Risiko likuiditas adalah risiko yang disebabkan antara lain oleh ketidakmampuan Perusahaan dalam memenuhi liabilitas yang telah jatuh tempo dan menutup posisi di pasar. Risiko likuiditas merupakan risiko yang terpenting pada Perusahaan umum dan perlu dikelola secara berkesinambungan.
Pemantauan terhadap likuiditas Perusahaan dilakukan secara harian dan sebagai bagian dari sistem informasi manajemen hasil pemantauan tersebut dilaporkan kepada Manajemen. Pemantauan antara lain dilakukan terhadap komposisi posisi keuangan Perusahaan, aktivitas dana keluar dan dana masuk yang tercermin dari transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) dan Sistem Kliring Nasional (SKN), aktivitas money market, posisi aset likuid baik primer maupun sekunder, serta rasio-rasio likuiditas seperti rasio kecukupan aset likuid dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM). Pemantauan terhadap pemenuhan Giro Wajib Minimum baik primer maupun sekunder dilakukan untuk memastikan bahwa Perusahaan selalu menjaga GWM sesuai yang telah ditentukan oleh OJK.
Pengelolaan likuiditas Perusahaan juga dilakukan dengan mempelajari pola pergerakan dana dan atau perilaku nasabah Dana Pihak Ketiga, khususnya dana nasabah inti dan nasabah yang memiliki tingkat volatilitas cukup tinggi. Dengan mempelajari perilaku nasabah, maka Perusahaan dapat menjaga kecukupan likuiditas yang diperlukan secara tepat untuk menutup kebutuhan tersebut. Perusahaan menjaga kecukupan secondary reserves pada level yang aman dengan besaran kecukupan disesuaikan dengan kondisi likuiditas Perusahaan secara spesifik maupun kondisi likuiditas di pasar.
Perusahaan senantiasa melakukan pemantauan terhadap posisi core fund dan berupaya untuk secara berkesinambungan meningkatkan persentase terhadap jumlah dana yang dimiliki. Core fund menjadi bagian yang sangat penting bagi Perusahaan dalam menjalankan fungsi intermediasi berupa penyediaan dana jangka panjang. Hal ini mengingat portofolio dana pihak ketiga yang dimiliki Perusahaan sebagian besar berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan dana mengendap antara lain diciptakan program-program yang mengharuskan dana nasabah ditahan dan tidak dapat ditarik sampai jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan program.
Asset and Liability Committee (ALCO) berperan sebagai forum manajemen senior tertinggi
untuk memonitor situasi likuiditas Perusahaan. ALCO bertanggung jawab untuk menentukan kebijakan dan strategi yang berkaitan dengan aset dan liabilitas Perusahaan sejalan dengan prinsip kehati-hatian manajemen risiko dan peraturan yang berlaku. ALCO menyetujui kerangka limit transaksi, mempertimbangkan struktur laporan posisi keuangan jangka panjang dari Perusahaan.
Pada dasarnya, risiko likuiditas dikelola sesuai dengan kerangka kebijakan, pengawasan, dan batasan yang memastikan bahwa konsentrasi pendanaan bersifat minimal, sumber dan jangka waktu pendanaan telah terdiversifikasi.
