Ada tiga pokok bahasan yang akan dibahas dalam Bab ini, yaitu : (1) bahasan mengenai risiko produksi yang ada pada usahaternak ayam broiler, (2) bahasan mengenai risiko harga yang ada pada usahaternak ayam broiler, dan (3) bahasan mengenai preferensi risiko peternak ayam broiler. Pokok bahasan pertama dijelaskan dari hasil estimasi fungsi produksi dan fungsi risiko pada usahaternak broiler mitra dan mandiri. Risiko produksi yang dihadapi peternak disebabkan karena penggunaan input usahaternak dapat diketahui sifat-sifat input yang digunakan dalam usahaternak, termasuk input yang bersifat risk increasing atau risk reducing/risk decreasing. Pokok bahasan kedua bagaimana risiko harga yang dihadapi peternak mitra dan mandiri. Risiko harga yang dihadapi dilihat dari nilai koefisien variasi. Pokok pembahasan yang ketiga preferensi dijelaskan dari hasil perhitungan preferensi risiko masing-masing peternak terhadap penggunaan input.
Analisis Fungsi Produksi Dan Fungsi Risiko Produksi Ayam Broiler
Analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ayam broiler dapat dijelaskan berdasarkan hasil pendugaan fungsi produksi. Model pendugaan fungsi produksi diperoleh dari nilai produksi yang dijadikan variabel dependent dan faktor-faktor produksi yang mencakup pakan, vaksin, obat, tenaga kerja, arah, pemanas, kepadatan, sekam dan jenis kandang yang dijadikan variabel independent. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan SAS versi 9.1, diperoleh hasil pendugaan fungsi produksi usahaternak ayam broiler yang dilakukan peternak di Kabupaten Bekasi yang dapat dilihat pada Tabel 9.
Berdasarkan Tabel 9 diketahui nilai R2 untuk peternak mandiri ataupun
mitra sama-sama mempunyai nilai yang tinggi. Hal ini tidak menjadi masalah karena hasil analisis data menunjukan nilai standart error yang tinggi. Menurut Koutsoyiannis (1977), menyebutkan bahwa nilai standar eror merupakan kriteria yang lebih diutamakan apabila suatu penelitian mempunyai tujuan untuk menjelaskan suatu fenomena ekonomi. Pendugaan fungsi produksi pada peternak mandiri memiliki koefisien determinasi (R2) sebesar 0.98. Nilai koefisien determinasi tersebut menunjukan bahwa sebesar 98 persen keragaman produksi ayam broiler yang dihasilkan peternak mandiri dapat dijelaskan secara bersama- sama oleh penggunaan pakan, vaksin, obat, tenaga kerja, pengaruh arah, pengaruh pemanas batubara, kepadatan, sekam dan pengaruh jenis kandang, sedangkan 2 persen keragaman produksi ayam broiler dijelaskan oleh variabel lain yang terdapat diluar model. Pada peternak mitra memiliki koefisien determinasi (R2) sebesar 0.99 persen. Dimana artinya 99 persen keragaman produksi ayam broiler peternak mitra dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh variabel pakan, vaksin, obat, tenaga kerja dan kepadatan, sedangkan 1 persen keragaman dijelaskan variabel lain yang terdapat diluar model.
