III.4. Respon Masyarakat Lokal Atas Stigma “Kampung Idiot”
III.4.3. Respon Perangkat Desa
Respon terhadap stigma dan perilaku diskriminatif masyarakat “Kampung Idiot”tidak hanya ditunjukkan oleh penyandang keterbelakangan mental, pihak keluarga penyandang keterbelakangan mental maupun dari lingkungan masyarakat sekitar, namun juga ditunjukkan oleh tokoh masyarakat yang ada di Desa Sidoharjo tersebut.
Salah satun informan WAR mengganggap dengan sebutan “Kampung Idiot” yang disemangatkan kepada desanya tersebut WAR tidak merasa malu ataupun menunjukkan ketidaksenangan. Mengingat dengan keadaan Desa Sidoharjo yang seperti itu keadaannya, WAR tidak akan menutupi atau
menyembunyikan keadaan yang sebenarnya tersebut, bahwa memang ada sebagian dari jumlah masyarakatnya yang mengalami keterbelakangan mental.
“Ya kalau saya sendiri yo nggak istilahnya malu atau apa enggak,
terah memang keadaannya yo seperti itu apa boleh buat gitu kan”.
(WAR, 2015)
Artinya:
“Ya kalau saya sendiri ya tidak istilahnya malu atau apa tidak,
memang keadaannya ya seperti itu apa boleh buat gitu kan”.
(WAR, 2015)
Berdasarkan pernyataan WAR tersebut bahwa respon yang ditunjukkan WAR mengenai stigma “Kampung Idiot” tersebut tidak ada rasa malu. WAR merasa stigma tersebut telah menunjukkan keadaan dan kondisi sebenarnya yang dialami masyarakatnya. Menurut WAR, tidak ada masalah jika orang luar memberikan sebutan Desa Sidoharjo sebagai “Kampung Idiot”.
Respon yang diberikan WAR sebagai salah satu tokoh masyarakat yang ada di desa tersebut, berbeda dengan respon yang ditunjukkan oleh Informan DEV. Respon yang diberikan DEV kepada orang yang memberikan sebutan Desa Sidoharjo sebagai “Kampung Idiot” maupun kepada orang yang menanyakan apakah satu kampung tersebut masyarakatnya „idiot‟ semua, respon yang diberikan dan ditunjukkan DEV adalah DEV berusaha menjelaskan keadaan kampungnya yang sebenarnya. Bahwa, tidak semua masyarakat yang tinggal di Desa Sidoharjo tersebut masyarakatnya mengalami keterbelakangan mental atau sebutan mereka „idiot‟.
…”memberikan pemahaman kepada mereka bawasannya anggapan
mereka selama ini, itu kurang benar, terus kondisi sosial yang sering didengar itu juga kurang benar, maka dari itu warga lain ketemu dengan orang luar mereka pasti ditanya seperti itu dan
seharusnya mereka bisa menjawab menjelaskan sesuai dengan kenyataan yang ada di Desa Sidoharjo.”
(DEV, 2015)
Selain itu juga DEV tidak menutup-nutupi maupun sengaja menghilangkan keadaan atau kondisi sebagian warga masyarakatnya yang mengalami keterbelakangan tersebut.Bahwa jumlah populasi warga masyarakat Desa Sidoharjo tersebut sangat banyak, namun yang mengalami keterbelakangan mental tersebut hanya sebagian kecil saja dari jumlah penduduk Desa Sidoharjo tersebut.
“Desa Sidoharjo ini jumlahnya sangat banyak dari jumlah itu ada jumlah itu ada warga kami yang mengalami keterbelakangan mental, namun jumlah mereka sangat kecil kecil ini yang tidak kami tutup-tutupi, artinya tidak berusaha untuk menghilangkan warga kami yang mengalami keterbelakangan itu”.
