia 9-12 bulan dengan tinggi 75-175 cm. Petani di daerah penelitian hanya menyeleksi 1 x yakni
langsung ke lapangan karena telah memperoleh bibit yang berusia 9-12 bulan. Petani rakyat di Desa Gunung Rintis menyeleksi berdasarkan kondisi fisik bibit yakni daun masih berwarna hijau tidak luka dan tinggi sekitar 140 cm. Sedangkan pada PTPN. IV Kebun Adolina seleksi dilakukan 2 x dari pre-nursery ke main
nursery dengan ciri-ciri tinggi tanaman ± 26 cm, diameter ± 1,3 cm, umur ± 3
bulan, jumlah pelepah 2-3 buah. Apabila tidak sesuai syarat maka tanaman tersebut dibuang karena diasumsikan tidak akan memberikan produksi optimal ± 22-27 ton/ha/tahun. Begitu pula pada seleksi ke lapangan dengan ciri-ciri berusia 9-12 tinggi ±170cm, daun tidak menggulung dan baik. Apabila tidak sesuai syarat maka tanaman akan dibuang. Pada PTPN IV Kebun Adolina tanaman yang dibuang hanya sedikit (≤ 5%). Dari keadaan tersebut dapat diketahui pada perkebunan rakyat akan terdapat beberapa tanaman yang tumbuh tidak normal karena seleksi yang tidak sesuai standar. Pada perkebunan negara kondisi ini tergolong jarang terjadi namun bila tanaman tetap ditanam akan menimbulkan tanaman tidak seragam dan tanaman kerdil sehingga apabila tanaman kerdil 5% produksi turun 0,96 ton/ha/tahun; kerdil 10% produksi turun 1,92 ton/ha/tahun; kerdil 15% produksi turun 2,88 ton/ha/tahun; kerdil 20% produksi turun 3,84 ton/ha/tahun.
3. Resiko Akibat Penanaman Yang Tidak Tepat
Penanaman yang baik adalah penanaman di tanah mineral datar dengan 1 lubang tanam berukuran 60cm x 60cm x 60cm. Pada tanah mineral berteras lubang dibuat berjarak 1m dari dinding teras, pada tanah gambut lubang dibuat ganda (hole in
lubang lagi ditengahnya dengan ukuran 60cm x 60cm x 60cm. Tujuan pembuatan
hole in hole adalah untuk mengurangi resiko pertumbuhan tanaman yang miring
ke salah satu posisi pada saat awal perkembangan terutama bila ditanam di daerah gambut sedang hingga dalam. Jarak tanam yang baik adalah 9m x 9m(mata lima) dengan jumlah pokok 125/ha. Penanaman sebaiknya dilakukan di awal musim hujan karena air sangat berperan menjaga pertumbuhan.
Petani di Desa gunung Rintis menanam dengan jarak tanam jarak tanam yang kurang tepat yang menimbulkan resiko semakin rapatnya tanaman sehingga ruang gerak dalam menyerap sinar matahari dan air kurang dan pertumbuhannya terhambat mulai dari akar hingga daun sehingga produksinya tidak optimal. Penanaman bibit yang kurang dalam akan menimbulkan resiko tanaman menjadi merata, tanaman awalnya miring bahkan tumbang. Tanaman miring tidak dapat dipertahankan karena rentan akan gejala alam seperti gempa, angin, longsor, dan banjir serta rentan terhadap penyakit terutama ganoderma. Di Desa Gunung Rintis ada beberapa petani yang sudah menanam dengan jarak tanam tepat namun karena bibit yang kurang baik saat bibit rusak ada petani yang tidak menyisip ada pula yang menyisip dengan jumlah lebih sehingga pada akhirnya jarak tanam tidak beraturan. Jarak tanam yang tidak beraturan ini mempengaruhi kerapatan dan berat TBS yang dihasilkan.
