2.4 Demensia
2.5.5 Tindakan Keperawatan Defisit Perawatan Diri
Fokus intervensi keperawatan dalam hal ini terdiri dari dua : (1) Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan klien dan keluarga
melakukan pemenuhan kebutuhan perawatan diri. (2) Untuk membantu klien dengan keterbatasan dan melakukan perawatan yang tidak dapat dilakukan klien.
Pada klien defisit perawatan diri, terapi yang dapat diberikan antara lain terapi generalis (individu, keluarga dan kelompok) dan terapi spesialis keperawatan jiwa di antaranya yaitu terapi perilaku (individu), terapi supportif dan self help group (kelompok) serta psikoedukasi keluarga (keluarga).
2.5.5.1 Tindakan terhadap Klien
Tindakan keperawatan diberikan kepada klien dengan tujuan supaya
klien memiliki kemampuan-kemampuan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri. Tindakan keperawatan yang dilakukan tersebut terdiri dari tindakan generalis dan spesialis.
Tindakan Generalis
Tindakan generalis yang dilakukan adalah menjelaskan, melatih dan mengajarkan kepada klien tentang cara memenuhi kebutuhan perawatan diri. Hal ini bertujuan supaya klien memiliki kemampuan secara mandiri untuk menyelesaikan aktifitas mandi, berhias, makan dan minum serta toileting untuk diri sendiri.
Setelah diberikan tindakan keperawatan ini diharapkan klien mampu mengungkapkan keinginan untuk meningkatkan kemandirian. Menurut Herdman (2012) kemandirian yang akan dicapai adalah kemandirian dalam menjaga kesehatan; kemandirian dalam mempertahankan hidup; kemandirian dalam mempertahankan pengembangan pribadi; kemandirian dalam mempertahankan kesejahteraan; meningkatkan pengetahuan tentang strategi untuk perawatan diri; meningkatkan tanggung jawab untuk perawatan diri; dan meningkatkan perawatan diri.
Tindakan keperawatan generalis yang dilakukan untuk klien defisit perawatan diri adalah :
a) Memberikan penjelasan tentang pentingnya perawatan diri, alat-alat yang diperlukan untuk melakukan perawatan diri dan cara-cara melakukan perawatan diri.
b) Memberikan latihan untuk mengatasi gangguan kemampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi untuk diri sendiri, dengan cara melatih dan mengajarkan klien untuk mandiri memenuhi aktifitasnya. Tindakan yang diberikan adalah melatih klien untuk menuju/mengakses kamar mandi; melatih klien untuk mengeringkan tubuh; melatih klien untuk mendapatkan perlengkapan mandi; melatih klien untuk memperoleh sumber air; melatih klien untuk mengatur suhu air mandi; melatih klien untuk membersihkan tubuh (Herdman, 2012). Asuhan keperawatan yang diberikan perawat kepada klien defisit perawatan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan yang diperlukan.
c) Memberikan latihan untuk mengatasi gangguan kemampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas berpakaian untuk diri sendiri, ditujukan agar klien mampu memenuhi kebutuhan berhias. Herdman (2012), menyebutkan tindakan yang diberikan adalah melatih klien untuk mengikat pakaian; melatih klien untuk mendapatkan/mengambil pakaian; melatih klien untuk mengenakan aksesoris yang diperlukan pakaian; melatih klien untuk memakai, melepas dan mengganti sepatu; melatih klien untuk memakai, melepas dan mengganti kaus kaki; melatih klien untuk memakai, melepas dan mengganti aksesoris yang diperlukan pakaian; melatih klien untuk memilih pakaian; melatih klien untuk
mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan; melatih klien untuk mengambil pakaian; melatih klien untuk menempatkan pakaian di tubuh bagian bawah; melatih klien untuk menempatkan pakaian di tubuh bagian atas; menggunakan alat bantu; melatih klien untuk menggunakan resleting.
