• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERJANJIAN KERJASAMA PENGADAAN BUS

B. Risiko Pada Saat Perjanjian Kerjasama Pengadaan Bus

atau peristiwa yang menyebabkan kerugian bagi salah satu pihak sebagai bentuk yang tidak disengaja, telah diperjanjikan dalam klausula kontrak kerjasama pengadaan bus wisata, antara lain apabila terjadi kerusakan bus, kecelakaan, jaminan pelaksanaan perjanjian, dan lain sebagainya. Dan hal ini merupakan bagian dari resiko yang menjadi tanggung jawab para pihak yang ditentukan dalam Surat Perjanjian Kerjasama Pengadaan Armada Kendaraan Bus Wisata,

dengan turut serta mengikutsertakan beberapa ketentuan dalam KUH Perdata apabila belum dilakukan persetujuan atas hal itu.

Pengaturan mengenai perjanjian kerjasama tidak terdapat dalam KUH Perdata secara khusus, tetapi diatur secara umum sehingga untuk mendapatkan pedoman pengaturannya dapat dilakukan melalui perbandingan atas perjanjian kerjasama yang dimaksud terhadap perjanjian yang memiliki nama tertentu dalam KUH perdata.

Surat perjanjian pengadaan barang antara PT. LJM dengan P.O. Karona mengatur mengenai berbagai hak dan kewajiban berkaitan erat dengan resiko yang dihadapi dalam pelaksanaan pengadaan barang, serta harus sesuai dengan yang diatur dalam pasal 32 Keppres No. 80 Tahun 2003. Hak dan kewajiban yang diatur dalam surat perjanjian tersebut antara lain:

a) Hak Pihak Pertama i) Pasal 1;

Ayat 1 : memberikan tugas pekerjaan bagi Pihak Kedua (P.O. Karona);

Ayat 2 : Menentukan spesifikasi (jenis dan volume pekerjaan); ii) Pasal 2 : Menentukan referensi pokok pekerjaan bagi Pihak Kedua,

yang tidak terpisahkan dari surat perjanjian tersebut. iii) Pasal 12;

Ayat 1 : memberi teguran pada Pihak Kedua apabila melaksanakan pekerjaan tidak sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan, serta berhak memutus kontrak secara sepihak apabila teguran tersebut tidak dihiraukan.

Ayat 2, bahwa Pihak I berhak melakukan penuntutan apabila terjadi pemutusan kontrak secara sepihak oleh Pihak pertama.

Ayat 3, bahwa Pihak I berhak melanjutkan sendiri atau memberikan pekerjaan kepada pihak ketiga atas biaya pihak II apabila terjadi perselisihan sesuai pasal 14 ayat 1 dan 2 perjanjian tersebut.

b) Hak Pihak Kedua i) Pasal 7;

Ayat 1 : menerima pembayaran dari Pihak I ke rekening Pihak II. ii) Pasal 9;

Ayat 2, bahwa Pihak II berhak untuk menerima perintah yang disetujui bersama yang berhubungan dengan penambahan atau pengurangan armada.

iii) Pasal 12;

Ayat 2, bahwa Pihak II juga berhak melakukan penuntutan apabila terjadi pemutusan kontrak secara sepihak oleh Pihak pertama.

iv)Pasal 13, bahwa Pihak II berhak menerima denda atas keterlambatan pembayaran yang dilakukan oleh Pihak Pertama dengan denda maksimum yang diterima sebesar 5 % (lima per seratus) dari kontrak.

c) Kewajiban Pihak Pertama

i) Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa Pihak Pertama wajib memberikan tugas sesuai berita acara negosiasi tanggal 16 April 2008.

ii) Pasal 4;

Ayat 1, bahwa Pihak Pertama wajib mengasuransikan unit kendaraan;

Ayat 2, bahwa Pihak Pertama wajib menjamin sepenuhnya atas unit yang disewakan kepedanya dari Pihak Kedua.

iii) Pasal 6 ayat 2, bahwa bea materai dan lain-lain yang timbul akibat berlakunya Surat Perjanjian ini dibebankan kepada Pihak Pertama. iv)Pasal 7,

