PENGETAHUAN DAN PRILAKU MASYARAKAT MENGELOLA SAMPAH MELALUI BANK SAMPAH
4.1. Respon Masyarakat Terhadap Bank Sampah Mutiara Medan
Masyarakat tentu memiliki pendapat ataupun argumentasinya masing- masing. Sebab dalam UUD 1945 setiap manusia memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat baik secara lisan ataupun tulisan. Kebebasan berpendapat merupakan hak bagi setiap orang. Dengan begitu setiap masyarakat yang memiliki pendapat ataupun cara pandangya sendiri tentu ini menghasilkan respon yang berbeda-beda baik dari segi perilaku maupun pengetahuan mereka.
Mengeluarkan pendapat itu merupakan salah satu bagian dari kebudayaan sebagai ide ataupun gagasannya. Menurut Koentjaraningrat, bahwa kebudayaan itu mempunyai paling tiga wujud yaitu:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide , gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan nilai-nilai.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan, berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Sejak didirikannya tahun 2012 silam, Bank Sampah Mutiara Medan, ada masyarakat yang kurang puas dengan kinerja Bank Sampah Mutiara Medan.
Sebagai wadah untuk mengelola sampah menjadi barang-barang bekas yang bernilai ekonomis belum bisa dikatakan menjawab permasalahan sampah di Kelurahan Binjai tersebut.
Masyarakat juga tahu apa bank sampah itu. Para informan penulis mengatakan bahwa bank sampah itu merupakan tempat daur ulang sampah. Dimana sampah-sampah yang disetorkan kepada pihak Bank Sampah Mutiara Medan harus dalam keadaan bersih dantidak kotor karena barang-barang sampah tersebut akan diolah menjadi barang-barang bekas yang bernilai ekonomis. Walaupun begitu, sebagian masyarakat mengatakan kalau seperti itu makin susah karena harus dibersihkan terlebih dahulu. Sebab barang sampah yang dijual masih dalam keadaan kotor maka pihak dari Bank Sampah Mutiara Medan tidak menerima barang sampah itu. maka masyarakat pun memutuskan untuk menjualnya ke tukang botot yang biasanya lewat dari depan rumah mereka masing-masing.
“Barang-barangnya dikumpulkan dan diikat lalu dijual. Aku nampak dari cara mereka gini loh orang itu sebenarnya macam penampung bototnya cuman modelnya agak cantik gitu. Teruskami gag pernah jual ke situ( Bank Sampah). Ke tukang bototnya kami jual” (Bu Nababan, 44 tahun) “Kayaknya dibilang aktif gag juga. Ada atau gag ada lah. Itukan
pemerintah punya. Kan pejabat-pejabat yang meresmikan itu.Sekali tiga bulan sekali baru uangnya dapat.Masyarakat mana maulah yang seperti itu”(Bu Nasution, 58 tahun)
“Bank sampah ini kan seperti bank menyimpan sampah”(Pak Harry, kepling XVIII)
Kemudian, sistem pembayaran terhadap uang hasil penyerahan ataupun penjual barang-barang sampah tersebut ada sebagian masyarakat mengganggap kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Maunya masyarakat ketika menjual barang bekasnya ke Bank Sampah Mutirara Medan langsung cash atau tunai uangnya bukan disimpan selama tiga bulan baru bisa diambil uangnya. Tetapi di samping itu ada juga masyarakat yang merasakan manfaatnya salah satunya nasabah dari Bank Sampah Mutiara Medan. Informan penulis mengatakan bahwa sistem menabung sampah di Bank Sampah Mutiara Medan cukup memberikan manfaat dalam arti uang yang disimpan dalam Bank Sampah Mutiara Medan dapat digunakan jika ada kebutuhan yang sangat mendesak sekali, walaupun beliau mengatakan peran dari Bank Sampah Mutira Medan belum maksimal sekali dalam membantu masyarakat mengelola sampah di perkotaan.
“Kami mana ada yang ke situ. Orang itu maunya sampah yang bersih. Gag mau orang tu yang jorok-jorok. Kalau orang sini lebih bagus ke
14
botot. Jarang ke situ. Pekerjanya di situ kurang berkomunikasilah. Orang itu di dalam-dalam aja trus pulang. Jadi kita pun yaudahlah jadi ke botot ajalah” (Nasibah, 36 tahun)
“Buktinya sampah-sampah masih banyak menumpuk sekitarnya berarti kan belum terbukti di situ ada bank sampah tapi masih kotor-kotor aja”(Natinem, 60 tahun)
“Belum maksimal. Antusias masyarakat masih kurang. Mungkin karena kurangnya sosialisasi atau kurangnya pendekatan pada masyarakat dari pihak bank sampah.”( Hari, Kepling XVIII)
“Bank Sampah Mutiara Medan kontribusinya ada sih ada cuman belum maksimal kali.”(Sulham Lubis, Sekretaris Kelurahan Binjai)
“Buktinya ada kau nampak rupanya dek. Kayaknya gag ada, banyaknya orang-orang sana ke botot ke sana”(Bu Nababan, 44 tahun)
14
“Kadang lebih bagus botot yang lewat kasihkan ke botot daripada ke situ ya kan” (Bu Nasution, 55 tahun)
Dari hasil wawancara penulis dengan beberapa informan menunjukkan bahwa Bank Sampah Mutiara Medan yang bisa diharapkan untuk mengatasi permasalahan sampah belum maksimal dalam kinerjanya. Bahkan ada masyarakat mengatakan lebih baik jual barang bekasnya di botot daripada di Bank Sampah Mutiara medan. Hal ini terjadi karena kurangnya pendekatan ataupun sosialisasi dari pihak Bank Sampah Mutiara Medan kepada masyarakat sehingga masyarakat merasa kurang perduli dengan keberadaan Bank Sampah Mutiara Medan.
