BAB VI
ASPEK TEKNIS PER SEKTOR
Bagian ini menjabarkan rencana pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya yang mencakup empat sektor yaitu pengembangan permukiman, penataan bangunan dan lingkungan, pengembangan air minum, serta pengembangan penyehatan lingkungan permukiman yang terdiri dari air limbah, persampahan, dan drainase. Penjabaran perencanaan teknis untuk tiap-tiap sektor dimulai dari pemetaan isu-isu strategis yang mempengaruhi, penjabaran kondisi eksisting sebagai baseline awal perencanaan, serta permasalahan dan tantangan yang harus diantisipasi. Tahapan berikutnya adalah analisis kebutuhan dan pengkajian terhadap program-program sektoral, dengan mempertimbangkan kriteria kesiapan pelaksanaan kegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan merumuskan usulan program dan kegiatan yang dibutuhkan.
6.1 PENGEMBANGAN PERMUKIMAN
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau perdesaan.
Kegiatan pengembangan permukiman terdiri dari pengembangan permukiman kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan perkotaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman baru dan peningkatan kualitas permukiman kumuh, sedangkan untuk pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman perdesaan, kawasan pusat pertumbuhan, serta desa tertinggal.
6.1.1 Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
Arahan Kebijakan
Arahan kebijakan pengembangan permukiman mengacu pada amanat peraturan perundangan, antara lain:
1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.
Arahan RPJMN Tahap 3 (2015-2019) menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung bagi seluruh masyarakat terus meningkat, sehingga kondisi tersebut mendorong terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh pada awal tahapan RPJMN berikutnya.
2. Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Pasal 4 mengamanatkan bahwa ruang lingkup penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman juga mencakup penyelenggaraan perumahan (butir c), penyelenggaraan kawasan permukiman (butir d), pemeliharaan dan perbaikan (butir e), serta pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh (butir f).
3. Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.
Pasal 15 mengamanatkan bahwa pembangunan rumah susun umum, rumah susun khusus, dan rumah susun negara merupakan tanggung jawab pemerintah
4. Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
diimplementasikan dengan penanggulangan kawasan kumuh.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
Peraturan ini menetapkan target berkurangnya luas permukiman kumuh di kawasan perkotaan sebesar 10% pada tahun 2014
6.1.2 Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan, dan Tantangan
a. Isu Strategis Pengembangan Permukiman
Berbagai isu strategis nasional yang berpengaruh terhadap pengembangan permukiman saat ini adalah:
Mengimplementasikan konsepsi pembangunan berkelanjutan serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Percepatan pencapaian target MDGs 2020 yaitu penurunan proporsi rumahtangga kumuh perkotaan.
Perlunya dukungan terhadap pelaksanaan Program-Program Directive Presiden yang tertuang dalam MP3EI dan MP3KI.
Percepatan pembangunan di wilayah timur Indonesia (Provinsi NTT, Provinsi Papua, dan Provinsi Papua Barat) untuk mengatasi kesenjangan.
Meminimalisir penyebab dan dampak bencana sekecil mungkin.
Meningkatnya urbanisasi yang berimplikasi terhadap proporsi penduduk perkotaan yang bertambah, tingginya kemiskinan penduduk perkotaan, dan bertambahnya kawasan kumuh.
Belum optimalnya pemanfaatan Infrastruktur Permukiman yang sudah dibangun.
Perlunya kerjasama lintas sektor untuk mendukung sinergitas dalam pengembangan kawasan permukiman.
Belum optimalnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan permukiman. Ditopang oleh belum optimalnya kapasitas kelembagaan dan kualitas sumber daya manusia serta perangkat organisasi penyelenggara dalam memenuhi standar pelayanan minimal di bidang pembangunan perumahan dan permukiman.
Isu-isu strategis di atas merupakan isu terkait pengembangan permukiman yang terangkum secara nasional. Namun di Kabupaten Grobogan terdapat isu-isu yang bersifat lokal dan spesifik. Penjabaran isu-isu strategis Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 6.1 Isu-Isu Strategis Sektor Pengembangan Permukiman Kabupaten Grobogan
No. Isu Strategis Keterangan
1. Perbedaan peluang antar pelaku pembangunan yang ditunjukkan oleh ketimpangan pada pelayanan infrastruktur, pelayanan perkotaan, perumahan dan ruang untuk kesempatan berusaha;
2. Konflik kepentingan yang disebabkan oleh kebijakan yang memihak pada suatu kelompok dalam pembangunan perumahan dan permukiman;
3. Alokasi tanah dan ruang yang kurang tepat akibat pasar tanah dan perumahan yang cenderung mempengaruhi tata ruang sehingga berimplikasi pada alokasi tanah dan ruang yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan pembangunan lain dan kondisi ekologis daerah yang bersangkutan
5. Komunitas lokal tersisih akibat orientasi pembangunan yang terfokus pada pengejaran target melalui proyek pembangunan baru, berorientasi ke pasar terbuka dan terhadap kelompok masyarakat yang mampu dan menguntungkan
6. Urbanisasi di daerah tumbuh cepat sebagai tantangan bagi pemerintah untuk secara positif berupaya agar pertumbuhan lebih merata;
7. Perkembangan tak terkendali daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh dengan mengabaikan sektor lainnya seperti sektor pertanian, hal ini berakibat pada semakin tingginya alih fungsi lahan sawah. Ironisnya alih fungsi terjadi pada sawah lestari, dengan lokasi yang relatif datar/landai cocok untuk pengembangan permukiman atau industri/perdagangan; dan
8. Isu Kesenjangan Pelayanan
Permasalahan: rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau. Isu ini terjadi karena terbatasnya masyarakat peluang memperoleh pelayanan dan kesempatan berperan, khususny bagi kelompok masyarakat miskin dan berpendapatan rendah, serta adanya konflik kepentingan akibat implementasi kebijakan yang relatif masih belum sepenuhnya dapat memberikan perhatian dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.
b. Kondisi Eksisting Pengembangan Permukiman
Kondisi eksisting pengembangan permukiman terkait dengan capaian suatu kota/kabupaten dalam menyediakan kawasan permukiman yang layak huni. Terlebih dahulu perlu diketahui peraturan perundangan di tingkat kabupaten/kota (meliputi peraturan daerah, peraturan gubernur, peraturan walikota/bupati, maupun peraturan lainya) yang mendukung seluruh tahapan proses perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan pembangunan permukiman. Adapun peraturan daerah Propinsi Jawa Tengah dan Perda Kabupaten Grobogan yang menajdi paying pelaksanaan pengembangan permukiman dirinci pada Tabel 6.2.
Tabel 6.2 Peraturan Daerah/Peraturan Gubernur terkait Pengembangan Permukiman
No. PERDA/Peraturan Gubernur Perihal Tahun Keterangan
1. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 11 Tahun 2004
Tetang Garis Sempadan 2004
2. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 6 Tahun 2010
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Tengah Tahun 2009 - 2029
2010
3. Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Nomor 6 Tahun 2011
tentang Rencana
Pembangunan Jangka
Menengah Daerah tahun 2011-2016
2011
4. Peraturan Daerah Kabupaten GroboganNomor 4 tahun 2011
Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
No. PERDA/Peraturan Gubernur Perihal Tahun Keterangan
5. Peraturan Daerah Kabupaten Grobogan Tengah No. 7 Tahun 2012
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Grobogan Tahun 2011 - 2031
2012
Permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Pemerintah wajib memberikan akses kepada masyarakat untuk dapat memperoleh permukiman yang layak huni, sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan sosial. Pengembangan permukiman ini meliputi pengembangan prasarana dan sarana dasar perkotaan, pengembangan permukiman yang terjangkau, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah, proses penyelenggaraan lahan, pengembangan ekonomi kota, serta penciptaan sosial budaya di perkotaan.
Perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar, sampai dengan saat ini sebagian besar disediakan secara mandiri oleh masyarakat baik membangun sendiri maupun sewa kepada pihak lain. Kendala utama yang dihadapi masyarakat pada umumnya keterjangkauan pembiayaan rumah. Di lain pihak, kredit pemilikan rumah dari perbankan memerlukan berbagai persyaratan yang tidak setiap pihak dapat memperolehnya dengan mudah serta suku bunga yang tidak murah.
Pengembangan permukiman baik di perkotaan maupun pedesaan pada hakekatnya untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang layak huni (livible), aman, nyaman, damai dan sejahtera serta berkelanjutan.
Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah.