Berdasarkan hasil perhitungan , pendugaan fungsi risiko ayam broiler memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.62. Nilai koefisien determinasi tersebut menunjukan bahwa sebesar 62 persen keragaman risiko ayam broiler yang dihasilkan peternak mandiri dapat dijelaskan secara bersama-sama. Sedangkan 38 persen keragaman risiko produksi ayam broiler dijelaskan oleh berbagai variabel yang terdapat diluar model. Pada peternak mitra pendugaan fungsi risiko ayam broiler mempunyai nilai koefisien determinasi sebesar 0.33. Nilai koefisien ini menunjukkan bahwa 33 persen keragaman risiko ayam broiler yang dihasilkan oleh peternak mitra dapat dijelaskan secara bersama-sama. Sedangkan 67 persen keragaman risiko dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Faktor-faktor produksi yang menjadi variabel dalam model merupakan faktor-faktor produksi yang diduga berpengaruh terhadap fungsi produksi dan faktor fungsi risiko ayam broiler yang dihasilkan. Namun berdasarkan hasil pendugaan fungsi produksi yang diperoleh dari perhitungan software, diketahui bahwa terdapat faktor-faktor produksi dan faktor risiko yang tidak berpengaruh nyata pada taraf 20 persen. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata adalah pakan dan sekam pada peternak mandiri, sedangkan pakan, vaksin, dan kepadatan pada peternak mitra yang memiliki nilai signifikan atau p-value kurang dari 0.2. Faktor produksi yang berpengaruh nyata menunjukkan adanya pengaruh terhadap nilai produksi jika dilakukan penambahan atau pengurangan jumlah penggunaan faktor produksi tersebut.
Berdasarkan jumlah nilai parameter yang menunjukkan elastisitas produksi, sebesar 1.09 untuk peternak mitra, menunjukkan bahwa nilai model produksi berada pada daerah I yaitu daerah increasing return to scale. Pada daerah ini, penambahan input masih terbuka untuk ditingkat karena marginal product masih lebih besar daripada average product. Kondisi optimal tidak akan dapat dicapai jika kondisi produksi pada daerah I. Pada peternak mitra nilai elastisitas produksinya adalah 0.97, menunjukkan bahwa nilai model berada pada daerah constant return to scale. Jika terjadi penggunaan input produksi mengalami satu persen secara proporsional akan mengalami peningkatan sebesar 0.97.
Suatu faktor produksi bisa dikategorikan sebagai faktor yang dapat menimbulkan risiko dan faktor yang dapat mengurangi risiko. Menurut Fariyanti (2008), untuk memudahkan pengertian mengenai faktor yang dapat menimbulkan atau mengurai risiko dapat dilihat dari kegiatan produksi di lapang. Sebagai contoh penggunaan faktor produksi seperti pupuk baik itu pupuk organik maupun pupuk anorganik pada umumnya sudah ditentukan jumlah standar penggunaannya. Jika penggunaannya dikurangi atau melebihi batas standar penggunaannya maka dimungkinkan menurunkan nilai produksi. Berbeda dengan penggunaan obat-obatan yang tidak ada standarnya. Obat-obatan digunakan jika ada hama atau penyakit yang menyerang ayam broiler, tetapi jika tidak ada gejala serangan, maka pemberian obat tidak perlu digunakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa obat-obatan membuat produksi stabil sehingga termasuk dalam faktor produksi yang dapat mengurangi risiko.
Tabel 9. Hasil estimasi fungsi produksi dan fungsi risiko peternak mandiri dan peternak mitra di Kabupaten Bekasi tahun 2015
Sumber : Data primer 2015 (diolah)
Berdasarkan Tabel 9, pakan merupakan faktor yang paling responsif terhadap produksi ayam broiler, baik pada peternak mandiri ataupun peternak mitra. Nilai koefisien pakan berpengaruh positif dan nyata terhadap produksi ayam broiler pada taraf nyata satu persen dengan nilai sebesar 0.78 pada peternak mandiri, sedangkan pada peternak mitra sebesar 0.72. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan jumlah pemberian pakan (dimana input lainnya tetap) masih dapat meningkatkan produksi ayam broiler. Variabel pakan merupakan variabel yang paling responsif dibandingkan dengan variabel lainnya karena memiliki nilai koefisien paling tinggi. Hasil temuan ini sesuai dengan penelitian Udoh dan Etim (2009), Ohajianya et al. (2013), Ezeh et al. (2013), Ali dan Riaz. (2014) yang menyatakan bahwa pakan berpengaruh positif dan nyata terhadap produksi ayam broiler. Jumlah pakan rata-rata yang digunakan peternak mandiri adalah 1.87 kg per ekor untuk menjadi ayam dengan bobot 1.44 kg per ekor. Pada peternak mitra pakan yang digunakan rata-rata adalah 2.21 kg per ekor untuk menjadi ayam dengan bobot 1.56 kg per ekor.