d) Memberikan latihan untuk mengatasi gangguan kemampuan melakukan atau menyelesaikan kegiatan makan sendiri, bertujuan untuk memandirikan klien dalam hal pemenuhan kebutuhan makan dan minum. Herdman (2010), menyebutkan tindakan yang dilakukan adalah melatih klien untuk membawa makanan dari tempat makan ke mulut; melatih klien untuk mengunyah makanan; melatih klien untuk menyelesaikan makan; melatih klien untuk mengambil makanan ke tempat makan; melatih klien untuk membersihkan peralatan makan; melatih klien untuk menelan makanan dengan cara yang diterima oleh masyarakat; melatih klien untuk menelan makanan dengan aman; melatih klien untuk menelan makanan yang cukup; melatih klien untuk memanipulasi makanan di mulut; melatih klien untuk membuka container/tempat makan; melatih klien untuk mengambil cangkir atau gelas; melatih klien untuk menyiapkan makanan untuk dikonsumsi; melatih klien untuk menelan makanan; melatih klien untuk menggunakan perangkat alat bantu.
e) Memberikan latihan untuk mengatasi gangguan kemampuan melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting untuk diri sendiri, bertujuan untuk membantu klien memenuhi kebutuhan toileting. Herdman (2012) menyebutkan tindakan yang dilakukan adalah melatih klien untuk melaksanakan
kebersihan toilet yang tepat; melatih klien untuk menyiram toilet atau commode; melatih klien untuk sampai ke toilet atau commode; melatih klien untuk memanipulasi pakaian untuk toileting; melatih klien untuk bangkit dari toilet atau commode; melatih klien untuk duduk di toilet atau commode.
Tindakan Spesialis
Terapi spesialis keperawatan jiwa yang diberikan meliputi terapi individu, terapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi individu yang diberikan adalah terapi perilaku token ekonomi, terapi kelompok yang diberikan pada klien defisit perawatan diri adalah terapi kelompok suportif dan terapi kelompok swa bantu, sedangkan terapi keluarga yang diberikan adalah terapi psikoedukasi keluarga.
a. Terapi Perilaku/Behaviour Theraphy
Behaviour Therapy (BT) merupakan terapi spesialis keperawatan jiwa yang didasarkan atas proses belajar dan mempunyai tujuan mengubah perilaku negatif menjadi perilaku positif. Salah satu cara untuk merubah perilaku negatif menjadi positif adalah dengan token economy. Token ekonomi adalah bentuk dari reinforcement positif yang digunakan baik secara individu maupun kelompok klien di ruang psikiatri (Stuart & Laraia, 2005). Token ekonomi yaitu sebuah teknik berdasarkan prinsip prinsip pengkondisian operan. Token ekonomi didesain bagi klien gangguan jiwa agar menghasilkan perilaku yang diinginkan.
Pelaksanaan token ekonomi meliputi mengidentifikasi kemampuan interpersonal yang positif dan perilaku self care klien yang akan dikuatkan dan mendapatkan dispensasi berupa tanda/token pada klien apabila kemampuannya meningkat (Mc.Monagle & Sultana, 2004). Terapi perilaku token ekonomi ini merupakan proses pendidikan dan peningkatan tingkah laku,
sehingga dibutuhkan adanya keterbukaaan, kehangatan, empati dan komunikasi terapeutik.
Tujuan terapi perilaku ini adalah untuk menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam berbagai perilaku meliputi kesehatan pribadi, interaksi sosial, kehadiran dan formasi dalam pekerjaan dan tugas rumah tangga, mengidentifikasi kemampuan interpersonal yang positif, mengidentifikasi perilaku self care klien, meningkatkan perilaku yang diinginkan dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dengan pemakaian tokens (tanda-tanda). Contohnya pada peningkatan perilaku merawat diri : mandi, berpakaian/berhias, makan dan toileting.
Terapi perilaku token ekonomi digunakan untuk menghasilkan perubahan-perubahan positif dalam berbagai tingkah laku yang meliputi kesehatan pribadi, interaksi-interasi sosial, kehadiran dan formasi dalam pekerjaan, performasi akademik, tugas-tugas rumah tangga. Menurut Carson (2000) manfaat lain dari token ekonomi adalah mengajarkan nilai pada klien karena token diberikan apabila ada perubahan perilaku. Menurut Gerald Corey (2003) tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik. Harapannya adalah perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup dengan mengajarkan supaya memelihara tingkah laku yang baru.
Prinsip terapi ini adalah : Individu menerima token segera setelah mempertunjukkan perilaku yang diinginkan; bentuk token adalah suatu obyek yang benar-benar diinginkan klien atau kehormatan yang penuh arti atau hadiah yang bagus; hadiah dapat bersifat individual tergantung dari umur, jenis kelamin, hobi, dan tipe intensitas dari tanda yang tampak pada klien; besarnya
reward/hadiah adalah sama nilainya untuk semua individu dalam suatu kelompok; penggunaan dari hukuman (respon costs) lebih sedikit risikonya dibandingkan bentuk-bentuk hukuman yang lain; individu dapat belajar ketrampilan-ketrampilan yang berhubungan dengan masa depan.