Berikut adalah jadwal jatuh tempo liabilitas keuangan (termasuk simpanan dan simpanan dari bank lain berdasarkan prinsip syariah) dan dana syirkah temporer berdasarkan pembayaran kontraktual pada tanggal 31 Maret 2021 dan 31 Desember 2020:
Sampai > 1 bulan > 3 bulan
dengan s.d. s.d. Biaya
1 bulan 3 bulan 6 bulan > 6 bulan Jumlah transaksi Nilai Tercatat
Liabilitas
Liabilitas segera 164.031 - - - 164.031 - 164.031
Simpanan 33.197.357 1.633.619 630.765 471.378 35.933.119 - 35.933.119
Simpanan dari bank lain 59.599 1.700 - - 61.299 - 61.299
Liabilitas akseptasi - 194.202 23.642 - 217.844 - 217.844
Beban yang masih harus
dibayar 38.230 - - - 38.230 - 38.230
Liabilitas lain-lain 45.540 - - - 45.540 - 45.540
Jumlah Liabilitas 33.504.757 1.829.521 654.407 471.378 36.460.063 - 36.460.063
Dana Syirkah Temporer
Simpanan 3.615.044 1.408.605 144.754 339.381 5.507.784 - 5.507.784
Simpanan dari bank lain 1.639 - - - 1.639 - 1.639
Jumlah Dana Syirkah
Temporer 3.616.683 1.408.605 144.754 339.381 5.509.423 - 5.509.423
Sampai > 1 bulan > 3 bulan
dengan s.d. s.d. Biaya
1 bulan 3 bulan 6 bulan > 6 bulan Jumlah transaksi Nilai Tercatat Liabilitas
Liabilitas segera 193.249 - - - 193.249 - 193.249 Simpanan 28.516.975 1.489.826 377.133 379.982 30.763.916 - 30.763.916 Simpanan dari bank lain 58.398 600 2.200 - 61.198 - 61.198 Liabilitas akseptasi 74.983 41.122 37.512 - 153.617 - 153.617 Beban yang masih harus
dibayar 41.183 - - - 41.183 - 41.183 Liabilitas lain-lain 47.610 - - - 47.610 - 47.610 Jumlah Liabilitas 28.932.398 1.531.548 416.845 379.982 31.260.773 - 31.260.773 Dana Syirkah Temporer
Simpanan 4.204.912 1.238.823 201.538 346.366 5.992.639 - 5.992.639 Simpanan dari bank lain 4.641 - - - 4.641 - 4.641 Jumlah Dana Syirkah
Temporer 4.209.553 1.238.823 201.538 346.366 5.997.280 - 5.997.280 31 Desember 2020
Sebagian besar liabilitas yang dimiliki oleh Perusahaan akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 bulan, namun berdasarkan pengalaman Bank sebagian besar dari liabilitas tersebut pada saat jatuh tempo akan diperpanjang (roll over). Upaya yang dilakukan Perusahaan agar nasabah tetap mempertahankan dananya pada Perusahaan yaitu dengan meningkatkan kualitas pelayanan serta memberikan penawaran suku bunga yang wajar dan kompetitif. Dengan upaya tersebut, Perusahaan juga mengharapkan dapat menarik nasabah baru untuk menempatkan dananya pada Perusahaan. Perusahaan juga melakukan upaya lain untuk memitigasi adanya penarikan dana secara besar-besaran oleh nasabah dimana Perusahaan juga memantau 50 deposan inti, dengan cara mengevaluasi profil dan perilaku dari deposan-deposan tersebut sehingga Perusahaan dapat melakukan antisipasi terhadap penarikan dana besar yang akan dilakukan deposan.
Untuk mengetahui dampak perubahan faktor pasar maupun faktor internal pada kondisi ekstrim terhadap likuiditas, Perusahaan melakukan stress testing Risiko Likuiditas secara berkala. Hasil stress testing selanjutnya disampaikan kepada manajemen. Sampai dengan saat ini, Perusahaan tidak pernah mengalami kesulitan likuiditas maupun kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko bagi Perusahaan. Apabila terdapat potensi risiko, Perusahaan telah memiliki Rencana Pendanaan Darurat (Contingency Funding Plan) untuk menghindari terjadinya kesulitan likuiditas. Perusahaan memiliki sejumlah upaya antisipasi seperti ketersediaan Giro Wajib Minimum, Cadangan Sekunder, serta penetrasi yang baik terhadap pasar antar Perusahaan.
4. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional Perusahaan.
Risiko operasional dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. Risiko operasional juga dapat melekat pada setiap aktivitas fungsional Perusahaan, seperti kegiatan perkreditan (penyediaan dana), treasuri dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, Teknologi Sistem Informasi dan Sistem Informasi Manajemen, serta pengelolaan sumber daya manusia.
Kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pengelolaan risiko operasional di Perusahaan senantiasa disusun, dikaji ulang dan disempurnakan untuk memastikan kecukupan mekanisme kontrol pada semua kebijakan dan prosedur telah memadai. Perusahaan juga secara aktif melakukan sosialisasi untuk membangun budaya sadar risiko dan meningkatkan kualitas kontrol dalam rangka mitigasi risiko operasional.
