• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Risiko Produksi

Risiko produksi akan mempengaruhi tingkat produktivitas yang dihasilkan. Dengan demikian terjadinya fluktuasi dalam produktivitas yang dihasilkan perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi adanya risiko dalam kegiatan produksi. Risiko produksi yang terjadi pada PT PDMA disebabkan oleh kondisi alam yang tidak pasti serta hama dan penyakit yang sulit diprediksi. Risiko produksi ini menyebabkan produktivitas daun potong menjadi rendah sehingga pendapatan perusahaan semakin kecil. Risiko produksi yang dibahas dalamRisiko yang dibahas pada PT PDMA adalah risiko produksi. Adanya risiko produksi pada usaha ini ditunjukkan dengan adanya variasi atau fluktuasi produksi yang diperoleh. Dalam hal ini akan dibahas risiko produksi pada Asparagus bintang dan Philodendron marble yang merupakan komoditas unggulan PT PDMA. Penentuan risiko produksi pada penelitian ini didasarkan pada penilaian varians, standar deviasi dan coeffisien varian yang diperoleh dari hasil peluang terjadinya suatu kejadian. Peluang terjadinya suatu kejadian dapat dilihat dari kondisi tertinggi, normal dan terendah dari rata-rata produktivitas yang dihasilkan oleh masing-masing komoditas. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rata-rata Produktivitas dan Pendapatan Perusahaan dalam Memperoleh Produktivitas Tertinggi, Normal dan Terendah Pada Asparagus bintang dan Philodendron marble di PT PDMA

Komoditas Kondisi Peluang Produktivitas (Tangkai/m2)

Pendapatan (Rp)

Asparagus bintang Tertinggi 0,29 3,17 10.113.286,71

Normal 0,42 2,53 6.495.300,90

Terendah 0,29 1,56 3.590.858,14

Philodendron marble Tertinggi 0,21 3,16 9.891.601

Normal 0,46 2,41 6.978.001

Terendah 0,33 1,37 3.023.001

Tabel 8 menunjukkan peluang yang terjadi pada setiap kondisi yang terjadi pada Asparagus bintang dan Philodendron marble. Peluang tertinggi, terendah dan normal diukur dari proporsi frekuensi atau berapa kali perusahaan pernah

mencapai produktivitas tertinggi, terendah atau normal selama produksi berlangsung.

Tabel 8 menunjukkan kondisi produktivitas dan pendapatan masing-masing komoditas pada kondisi tertinggi, normal dan terendah. Dengan adanya produktivitas dan pendapatan yang berubah-ubah maka peluang perusahaan memperoleh memperoleh produktivitas dan pendapatan tertinggi, terendah dan normal dapat diamati dengan mempertimbangkan periode waktu selama proses produksi berlangsung. Produktivitas antara kedua komoditas tersebut memiliki range yang berbeda-beda yaitu Asparagus bintang 1,56 tangkai/m2 sampai 3,30 tangkai/m2 dan Philodendron marble 1,37 tangkai/m2 sampai 3,27 tangkai/m2. Sedangkan range pada pendapatan masing-masing komoditas adalah Asparagus bintang antara Rp 3.590.858,14 sampai Rp 10.113.286,71 sedangkan Philodendron marble antara RP 3.023.001 sampai Rp 9.891.601. Yang dimaksud produktivitas tertinggi adalah tingkat produktivitas yang paling tinggi, yang pernah diperoleh selama produksi berlangsung. Sedangkan yang dimaksud dengan produktivitas terendah yaitu tingkat produktivitas yang paling rendah, yang pernah diperoleh perusahaan selama produksi berlangsung. Sementara itu produktivitas normal dalam kajian ini adalah produktivitas yang sering diperoleh perusahaan selama produksi berlangsung. Sementara itu produktivitas dan pendapatan normal dalam kajian ini adalah produktivitas dan pendapatan yang sering diperoleh perusahaan selama mengusahakan komoditas tersebut. Produtivitas yang diharapakan perusahaan adalah produktivitas tertinggi karena akan dapat berimplikasi terhadap pendapatan yang akan diperoleh perusahaan.