Permukiman perdesaan (sebagian besar rumah petani) di Kabupaten Grobogan dari hasil pengamatan di lapangan terlihat cukup padat dengan kondisi lingkungan yang minim prasarana drainase dan sanitasi, serta tata letak yang tidak teratur. Masalah lain yang cukup mempengaruhi lingkungan permukiman perdesaan (petani) ini adalah adanya pola hidup masyarakat tani yang kurang memahami pentingnya kebersihan dan kesehatan. Kekumuhan di sini lebih disebabkan karena tidak tertanganinya pembuangan limbah dan sampah yang kurang baik, yang akhirnya secara tidak langsung dampaknya adalah penurunan kualitas kesehatan dan kualitas lingkungan perumahan.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan diperoleh data jumlah rumah yang dikategorikan sebagai rumah sehat di Kabupaten Grobogan adalah sebanyak 64,2%. Secara rinci prosentase rumah sehat di masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 4.3. Dari data Dinas Kesehatan seperti tercantum dalam Statistik Lingkungan Hidup Kabupaten Grobogan Tahun 2010, bahwa:
(1)
Sebagian besar (64,2%) dari 220.798 sampling merupakan rumah sehat, dengan kriteria fisik bangunan, ketersediaan jamban, penghawaan, dst.(2)
Prosentase terbesar (dari jumlah sampling) untuk rumah sehat adalah di Kecamatan Penawangan (78,46%), kemudian diikuti oleh Kecamatan Pulokulon (69,66%) dan Kecamatan Godong (68,88%).Tabel 6.3 Prosentase Rumah Sehat di Kabupaten Grobogan Tahun 2011
Sumber : Profil Kesehatan Daerah, Dinas Kesehatan Kab. Grobogan, 2011
Jenis tempat tinggal di Kabupaten grobogan bersifat permanen maupun non permanen tersebar di setiap kecamatan.
Tabel 6.4 Jumlah dan Jenis Konstruksi Rumah di Kabupaten Grobogan Tahun 2011
No Kecamatan
Jenis Rumah
Jumlah
Permanen Semi
Permanen
Non Permanen
14 Brati 948 2.943 9.473 13.364
15 Klambu 1.467 1.098 5.924 8.489
16 Godong 2.738 5.623 15.876 24.237
17 Gubug 3.275 4.422 14.487 22.184
18 Tegowanu 692 1.292 10.74 12.724
19 Tanggungharjo 537 1.513 9.117 11.167
Jumlah 35.019 106.134 241.080 382.233
Sumber: Kecamatan dalam Angka, 2012
Dari tabel diatas dapat dilihat bahawa kondisi rumah di Kabupaten grobogan didominasi jenis rumah tidak permanen. Rumah ini tersebar diseluruh wilayah Kabupaten baik dikawasan perkotaan maupun pedesaan. Oleh karena itulah diperlukan pengembangan pemukiman beserta sarana dan prasaranya baik oleh pemerintah, swasta dan masyarakat untuk pemukiman perkotaan dan pedesaan.
Pengembangan pemukiman di Kabupaten Grobogan dilaksanakan pada wilayah perkotaan dan perdesaan, dengan kawasan prioritas saat ini yang sudah dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a. Pemukiman Perkotaan :
- Pada Penyediaan PSD kawasan pemukiman RSH PNS/TNI/Polri
- Penataan serta peremajaan Kawasan Kota b. Pemukiman Pedesaan :
- Pada Penyediaan PSD Kawasan Pemukiman Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D).
- Pada Penyediaan PSD Kawasan Agropolitan.
- Pada Penyediaan PSD Kawasan Rawan Bencana
6.1.3 Program Pengembangan Pemukiman Perkotaan
Program pengembangan pemukiman perkotaan diarahkan pada pengembangan Kawasan Pemukiman RSH PNS/TNI/Polri/Pekerja berpenghasilan rendah serta penataan dan peremajaan lingkungan kota.
A. Pengembangan Kawasan Pemukiman RSH PNS/TNI/POLRI/Pekerja berpenghasilan rendah
Pengembangan Kawasan Pemukiman RSH PNS/TNI/Polri dan pekerja berpenghasilan rendah dikota Purwodadi diarahkan pada kawasan RSH yang memenuhi memenuhi kriteria minimal sebagai berikut :
- Perumahan yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya PNS/TNI/Polri.
- Sesuai dengan RTRW dan Renstra Pemerintah Daerah
- Dibangun sesuai PP 80 tahun 1999 tentang Kasiba dan Lisiba BS
- Dukungan PSD dalam pembangunan RSH bagi PNS, TNI/Polri, Pekerja masyarakat berpenghasilan rendah.
- Sudah mendatangani MoU antara Pemerintah Daerah dengan Bapertarum.
- Diprioritaskan pada kawasan-kawasan skala besar dan yang dapat segera mendorong perkembangan wilayah.
Di Kabupaten Grobogan khususnya di kota Purwodadi sebagai daerah pusat pemerintahan terdapat beberapa perumahan yang diperuntukkan untuk PNS/TNI/Polri dan pekerja berpenghasilan rendah. Perumahan ini tersebar di beberapa Kelurahan yang ada di Kota Purwodadi.
Tabel 6. 5 Pemukiman RSS/RSH PNS/TNI/Polri Di Kecamatan Purwodadi
No Nama Pengembang Nama Perumahan Lokasi
1 Pemda Kab. Grobogan RSS SAMBAK INDAH Kel. Danyang ± 3 ha 2 Pemda Kab. Grobogan PERUMDA Kel. Purwodadi ± 3 ha 3 Pemda Kab. Grobogan Perum. ASBRI Desa Ngraji ± 2 ha
4 Pemda Kab. Grobogan Perum. Griya Praja
Indah Kel. Kuripan ± 2 ha
Sumber : RP4D Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan, 2013
Selain di kota Purwodadi masih ada beberapa perumahan sederhana baik untuk PNS/TNI/Polri dan pekerja berpenghasilan rendah yang tersebar di beberapa kecamatan lain diantaranya di kecamatan Grobogan, Godong dan Gubug.
Kondisi eksisting perumahan RSS/RSH diatas khususnya yang ada dikota Purwodadi secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut.
1. RSS/RSH Sambak Indah di Kelurahan Danyang
a. Gambaran Umum
RSS/RSH Sambak Indah berlokasi di Kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi. Perumahan ini di bangun untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten Grobogan.
Luas wilayah RSS/RSH Sambak Indah sekitar 3 Ha, dengan 90 % wilayah sudah terbangun. Jumlah penghuni saat ini sekitar 1500 jiwa terdiri dari 2 RW dan 10 RT.
b. Prasarana dan Sarana Dasar RSH
Tabel 6. 6 Kondisi Prasarana Dan Sarana Dasar Kawasan Perumahan RSS Sambak Indah
No Satuan Satuan Jumlah Kondisi Sumber : Hasil Survay Lapangan, 2013
2. RSS/RSH Griya Praja Indah di Kelurahan Kuripan a. Gambaran umum
RSS/RSH Griya Praja Indah berlokasi di Kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi. Perumahan ini di bangun untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten Grobogan.
Luas wilayah RSS/RSH Griya Praja Indah sekitar 2 Ha, dengan 70 % wilayah sudah terbangun. Jumlah penghuni saat ini sekitar 600 jiwa terdiri dari 1 RW dan 4 RT.
b. Prasarana dan sarana dasar RSH
Tabel 6.7 Kondisi Prasarana Dan Sarana Dasar Kawasan Perumahan KORPRI Griya Praja Indah
No Satuan Satuan Jumlah Kondisi
Tingkat Pelayanan
% KK
Keterangan
b. Off site Unit
5. Prasarana dan sarana
persampahan Unit 1 sedang 50
Becak Sampah DCTRK Sumber : Hasil survay lapangan, 2013
Dilihat dari aspek pendanaan sebagian besar permukiman disediakan secara mandiri oleh masyarakat baik membangun sendiri maupun sewa kepada pihak lain serta kredit pemilikan rumah dari perbankan. Untuk pembangunan prasarana - sarana dasar pemukiman sebagian dilakukan swadaya masyarakat dan sebagian dana lagi berasal dari alokasi dana APBD II Kabupaten Grobogan.
B. Penataan dan Peremajaan Kawasan
Penataan dan peremajaan Kawasan Pemukiman di Kabupaten Grobogan diarahkan pada kawasan yang memenuhi memenuhi kriteria minimal sebagai berikut :
- Lingkungan permukiman perkotaan yang tidak teratur sehingga menurunkan kualitas lingkungan permukiman perkotaan.
- Lingkungan permukiman sebagai trip distributions (distribusi pergerakan) tidak accessible terhadap infrastruktur perkotaan
- Pengembangan kawasan permukiman yang tidak terkendali sehingga berdampak pada lingkungan perkotaan.
- Penanganan pemukiman kumuh yang tidak efektif.
Kawasan-kawasan ini biasanya terletak di pusat kota Kabupaten dan Kota kecamatan.. Kawasan -kawasan yang teridentifikasi tidak teratur biasanya terletak dikawasan pusat perdagangan seperti pasar dan pemukiman di dekatnya.
6.1.4 Program Pembangunan Permukiman Pedesaan A. Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D)
Berdasarkan hasil study Penyusunan RPJM DPP KTP2D yang telah dilakukan Bappeda Kabupaten Grobogan baru enam Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D) yang di lakukan study pengembangan ketiga KTP2D tersebut adalah Jeketro, Boloh dan Karangasem, Kapung, Nambuhan, dan Putatsari.