Terapi token ekonomi yang dikembangkan mengacu pada 3 (tiga) tahapan terapi token ekonomi (Liberman, 2000, Mc.Monagle & Sultana, 2004 dalam Stuart & Laraia, 2005). Ketiga tahapan terapi tersebut adalah sesi 1, yaitu mengadakan kontrak; sesi 2, yaitu melatih kemampuan klien merawat diri : mandi dan berpakaian/berhias, makan minum dan toileting (BAB dan BAK); sesi 3, yaitu mengungkapkan manfaat dan hasil dari latihan setiap sesi serta merencanakan tindak lanjut.
Pada pelaksanaannya, penulis melakukan modifikasi pada tahapan yang kedua, yaitu melatih kemampuan klien. Modifikasi tersebut adalah melakukan tahapan kedua melalui 4 kali pertemuan. Sehingga langkah-langkah pelaksanaan terapi ini terbagi dalam beberapa sesi, yaitu :
Sesi 1 : Mengidentifikasi dan menyepakati perilaku negative yang ingin diubah dan token yang akan diberikan jika perilaku negative tidak dilakukan dan berubah menjadi perilaku positif Sesi 2 : Melatih kemampuan mengubah perilaku negatif 1
menjadi perilaku positif, yaitu melatih klien untuk melakukan perawatan diri : mandi dan memberikan token jika sudah dilakukan
Sesi 3 : Melatih kemampuan mengubah perilaku negatif 2 menjadi perilaku positif, yaitu melatih klien untuk melakukan perawatan diri : berhias dan memberikan token jika sudah dilakukan
menjadi perilaku positif, yaitu melatih klien untuk melakukan perawatan diri : makan minum teratur dan memberikan token jika sudah dilakukan
Sesi 5 : Melatih kemampuan mengubah perilaku negative 4 menjadi perilaku positif, yaitu melatih klien untuk melakukan perawatan diri : toileting (BAB dan BAK) dengan tepat dan memberikan token jika sudah dilakukan
Sesi 6 : Mengungkapkan manfaat serta hasil dari latihan setiap sesi serta merencanakan tindak lanjut dan menulis/mengisi buku catatan kegiatan harian klien.
b. Terapi Suportif/Supportif Terapi
Supportif group merupakan sekumpulan orang-orang yang berencana, mengatur dan berespon secara langsung terhadap issue-isue dan tekanan yang khusus maupun keadaan yang merugikan. Tujuan awal dari grup ini didirikan adalah memberikan support dan menyelesaikan pengalaman isolasi dari masing-masing anggotanya (Grant-Iramu, 1997 dalam Hunt, 2004).
Tujuan terapi suportif adalah memberikan dukungan kepada individu sehingga mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dengan cara menguatkan daya tahan mental yang ada, mengembangkan mekanisme baru yang lebih baik untuk mempertahankan kontrol diri dan mengembalikan keseimbangan yang adaptif (dapat menyesuaikan diri), sehingga mampu mencapai tingkat kemandirian yang lebih tinggi serta mampu mengambil keputusan secara otonom (Maramis, 1998 dan Rockland, 1989 dalam Stuart & Laraia, 2005).
Prinsip yang harus diperhatikan pada terapi suportif adalah memperlihatkan hubungan saling percaya, memikirkan mengenai
ide dan alternatif untuk memecahkan masalah, mendiskusikan area yang tabu (tukar pengalaman mengenai rahasia dan konflik internal secara psikologis), menghargai situasi yang sama dan bertindak bersama, adanya sistem pendukung yang membantu (mutual support dan assistance) serta pemecahan masalah secara individu (Chien, Chan & Thompson, 2006).
Pelaksanaan supportif group terbagi menjadi empat sesi yaitu : Sesi 1 : mengidentifikasi kemampuan dan sumber pendukung
yang ada.
Pada sesi ini kegiatan yang dilakukan adalah mendiskusikan mengenai pengetahuan klien dan keluarga tentang defisit perawatan diri, cara yang biasa dilakukan untuk perawatan diri, hambatan dalam melakukan serta mengidentifikasi sumber pendukung yang ada.