Pakan ini merupakan faktor utama ayam broiler karena menempati proporsi biaya terbesar dari biaya total produksi, sebagaimana sudah disampaikan Variabel Koef Sd. Error Prob> I
t I
Koef Sd. Error Prob >I t I
Mandiri Mitra Fungsi Produksi Konstanta -1.096 0.404 0.0117 3.206 0.157 <.0001 Pakan 0.787 0.092 <.0001a 0.722 0.041 <.0001a Vaksin 0.003 0.015 0.8200 0.125 0.022 <.0001a Obat 0.035 0.025 0.1711 0.010 0.020 0.611 TK 0.111 0.090 0.2236 -0.031 0.04 0.455 Arah 0.031 0.050 0.5318 - - - Pemanas -0.070 0.058 0.2347 - - - Kepadatan -0.030 0.092 0.7488 0.148 0.076 0.061b Sekam 0.184 0.073 0.0182b - - - R2 = 0.9795 R2 = 0.9915 Mandiri Mitra Fungsi Risiko Konstanta 0.018 4.625 0.9970 -2.195 6.106 0.7215 Pakan -2.005 1.053 0.0681c -0.450 1.041 0.6685 Vaksin 0.564 0.175 0.0034a -2.463 0.674 0.0009a Obat -0.397 0.282 0.1712 0.066 0.599 0.9122 TK 1.761 1.019 0.0961c 3.616 1.210 0.0053a Arah -0.150 0.570 0.7955 - - - Pemanas 0.090 0.665 0.8945 - - - Kepadatan -1.251 1.058 0.2478 2.584 2.351 0.2797 Sekam 1.299 0.835 0.1318d - - R2 = 0.6198 R2= 0.3276
sebelumnya. Pakan memegang peranan penting dalam pembesaran atau penggemukan ayam broiler. Pasalnya, pakanlah yang menentukan pertambahan bobot ayam broiler (Fadillah 2013). Indikator penggunaan pakan terhadap bobot panen adalah Feed Convertion Ratio (FCR). FCR merupakan salah satu indikator kinerja usahaternak ayam broiler; semakin rendah FCR semakin baik kinerja usahaternak, sebaliknya semakin tinggi FCR semakin jelek kinerja usahaternak tersebut (Sehabudin, 2014). FCR merupakan ukuran terbaik untuk mengkonversi jumlah pakan yang digunakan menjadi daging.
Vaksin yang digunakan dalam usahaternak ayam broiler berpengaruh positif terhadap produksi walaupun tidak signifikan dengan nilai koefisien sebesar 0.003. Lain halnya dengan yang terjadi pada peternak mitra, vaksin berpengaruh positif dan nyata pada taraf satu persen dengan nilai koefisien sebesar 0.12. Banyaknya jumlah vaksin yang digunakan tergantung dari banyak DOC yang diproduksi. Vaksin tersebut berbentuk botol (vial) dengan ukuran bermacam- macam. Peternak paling sering menggunakan vaksin dengan ukuran 1000 dosis. Vaksin tersebut biasanya disimpan terlebih dahulu didalam ruangan dingin. Apabila vaksin tersebut sudah digunakan dan berlebih maka harus segera dibuang(dimusnahkan). Karena vaksin tersebut hanya bisa bertahan selama 2 jam. Vaksin tidak signifikan terhadap produktivitas diduga karena beberapa faktor, dalam pemberian vaksin perlu beberapa hal yang harus diperhatikan seperti jenis vaksin yang digunakan, takaran/dosis vaksin yang digunakan, jadwal vaksinasi, waktu pemberian vaksin, serta penyimpanan vaksin. Kesemua tersebut dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan fungsi dari vaksin. Selain itu juga variabel ini hanya digunakan sebagai antibodi/kekebalan tubuh agara ayam tidak mudah terserang penyakit sehingga tidak merangsang meningkatkan produktivitas (Nugraha 2011). Menurut Sehabudin (2014), vaksin merupakan faktor yang sangat mempengaruhi suatu usahaternak ayam broiler.