Berdasar hasil study RTR dan RPJM ketiga KTP2D yang telah dilaksanakan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. KTP2D Desa Jeketro
Lokasi/Nama Kawasan : Desa Jeketro
Kecamatan : Gubug
Desa Pusat : Desa Jeketro (DPP)
Desa Hinterland :
1). Desa Ngroto (Hinterland)
2). Desa Ginggangtani (Hinterland)
3). Desa Saban (Hinterland)
4). Desa Glapan (Hinterland)
5). Desa Mlilir (Hinterland)
6). Desa Tungu (Hinterland)
Potensi pertanian yang cukup besar, berupa lahan pertanian.
Terdapat fasilitas perekonomian (pasar desa) yang bisa dijadikan pusat perdagangan lokal Desa Pusat Pertumbuhan dan desa hinterlandnya.
Ditinjau dari aspek lokasi secara lokal, kedudukan Desa Jeketro sebagai Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) sangat strategis, karena dilalui jalur utama yang menghubungkan dengan desa-desa hinterlandnya dan dengan kota Kecamatan Gubug.
Tingkat motivasi penduduk di KTP2D Desa Jeketro untuk maju dan berkembang cukup tinggi.a. Kondisi Prasarana dan sarana 1). Kebutuhan Air bersih
Kebutuhan air bersih/air minum panduduk di wilayah Kawasan KTP2D Desa Jeketro Kecamatan Gubug dipenuhi dengan pembuatan sumur gali dengan memanfaatkan air tanah setempat. Secara kuantitatif kebutuhan air bersih ini belum mencukupi, lebih-lebih pada musim kemarau.
2). Sampah
Sampah yang ada di wilayah KTP2D Desa Jeketro Kecamatan Gubug berasal dari rumah tangga, pasar dan sampah lingkungan. Sampah rumah tangga dan sampah lingkungan ditangani secara tradisional yaitu dibuang dilubang galian tanah kemudian dibakar. Hal ini dilakukan mengingat masih tersediannya lahan yang cukup memadahi di halaman/pekarangan rumah warga masyarakat. Namun demikian perlu adanya penyuluhan berkelanjutan mengenai kesehatan lingkungan, termasuk masalah persampahan agar cara-cara pembuangan sampah oleh masyarakat setempat masih memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan. Sedangkan sampah dari pasar sudah ada yang mengelola dari petugas desa.
3). Jaringan Drainase
Untuk saat ini kondisi jaringan drainase di wilayah KTP2D Desa Jeketro Kecamatan Gubug berupa saluran primer (sungai), sebagian saluran sekunder dengan kondisi saluran masih non permanent. Untuk saluran tersier yang merupakan sarana air buangan, baik air hujan maupun buangan rumah tangga sebagian sudah tersedia di wilayah KTP2D Desa Jeketro yang berada pada sisi jalan baik jalan utama maupun jalan lingkungan (sekitar perumahan) dengan konstruksi permanen (beton) ataupun non permanen (tanah).
4). Prasarana dan Sarana Transportasi
Prasarana transportasi yang ada di wilayah KTP2D Desa Jeketro Kecamatan Gubug berupa jaringan jalan yaitu jalan utama yang menghubungan desa-desa yang ada di wilayah KTP2D dari arah Utara ke Selatan, serta jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah/lingkungan yang ada di KTP2D Desa Jeketro. Berdasarkan jenisnya, terdiri dari jalan aspal, jalan tanah dan jalan batu (makadam), sedangkan berdasarkan statusnya merupakan jalan lokal. Kondisi jalan yang baik akan mempengaruhi aksesibilitas ke pusat-pusat pelayanan lokal dan regional, demikian juga hubungan internal dan internal, sehingga memacu pertumbuhan kecamatan Gubug, khususnya wilayah KTP2D Desa.
2. KTP2D Desa Boloh
Lokasi/Nama Kawasan : Kecamatan Toroh
Kecamatan : Toroh
Desa Pusat : Desa Boloh (DPP) Desa Hinterland :
2). Desa Plosoharjo (Hinterland) 3). Desa Tambirejo (Hinterland) 4). Desa Kenteng (Hinterland)
5). Desa Tunggak (Hinterland)
Adapun potensi yang ada dan perlu dikembangkan di wilayah KTP2D Desa Boloh adalah:
Potensi pertanian yang cukup besar
Terdapat fasilitas perekonomian berupa pasar desa bank dan koperasi.
Ditinjau dari aspek lokasi secara lokal, kedudukan desa Boloh sebagai DPP sangat strategis, karena dilalaui jalur utama yang menghubungkan dengan desa-desa hinterlandnya dan dengan kota kecamatan Toroh.a. Kondisi Prasarana dan Sarana 1). Sarana transportasi
Wilayah KTP2D Desa Boloh (KTP2D IV) Kecamatan Toroh dilewati oleh jalur transportasi yang menghubungkan Ibukota Kecamatan Toroh dengan desa -desa yang ada di wilayah KTP2D IV. Jalur transportasi tersebut merupakan jalur utama di kawasan tersebut yang membelah wilayah tersebut dari Timur ke Barat.
Kondisi jalan di wilayah KTP2D terdiri dari :
Jalan aspal, Disepanjang jalan utama, kondisinya berupa jalan aspal dengan lebar 4 m. Selain itu sebagian jalan lingkungan kondisinya sudah beraspal clan juga jalan -jalan yang menghubungkan wilayah KTP2D IV dengan wilayah lain sudah beraspal, seperti Jalan menuju Desa Ngraji dan Desa Kandangan Kecamatan Purwodadi.
Jalan berbatu atau makadam, Biasanya jalan-jalan lingkungan masih berupa jalan berbatu atau makadam.
J a l a n T a n a h , J a l a n l i n g k u n g a n y a n g m a s i h b e r u p a j a l a n t a n a h jumlahnya tinggal sedikit, biasanya berada di kawasan permukiman yang berada di sekitar wilayah hutan.Sarana perhubungan yang digunakan sebagai angkutan umum penumpang maupun barang di wilayah KTP2D IV berupa angkutan desa seperti dokar, sepeda motor, mobil, Truck dan angkutan umum.
2). Jaringan Air Minum/Air bersih
Kebutuhan air minum dan air bersih untuk penduduk wilayah KTP2D IV dilayani oleh sumber air buatan yaitu dari waduk sanggeh, kenteng dan krukul, serta dari sumur gali yang diusahakan oleh masyarakat se n d ir i d a n s um be r m a ta a i r . U nt uk w i l aya h K TP 2 D I V u n tu k memenuhi kebutuhan air bersih belum dilayani oleh PDAM, Memang sudah ada sedikit jaringan pipa PDAM yang masuk wilayah ini namun aimya belum bisa mengalir sampai di wilayah ini. Sedangkan untuk waduk gambrengan/krukul juga sudah dibuat jaringan air bersih, dan baru untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi dusun P ucang Utara dan Pucang Selatan Desa Tambirejo, serta dusun Pengkol, Desa Depok.
3). Jaringan Sampah
4). Jaringan Drainase
Jaringan drainase di wilayah KTP2D IV terdapat disepanjang jalan utama dan sebagian di jalan lingkungan yang merupakan jalan utama di kawasan pe rm ukim an dan pa da um um nya ko ndis inya m asih berupa tanah. Selain itu jaringan drainase yang ada terdiri dari drainase pembuang yang menampung air kotor rumah tangga melalui drainase lingkungan dan air hujan serta air bekas irigasi. Jaringan drainase di wilayah KTP2D IV masih belum tertata dengan baik, dan s e b a g i a n b e s a r k o n d i s i n y a m a s i h t a n a h . S e d a n g k a n u n t u k pembuangan air hujan dan air limbah rumah tangga melalui sungai kecil-kecil yang banyak terdapat di wilayah KTP2D IV.
3. KTP2D Desa Karangasem
Lokasi/Nama Kawasan : Kecamatan Wirosari
Kecamatan : Wirosari
Desa Pusat : Desa Karangasem (DPP) Desa Hinterland :
1). Desa Dokoro (Hinterland) . 2). Desa Tegalrejo (Hinterland)
3). Desa Sumberagung (Hinterland)
Adapun potensi yang ada dan perlu dikembangkan di wilayah KTP2D Desa Karangasem adalah:
sebagai daerah agro industri.
Sebagai daerah pusat industri genteng yang cukup banyak menyerap tenaga.a. Kondisi Umum 1). Air Bersih
Pemenuhan air bersih penduduk Wilayah KTP2D Karangasem saat ini. dicukupi dengan air dari mata air clan sumur gali yang diusahakan oleh masyarakat sendiri, dan sebagian lagi penduduk memanfaatkan, sumber air dari PDAM Kabupaten Grobogan yang mata airnya jugs berasal dari daerah ini. Melihat permasalahan di lapangan nampak bahwa minat masyarakat terhadap sambungan air bersih perpipaan sangat kecil. Selain itu terdapat kendala teknis yang dihadapi PDAM Kabupaten Grobogan, program air bersih diorientasikan pada stimulan program pengadaan dan peningkatan pemanfaatan sumur gali, baik yang dimanfaatkan secara komunal ataupun individual.
