• Tidak ada hasil yang ditemukan

Retardasi Mental

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 38-44)

Menurut PPDGJ III (2003), bahwa retardasi mental merupakan gangguan jiwa. Menurut American Association on Mental Retardation (AAMR) (2002) Retardasi mental yaitu : Kelemahan atau ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sebelum 18 tahun) ditandai dengan fase kecerdasan dibawah normal ( IQ 70-75 atau kurang), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya dua area berikut : berbicara dan berbahasa ; keterampilan merawat diri, ADL ; keterampilan social ; penggunaan sarana masyarakat ; kesehatan dan keamanan ; akademik fungsional ; bekerja dan rileks, dan lain-lain.

Menurut Durand (2007), retardasi mental adalah gangguan yang telah tampak sejak masa anak-anak dalam bentuk fungsi intelektual dan adaptif yang secara signifikan berada dibawah rata-rata. Sedangkan menurut Rosyadi (2009), Retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama terlihat selama masa perkembangan sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensia, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Retardasi mental kadang disertai gangguan jiwa atau gangguan fisik lain.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa retardasi mental adalah keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung sejak masa kanak-kanak dan berpengaruh terhadap penurunan kemampuan secara kognitif, bahasa, motorik, sosial, ketrampilan. Bahkan ada beberapa yang disertai dengan gangguan jiwa dan atau gangguan fisik lain.

2.3.2 Penyebab

Menurut Kaplan dan Sandock (1997), penyebab dari retardasi mental dibagi menjadi faktor genetik, faktor prenatal, faktor perinatal, gangguan didapatkan masa anak – anak, dan faktor lingkungan dan sosiokultural;

a. Faktor Genetik, meliputi; kelainan kromosom (sindrom down, fragile X syndrome, sindrom klinefelter, sindrom Cri-du-chat dan sindrom turner).

Sindrom Down

Pada sindrom down, retardasi mental adalah ciri yang menumpang. Orang dengan sindrom down cenderung menunjukkan perburukan yang jelas dalam bahasa, daya ingat, ketrampilan merawat diri sendiri dan memecahkan masalah pada usia 30 tahun.

Fragile X Syndrome

Pada orang dengan fragile X syndrome, merupakan penyebab tunggal kedua yang tersering dari retardasi mental. Ciri perilaku orang dengan sindroma ini adalah tingginya angka gangguan defisit atensi/hiperaktif, gangguan belajar dan gangguan perkembangan pervasif, seperti gangguan autistik. Defisit dalam fungsi bahasa adalah pembicaraan yang cepat dan perservatif dengan kelainan dalam mengkombinasikan kata-kata membentuk frasa dan kalimat. Orang dengan sindroma X rapuh tampaknya memiliki ketrampilan dalam komunikasi dan sosialisasi yang relatif kuat dan fungsi intelektual mereka tampaknya menurun pada periode pubertal.

Sindrom Cri-du-chat

Anak-anak dengan sindrom tangisan kucing kehilangan bagian kromosom 5. Mereka mengalami retardasi berat dan menunjukkan banyak stigmata yang seringkali disertai dengan penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga yang letak rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme dan mikrognatia. Tangisan seperti kucing yang khas, walaupun akan hilang dengan sendirinya dengan bertambahnya usia.

b. Faktor Perinatal

Gangguan metabolik seperti fenilketonuria (FKU), penyakit Hartup, intoleransi ruktosa, galaktosemia. Rubela maternal juga mengakibatkan kecatatan, sifilis, toksoplamosis atau diabetes, penyalahgunaan beberapa obat. Selain itu juga malnutrisi dapat mengakibatkan bayi mengalami risiko retardasi mental.

c. Gangguan didapat pada Masa Anak-Anak

Status perkembangan seseorang anak kadang-kadang berubah secara dramatik akibat penyakit atau trauma fisik tertentu. Secara retrospektif, kadang-kadang sulit untuk memastikan gambaran

kemajuan perkembangan anak secara lengkap sebelum terjadinya gangguan, tetapi efek merugikan pada perkembangan atau ketrampilan anak tampak terganggu.

Infeksi adalah hal yang paling mempengaruhi integritas sereberal, infeksi yang sering terjadi adalah ensefalitis dan meningitis. Ensefalitas campak telah hampir dapat dihilangkan dengan pemakaian vaksin. Sebagian episode ensefalitis disebabkan oleh virus. Kadang-kadang klinisi harus mempertimbangkan kemungkinan penyakit masa lalu dengan demam tinggi. Meningitis yang didiagnosa terlambat juga dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak.