Sesi 2 : menggunakan sistem pendukung yang berasal dari dalam, monitor hasil dan hambatannya
Kegiatan yang dilakukan pada sesi 2 ini adalah mendiskusikan bersama klien dan keluarga mengenai kemampuan menggunakan sistem pendukung dari dalam, misalnya keluarga dan hambatannya. Hasil dari sesi 2 ini adalah klien memiliki daftar kemampuan dalam menggunakan sistem pendukung yang berasal dari dalam.
Sesi 3 : menggunakan sistem pendukung yang berasal dari luar, monitor hasil dan hambatannya.
Kegiatan yang dilakukan pada sesi 3 ini adalah mendiskusikan bersama klien dan keluarga mengenai kemampuan menggunakan sistem pendukung dari luar, misalnya kelompok atau masyarakat dan hambatannya. Hasil dari sesi 3 ini adalah klien memiliki daftar kemampuan dalam menggunakan sistem pendukung yang berasal dari luar.
Sesi 4 : mengevaluasi hasil dan hambatan dalam menggunakan sistem pendukung baik yang berasal dari dalam maupun yang berasal dari luar.
Kegiatan yang dilakukan pada sesi ini adalah mengevaluasi pengalaman yang dipelajari dan pencapaian tujuan, mendiskusikan hambatan dan kebutuhan yang diperlukan terkait dengan penggunaan sumber pendukung baik yang berasal dari dalam maupun dari luar, dan cara memenuhi kebutuhan tersebut.
c. Kelompok Swa Bantu/Self Help Group
Self help group merupakan satu pendekatan untuk mempertemukan kebutuhan keluarga dan sumber penting untuk keluarga dengan gangguan jiwa (Citron, et.all, 1999). Self help group merupakan suatu kelompok atau peer dimana tiap anggota saling berbagi masalah baik fisik maupun emosional atau issue tertentu (Anonim, 2008). Self help group bertujuan untuk mengembangkan empathy diantara sesama anggota kelompok di mana sesama anggota kelompok saling memberikan penguatan untuk membentuk koping yang adaptif. Self help group pada keluarga dengan gangguan jiwa perlu dilakukan untuk membantu keluarga mengatasi permasalahannya yang diselesaikan bersama dalam kelompok.
Hasil penelitian pengaruh self help group terhadap kemampuan keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa di Kelurahan Sindang Barang dan Katulampa menunjukkan kemampuan kognitif dan psikomotor keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa meningkat secara bermakna setelah melaksanakan self help group (Utami, 2008). Bila dilihat dari hasil tersebut self help group sangat penting dilakukan pada keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
Tujuan dari terapi ini adalah : Membentuk self help group pada keluarga dengan gangguan jiwa, Melakukan implementasi self help group pada keluarga dengan gangguan jiwa, Mengevaluasi self help group pada keluarga dengan gangguan jiwa, Mendokumentasian kegiatan self help group pada keluarga dengan gangguan jiwa.
Prinsip Self help group, Pembentukan self help group harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut ini : Tiap anggota kelompok berperan secara aktif untuk berbagi pengetahuan dan harapan terhadap pemecahan masalah serta menemukan solusi melalui kelompok; Sesama anggota saling memahami, mengetahui dan membantu berdasarkan kesetaraan, respek antara satu dengan yang lain dan hubungan timbal balik; Self help group merupakan kelompok informal dan dibimbing oleh volunteer; Self help group adalah kelompok self supporting anggota self help group berbagi pengetahuan dan harapan terhadap pemecahan masalah serta menemukan solusi melalui kelompok. Pembiayaan untuk pelaksanaan kegiatan ditanggung bersama kelompok; Kelompok harus menghargai privacy dan kerahasiaan dari anggota kelompoknya; Pengambilan keputusan dengan melibatkan kelompok dan kelompok harus bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan.
Pembentukan kelompok self help group merupakan langkah awal dalam kegiatan self help group. Pembentukan self help group dilaksananakan dalam tiga kali pertemuan .
a) Pertemuan pertama : Pembentukan kelompok
Pertemuan ini menjelaskan tentang konsep self help group dan langkah-langkah pelaksanaan self help group
Menjelaskan tentang konsep self help group meliputi pengertian self help group, tujuan self help group, prinsip
self help group, membuat beberapa kesepakatan (seperti nama kelompok, anggota kelompok) dan aturan dalam melaksanakan self help group.
