• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna pengalaman proses pindah agama - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Makna pengalaman proses pindah agama - USD Repository"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

MAKNA PENGALAMAN PROSES PINDAH AGAMA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh: Putra Wirmuda

099114066

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

ALL MAJOR RELIGIOUS TRADITIONS CARRY BASICALLY

THE SAME MESSAGES, THAT IS LOVE, COMPASSION, AND

FORGIVENESS, THE IMPORTANT THINGS IS THEY SHOULD

BE PART OF OUR DAILY LIVES

(DALAI LAMA)

PEACE IS MORE IMPORTANT THAN ALL JUSTICE; AND

PEACE WAS NOT MADE FOR THE SAKE OF JUSTICE BUT

JUSTICE FOR THE SAKE OF PEACE

(MARTIN LUTHER)

TIDAK PENTING APAPUN AGAMA ATAU SUKUMU.. KALAU

KAMU BISA MELAKUKAN SESUATU YANG BAIK UNTUK

SEMUA ORANG, ORANG TIDAK PERNAH TANYA APA

AGAMAMU

(6)

v

SEMANGAT INI KUTERIMA DARI DIA

PENCIPTA SEGALA YANG ADA

PEMBERI DAMAI SENANTIASA

YANG AKAN KUPERSEMBAHKAN KEPADA

SETIAP INSAN YANG MEMILIKI SEMANGAT YANG SAMA

SETIAP JIWA YANG MERINTIH ATAS DASAR AGAMA

SETIAP HATI YANG MENERIMA HINA

(7)
(8)

vii

MAKNA PENGALAMAN PROSES PINDAH AGAMA

Putra Wiramuda

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana pengalaman individu yang berpindah agama dan apa makna pengalaman tersebut bagi individu yang berpindah agama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis fenomenologi interpretif. Penelitian ini memiliki 2 pertanyaan penelitian, yakni 1) Bagaimana pengalaman orang yang berpindah agama dan 2) Apa makna orang yang melakukan pindah agama. Penelitian ini melibatkan 2 subjek yang telah melakukan pindah agama dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Pendataan dilakukan dengan wawancara semi – terstruktur. Validitas yang digunakan adalah validitas komunikatif dan validitas argumentatif. Makna proses pindah agama diperoleh dari pengalaman orang yang melakukan pindah agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman proses pindah agama dimaknai sebagai : 1) Panggilan jiwa untuk mencapai kenyamanan dan kedamaian; 2) Pilihan hidup demi mendapat kenyamanan, walaupun memiliki resiko; 3) Melepaskan ganjalan kehidupan yang selama ini menjadi beban.

(9)

viii

THE MEANING OF EXPERIENCES OF

RELIGIOUS CONVERSION PROCESS

Putra Wiramuda

ABSTRACT

This research is aimed to reveal people’ religious conversion experiences and the meaning of those experiences for people who decides to change their religion. This research used qualitative approach phenomenological interpretive analysis. There are two research questions to be solved in this research: 1) How is the experience of people who decide to change their religion? 2) What is the meanings that lead them to change their religion? This research used two participants who had experienced religious conversion in less than two years. The data of this research was collected by conducting semi-structured interview. In order to validate the data, the researcher used communicative validity and argumentative validity. The meanings which lead

people to change their religion were gained from the participants’ religious conversion experiences

can be interpreted as: 1) the soul’s call to achieve convenience and peace; 2) the choices in life to achieve convenience, thought it contains some risks; 3) to release the burden of life.

(10)
(11)

x

KATA PENGANTAR

Tugas Akhir ini adalah salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana

dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dan dibuat atas dasar

keprihatinan peneliti terhadap berbagai pandangan negative dari masyarakat

mengenai individu yang berpindah agama. Sebagai salah satu warga Negara

Kesatuan Republik Indonesia, peneliti merasa memiliki tanggung jawab untuk

turut memberikan sedikit sumbangan berupa Tugas Akhir yang berbentuk skripsi

ini, demi terciptanya masyarakat Indonesia yang penuh toleransi dan menghargai

setiap keputusan yang diambil terkait kebebasan beragama

Selanjutnya peneliti memberikan penghargaan setinggi – tingginya kepada

segenap pihak yang telah memberikan bantuan kepada peneliti baik dalam bentuk

materi maupun non materi. Terima kasih peneliti haturkan kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa atas semangat, idealisme, dan berkat penyertaan-Nya

selalu sehingga peneliti bisa menyelesaikan tahapan proses kehidupan ini

dengan baik..

2. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma yang telah membantu memberikan dukungan

berupa perizinan penelitian.

3. Almarhum Ibu Dr. Ch. Siwi Handayani yang atas semangat dan gagasan

pemirinnya selalu menginspirasi dan menanamkan benih – benih cita – cita

(12)

xi

4. Bapak V. Didik Suryo Hartoko selaku dosen pembimbing skripsi. Terima

kasih atas segala pengertian, kesabaran, ide, inspirasi, dan segala celetukan –

celetukan menarik yang senantiasa membangkitkan semangat dan pemikiran

kritis peneliti.

5. Bapak Agung Santoso S. Psi., M.A. selaku dosen pembimbing akademik yang

selalu memotivasi dan memberikan kiat – kiat menarik agar peneliti segera

menyelesaikan skripsi, serta mau menjadi teman diskusi yang berpandangan

terbuka.

6. Segenap dosen dan karyawan yang telah membantu memberikan wawasan dan

dukungan penyelesaian tugas akhir, serta dalam 4 tahun yang indah

menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Sanat Dharma.

7. Subjek penelitian yang telah berbagi kisah soal sebuah periode dalam

kehidupannya. Pengalaman ke – 2 subjek sungguh sangat membantu

terciptanya hasil penelitian ini.

8. Hal yang paling berharga dalam kehidupan peneliti. Kedua orangtua (Papa

dan Mama) serta kakak laki – laki peneliti yang senantiasa memberikan

dukungan baik materi maupun non-materi, terus menerus mengingatkan

mengenai pengerjaan Tugas Akhir ini, dan membantu menyediakan suasana

yang kondusif dalam pengerjaan Tugas Akhir.

9. Hal paling indah yang hadir dalam kehidupan peneliti, Jeanet Maurein Wola.

Seorang teman, seorang adik, seorang kakak, seorang saudara, sekaligus

(13)

xii

mengingatkan, dan memberikan bantuan tulus penuh cinta kepada peneliti

dalam pengerjaan Tugas Akhir.

10.Keluarga besar Russetyo Soebroto dan RS Soemanto yang senantiasa

memberikan dukungan dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.

11.Bapak Anton, Miss Tata, dan segenap panitia SLP (Service Learning

Programme) V : One Earth Many Religion. Melalui kegiatan tersebut peneliti

pertama kali menyadari keindahan keberagaman Indonesia, mendapatkan

banyak informasi dan terinspirasi untuk membuat tugas akhir ini.

12. Teman – teman kegiatan SLP dari Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan

Filipina, serta panitia SALT yang memiliki semangat dan turut bergerak

dalam menciptakan kesadaran umat beragama serta Rena yang telah

membantu pembuatan abstrak.

13.Pemimpin Humas, karyawan, dan teman – teman Humas Universitas Sanata

Dharma yang telah memberikan banyak kesempatan kepeada peneliti untuk

mendapatkan pengalaman dalam menjalankan tugas berkeliling Indonesia,

melihat betapa indahnya keberagaman di Indonesia dari berbagai sudut

pandang.

14.Teman – teman BEMF Psikologi USD 2011 – 2012, beserta berbagai

kepanitiaan dan organisasi yang pernah diikuti peneliti dan telah memberikan

berbagai gagasan, pengalaman, sikap, dan kepemimpinan yang telah diberikan

(14)

xiii

15.Mas Putu yang telah berbagi ide dan pengalamannya dalam melaksanakan

pnelitian, serta berbagai pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per

satu karena keterbatasan peneliti.

Akhirnya, peneliti sadar bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kata

sempurna. Oleh karena itu, kritik, saran, dan diskusi yang membangun akan

peneliti terima dengan senang hati demi kepatutan karya tulis ini.