Lain halnya pada perkebunan PTPN IV, jarak tanam telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan apabila ada tanaman di areal gambut dilakukan pengerasan terlebih dahulu. Pada PTPN IV sebenarnya hal ini jarang terjadi, jika terjadi
penanaman tanpa pengerasan maka tanaman menjadi tidak kokoh bahkan dapat tumbang. Apabila terjadi kesalahan teknis dalam penanaman akan menimbulkan resiko rendahnya kerapatan buah dan penurunan berat TBS seperti pada tabel berikut:
Tabel 14. Pengaruh Kerapatan Pokok/Tanaman Terhadap Jumlah Dan Berat TBS. no jumlah pokok kerapatan
buah jumlah tandan berat per janjang ton tbs kapasitas panen 1 2.600 1:6 433 18 7.794 1.500 2 2.530 1:7 375 19 7.125 1.500 3 2.570 1:6 426 18 7.704 1.500 Sumber: SOP PTPN IV
4. Resiko Pemberian Pupuk Yang Tidak Tepat.
Pemupukan seyogianya harus memperhatikan daya serap akar, cara pemberian dan penempatan pupuk, waktu pemberian serta dosis dan jenis pupuk. Cara pemberian sebaiknya dengan membersihkan piringan lalu ditabur merata 0,5m dari pohon sampai piringan. Waktu pemberian pupuk sebaiknya pada saat musim penghujan tetapi tidak pada saat curah hujan tinggi hingga terjadi penggenangan. Tujuan dilakukan pada musim penghujan agar mudah larut dan diserap tanah sekitar 75% dari kapasitas lapang namun bila curah hujan tinggi (air menggenang) ditambah drainase juga buruk maka pupuk akan terkikis.
Petani kelapa sawit di Desa Gunung Rintis biasanya memupuk tanpa ukuran yang standar hanya berdasarkan perasaan dengan ukuran gengaman tangan. Pada dasarnya tanaman kelapa sawit semakin lama akan membutuhkan pupuk yang semakin banyak sesuai dengan umur tanaman. Namun, di daerah penelitian ada petani rakyat memberikan pupuk dengan dosis tidak sesuai umur tanaman. Selain
itu pemberian pupuk yang lebih baik tebar merata sering menjadi menabur hanya pada 1 titik yang menimbulkan resiko tidak tepat distribusi dan tidak meratanya unsur hara yang diberikan sehingga produksi tiap tanaman akan berbeda-beda.
Pada perkebunan negara pemupukan telah sesuai dengan penelitian; daya serap akar, cara pemberian dan penempatan pupuk, waktu pemberian, ukuran dan jenis pupuk telah sesuai SOP dan diawasi dengan baik namun terkadang masih dijumpai sedikit kesalahan yang dapat menurunkan produksi. Ukuran dan dosis yang digunakan perkebunan negara PTPN IV Kebun Adolina pada tahap
pre-nursery dan main pre-nursery berbeda-beda. Kebutuhan-kebutuhan pupuk tersebut
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 15. Kebutuhan Pupuk Di Pembibitan Pre-Nursery Dan Main Nursery PTPN IV Kebun Adolina tahun 2010
Minggu ke Pembibitan NPK15;15;6;4(gr) NPK12;12;7;2(gr) Kieserit
2-3 pre-nursery 2,5 4-5 pre-nursery 5 6-9 pre-nursery 7,5 10-13 main nursery 10 14-21 main nursery 10 22-29 main nursery 15 30-35 main nursery 20 36-51 main nursery 25 Sumber: SOP PTPN IV
Pemupukan pada TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) dilakukan 3 kali setahun dengan dosis seperti pada tabel berikut:
Kieserit Minggu ke 14 main nursery 16 main nursery 5 20 main nursery 5 24 main nursery 7,5 28 main nursery 7,5 32 main nursery 10 36 main nursery 10 40 main nursery 10
Tabel 16. Pemupukan Pada TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) Tahun Aplikasi ZA (gr) RP (gr) MOP (gr) Kieserit (gr) Borate (gr) NPK (gr) 15;15;6;4 Urea (gr) TBM1 I 100 - - - - II 250 - 150 100 - - - III 250 - 150 150 100 - - TBM2 I - - - 300 200 II - - - 300 250 III - - - - 25 400 250 TBM3 I - - 100 - 30 750 - II - - 100 - - 750 - III - - 125 - 50 1000 - Sumber: SOP PTPN IV
Pupuk diaplikasikan dengan menyebar merata di piringan ± 4- 5 cm dari batang. Apabila terjadi kesalahan dalam cara pemberian pupuk maka hanya sebahagian akar tanaman yang menyerap pupuk sehingga produksi turun 3-5% untuk 15 tanaman dan apabila pemberian pupuk diberikan pada curah hujan tinggi akan menimbulkan resiko hilangnya unsur hara N 11%, K 5%, P 3%, Mg 6%. Bila dosis per tanaman tidak merata akan menimbulkan resiko produksi berbeda sehingga produksi turun 20- 50%.