Perusahaan mulai mengembangkan dan menerapkan beberapa sistem dan perangkat risiko operasional. Perangkat risiko operasional tersebut digunakan untuk mengukur potensi risiko pada kondisi sekarang, lampau (historis) dan untuk mengukur besarnya potensi kejadian risiko di masa depan. Dengan adanya pendekatan ini, diharapkan Perusahaan dapat lebih komprehensif dalam mengelola risiko operasional.
Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko operasional diperbaiki antara lain dengan pemberian training kepada karyawan dengan jabatan dimulai dari staff sampai dengan pejabat eksekutif untuk meningkatkan kualitas dalam hal terkait aktivitas operasional, review terhadap kebijakan/prosedur operasional, penerbitan produk dan/atau aktivitas Perusahaan serta opini dari Direktur Kepatuhan dan Direktur Manajemen Risiko terkait penerbitan produk dan/atau aktivitas tersebut.
Untuk mengelola risiko operasional, Perusahaan mengembangkan beberapa perangkat sebagai berikut:
Loss Event Database (LED)
Bank membangun dan mengembangkan perangkat risiko operasional Loss Event
Database (LED) yang bertujuan untuk menyusun database kejadian-kejadian yang terjadi
sebagai akibat risiko operasional serta mencatat besarnya kerugian yang diakibatkan oleh kejadian operasional tersebut. Monitoring dilakukan secara terus menerus dan pelaporan LED dilakukan secara berkala.
Risk Control Self Assessment (RCSA)
Risk Control Self Assessment (RCSA) merupakan merupakan suatu alat dan mekanisme
yang bertujuan untuk melakukan identifikasi risiko dan pengukuran atas efektivitas pelaksanaan kontrol yang akan menghasilkan penilaian atas tingkat risiko. RCSA dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, serta dilakukan peninjauan oleh RMG untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaannya.
Key Risk Indicator (KRI)
Key Risk Indicator (KRI) adalah salah satu perangkat untuk mengelola risiko operasional
yang digunakan untuk mengidentifikasi atau memberikan suatu indikator (early warning signal) dan menganalisa risiko sejak dini atas naik turunnya indikator-indikator tingkat risiko dalam rangka pengendalian setiap risiko operasional yang melekat pada setiap aktivitas bisnis dan operasional Bank. Pelaporan KRI dilakukan secara berkala kepada pihak manajemen.
5. Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang timbul dari kelemahan aspek hukum, antara lain akibat dari tindakan hukum, tidak adanya peraturan yang mendukung atau kelemahan dari ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum, seperti kegagalan untuk mematuhi persyaratan hukum suatu perjanjian dan celah-celah dalam pengikatan jaminan.
Pelaksanaan identifikasi, pengukuran, dan pemantauan terhadap potensi risiko hukum dilaksanakan terhadap seluruh aktivitas Perusahaan, terutama kegiatan operasional Perusahaan dengan melibatkan pihak ketiga yang memiliki potensi benturan kepentingan atau gugatan hukum.
Dalam rangka memitigasi terjadinya potensi risiko hukum, maka Perusahaan melakukan hal-hal antara lain sebagai berikut: melakukan kajian terhadap kesesuaian perjanjian kerjasama dengan pihak eksternal, menyempurnakan kebijakan dan prosedur sebagai bagian dari mitigasi risiko hukum.
Dalam upaya pemantauan atas penyelesaian perkara hukum yang ada di Pengadilan maupun Pihak Kepolisian dilakukan pendampingan ataupun hadir dalam setiap persidangan atau panggilan kepolisian melalui fungsi Department Litigasi pada Unit Kerja Legal.
6. Risiko Strategis
Risiko stratejik adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan dan pelaksanaan strategi Perusahaan yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya Perusahaan terhadap perubahan eksternal.