(DEV, 2015)
Seperti halnya DEV informan INU sebagai mantan kepada desa pertama di Desa Sidoharjo tersebut juga menanggapi secara positif mengenai stigma atau sebutan Desa Sidoharjo sebagai “Kampung Idiot”, banyak orang luar sana yang menjuluki desanya dengan sebutan “Kampung Idiot”, karena jika ditutup-tutupi masalah tersebut tidak akan dapat terselesaikan.
“Yo ra masalah, nek coro kula yo ra masalah, nyapo kok ditutap-
tutupi. Justru barang-barang sing ditutupi ngono kui ora iso anu ora iso nylesekne masalah. Nek ditutupi niku barang koyo ngono kok ditutup, terus akhire piye nek arep nylesaikan”.
(INU, 2015)
Artinya:
“Ya tidak masalah, kalau menurut saya ya tidak masalah, kenapa
kok ditutup-tutupi. Justru sesuatu apapun yang ditutupi itu tidak bisa apa tidak bisa menyelesaikan masalah. Kalau ditutupi itu sesuatu seperti itu kokditutupi, terus akhirnya bagaimana kalau
Berdasarkan argument INU tersebut dapat diketahui bahwa INU tidak akan menutupi keadaan atau kondisi di desanya tersebut. INU akan membenarkan bahwa memang masyarakatnya banyak yang mengalami keterbelakangan mental. Sehingga dari pernyataan INU tersebut tidak ada masalah jika masyarakat luar menyebut desanya sebagai “Kampung Idiot” karena jika kondisi masyarakatnya ini ditutupi malah tidak akan memberikan penyelesaian terkait kondisi warga masyarakat Desa Sidoharjo.
DEV juga memberikan pernyataan bahwa, berdasarkan pengalamannya sendiri DEV pernah melihat dan mendengar warganya yang menerima perkataan atau sebutan yang kurang menyenangkan, DEV langsung memberikan teguran secara langsung kepada orang yang memberikan sebutan yang kurang baik kepada orang tersebut.
..”ngomong baik-baik dengan remajanya itu sendiri bawasannya perbuatan itu sendiri tidak baik, memberikan sebutan kepada orang lain, memberikan apa panggilan kepada orang lain yang mana itu bukan namanya sendiri kan itu sendiri tidak baik, apalagi ini sebutan yang buruk seperti kata-kata kasar itu tadi..”.
(DEV, 2015)
Berdasarkan beberapa pengalaman DEV tersebut dapat diketahui bahwa, DEV tidak memberikan respon yang negatif atau kurang menyenangkan terhadap beberapa warganya maupun orang di luar desanya mengenai stigma dan informasi yang menurut DEV tersebut kurang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di desanya. Memberikan teguran langsung terhadap salah satu warganya yang memberikan panggilan yang bukan nama aslinya dan bahkan sebutan-sebutan kasar tersebutadalah tindakan yang dinilai DEV sebagai bentuk respon yang benar, agar masyarakat luar mendapat pemahaman maupun informasi yang benar
terkait kondisi yang sebenarnya Desa Sidoharjo tersebut. Mengingat warga masyarakat di Desa Sidoharjo mayoritas pendidikannya rendah, sehingga perlu memberikan pemahaman kepada warga masyarakatnya dalam memberikan sikap maupun perlakuan terhadap sebagaian warga masyarakatnya yang penyandang keterbelakangan mental. Sehingga akan menunbuhkan sikap saling menghargai antar sesama masyarakat lainnya.
Dari temuan data yang diperoleh, tidak semua informan menunjukkan respon secara langsung terhadap stigmatisasi dan perilaku diskriminatif yang dialami oleh masyarakat “kampung idiot” tersebut. Maupun memberikan respon yang keras terhadap stigmatisasi yang diberikan kepada masyarakat Desa Sidoharjo kepada sebagian warga masyarakat penyandang keterbelakangan mental tersebut. Ada beberapa masyarakat yang biasa saja jika Desa Sidoharjo mendapat sebutan “Kampung Idiot”, namun ada juga sebagian warga masyarakatnya yang berusaha menjelaskan keadaan atau kondisi yang sebenarnya di Desa Sidoharjo tersebut.