Kepadatan pada usahaternak ayam broiler peternak mandiri berpengaruh negatif terhadap produksi sebesar -0.0299 tetapi tidak signifikan. Hal tersebut karena kepadatan kandang melebihi batas maksimum terhadap produksi, artinya setiap peningkatan ayam per m2 akan menurunkan produksi. Semakin padat
kandang, akan cenderung meningkatkan konsumsi air sehingga konsumsi pakan berkurang, pertumbuhan terhambat, dan meningkatnya kanibalisme. Selain itu semakin berat bobot ayam maka suasana kandang akan semakin panas sehingga menyebabkan kekurangan oksigen dan juga mengakibatkan konsumsi pakan akan berkurang. Sedangkan pada peternak mitra, kepadatan berpengaruh positif terhadap produksi dan signifikan pada taraf nyata sepuluh persen. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, peternak mitra rata-rata menggunakan kandang dengan sistem kandang terbuka, tetapi ada juga beberapa kandang yang merupakan kandang postal bertingkat. Sistem perkandangan peternak mitra sudah lebih baik jika dibandingkan dengan peternak mandiri, karena memiliki ventilasi yang baik, kandang menghadap Barat Timur sehingga panas matahari pagi masuk ke dalam kandang. Oleh karena itu dengan sistem manajemen yang lebih baik dimungkinkan kepadatan kandang dapat ditingkatkan. Menurut Fadilah (2013), kepadatan sangat erat hubungannya dengan sirkulasi udara. Kepadatan kandang pada peternakan mandiri rata-rata berkisar antara 10 ekor/m2 sampai 15 ekor/m2. Sedangkan kepadatan peternak mitra rata0rata berkisar antara 8 ekor/m2 sampai
13 ekor/m2. Menurut Rasyaf (2007), kepadatan ayam pada kandang terbuka antara
8-10 ekor/m2, sedangkan untuk kandang tertutup maksimal 14 ekor/m2.
Sekam pada usahaternak ayam broiler peternak mandiri berpengaruh positif dan signifikan pada taraf lima persen. Setiap penambahan 1 persen sekam, akan meningkatkan produksi sebesar 0.183 persen. Menurut Fadilah (2013), umumnya sekam ditebar dengan ketebalan kurang lebih 5-8 cm. Menurut Mulyantyini (2011) dan Suharno (2012) umumnya sekam ditebar dengan ketebalan kurang lebih 8-10 cm. Sekam ini berfungsi sebagai penghangat saat DOC masuk dan membuat DOC nyaman berada di kandang. Sekam memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap kenyamana kandang yang pada akhirnya akan mempengaruhi konsumsi pakan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat konsumsi pakan ayam broiler adalah kesehatan ayam dan kondisi lingkungan yang diwujudkan dengan kondisi kandang yang nyaman (Nugraha 2011). Menurut Reed dan McCartney (1970), sekam paling banyak digunakan untuk alas kandang karena mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: dapat menyerap air dengan baik, bebas debu, kering, mempunyai kepadatan yang baik, dan dapat memberi kehangatan kandang.