5. Resiko Akibat Tidak Adanya Tanaman Penutup Tanah/LCC(Land Cover Crop) Tanaman LCC sering disebut tanaman penutup tanah yang biasanya merupakan tanaman kacang-kacangan penting bagi tanaman kelapa sawit. Dengan adanya tanaman ini maka gulma yang menyerang tanaman akan berkurang sehingga pupuk yang diberikan tidak terbagi. Selain itu keadaan akar tanaman kacang-kacangan yang mengikat nitrogen dapat membantu menyuburkan dan menjaga kelembapan tanah. Tanaman penutup tanah yang baik adalah tanaman kacang-kacangan berumur pendek, perakaran tidak terlalu panjang dan tidak mengganggu
tanaman pokok misalnya Pueraria javanica, Centosema pubescens,
Callopogenium caerulium, Mucuna cochinchinesis dan Psophocarpus palustris.
Di Desa Gunung Rintis tidak ada petani yang menggunakan tanaman penutup tanah akibatnya banyak gulma yang tumbuh di lahan dan di sekitar piringan. Petani biasanya mengendalikan dengan menyemprot herbisida 2 x setahun atau hanya membabat rumput. Sedangkan pada PTPN IV penanaman kacang-kacangan sebagai penutup tanah telah dilakukan. Apabila dalam perkebunan tidak ada tanaman LCC maka kelembapan tanah tidak terjaga, banyak gulma yang merugikan tanaman dan kondisi tanah akan semakin memburuk. Hal tersebut akan memberikan penurunan produksi kelapa sawit sebesar 16% dibanding tanaman dengan menggunakan LCC.
6. Resiko Akibat Serangan Hama
Pada perkebunan kelapa sawit terdapat berbagai hama yang merugikan, seperti: Nematoda, tungau, ulat api, ulat kantong, belalang, kumbang oryctes, kutu daun, penggerek tandan buah, tikus, babi hutan, bahkan gajah. Hama tersebut biasanya diberantas dengan cara mekanis terlebih dahulu, apabila sudah melebihi ambang batas toleransi dan ambang batas ekonomi dapat dikendalikan dengan cara pengendalian hama terpadu baik dengan musuh alami maupun menggunakan insektisida.
Di perkebunan PTPN IV hama yang paling sering muncul adalah adalah oryctes, hama tikus, dan ulat daun. Apabila tidak ada penanganan akan kerusakan yang
ditimbulkan oryctes maka tanaman akan rusak khususnya daun dan batang sehingga produksi menurun 50% pada tahun I serangan dan produksi menurun 31% pada tahun ke 2. Sedangkan apabila tidak ada pengendalian akan hama tikus akan menimbulkan resiko penurunan produksi 7-10% dari kadar CPO atau 20% TBS dan tidak adanya penanganan akan ulat daun baik itu ulat kantong, ulat api akan menimbulkan resiko penurunan produksi 40%.
Pada perkebunan rakyat hama yang paling sering mengganggu tanaman kelapa sawit adalah ulat api, ulat kantong, kutu daun, babi hutan dan tikus. Hama tersebut sangat mengganggu tanaman sehingga menurunkan berat TBS yang akan dihasilkan. Pada umumnya para petani rakyat mengendalikan hama dengan cara mekanis yaitu menangkap hama secara langsung lalu membakarnya.