Trauma kepala pada anak-anak juga menjadi penyebab kecacatan mental, termasuk kejang, kecelakaan bermotor, kecelakaan di rumah misalnya jatuh dari meja, dari jendela terbuka. Selain itu, penyiksaan anak juga menyebabkan retardasi mental.

d. Faktor Lingkungan dan Faktor Sosiokultural

Retardasi mental ringan secara bermakna menonjol di antara orang yang mengalami gangguan kultural, kelompok sosioekonomi rendah dan banyak keluarga yang mengalami retardasi mental dengan retardasi derajat yang sama. Malnutrisi juga menjadi penyebab kecacatan mental, kemudian perawatan bayi yang buruk, pemaparan dengan zat toksin. Ketidakstabilan keluarga, sering pindah, dan pengasuh yang berganti- ganti tetapi tidak adekuat. Kurangnya stimulus dari orang tua terhadap perkembangan anak juga menjadi penyebabnya.

Anak yang mengalami retardasi mental, seringkali mempunyai diagnosa ganda yaitu diagnosa yang mengacu pada retardasi mental dan yang kedua adalah diagnosa yang berhubungan dengan

gangguan mental dan diagnosa emosional (Shives, 1998). Keterlambatan perkembangan kognitif jelas merupakan bagian yang menyatu dengan retardasi mental ini, karena perkembangan kognitif merupakan salah satu pertimbangan dalam menetapkan diagnosa retardasi mental.

Pada keluarga dengan retardasi mental hendaknya menjadi perencanaan dari intervensi karena keluarga dapat mengalami masalah psikososial. Penelitian menunjukkan bahwa keluarga dengan anak yang memiliki kecacatan seringkali mempunyai tingkat stress yang sangat tinggi (Friedrich, Witmer & Cohen, 1985 dalam Shives, 1998). Menurut Shives (1998) klien dengan retardasi mental membutuhkan perawatan yang ekstra dan keluarga membutuhkan tambahan sumber dan dukungan.

2.3.3 Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala anak retardasi mental menurut (Brown, dkk 1991 dalam Sekar, 2007) menyatakan :

a. Lamban dan kesulitan menggeralisasikan dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.

b. Kemampuan bicara sangat kurang terutama pada retardasi mental berat.

c. Cacat fisik, ketebatasan dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangat sederhana, sulit menjangkau sesuatu, dan mendongakkan kepala.

d. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri, pada retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti : berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.

e. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim, kesulitan memberikan perhatian terhadap lawan main.

f. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus, misalnya : memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri : menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala.

g. Perilaku agresif melukai diri.

Ketidakmampuan merawat diri merupakan salah satu tanda dan gejala pada klien dengan retardasi mental. Klien retardasi mental, baik yang disebabkan karena faktor genetik, perinatal, faktor didapat pada masa anak-anak maupun faktor lingkungan dan sosiokultural memiliki kelainan kognitif sehingga mengalami keterbatasan dalam melakukan fungsi-fungsi dalam kehidupan sehari-hari, baik secara kognitif, bahasa, sosial, motorik, termasuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.

2.3.4 Terapi Psikofarmaka Retardasi Mental

Terapi yang terbaik diberikan pada klien ini, adalah pencegahan primer, pencegahan tersier dan pencegahan tertier (Kaplan & Saddock, 1997). Terapi ini hampir sama dengan terapi keperawatan. Pencegahan primer merupakan tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan atau menurunkan kondisi yang menyebabkan perkembangan gangguan mental. Sedangkan pencegahan sekunder adalah jika suatu gangguan yang disertai dengan retardasi mental telah dikenali, gangguan harus diobati untuk mempersingkat perjalanan penyakit. Pencegahan tersier adalah untuk menekan sekuela atau kecacatan yang terjadi setelahnya.

Intervensi farmakologik dalam terapi gangguan mental komorbid pada klien retardasi mental adalah banyak kesamaan seperti untuk klien yang tidak mengalami retardasi mental. Semakin banyak data yang mendukung pemakaian berbagai medikasi untuk klien dengan gangguan mental yang tidak retardasi mental (Kaplan & Saddock,

1997). Beberapa penelitian telah memusatkan perhatian pada pemakaian medikasi untuk sindroma perilaku berikut ini yang sering terjadi diantara retardasi mental. Sehingga terapi farmakologi yang diberikan pada klien ini adalah simptomatis sesuai dengan gejala yang dialami. Perilaku agresi dan perilaku melukai diri, menggunakan Lithium (Eskalith) dalam mengendalikannya. Naltrexone (Trexan) banyak digunakan untuk menurunkan perilaku melukai diri sendiri pada klien retardasi mental yang memenuhi kriteria autistik infantil. Selain itu ada Carbamazepine (Tegretol), Valproic acid (Depakene). Sedangkan untuk gerakan motorik stereotipik, medikasi antipsikotik seperti haloperidol (haldol) dan chlorpromazine (thorazine) dapat digunakan untuk menurunkan perilaku stimulasi diri yang berulang. Kemarahan yang eksplosif dapat diturunkan dengan penghambat-

seperti propanolol dan buspirone.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 38-44)

Dokumen terkait