2). Drainase
Drainase mikro yang ada di lingkungan permukiman sejauh ini masih aiamidengan pengaliran air hujan memanfaatkan lahan-lahan kosong. Sebadian besar wilayah permukiman tidak dijumpai adanya saluran air hujan, yang mem adai atau yang didesain secara
baik karena kebanyakan hasil swadaya masyarakat serta dialirkan ketempat-tempat terbuka (kebun) dan sawah atau saluran irigasi/sungai. Pada musim penghujan, genangan akan terjadii pada jalan-jalan baik jalan protokol maupun jalan lingkungan.
3). Sanitasi
4). Persampahan
Pada tahun 2003, jumlah penduduk kawasan K TP2D Karangasem tercatat sebesar 28.660 Jiwa. D ari jumlah penduduk tersebut menghasilkan timbunan sampah yang terbesar merupakan sampah domestik yang berasal dari permukiman, dan sebagian besar dihasilkan oleh pasar, industri kecil, pertokoan, dan warung di Dusun Sarip Desa Karangasem.
Sampai sejauh ini belum diperoleh data akurat mengenai besarnya. sampah yang diproduksi. Data yang diperoleh sifatnya hanya kualitatif dari informasi masyarakat. Hal ini disebabkan belum dikelolanya sampah di Wilayah KTP2D Karangasem akibat terbatasnya sumber daya (peralatan, tenaga dan dana), tanggung jawab, dan kurangnya persiapan masyarakat.
K a r n a b e l u m t e r l a y a n i n y a p e m b u a n g a n s a m p a h d i W i l a y a h permukiman DPP Karangasem dan sekitarnya, maka penanganan sampah dilakukan sendiri masyarakat dengan cara dibakar, ditimbun, dibuang ke sungai, dan dibuang di tempat terbuka lain jika lahan di sekitarnya memungkinkan. Sedangkan untuk pembuangan sampah kotoran hewan dimanfaatkan untuk pupuk pertanian.
5). Pemukiman
Berdasarkan data kependudukan dan kondisi wilayah eksisting masingmasing desa, dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah permukiman desa-desa di wilayah KTP2D Karangasem telah terjadi pergeseran dari sifat pedesaan menjadi sifat kekotaan. Sejalan dengan hal itu, untuk jangka menengah program perumahan dan permukiman di wilayah KTP2D diarahkan dengan model pendekatan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) sebagaimana upaya pendekatan yang digunakan dalam menangani masalah permukiman
C. Kawasan Agropolitan
Berdasarkan hasil study Kawasan Agropolitan Kabupaten Grobogan yang telah dilakukan Bappeda Kabupaten Grobogan, Kawasan Agropolitan Kabupaten Grobogan tersebar di beberapa kecamatan antara lain kecamatan Pulokulon, Wirosari, Penawangan, Purwodadi, dan Toroh . Indikasi program yang telah disusun dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 6. 8 Rencana Program Jangka Menengah Kawasan Agropolitan Kabupaten Grobogan
No Program / Kegiatan Lokasi
I. PRASARANA DAN SARANA PENDUKUNG
SARANA
A. Perencanaan:
1 Pembangunan pintu gerbang kawasan Kota Kecamatan Wirosari
dan Kota Tani Penawangan
2 Pembangunan land mark kawasan Kota Tani Depok
3 Pembangunan Balai Pertemuan dan Pusat Informasi Kota Tani Kunden
Agropolitan
4 Pembangunan Pos Kesehatan Hewan Kota Tani Kunden
dan Laboratorium
5 Pembangunan Balai Penelitian Komoditas UAP Kota Tani Penawangan
6 Pembangunan rest area Jalur Penawangan - Purwodadi
7 Pengoptimalan terminal barang Kota Kecamatan Wirosari
8 Peningkatan/ pengembangan pasar pengumpul Seluruh Kota Tani
9 Penataan kios-kios penjual melon/ semangka Jalur Penawangan - Purwodadi
No Program / Kegiatan Lokasi
1 Pembangunan pintu gerbang kawasan Kota Kecamatan Wirosari
dan Kota Tani Penawangan
2 Pembangunan land mark kawasan Kota Tani Depok
3 Pembangunan Balai Pertemuan dan Pusat Informasi Kota Tani Kunden
Agropolitan
4 Pembangunan Pos Kesehatan Hewan Kota Tani Kunden
dan Laboratorium
5 Pembangunan Balai Penelitian Komoditas UAP Kota Tani Penawangan
6 Pembangunan rest area Jalur Penawangan - Purwodadi
7 Pengoptimalan terminal barang Kota Kecamatan Wirosari
8 Peningkatan/ pengembangan pasar pengumpul Seluruh Kota Tani
9 Penataan kios-kios penjual melon/ semangka Jalur Penawangan - Purwodadi
II. PRASARANA
A. Perencanaan:
1 Peningkatan jalan antar KSP Kawasan agropolitan
2 Peningkatan jalan antara KSP dan KT Kawasan agropolitan
3 Peningkatan jalan antar KT Kawasan agropolitan
B. Pelaksanaan Fisik
1 Peningkatan jalan antar KSP Kawasan agropolitan
2 Peningkatan jalan antara KSP dan KT Kawasan agropolitan
3 Peningkatan jalan antar KT Kawasan agropolitan
Sumber : RPJM Kawasan Agropolitan Kabupaten Grobogan, 2008
D. Kawasan Rawan Bencana Alam
Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor dan banjir. Penetapan kawasan rawan bencana alam berfungsi untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia. Kawasan Rawan bencana Alam terdiri dari :
a. Kawasan Rawan Bencana Banjir
Pada umumnya banjir merupakan suatu kondisi tergenangnya suatu area karena melimpahnya air sungai akibat tidak tertampungnya air oleh badan sungai karena suatu sebab atau air yang masuk sungai melebihi kapasitas tampung normal badan sungai atau pada kondisi tertentu akibat adanya kerusakan pada tanggul sungai sehingga air melimpas keluar dari badan sungai
Daerah rawan banjir terdapat di 6 (enam) wilayah kecamatan. Berdasarkan hasil survey, banjir yang terjadi di daerah-daerah di Kabupaten Grobogan disebabkan antara lain :
1) Curah hujan yang tinggi saat musim hujan, 2) Meluapnya sungai/tanggul kurang tinggi,
3) Saluran drainase yang tidak berfungsi dengan sedimentasi maupun kegiatan penyempitan saluran,
4) Tanggul sungai/saluran mudah jebol/rusak, 5) Penggudulan hutan,
6) Disamping itu jebis tanah yang tidak mudah meresap air juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir.
b. Kawasan Rawan Tanah Longsor
Tabel 6.9 Kawasan Rawan Tanah Longsor di Kabupaten Grobogan
No Kecamatan Desa Keterangan
1 2 3 4 5 6
Purwodadi Kradenan Wirosari Tanggungharjo Pulokulon Tawangharjo
Nambuhan Kradenan Dapurno Kunden Padang
Randurejo Jono
Sumber: Bappeda Kab. Grobogan, 2010
1) Kecamatan Kradenan
Daerah bencana Desa Kradenan, jenis bencana adalah erosi tebing sungai, mulai terjadi sejak tahun 1994 sampai dengan saat ini setiap musim hujan. Kondisi saat ini adalah kritis dimana 21 rumah penduduk Upaya penanganan yang ada adalah dengan membuat sudetan pada tikungan Sungai Soca.
Penyebab kejadian adalah terjangan arus air sungai yang kuat terutama pada daerah tikungan sungai ditunjang dengan adanya tebing sungai yang cukup curam dengan vegetasi penutup tanah yang jarang dan jenis tanah yang sangat rapuh serta mudah tererosi, sehingga menyebabkan massa tanah bergerak ke bawah. Upaya penanganan yang telah dilakukan saat ini dibuat sudetan di Desa Kradenan.
2) Kecamatan Wirosari
Daerah bencana Desa Dapurno, jenis bencana adalah erosi pada tebing Sungai Lusi. Mulai terjadi sejak tahun 1997 setelah dibuat sudetan pada daerah tikungan terutama pada saaat debit sungai Lusi besar, kondisi yang ada sekrang kritis dimana 3 rumah penduduk roboh akibat longsor.
Penyebab terjadinya adalah karena dibangunnya sudetan pada daerah tikungan sungai dan debit banjir yang sangat besar sehingga arus tersebut menghantam tebing sungai yang lama kelamaan membentuk kelokan baru, ditunjang dengan kemiringan tebing yang curam dengan vegetasi penutup tanah yang sangat jarang dan jenis tanah yang mudah tererosi.