Yogyakarta, 13 Mei 2014

Penulis,

(15)

xiv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN...iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi

ABSTRAK...vii

ABSTRACT...viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...ix

KATA PENGANTAR...x

DAFTAR ISI...xiv

BAB I. PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...5

C. Tujuan Penelitian...5

D. Manfaat Penelitan...5

1. Manfaat Teoritis...5

2. Manfaat Praktis...6

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA…...7

(16)

xv

1. Pindah Agama...7

2. Proses Pindah Agama...10

3. Pengalaman Proses Pindah Agama...12

B. Makna Pengalaman Proses pindah Agama...14

C. Kerangka Penelitian...17

D. Pertanyaan Penelitian...19

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN...20

A. Jenis Penelitian...20

B. Fokus Penelitian...20

C. Subjek Penelitian...21

D. Metode Pengumpulan Data...21

E. Proses Pengumpulan Data...23

F. Kepatuhan Terhadap Kode Etik Untuk Menjaga Kesejahteraan Psikologis Subjek ...24

G. Metode Analisis Data...25

H. Validitas...26

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...27

A. Profil Subjek...27

1. Profil Subjek 1...27

a. Deskripsi Subjek 1...27

b. Latar Belakang Pengalaman Subjek 1...28

(17)

xvi

a. Deskripsi Subjek 2...28

b. Latar Belakang Pengalaman Subjek 2...29

B. Hasil Penelitian Dan Pembahasan...30

1. Sikap Terhadap Agama Lama Dan Turning Point…….....30

2. Pindah Agama Dan Sikap Awal di Agama Baru...34

3. Respon Terhadap Keluarga Inti...39

4. Respon Terhadap Keluarga Besar...49

5. Perubahan Terkait Pindah Agama...55

6. Makna Pengalaman Pindah...56

BAB V. KESIMPULAN, BATASAN, DAN SARAN...59

A. Kesimpulan...59

B. Batasan...60

C. Saran...60

1. Bagi Peneliti Lain...60

2. Bagi Konselor Agama Dan Psikolog ...60

3. Bagi Keluarga...61

4. Bagi Masyarakat...61

DAFTAR PUSTAKA...63

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pindah agama adalah sebuah periode dramatis dalam kehidupan.

Selanjutnya menurut Heirich (1977), pindah agama memiliki makna dramatis

karena individu berpindah haluan dan menerima system keyakinan dan

perilaku yang baru, lalu kemudian menentang secara kuat, segala kegiatan

dan struktur kognitif sebelumnya atau mengganti keyakinan dan

komitmennya. Berpindah agama merupakan sebuah periode dramatis yang

membuat terjadinya perubahan pemahaman secara kualitatif dan adanya

pembentukan keyakinan serta komitmen yang baru (Heirich, 1977). Perubahan

pemahaman dan pembentukan keyakinan baru tersebut membuat individu

perlu melakukan berbagai penyesuaian diri yang seringkali membuat individu

mengalami pergolakan batin.

Pergolakan batin itu sendiri dapat berasal dari pertentangan dengan

keluarga, lingkungan, sosial budaya dan agama itu sendiri. Berbagai

pertentangan tersebut menimbulkan berbagai dampak bagi individu yang

berpindah agama.

Perpindahan agama menimbulkan keretakan keluarga, sanksi sosial, dan

dissolidaritas yang mempengaruhi individu (Aryadharma dalam Firmanto

(19)

oleh konflik antar anggota keluarga karena anggota keluarga merasa gagal

dalam mendidik individu yang berpindah agama. Hal tersebut menyebabkan

individu yang melakukan pindah agama merasa sedih dan bersalah karena

merasa dirinya sebagai penyebab dalam keretakan keluarga. Selain itu, pihak

keluarga besar dan lingkungan sosial akan memunculkan sikap penolakan

dalam bentuk gunjingan dan pengabaian. Hal tersebut akan memunculkan

perasaan tertolak dan tidak aman bagi diri individu.

Selain penolakan, pergolakan batin yang dirasakan oleh individu semakin

diperkuat dengan timbulnya perasaan ragu dan cemas. Perasaan ragu muncul

karena individu merasakan adanya perbedaan ritual dan paham dari agama

baru yang dianut. Hal tersebut akhirnya akan membuat individu merasa

bingung dan tidak aman dalam menjalankan ritualnya yang baru sehinga

memunculkan perasan cemas di diri Individu.

Berbagai factor eksternal tersebut pada akhirnya akan menimbukan

dampak – dampak psikologis bagi individu yang melakukan pindah agama.

Dampak psikologis muncul karena individu menyesuaikan diri dari

lingkungan sosial dan kondisi dalam diri itu sendiri. Berbagai penyesuaian

tersebut menyebabkan individu merasa cemas, bersalah, ditolak, malu,

keraguan dan mengalami kesedihan (Nugroho, 2008). Hal ini dapat menjadi

sumber stress dan memicu rasa diabaikan. Bahkan dalam beberapa kasus

perpindahan agama menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan

(20)

emosional, bahkan kecanduan obat - obatan (Meadow dalam Halama et. All,

2011).

Berbagai penyesuaian yang dilakukan oleh individu menimbulkan

perasaan bersalah, penolakan, malu, dan mengalami kesedihan. Berbagai

perasaan tersebut pada akhirnya akan membuat individu mengalami

kecemasan (Kaplan dalam Nugroho, 2008).Kecemasan tersebut dapat

membebani atau melebihi kapasitas sumber daya individu (Lazarus dalam

Nugroho, 2008). Individu yang mengalami beban hidup yang berat dapat

berujung pada depresi yang berpengaruh pada keadaan emosi, fisik, dan

kognisi yang mengganggu kehidupan sehari – hari (Sefira dalam

Nugroho,2008).

Penemuan makna menjadi sangat penting bagi setiap pengalaman dan

kejadian yang dirasakan oleh individu (Krauss, 2005). Setiap orang

memberikan makna kepada kejadian dan pengalaman dan setiap orang

memiliki kecenderungan untuk memahami dan membuat makna dari

kehidupan dan pengalamannya (Krauss, 2005). Manusia mengalami

pembentukan makna ketika mereka memahami dirinya sendiri dan dunia,

memahami keunikan mereka dalam dunia, dan menemukan apa yang berusaha

mereka capai dalam kehidupannya (Steger,2008). Dengan penemuan makna

individu dapat mengembangkan identitas dan diri untuk memahami kehidupan

dan mengalami transendensi diri. Selanjutnya dengan penemuan makna maka

akan timbul kesehatan mental yang positif (Steger, 2008). Dalam hal ini

(21)

dan mencegah individu terkena depresi. Bahkan pemaknaan dapat

menyebabkan kehidupan menjadi lebih berarti dan berharga (Bastaman, 1996)

Penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Halama dan Lacna (2011)

berusaha untuk melihat pengaruh kepindahan agama dengan perubahan

kepribadian. Hasil dari penelitan tersebut menyatakan kepindahan agama

menimbulkan perubahan kepribadian ke arah yang positif dengan

menggunakan Big Five theory sebagai trait – trait dasar penentu kepribadian.

Individu yang melakukan pindah agama mejadi lebih adaptif dan mampu

menjalankan fungsi agama. Kelemahan penelitian ini terletak pada bias yang

berhubungan dengan aturan dasar agama dan norma – norma pada individu.

Selain itu, penelitian tersebut dilakukan di Slovakia yang memiliki konteks

kebudayaan dan tradisi keagaaman yang berbeda dengan Indonesia. Penelitian

lain yang dilakukan oleh Firmanto (2012) dan Nugroho (2008) di Indonesia

mengenai pindah agama berusaha untuk menggambarkan dampak – dampak

psikologis baik itu positif maupun negatif dari orang yang berpindah agama

beserta dengan alasan individu melakukan pindah agama, tetapi tidak

mengungkapkan secara detail bagaimana individu memaknai dunia personal

dan sosialnya.

Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian pada orang yang

melakukan pindah agama. Dalam hal ini pengalaman yang berusaha dimaknai

oleh subjek adalah pengalaman ketika subjek sedang dalam proses berpindah

agama hingga masa – masa awal setelah subjek berpindah agama.

(22)

adanya pergolakan batin, penolakan dari lingkungan sosial, dan keluarga serta

berbagai dampak psikologis yang dihasilkan membuat peneliti untuk memilih

subjek tersebut. Peneliti berupaya untuk mengungkapkan bagaimana

pengalaman individu ketika berpindah agama sampai kepada bagaimana

individu memaknai dunia personal dan sosialnya.

B.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini yakni bagaimana pengalaman pada

orang yang melakukan proses pindah agama ? dan apa makna pengalaman

tersebut bagi orang yang berpindah agama ?

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana pengalaman

orang yang berpindah agama dan apa makna pengalaman tersebut bagi orang

yang berpindah agama.

D.

Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis :

a. Penelitian ini memiliki manfaat untuk mengungkap bagaimana

pemaknaan pengalaman bagi individu dalam proses berpindah agama

dan apa makna pengalaman tersebut bagi orang yang berpindah

agamasehingga berguna bagi perkembangan ilmu khususnya psikologi

(23)

2. Manfaat Praktis :

a. Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi Psikolog agama atau konselor

agama untuk memberikan bentuan atau penanganan yang sesuai terkait

dengan pemaknaan dari orang yang berpindah agama

b. Memberikan pemahaman kepada keluarga dan lingkungan sosial dari

orang yang berpindah agama, sehingga keluarga dapat memberikan

sikap yang sesuai terkait dengan orang yang berpindah agama

c. Memberikan pemahaman kepada komunitas agama yang baru untuk

memahami pemaknaannya sehingga dapat memberikan situasi yang

sesuai untuk membantu proses penyesuaian diri individu yang

(24)

BAB

II

TINJAUAN

PUSTAKA

A.

Pengalaman Proses Pindah Agama

1. Pindah Agama

Agama merupakan istilah dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan

dari istilah Religion. Menurut Durkheim (dalam Sunarto, 2004) Religion

adalah suatu system terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik

yang berhubungan dengan hal yang suci, dan bahwa kepercayaan dan

praktik tersebut mempersatukan semua orang yang beriman ke dalam

suatu komunitas moral yang dinamakan umat.

Pindah agama dapat diartikan dengan istilah konversi agama. Konversi

sendiri merujuk dari bahasa inggris yakni conversion yang berarti

berlawanan arah. Menurut Daradjat (1972), Konversi agama berarti

terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan

keyakinan semula. Selanjutnya Clark (dalam Daradjat, 1972) menyatakan

bahwa konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau

perkembangan spiritual yang mengandung perrubahan arah yang cukup

berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Menurut Lewis

(25)

1. Kebudayaan : berbagai bentuk ritual, mitos, dan symbol kebudayaan

seringkali diadaptasi oleh individu sehingga membentuk intelektual,

norma, dan nilai spiritual suatu individu.

2. Masyarakat: Berbagai aspek – aspek sosial dan institusional dari

tradisi kemasyarakatan akan membentuk suatu kondisi sosial.

Hubungan antara relasi individual dengan berbagai hal tersebut

ditambah dengan harapan – harapan kelompok turut mempengaruhi

seseorang untuk melakukan pindah agama.

3. Pribadi : Perubahan – perubahan yang bersifat psikologis seperti

pikiran – pikiran, perasaan – perasaan dan berbagai tindakan turut

mempengaruhi konversi agama. Transformasi diri dan kesadaran

pikiran dari perasaan dan kegoncangan psikologis dapat mengarah

pada keputusan konversi agama.

4. Agama : Konversi agama dapat dilakukan ketika individu ingin

mendapatkan hubungan yang lebih suci dengan sang Ilahi, serta

mendapatkan pemahaman dan tujuan hidup yang baru.

5. Sejarah. Konversi agama dapat terjadi karena suatu momen tertentu

dalam kehidupan individu. Hal ini menyebabkan motivasi individu

dalam melakukan pindah agama menjadi unik.

Lewis (1993) sendiri kemudian menyatakan tipologi dari konversi

agama. Jenis dari 5 tipologi adalah sebagai berikut :

(26)

Pada tipe ini terdapat penolakan atau penyangkalan dari suatu tradisi

agama ataupun keyakinan sebelumnya oleh para anggota. Perubahan

ini seringkali mengarah kepada peninggian suatu sistem nilai – nilai

non religious. Contoh : menjadi tidak percaya pada suatu agama.

2. Pendalaman (intensivication)

Dalam tipe kedua terdapat perubahan komitmen pada suatu keyakinan,

namun masih memiliki hubungan keanggotaan di masa sebelumnya.

Contoh : Masih berada dalam agama yang sama namun mengalami

peningkatan komitmen

3. Keanggotaan (affiliation)

Pada tipe ini terdapat perubahan komitmen keimanan atau keanggotaan

dari individu maupun kelompok terhadap institusi atau komunitas

iman. Contoh : Masih berada dalam 1 agama namun berubah aliran.

4. Peralihan Institusi (Institutional Transition)

Pada tipe ini terdapat perubahan hubungan individu dari komunitas

yang satu ke komunitas yang lain dalam suatu tradisi mayoritas.

Contoh : Masih berada dalam agama yang sama namun berubah dari

satu golongan kelompok tertentu ke golongan kelompok lainnya.

5. Peralihan Traditional (Traditional Transition)

Pada tipe konversi yang terakhir terdapat perubahan individu atau

kelompok dari tradisi agama mayoritas yang satu ke tradisi agama

(27)

system ritual, symbol umum, maupun gaya hidup yang satu ke yang

lainnya sebagai suatu proses yang kompleks.

Contoh : Berpindah agama

Dari ke 5 tipologi konversi agama tersebut, maka yang sesuai dengan

konteks kepindahan agama adalah poin ke 5 Peralihan Traditional. Alasan

peneliti memilih poin yang ke 5 karena hal ini sesuai dengan konteks

pindah agama di Indonesia yakni perpindahan agama individu beserta

dengan berbagai paham, sistem keyakinan, dan ritual peribadatan ke

agama yang baru.

2. Proses Pindah Agama

Menurut KBBI (2008), proses adalah runtutan perubahan

(peristiwa) atau perkembangan akan sesuatu. Dengan demikian, proses

pindah agama merupakan runtutan perubahan atau perkembangan saat

seseorang akan melakukan pindah agama.

Daradjat (1972) menjelaskan bahwa proses berpindah agama yang

dialami setiap orang memiliki perbedaan. Dalam hal ini ada yang dangkal

dan ada juga yang mendalam. Perbedaan proses berpindah agama dari

masing – masing individu tersebut menyebakan pengalaman setiap

individu menjadi unik. Walaupun unik, secara umum Daradjat (1972)

menjelaskan tahapan konversi agama melalui proses – proses sebagai

(28)

1. Masa tenang pertama, artinya masa tenang sebelum mengalami

konversi, dimana segala sikap, tingkah laku dan sifat – sifatnya acuh

tak acuh atau menentang agama.

2. Masa ketidak tenangan; konflik dan pertentangan batin berkecamuk.

Membuat individu merasa gelisah, putus asa, tegang, panik, dan lain –

lain. Perasaan tersebut muncul karena disebabkan oleh pergolakan

moral dan kekecewaan. Pada masa – masa ini, perasaan tegang,

gelisah, dan konflik jiwa yang berat dapat menyebabkan individu

menjadi sensitive, cepat tersinggung, mudah terkena sugesti, bahkan

dapat berujung pada keputusasaan.

3. Peristiwa konversi terjadi ketika masa gelisah dan goncang mencapai

puncaknya ketika masa gelisah dan goncangan mencapai puncaknya.

Individu seketika merasa mendapat hidayah dari Tuhan, serta

melakukan penyerahan kepada Tuhan.

4. Keadaan tentram dan tenang. Timbulnya perasaan atau kondisi jiwa

yang baru, serta perasaan bahwa seluruh kesalahan dan dosa diampuni.

Segala kekecewaan dan kecemasan perlahan – lahan mulai reda.

5. Ekspresi konversi dalam hidup berupa pengungkapan agama dalam

tindak tanduk, kekakuan, sikap dan perkataan yang mengikuti aturan

yang diajarkan oleh agama. Hal ini membuat individu semakin mantap

dalam mengikuti perubahan agamanya tersebut.

Dengan demikian dalam proses melakukan pindah agama individu

(29)

pengalaman tersebut dan mencapai tahapan tentram dan tenang, namun

tidak sedikit pula individu yang tidak mampu menyesuaikan diri dan

menyelesaikan permasalahannya sehingga mengalami gangguan

psikologis.

3. Pengalaman Proses Pindah Agama

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pindah agama

menimbulkan pergolakan batin bagi individu yang melakukannya. Di

tambah lagi dengan konteks negara Indonesia yang sangat mementingkan

kepemilikan agama sebagai identitas kolektif dalam bermasyarakat.

Berbagai pertentangan tersebut pada akhirnya akan menimbulkan dampak

psikologis tertentu bagi individu.

Pindah agama akan menyebabkan kegoncangan adat dan

dissolidaritas yang akhirnya akan berpengaruh bagi individu (Aryadharma,

2011). Dalam beberapa kasus, kegoncangan adat muncul dalam bentuk

konflik dan pertentangan baik dari agama yang ditinggalkan maupun

agama yang baru dan bahkan dapat mengarah pada konflik lintas agama

yang bersifat destruktif. Selanjutnya dissolidaritas muncul dalam bentuk

hilangnya rasa kebersamaan dan pertemanan (Aryadharma, 2011).

