tanggal 31 Desember 2020, 2019 dan 2018 (dalam jutaan Rupiah)
B. RISIKO USAHA YANG BERSIFAT MATERIAL
1. Risiko ketergantungan pada OEM di Indonesia
Pada dasarnya, industri OEM di Indonesia didominasi oleh beberapa perusahaan besar yang menjadi pemain utama di industri otomotif, baik perusahaan asing atau lokal. Perseroan memiliki ketergantungan terhadap beberapa pelanggan OEM utama di Indonesia. Sebagai supplier komponen otomotif, Perseroan menyediakan komponen sesuai spesifikasi permintaan yang diajukan oleh pelanggan OEM utama tersebut untuk suatu model kendaraan otomotif, baik untuk mobil, motor, ataupun kendaraan otomotif lainnya. Karena ketergantungan Perseroan pada beberapa pelanggan OEM utama, kerugian yang dialami oleh suatu pelanggan OEM utama tersebut atau penurunan yang signifikan dalam permintaan untuk model kendaraan tertentu atau sekelompok model kendaraan terkait yang dijual oleh pelanggan OEM utama Perseroan secara tidak langsung akan berdampak pada keadaan keuangan, kegiatan usaha dan kinerja Perseroan.
2. Risiko kerusakan dan gangguan pada fasilitas produksi
Perseroan dalam melakukan proses produksinya menggunakan sejumlah fasilitas produksi seperti mesin dan peralatan-peralatan lain yang terdapat di beberapa pabrik milik Perseroan. Fasilitas tersebut digunakan untuk memanufaktur seluruh produk-produk Perseroan seperti komponen otomotif, khususnya frame body, knalpot, instrument panel dan suspension member serta fastener. Salah satu atau seluruh fasilitas yang digunakan dapat mengalami gangguan atau kerusakan baik secara sementara maupun permanen yang disebabkan oleh kebakaran dan kelalaian yang menyebabkan kerusakan internal pada mesin yang dapat mengganggu jalannya proses produksi. Selain itu, pemadaman listrik juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan pada fasilitias produksi. Apabila Perseroan tidak dapat memperbaiki, mengganti atau mengantisipasi kerusakan atau gangguan tersebut dalam kurun waktu tertentu, maka hal tersebut akan mengganggu proses produksi dan memberikan dampak yang negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja dan prospek Perseroan.
3. Risiko terkait ketergantungan terhadap penyediaan bahan baku dan ketersediaan bahan baku
Bahan baku merupakan komponen pengeluaran paling utama dalam biaya produksi Perseroan. Dalam menjalankan bisnisnya, Perseroan memiliki ketergantungan kepada beberapa mitra utama penyedia bahan baku, baik itu mitra dari lokal ataupun negara lain. Sampai dengan tanggal Prospektus ini diterbitkan, Perseroan memiliki beberapa penyedia bahan baku dari negara lain seperti Cina, Taiwan, Jepang, dan Korea sebagai penyedia bahan baku Perseroan. Pada umumnya bahan baku yang dipakai untuk produksi komponen-komponen otomotif yang dipakai oleh Perseroan sudah memiliki kriteria kualitas yang spesifik dan mengikuti standar industri OEM di Indonesia. Mengingat bahwa Perseroan membutuhkan bahan baku dengan standar spesifik tersebut dalam jumlah banyak dan juga membutuhkan mitra yang dapat menyediakaan bahan baku tersebut dengan kuantitas dan kualitas yang konsisten, maka terdapat faktor yang mengakibatkan adanya ketergantungan terhadap penyedia bahan baku tertentu yang memiliki kualifikasi tersebut. Hal ini berdampak pada rendahnya posisi tawar
Perseroan dalam hal kontrak ketersediaan serta harga bahan baku, sehingga dapat berisiko pada kelancaran operasional dan pendapatan Perseroan.
