BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
3. Respon Terhadap Keluarga Inti
Kedua subjek memiliki sikap yang sangat berbeda dalam
merespon sikap dari keluarga besar. Dengan demikian pada bagian ini
peneliti membagi pengelompokkan tema dalam 2 tabel yang berbeda.
Subjek 1 :
Tema Subjek 1
1. Mendapat penerimaan dari orang tua terkait dengan keputusan pindah agama
2. Memutuskan untuk Pindah Agama karena desakan orang tua 3. Merasa bahwa orang tua terbuka dengan agama baru
4. Ketakutan dan kekhawatiran jika keluarga inti tersinggung dengan penolakan keluarga besar
150 – 165, 188 – 192, 215 – 219, 638 – 641, 669 – 680 239 – 244 278 – 299, 704 – 717, 760 - 764 737 – 739, 747 – 752
Keputusan subjek 1 untuk melakukan pindah agama mendapatkan
penerimaan yang sangat baik dari pihak keluarga inti dalam hal ini orang
tua dan adik subjek. Walaupun orang tua subjek berasal dari agama yang
berbeda, namun subjek menyadari bahwa orang tua subjek merupakan tipe
orang tua dengan pola asuh yang demokratis. Dalam hal ini, Sesuai dengan
Santrock (2002), pola asuh yang demokratis memungkinkan anak untuk
berdiskusi dengan orang tua mengenai harapan dan keinginannya karena
orang tua mau mendengarkan dan menerima harapan dari anak. Pada pola
mengajarkan kepada anak mengenai nilai – nilai kehidupan yang baik. Hal ini nampak pada :
orang tuaku tuh sangat mendukung aku untuk tetap jadi Katholik
tapi gak lupa dengan nilai – nilai yang sudah aku peajari dari
kecil, misalnya gini medkipun aku agamanya Katholik tetapi aku kalau lebaran harus tetap pulang, harus tetap kumpul dengan mereka itu sudah tradisi dari dulu…
malah dia mengajarkan untuk tetap membari contoh gitu, misalnya ada yang waktu kurban, misalnya ada yang e.. tetanggaku itu kan Kristen waktu kurban itu dia nyumbang Sapi gitu ya trus ya Bapak
– Ibuku ini senang – senang aja, trus nasehatin aku kalau nanti
begitu gitu, harus berbuat baik dan lain – lain lah. Meskipun kamu
agamanya sudah gak muslim lagi begitu, jadi selama ini sih
mendukung – mendukung aja.
Dari hal tersebut, nampak jelas bahwa keputusan pindah agama
yang diambil oleh subjek telah mendapat penerimaan dari orang tua,
bahkan orang tua subjek memberikan nasihat agar di agamanya yang baru
subjek tetap melaksanakan tradisi keluarga dan terus melakukan nilai –
nilai kebaikan. Dukungan dan penerimaan dari keluarga tersebut membuat
subjek merasa berharga dan semakin yakin untuk mengambil keputusan
pindah agama. Dengan adanya dukungan dari keluarga tersebut subjek
merasa mampu untuk mengatasi segala resiko termasuk penolakan dari
Subjek tetap menyadari bahwa pilihan yang diambil terkait dengan
keputusannya untuk pindah agama tetap mengandung resiko. Pada
pembahasan tema – tema selanjutnya akan dijelaskan bahwa keluarga besar subjek menunjukkan sikap penolakan terhadap keputusan subjek
dalam melakukan pindah agama.
yang aku khawatirkan tuh, hmm.. mereka bisa gak ya, menghadapi
orang – orang yang mencemooh tadi, nek aku sih menerima –
menerima aja, cuman yang tak khawatirkan adalah pye yo, nanti
perasaan mereka, mereka bisa gak ya menerima omongan orang –
orang itu, yang aku pikirkan sih sampe saat ini masih mengganjal sih itu,
Walaupun saat ini keluarga inti subjek masih menerima keputusan
tersebut, namun demikian subjek menyimpan perasaan khawatir kalau
seandainya suatu saat nanti keluarga inti subjek merasa tersinggung akibat
dari penolakan keluarga besar. Perasaan khawatir tersebut menyebabkan
subjek merasa takut jika keluarga inti subjek ikut terpengaruh dengan
keluarga besar dan akhirnya merasa kecewa terhadap keputusan subjek
untuk pindah agama. Terlebih hingga saat ini keluarga besar subjek masih
terus – menerus menyindir subjek saat keluarga besar berkumpul.
Ya takutnya mereka kesinggung, sedih trus akhirnya menyesal telah membiarkan aku gitu
Subjek merasa khawatir jika dukungan dan penerimaan yang selama ini
direnggut oleh karena penolakan yang terus – menerus terjadi dari keluarga besar.