3) Kecamatan Pulokulon
Daerah bencana Desa Randurejo, jenis bencana adalah erosi alur, mulai terjadi sejak tahun 1998 sampai sekarang, kondisinya saat ini kritis 3 rumah penduduk terancam roboh, upaya penanggulangan yang ada adalah dengan dipasang trucuk bambu di sekitar lereng untuk menghindari kelongsoran lebih lanjut rumah penduduk di atas lereng. Penggunaan lahan yang ada adalah pertanian tadah hujan, kebun dan bangunan.
4) Kecamatan Tawangharjo
Daerah bencana adalah Desa Jono dengan jenis bencana tanah longsor yang tejadi sejak tahun 2000, kondisinya rawan, kuran lebih 10 rumah penduduk telah roboh. Penyebab kejadian adalah keroposnya lapisan tanah bagian bawah tebing sungai akibat adanya rembesan air yang masuk ke dalam tanah sehingga terjadi keruntuhan. Upaya pengananan yang telah dilakukan adalah derngan pembuatan talud sekitar 10 m (meter).
c. Kawasan Rawan Bencana Kekeringan
E. Penyediaan PSD untuk lingkungan pemukiman kumuh
Tabel 6.10 Data Kawasan Kumuh di Kabupaten Grobogan Tahun 2014
NO KAWASAN KELURAHAN/DESA KECAMATAN LUAS (Ha)
Jumlah Rumah Permanen
Jumlah Rumah Semi
Permanen
Jumlah Penghuni Kawasan Kumuh
1 RW 2 (RT 8, 9, 10) Desa Godong Kecamatan Godong 4,22 106 32 127
2 RW 1 RT 2 Desa Bugel Kecamatan Godong 1,27 32 10 38
3 RW 1 RT 2 Desa Ketitang Kecamatan Godong 7,00 175 53 210
4 RW 10 RT 2 Desa Gubug Kecamatan Gubug 3,22 81 24 97
5 RW 7 (RT 1), RW 2 (RT 1) Desa Kuwaron Kecamatan Gubug 8,36 209 63 251
6 RW 1 RT 3 Desa Pranten Kecamatan Gubug 2,23 56 17 67
7 RW 2 RT 5 Desa Kemiri Kecamatan Gubug 3,14 79 24 94
8 RW 2 RT 3 Desa Klampok Kecamatan Godong 3,09 77 23 93
9 RW 1 RT 3, 7 Desa Getasrejo Kecamatan Grobogan 1,53 38 11 46
10 RW 2 RT 10 Desa Getasrejo Kecamatan Grobogan 0,51 13 4 15
11 RW 4 RT 2 Desa Menduran Kecamatan Purwodadi 2,64 66 20 79
12 RW 1 Desa Menduran Kecamatan Brati 8,48 212 64 254
13 RW 7 RT 2 Kelurahan Kuripan Kecamatan Purwodadi 1,12 28 8 34
14 RW 9 RT 1 Kelurahan Kuripan Kecamatan Purwodadi 0,67 17 5 20
15 RW 3, 4 Kelurahan Kuripan Kecamatan Purwodadi 3,96 99 30 119
16 Banteng Mati Desa Karanganyar Kecamatan Purwodadi 18,72 468 140 562
17 RW 1 ( RT 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 ) Kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi 12,73 318 95 382
18 RW 1 (RT 3, 4 ) Kelurahan Kalongan Kecamatan Purwodadi 3,45 86 26 104
19 RW 17 ( RT 2, 3, 5, 6, 7 ) Kelurahan Purwodadi Kecamatan Purwodadi 5,81 145 44 174
20 RW 16 RT 4 Kelurahan Purwodadi Kecamatan Purwodadi 1,27 32 10 38
21 RW 16 ( RT 6, 7, 8 ) Kelurahan Purwodadi Kecamatan Purwodadi 3,04 76 23 91
22 RW 5 ( RT 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8 ) Kelurahan Kunden Kecamatan Wirosari 8,87 222 67 266
23 RW 4 RT 3 Kelurahan Wirosari Kecamatan Wirosari 1,99 50 15 60
6.1.5
. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman Permasalahan pengembangan permukiman diantaranya:Permasalahan berkaitan dengan perumahan dan permukiman
Berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan, Kabupaten Grobogan mengalami berbagai permasalahan yang berkaitan dengan perumahan dan permukiman yaitu :
1) Terbatasnya kemampuan penyediaan prasarana dan sarana perumahan.
Penyediaan prasarana dan sarana dasar oleh pemerintah daerah Kabupaten Grobogan terhadap kawasan rumah sederhana dan rumah sederhana sehat yang dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah dilakukan untuk dapat menurunkan harga rumah.
2) Belum mantapnya kelembagaan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman. Kelembagaan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman belum berada pada tingkat kinerja yang optimal untuk menjalankan fungsi, baik sebagai pembangun (provider), pemberdaya (enabler). Walaupun peraturan perundangan yang berlaku menyatakan bahwa masalah perumahan dan permukiman merupakan tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Grobogan, namun belum mantapnya kapasitas kelembagaan penyelenggara pembangunan perumahan dan permukiman yang ada pada semua tingkatan pemerintahan menyebabkan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang terjangkau dan layak huni menjadi persoalan yang kritis.
3) Pembangunan prasarana dan sarana pemukiman baik yang dibangun pengembang atau masyarakat masih bergantung pada pemerintah Kabupaten.
4) Belum terpenuhinya kualitas perumahan yang ASRI bagi masyarakat berpenghasilan rendah pada daerah-daerah pedesaan.
5) Pengembangan perumahan dan permukiman masih terbatas pada pola linier di sekitar Jalur Semarang – Blora, Purwodadi – Solo, Purwodadi - Pati.
6) Belum tersedianya fasilitas pendukung yang layak bagi suatu kawasan permukiman, seperti area bermain anak, Ruang Terbuka Hijau (RTH/open space), dan fasilitas olah raga.
7) Belum adanya penanganan utilitas lingkungan perumahan yang dapat mengakomodir semua kebutuhan drainase, pengadaan air bersih dan sistem pembuangan sampah.
8) Belum adanya jaringan jalan lingkungan perumahan yang layak serta lengkap dengan penerangan jalan yang memenuhi standart kawasan perumahan.
9) Masih luasnya kawasan kumuh sebagai permukiman tidak layak huni sehingga dapat menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan, dan pelayanan infrastruktur yang masih terbatas.
10) Pengembangan perumahan pada lahan non pemukiman diwilayah kota 11) Lingkungan pemukiman perkotaan yang tidak teratur
12) Belum berkembangnya Kawasan Perdesaan Potensial
13) Masih rendahnya efisiensi dalam pembangunan perumahan.
Tingginya biaya administrasi perijinan yang dikeluarkan dalam pembangunan rumah merupakan persoalan yang senantiasa dihadapi oleh pembangun rumah. Sehingga masih banyak rumah yang belum memiliki IMB baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Tantangan pengembangan permukiman diantaranya:
1. Terpenuhinya Prasarana jalan yang baik di kawasan pemukiman RSS/RSH Sambak Indah dan Griya Praja Indah.
2. Terhindarnya kawasan pemukiman RSH Sambak Indah dan Griya Praja Indah dari genangan dan banjir.
harus menciptakan layanan akses minum hingga 100 persen di seluruh wilayah Indonesia, kemudian nol persen untuk permukiman kumuh, dan 100 persen untuk akses sanitasi layak (atau yang lebih dikenal dengan program 100-0-100)
4. Terhindarnya kawasan pemukiman kumuh kota Purwodadi, Gubug, Godong dan Wirosari. dari genangan dan banjir
Penjabaran permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman yang bersifat lokal perlu dijabarkan sebagai informasi awal dalam perencanaan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman di Kabupaten Grobogan serta merumuskan alternatif pemecahan dan rekomendasi dari permasalahan dan tantangan pengembangan permukiman yang ada di wilayah KabupatenGrobogan. Rumusan permasalahan dan tantangan Pengembangan Permukiman Kabupaten Grobogan terangkum di dalam isian tabel berikut.
Kawasan perkotaan Grobogan berkembang secara pesat, yang didukung dengan peningkatan penduduk dan aktivitas masyarakatnya. Hal ini menyebabkan permintaan lahan untuk pemenuhan ruang aktivitas masyarakatnya, salah satunya adalah aspek permukiman. Perkembangan kawasan permukiman berpotensi untuk mendorong perkembangan kawasan. Akan tetapi, disisi lain, tingginya perkembangan perkotaan berdampak pada timbulnya permasalahan pembangunan kawasan permukiman dan infrastruktur pendukungnya.
Dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan Grobogan, issue strategis, potensi serta permasalahan yang dihadapi antara lain adalah sebagai berikut:
Tabel 6.11 Potensi, Permasalahan dan Tantangan Pembangunan Permukiman
No Aspek Potensi Issue/ Permasalahan Tantangan
1 Pengembangan penghubung atau kota transit dari kota di Pantura (Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Grobogan) menuju ke Kota Solo.