4. Risiko persaingan usaha
Perseroan dalam menjalankan usahanya tidak terlepas dari persaingan usaha. Pesaing tersebut dapat berupa produsen yang memiliki produk sejenis dengan Perseroan maupun produk substitusi yang telah ada maupun yang akan datang. Perkembangan industri komponen otomotif di Indonesia yang semakin berkembang dan prospektif mendorong munculnya perusahaan-perusahaan lokal maupun multinasional baru pada industri ini. Perseroan harus dapat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis dengan cepat agar Perseroan dapat terus mempertahankan eksistensinya sebagai produsen komponen otomotif di Indonesia.
Perseroan akan senantiasa menjaga dan mengembangkan teknologi, kualitas produk, Quality Cost Delivery yang selama ini menjadi kelebihan Perseroan serta melakukan usaha lain agar perusahaan tetap kompetitif di pasar. Apabila usaha yang telah diterapkan Perseroan tidak memberikan hasil yang maksimal, Perseroan dapat kehilangan pangsa pasar apabila terdapat pesaing yang menawarkan produk dengan harga yang lebih murah dan/atau kualitas yang lebih baik. Disamping itu, pangsa pasar Perseroan juga dapat berkurang apabila terdapat produsen dengan produk baru yang dapat menggantikan produk Perseroan dan produk tersebut tidak dapat diantisipasi oleh Perseroan. Apabila Perseroan kehilangan pangsa pasar yang dimiliki, hal ini akan memiliki dampak yang negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja dan prospek Perseroan.
5. Risiko terkait kegagalan desain teknis
Komponen mesin, alat dan rancangan desain awal (blueprint) untuk setiap production line up memiliki spesifikasi yang unik yang disesuaikan dengan kebutuhan produksi komponen otomotif tersebut.
Perseroan dalam tahap pembuatan dan perakitan memanfaatkan engineer Perseroan yang akan melaksanakan tugasnya untuk melakukan pembuatan dan perakitan mesin yang dibutuhkan dalam production line up komponen tersebut. Terdapat risiko terkait dengan kekeliruan dalam tahap desain awal/blueprint, ketidaksesuaian antar komponen, dan ketidaktepatan atas pemasangan komponen-komponen serta alat-alat yang terdapat pada fasilitas pabrik Perseroan dapat menunda jadwal produksi Perseroan, sehingga akan berdampak pada penjualan dan tingkat produksi Perseroan, hal ini akan berdampak merugikan secara material terhadap kinerja bisnis, prospek, arus kas dan kondisi keuangan Perseroan.
6. Risiko pengembangan produk baru
Tahap pengembangan produk baru akan dilakukan pada saat Perseroan telah menerima kontrak pembuatan produk baru dari pelanggan. Tahap pengembangan produk baru dilakukan mulai dari tahapan design, pembuatan prototype, pembuatan sample produk sampai penyiapan sarana produksi seperti dies, mould, jig, fixture dan mesin produksi untuk menghasilkan produk dengan kualitas dan kuantitas yang dipersyaratkan oleh pelanggan. Terdapat risiko terkait dengan keakurasian dan kuantitas atas production line up yang sudah dibangun, sehingga dapat menyebabkan penundaan jadwal produksi Perseroan, yang akan berdampak pada penjualan dan tingkat produksi Perseroan serta turunnya kepercayaan pelanggan. Hal ini dapat menyebabkan kerugian secara material terhadap kinerja bisnis, prospek, arus kas dan kondisi keuangan Perseroan.
7. Risiko kenaikan biaya tenaga kerja di Indonesia dapat mengurangi laba Perseroan
Peningkatan biaya tenaga kerja di Indonesia dapat mempengaruhi laba Perseroan secara signifikan.
Secara historis, biaya tenaga kerja yang murah di Indonesia telah menjadi keunggulan kompetitif
produsen komponen otomotif dan OEM di Indonesia. Jika Perseroan tidak mampu untuk mengelola peningkatan tersebut, hal ini akan berdampak merugikan secara material terhadap kinerja bisnis, prospek, arus kas dan kondisi keuangan Perseroan.
