Sudah ada kesepakatan dengan Menkokesra.
√ Kegiatan PNPM di Kabupaten Grobogan sudah dilakukan sejak Tahun 2007, dengan mengacu kesepakatan dan ketentuan pelaksanaan RIS PNPM. Desa di kecamatan yang
tidak ditangani PNPM Inti lainnya.
√ Penanganan program/kegiatan PNPM dilakukan dengan mengacu pada RIS PNPM dengan koordinasi SKPD terkait, sehingga tidak terjadi tumpang tindih program/kegiatan dalam pembangunan permukiman.
Tingkat kemiskinan desa >25%.
√ Jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) Tahun 2011 di Kabupaten Grobogan mencapai 87.768 RTM atau 308.783 jiwa (34,8% dari jumlah penduduk). Hal tersebut menunjukkan bahwa RIS PNPM perlu ditingkatkan penyelenggaraannya sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
Bupati menyanggupi mengikuti pedoman dan menyediakan BOP minimal 5% dari BLM.
√ Pelaksanaan kegiatan PNPM dilakukan mengikuti pedoman dan menyediakan BOP (Bantuan Operasional Pembiayaan) minimal 5% dari BLM (Bantuan Langsung Masyarakat).
PPIP (Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan) Hasil pembahasan dengan
Komisi V - DPR RI
√ Program PPIP dilakukan berdasarkan pada program yang tertuang dalam RPIJM Kabupaten yang sebelumnya juga sudah dilakukan pembahasan dan lokakarya dengan SKPD terkait, dan anggota DPR Kabupaten Grobogan.
Usulan bupati, terutama kabupaten tertinggal yang belum ditangani program Cipta Karya lainnya
√ Program PPIP dilakukan dengan prioritas lokasi dibeberapa desa yang mempunyai kriteria sebagai kawasan perdesaan, baik berdasarkan arahan dari RTRW maupun dari kriteria lainnya yang menunjukkan desa tersebut sebagai kawasan tertinggal.
Kabupaten
reguler/sebelumnya dengan kinerja baik
√ Kegiatan PPIP yang sudah terlaksana di Kabupaten Grobogan berdasarkan LKPJ sudah terealisasi sejak Tahun 2011, dan secara rutin hingga Tahun 2013. Hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja program PPIP berjalan dengan baik, dan terjadi peningkatan dalam pelaksanaan program.
Tingkat kemiskinan desa >25%
√ Jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) Tahun 2011 di Kabupaten Grobogan mencapai 87.768 RTM atau 308.783 jiwa (34,8% dari jumlah penduduk). Hal tersebut menunjukkan bahwa PPIP perlu ditingkatkan penyelenggaraannya sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
PISEW (Pengembangan Infrasruktur Sosial Ekonomi Wilayah) Berbasis pengembangan
wilayah
√ Pengembangan PISEW salah satunya dapat dilakukan dalam konsep agropolitan dengan pendekatan kajian wilayah untuk mendapatkan desa-desa yang mempunyai potensi pertanian.
No Kriteria Kesiapan Chek List
Kriteria Kesiapan Keterangan Pembangunan
infrastruktur dasar perdesaan yang mendukung (i) transportasi, (ii) produksi pertanian, (iii) pemasaran pertanian, (iv) air bersih dan sanitasi, (v) pendidikan, serta (vi) kesehatan
√ Beberapa program dalam pembangunan infrastruktur wilayah diperdesaan sebagai berikut. Pengembangan komoditas pertanian yang
memiliki nilai ekonomi tinggi;
Pengembangan kawasan produksi pertanian dan kota tani;
Pengembangan kawasan agro industri;
Peningkatan sistem pemasaran hasil produksi pertanian.
Mendukung komoditas unggulan kawasan
√ Program pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah salah satunya dilakukan pada kawasan pengembangan agropolitan untuk mendukung peningkatan komoditas unggulan kawasan.
3. Kriteria Lain (Ditjen. Cipta Karya) Vitalitas Non Ekonomi
Kesesuaian pemanfaatan ruang kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah atau RDTRK, dipandang perlu sebagai legalitas kawasan dalam ruang kota
√ Dalam pengembangan permukiman di Kabupaten Grobogan dilakukan dengan mengacu pada kesesuaian pemanfaatan ruang dalam RTRW maupun RDTRK yaitu sebagai kawasan permukiman/ perumahan, sehingga mempunyai legalitas kawasan yang sesuai dengan RTR tersebut.
Fisik bangunan perumahan permukiman dalam kawasan kumuh memiliki indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh dalam hal kelayakan suatu hunian berdasarkan intensitas bangunan yang terdapat didalamnya.
