Total Score :_____x 100% =
RESUSITASI CAIRAN DAN PEMASANGAN JALUR INTRAVENA
Resusitasi cairan merupakan suatu upaya untuk mengembalikan homeostasis cairan dan elektrolit tubuh. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh menjadi indikasi tindakan resusitasi, diantaranya keadaan perdarahan, syok, mual, muntah, diare, dll. Resusitasi cairan dapat dilakukan secara oral dan intravena, bergantung pada kondisi dan kebutuhan pasien.
Cairan parenteral dibutuhkan bila asupan melalui oral atau enteral tidak memadai. Contoh: pasien koma, pasien sukar makan dan minum, atau pasien yang saluran cerna perlu diistirahatkan. Tujuan pemberian adalah menyediakan elektrolit dan air untuk mempertahankan cairan dalam keadaan normal, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan menjamin tersedianya akses intravena bila keadaan darurat.
Jalur intravena atau sering disebut infus, memiliki banyak peran. Tidak hanya untuk resusitasi, pemasangan jalur ini juga dapat berperan untuk pemberian nutrisi, transfusi, terapeutik, dll. Berikut adalah beberapa indikasi pemasangan jalur intravena:
1. Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
2. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.
3. Pemberian kantong darah dan produk darah. 4. Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu). 5. Pemasukan kontras untuk pemeriksaan radiologi
6. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)
7. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.
Secara umum, berikut merupakan beberapa keadaan yang memerlukan pemasangan jalur intravena, yaitu:
1. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 2. Syok hipovolemik
3. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 4. Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan
cairan tubuh dan komponen darah)
5. “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi) 6. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi)
7. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)
8. Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
Pemasangan jalur intravena merupakan tindakan invasif, beberapa keadaan merupakan kontraindikasi untuk pemasangan jalur intravena, yaitu:
1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
Selain itu, pemasangan jalur intravena dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang harus dihindari, yaitu:
1. Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
2. Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
3. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
4. Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
5. Reaksi alergi
Teknik pemasangan jalur intravena
Pemasangan jalur intravena menggunakan kanula atau kateter yang dimasukkan melalui pembuluh vena. Biasanya pembuluh vena yang digunakan adalah pembuluh yang dapat teraba, tidak berada di area yang sering digerakkan, dan tidak mempersulit gerakan pasien. Contohnya vena di punggung tangan, fossa antecubiti, ataupun lengan bawah. Pada pasien bayi, seringkali dipasang pada vena temporalis, sedangkan pada anak seringkali dipasang pada vena dorsalis pedis. Perlu diingat, pastikan ekstremitas yang dipasang jalur intravena bukan merupakan ekstremitas yang digunakan pasien untuk beraktivitas. Untuk memilih vena, petugas hendaklah menanyakan hal yang menjadi kontraindikasi dan memastikan pasien mengetahui dan menyetujui prosedur pemasangan (informed consent). Kemudian setelah memastikan pasien dapat menjalani prosedur, maka petugas mempersiapkan alat yang hendak digunakan. Sebagai prosedur invasif, maka persiapan alat harus dituntaskan di awal untuk menjaga aseptisitas pelaksanaan prosedur. Alat dan bahan yang harus dipersiapkan meliputi:
1. IV Catheter sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan 2. Intravenous set / blood set
4. Intravenous stand 5. Torniquet
6. Kapas alkohol 70% 7. Betadine
8. Kassa steril
9. Handscoen / sarung tangan steril 10. Plester
11. Bengkok (nierbekken) 12. Gunting verband
13. Spalk bila perlu (untuk anak-anak)
Dalam persiapan alat juga perlu diperhatikan aseptisitas, untuk itu alat seperti plester dan kasa dipastikan sudah terpotong dan siap pakai. Alat lainnya dipastikan berada dalam jangkauan tangan petugas dan berada di tempat yang tidak mudah jatuh.
Untuk prosedur pemasangan jalur intravena ialah sebagai berikut: 1. Memastikan kesesuaian identitas pasien
2. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
3. Menjelaskan kepada pasien tujuan tindakan dan prosedur dengan bahasa yang mudah dimengerti dan meminta persetujuan tindakan
4. Mempersiapkan pasien dalam posisi nyaman dengan area pemasangan jalur yang bebas dari pakaian dan benda lain yang mengganggu seperti perhiasan, jam tangan,dll.
5. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
6. Menyiapkan cairan intravena yang sesuai dengan kasus pasien, mendesinfeksi tutup botol cairan. Kemudian menusukkan pipa saluran intravenous set ke botol cairan, dan menggantungkannya di intravenous stand
7. Membuka tutup jarum intravenous set, mengalirkan cairan hingga tidak ada udara di sepanjang selang. Setelahnya, memasang klem pada selang dan menggantungkan selang di intravenous stand pada tempat yang terjangkau petugas. Ini merupakan critical step, mengingat adanya udara dalam saluran intravenous set dapat menyebabkan adanya emboli
8. Pilih vena yang akan dilakukan pemasangan kemudian pasanglah torniquet di proksimal vena yang akan dipasang
9. Desinfeksi daerah yang akan dipasang
10. Tusukkan IV catheter dengan posisi jarum menghadap atas ke dalam vena
11. Bila berhasil darah akan keluar dan terlihat melalui indikator, masukkan perlahan 3-5 mm lagi untuk memastikan IV catheter masuk ke dalam vena.
12. Lepas torniquet segera
14. Buka klem selang infus untuk melihat kelancaran tetesan, bila lancar lanjutkan dengan fiksasi selang infus
15. Fiksasi dilakukan dengan menempelkan kassa steril yang sudah dioleskan dengan betadine/cairan antiseptik pada lokasi penusukan, kemudian lipatlah selang dan pasang plester untuk memfiksasi selang dan kasa pada lokasi penusukan
16. Atur tetesan infus sesuai kebutuhan dan kondisi pasien
17. Buang sampah sesuai dengan kategori sampah medis dan non medis, kemudian petugas melepas handscoon dan mencuci tangan
Resusitasi Cairan
Resusitasi cairan berfungsi menjaga homeostasis, prinsipnya didasarkan pada keseimbangan cairan masuk dan keluar. Jumlah cairan tubuh pada orang dewasa rata-rata 45%-70% dari berat badan (BB), biasanya 60% pada pria, 55% wanita. Selain itu komposisi ini bervariasi tergantung pada proporsi tubuh individu. Pada anak-anak jumlah cairan mencapai 70%-80% dari BB, dengan rata-rata 75% dari BB. Cairan tubuh (dengan perkiraan proporsi 60% dari berat badan), terdiri dari:
1. Intraseluler / CIS (40%)
2. Ekstraseluler / CES (20%), yang terdiri dari : a. Cairan intravaskular : 5% dari BB b. Cairan interstitial : 15% dari BB
3. Cairan transseluler (1-3% dari BB),meliputi : LCS, synovial, gastrointestinal dan orbital.
Secara praktis perbandingan CES dan CIS ialah - Dewasa = 1 : 2
- Anak-anak = 2 : 3 - Bayi/neonatus = 1 : 1
Dalam keadaan biasa / normal tubuh akan selalu kehilangan air beserta elektrolitnya, melalui: urine (0,5-1 cc/KgBB/jam), feses (100 ml/hari), dan insensible water loss (IWL) melalui paru dan kulit. IWL dapat dihitung dengan menggunakan rumus penghitungan :
- dewasa 15 cc/kgBB
- anak: (30-usia(th)) cc/kgBB/hari
- jika ada kenaikan suhu: 200 (suhu badan sekarang-36,80C)
Disamping itu air juga didapat dari hasil metabolisme tubuh. Untuk dewasa diperkirakan 5mL/KgBB/hari, anak 12-14 th : 5-6mL/KgBB/hari, balita : 8 mL/KgBB/hari.
Perpindahan cairan tubuh dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik, tekanan onkotik, tekanan osmotik. Tekanan hidrostatik yaitu tekanan yang mempengaruhi pergerakan air melalui dinding kapiler. Bila albumin rendah maka tekanan hidrostatik akan meningkat dan tekanan onkotik akan turun sehingga cairan intravaskuler akan didorong masuk ke inerstitial yang berakibat edema.
Tekanan onkotik atau tekanan osmotik koloid merupakan tekanan yang mencegah pergerakan air. Albumin menghasilkan 80% dari tekanan onkotik plasma,sehingga bila albumin cuup pada cairan intravaskuler maka cairan tidak akan mudah masuk ke interstitial. Cairan yang sama dengan tekanan osmotik plasama disebut isotonik, cairan yang lebih tinggi dari tekanan plasma disebut hipertonik, cairan yang lebih rendah dari tekanan plasma disebut hipotonik.