Dalam hal ini terdapat faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya risiko pada usaha daun potong diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Kondisi cuaca atau iklim

Kondisi cuaca atau iklim menjadi salah satu faktor munculnya risiko dalam produksi daun potong. Hal ini dikarenakan perubahan cuaca yang sulit diprediksi. Menurut informasi dilapangan saat ini cuaca tidak dapat dikendalikan lagi karena selalu berubah-ubah tidak sesuai dengan siklus normalnya lagi. Kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Secara teknis

daun potong sangat rentan terhadap kekeringan sehingga kebutuhan terhadap air sangat besar.

Pada musim kemarau tanaman daun potong tidak tahan terhadap sinar matahari yang berlebih sehingga dapat menyebabkan penurunan produksi namun untuk mengatasi hal tersebut tanaman di beri naungan seperti shading huose tetapi cara tersebut pun belum mampu menahan sinar matahari yang berlebih sehingga perlu dilakukan penyiraman yang intensif untuk menjaga kelembaban media tanam. Tetapi masalah lain yang dihadapi pada saat musim kemarau datang yaitu kurangnya akan kebutuhan air pada tanaman. Karakteristik daun potong sangat membutuhkan air yang cukup artinya pertumbuhan tanaman akan bagus bila lahan dalam kondisi lembab. Pada saat ini PT PDMA masih menghadapi masalah dengan sistem pengairan karena bak penampungan yang dimiliki masih terbatas sementara luasan lahan yang dipakai untuk produksi lebih besar. Meskipun perusahaan telah menerapkan sistem pengairan dengan menggunakan spray jet tetapi cara tersebut belum efektif karena penyiraman terkadang masih dilakukan secara manual.

Cuaca sangat erat kaitannya dengan munculnya hama dan penyakit tanaman. Pada saat musim hujan PT PDMA tidak menghadapi masalah pengairan karena kebutuhan akan air terhadap tanaman tercukupi namun menghadapi masalah dengan semakin tingginya serangan hama dan penyakit. Sebaliknya pada saat musim kemarau, PT PDMA menghadapi masalah pengairan tetapi tidak menghadapi masalah serangan hama dan penyakit karena pada saat musim kemarau penyakit tanaman seperti seperti virus akan mati. Kondisi tersebut bisa menyebabkan produksi yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan, sehingga produksi pada musim kemarau menjadi lebih rendah dibandingkan musim hujan.

Dilihat dari perkembangan produktivitas daun potong yang dihasilkan PT PDMA pada tahun 2007 sampai 2008 menunjukkan produktivitas daun potong pada saat musim hujan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. Karena pada saat curah hujan tinggi tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan produksi sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi ini terkait dengan perkembangan siklus curah hujan yang ada di PT PDMA. Jika perkembangan

produktivitas dikaitkan dengan curah hujan yang ada ternyata grafik yang diperoleh menunjukkan adanya kesinambungan antara produktivitas

hujan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9 yang menunjukkan grafik perkembangan produktivitas dan curah hujan yang terdapat pada PT PDMA.

Gambar 9. Grafik Curah

Sumber : Stasiun Klimatologi Darmaga, 2008

Gambar 9 menunjukkan curah hujan yang terdapat pada daerah penelitian selama kurun waktu dua tahun. Dimana setiap bulannya terdapat curah hujan yang berbeda yang mengakibatkan produksi

Pada saat dimana curah hujan tinggi produksi yang dihasilkan meningkat namun apabila curah hujan rendah maka produksi yang dihasilkan akan menurun.

b. Tingkat kesuburan lahan

Lahan yang digunakan untuk penanaman dau

penanaman harus dilakukan pembersihan lahan terlebih dahulu yang meliputi

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 Ja n u a ri F e b ru a ri M a re t A p ri l M e i

produktivitas dikaitkan dengan curah hujan yang ada ternyata grafik yang diperoleh menunjukkan adanya kesinambungan antara produktivitas dengan curah hujan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9 yang menunjukkan grafik perkembangan produktivitas dan curah hujan yang terdapat pada PT PDMA.

