• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sava ki.ra karena in:i. permintaan pen,jelasan. ba:r.ang kali ada bai.knya kalau pemerintah memberikan dulu pen.1elasan sedikit.

Hartang kali dl tempat mana pernah terjad.i. begitu saya Jrurang t.ah.u ,juga. Saya persilahkan Palr.

g8

PEMERIN'l'AH

Te.rlma .kasi.h Pak~ yang hur.up besar maksudnya semua hurup besar. pada memutuskan sebagai ;ju.dul. Ini pada l.nJ yang dulu Pak.

UU nomor 19 tahtm 99, aedan.gkan dalam tidak pada judul memang ada hurup kecil seperti yang kami sampik.an pada hurup E. Jadi. adalah hurup keel L ~retap kami pada penuli.san concerning, and dan seba-gainya itumemang hurup kecll, karena .i.tu t.idak pada judul. Pada UU yang lama pada .iudul di.tu.U.s sem:ua. huru.p besar.

KE'J.'UA RAPA'l'

Saya kira, ya ailahkan.

F -1'NI /POIJU f.RQNGGO ... SO.ENAROO.s -... SlP. ... J .. :

Pak dibaca saja dihalaman 11.0 kupul.an ini, yang seperti d3.kataka tadi oleh rekan PKB yang kami juga menggarisbawahi yaitu UU nomor 1.9 tentang pengesahan ILO konvension nomor 125 sama-sama hurup

.E

nya. disitu dikatan dari teman

PDIP

tadi of itu

kan

kecil yang dikatakan convension no. 1.25 concerning the prohibition of, .iadi of nva kan kec:U. in.i yang dimaksud. ,Jadi bapak ,jangan lagi mengali.hkan kepada tempat memutusk.an. yang :g nya ini aama. Nab d.istni besar gi.tu mn..ksudnya. Ini sa;)a yang sudah jelaa7 terima kasih.

F-PPP tPRO:F. .... DR ... _TGK. H. BAIHAQl ... A...K. .. J:

•rapi. di tim perumus no problem tni Pak. Kalau begitu saya

,juga~ "dan" itu hurup keciJ itu. dan tindakan segera.

KF.:TIJA RAPAT

va ... va :l.tu menvesuai.kan. Sava kira ini memang kaidah baha-sa . Ok Pak. Ki ta sepakat dimasukkan di. timus? Dengan aubstansi yang disepa.kat.i? terima kasi.h. Jadi lri ta sudah menyepakati kon-siderans ini. . .

KETUA

Jadi kita sudah menyepakati konsiderans ini sampai butir ke 7 mari kita memasuki butir ke 81 mengingat : angka 1. Pasal 5 ayat (1); Pasal 111 Pasal 20 ayat (1-) 1 Pasal 271 Pasal 311 dan Pasal 34 Undang-undang Dasar 1945; saya persilahkan ataukah ada yang keberatan dengan pasal-pasal ini. Ya ... ada dari F-TNI/POLRI kami persilahkan.

RONGGO SOENARSO (F-TNI)

Fraksi kami setuju pak hanya dari Pemerintah saja saya ingin penjelasan relevansi dari Pasal

31

dan Pasal 34 kalau Pasal 11 itu memang kelihatannya itu ada perjanjian dengan negara lain tapi

disini

dengan Pasal 31

dimana

Pasal 31 dikatakan adalah

"tiap-tiap

warga negara berhak mendapat pengajaran" kemudian yang kedua

"mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran

nasional

yang diatur dengan undang-undang

kemudian Pasal 34 dikatakan "fakir miskin dan anak-anak dipelihara oleh negara" kami hanya menanyakan relevansinya sajal terima kasih.

KETUA

Saya lihat pihak pemerintah keberatan silahkan PEMERINTAH

Terima kasih pak Pimpinan kami melihat · ada mencantumkan Pasal itu karena ada relevansi dengan masalah perlindungan anak dalam hubungan masalah pengajaran supaya kita melindungi melarang pada pekerj aan terburuk dalam hubungannya an tara lain terhadap pengajaran dalam hal pendidikan apa salahnya anak-anak dilindungi dari pekerjaan terburuk agar dia dapat mengikuti pelajaran1 itu pertimbangan kami kenapa kita masukan dalam masalah itu. Demikian juga masalah pasal 34 masalah anak-anak1 fakir miskin dan yang poin dua pasal 31 bapak baru mengatakan masalah pengajaran.