Kegoncangan adat dan dissolidaritas tersebut dapat menimbulkan perasaan

malu dan tertolak pada diri individu.

Respon dari keluarga besar dan lingkungan agama yang

sebelumnya juga menyebabkan individu yang melakukan pindah agama

(30)

menimbulkan kesedihan (Nugroho, 2008).Perasaan malu timbul ketika

individu berhadapan dengan pergunjingan dan ketidaksetujuan keluarga

besar. Selanjutnya perasaan bersalah timbul karena individu merasa tidak

mampu memenuhi harapan keluarga. Sikap – sikap tersebut akan membuat

individu merasa tertolak dari significant other. Akhirnya individu akan

membentuk perasaan cemas karena merasa tidak aman dari lingkungan

sekitar. Penolakan dari orang tua akan mempengaruhi hubungan afeksi

keluarga tersebut dan pada akhirnya dapat berkontribusi pada munculnya

simtom depresi (Stimson et. All, 2005). Selain itu, harapan – harapan dari

orang tua dan pengalaman pribadi dari individu dapat menyebabkan

individu mengalami gangguan perilaku (Alisjahbana, 1980).

Keyakinan dari agama sebelumnya yang menyatakan bahwa individu

akan berdosa dan mendapat penghukuman serta pelabelan negatif tertentu

(murtad atau kafir) akan memunculkan sikap ragu dan semakin

mengembangkan perasaan cemas bagi individu (Nugroho, 2008).

Individu yang bepindah agama juga akan memunculkan perasaan ragu

dan berbagai permasalahan dalam menyesuaikan diri dengan keyakinan

yang baru. Menurut Whittaker (dalam Chriswanka, 1996) penyesuan diri

yang terganggu dapat menyebabkan individu mengalami kecemasan dan

ketegangan, bahkan memunculkan sikap rendah diri bagi individu. Hal ini

dapat menjadi sumber stress dan memicu rasa diabaikan. Bahkan dalam

beberapa kasus perpindahan agama menyebabkan timbulnya berbagai

(31)

ketergantungan emosional, bahkan kecanduan obat - obatan (Meadow

dalam Halama et. All, 2011).

Individu yang belum berhasil menemukan jalan keluar untuk

mengatasi masalah – masalahnya bahkan pemecahan yang diambil

semakin mempersulit keadaan akan memunculkan gangguan neurotis

(Alisjahbana, 1980). Berbagai perasaan negatif seperti perasaan bersalah,

malu, dan perasaan tertolak, akan membuat individu mengalami kesedihan

yang mendalam. Bahkan kesedihan yang dialami individu sebagai akibat

dari tentangan berbagai pihak akan menimbulkan kecemasan bagi diri

individu (Kaplan dalam Nugroho, 2008). Kesedihan dan kecemasan dapat

membuat individu merasa tak berguna, dan tak ada harapan untuk hidup

(Alisjahbana, 1980). Kecemasan dan perasaan terancam yang dialami

individu tersebut ketika sudah melebihi kapasitas kemampuan diri akan

menyebakan individu mengalami periode depresif. Periode depresif

tersebut dapat berpengaruh pada keadaan emosi, fisik, dan gangguan

kognisi dalam kehidupan sehari – hari individu (Sefira dalam Nugroho,

2008). Menurut Alisjabana (1980), gangguan depresi tersebut dapat

menjelma ke dalam bentuk penyakit – penyakit bahkan kecenderungan

untuk melakukan bunuh diri.

B.

Makna Pengalaman Proses Pindah Agama

Penemuan makna menjadi sangat penting bagi setiap pengalaman dan

(32)

Frankl (Dalam Bastaman, 2007) makna hidup merupakan hal yang layak

untuk dijadikan tujuan kehidupan dan menyebabkan seseorang merasakan

kehidupan berarti dan pada akhirnya akan mengalami perasaan bahagia.

Manusia mengalami pembentukan makna ketika mereka memahami

dirinya sendiri dan dunia, memahami keunikan mereka dalam dunia, dan

menemukan apa yang berusaha mereka capai dalam kehidupannya

(Steger,2008). Bila penemuan akan makna berhasil dipenuhi maka

kehidupan yang dirasakan akan menjadi berguna, berharga, dan berarti.

Begitu pula sebaliknya, bila pemenuhan akan makna ini tidak terpenuhi

maka kehidupan dirasakan menjadi tidak bermakna. (Bastaman, 2007).

Bastaman (2007) mengungkapkan 3 nilai kehidupan yang dapat

memungkinkan seseorang untuk menemukan makna hidup, yakni nilai –

nilai kreatif, nilai – nilai penghayatan, dan nilai – nilai dalam bersikap.

Dalam hal ini individu mampu menemukan makna melaui apa yang

diberikannya pada lingkungan (karya, kerja, dan pelayanan); apa yang

“diambilnya” dari lingkungan (menghayati keindahan dan cinta kasih);

serta sikap tepat atas kondisi tragis yang dialami. Bastaman (2007) juga

mengungkapkan bahwa harapan dapat menjadi nilai hidup yang

mengandung makna hidup karena dapat menimbulkan keyakinan akan

terjadinya perubahan hidup lebih baik, ketabahan menghadapi keadaan

buruk saat ini dan sikap optimis menyongsong masa depan. May (1969)

dalam tulisannya juga menyatakan bahwa pemaknaan dapat diperoleh

(33)

untuk mengambil pilihan yang ada demi pemenuhan diri, walaupun setiap

pilihan yang ada memiliki resiko.

Menurut Frankl (dalam Bastaman, 2007), manusia merupakan

kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan, dan spiritual. Selanjutnya

manusia memiliki sumber daya rohaniah yang luhur di atas kesadaran

akal, memiliki kebebasan untuk melakukan hal terbaik bagi dirinya dan

bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang akan dan telah

dilakukannya.

Berpindah agama merupakan sebuah periode dramatis yang

membuat terjadinya perubahan pemahaman dan adanya pembentukan

keyakinan serta komitmen yang baru (Heirich, 1977). Dari hal tersebut

dapat dilihat bahwa pindah agama merupakan suatu proses perubahan

pemahaman bahkan merupakan turning point dalam kehidupan. Menurut

Rogers dalam Feist (2008), Manusia bertarung melawan ide – ide baru,

mendistorsi pengalaman yang tidak begitu cocok, melihat perubahan

sebagai hal yang menyakitkan, dan pertumbuhan sebagai hal yang

menakutkan. Lanjut menurut Roger, walaupun perubahan – perubahan

tersebut tidak segera mendapatkan penghargaan, namun individu tetap

melakukannya demi memenuhi kebutuhan akan perbaikan diri atau yang

biasa disebut pengembangan (Feist, 2008). Perubahan dalam kehidupan ke

arah perbaikan diri tersebut dapat menciptakan turning point dalam

kehidupan. Turning Point dalam kehidupan tersebut dapat berupa

(34)

dirinya tidak bisa melanjutkan kehidupan dengan cara yang seperti

sebelumnya. Hal tersebut dapat memicu timbulnya pencarian akan makna

(Wong, 1997).

Pencarian akan makna menjadi sangat penting karena kehidupan

akan menjadi begitu menyakitkan untuk dipertahankan tanpa adanya

makna (Wong, 2007). Setiap orang menginginkan dirinya menjadi orang

yang bermartabat dan berguna bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja,

masyarakat sekitar dan berharga di mata Tuhan (Bastaman, 2007). Lanjut

menurut Bastaman (2007), Sebagai seorang anak, setiap individu berusaha

untuk memenuhi harapan kedua orangtuanya dan berharga di mata

masyarakat. Hal tersebut tidak dapat dipenuhi oleh individu yang

melakukan pindah agama sehingga menimbulkan tekanan batin. Berbagai

perasaan negative dan tekanan batin dirasakan oleh individu yang pindah

agama dapat mengakibatkan depresi dan keputus asaan. Dengan penemuan

makna maka individu akan terhindar dari keputus asaan dan kehidupan

dirasakan akan berguna, berharga, dan berarti (Bastaman, 2007). Dengan

demikian penemuan makna berkontribusi pada kesehatan mental yang

positif (Steger, 2008).

C.