2. Penggunaan lahan di Kabupaten Grobogan sebagian besar merupakan kawasan pertanian, yang menjadi potensi
3. Kota Purwodadi ditetapkan sebagai PKL (Pusat Kawasan Lokal) yang mampu melayani kegiatan skala kabupaten dan beberapa kecamatan.
4. Kota Purwodadi ditetapkan menjadi PKN (Pusat Kegiatan Nasional) Kedungsepur.
1. Grobogan mendapatkan pengaruh limpasan perkembangan dari Kota disekitarnya, sehingga mengakibatkan
permintaan kebutuhan ruang untuk mendukung perkembangan kota, non pertanian (kawasan terbangun), yang mengakibatkan
No Aspek Potensi Issue/ Permasalahan Tantangan Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D) desa Karangasem, Boloh dan Jeketro, desa Kapung kec. Tanggungharjo, desa Putatsari kec. Grobogan, desa Karanglangu kec. Kedungjati, Desa Trowolu Kec. Ngaringan, Desa Jambon Kec. Pulokulon, Desa Sedadi Kec. Penawangan dan Desa Simo Kec. Kradenan
1. Kondisi jalan sebagian besar masih berupa jalan terkait dengan tingkat pendidikan dan kesadaran penduduk.
4. Terbatasnya air bersih terutama pada musim Kawasan Agropolitan yaitu di kecamatan Purwodadi, Wirosari, Penawangan dan Toroh.
1. Kondisi jalan sebagian besar masih berupa jalan batu sehingga sedikit menghambat
aksesbilitas penduduk untuk memasarkan hasil pertanian. pernduduk yang tidak sebanding dengan penyediaan sarana
No Aspek Potensi Issue/ Permasalahan Tantangan
perumahan.
2. Karakteristik permukiman yang berada pada kawasan dengan kepadatan sedang-rendah, dengan intensitas ruang terbuka hijau 30% dari lahan terbangun. keterbatasan lahan dan tingkat ekonomi yang kurang dalam pemenuhan kebutuhan permukiman yang tidak didukung dengan infrastruktur.
3. Penurunan kualitas lingkungan akibat alih fungsi lahan pertanian maupun lahan terbuka hijau lainnya menjadi kawasan terbangun,
4. Jaringan Jalan Terbentuknya jaringan jalan, baik yang menuju pusat kabupaten maupun pusat permukiman.
1. Sebagian besar jalan dan jembatan rusak, terutama pada kawasan pusat merupakan salah satu faktor yang menjadi maupun antar pedesaan untuk mengembangkan kawasan pedesaan dan agropolitan.
1. Adanya prasarana transportasi perlu didukung dengan adanya infrastruktur jalan yang memadai.
2. Jaringan trayek angkutan desa dan kota yang kurang terkoordinasi dengan baik, sehingga sebagian wilayah mengalami kesulitan dalam pelayanan angkutan desa dan penyebaran armada angkutan desa tidak merata, hal tersebut dikarenakan banyak angkutan desa memilih
No Aspek Potensi Issue/ Permasalahan Tantangan
jalur yang ramai dan kualitas jalan yang baik. 6. Drainase Sebagian besar kawasan
permukiman telah memiliki saluran drainase, dengan kondisi berupa perkerasan.
1. Banyaknya drainase yang tersumbat, baik oleh 3. Kurang lancarnya aliran
air akibat kecilnya dimensi drainase yang ada, sehingga melimpah ke jalan dan terjadi genangan daerah hulu sungai di luar kawasan yang tergenang. bendungan yang dapat dilestarikan atau dikembangkan untuk cadangan air saat musim kemarau (Bendungan Klambu, Sedadi, Kedung Ombo).
menggunakan air dari sumur galian, sehingga sewaktu-waktu bisa kering.
3. Terdapat beberapa daerah yang berpotensi rawan kekeringan saat musim kemarau.
4. Kurangnya ketersediaan air bersih cenderung mendorong masyarakat
8. Persampahan 1. Pengelolaan sampah dengan system 3R (Reduce - Reuse - Recycle) telah dilakukan oleh masyarakat yang difasilitasi oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Grobogan.
2. Di Kawasan perkotaan Grobogan sudah memiliki TPA.
3. Tingkat pelayanan pengolahan sampah baru mencakup 57% dgn sampah
No Aspek Potensi Issue/ Permasalahan Tantangan
terangkut ke TPA sebesar 149 m3/ hari.
4. Terdapat 18 lokasi TPS, 19 kontainer dan 14 landasan kontainer di Kabupaten Grobogan.
5. Adanya upaya pengelolaan persampahan secara antara stakeholder terkait dalam penanganan kebersihan dan pengelolaan
persampahan.
6. Kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat
1. Berdasarkan survey EHRA, diketahui bahwa masyarakat sudah mengakses jamban pribadi 82,1%.
2. Sebagian besar penduduk sudah menggunakan tangki septi tank sekitar 68%. 3. Presentase kepemilikan
Saluran Air Pembuangan Air Limbah (SPAL) sebanyak 53,4%,selebihnya belum memiliki.
4. Kabupaten Grobogan sudah
mempunyai Unit
Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di area TPA Ngembak yang hanya mampu melayani sekitar 15% dari jumlah penduduk.
1. Persepsi dari sebagian masyarakat bahwa sarana sanitasi air limbah belum menjadi kebutuhan yang mendesak. berperilaku yang kurang sehat.
6.1.6Analisis Kebutuhan Pengembangan Permukiman
Analisis kebutuhan dan target pencapaian daerah pengembangan permukiman dapat diuraikan pada tabel berikut. Bagi kabupaten/kota yang telah menyusun SPPIP dapat mengadopsi rumusan analisis kebutuhan dan target pencapaian daerah yang telah tertuang di dalam SPPIP untuk lima tahun pertama ke dalam isian tabel 4.12.
Tabel 6.12 Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman di Perkotaan Untuk 5 Tahun
5 Kebutuhan Pengembangan
Permukiman Baru Kawasan
1 1 2 2 2
Tabel 6.13 Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman di Perdesaan yang Membutuhkan Penanganan Untuk 5 Tahun
Kepadatan Penduduk Jiwa/KM² 601,9101 605,7623 609,6392 613,5409 617,4675 Kepadatan Bruto
Proyeksi Persebaran Penduduk Miskin
Jiwa/KM² 120,382 115,0948 109,7351 107,3697 104,9695 Kepadatan Bruto
No. URAIAN Unit
Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
Ket.
2013 2014 2015 2016 2017
Lokasi
c. Rawan Tanah Longsor
Desa 0 1 2 2 2 Penanganan
2 desa/tahun. Total desa rawan banjir adalah 7 Desa
5 Kawasan Perbatasan Kws 0 0 0 0 0
6 Kawasan Pulau-pulau Kecil
Kws 0 0 0 0 0
7
Desa Kategori Miskin Desa 5 5 5 5 5 Proyek
penurunan desa miskin adalah 5 desa per
tahun.Total desa kategori miskin adalah 50 desa
8
Kawasan dengan Komoditas Unggulan
Kws 1 1 2 2 2 Komoditas
klaster Genteng, Klaster Makanan Olahan, Klaster Batik dll.
6.1.7 Program-Program Sektor Pengembangan Permukiman
Kegiatan pengembangan permukiman di Kabupaten Grobogan terdiri dari pengembangan permukiman kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan permukiman kawasan
perkotaan terdiri dari:
1. Penyedian PSD bagi Kawasan RSH 2. Penataan dan Peremajaan Kawasan
3. Pengem bangan kawasan permukiman baru dalam bentuk pembangunana Rusunawa serta 4. Peningkatan kualitas permukiman kumuh dan RSH
Sedangkan untukpengembangan kawasan Perdesaan terdiri dari : 1. Pengembangan KTP2D
2. Pengembangan Kawasan Agropolitan 3. PNPM Mandiri Desa tertinggal
4. Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) 5. Program Pemugaran perumahan penduduk miskin
6. pengembangan kawasan permukiman perdesaan untuk kawasan potensial (Agropolitan dan Minapolitan), rawan bencana, serta perbatasan dan pulau kecil,
7. pengembangan kawasan pusat pertumbuhan dengan program PISEW (RISE), 8. desa tertinggal dengan program PPIP dan RIS PNPM.
Selain kegiatan fisik di atas program/kegiatan pengembangan permukiman dapat berupa kegiatan non-fisik seperti penyusunan SPPIP dan RPKPP ataupun review bilamana diperlukan.