Perusahaan telah menyusun strategi dan rencana bisnis yang sebelumnya telah didiskusikan dengan Dewan Komisaris, Direksi serta seluruh manajemen Perusahaan. Perusahaan juga melakukan kajian dan evaluasi stratejik bisnis serta realisasi yang telah dicapai oleh Perusahaan sesuai dengan yang terangkum dalam Rencana Bisnis Perusahaan.
Secara umum, untuk posisi 31 Maret 2021, pos-pos keuangan sudah mencapai realisasi yang baik seperti Total Aset, Surat Berharga, Dana Pihak Ketiga serta Laba Bersih. Secara bertahap juga secara berkesinambungan dilakukan penyempurnaan pada seluruh proses aktivitas bisnis Perusahaan untuk lebih mengakselerasi pencapaian kinerja sesuai dengan target yang ditentukan.
Terkait dengan kondisi Pandemi Covid 19 yang masih dialami pada Triwulan I-Maret 2021, Perusahaan tetap melakukan sejumlah strategi dalam rangka mempertahankan kinerja Perusahaan seperti mengambil langkah antisipatif penyebaran virus di lingkungan kantor dengan melakukan split operation unit critical, work from home, dan tindakan pencegahan lainnya. Dari sisi bisnis, Perusahaan juga selalu menjaga prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan pemberian kredit secara lebih selektif, adanya pelaksanaan restrukturisasi serta menjaga likuiditas dan permodalan Perusahaan pada level yang memadai sehingga aktivitas operasional & bisnis Perusahaan dapat berjalan dengan lancar.
7. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan Perusahaan tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku, seperti Posisi Devisa Neto (PDN), Giro Wajib Minimum (GWM), Ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).
Dalam rangka menerapkan manajemen risiko kepatuhan yang efektif, Perusahaan telah melakukan identifikasi dan pengelolaan terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya eksposur risiko kepatuhan, yaitu :
Meningkatkan kesadaran atas budaya patuh melalui program kampanye kepatuhan (Compliance Campaign) yang dilakukan ke seluruh jajaran organisasi Perusahaan termasuk jaringan cabang melalui pelatihan kelas dan E-Learning, media komunikasi internal, sosialisasi peraturan baru dari regulator maupun Peraturan perundang-undangan lainnya. Evaluasi terhadap program pelatihan, sosialisasi dan kampanye kepatuhan dilakukan secara berkala untuk memastikan efektifitas penyampaian, pemahaman serta pemenuhan kepatuhan pada seluruh jajaran organisasi Perusahaan. Menyusun dan menerbitkan Manual Level sebagai panduan hirarki ketentuan internal
serta panduan unit-unit kerja Perusahaan dalam menyusun, menerbitkan serta mereview ketentuan internal.
Dilakukan proses review terhadap seluruh ketentuan internal Perusahaan untuk memastikan kesesuaian dengan ketentuan regulator yang terkini, memastikan tidak adanya ketentuan yang tumpang tindih atau saling bertentangan, meningkatkan kontrol risiko serta simplifikasi proses dan jumlah aturan.
Melakukan pemantauan, memperdalam analisa dampak serta menyusun tindak lanjut yang efektif atas peraturan baru yang diterbitkan OJK, Perusahaan Indonesia dan regulator lainnya. Sosialisasi dan komunikasi atas peraturan perundang-undangan baru, analisa dampak serta tindak lanjut dilakukan baik melalui pertemuan langsung dengan unit-unit terkait maupun melalui media komunikasi internal yang disampaikan ke jajaran direksi, komisaris, pejabat eksekutif, karyawan pimpinan maupun seluruh karyawan Perusahaan.
8. Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha Perusahaan atau persepsi negatif terhadap Perusahaan.
Salah satu upaya yang dilakukan Perusahaan untuk meningkatkan pengelolaan risiko reputasi antara lain melalui Contact Center untuk memberikan layanan informasi perbankan serta menerima keluhan/pengaduan nasabah, Corporate Secretary yang memberikan informasi yang perlu disampaikan kepada publik/stakeholders terkait aktivitas Perusahaan, serta petugas di kantor-kantor cabang yang setiap saat dapat memberikan informasi kepada nasabah.