Berikutnya Pasal 34 bahwa anak terlantar dipelihara oleh negara, kami melihat bahwa masalah anak-anak dalam hubungannya pekerjaan yang berbahaya ada hubungan dengan masalah keterlantaran dalam kehidupan

dia

yang susah dengan masalah pekerjaan sedang

disisi

lain

kita

ingin mengatur dan memberi larangan untuk pekerjaan yang terjelek bagi anak meskipun dia terlantar tentu ada upaya yang lain sehingga kami berpendapat bahwa itu perlu dimasukkan karena tidak hanya itu karena terpaksa dia miskin dan terlantar terpaksa dia bekerja

di

bagian yang terburuk ini alasan kenapa kita masukkan, tidak

40

harus dia kerj a yang terburuk ada car a lain meskipun dia miskin dsbnya.

RONGGO SOENARSO

Kelihatannya konteksnya sepotong-sepotong pak dikatakan fakir miskin dan anak-anak terlantar tapi disini Pasal 34 UUD ini konsekwensinya besar mengatakan bahwa "fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara" sehingga kalau 1n1 dipakai

seba~ai suatu yang ada relevansinya kita harus ada konsekwensinya bahwa negara ini harus menanggung jangan hanya yang terburuknya saj a apakah benar dengan yang dimaksud oleh pemerintah 1n1, dan kalau ini memang benar ya no problem, jadi jangan sepotong-sepotong karena Bapak tadi hanya fakir miskin dan anak-anak jangan terlantarnya saja pak betul-betul dipelihara oleh negara tidak hanya melihat hal-hal yang terburuk saj a tapi juga bertanggung j awab dan dipelihara oleh negara

KETUA

saya persilahkan kepada Pemerintah terima kasih.

RAZALI YAHYA

Terima kasih bapak Pimpinan menurut kami saya kira 1n1 statement harus dipelihara oleh negara kami melihat sebagian dari i tu tidak hanya mendasarkan dari

dalih

bahwa itu terlantar perlu dipelihara dan dia harus diberi kesempatan atau tidak dilarang pacta pekerjaan yang terburuk bagi dia. Jadi kami mengambil

sisi

lain satu sisi untuk meskipun anak yang terlanjur dipelihara oleh negara nyatanya belum tapi itu harus maka disini masalah melindungi anak dari pekerjaan terburuk

itu

harus dilakukan sehingga Pasal ini kami masukkan dalam RUU ini, terima kasih

KETUA

Jadi kesimpulan sementara bahwa Pasal 34 ini masih ada relevansinya dengan catatan banwa pasal 31

itu

ditambah ayat (1) jadi saya kira ini tidak perlu lagi ke Timus butir ( 8} karena sudah dilansir jadi hanya penambahan Pasal 31 aya t ( 1) , terima kasih. Kemudian butir ( 9) angka 2. Ketetapan Maj e1is Permusyawaratan Rakyat Repub1ik Indonesia No. VII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia; apakah ada yang keberatan, apakah ini dapat disetujui, setuju dan terima kasih. Barangkali

karena masih ada waktu tiga menit kita selesaikan butir 10, pak butir ke 9 mengenai apa? Sudah jatuh palu. Dan

41

ratifikasi itu, dan dilanjutkan ratifikasi competenasional utama yang berkaitan dengan hak asasi manusia. sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa dalam bentuk UU. Jadi kita di tugaskan, ditambahkan menjadi tiga. Saya kira kita memang tidak terlalu kaku j adi say a tanyakan kepada pemerintah, ada saran tambahan Tap ·terbaru jadi Tap.IV/MPR/1999 tentang GBHN.

Ada saran dari Ibu Astrid ten tang GBHN i tu bisa di sebut butir. Bab-bab dan butir yaitu bab 4 butir 4 tentang mengenai ratifikasi konvensi internasional.

Baik pak butir 9 ada 2 butir yang kita sepakati disana pertama Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No.XVII/MPR/1999 tentang Hak Asasi Manusia, 3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. IV /MPR/1999 ten tang GBHN bab IV butir 4 mengenai Ratifikasi Konvensi Internasional.

RAZALI YAHYA

Pimpinan karena itu judul kami mengusulkan agar judulnya lengkap tentang Garis-garis Besar haluan Negara Tahun 1999-2004 karena judulnya demikian. Jadi Tap No.IV ini dari substansi itu berlaku 5 tahunan apakah itu juga relevansi dengan uu ~n~ juga akan sangat tergantung dengan masa berlakunya itu nah ini perlu ditinjau kembali kemudian dari substansi penulisan ini memang konsistensi mengingat itu apakah secara lengkap diuraikan kepada materi, saya contohkan apakah tidak cukup bahwa TAP No. IV MPR ten tang GBHN Tahun 1999-2004. (titik sampai disitu saja) kalau itu dipakai nah itu yang saya angkat pak, terima kasih.