Kerangka Penelitian

Pemaknaan dimulai ketika individu mulai mempertimbangkan

untuk melakukan pindah agama. Proses pindah agama mencapai

(35)

pertentangan batin berkecamuk. Membuat individu merasa gelisah, putus

asa, tegang, panik, dan lain – lain. Perasaan tersebut muncul karena

disebabkan oleh pergolakan moral dan kekecewaan. Pada masa – masa ini,

perasaan tegang, gelisah, dan konflik jiwa yang berat dapat menyebabkan

individu menjadi sensitive, cepat tersinggung, mudah terkena sugesti,

bahkan dapat berujung pada keputusasaan.

Berbagai pengalaman dalam proses pindah agama menyebabkan

individu mengalami pergolakan batin. Pada masa ketidaktenangan dan

pergolakan batin dalam diri, individu berusaha untuk menemukan makna.

Penemuan makna menjadi sangat penting bagi setiap pengalaman dan

kejadian yang dirasakan oleh individu (Krauss, 2005). Bahkan menurut

Frankl (Dalam Bastaman, 2007) makna hidup merupakan hal yang layak

untuk dijadikan tujuan kehidupan dan menyebabkan seseorang merasakan

kehidupan berarti dan pada akhirnya akan mengalami perasaan bahagia.

Apabila individu tidak berhasil menemukan makna hidupnya maka

individu tersebut dapat merasakan putus asa yang berujung pada depresi,

namun apabila individu dapat menemukan makna hidupnya maka individu

tersebut akan menemukan cara untuk mengatasi permasalahan hidupnya

(36)

D.

Pertanyaan Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menyusun pertanyaan penelitian

berdasarkan kerangka penelitian. Pertanyaan penelitian terdiri atas

pertanyaan utama (Central Question) dan Pertanyaan Kedua (Subquestion)

1. Central Question : Bagaimana pengalaman pada orang yang

melakukan pindah agama dan apa makna pengalaman tersebut?

2. Subquestion :

a. Bagaimana pengalaman orang yang melakukan pindah agama ?

b. Apa makna pengalaman dari orang yang melakukan pindah agama

(37)

BAB

III

METODOLOGI

PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode

analisis fenomenologi interpretif. Metode ini terdiri atas beberapa aspek.

Pertama, subjek akan mengartikan dunia mereka. Kedua, peneliti berupaya

untuk mengartikan kegiatan subjek yang sedang mengartikan dunia

mereka.

Dengan kedua aspek tersebut peneliti berupaya untuk mendapatkan

analisis data yang lebih komprehensif dan mampu mengungkapkan proses

pemaknaan secara terperinci serta dapat menemukan makna dari

pengalaman tersebut.

B.

Fokus Penelitian

Fokus pada penelitian ini terbagi menjadi dua. Pertama, berfokus

kepada proses pengalaman pada orang yang pindah agama melalui

hubungan dengan keluarga dan lingkungan sosial, pergolakan diri, serta

pada keyakinan, dan kebudayaan. Kedua, berfokus pada makna dari

(38)

C.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian berjumlah 3 orang dan merupakan seseorang

yang telah melakukan pindah agama maksimal 2 tahun. Hal ini untuk

menjaga agar subjek masih mengingat pengalaman ketika melakukan

pindah agama dan segala permasalahan yang dihadapi, sehingga masih

dapat mengungkapkan pengalamannya dengan baik. Subjek melakukan

pindah agama dari Islam ke Kristiani. Alasan peneliti memilih subjek yang

pindah agama dari Islam ke Kristiani berdasarkan penelitian yang

dilakukan oleh Firmanto (2012) dan Nugroho (2008) menunjukkan bahwa

pergolakan batin dari lingkungan sekitar lebih sering muncul pada

individu yang berpindah agama dari agama mayoritas ke agama minoritas.

Selain itu subjek berdomisili di Yogyakarta. Salah satu kota besar di

Indonesia yang terdiri atas lintas budaya dan agama serta banyak terdapat

pindah agama. Dengan demikian pemilihan subjek menggunakan criterion

sampling sesuai dengan kriteria di atas.

D.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpuan data adalah wawancara semi-terstruktur

sehingga memungkinkan adanya dialog antara peneliti dan partisipan.

Selain itu, peneliti juga memiliki kesempatan untuk menggali informasi

lebih jauh berkaitan dengan hal – hal yang menarik selama

(39)

terbuka berdasarkan fokus penelitian sehingga tidak mengarahkan subjek

pada jawaban tertentu dan dapat menggali informasi lebih dalam.

Panduan Wawancara

No Panduan Pertanyaan

1. Bisa ceritakan pengalaman anda saat memutuskan untuk melakukan

pindah agama ?

2. Bagaimana proses anda melakukan pindah agama ?

3. Bagaimana perasan anda saat menjalani proses pindah agama tersebut

4. Bisakah anda ceritakan perubahan yang terjadi dalam kehidupan anda

berkaitan dengan keputusan anda pindah agama ?

5. Menurut anda bagaimana tanggapan lingkungan sekitar atau orang dari

agama sebelumnya berkaitan dengan keputusan anda ?

6. Menurut anda bagaimana tanggapan keluarga mengenai keputusan

anda untuk berpindah agama ?

7. Bagaimana perasaan anda mengenai keputusan anda untuk berpindah

agama ?

8. Bagaimana anda memandang hari – hari anda saat ini (setelah

berpindah agama) ?

9. Apa yang akan anda lakukan ke depan berkaitan dengan kepindahan

agama yang anda lakukan?

Tahapan proses wawancara antara lain :

1. Mencari subyek untuk menjadi partisipan penelitian.

2. Melakukan perkenalan, rapport, penjelasan tujuan dan memastikan

kesediaan subyek.

3. Membuat jadwal wawancara sesuai kesepakatan subyek dan

(40)

4. Melakukan wawancara secara bertahap

E.

Proses Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data diawali ketika peneliti mencari subjek

yang baru saja melakukan prosesi pindah agama. Berdasarkan informasi

dari beberapa teman peneliti mendapatkan 3 nama yang dapat dijadikan

subjek penelitian.

Peneliti kemudian menghubungi salah satu subjek kemudian segera

melaksanakan rapport dan mengatur waktu untuk melaksanakan

wawancara. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan bersama – sama,

peneliti kemudian bertemu dengan subjek yang pertama. Selanjutnya

peneliti melaksanakan rapport dan peneliti segera menjelaskan mengenai

tujuan dan garis besar penelitian serta maksud dari peneliti untuk

menjadikan orang tersebut sebagai subjek penelitian. Subjek pertama

ternyata sangat ramah dan terbuka dengan peneliti. Subjek kemudian

menyatakan diri setuju untuk terlibat menjadi subjek dalam penelitian. Di

hari yang sama. Sebelum wawancara dilaksanakan peneliti meminta ijin

untuk merekam hasil wawancara dan subjek 1 menyetujui hal tersebut.

Setelah selesai melaksanakan wawancara dan analisis data pada

subjek 1, peneliti kemudian segera menghubungi subjek 2 dan subjek

3.Subjek 2 segera mengkonfirmasi tawaran dari peneliti, kemudian

menentukan waktu untuk yang tepat untuk bertemu dengan peneliti. Pada

(41)

sehingga jadwal pertmuan diundur 2 hari setelahnya. Selanjutnya sama

seperti subjek yang pertama, peneliti segera melaksanakan rapport. Subjek

2 ternyata juga sangat terbuka dan bersikap ramah dengan peneliti. Setelah

merasa cukup nyaman, Pada hari yang sama, wawancara segera

dilaksanakan.

Pada Subjek ke 3, ternyata subjek sedang berada di luar kota dan

dalam tempo beberapa bulan ke depan cukup sulit untuk ditemui karena

sedang sibuk mengerjakan sebuah proyek.

F.

Kepatuhan Terhadap Kode Etik

Peneliti berusaha mentaati kode etik Himpunan Psikologi

Indonesia (2008) untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.Peneliti

berlandaskan pada pasal 7.2.2 tentang menghormati hak dalam

melaksanakan kegiatan dibidang riset. Tujuan penelitian, proses

pengumpulan data, tanggung jawab masing-masing pihak, serta

akibat-akibat penelitian, dijelaskan sebelum pelaksanaan penelitian. Hal tersebut

menjadi pertimbangan subjek untuk memtuskan kesediaannya dalam

penelitian. (Huruf G dan H).

Untuk memberikan perlindungan terhadap kesejahteraan subjek,

penelitian memilih subjek yang tidak takut pada topik penelitiannya

(Huruf K).