Subjek 2 :
Tema Subjek 2
1. Respon terhadap Sikap Ayah
1. Mendapat desakan dari Ayah untuk mengikuti agamanya 2. Menutupi Keputusan Pindah Agama dari Ayah
3. Merasa bahwa saat ini ayah tidak pernah memaksa untuk mengikuti agamanya
4. Ketakutan bila tidak mengikuti otoritas ayah dan mendapat penolakan dari ayah
5. Merasa bahwa pengkhianatan ibu membuat ayah menolak subjek jika mengikuti agama ibu
6. Ketakutan karena menutupi keputusan pindah agama dari ayah
7. Konflik antara ketakutan mendapat penolakan vs ketakutan karena menutupi sesuatu
8. Merasa mendapat kasih sayang dari Ayah 9. Merasa lebih menyayangi Ayah dari Ibu
10.Berencana untuk memberitahu keputusan pindah agama kepada ayah di waktu yang tepat
2. Penerimaan dari Ibu
1. Berpendapat bahwa ibu tidak terlalu berperan dalam keputusan untuk pindah agama
2. Merasa bahwa peran ibu sebatas mengajari tata cara peribadatan setelah dewasa
17 – 20 37 – 38, 226 – 227, 664 – 665, 716 – 718 238 - 251 252 – 254 271 – 274, 313 – 320, 358 – 362, 692 - 696, 348 - 350 294 – 301 321 – 324, 669 – 672, 885 - 889 325 – 335 344 – 347 672 – 677 681 - 686 914 - 915 179 – 186 202 – 211
3. Mendapat dukungan dan penerimaan dari ibu
4. Merasa bahagia akan dukungan dari ibu terkait keputusan pindah agama
3. Respon Sikap terhadap Adik/Kakak
1. Mendapat dukungan dari kakak terkait keputusan pindah agama
2. Menganggap kedua orang tua saling memaksakan kehendak terkait agama Adik
375 – 383 385 – 387
738 – 744 751 - 753
Pada subjek 2, keputusan subjek untuk pindah agama
menimbulkan banyak konflik pada keluarga inti subjek. Ayah dan ibu
subjek 2 memiliki agama yang berbeda. Ayah subjek memiliki agama
yang sebelumnya dimiliki oleh subjek, sedangkan ibu subjek memiliki
agama yang baru dimiliki oleh subjek. Awal mula konflik diawali dari
Ayah subjek yang merasa bahwa Ibu subjek menghianati dirinya karena
ibu subjek yang pada awalnya menyatakan akan mengikuti agama dari
ayah subjek, namun di tengah perjalanan berumah tangga ternyata ibu
subjek mengingkari janji dan kembali menganut agama yang telah
diyakini ibu subjek sebelum menikah. Hal ini membuat ayah subjek
merasa terkhianati dan akhirnya berusaha memaksakan kehendak agar
anak – anaknya menganut agama yang sama dengan dirinya.
Kembali ke subjek 2, subjek menyatakan bahwa di masa kecil
subjek melaksanakan ritual agama ayah karena subjek berusaha tunduk
kepada otoritas ayah. Subjek yang saat itu belum memiliki otoritas atas
dirinya dan tergantung dengan orang tua, sehingga subjek “terpaksa”
jelaskan di tema sebelumnya, bahwa subjek sempat menjalankan 2 ritual
agama dan akhirnya lebih memilih untuk mengikuti agama dari ibu karena
lebih merasa nyaman dan menganggap hal tersebut sebagai sebuah
panggilan jiwa. Namun demikian setelah subjek memutuskan untuk
pindah agama, subjek kemudian berusaha menjaga informasi rahasia
tersebut agar tidak diketahui oleh sang ayah. Hal ini disebabkan karena
subjek merasa takut terhadap dampak yang ditimbulkan jika subjek
menceritakan hal tersebut kepada ayah.
Aku takut, sebenarnya yaitu aku takut karena ya itu jujur papaku tuh pernah bilang kayak gini ke aku, kalau aku, e..misalnya kamu ngikutin mama menghianatin papa, gak usah manggil papa lagi gitu, nah itu yang bikin aku takut, dan itu bener yang bikin aku kayak tertanam banget di otakku gitu
Ancaman dan kemarahan dari ayah membuat subjek mengalami ketakutan
untuk menceritakan hal keputusan pindah agama kepada ayah. Selain itu,
subjek tidak menceritakan hal tersebut dikarenakan subjek takut jika
mengalami penolakan dari sang ayah. Terlebih subjek merasa bahwa ayah
subjek sangat menyayangi subjek
iya sih apalagi papa tuh baik, baik banget sama kita gitu,
lebih baik dari mama gitu kan, lebih baik dari mama gitu, walaupun mama yang mengajarkan kita agama Katholik gitu, tapi kita lebih sreg aja gitu sama papa gitu kan,
Subjek merasa lebih dekat dengan sang ayah daripada sang ibu. Subjek
takut menempuh resiko bahwa sikapnya untuk berkata jujur kepada sang
ayah terkait keputusannya pindah agama membuat sang ayah kecewa dan
akhirnya afeksi yang selama ini dicurahkan oleh ayah subjek hilang karena
perilaku tersebut. Ketakutan akan perasaan tertolak dari keluarga akibat
pindah agama yang dialami oleh subjek membuat subjek merasa cemas
dan mempengaruhi aktivitas sehari – hari (Nugroho, 2008). Lanjut menurut Bastaman (2007), Sebagai seorang anak, setiap individu berusaha
untuk memenuhi harapan kedua orangtuanya dan berharga di mata
masyarakat. Hal tersebut tidak dapat dipenuhi oleh individu yang
melakukan pindah agama sehingga menimbulkan tekanan batin. Berbagai
perasaan negative dan tekanan batin dirasakan oleh individu yang pindah
agama dapat mengakibatkan depresi dan keputus asaan.