KETUA

Saya masih sedikit bingung pak maksudnya disini terutama tidak perlu ditambah TAP No.IV kalaupun mau ditambah Bab IV butir 4 itu juga tidak perlu begitu, yang kedua tentang penetapan ttg TAP MPR ini saya pikir saya serahkan kepada Pemerintah dulu walaupun setelah saya dengar alasannya bahwa ini hanya berlaku 5 tahun TAP MPR No.XVII itu juga berlaku 5 tahun juga jadi kalau itu dipakai sebagai dasar namun kalau MPR menghendaki tapi saya kembalikan karena saya polisi

lalu lintas saja, terima kasih.

JACOB NUWAWEA

Terima kasih angka 2 itu sebenarnya khan sudah memadai tentang hak asasi manusia itu menjadi dengan dasar TAP MPR No. XVII kita mempunyai kewajiban untuk merat'ifikasi itu yang pertama kemudiuan dengan TAP

42

tersebut kita mempunyai kewajiban secara yuridis maupun moral merangkap ratifikasi semua konvensi ILO mengenai hak-hak asasi manusia termasuk tentunya No.

l82

tersebut kemudian kalau disini dimaksudkan TAP MPR No.

IV Tahun 1999 ttg GBHN, GBHN itu pasti tiap 5 tahun dirubah pertanyaannya apakah bab IV itu akan terus menerus saya kira kita tidak bisa menjawab, apakah 5 tahun yanga akan datang itu butir 4 masih akan dimuat apalagi itu khan tidak bisa menjawab kecuali diantara kita tapi itu jaminan apa, oleh karena itu saran saya cukup 2 saja, terima kasih.

KETUA

Soalnya arah kebijakan oleh MPR ini menugaskan

kita untuk melanjutkan ratifikasi confensi

Internasional. Terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan bangsa dalam bentuk

uu.

Sekarang kita akan ratifikasi hak anak-anak, ini pemerintah apa salahnya kalau kita masukkan dalam sebagai mengingat. Jadi ada dasar hukumnya yang lebih kuat kita melaksanakan pembentukan ratifikasi UU ini. Saya kira tidak bukan untuk lima tahun saja tapi saya kira untuk selanjutnya.

PEMERINTAH

Kami pada usul kami ada satu dua, tapi kalau bapak-bapak tambahan tiga bagi kami, boleh-boleh saja tergantung dari kesepakatan Ibu dan bapak sekalian.

Tapi bagi kami poin dua sudah kuat masalah Hak Asasi Manusia, tapi bagi kami tidak ada masalah,

KETUA

Karena ini subtansi jadi saya pikir kita agak kerepotan kalau rnasuk di Timus belum ada kesempatan di sini. Saya ingin tanyakan apakah ini tetap pada konsep atau di tambah menjadi tiga atau bagaimana dari pihak PPP apakah

RAZALI YAHYA

Saya sama jawaban dengan bapak tadi, saya kira ini penting untuk dimasukan tapi kalau memang sudah putusan tidak ya saya sedia saja mencabut.

KETUA

Terima kasih jadi kita drop saja yang ketiga ini ta .. pak.

43

Tunggu dulu pak, saya pikir kita akan sepakat sebenarnya citra ki ta tetap berobah sedangkan nasabah primapun sedang kita amandemen. Tapi kalaupun Tap MPR GBHN tidak berlaku lagi tapi masa 2n2 tidak di perlukan, kenapa kita harus kita keluarkan jadi kita sepakat di tambah, terima kasih.

KETUA

Kalau begitu kita perlukan loby barangkali atau pending dulu ya . . . . yang satu ini saya pikir kalau dari F-TNI tetap pada pendirian pertama.

RONGGO SOENARSO

Memperkuat mengingat bab IV itu khan arah kebij akan j adi ini j udulya kemudian a. i tu hukum lalu hukum itu masuk 1,2,3,4 jadi misalkan nanti kalau pakai 2n2 masih kurang kuat 2n2, bab IV tentang arah kebijakan kemudian kita melihat ttg GBHN sudah jelas tertulis tahun 1999-2004 sedangkan kita ini meratifikasi 2n2 adalah untuk se1amanya disini ini sudah jelas nanti 2004 itu sudah ada batasnya jadi jangan sampai kita membuat sesuatu yang dapat menyulitkan

kita

dikemudian hari jadi saya sependapat dengan rekan F-PKB untuk tidak perlu dicantum karena sudah 2 saja sudah cukup, terima kasih.