Untuk mempertahankan kerahasiaan data berdasarkan kode etik

(42)

dikomunikasikan dengan bijaksana secara lisan atau tertulis kepada pihak

ketiga hanya bila pemberitahuan ini diperlukan untuk kepentingan

pengguna layanan psikologi, profesi, dan akademisi. Dalam kondisi

tersebut identitas orang yang menjalani pemeriksaan psikologi tetap dijaga

kerahasiannya.

G.

Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan Analisis Fenomonologi Interpretif

(AFI) yang bertujuan untuk mengartikan gejala dalam dunia psikologis

informan (Smith, 2009) Langkah – langkah dalam pelaksanaan AFI adalah

sebagai berikut :

1. Mencari Tema – tema

Mencari tema dilakukan dengan membaca verbatim berulang –

berulang. Kemudian membuat tabel dan membagi ke dalam 3 bagian.

Bagian yang tengah berisi transkrip dari verbatim. Kemudian bagian

kiri berisi mengenai hal yang menarik dan bermakna dari hasil

transkrip verbatim. Sedangkan, bagian kanan berisi rumusan tema –

tema mengenai transformasi cerita dengan abstraksi dan menggunakan

istilah psikologi.

2. Menghubungkan tema – tema yang ada

Pada awalnya tema – tema akan didaftar secara kronologis dengan

cara disusun berdasarkan urutan kemunculan dalam transkrip.

(43)

melihat hubungan antar tema – tema. Tema – tema tersebut kemudian

dikelompokkan. Tema yang tidak relevan dengan fokus penelitian

dapat dibuang.

3. Menghubungkan tema dengan kasus lain

Tema – tema dari salah satu kasus digunakan untuk menganalisis

transkrip lainnya sehingga ditemukan tema – tema yang sama dari tiap

kasus dan tema yang khas dari masing – masing kasus. Tema – tema

tersebut kemudian dikumpulkan ke dalam tabel kelompok subjek

sehingga ditemukan titik temu dan titik pisah dari masing – masing

tema.

H.

Validitas

Penelitian ini menggunakan validitas komunikatif dimana peneliti

mengkonfirmasi kembali transkrip hasil wawancara kepada subjek,

lalu kemudian subjek melakukan koreksi terhadap transkrip yang tidak

sesuai realitas.

Peneliti juga menggunakan validitas argumentatif dimana validitas

dapat tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti

dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan melihat

kembali ke data mentah. Proses ini dapat dibaca pada bab 4 dan

(44)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Profil Subjek

1. Profil Subjek

a. Deskripsi Subjek 1

Subjek 1 berinsial Nn. Subjek saat ini berusia 24 tahun dan

merupakan seorang mahasiswi semester akhir di sebuah Universitas

swasta Katholik di Yogyakarta. Subjek merupakan seorang yang cukup

kalem dan sering menjadi pendengar yang baik di kalangan teman –

temannya.

Berdasarkan hasil wawancara, subjek merupakan anak pertama

dari 2 bersaudara. Kedua orang tua subjek memiliki suku Jawa dan nilai –

nilai kebudayaan dari orang tua subjek senantiasa di laksanakan oleh

subjek. Kedua orang tua subjek sendiri menganut agama Islam. Subjek

sudah resmi berpindah menjadi agama Katholik, sedangkan adik subjek

memeluk agama Kristen. Subjek menyadari bahwa keluarga inti subjek

merupakan keluarga yang universal dan mampu saling menerima setiap

(45)

b. Latar Belakang Pengalaman Subjek 1

Subjek mulai memiliki keinginan untuk pindah agama saat subjek

memasuki bangku SMP atau ketika berumur 13 tahun. Saat itu subjek

bersekolah di Sebuah sekoah swasta Katholik. Subjek pada awalnya

menjalankan ritual agama yang baru karena melaksanakan tugas sekolah.

Subjek menyadari bahwa di agama yang sebelumnya subjek tidak

terlalu taat dan memahami mengenai ritual dan aturan yang berlaku di

agama sebelumnya. Ketika subjek mulai mengikuti ritual di agama yang

baru subjek mulai merasa nyaman karena didukung dengan lingkungan

teman – teman subjek yang mayoritas agama Katholik, penerimaan yang

baik dari teman – teman subjek dan orang tua subjek yang menerima

keputusan subjek untuk berpindah agama. Subjek akhirnya memutuskan

untuk mengikuti proses pindah agama setelah diajak oleh teman –

temannya.

2. Profil Subjek 2

a. Deskripsi Subjek 2

Subjek 2 berinsial Wn. Subjek saat ini berusia 24 tahun dan merupakan

seorang mahasiswi di sebuah Universitas Katholik di Yogyakarta. Subjek

(46)

Subjek merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara. Ayah Subjek beragama

Muslim dan berasal dari Jakarta sedangkan Ibu Subjek beragama Katholik

dan berasal dari Kalimantan barat serta merupakan keturunan Tionghoa.

Kakak perempuan subjek juga memiliki keinginan untuk pindah agama

mengikuti agama subjek, namun terhalang kesibukan. Subjek saat ini

menutupi keputusan pindah agama dari Ayah subjek.

b. Latar Belakang Pengalaman Subjek 2

Subjek telah memiliki keinginan untuk pindah agama saat subjek

masih berusia 10 tahun. Pada awalnya Subjek sempat menjalankan ritual

di agama yang sebelumnya, namun seiring berjalannya waktu subjek

kemudian menjalankan ritual 2 macam agama. Hal ini disebabkan karena

masing – masing orang tua subjek (Ayah dan Ibu) mengajarkan agama

yang berbeda kepada subjek

Subjek menjalankan ritual di agama yang sebelumnya karena subjek

hanya berusaha untuk mengikuti perintah ayahnya. Ayah Subjek

menginginkan subjek untuk mengikuti agama ayah. Subjek akhirnya mulai

berkeinginan untuk pindah agama karena merasa lebih damai dan tenang

saat menjalankan ritual agama yang baru. Saat ini subjek telah resmi

berpindah ke agama yang baru dan menutupi informasi soal pindah agama

(47)

B.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Sikap Terhadap Agama Lama dan Turning Point

Tema Subjek I Subjek II

1. Merasa rendah diri dan tertekan terkait dengan pemahaman agama yang lama

2. Kenyamanan yang diperoleh dari agama yang baru

3. Ketidaknyamanan ketika ayah meminta untuk menjalankan ritual agama ayah

75 – 86 574 - 583 100 – 104,

565 – 571 106 – 110, 583 – 600, 109 – 114, 17 – 20,

-

-

26 – 31, 131 – 133, 151 – 153, 162 - 163

52 – 60

Kedua subjek memilih agama yang baru karena keduanya merasa

nyaman dengan agama yang baru. Pada subjek 1, subjek merasakan

mendapat penerimaan yang sangat baik dari teman – teman dan

lingkungan sekitar ketika subjek pertama kali berkenalan dengan agama

baru.

aku pengen jadi Katholik mereka itu sama sekali gak mencemooh,

mereka itu gak sama sekali,oh hooh po? Trus ngomongin di

belakang. Mereka malah kayaknya kagum gitu, jadikan aku juga

merasa nyaman ya,

Subjek 1 pertama kali berkenalan dengan agama baru ketika subjek

berada pada usia 14 tahun. Pada usia 14 tahun, yakni ketika memasuki

(48)

(Santrock, 2002). Pada usia yang demikian subjek sedang berusaha untuk

mencari jati diri. Konformitas dengan teman sebaya sangat mempengaruhi

keyakinan agama subjek (Santrock, 2002). Subjek merasa bahwa teman –

teman sangat terbuka dengan keinginan subjek untuk pindah agama,

bahkan menurut subjek walaupun belum resmi pindah agama, namun

subjek tetap dapat ikut membantu melayani di Gereja. Selain itu, sesuai

dengan kutipan diatas, saat subjek berpindah agama subjek merasa diri

lebih hebat dan lebih baik yang terlihat dari subjek merasa tersanjung

ketika teman – teman subjek kagum dengan keinginan subjek untuk

pindah agama. Hal ini nampaknya tidak didapatkan oleh subjek dari

lingkungan di agama lama subjek yang justru terkesan menekan dan

merendahkan subjek. Selain itu, hal ini juga sesuai dengan tahap ke 4 dari

tahapan kepercayaan eksistensial yang dikemukakan oleh Fowler (1995).