7. Resiko Akibat Serangan Penyakit Dan Gulma
Selain hama, penyakit dan gulma juga mengganggu produktivitas perkebunan kelapa sawit. Penyakit pada umumnya tidak dapat diketahui penyebabnya secara kasat mata. Penyakit yang biasanya terjadi di areal kebun kelapa sawit adalah ganoderma atau busuk pangkal batang, penyakit tajuk (crown disease), penyakit akar (blast disease), penyakit daun bibit muda (anthracnose), busuk pangkal batang atas (upper stem rot), busuk kering pangkal batang (dry basal rot) dan penyakit busuk kuncup (spear rot).
Pada Perkebunan PTPN IV penyakit yang paling banyak muncul dan merugikan adalah ganoderma/ busuk pangkal batang. Penyakit ini bila menyerang tanaman
dapat menimbulkan penurunan produksi 46% atau bahkan hingga 100%. Tanaman yang terserang penyakit ini sebaiknya dibongkar karena dapat menimbulkan penularan penyakit dengan cepat. Gulma yang paling banyak mengganggu tanaman kelapa sawit di daerah perkebunan adalah gulma mikoria. Gulma ini memarasit tanaman sehingga pupuk yang diberikan kehilangan efisiensinya. Gulma ini secara berkala menimbulkan menurunnya produksi sekitar 21%.
Di Desa Gunung Rintis hanya sedikit penyakit yang dapat ditemui hanya daun sedikit keriting dan menguning. Di daerah penelitian ini belum ditemukan penyakit ganoderma karena masih baru sekali masa tanam dan belum terinfeksi ganoderma dari daerah lain. Namun di daerah ini terdapat banyak gulma yang mengganggu efisiensi pupuk karena tidak adanya tanaman penutup tanah. Petani di daerah penelitian biasanya menggunakan herbisida untuk mengendalikan gulma. Adapun jenis herbisida yang digunakan adalah gromoxone, rumat, semat dan round-up.
8. Resiko Akibat kesalahan Pemanenan
Pemanenan sebaiknya dilakukan sesuai standar-standar perkebunan yakni buah matang dengan jumlah brondolan yang jatuh ± 10 butir untuk tanaman kurang dari 10 tahun dan 15-20 butir untuk tanaman lebih dari 10 tahun dengan warna kulit buah merah jingga. Apabila TBS adalah buah mentah maka akan terjadi resiko kekurangan produksi 4% sedangkan apabila TBS terlalu matang akan memberikan minyak kelapa sawit dengan kadar asam lemak yang tinggi. Mutu minyak kelapa
sawit yang dihasilkan sangat mempengaruhi pendapatan. Oleh karena itu setiap perkebunan mengusahakan produk yang dihasilkan dengan baik.
Tabel 17. Kadar Mutu Minyak Kelapa Sawit
No Parameter Standar(%)
1 ALB ≤ 2,5% maks
2 Kadar air 0,15 % maks
3 Kadar kotoran 0,02% maks
4 Bilangan Peroksida m,ek/kg 5,0 maks 5 Bilangan Asisidine m,ek/kg 5,0 maks
6 DOBI 2,5 min
7 Bilangan Ind 51 min
8 Fe (besi) ppm 5 maks
9 Cu(tembaga) ppm 0,3 maks
10 Titik Cair 39-41°C
Sumber: SOP PTPN IV
Apabila cara panen dan frekwensi tidak baik maka akan terjadi penurunan produksi masing-masing 4% dan 17%. Pada perkebunan rakyat petani sering memanen TBS dalam keadaan mentah, dan dengan cara panen yang tidak baik yakni tanpa memotong pelepah terlebih dahulu dan sering memotong tandan dengan tidak tepat sehingga semakin banyak brondolan yang jatuh. Kondisi ini menimbulkan resiko penurunan berat TBS yang dihasilkan dan penurunan kualitas minyak yang dihasilkan.