Gambar 9. Grafik Curah Hujan Ciawi Tahun 2007-2008 Sumber : Stasiun Klimatologi Darmaga, 2008

Gambar 9 menunjukkan curah hujan yang terdapat pada daerah penelitian selama kurun waktu dua tahun. Dimana setiap bulannya terdapat curah hujan yang berbeda yang mengakibatkan produksi tanaman yang dihasilkan berfluktuasi. Pada saat dimana curah hujan tinggi produksi yang dihasilkan meningkat namun apabila curah hujan rendah maka produksi yang dihasilkan akan menurun.

b. Tingkat kesuburan lahan

Lahan yang digunakan untuk penanaman daun potong sebelum dilakukan penanaman harus dilakukan pembersihan lahan terlebih dahulu yang meliputi

M e i Ju n i Ju li A g u st u s S e p te m b e r O k to b e r N o p e m b e r D e se m b e r Produktivitas Tahun 2007 Philodendron marble Produktivitas Tahun 2007 Asparagus bintang Produktivitas Tahun 2008 Philodendron marble Produktivitas Tahun 2008 Asparagus bintang

produktivitas dikaitkan dengan curah hujan yang ada ternyata grafik yang dengan curah hujan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9 yang menunjukkan grafik perkembangan produktivitas dan curah hujan yang terdapat pada PT PDMA.

Gambar 9 menunjukkan curah hujan yang terdapat pada daerah penelitian selama kurun waktu dua tahun. Dimana setiap bulannya terdapat curah hujan yang tanaman yang dihasilkan berfluktuasi. Pada saat dimana curah hujan tinggi produksi yang dihasilkan meningkat namun apabila curah hujan rendah maka produksi yang dihasilkan akan menurun.

n potong sebelum dilakukan penanaman harus dilakukan pembersihan lahan terlebih dahulu yang meliputi

Produktivitas Tahun 2007 Philodendron marble Produktivitas Tahun 2007 Asparagus bintang Produktivitas Tahun 2008 Philodendron marble Produktivitas Tahun 2008 Asparagus bintang

pencabutan rumput-rumput liar atau gulma, dan pembersihan tanaman keras dan selanjutnya dilakukan penggemburan serta pemberian pupuk kandang. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan unsur hara tanah sehingga dalam penanaman daun potong akan memberikan hasil yang baik. Sedangkan jika lahan yang digunakan untuk menanam daun potong tidak dilakukan pembersihan dan penggemburan terlebih dahulu maka mengakibatkan tingkat kesuburan tanah yang rendah karena mengakibatkan unsur hara tanah tidak ada sehingga dalam penanaman daun akan memberikan hasil yang kurang baik. Sebagian besar tingkat kesuburan lahan di pengaruhi oleh tingkat keasaman atau pH (potensial of Hidrogen) lahan. Menurut informasi di lapangan lahan yang digunakan untuk menanam daun potong pada PT PDMA memiliki tingkat keasaman yang tinggi dengan pH lahan sekitar empat sampai lima setegah (pH = 4 – 5,5). Dengan tingkat keasaman lahan yang tinggi dapat menunjukkan tingkat kesuburan lahan sangat rendah. Hal ini terjadi karena pada lahan yang bersifat asam, unsur-unsur hara yang terdapat pada lahan hilang diserap tanaman atau terbawa aliran air ke lapisan lahan yang lebih bawah. Secara teoritis pH yang baik untuk menanam daun potong berkisar antara 6,5 – 7 yang berarti bahwa tanah tersebut dalam keadaan netral.

c. Serangan hama dan penyakit

Serangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor risiko yang dihadapi dalam budidaya daun potong. Kondisi tersebut dikarenakan karakteristik daun potong yang sangat rentan terhadap hama dan penyakit. Hal ini berdampak pada produksi yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan, karena terdapatnya fluktuasi produksi yang tidak dapat diprediksi secara tepat.

Hama yang sering menyerang tanaman daun potong yaitu hama trips, kutu daun, ulat gerayak, belalang, sedangkan penyakit yang terdapat dalam daun potong biasanya bercak daun, busuk daun, sehingga dalam waktu 1 hari – 2 hari menyebabkan tanaman akan mati dan daun tidak dapat diproduksi. Penanggulangan terhadap serangan hama dan penyakit dilakukan dengan cara pemberian obat-obatan seperti pestisida, insektisida dan fungisida. Frekuensi pemberian obat-obatan tersebut dilakukan setiap satu minggu sekali, tergantung

pada tingkat serangan hama dan penyakit. Namun apabila serangan hama dan penyakit tanaman relatif tinggi maka frekuensi pemberian obat-obatan semakin sering (2-3 kali seminggu).