√ Salah satu dasar dalam pelaksanaan penanganan kawasan kumuh di Kabupaten Grobogan dilakukan dengan memperhatikan kondisi fisik bangunan perumahan yaitu rumah dengan kondisi tidak layak huni.
Kondisi kependudukan dalam kawasan permukiman kumuh yang dinilai, mempunyai indikasi terhadap penanganan kawasan permukiman kumuh berdasarkan kerapatan dan kepadatan penduduk
√ Salah satu dasar dalam pelaksanaan penanganan kawasan kumuh di Kabupaten Grobogan dilakukan dengan memperhatikan kondisi kependudukan kawasan permukiman yaitu kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi dan kawasan dengan kondisi penduduk masuk dalam kategori RTM (Rumah Tangga Miskin)
Vitalitas Ekonomi Kawasan Tingkat kepentingan
kawasan dalam letak kedudukannya pada wilayah kota, apakah apakah kawasan itu strategis atau kurang strategis.
√ Kriteria tingkat kepentingan kawasan dalam letak kedudukannya pada wilayah kabupaten, dijadikan dasar dalam indikasi program pembangunan permukiman yang dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu pengembangan permukiman perkotaan dan permukiman perdesaan.
Fungsi kawasan dalam peruntukan ruang kota, dimana keterkaitan dengan faktor ekonomi memberikan ketertarikan pada investor untuk dapat menangani kawasan kumuh yang ada.
- Belum adanya pihak investor (swasta) yang bekerjasama atau membantu dalam penanganan permukiman kumuh di Kabupaten Grobogan. Hal ini ditunjukkan bahwa sumber pembiayaan penanganan kwasan kumuh masih dengan sumber biaya dari APBN, APBD, dan PNPM.
Kawasan yang termasuk dalam kelompok ini adalah pusat-pusat aktivitas bisnis dan perdagangan seperti pasar, terminal/stasiun, pertokoan, atau fungsi lainnya.
√ Salah satu program pengembangan permukiman dilakukan pada lokasi-lokasi yang mempunyai pusat- pusat bisnis/ perdagangan, salah satunya : Program Penataan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kawasan Kota Grobogan (sebagai PKL) dan Kota Gemolong (sebagai PKLp)
Status Kepemilikan Tanah Status pemilikan lahan
kawasan perumahan
√ Salah satu dasar dalam pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Grobogan
No Kriteria Kesiapan Chek List
Kriteria Kesiapan Keterangan
permukiman. yaitu dengan memperhatikan status pemilikan lahan yang berdasarkan RTR menujukkanbahwa lahan tersebut sebagai lahan pengembangan kawasan perumahan dan permukiman.
Status sertifikat tanah yang ada.
√ Selain status pemilikan lahan, adanya status sertifikat tanah juga menjadi syarat dalam pelaksanaan program pembangunan permukiman.
Keadaan Prasarana dan Sarana: Kondisi Jalan, Drainase, Air bersih,
dan Air limbah.
√ Pengembangan permukiman di Kabupaten Grobogan dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi PSU untuk mewujudkan rumah layak huni. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya program-program dari SKPD pendukung PSU permukiman yang tretuang dalam produk pendukung, misalnya : SPAM, SSK dan perbaikan jalan serta kualitas lingkungan permukiman lainnya.
Komitmen Pemerintah Kabupaten/Kota Keinginan pemerintah
untuk penyelenggaraan penanganan kawasan kumuh dengan indikasi penyediaan dana dan mekanisme kelembagaan penanganannya.
√ Adanya indikasi penyediaan dana baik dari APBD, APBD Kabupaten Grobogan dalam penyediaan rumah layak huni, melalui kelembagaan DPU bidang Cipta Karya khususnya Seksi Perumahan dan Permukiman serta SKPD terkait.
Ketersediaan perangkat dalam penanganan, seperti halnya rencana penanganan (grand scenario) kawasan, rencana induk (master plan) kawasan dan lainnya.
- Belum tersedianya skenario penanganan permukiman, mengingat belum adanya produk studi misalnya : RP2KP, masterplan perumahan dan permukiman, dan rencana rinci lainnya.
Tabel 6.15 Rekapitulasi Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman NO URAIAN KEGIATAN VOLUME SATUAN SUMBER PENDANAAN x Rp. 1.000,- TAHUN ANGGARAN DETAIL LOKASI APBN APBD PROV. APBD KAB/KOTA PDAM /
SWASTA/ MASY. DAK