Pada fungsi risiko, input pakan pada peternak mandiri merupakan risk reducing atau bersifat mengurangi risiko dan nyata pada taraf sepuluh persen, sedangkan pada peternak mitra input pakan tidak signifikan. Penggunaan pakan ini mampu menekan risiko produksi. Artinya penggunaan pakan mampu menurunkan risiko atau variasi hasil yang dicapai. Jika pemakaian input pakan ditambah akan berdampak pada penurunan risiko produksi. Variasi produksi yang dicapai bisa berkurang apabila dilakukan pemberian pakan dengan baik. Menurut Rahardi dan Hartono (2003), pemberian pakan harus dilakukan secara teratur dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan karena jika kelebihan atau kekurangan akan berdampak kurang baik pada pertumbuhan ternak. Dengan pakan ditambah maka bobot ayam broiler akan semakin meningkat, sehingga produksi ayam juga akan meningkat. Peternak mandiri akan lebih efektif dalam pemberian pakan. Hal tersebut karena peternak mandiri cenderung lebih mensetting habis dalam pemberian pakan. Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa peternak mandiri cenderung bersikap risk averse terhadap penggunaan input pakan, dimana peternak madiri takut akan gagal panen pada usahaternak ayam broiler. Juga peternak lebih efisien karena pakan harganya cukup mahal, jadi peternak mandiri akan berhati-hati dalam menggunakan pakan. Selain itu juga tercermin dari nilai FCR peternak mandiri lebih rendah dibandingkan dengan peternak mitra. Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, rata-rata nilai FCR untuk peternak mandiri yaitu sebesar 1.45. Menurut Mulyantini (2011), pertumbuhan ternak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pakan. Beda halnya dengan peternak mitra, dimana peternak mitra sudah mempunyai standar pemberian pakan bahkan berlebih sehingga menyebabkan nilai FCR peternak mitra lebih besar dari peternak mandiri. Diduga karena peternak mitra dalam pemberian pakan sesuai dengan standar yang diberikan oleh perusahaan inti sehingga pakan tidak berpengaruh pada risiko produksi peternak mitra.
Penggunaan vaksin bersifat risk increasing, artinya penggunaan vaksin dapat menimbulkan risiko pada peternak mandiri dan signifikan pada taraf nyata satu persen. Artinya jika input vaksin pada peternak mitra ditambahkan akan
berdampak pada peningkatan risiko produksi yang di alami. Berbeda dengan peternak mitra penggunaan vaksin bersifat risk decreasing, dan signifikan pada taraf nyata satu persen. Dimana jika terjadi penambahan input vaksin berdampak pada penurunan risiko produksi bagi peternak mitra. Risko gagal panen atau banyaknya ayam broiler yang mati umumnya disebabkan karena serangan penyakit dan cuaca yang cepat berubah. Penyakit yang menyerang ayam broiler merupakan salah satu faktor terbesar penyebab mortalitas. Vaksin berfungsi untuk pencegahan (preventif) kematian ternak melalui peningkatan antibodi ternak.
Vaksin yang digunakan salah satunya adalah ND (Newcastle Diseases) dimana pada dasarnya hanya digunakan sebagai pencegah penyakit ND pada awal masa pertumbuhan ayam, namun bila vaksin ini tidak dilakukan tepat waktu dan ayam telah terjangkit serta menyebar maka akan menyebabkan kematian masal. Ada beberapa penyakit yang menyerang peternakam ayam broiler peternak mandiri yaitu cronic respiratory disease dll. Penyakit ayam kebanyakan disebabkan oleh virus atau bakteri. Selain itu ada beberapa faktor pendukung penyebaran penyakit diantaranya kelembapan dan temperatur lingkungan, perubahan musim, kebersihan kandang dan peralatan, kualitas ransum serta keadaan ayam. Oleh karena itu sebagai langkah mitigasi risiko, peternak memberikan vaksin untuk mengurangi penyakit tersebut. Hampir semua peternak mandiri memberikan vaksin, tetapi ada juga peternak yang tidak memberikannya. Peternak mandiri yang tidak memberikan vaksin, menggantikannya dengan memberikan ramuan jamu atau air gula merah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa peternak mandiri cenderung bersifat risk taker terhadap penggunaan input vaksin. Peternak mandiri rata-rata tidak tepat waktu dalam memberikan vaksin pada ayam broiler. Hal itulah yang menyebabkan vaksin menjadi sumber yang menimbulkan risiko pada peternak mandiri. Lain halnya dengan peternak mitra, peternak mitra lebih tepat waktu dalam pemberian vaksin. Jika anak kandang telat dalam pemberian vaksin maka pekerja akan diberi sanksi.