KETUA

Jadi saya kira kita pending saja dulu sambil istirahat jadi kita sambil makan kita mungkin ada pikiran-pikiran yang bisa mempertemukan antara kedua pendapat, saya kira begitu pak jadi kita pending butir

9 apakah di tambah dengan angka

3

oke. Bapak Ibu dan Saudara-saudara sekalian kita kelewatan 10 menit dan dengan ini Rapat saya skors untuk kita lanjut kembali pada pukul 13.30, terima kasih.

44

-

--~---PEMERINTAH :

Terima kasih lbu Pimpinan. _

Pertama kami berpegang pada Kepres No. 4 sebagai dasar penyusunan WJtuk 1'811Cang&D Wldang-tmdang, disana disebutkan pada point 29 bahwa Ketetapan MIYelis Pennusyawaratan Rakyat

atau

Tap MPR-RI tidak digunalcan seba.gai dasar hukwn kecuali jika secara tegas memerintahkan pembentukan peraturan perundang-Wldangannya dimaksud.

Yang kedua, kami melihat·pada Tap MPR No.l7 itu pada pasal2 sebenamya sudab ada dengan tegas menyatakan bahwa menugaskan kepada Presiden Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk merati.fikasi berbapi instrumen PBB tentaog Hak-hak Azui Manusia sepanjang tidak bertentang~ dengan Pancasila dan UUD 1945, kami melihat dengan pencantuman Tap MPR No. 17 itu sudah tegas sebagai landasan didalam konsep RUU

ini,

itu aluan yang kedua, Bu.

Alasan yang ketiga, kami melihat bahwa kalau Tap MPR No.4 ini dimasulckan yang mengatur masalah Garis garis Besar Haluan Negara, disana memang tegas dikatakan

itu

supaya meratifikasi konvensi-konvensi internasional, itu tidak salah Bu, banya kami melihat itu adalah Oaris-garis Besar Haluan Negara yang masa berlakunya hanya 5 tahun sampai tahun 2004, pikiran kami kalau nanti mlDlcul tahun 2005, 2006 yang kita harapkan UU ini berlaku lebih

dari

tahun

itu

bisa timbul pertanyaan, kalau begitu mengingatnya sudah tidak valid la.gi karena sudah Jewat tahun 2004, itu Bu pemikian kami kalu itu dimasukkan sebagai salah satu konsideran ''Mengingat'' OBHN Tahun

1999-2004.

Demikian Ibu Pimpinan, pertimbangan kami sehingga kami mohon kalau bisa tanpa men,gurangi apa yang disampaikan Bapak Anggota Dewan, sebenamya Tap MPR No. 17 lebih kuat sebagai dasar dalam penyusunan Undnag-lDldang ini, terima kasih.

KETUARAPAT(PROF. DR. ASTRID S. SUSANTO):

Terima kasib Bapak, silahkan Bapak dari Fraksi PPP FPPP (DRS. H RAZAU YAHY A) :

Terima kasih,

Kami bertitik tolak pada pertanggnnganjawan Presiden pada Tap MPR No. 4 ini yang mm~pakan

Garis-garis Besar Haluan Negara, jadi kalau Garis-garis Haluan Negara dia harus melaksanakan tersebut, dalam masa 5 tahlDl

itu

dia barus melanjutkan ratifikasi-ratifikasi konvensi intemasional terutama yang berkaitan dengan Hak Azasi Manusia sesuai dengan kebutuban dan kepentingan bangaa dalam b~ntuk undang-tmdang. Itu di Garis garis Besar Haluan Negara disebudam, jadi sedans berlalamya ini kita disini disurub menetapkan, kalau sudah ditetapkan berlakunya sepaqjang masalah selagi undang-lDldang

ini

tidak dicabut, selagi ratifikasi itu tidak dicabut Tidak

akan

sampai S tabun dia lalu tidak berlaku lagi, sebab Presiden perintabkan untuk melanjutkan ratifikasi konvensi intemasional. Mengingat Tap MPR No. 4 ini disurub melaqjutkan ratifikasi itu lalu Presiden membuat Rancangan Undang-lDldang untuk menetapkan ratifikasi

n..o

tersebut, menurut aaya begitu, jadi berlakunya tidak terpntung pada OBHN ini, berlalcuslya.