Pada beberapa keadaan tertentu, dibutuhkan modifikasi untuk penghitungan kebutuhan cairan. Keadaan-keadaan tersebut ialah:
Kebutuhan Ekstra :
1. Demam (12 % setiap kenaikan 1°C di atas 37°C) 2. Hiperventilasi
3. Suhu lingkungan tinggi 4. Aktivitas ekstrem
5. Setiap kehilangan abnormal, misal : diare, poliuria
Penurunan kebutuhan :
1. Hipotermia (12 % setiap 1°C di bawah 37°C) 2. Kelembaban sangat tinggi
3. Oliguria atau anuria 4. Hampir tidak ada aktivitas 5. Retensi cairan misal gagal jantung
Berdasarkan berat molekulnya, cairan intravena dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Cairan kristaloid : merupakan cairan yang mengandung partikel dengan berat
molekul (BM) rendah (<8000 Dalton), dengan atau tanpa glukosa. Cairan ini memiliki tekanan onkotik rendah, sehingga cepat terdistribusi ke seluruh ruang ekstraseluler. Berdasarkan kadar elektrolitnya, cairan ini dapat dikelompokkan menjadi
a. Larutan ionik
- Ringer Lactate (RL), merupakan cairan fisiologis yang sesuai untuk homeostasis
volemik seperti: syok hipovolemik, diare, trauma, luka bakar. Komposisinya terdiri atas Natrium 130 mEq Kalium 4 mEq, Chlorida 109 mEq, Kalsium 3mEq, Laktat 28mEq. Laktat yang terdapat di dalam RL akan dimetabolisme oleh hati menjadi bikarbonat untuk memperbaiki keadaan seperti asidosis metabolik . Kalium yang terdapat di dalam RL tidak cukup untuk maintenance sehari-hari, apalagi untuk defisit kalium . Kekurangannya RL tidak mengandung gukosa sehingga bila dipakai sebagai cairan maintenance harus ditambah glukosa untuk mencegah terjadinya ketosis
- Ringer Acetate
Komposisi : Natrium 130 mEq, Kalium 4 mEq, Chlorida 109 mEq, Kalsium 3 mEq, Asetat 28 mEq
Indikasi : digunakan sebagai terapi pengganti cairan pada pasien dengan gangguan hepar, karena metabolisme asetat terjadi di otot, berbeda dengan laktat yang dimetabolisme di hati (hepar).
- NaCl fisiologis (0,9% saline)
Komposisi : Natrium 154 mEq, Chlorida 154 mEq
Indikasi: hiponatremia, keadaan dimana RL tidak cocok digunakan, yaitu: alkalosis, retensi kalium . Namun cairan ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu : tidak mengandung HCO3- dan K+, kadar Na+ dan Cl- relatif tinggi sehingga dapat terjadi acidosis hyperchloremia, acidosis dilutional dan
hypernatremia.
- Hartmann’s solution
Komposisi: Natrium 131 mEq, Chlorida 111 mEq, lactat 29 mEq, Kalium 5mEq, Kalsium 2mEq
Cairan ini komposisinya sangat mirip RL, namun saat ini sudah jarang digunakan karena sangat mudah menyebabkan edema
b. Non-ionik
- Dextrose 5% dan 10% Indikasi :
i. Digunakan sebagai cairan maintenance pada pasien dengan pembatasan intake natrium atau cairan pengganti pada pure water deficit.
ii. Penggunaan perioperatif.
Kekurangannya, cairan ini tidak mengandung elektrolit sehingga dapat menyebabkan hiponatremia dan hipokloremia. Cairan hipotonik sehingga menambah volume intrasel yang dapat mengakibatkan terjadinya edema anasarka (edema seluruh tubuh).
2. Cairan koloid merupakan cairan yang mengandung zat dengan BM tinggi (>8000 Dalton), misal protein. Cairan ini memiliki tekanan onkotik tinggi, sehingga sebagian besar akan tetap tinggal di ruang intravaskuler.
Contoh:
∑ Plasma Protein fraction: plasmanat
∑ Albumin
Concentration, Cryoprecipitate
∑ Koloid sintetik : dextran, hetastarch, gelatin
Penghitungan Kebutuhan Cairan
1. Terapi Rumatan (Maintenance Therapy)
Terapi rumatan diberikan untuk memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi, biasanya larutan yang digunakan adalah larutan yang mengandung cukup kalium sesuai dengan kebutuhan harian. Kebutuhan cairan dapat diberikan via oral, intravena (infus) ataupun keduanya.
Penghitungan Cairan Rumatan : 1. Dewasa :
∑ Volume : 30-40 ml/KgBB/hari ∑ Natrium : 2-4 mEq/kgBB/hari ∑ Kalium : 1-3 mEq/kgbb/hari ∑ Kalori : 25-30 Kcal/kgBB/hari
2. Anak : pada anak dapat digunakan rumus Darrow
Kebutuhan Cairan Pada Anak Menurut Darrow
BB Kebutuhan cairan ml/KgBB/hari
< 3 Kg 175
3 - 10 Kg 105
10 - 15 Kg 85
>15 kg 65
Cara penghitungan tetesan infus :
- Tetesan makro = 1 mL = 15 tetes (untuk anak > 3 bulan) - Tetesan mikro = 1 mL = 60 tetes (untuk anak < 3 bulan)
- Rumus : S cairan X Jumlah tetes = ... tpm (tetes per menit) jam 60