Di sisi lain, sikap subjek yang berusaha menutupi keputusannya
untuk pindah agama membuat subjek merasa bersalah kepada orang tua
dan akhirnya menimbulkan perasaan takut dalam diri subjek.
walaupun sebenarnya dalam hatiku, aduh gak enak banget nih boongin orang tua apalagi aku sayang banget sama papaku gitu kan,
Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, subjek sangat
menyayangi ayah subjek. Keputusan subjek untuk menutupi keputusan
pindah agamanya dipandang subjek sebagai sikap berbohong kepada orang
yang paling disayanginya. Hal ini membuat subjek terus mengembangkan
perasaan bersalah yang akhirnya membuat subjek merasa tidak aman dan
sedih, sehingga dapat mengarah pada perilaku depresi (Stimson et. All,
2005). 2 sikap yang saling kontradiksi tersebut menimbulkan konflik
dalam diri subjek, apakah subjek harus terus menutupi keputusan pindah
agama yang membuat subjek terus merasa bersalah karena berbohong
kepada ayah subjek yang sangat dicintainya atau subjek berterus terang
kepada ayah subjek soal keputusannya pindah agama dan siap menerima
resiko untuk kehilangan kasih sayang dari orang tua. Konflik tersebut
membuat Individu mengalami pergolakan batin sehingga subjek memasuki
periode dramatis dalam kehidupan subjek. Pergolakan batin tersebut
apabila tidak segera terselesaikan akan menjadi sumber stress dan dapat
menyebabkan timbulnya berbagai tantangan psikologis (Meadow dalam
Halama et. All, 2011).Bahkan menurut Alisjahbana (2008), harapan –
harapan dari orang tua yang dalam hal ini ayah subjek dapat merasuk ke
dalam pengalaman pribadi individu dan menyebabkan individu mengalami
gangguan perilaku.
Hingga saat ini subjek masih tetap menyimpan informasi soal
kepindahan agamanya dari ayah. Walaupun demikian subjek, juga
memiliki resiko yang harus diterima. Dengan demikian subjek menyatakan
bahwa suatu saat (di waktu yang tepat) subjek akan menceritakan soal
keputusan pindah agama tersebut kepada ayah subjek. Seperti yang
diungkapkan oleh Bastaman (2007) sikap yang tepat dari kondisi yang
tidak menyenangkan dapat menuntun kepada pemaknaan dalam
kehidupan. Lebih jauh lagi, Sesuai dengan yang diungkapkan oleh May
(1969), pemaknaan dapat diperoleh ketika subjek mampu menerima
kejadian buruk di masa lalu yakni ancaman dari ayahnya jika berpindah
agama serta menerima setiap pilihan yang ditempuh, walaupun setiap
pilihan yang diambil tidak memiliki kepastian atau penuh resiko.
Selanjutnya, subjek menyatakan bahwa selama ini keputusannya
untuk pindah agama tidak terlalu dipengaruhi oleh sikap dari ibu. Seperti
yang dikemukakan sebelumnya bahwa kepindahan agama subjek memang
karena alasan pribadi dari subjek. Menurut subjek, ibu hanya berperan
untuk mengajarkan beberapa ritual Katholik sehari – hari setelah subjek cukup dewasa (ketika SMA). Subjek nampaknya tidak terlau dekat dengan
ibu, bahkan subjek sempat menyatakan bahwa hubungan subjek dengan
ibu saat ini sedang merenggang. Walaupun demikian subjek merasa
bahagia akan dukungan dan penerimaan dari ibu terkait keputusan pindah
agama.
pokoknya mamahku seneng banget pas aku bilang kalau aku belajar katekumen, trus sampai akhirnya aku baptis, mamaku bela
Subjek juga mendapat dukungan dari kakak subjek terkait
keputusannya untuk pindah agama. Kakak subjek sendiri juga memiliki
keinginan untuk berpindah agama, namun sampai saat ini masih terkendala
akan aktivitasnya sehingga belum bisa untuk melaksanakan proses pindah
agama.