Menjelaskan lima langkah kegiatan self help group : Langkah I : Memahami masalah
Kegiatan yang dilakukan adalah mendiskusikan masalah yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Setiap anggota mengungkapkan masalah yang dihadapinya. Pertemuan kedua dan seterusnya mendiskusikan kembali apa ada masalah lain yang dialami oleh keluarga. Hasil dari langkah pertama adalah kelompok memiliki daftar masalah.
Langkah II : Cara untuk menyelesaikan masalah.
Kegiatan yang dilakukan adalah peserta saling berbagi informasi bagaimana cara mengatasi permasalahan yang terjadi berdasarkan daftar masalah yang sudah dibuat. Bila penyelesaian masalah tidak ditemukan maka bisa menggunakan pedoman untuk menyelesaikan masalah. Materi yang dapat diberikan adalah memberikan informasi tentang kesehatan jiwa, tanda sehat jiwa, gangguan jiwa (penyebab, tanda dan gejala, dampak gangguan jiwa bagi klien dan keluarga), cara yang dapat dilakukan untuk merawat anggota keluarga seperti berinteraksi, membantu melakukan perawatan diri (mandi, menyisir rambut, menggosok gigi, berpakaian), melakukan kegiatan (seperti menyiapkan makan, mencuci piring, merapihkan rumah, berbelanja), memberikan pujian klien dan keluarga, cara memberikan obat. Materi tersebut diberikan oleh anggota kelompok itu sendiri ataupun oleh tenaga kesehatan yang ditunjuk dan disepakati oleh kelompok. Pertemuan kedua dan seterusnya kegiatan yang dilakukan adalah
mendiskusikan cara penyelesaian masalah yang lain, apakah ada tambahan. Jika cara penyelesaian masalah tidak ditemukan dapat konsul kepada ahlinya. Hasil dari langkah kedua adalah kelompok memiliki daftar cara penyelesaian masalah
Langkah III : Memilih cara pemecahan masalah.
Kegiatan yang dilakukan adalah mendiskusikan tiap-tiap cara penyelesaian masalah yang ada dalam daftar penyelesaian masalah dan memilih cara penyelesaian masalah dengan mempertimbangkan faktor pendukung dan penghambat dalam menyelesaikan masalah tersebut. Pertemuan ke dua dan seterusnya adalah mendiskusikan apakah ada cara lain yang dipilih dalam mengatasi masalah. Hasil dari langkah ke tiga ini adalah daftar cara penyelesaian masalah yang dipilih
Langkah IV : Melakukan tindakan untuk penyelesaian masalah.
Kegiatan yang dilakukan adalah tiap peserta melakukan role play (bermain peran) cara penyelesaian masalah yang telah dipilih. Pertemuan ke dua dan selanjutnya melakukan role play cara lain yang telah dipilih oleh kelompok. Hasil dari langkah ke empat adalah kelompok memiliki daftar penyelesaian masalah yang sudah dilatih.
Langkah V : Pencegahan kekambuhan.
Kegiatan yang dilakukan adalah mendiskusikan cara – cara mencegah kekambuhan, tanda dan tanda kekambuhan dan tindakan yang dilakukan saat kekambuhan terjadi. Pertemuan kedua dan selanjutnya adalah mendiskusikan tentang cara lain untuk mencegah kekambuhan dan tindakan
yang dilakukan saat kekambuhan terjadi. Hasil dari langkah kelima adalah daftar cara mencegah kekambuhan dan tindakan yang dilakukan jika kekambuhan terjadi.
b) Pertemuan kedua : Pendampingan
Pertemuan kedua dilakukan setelah penjelasan konsep self help group dan lima langkah kegiatan self help group. Pertemuan ini dipimpin oleh leader yang ditunjuk oleh kelompok namun masih didampingi oleh tenaga profesional.
Mendiskusikan masalah yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Setiap peserta mengungkapkan masalah yang dihadapinya. Kelompok membuat daftar masalah .
Mendiskusikan cara mengatasi permasalahan yang terjadi berdasarkan daftar masalah yang sudah dibuat. Kelompok menyusun daftar cara penyelesaian masalah.