Tahap ke 4 tersebut yakni tahap kepercayaan sintetis – konvensional

dimana remaja berusaha menyusun gambaran diri baru sesuai dengan

ketergantungannya pada orang – orang lain yang berarti baginya. Pola

kepercayaan yang berusaha dibentuk yakni dengan penyesuaian diri

dengan secara kognitif, afektif, dan sosial dengan mayoritas orang di

sekitarnya. Dalam hal ini mayoritas teman – teman subjek 1 memiliki

agama yang baru.

Pada awalnya subjek 2 sempat menjalankan kedua ritual secara bersama –

sama. Namun, subjek ke 2 merasa lebih tenang dan damai ketika

(49)

yang membuat subjek merasa nyaman dalam menjalankan ritual

agamanya. Subjek bahkan berujar bahwa keputusan subjek untuk pindah

agama merupakan panggilan jiwa..

aku merasa lebih ke panggilan jiwaku lebih ke arah sana, nah aku

kan dulu pernah mencoba gitu, pernah mencoba untuk apa, hmm

ngikutin apa ngikutin apa yang papaku mau gitu, sholat ngaji gitu,

tapi akunya dalam diriku sendiri tuh gak mau gak suka, aku lebih

sreg dan lebih nyaman untuk menjadi katholik gitu

Sesuai dengan Frankl dalam (Bastaman 2007), setiap individu memiliki

sumber daya rohaniah di atas kesadaran akal, sehingga setiap individu

memiliki kebebasan untuk melakukan hal terbaik bagi dirinya dan

bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang akan dan telah

dilakukannya. Pernyataan subjek yang berupa panggilan jiwa merupakan

suatu sumber daya rohaniah sehingga membuat subjek memiliki

kebebasan yang bertanggung jawab untuk menentukan pilihan. Dalam hal

ini yakni keputusan untuk pindah agama.

Tema lain yang muncul hanya pada subjek 1 yakni bahwa subjek

merasa rendah diri dan tertekan terkait dengan pemahaman subjek di

agama yang lama. Subjek merasa bahwa orang tua subjek kurang

memberikan pendidikan agama yang baik. Hal ini membuat subjek

seringkali merasa minder dengan teman – teman sebayanya di agama yang

(50)

nah sebenarnya aku saat itu merasa minder gitu, merasa minder

dan agak gak nyaman, gak nyaman ya mungkin karena itu ya, trus

banyak yang mencemooh juga gitu, kenapa aku gak bisa ini, gak

bisa ini salah – salah trus, yo pye sih anak – anak SD, yo nek

ngono kui sih mesti yo tertekan gitu

Saat mendapat tekanan dari lingkungan sekitar terkait dengan

agama yang lama, subjek 1 saat itu berusia 11 tahun. Seperti yang sudah

disebutkan sebelumnya, pada usia tersebut peran teman sebaya sangat

penting dalam membentuk keyakinan agama subjek. Subjek nampaknya

mengembangkan sikap inferior terkait dengan keyakinan agama subjek

sesuai dengan tahapan perkembangan psikososial Eriksson (Santrock,

2002). Subjek yang saat itu merasa rendah diri dan tertekan di agama

yang lama, pada saat yang sama teman – teman di agama baru mampu

memberikan kenyamanan dan penerimaan bahkan penghargaan yang baik

kepada subjek. Selain itu, subjek juga merasa bahwa aturan di agama yang

lama terlalu mengekang subjek, sehingga membuat subjek merasa tidak

nyaman dalam beraktifitas sehari – hari. Subjek juga memandang bahwa

keluarga besar subjek seringkali terlalu fanatik dengan agama yang lama,

sehingga cukup mengekang perilaku sehari – hari subjek. perasaan

terkekang di agama lama tersebut semakin membuat subjek

mengembankan perasaan antipati terhadap agama yang lama dan

(51)

Pada subjek 2, walaupun pada awalnya sempat menjalankan 2

ritual agama yang berbeda, namun sebenarnya subjek tidak merasa

nyaman di agama yang sebelumnya dan menjalankannya hanya demi

menuruti otoritas dari ayah. Subjek nampaknya sedang berusaha untuk

menerima segala resiko dari pilihannya yang diambil, termasuk risiko

bahwa pilihanya untuk berpindah agama dapat menyebabkan sang ayah

marah dan menolak dirinya. hal tersebut akan dijelaskan di tema – tema

selanjutnya.

Perasaan nyaman, tenang, damai, dan adanya panggilan jiwa ketika

melaksanakan ritual di agama yang baru memicu subjek untuk

melaksanakan pindah agama. Hal tersebut merupakan turning point dalam

kehidupan berupa bangkitnya pemahaman spiritual, yakni ketika individu

menyadari bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan kehidupan dengan cara

yang seperti sebelumnya (Wong, 1997). Perubahan dalam kehidupan

tersebut, walaupun tidak segera mendapatkan penghargaan, namun

individu tetap melakukannya demi memenuhi kebutuhan akan perbaikan

diri atau yang biasa disebut pengembangan (Feist, 2008).

2. Pindah Agama dan Sikap di Agama Baru

Tema Subjek I Subjek II

1. Keinginan untuk pindah agama yang sudah sejak lama

2. Keinginan untuk pindah agama yang terhambat karena lamanya proses dan tidak ada teman

3. Memastikan diri untuk dibaptis karena

11 – 13

24 – 34, 165 – 170

44 - 50

12 – 14, 72 – 75

-

(52)

memiliki teman

4. Menerima setiap permasalahan yang timbul dari pindah agama

5. Sempat menjalankan ritual agama sebelumnya karena mengikuti otoritas Ayah

6. Menyadari sempat menjalankan ritual kedua agama

7. Mengawali mengikuti ritual agama baru secara intens karena tugas dari sekolah 8. Merasa bahwa pindah agama merupakan

keputusan pribadi

9. Merasa bahwa prosesi pindah agama hanya formalitas

10.Sempat merasa enggan untuk menjalani proses pindah agama karena tugas yang menumpuk

11.Bahagia setelah dibaptis

139 - 144

-

-

-

-

-

-

-

865 - 869 810 - 832

82 – 86

103 – 115

118 - 125

215 – 217

639 – 642

649 – 655

660

Pada dasarnya kedua subjek memiliki keinginan untuk pindah

agama sudah sejak lama.Pada subjek 1 keinginan untuk pindah agama

mulai muncul ketika subjek berusia 14 tahun yakni ketika subjek

memasuki tahap pendidikan SMP. Keinginan subjek untuk pindah agama

dimulai ketika subjek memasuki SMP Swasta Katholik, sehingga sebagian

besar teman – teman subjek memiliki keyakinan agama Katholik. Selain

itu, Saat bersekolah beberapa tugas – tugas dari pelajaran agama Katholik,

mewajibkan subjek untuk mengikuti ibadah di Gereja setiap hari minggu.

Hal tersebut menyebabkan subjek perlahan – lahan mulai merasa nyaman

dengan penerimaan dari teman – temannya yang beragama Katholik. Hal

(53)

anak – anaknya itu agama Katholik terus pada waktu itu aku mulai

tertarik gitu maksudnya tertarik adalah kok nyaman ya ikut

mereka, karena waktu itu kan kita jadwalnya udah pergi ke Gereja

bareng,jadi meskipun, meskipun aku Muslim tapi waktu itu aku

sudah ke Gereja karena kan Sekolah mewajibkan aku untuk ke

Gereja to.

Pada subjek 2 keinginan untuk pindah agama mulai timbul sejak

subjek berusia 10 tahun. Saat kecil, Ayah dan Ibu subjek mengajarkan 2

agama yang berbeda kepada subjek. Subjek sendiri mengakui bahwa

dirinya menjalankan ritual dengan dua agama berbeda.

jadi dari kecil tuh aku udah berdoa secara Katholik juga,

walaupun papaku juga ngajarin gitu, ngajarin sholat gitu,

ngajarin ngaji

Serupa dengan subjek 1, subjek 2 juga mulai lebih intens

menjalankan ibadah di agama yang baru semenjak subjek 2 melaksanakan

tugas – tugas agama Katholik dari sekolah.

Subjek 2 juga menyatakan bahwa dirinya menjalankan 2 ritual

agama, karena berusaha untuk mengikuti otoritas dari ayah. Ayah subjek

tidak ingin anak – anaknya mengikuti agama dari ibu. Subjek yang saat itu

berusia 10 tahun nampaknya merasa takut untuk menolak permintaan dari

ayahnya. Sesuai dengan tahapan psikososial yang dikemukakan oleh

(54)

Industry vs Inferiority dimana subjek 2 mulai mengeksplorasi

pemahamannya soal masing – masing agama dari orang tua. Permintaan

dari sang Ayah membuat subjek merasa tertekan, yang ditunjukan dengan

sikap subjek pada awal wawancara yang terkesan menolak apabila

dikatakan pindah agama

ya kalau aku, aku merasanya tidak pindah agama,

Perasaan tertekan pada subjek 2 nampaknya membuat subjek merasa

inferior dan hal ini banyak muncul di tema – tema selanjutnya dengan

sikap subjek yang berusaha menutupi informasi soal pindah agama dari

ayah subjek.