Penggunaan tenaga kerja pada peternak mandiri maupun peternak mitra bersifat risk increasing, artinya jika tenaga kerja ditambahkan akan berdampak meningkatkan risiko produksi yang di alami peternak. Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fariyanti (2008), Hapsari (2013), dan Nugraha (2011) yang menyebutkan bahwa tenaga kerja merupakan variabel yang dapat menimbulkan risiko. Tenaga kerja pada usahaternak ayam broiler ini bekerja secara penuh dalam kurang lebih 35 hari. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor utama dan sebagai faktor penentu keberhasilan dalam produksi ayam broiler karena seluruh proses produksi dikendalikan oleh tenaga kerja (Burhanuddin 2014).
Menurut Sehabudin (2014), semakin banyak populasi ternak ayam broiler peternak mitra maka semakin tinggi tingkat risikonya. Tenaga kerja pada peternakan mandiri didaerah penelitian pada umumnya masih menggunakan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja yang digunakan oleh peternak mandiri merupakan tenaga kerja dalam keluarga, dimana tenaga kerjanya lebih dari satu orang yaitu suami, istri dan anak. Hal itulah yang diindikasikan tenaga kerja pada peternak mandiri merupakan faktor yang menimbulkan risiko, karena peternak mandiri hanya mengusahakan dalam skala kurang dari 5000 ekor tetapi tenaga kerja yang dipakai lebih dari satu orang. Sedangkan pada peternak mitra tenaga
kerja yang digunakan adalah tenaga kerja luar keluarga. Pada peternak mitra tenaga kerja yang digunakan untuk berusahaternak sebesar 3 orang untuk skala 20 000 ayam broiler. Hal tersebut diduga yang tenaga kerja pada peternak mitra merupakan faktor yang menimbulkan risiko. Idealnya tenaga kerja yang digunakan untuk tiap 5 000 ekor ayam broiler adalah satu orang tenaga kerja. Peternak mandiri rata-rata berpendidikan SD sampai SMP dengan pengalaman beternak selama 10 tahun. Peternak yang sudah berpengalaman lama belum tentu dapat menghindari risiko yang ada pada usahaternak ayam broiler. Penggunaan input tenaga kerja memiliki variance yang tinggi karena tenaga kerja yang di pekerjakan rata-rata tidak memiliki keahlian dibidang peternakan sehingga dalam mengurus ayam tidak disiplin (Nugraha 2011). Oleh karena itu jika dilakukan penambahan tenaga kerja tidak mengurangi risiko produksi melainkan meningkatkan risiko. Sehingga variabel tenaga kerja adalah variabel yang termasuk kedalam variabel yang menimbulkan risiko produksi.
Sekam pada peternakan ayam broiler mandiri bersifat risk increasing, artinya penggunaan sekam akan menimbulkan risiko. Sekam merupakan material yang digunakan untuk melapisi lantai sehingga telapak kaki ayam terlindungi. Selain itu sekam juga berfungsi sebagai penyerap cairan yang dikeluarkan dari kotoran ayam serta penyerap air minum yang tumpah. Pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Burhani (2014), menyebutkan bahwa penggunaan sekam oleh peternak mandiri belum memenuhi ketentuan ketebalan sekam yang ada sebagai alas kandang. Menurut Fadillah (2013), kondisi sekam harus benar-benar diperhatikan, karena sekam merupakan media yang sangat baik untuk berkembangbiaknya jamur atau mikroorganisme pengganggu. Sekam harus dikontrol setiap hari, dan di usahakan harus dalam keadaan kering. Kurangnya penggunaan sekam menyebabkan kandang menjadi lembab, apalagi jika sekam yang digunakan sebagian peternak mandiri adalah sekam basah menyebabkan kadar amonia di dalam kandang menjadi tinggi, sistem pernafasan pada ayam dapat terganggu dan menyebabkan pertambahan berat badan ayam menjadi lambat. Selain itu, kandang yang digunakan peternak mandiri sebagian besar adalah kandang litter (kandang postal). Kandang litter walaupun biaya pembuatannya murah tetapi memerlukan alas kandang yang setiap panen harus diganti serta kandang yang relatif lebih lembab karena pengaruh alas kandang yang berupa sekam (Sehabudin 2014).