Mendiskusikan tiap-tiap cara penyelesaian masalah yang ada dalam daftar penyelesaian masalah dan memilih cara penyelesaian masalah. Kelompok membuat daftar cara penyelesaian masalah yang dipilih.
Melakukan role play (bermain peran) oleh peserta tentang cara penyelesaian masalah yang telah dipilih. Kelompok membuat daftar penyelesaian masalah yang sudah dilatih. Mendiskusikan cara – cara mencegah kekambuhan, tanda
dan tanda kekambuhan dan tindakan yang dilakukan saat kekambuhan terjadi. Kelompok membuat daftar cara mencegah kekambuhan dan tindakan yang dilakukan jika kekambuhan terjadi.
c) Pertemuan ketiga : Pelaksanaan Mandiri
Pertemuan ketiga merupakan tahap akhir pembentukan self help group, dipimpin oleh leader yang merupakan anggota
kelompok tersebut. Peran terapis pada pertemuan ketiga ini adalah memfasilitasi jalannya kegiatan self help group
Mendiskusikan masalah lain yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa berdasarkan daftar masalah .Bila ada masalah baru, kelompok menulis pada daftar masalah.
Mendiskusikan cara mengatasi permasalahan yang terjadi berdasarkan daftar masalah yang sudah dibuat.
Mendiskusikan cara penyelesaian masalah yang lain yang ditulis dalam daftar cara penyelesaian masalah.
Melakukan role play (bermain peran) oleh peserta tentang cara penyelesaian masalah yang telah dipilih.
Mendiskusikan tindakan lain yang dapat dilakukan saat kekambuhan terjadi.
2.5.5.2 Tindakan terhadap Keluarga
Tindakan keperawatan diberikan kepada keluarga klien dengan tujuan supaya keluarga klien memiliki kemampuan-kemampuan yang bisa digunakan untuk membantu klien memenuhi kebutuhan perawatan diri. Tindakan keperawatan yang dilakukan tersebut terdiri dari tindakan generalis dan spesialis.
Tindakan Generalis
Tindakan generalis yang dilakukan adalah menjelaskan, melatih dan mengajarkan kepada keluarga klien tentang cara memenuhi kebutuhan perawatan diri. Tindakan/intervensi generalis yang diberikan kepada keluarga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam :
a. Mengidentifikasi masalah defisit perawatan diri yang meliputi pemenuhan aktifitas mandi, berhias, makan dan minum serta toileting.
perawatan diri yang meliputi pemenuhan aktifitas mandi, berhias, makan dan minum serta toileting.
c. Merawat klien dengan defisit perawatan diri yang meliputi membantu klien dalam pemenuhan aktifitas mandi, berhias, makan dan minum serta toileting.
d. Memodifikasi lingkungan yang mendukung untuk merawat klien defisit perawatan diri termasuk menyediakan peralatan untuk pemenuhan aktifitas mandi, berhias, makan dan minum serta toileting.
e. Memanfaatkan sistem pelayanan kesehatan yang dapat digunakan untuk mendukung merawat klien dengan defisit perawatan diri.
Kegiatan yang dilakukan dalam memberikan tindakan keperawatan generalis kepada keluarga adalah :
a. Mendiskusikan bersama keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh klien untuk menjaga perawatan diri klien b. Menganjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri klien
dan membantu mengingatkan klien dalam merawat diri sesuai jadwal yang telah disepakati.
c. Menganjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan klien dalam merawat diri.
Tindakan Spesialis
Tindakan spesilis yang diberikan oleh penulis terhadap keluarga klien adalah terapi spesialis keperawatan jiwa psikoedukasi keluarga. Berikut ini dijelaskan secara rinci tentang terapi psikoedukasi keluarga.
Terapi Psikoedukasi Keluarga/Family Psico Educasy
Family Psychoeducation Therapy adalah salah satu elemen program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program
psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart, 2009).
Psikoedukasi keluarga merupakan sebuah metode yang berdasarkan pada penemuan klinik terhadap pelatihan keluarga yang bekerjasama dengan tenaga keperawatan jiwa profesional sebagai bagian dari keseluruhan intervensi klinik untuk anggota keluarga yang mengalami gangguan. Terapi ini menunjukkan adanya peningkatan outcomes pada klien dengan schizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya (Anderson, 1983 dalam Levine, 2002).
Prinsip psikoedukasi dapat membantu anggota keluarga dalam