Walaupun demikian, subjek pada akhirnya tetap memutuskan

untuk memiih salah satu agama

Cuma aku tuh tetep ngerasa sreg dan nyamannya tuh menjadi

Katholik gitu dan itu pun terbawa sampai aku besar gitu, jadi dari

kecil sampai besar gitu aku kalau berdoa dengan cara Katholik

gitu.

Seiring berjalannya waktu, subjek nampaknya merasa perlu untuk memilih

salah satu agama dari orang tua subjek. Subjek akhirnya menjatuhkan

pilihan pada agama ibu karena merasa lebih nyaman dan cocok dalam

(55)

Keinginan subjek 1 untuk pindah agama baru bisa terealisasikan

saat subjek duduk di bangku perkuliahan. Hal ini disebabkan karena

subjek merasa bahwa proses untuk pindah agama yang sangat lama

sehingga menyebabkan subjek menunda keinginannya untuk pindah

agama. Selain itu subjek juga merasa enggan untuk segera pindah agama

karena merasa tidak ada yang menemani subjek menjalani proses pindah

agama yang memakan waktu kurang lebih 1 tahun.

Alasan serupa juga diutarakan oleh subjek 2. Subjek akhirnya

memutuskan untuk pindah agama setelah mendapat ajakan dari teman

untuk menjalani proses pindah agama bersama – sama. Namun alasan

utama subjek baru memutuskan untuk pindah agama setelah memasuki

perkuliahan, nampaknya karena subjek masih merasa takut untuk

mengecewakan Ayah subjek. Di sisi lain subjek sebenarnya merasa bahwa

dirinya telah meyakini iman Katholik sudah sejak lama, bahkan telah rutin

menjalankan ibadah secara Katholik, sehingga pembaptisan dan proses

pindah agama yang dilakukan oleh subjek hanya dipandang sebagai

prosesi formalitas semata. Hal ini terihat dari pernyataan subjek yakni :

sebenarnya baptis itu juga hanya peresmian aja sih, itu juga buat

yaudah biar aku resmi gitu,

Selama prosesi pembaptisan, kedua subjek pada dasarnya tidak

menemui kendala yang begitu berarti. Beberapa permasalahan pada

(56)

proses pembaptisan. Terlepas dari hal tersebut, subjek 2 nampaknya tetap

berusaha agar proses pindah agama yang terjadi selama satu tahun tidak

diketahui oleh sang Ayah. Tidak adanya kendala yang berarti sebenarnya

disebabkan karena kedua subjek telah mempelajari iman Katholik sejak

kecil, sehingga tidak memerlukan adaptasi yang begitu menyulitkan.

Selain itu, dukungan dari teman – teman yang sama - sama menjalankan

prosesi pindah agama, membuat kedua subjek nyaman dalam menjalani

proses tersebut. Dengan melaksankan prosesi pindah agama sampai

akhirnya resmi telah menjalani pindah agama, kedua subjek telah berhasil

melepaskan ganjalan berupa keinginan yang selama ini dipendam yakni

pindah agama.

Khusus untuk subjek 2, walaupun semasa kecil sang Ibu sempat

memberikan pelajaran agama Katholik kepada subjek, namun subjek

menyatakan bahwa keputusannya pindah agama memang benar – benar

berasal dari keputusan pribadi dan tidak terlalu dipengaruhi oleh sikap ibu.

Gak juga sih menurutku karena dari apa ya, dari kecilpun aku

sudah mantepnya ke Katholik gitu.

Pernyataan tersebut dapat pula disebabkan karena subjek nampaknya

memang tidak terlalu dekat dengan sang ibu, dan keputusan pindah agama

memang benar – benar karena subjek merasa lebih nyaman dengan agama

baru.

(57)

Kedua subjek memiliki sikap yang sangat berbeda dalam

merespon sikap dari keluarga besar. Dengan demikian pada bagian ini

peneliti membagi pengelompokkan tema dalam 2 tabel yang berbeda.

Subjek 1 :

Tema Subjek 1

1. Mendapat penerimaan dari orang tua terkait dengan keputusan pindah agama

2. Memutuskan untuk Pindah Agama karena desakan orang tua 3. Merasa bahwa orang tua terbuka dengan agama baru

4. Ketakutan dan kekhawatiran jika keluarga inti tersinggung dengan penolakan keluarga besar

150 – 165, 188 – 192, 215 – 219, 638 – 641, 669 – 680 239 – 244 278 – 299, 704 – 717, 760 - 764 737 – 739,

747 – 752

Keputusan subjek 1 untuk melakukan pindah agama mendapatkan

penerimaan yang sangat baik dari pihak keluarga inti dalam hal ini orang

tua dan adik subjek. Walaupun orang tua subjek berasal dari agama yang

berbeda, namun subjek menyadari bahwa orang tua subjek merupakan tipe

orang tua dengan pola asuh yang demokratis. Dalam hal ini, Sesuai dengan

Santrock (2002), pola asuh yang demokratis memungkinkan anak untuk

berdiskusi dengan orang tua mengenai harapan dan keinginannya karena

orang tua mau mendengarkan dan menerima harapan dari anak. Pada pola

(58)

mengajarkan kepada anak mengenai nilai – nilai kehidupan yang baik. Hal

ini nampak pada :

orang tuaku tuh sangat mendukung aku untuk tetap jadi Katholik

tapi gak lupa dengan nilai – nilai yang sudah aku peajari dari

kecil, misalnya gini medkipun aku agamanya Katholik tetapi aku

kalau lebaran harus tetap pulang, harus tetap kumpul dengan

mereka itu sudah tradisi dari dulu…

malah dia mengajarkan untuk tetap membari contoh gitu, misalnya

ada yang waktu kurban, misalnya ada yang e.. tetanggaku itu kan

Kristen waktu kurban itu dia nyumbang Sapi gitu ya trus ya Bapak

– Ibuku ini senang – senang aja, trus nasehatin aku kalau nanti

begitu gitu, harus berbuat baik dan lain – lain lah. Meskipun kamu

agamanya sudah gak muslim lagi begitu, jadi selama ini sih

mendukung – mendukung aja.

Dari hal tersebut, nampak jelas bahwa keputusan pindah agama

yang diambil oleh subjek telah mendapat penerimaan dari orang tua,

bahkan orang tua subjek memberikan nasihat agar di agamanya yang baru

subjek tetap melaksanakan tradisi keluarga dan terus melakukan nilai –

nilai kebaikan. Dukungan dan penerimaan dari keluarga tersebut membuat

subjek merasa berharga dan semakin yakin untuk mengambil keputusan

pindah agama. Dengan adanya dukungan dari keluarga tersebut subjek

merasa mampu untuk mengatasi segala resiko termasuk penolakan dari

Gambar

TABEL TEMA – TEMA SUBJEK I
TABEL TEMA – TEMA SUBJEK I
TABEL TEMA – TEMA SUBJEK II

Referensi

Dokumen terkait

NIP : 196612121993032002 Email :[email protected] Unit Kerja :Fakultas MIPA Status :Dosen..

Untuk mengetahui bagaimana keserasian belanja yang dilihat dari besaran nilai belanja operasi terhadap total belanja, belanja modal terhadap total belanja dan belanja langsung

20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis (Studi Di Kota Medan). Permasalahan yang diajukan adalah bagaimana praktik perdagangan barang tiruan yang menggunakan

Kemudian pada tujuan penelitian yang kedua (untuk mengetahui penyelesaian turunan tingkat tinggi dengan metode selisih orde pusat dengan bantuan program matlab)

Analisis Pengaruh Komitmen Organisasi ndan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Dengan Mediasi Kepuasan Kerja Pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus. Mochamad

Pembangunan itu sendiri merupakan proses pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berpotensi untuk dikembangkan guna meningkatkan dinamika ekonomi

Pada saat ini muncul berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah pelaksanaan proses pembelajaran pendidik yang masih pada hasil belajar

Adapun penelitian terdahulu yang menggunakan dua metode tersebut pada data microarray yaitu prediksi waktu tahan hidup pasien penyakit jantung koroner dengan