Ayat 1, bahwa Pihak Pertama wajib melakukan pembayaran ke rekening Pihak Kedua

Ayat 2, bahwa Pihak Pertama melakukan pembayaran sebesar Rp. 12.000.000,00 x jumlah unit bus terkirim.

v) Pasal 9 ayat 2, bahwa Pihak Pertama wajib menegaskan dalam Surat Perintah yang berhubungan dengan penambahan atau pengurangan armada.

vi)Pasal 11;

Ayat1, bahwa Pihak Pertama bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan tenaga kerja (pengemudi dan kernet);

Ayat 2, bahwa segala biaya yang dikeluarkan akibat hal tersebut semata-mata menjadi tanggung jawab Pihak Pertama;

d) Kewajiban Pihak Kedua

i) Pasal 1 ayat 2, bahwa Pihak Kedua wajib menerima tugas, serta harus memenuhi kriteria bus yang dimaksud oleh Pihak Pertama.

ii) Pasal 2, bahwa Pihak kedua Wajib melaksanakan pekerjaan atas dasar referensi pokok yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian, yaitu:

ddd) Ketentuan-ketentuan dalam Surat Perjanjian; eee) Rencana kerja dan syarat (RKS);

fff) Time schedule harga dari Pihak Kedua;

ggg) Ketentuan-ketentuan tambahan dan atau petunjuk-petunjuk Pihak Pertama yang diberikan kepada Pihak Kedua.

iii) Pasal 3, bahwa Pihak Kedua wajib melaksanakan pekerjaan atas nama Pihak Pertama, menjaga nama baik dan ketentuan yang terkandung dalam surat perjanjian ini.

iv)Pasal 8, bahwa Pihak Kedua harus menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 2 (dua) tahun sejak ditanda-tanganinya Surat Perjanjian ini oleh kedua belah pihak;

v) Pasal 16,

Ayat 1, bahwa Pihak Kedua bertanggung jawab atas perbaikan dan biayanya apabila terbukti adanya kerusakan akibat pemakaian sebelum terjadi serah terima kendaraan tersebut kepada Pihak Pertama.

Ayat 2, bahwa Pihak Kedua bertanggung jawab terhadap surat-surat kendaraan, seperti STNK dan Pajak.

Khusus terhadap perjanjian kerjasama pengadaan bus wisata ini terdapat bentuk sewa sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 ayat 2 perjanjian kerjasama

tersebut, bahwa “Pihak Pertama menjamin sepenuhnya atas unit kendaraan yang disewakan kepada pihak Pertama”.

Dalam pengaturannya dikaitkan dengan Pasal 1553 KUH Perdata menjelaskan mengenai kemungkinan musnahnya barang yang disewa secara keseluruhan, sebagai akibat suatu kejadian yang tiba-tiba (kahar), yang tidak dapat dielakkan maka perjanjian batal demi hukum atau apabila barang musnah sebagian maka dapat dimintakan pengurangan harga sewa. Hal ini tidak tercantum secara tegas dalam Surat Perjanjian Kerjasama Pengadaan bus, tetapi diatur secara lebih luas sesuai Pasal 10 ayat 1 tentang Keadaan Kahar, yaitu “dalam hal terjadi keadaan kahar, akan diadakan pembicaraan penyelesaian antara Pihak Kesatu dan Pihak kedua, selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender terhitung sejak terjadinya keadaan kahar.