••Jak

nat ditetapkaa aampai 1epaqjq

mua

kecuali kalau dicabut oleb pemerintah. Terima kasib.

45

Fraksi Golkar, mohon ...

FPG (DRS. H AGUSMAN ST. BASA) : Terimakasih, Bu.

Seperti sudah kami utarak8n tadi, ini kan Garis-garis Besar Haluan Negara merupakan landasan operasional dalam masa 5 tahun ini. Dan kalaupun GBHN mendatang berbeda lagi bukan berarti yang sudah kita cantwnkan itu salah karena pada masa itu merupakan landasan operasional kita, sehingga dengan demikian saya pikir tidak ada alasan mtuk kita tidak mencantumkannya malah menambah Jebih kuat Jagi.

Sekian Bu, terima kasih.

KETUARAPAT(PROF. DR. ASTRID

S. SUSANTO):

Terima kasih Bapak,

Tampalmya bisa ada pendekatan tidak, kalau tidak maka saya cendenms untuk menyarankan kalau bisa dipendingkan, dilobi lebih dahulu lagi antar kita maupWl disampaikan pada pihak pemerintab pada Pak Menteri, yang lain terhadap fraksi-.fraksi.

Jadi pertama lobi dahulu, kita pendingkan sampai besok, lobi jangan sekarang dadulu, skornya habis waktunya Pak, pekerjaan banyak, kita pending dahulu nanti kita pikir yang lain, dapat disetujui ini

FI'NIIPOLRI (PRAYOOO, S.IP):

SaranBu,

Lobi baraogkali bisa satu bisajuga menunggu yang lain sebagai antisipasi nauum perlu ditentukan barangkali kita sarankan lobi adalah nanti diujung penyelesaian pembahasan ini hila waktu memungkinkan diagendakan loby terhadap masalah-masalah yang memang dipendingkan.

KETUA RAP AT (PROF. DR ASTRID S. SUSANTO):

Apakah dapat disetujui, jadi seandainya masih ada yang lain dipending-pendingtam sebagian waktu

masih

kita

pergunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang pending,

terima kasih.

Dengan demikian jadi mungkin bisa diberi tanda bahwa ini pending itu bagaimana. Baiklah, maka baiklah terima kasih, maka kita dapat melanjutkan ke bagian berikutnya dengan dan seterusnya sampai anak, apakah mengenai hal ini ada pendapat-pendapat terutama yang menolak perbikan ini pak Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Memutuskan Undan,g-undan,g tentang Pengesahan ILO Convention No.l82 The Prohibition and Immediate Action for the elimination of The Worst Fonn of Child Labour (Konvensi Mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Terburuk Kerja Anak), bagi anak, untuk anak ini bagaimana dengan Bahasa Indonesia. ini ada ahli Bahasa Indonesia

46

FTNIIPOLRI (RONGGO SUNARSO, S.JP) :

Saya usul konkordan saja dengan yang tadi, masuk ke Timus karena yang dipennalabkan tinggal Bahasa Indoensia·nya saja, terima kasih.

KETUA RAP AT (PROF. DR. ASTRID S. SUSANTO) :

Jadi dapat disetujui atau ada saran barangkali Wltuk ke Timus FPG (DRS. HAJRIYANTO Y. 1HOHARI, MA) :

Dari segi bahasa tentu s~Ya rumusan disesuaikan dengan pembahasan nanti yang akan dilakukan di Timus disesuaikan dengan judul yang ada didepan. AdaplDl berkenaan dengan substansi saya rasa ada beberapa masalah yang perlu kita diskusikan sebelmn kita memutuskan untuk menetapkan hal ini.

Saya rasa ada beberapa hal yang mesti kita diskusikan karena dengan menetapkan ratifikasi tentang konvensi ILO ini dalam satu tarikan napas kita menyetujui banyak hal yang sebetulnya secara substansial itu masih memerlukan diskusi diantara kita sekalian.

Yang pertama tentu saja berkenaan dengan umur, sebagajmana dijelaslam. pada konvensi No. 183 tersebut bahwa yang dimaksud dengan anak itu bearti semua orang yang berusia dibawah 18 tahun.