Selain itu pengendalian risiko reputasi juga dilakukan antara lain dengan melalui pemantauan yang dilakukan oleh Unit Kerja Corporate Secretary terhadap berita yang berkaitan dengan Perusahaan di media massa.
Transparansi produk yang ditawarkan kepada nasabah sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia mengenai Transparansi produk melalui website Perusahaan, serta upaya peningkatkan standar layanan nasabah dengan melakukan service excellence training kepada para petugas, adanya unit kerja Service Quality (SQ) yang bertugas untuk memastikan kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas bank kepada nasabah serta terdapatnya Quality Assurance pada unit kerja Contact Center untuk memastikan kualitas pelayanan dari Agent Call Center maupun Agent Telemarketing.
Mengingat bahwa Perusahaan juga memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) maka pengelolaan risiko tidak hanya dilakukan pada 8 (delapan) risiko, akan tetapi terdapat tambahan 2 (dua) jenis risiko lainnya yang dikelola yaitu:
1. Risiko Investasi
Risiko Investasi adalah Risiko akibat Perusahaan ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis bagi hasil baik yang menggunakan metode net
revenue sharing maupun yang menggunakan metode profit and loss sharing.
Risiko investasi UUS Sinarmas telah dilakukan pengelolaan secara cukup baik. UUS juga terus meningkatkan proses pengelolaan dalam pembiayaan terutama pada proses analisa pembiayaan, pemantauan, dan sistem administrasi pembiayaan UUS.
2. Risiko Imbal Hasil
Risiko imbal hasil (Rate of Return Risk) adalah Risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan Perusahaan kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima Perusahaan dari penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga Perusahaan. Pengelolaan risiko imbal hasil UUS Sinarmas telah dikelola secara baik. UUS juga terus berupaya untuk semakin meningkatkan kemampuan dalam memberikan tingkat imbal hasil sesuai dengan ekspektasi nasabah.
Selain itu, Perusahaan juga merupakan Entitas Utama (EU) dalam Konglomerasi Keuangan Sinar Mas. Pengelolaan risiko oleh EU dalam konglomerasi keuangan dilakukan dengan menambahkan risiko lain selain 8 (delapan) risiko utama yaitu berupa Risiko Transaksi Intra grup & Risiko Asuransi.
Risiko Transaksi Intra grup adalah Risiko akibat ketergantungan suatu entitas baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap entitas lainnya dalam satu Konglomerasi Keuangan dalam rangka pemenuhan kewajiban perjanjian tertulis maupun perjanjian tidak tertulis baik yang diikuti perpindahan dana dan/atau tidak diikuti perpindahan dana. Dalam pengelolaan transaksi intragrup tersebut Perusahaan selalu mengedepankan prinsip-prinsip antara lain seperti adanya persetujuan untuk setiap transaksi sesuai dengan kewenangan di masing-masing entitas, transaksi dilaksanakan sesuai prinsip kehati-hatian dan prinsip arm lenght serta sesuai dengan prosedur maupun ketentuan regulator.
Risiko Asuransi adalah risiko akibat kegagalan Perusahaan asuransi memenuhi kewajiban kepada pemegang polis sebagai akibat dari ketidakcukupan proses seleksi Risiko (underwriting), penetapan premi (pricing), penggunaan reasuransi, dan/atau penanganan klaim. Risiko Asuransi dikelola mengingat didalam konglomerasi keuangan terdapat lembaga jasa keuangan berupa Perusahaan asuransi.
Penilaian Profil Risiko
Secara berkala Perusahaan melakukan penilaian risiko terhadap kedelapan risiko diatas sebagaimana telah diatur oleh OJK. Penilaian risiko dilakukan melalui proses penilaian sendiri (self-assessment) untuk menghasilkan profil risiko yang terdiri dari risiko inheren yaitu risiko yang melekat pada aktivitas Perusahaan dan kualitas penerapan manajemen risiko yaitu pengendalian terhadap risiko inheren.
Seluruh hasil penilaian profil risiko (baik Bank maupun UUS) tersebut disampaikan kepada Komite Manajemen Risiko serta Komite Pemantau Risiko, untuk kemudian disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara triwulanan.