8. Risiko yang berhubungan dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan memiliki karyawan-karyawan yang bertugas langsung pada produksi di pabrik-pabrik Perseroan. Pada tanggal 30 Juni 2021, jumlah karyawan yang dimiliki Perseroan dan Perusahaan Anak adalah sebanyak 3.913 orang. Perseroan memiliki kewajiban terhadap karyawan seperti gaji, tunjangan kerja, jaminan pensiun, pesangon dan keselamatan kerja sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan yang berlaku. Apabila Perseroan tidak dapat memenuhi kewajiban terhadap karyawan, maka hal tersebut akan berdampak pada penurunan jumlah karyawan, penurunan produktifitas, pemogokan kerja dan pencabutan izin dari pemerintah yang dapat menggangu operasional Perseroan.
9. Risiko terkait investasi atau aksi korporasi yang dilakukan oleh Perseroan
Perseroan dapat melaksanakan kegiatan investasi ataupun aksi korporasi pada masa yang akan datang dalam rangka pengembangan dan perluasan kegiatan usaha; sebagai contoh Perseroan telah melakukan investasi melalui skema Joint-Venture dengan mitra perusahaan Jepang melalui kepemilikan 49% saham pada SDI dan dengan mitra perusahaan Korea melalui kepemilikan 49% saham pada DKI, dimana kedua tujuan mitra adalah untuk optimalisasi bisnis perseroan, pengembangan tekonologi dan perluasan pasar dan mitra bisnis industri otomotif. Perseroan akan senantiasa melakukan identifikasi dan perhitungan yang terukur atas seluruh investasi atau aksi korporasi yang akan dilakukan Perseroan. Apabila terdapat faktor-faktor eksternal yang mengganggu jalannya investasi atau aksi korporasi yang dilakukan oleh Perseroan sehingga tidak berjalan sesuai yang direncanakan, maka hal tersebut akan berdampak pada kinerja keuangan Perseroan.
10. Risiko peningkatan suku bunga dan inflasi yang signifikan yang dapat mempengaruhi penjualan Perseroan
Kinerja penjualan Perseroan memiliki hubungan dengan kondisi ekonomi di Indonesia. Kondisi-kondisi ekonomi yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha Perseroan antara lain adalah kenaikan tingkat suku bunga dan inflasi yang naik secara signifikan serta perubahan perpajakan yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat.
Pada umumnya, masyarakat yang menjadi pembeli kendaraan otomotif di Indonesia bergantung pada fasilitas pembiayaan untuk mendanai pembelian kendaraan mereka (i.e. Kredit Pemilikan Mobil/Motor). Suku bunga pembiayaan kendaraan di Indonesia umumnya dipengaruhi oleh suku bunga acuan standar Bank Indonesia yang berfluktuasi mengikuti kondisi siklus ekonomi di Indonesia.
Peningkatan suku bunga dapat secara signifikan meningkatkan biaya pembiayaan kendaraan yang akan mempengaruhi daya beli masyarakat untuk kendaraan otomotif di Indonesia, sehingga dapat mengurangi permintaan masyarakat dan secara langsung mempengaruhi penjualan komponen-komponen otomotif yang disediakan oleh Perseroan. Apabila kondisi-kondisi tersebut terjadi dalam jangka waktu yang berkelanjutan, maka akan berdampak negatif pada kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja dan prospek Perseroan.
11. Risiko kegagalan dalam memenuhi peraturan perundang-undangan serta memperoleh, memperbaharui atau mempertahankan izin material yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di dalam industri yang dijalankan Perseroan
Industri otomotif di Indonesia memiliki bebagai peraturan, regulasi, dan kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga pemerintah yang berwenang di Indonesia. Perseroan diwajibkan untuk memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam industri Perseroan serta membutuhkan perizinan dan persetujuan yang diterbitkan oleh lembaga pemerintah yang berwenang.
Izin dan persetujuan tersebut antara lain Nomor Induk Berusaha No. 8120100703717, Izin Usaha Industri, IATF 16949, dan Izin Operasional Pengolahan Limbah B3 No.
503/005/TPSLB3/DPMPTSP/2020. Pemerintah kapanpun dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru atau mengubah atau menghapus kebijakan-kebijakan yang telah ada. Perubahan-perubahan ini dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan dan kinerja usaha Perseroan.