Alasan yang menjadi utama yaitu bahwa dari pihak Bank Sampah Mutiara Medan belum sepenuhnya menjalankan kinerjanya sebagai bank sampah. Ini membuat sebagian masyarakat merasa belum yakin jika bank sampah ini mampu untuk mengatasi permasalahan sampah yang terjadi saat ini. Bahkan ada masyarakat yang mengatakan tidak tahu-menahu akan tentang Bank Sampah Mutiara Medan.
“Sampah yang ada disini masih banyak sama aja. Baru-baru aja yang bersih pas datang menteri. Habis menterinya pulang ya sunyi senyaplah kayak gini” (Bu Ana)
Foto. 38: Selokan air penuh sampah
Foto. 39: Sampah dekat rumah penduduk Sumber: dokumentasi penulis
Foto. 40: Sampah dekat dengan lokasi Bank Sampah Sumber: dokumentasi penulis
Foto di atas menunjukkan bawa peran dari Bank Sampah Mutiara Medan belum berjalan dengan baik memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara mengelola sampah dengan baik. Kurangnya sosialisasi seperti yang dikatakan informan penulis yang membuat masyarakat tidak tahu apa peran serta manfaat dari Bank Sampah Mutiara Medan itu.
Begitu juga dengan masyarakat yang berada di Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan. Kehadiran Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan tentunya tak serta merta diterima oleh masyarakat khususnya daerah sicanang. Para informan penulis pun sebelumnya sudah tau apa sebenarnya bank sampah itu dan seperti apa nanti hasilnya sebab sebelum dibangun Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan para massyarakat telah diadakan pertemuan dengan pihak kelurahan setempat. Memang awal pembentukannya, minat masyarakat masih rendah ataupun kurang maka dari itu pihak dari Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan melakukan sejumlah kegiatan untuk menjalankan programnya salah satunya melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui sosialisasi.
Sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan berisi tentang pengetahuan bank sampah dan mengolah sampah menjadi kompos dan barang-barang bernilai ekonomis. Walaupun begitu, respon masyarakat ada juga sebagian masih belum ada kesadaran untuk mejaga kebersihan. Di samping itu, ada juga informan penulis mengatakan bahwa Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan cukup memberikan dampak
Kehadiran Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan membawa suatu perubahan walaupun belum maksimal tetapi dapat memberikan sedikit pengetahuan kepada masyarakat untuk mengelola sampahnya dengan baik. Sebelum Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan dibangun, sampah-sampah yang berada di Kelurahan Sicanang ini sangat banyak disebabkan air pasang laut. Setiap air pasang laut terjadi maka sampah-sampah akan terangkut dan berserakan sehingga mengotori rumah masyarakat sekitar. Hadirnya Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan turut mengurangi sampah- sampah tadi walaupun belum semuanya dapat terasi karena berbagai faktor hal yang menjadi hambatan Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan dalam menjalankan visi dan misinya yaitu untuk menciptakan Kota Medan yang bersih dari sampah.
“Kurangi sampahlah banyak. Perannya sangat banyaklah bersihlah ini. Biasanya akan kalau air pasang semua sampah ini. Jadi kalau sampah sampah pun gag ada kami dah dikasih keranjang sampah apalagi sampah yang dapat dijual saampai dicari orang sampe malam. Jadi kalau dibilang sudah bersihlah.”(Dahlia, 56 tahun)
“Jelaslah kali berkurang(sampah). Kalau ibu rasa kalau memang gag ada bank sampah yang mengelolanya kurasa parit parit habislah penuh sampah. Dulu banyak kali sampah berserakan dimana mana”(Hotma Harahap, 60 tahun)
“Ya adalah kurasa berkurangnya sampahnya”(Bu Hutauruk)
“Sampah makin bertambah. Sama aja. Abang tengok aja ini berserakan di jalan-jalan ini. Belum berkuranglah sampahnya”(Fitriani, 29 tahun) “Namanya masyarakat awam ya. Ada yang suka ada yang tidak. Ada yang
komplin ada yang mau berbaur ada yang mau ikut memilih sampah”(Suniati, 48 tahun)
BAB VI