Saya rasa ini memerlukan pengkajian yang mendalam pada kalangan kita, karena saya rasa ada perbedaan-perbedaan yang sangat fimdamental antar berbagai negara karena isi dari ratifikasi ini, saya rasa memiliki implikasi yang sangat serius dan sungguh-sun88ub untuk perlu juga dikaji secara serius dan sungguh-sungguh pula, tidak cukup hanya kita dengan ban,gga mengatakan bahwa kita meratifikasi konvensi ini dengan demikian kita akan menjadi negara pertama di kawasan Asia Pasifik dan tennasuk negara ke 9 didunia yang meratifikasi konvensi ini.

Usia 18 TahlDl saya rasa bagi kita sekalian bangsa Indonesia memiliki perbedaan dengan usia 18 tahun di negara-negara yang lain terutama di negara-negara barat.Apakah tidak mungkin kalau dalam konvensi No. 138 itu dibuka kemungkinan wtuk menurunkan usia yang diputuskan dalam konvensi dari 15 tahWl menjadi 14 talnm dengan syarat segera memberiksn laporan kepada 1LO.

KETIJA RAP AT (PROF. DR. ASTRID S. SUSANTO) : Moat Saudara, ini barangkali dihalaman 2, ya?

FPG (DRS. IIAJRIY ANTO Y. THOHARI, MA) : Ya,

KETIJA RAP AT (PROF. DR. ASTRID S. SUSANTO) : Ya. .. , belmnjangan dulu, ini mengenai ini dulu

47

Maka saya tadi mengatakan dalam satu tarikan napas dan Ibu minta untuk dilBIUutkan, terima kasih.

KETUA RAP AT (PROF. DR ASTRID S. SUSANTO) :

· Jadi itu harus kita perhatikan nanti pada waktu hal~ 2, terima kasih, kalau tidak ada ini kita Timuskan.

Sekarang pasall, Mengesahkan

n.o

Convention No.182 concerning The Prohibition And Immediate Action For The Elimination Of The Worst Forms Of Child Labour, saya tidak tabu ini huruf-huru.&ya tadi itu nnmgkin harus dibuat sama dengan tadi ada huruf besar, huruf kecil, saya kira itu perlu disesuaikan Bahasa Inggris-nya juga judulnya konvensi mengenai dan seterusnya, Timus juga

yans

naskah aslinya dalam Bahasa Jnggris dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia sebagaimana terlampir merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-undang ini. Apakah ada pendpat-pendapat terbadap masalah ini, karena tidak ada ke Timus juga

FPKB (R AMRU AL·MUTASHIM, SHMM) :

Tadi ada usul dari Fraksi Golkar, kalau

kita

meratifikasi sebuah konvensi, saya rasa ini diperdebatkan disini Bu, tadi dia usu1 ternan dari FPG tadi, apakah boleh menawar soal, karena kalau kita mengesahkan ini menurut saya kalau kita sudah mengesabkan jadi tidak perlu ada ta&ir, ini saya kira. diberi kesempatan dan kalau saya boleb ngomong memasuki masalah saya ingin memasuki. Jadi kita sebelwn mengesahkan pennasalahan ini yang harus kita perdebatkan, kalau ini saya diberi kesempatan membahas.

KETIJA RAP AT (PROF. DR. ASTRID S. SUSANTO):

Saya kira kita ini saja dulu Pale, ini ada intro fomal begitu ya Pale, kata-katanya nanti, mak:oanya kan ada disini, didalamnya, dalam rancangan Penjelasan atas Undang-undang ini.

Jadi

kalau bisa disetujui sementara ini kan hanya resmi-resminya Pak. Terim kasib

PEMERJNTAH:

Ini ada saran dari teman-teman, ada kata ''yang naskah aslinya'' bahwa naskah asJinya sebenamya tidak ada pada kita, ada di Geneva, sebingga disarankan WJtuk ditambah

"yang

salinan naskah asJinya daJam Bahasaln8gris". Jadi saJinan naskah aslinya ada, terimakasib.

KETUARAPAT(PROF. DR. ASTRID S. SUSANTO):

Jadi kalau begitu kita masukkan istilah "yang salinan

naskah"

setelah kata

"yang'

kalimat ketiga dari bawah sebelum kata "naskah", menjadi

'tyang

salinan naskah aslinya daliun bahasa Inggris dan

Jadi kalau begitu kita masukkan istilah "yang salinan

naskah"

setelah kata

"yang'

kalimat ketiga dari bawah sebelum kata "naskah", menjadi

'tyang

salinan naskah aslinya daliun bahasa Inggris dan

Dokumen terkait