Infrastruktur kawasan permukiman kumuh
Infrastruktur permukiman RSH
Rusunawa beserta infrastruktur pendukungnya
Pengembangan Kawasan Permukiman Perdesaan
Infrastruktur kawasan permukiman perdesaan potensial (Agropolitan/Minapolitan)
Infrastruktur kawasan permukiman rawan bencana
Infrastruktur kawasan permukiman perbatasan dan pulau kecil
Infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi dan sosial (PISEW)
Infrastruktur perdesaan PPIP
Infrastruktur perdesaan RIS PNPM
6.1.8 Usulan Program dan Kegiatan
a. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman
Berdasarkan hasil identifikasi masalah di atas maka dibuat usulan kegiatan dalam bidang permukiman dengan melakukan penangan atas permasalahan yang terjadi di Kabupaten Karanganyar. Usulan program kegiatan tersebut berupa:
Rehabilitasi Prasarana Fisik yang rusak akibat bencana alam
Penataan Lingkungan Permukiman dan rehabilitasi prasarana fisik yang rusak akibat bencana dilakukan pada daerah-daerah antara lain :
Desa Ngroto, Desa Rowosari, Desa Kuwaron, dan Desa Gubug kec. Gubug.
Desa Mangunsari, Desa Kejawan, Desa Medani, Desa Tegowanu Kulon Kec.Tegowanu; Desa Nampu, Desa Anggaswangi, Desa Klampok Kec.Godong;
Desa Kronggen, Desa Getasrejo Kecamatan Grobogan;
Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa yang diperuntukan bagi masyarakat berpendapatan rendah dan buruh.
Sebagai salah satu solusi penanganan kawasan kumuh perkotaan (peremajaan kawasan permukiman perkotaan/urbanrenewal).
Tidak bisa diharapkan sebagai sumber pendapatan daerah.
Hanya dibangun pada lokasi yang memenuhi syarat administratif, fisik, ekologik, dan tidak berdampak sosial yang negatif.
Program KTP2D
Pengembangan Permukiman PSD Kawasan RSH di Perum Kalongan Indah
Infrastruktur kawasan permukiman kumuh dengan prioritas penanganan di Kota Purwodadi, Kota Gubug dan Kota Godong
Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
1. Peningkatan kepekaan dan kesadaran di semua tingkatan melalui pelaksanaan Public Awareness Campaign (PAC) yang optimal
2. Peningkatan kapasitas penyelenggara melalui pelatihan yang akan diintegrasikan ke dalam sistem penyelenggaraan program
3. Pemantauan kinerja yang akan dilakukan secara berjenjang dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten, sampai ke tingkat terendah di desa
4. Peningkatan partisipasi masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan program khususnya peran serta perempuan dan masyarakat kelompok miskin, terutama dalam proses pengambilan keputusan
5. Penilaian kinerja yang dikaitkan dengan sistem, penghargaan, dan sanksi bagi penyelenggara program, dari tingkat provinsi, kabupaten, sampai tingkat desa berdasarkan kinerja dalam pelaksanaan program; dan
6. Penguatan mekanisme serta implementasi penanganan pengaduan
Dengan upaya peningkatan tersebut, diharapkan dapat mendorong keterlibatan masyarakat secara optimal dalam semua tahapan kegiatan, mulai dari pengorganisasian masyarakat, penyusunan rencana program, menentukan kegiatan pembangunan infrastruktur perdesaan, serta pengelolaanya. Disamping itu peningkatan peran stakeholder dan pemerintah daerah dapat ditumbuhkembangkan sehingga dapat melaksanakan pembinan yang akan mendorong kemandirian masyarakat dan sinergi berbagai pihak dalam penang-gulangan kemiskinan di perdesaan.
Maksud, Tujuan dan Sasaran
Program ini dimaksudkan untuk mengurangi kemiskinan dan memperkuat implementasi tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di tingkat pemerintah daerah. Sedangkan tujuan PPIP adalah untuk mewujudkan peningkatan akses masyarakat miskin, hampir miskin, dan kaum perempuan, termasuk kaum minoritas terhadap pelayanan infrastruktur dasar perdesaan berbasis pemberdayaan masyarakat dalam tata kelola pemerintahan yang baik.
Kriteria Infrastruktur
Dalam memilih jenis infrastruktur yang akan dilaksanakan di desa sasaran PPIP, harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Memenuhi kebutuhan infrastruktur yang mendesak bagi masyarakat miskin dan diusulkan oleh masyarakat melalui musyawarah desa;
2. Langsung memberikan manfaat bagi masyarakat setempat terutama kelompok miskin; 3. Penyediaan lahan untuk infrastruktur disediakan oleh masyarakat;
4. Dapat dilaksanakan dan berfungsi pada tahun anggaran 2008;
5. Memprioritaskan pemberian kesempatan kerja kepada tenaga kerja setempat dan penggunaan material lokal;
6. Menggunakan teknologi sederhana yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat atau teknologi yang sesuai dengan kebutuhan setempat;
7. Merupakan infrastruktur yang dapat dikelola oleh masyarakat; 8. Menjamin keberlangsungan fungsi infrastruktur yang dibangun;
9. Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, sosial dan budaya.
Penyaluran Pendanaan 1) Sumber Dana
Sumber Dana program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) 2008 berasal dari : 1. Dana APBD yang disalurkan melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satuan
Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satker Pembangunan Infrastruktur Permukiman Kabupaten. Dana bantuan sosial/Bantuan Lansung Masyarakat berada di DIPA Satuan Kerja Pembangunan Infrastruktur Permukiman Kabupaten.
2. Dana APBD Pemerintah Provinsi dan Kabupaten untuk memberikan dukungan biaya operasional dalam menjalankan pendampingan, pengendalian dan pemantauan dan atau untuk mendukung biaya Operasi dan Pemeliharaan.
3. Dana swadaya untuk mendukung selama pelaksanaan program, jangkauan penerima manfaat dan pengembangan program.
Penerima dana pembangunan infrastruktur perdesaan adalah masyarakat desa yang nama desanya tercantum dalam Daftar Desa Sasaran yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.
Pagu dana untuk tiap desa ditetapkan sebesar Rp. 250 juta. Dana ini sudah termasuk dana non-fisik berupa dana persipan, perencanaan dan operasional OMS sebesar Rp. 5 Juta. Dana operasional tidak dialokasikan sebagai gaji OMS, tetapi diperuntukkan untuk biaya perjalanan OMS, pembelian alat tulis, materai dan perlengkapan OMS lainnya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.
Pelaksanaan PPIP dan P4IP di Kabupaten Grobogan
Program PPIP di Kabupaten Grobogan di fokuskan pada 18 Kecamatan yang ada kecuali Kecamatan Purwodadi. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap di desa -desa yang diusulkan. Program kerja yang dilaksanakan adalah pekerjaan fisik infrastruktur desa seperti jalan, drainase dan jembatan.
Tabel 6. 14 Daftar Desa yang di usulkan menerima Dana PPIP Tahun 2013
GROBOGAN GROBOGAN GROBOGAN GROBOGAN
NO KECAMATAN DESA NO KECAMATAN DESA NO KECAMATAN DESA NO KECAMATAN DESA
1 KEDUNGJATI KARANGLANGU 24 PULOKULON PANUNGGALAN 47 WIROSARI TEGALREJO 70 GODONG MANGGARWETAN 2 KEDUNGJATI PADAS 25 PULOKULON MANGUNREJO 48 TAWANGHARJO PULONGRAMBE 71 GUBUG PENADARAN 3 KARANGRAYUNG TEMUREJO 26 PULOKULON JAMBON 49 TAWANGHARJO MAYAHAN 72 GUBUG GELAPAN
4 PENAWANGAN TOKO 27 PULOKULON KARANGHARJO 50 TAWANGHARJO JONO 73 GUBUG JEKETRO
5 PENAWANGAN TUNGU 28 PULOKULON SEMBUNGHARJO 51 TAWANGHARJO SELO 74 GUBUG KEMIRI
6 PENAWANGAN JIPANG 29 PULOKULON BAGO 52 TAWANGHARJO TAWANGHARJO 75 GUBUG KUNJENG
7 PENAWANGAN KLUWAN 30 KRADENAN SIMO 53 TAWANGHARJO TARUB 76 GUBUG GUBUG
8 PENAWANGAN WINONG 31 KRADENAN REJOSARI 54 TAWANGHARJO POJOK 77 GUBUG JATIPECARON
9 PENAWANGAN WOLO 32 KRADENAN TANJUNGSARI 55 TAWANGHARJO PLOSOREJO 78 GUBUG RINGINKIDUL
10 TOROH SINDUREJO 33 GABUS TUNGGULREJO 56 TAWANGHARJO GODAN 79 GUBUG RINGINHARJO
11 TOROH NGRANDAH 34 GABUS TAHUNAN 57 TAWANGHARJO KEMADUHBATUR 80 GUBUG TLOGOMULYO
12 GEYER RAMBAT 35 GABUS KARANGREJO 58 GROBOGAN REJOSARI 81 TEGOWANU MANGUNSARI
13 GEYER KALANGBANCAR 36 GABUS BANJAREJO 59 GROBOGAN TEGUHAN 82 TEGOWANU KARANGPASAR
14 GEYER JOWORO 37 NGARINGAN KALANGLUNDO 60 GROBOGAN LEBENGJEMUK 83 TEGOWANU CANGKRING 15 GEYER BANGSRI 38 NGARINGAN NGARAPARAP 61 GROBOGAN SEDAYU 84 TANGGUNGHARJO SUGIHMANIK 16 GEYER KARANG ANYAR 39 NGARINGAN BELOR 62 BRATI LEMAHPUTIH 85 TANGGUNGHARJO TANGGUNGHARJO 17 GEYER ASEMRUNDUNG 40 NGARINGAN TANJUNGHARJO 63 BRATI KETEKAN 86 TANGGUNGHARJO BRABO
18 GEYER JAMBANGAN 41 NGARINGAN SUMBERAGUNG 64 KLAMBU WANDANKEMIRI P4IP
19 PULOKULON MLOWOKARANGTALUN 42 WIROSARI SAMBIREJO 65 GODONG TUNGU NO KECAMATAN KELURAHAN/ DESA
20 PULOKULON POJOK 43 WIROSARI TANJUNGREJO 66 GODONG KOPEK 1 PURWODADI KARANGANYAR
21 PULOKULON JATIHARJO 44 WIROSARI KROPAK 67 GODONG REJEK 2 PURWODADI KEDUNGREJO
22 PULOKULON SIDOREJO 45 WIROSARI GEDANGAN 68 GODONG HARJOWINANGUN 3 PURWODADI NGLOBAR
23 PULOKULON TUKO 46 WIROSARI TAMBAKSELO 69 GODONG WANUTUNGGAL 4 PURWODADI WARUKARANGANYAR
Setelah melalui tahapan analisis kebutuhan untuk mengisi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan kebutuhan maka perlu disusun usulan program dan kegiatan. Namun usulan program dan kegiatan terbatasi oleh waktu dan kemampuan pendanaan pemerintah kabupaten/kota. Sehingga untuk jangka waktu perencanaan lima tahun dalam RPI2JM dibutuhkan suatu kriteria untuk menentukan prioritasi dari tahun pertama hingga kelima.