Risiko Harga Ayam Broiler
Ayam broiler merupakan salah satu komoditas peternakan yang sangat cepat sekali mengalami perubahan harga. Harga jual ayam broiler bisa berfluktuasi bahkan hanya dalam hitungan hari. Penelitian ini mencoba menghitung dan membandingkan tingkat risiko harga ayam broiler yang diterima peternak mandiri dengan peternak mitra.
Penilaian risiko didasarkan pada pengukuran penyimpangan terhadap return dari suatu aset. Beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur penyimpangan tersebut adalah varian (variance), standart deviasi (standard deviation), koefisien variasi (coefficient variation). Ukuran-ukuran tersebut
merupakan ukuran statistik yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat risiko harga yang terjadi pada harga jual yang dilakukan oleh peternak.
Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa harga tertinggi selama dua periode terakhir penjualan yang dilakukan peternak mandiri adalah Rp 20 500.00 per kilogram, harga penjualan terendah sebesar Rp 14 000 per kilogram dengan rata-rata dari dua periode penjualan sebesar Rp 17 278.57 per kilogram. Harga tertinggi selama dua periode penjualan yang dilakukan peternak mitra adalah sebesar Rp 19 500.00 per kilogram, harga terendah sebesar Rp 13 800.00 per kilogram dengan rata-rata harga dari dua periode terakhir sebesar Rp 16 819.23 per kilogram.
Berdasarkan Tabel 10 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan harga antara peternak mandiri dengan peternak mitra. perbedaan harga tersebut berdampak terhadap pendapatan yang diterima oleh peternak ayam broiler. Secara teori, kemitraan mampu memberikan jaminan harga dan kepastian pasar kepada peternak. Tetapi pada penelitian ini kemitraan tidak mampu memberikan jaminan harga kepada peternak yang bermitra. Kemitraan dalam penelitian ini hanya mampu memberikan kepastian pasar kepada peternak yang bermitra dengan perusahaan inti. Kepastian pasar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dimana perusahaan inti mempunyai kewajiban untuk memasok ayam ke pasar tertentu setiap harinya dan ayam tersebut di pasok dari peternak yang bekerja sama dengan perusahaan inti.
Tabel 10. Rata-rata harga ayam broiler (Rp/ekor) dan peluang yang diperoleh peternak ayam broiler di Kabupaten Bekasi.
Uraian Mandiri Mitra
Rata-rata Std. Deviasi Rata-rata Std. Deviasi Harga terendah 15 240 770.71 15 355 572.42 Harga normal 19 186 702.25 16 948 629.63 Harga tertinggi 17 342 545.84 18 944 404.45 Peluang rendah 0.21 - 0.35 - Peluang normal 0.21 - 0.42 - Peluang tinggi 0.58 - 0.23 - Ekspektasi harga 17 278 2 955 16 819 1 176
Sumber : Data Primer 2015 (Diolah) Peluang
Peluang menunjukkan distribusi frekuensi terhadap suatu kejadian. Kondisi lingkungan internal maupun eksternal dapat mempengaruhi besar atau kecilnya nilai suatu peluang. Peluang yang didapatkan oleh peternak mandiri maupun mitra mempunyai peluang yang berbeda-beda untuk mendapatkan harga yang rendah, normal ataupun tinggi. Peluang untuk peternak mandiri dari dua