Pemberian obat-obatan yang dilakukan oleh perusahaan sangat tergantung pada kondisi cuaca karena kondisi cuaca memiliki hubungan yang erat dengan populasi hama dan penyakit tanaman. Hama dan penyakit tanaman sangat menyenangi kondisi udara yang lembab. Pada saat musim hujan, dimana curah hujan yang tinggi dan udara sangat lembab, pertumbuhan hama dan penyakit tanaman sangat tinggi. Sebaliknya pada saat musim kemarau, dimana curah hujan yang rendah dan udara kering, menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tanaman rendah. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 10 dimana terdapat dosis pestisida yang diberikan oleh perusahaan terkait dengan curah hujan yang ada.

Gambar 10. Grafik Dosis Pestisida Sumber : PT PDMA, 2008

Kondisi yang dijelaskan diatas sesuai dengan yang terjadi dilapangan. Pemberian obat-obatan atau penyemprotan yang dilakukan pada daun potong berbeda-beda setiap musim. Pada musim kemarau, frekuensi pemberian atau

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 Curah Hujan 2008 Curah Hujan 2007 0 2 4 6 8 10 12

Dosis Pestisida Tahun 2008

Dosis Pestisida Tahun 2007

penyemprotan obat-obatan terhadap daun potong sekitar 10-13 kali sedangkan pada musim hujan sekitar 14-17 kali. Namun frekuensi pemberian obat-obatan tersebut bukan merupakan perhitungan yang dan mutlak dilihat juga dari serangan hama dan penyakit yang ada. Apabila serangan hama masih terlalu besar maka pihak perusahaan akan memberikan dosis tambahan untuk penyemprotan hama.

Setelah dilakukan pengukuran peluang dan kejadian yang terjadi maka dilakukan penyelesaian pengambilan keputusan yang mengandung risiko dengan menggunakan expected return. Expected return yang dihitung berdasarkan jumlah dari nilai yang diharapkan terjadinya peluang masing-masing kejadian tertinggi, normal dan terendah dari Asparagus bintang dan Philodendron marble. Expected return merupakan nilai harapan yang dihasilkan setelah memperhitungkan risiko yang ada. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Penilaian Expected Return Berdasarkan Produktivitas dan Pendapatan Pada Asparagus bintang dan Philodendron marble

Komoditas Expected Return

Produktivitas Pendapatan

Asparagus bintang 2,4343 6.702.228,38

Philodendron marble 2,2243 6.284.707

Agar dapat meminimalkan risiko yang terdapat dalam produksi maka pihak perusahaan harus membuat perencanaan terhadap kegiatan produksi. Perencanaan produksi dilakukan mulai pada saat penanaman, perawatan dan pemanenan. Perencanaan produksi yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan risiko produksi antara lain dengan melakukan diversifikasi produk yaitu dengan portofolio dimana dalam satu luasan lahan di tanam dua jenis tanaman. Hal ini dapat meningkatkan produksi karena dapat saling menguntungkan antara tanaman yang satu dengan yang lain. Akan tetapi. perencanaan produksi yang dilakukan perusahaan sampai saat ini belum dilakukan dengan baik. Hal ini terjadi karena tidak terlaksananya pengawasan dalam proses produksi dan belum dijalankannya fungsi-fungsi manajemen dengan baik. Selain itu indikator untuk menyatakan keberhasilan suatu kegiatan produksi adalah hasil produktivitas yang cenderung terjadi penurunan jika terjadi musim kemarau.

Produksi daun potong pada PT PDMA pada setiap kondisi dapat dilihat dari produktivitasnya yang diperoleh dari data primer. Produktivitas tertinggi, normal, dan terendah diperoleh perusahaan berdasarkan pengalaman selama produksi. Adanya kondisi risiko produksi menyebabkan produktivitas daun potong PT PDMA berfluktuasi.

Uraian berikut akan menjelaskan mengenai risiko produksi pada kegiatan spesialisasi dan diversifikasi.

Dokumen terkait