Setelah memperhatikan kriteria kesiapan maka dapat dirumuskan usulan program dan kegiatan pengembangan permukiman serta usulan pembiayaan dapat dijabarkan usulan pembiayaan baik dari APBD Kabupaten/Kota, APBD Provinsi, APBN, maupun dari masyarakat dan swasta, sesuai dengan kemampuan pembiayaan pemerintah Kabupaten Grobogan yang disusun berdasarkan prioritasnya seperti tabel 6.15.
6.1.1. Kesiapan Daerah terhadap Kriteria Kesiapan (Readiness Criteria) Sektor Pengembangan
Permukiman
Dalam pengembangan permukiman di Kabupaten Grobogan terdapat kriteria yang menentukan, yang terdiri dari kriteria umum dan khusus. Adapun beberapa kriteria kesiapan sektor pengembangan permukiman yang terdapat di Kabupaten Grobogan sebagai berikut.
TABEL VI. 1
KESIAPAN KABUPATEN GROBOGAN TERHADAP KRITERIA KESIAPAN SEKTOR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN
√ Kabupaten Grobogan mempunyai produk rencana kegiatan rinci dalam pengembangan permukiman perkotaan dan perdesaan yaitu termuat dalam produk RTRW, RPJMD, RPIJM, serta Renstra SKPD Kabupaten Grobogan.
Indikator kinerja sesuai dengan yang ditetapkan dalam Renstra.
√ Indikator kinerja disesuaikan dengan yang tertuang dalam Renstra SKPD Kabupaten Grobogan.
Kesiapan lahan (sudah tersedia)
√ Pengembangan permukiman perkotaan dan perdesaan diarahkan pada lahan-lahan yang mempunyai kesesuaian dengan peruntukan lahan yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang.
Sudah tersedia DED. - Belum tersedianya DED pembangunan permukiman di Kabupaten Grobogan.
- Belum tersedianya beberapa dokumen perencanaan berbasis kawasan (RP2KP, RTBL KSK, Masterplan. Agropolitan & Minapolitan, dan KSK), sehingga perlu diprioritaskan guna sebagai acuan kegiatan yang lebih teknis.
Tersedia Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB) dan dana daerah untuk pembiayaan komponen kegiatan sehingga sistem bisa berfungsi.
√ Tersedianya dana daerah berupa APBD untuk pembiayaan pengembangan permukiman.
Ada unit pelaksana kegiatan
√ Tersedianya unit pelaksana kegiatan dalam pengembangan permukiman yang diwadahi oleh Dinas Ciptakarya, Tata Ruang dan Kebersihan, Bidang Perumahan dan Permukiman.
Ada lembaga pengelola pasca konstruksi.
- Belum tersedianya lembaga pengelola pasca konstruksi. Misalanya dalam program bantuan rumah layak huni, kegiatan pasca kontruksi sepenuhnya dikelola dan dilakukan oleh pemilik rumah.
No Kriteria Kesiapan Chek List
Kriteria Kesiapan Keterangan Kesediaan Pemda untuk
penandatanganan MoA
√ Pemda Kabupate n Grobogan tentunya akan bersedia melakukan penandatanganan MoA untuk mendukung terlaksananya program pembangunan Rusunawa yang sudah tertuang dalam indikasi program pembangunan dalam bidang perumahan dan permukiman.
Dalam Rangka penanganan Kws. Kumuh
√ Salah satu alasan pembangunan Rusunawa di Kabupaten Grobogan (Misalnya : yang direncanakan di Kecamatan Sidoharjo) adalah sebagai salah satu upaya untuk meminimalisasikan kawasan kumuh. Kesanggupan Pemda
menyediakan Sambungan Listrik, Air Minum, dan PSD lainnya
√ Adanya kesanggupan Pemda dalam menyediakan PSU permukiman diwujudkan dengan adanya rencana pembangunan PSU permukiman yang tertuang dalam dokumen pendukung, misalnya : RIS SPAM, SSK, dan dokumen lainnya.
Ada calon penghuni √ Calon penghuni yang direncanakan sebagai penghuni Rusunawa yaitu penduduk dengan kondisi Rumah Tangga Miskin dan yang mempunyai rumah dengan kondisi tidak layak huni.
RIS PNPM
Sudah ada kesepakatan dengan Menkokesra.
√ Kegiatan PNPM di Kabupaten Grobogan sudah dilakukan sejak Tahun 2007, dengan mengacu kesepakatan dan ketentuan pelaksanaan RIS PNPM. Desa di kecamatan yang
tidak ditangani PNPM Inti lainnya.
√ Penanganan program/kegiatan PNPM dilakukan dengan mengacu pada RIS PNPM dengan koordinasi SKPD terkait, sehingga tidak terjadi tumpang tindih program/kegiatan dalam pembangunan permukiman.
Tingkat kemiskinan desa >25%.
√ Jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) Tahun 2011 di Kabupaten Grobogan mencapai 87.768 RTM atau 308.783 jiwa (34,8% dari jumlah penduduk). Hal tersebut menunjukkan bahwa RIS PNPM perlu ditingkatkan penyelenggaraannya sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
Bupati menyanggupi mengikuti pedoman dan menyediakan BOP minimal 5% dari BLM.
√ Pelaksanaan kegiatan PNPM dilakukan mengikuti pedoman dan menyediakan BOP (Bantuan Operasional Pembiayaan) minimal 5% dari BLM (Bantuan Langsung Masyarakat).
PPIP (Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan) Hasil pembahasan dengan
Komisi V - DPR RI
√ Program PPIP dilakukan berdasarkan pada program yang tertuang dalam RPIJM Kabupaten yang sebelumnya juga sudah dilakukan pembahasan dan lokakarya dengan SKPD terkait, dan anggota DPR Kabupaten Grobogan.
Usulan bupati, terutama kabupaten tertinggal yang belum ditangani program Cipta Karya lainnya
√ Program PPIP dilakukan dengan prioritas lokasi dibeberapa desa yang mempunyai kriteria sebagai kawasan perdesaan, baik berdasarkan arahan dari RTRW maupun dari kriteria lainnya yang menunjukkan desa tersebut sebagai kawasan tertinggal.
Kabupaten
reguler/sebelumnya dengan kinerja baik
√ Kegiatan PPIP yang sudah terlaksana di Kabupaten Grobogan berdasarkan LKPJ sudah terealisasi sejak Tahun 2011, dan secara rutin hingga Tahun 2013. Hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja program PPIP berjalan dengan baik, dan terjadi peningkatan dalam pelaksanaan program.
Tingkat kemiskinan desa >25%
√ Jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) Tahun 2011 di Kabupaten Grobogan mencapai 87.768 RTM atau 308.783 jiwa (34,8% dari jumlah penduduk). Hal tersebut menunjukkan bahwa PPIP perlu ditingkatkan penyelenggaraannya sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
PISEW (Pengembangan Infrasruktur Sosial Ekonomi Wilayah) Berbasis pengembangan
wilayah