Yang secara tersirat dapat dihubungkan dengan Pasal 1553 KUH perdata menyangkut musnahnya sebagian barang berupa kerusakan ialah sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 16, yaitu “Pihak kedua bertanggung jawab atas perbaikan dan biayanya apabila dikemudian hari setelah serah terima kendaraan tersebut dalam surat perjanjian ini diserahkan kepada Pihak Kesatu terbukti adanya kerusakan akibat pemakaian sebelumnya”.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak M. L. P. Sigalingging, S.E. dari P.O. Karona selaku kepala divisi, 16 Juli 2010 mengenai resiko pada saat perjanjian pengadaan bus dilaksanakan yaitu:

hhh) Bentuk risiko yang dimaksud dalam perjanjian ini pada intinya secara tertulis mengenai kondisi bus serta jaminan kelayakan bus, tetapi lebih dititik beratkan pada keselamatan penumpang bus.

iii) Pembagian tanggung jawab atas risiko tersebut tidak pernah bermasalah, karena sampai saat ini resiko yang terjadi masih sesuai berdasarkan hal yang diperjanjikan oleh para pihak.

jjj) Bus tersebut pernah mengalami kerusakan sebelum diserahkan kepada Pihak Kesatu, tetapi unit bus tidak diserahkan, tetapi diperbaiki terlebih dahulu, lalu diuji kembali kondisinya, agar tidak bermasalah. kkk) Pembagian resiko tersebut biasanya langsung diselesaikan, tetapi

apabila dari salah satu pihak belum juga menunaikan tanggung jawabnya, pihak lain bisa menyelesaikannya terlebih dahulu lalu dikonfirmasikan melalui bukti kwitansi perbaikan atau bukti lain, karena keselamatan penumpang sangat perlu diperhatikan.

lll) Hal-hal yang dipersiapkan untuk menghindari resiko tersebut, biasanya dilakukan melalui kewajiban bagi sopir bus untuk membawa suku cadang, untuk mempermudah apabila dalam perjalanan terjadi kerusakan bus.

Dengan perkataan lain ialah Pihak Kedua hanya bertanggung jawab apabila bus mengalami kerusakan akibat pemakaian bus sebelum diserah terimakan kepada Pihak Kesatu. Dan hal ini mempertegas bahwa segala kerusakan yang tidak dapat dibuktikan oleh Pihak Pertama sebagai akibat dari pemakaian bus sebelum diserahterimakan, adalah tanggung jawab dari Pihak Pertama.

Dan untuk memperkecil risiko yang dihadapi pada saat pelaksanaan pengadaan bus, dibentuk juga jaminan pelaksanaan sebagaimana yang terdapat dalam kontrak. Jaminan pelaksanaan pengadaan bus/ jasa angkutan merupakan

salah satu syarat yang harus diserahkan sebelum dilakukan penandatanganan kontrak, hal ini diatur dalam Pasal 31 Ayat (1) Keppres No. 80 tahun 2003, bahwa, “Para pihak menandatangani kontrak selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak diterbitkannya surat keputusan penetapan penyedia barang/ jasa dan setelah penyedia barang/ jasa menyerahkan surat jaminan pelaksanaan sebesar 5% (lima persen) dari nilai kontrak kepada pengguna barang/jasa.”

Dengan kata lain, dari Rp. 864.000.000,- nilai proyek, penyedia harus menyerahkan 5% kepada pengguna jasa sebelum menandatangani kontrak, yaitu sebesar Rp. 43.200.000,- sebagai jaminan pelaksanaan kontrak.

Untuk melaksanakan sesuai dengan yang diperjanjikan oleh para pihak sebelumnya yakni PT. Bonowarido dengan Pemerintah, PT. LJM dan P.O. Karona membuat bentuk lain sebagai jaminan pelaksanaan perjanjian tersebut sesuai dengan Pasal 4 tentang Surat jaminan Pelaksanaan (Performance bond), yaitu:

Pasal 4 Ayat 1, bahwa “Pihak Kesatu diwajibkan mengasuransikan unit kendaraan/ jaminan Bank Pemerintah atau Bank/ Lembaga Keuangan lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebesar 5 % (Lima per seratus) dari nilai kontrak.”;

Pasal 4 ayat 2, bahwa “Pihak Pertama menjamin sepenuhnya atas unit kendaraan yang disewakan kepada pihak Pertama.”

Hal ini sah dan tetap tidak bertentangan dengan apa yang dipersyaratkan dalam Keppres, selama tidak mengubah substansi asli dari apa yang diperjanjikan sebelumnya terhadap penyedia bus/ jasa pengangkutan.

Dokumen terkait