Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan tidak terlepas dari berbagai macam risiko usaha. Ruang lingkup usaha Perseroan sebagai perusahaan otomotif diantaranya meliputi Risiko Fluktuasi Harga dan Gangguan Pasokan CKD dan Suku Cadang, Risiko Pasar, Risiko Fluktuasi Harga Bahan Bakar, Risiko Adanya Masalah dengan Mitra Usaha Patungan atau Mitra Prinsipal, Risiko Pasar Modal dan hutang Secara Global, Risiko Suku Bunga, Risiko Persaingan, Risiko Hukum, Risiko Kegagalan Pengembangan Usaha, Risiko Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah, Risiko Kondisi Perekonomian, Risiko Sumber Daya Manusia, Risiko Sebagai Induk Perusahaan, Risiko Asuransi dan Risiko Hutang. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengakibatkan timbulnya dampak negatif bagi kelangsungan usaha Perseroan. Adapun risiko-risiko usaha sebagaimana tersebut diatas merupakan risiko yang juga dimiliki oleh Anak Perusahaan, kecuali Risiko sebagai Induk Perusahaan.
Risiko-risiko yang akan diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko yang material bagi Perseroan yang diperkirakan dapat mempengaruhi kinerja Perseroan secara umum sebagai berikut
Risiko Usaha
Pemegang Saham harus secara seksama mempertimbangkan risiko-risiko usaha berikut, serta informasi lainnya sebagaimana dijabarkan dalam Prospektus ini, sebelum melaksanakan HMETD-nya. Tidak hanya risiko-risiko yang dijabarkan di bawah yang dapat mempengaruhi saham Perseroan. Risiko lainnya yang saat ini belum diketahui atau yang saat ini Perseroan anggap tidak relevan dapat juga merugikan usaha, arus kas, hasil kegiatan operasi, kondisi keuangan atau prospek Perseroan. Harga efek dapat melemah akibat risiko-risiko tersebut dan menyebabkan kerugian investasi.
1. RISIKO FLUKTUASI HARGA DAN GANGGUAN PASOKAN CKD DAN SUKU CADANG
Perseroan memakai CKD dalam operasi perakitan kendaraannya, dan juga mendistribusikan suku cadang generik sepeda motor dan mobil yang dibeli dari pemasok pihak ketiga. Harga untuk suku cadang berfluktuasi tergantung pada kondisi pasar dan harga bahan baku yang digunakan dalam bahan seperti baja. Dalam beberapa tahun terakhir, biaya pengiriman dan biaya bahan baku meningkat secara signifikan. Lonjakan harga untuk suku cadang Perseroan meningkatkan biaya operasional Perseroan dan dapat mengurangi keuntungan Perseroan jika permintaan konsumen menjadi lebih rendah untuk kendaraan yang dijual ataupun layanan suku cadang. Selain itu, Perseroan bergantung pada sejumlah pemasok untuk beberapa suku cadang, seperti komponen mesin dan komponen transmisi. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan mampu menjalin kerjasama dan hubungan yang dengan pemasok tersebut terus menerus. Selain itu, dalam kegiatan usaha dealership kendaraan ritel, Perseroan bergantung sepenuhnya pada pasokan kendaraan tersebut baik dari produsen luar negeri atau perakitan dan perusahaan distributor besar di Indonesia. Sebagai contoh, kegiatan usaha dealership ritel Nissan tergantung pada pasokan mobil Nissan dari perusahaan asosiasi Perseroan dan kegiatan usaha dealership ritel Hino tergantung pada pasokan kendaraan Hino dari investee company (perusahaan asosiasi dengan kepemilikan di bawah 20% ), masing-masing tergantung pada pasokan suku cadang CKD yang sebagian besar diimpor. Produksi dari suku cadang CKD Hino dan Nissan tertentu dari Jepang untuk sementara waktu terpengaruh oleh gempa bumi dan trsunami di Jepang pada bulan Maret 2011, yang telah mempengaruhi perakitan kendaraan Hino di Indonesia yang mengakibatkan berkurangnya kendaraan Hino. Walaupun peristiwa ini tidak berakibat pada berkurangnya persediaan Nissan di cabang ritel Perseroan, namun hal ini mengakibatkan gangguan jangka pendek pada perakitan Nissan. Walaupun Perseroan telah diinformasikan oleh HMMI bahwa kekurangan pasokan Hino diharapkan selesai pada triwulan ketiga 2011 dan oleh NMI bahwa gangguan pasokan suku cadang diharapkan selesai sekitar pertengahan 2011, penjualan Hino telah terpengaruh secara sebagian dan Perseroan tidak dapat menjamin bahwa gangguan pasokan tersebut dapat diselesaikan pada waktu yang diharapkan. Kenaikan biaya atau gangguan pasokan berkelanjutan atau kekurangan dari beberapa suku cadang atau stok kendaraan, yang mungkin disebabkan oleh memburuknya hubungan Perseroan dengan para pemasok, bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami di Jepang, pemogokan buruh atau faktor lainnya, secara negatif dapat mempengaruhi bisnis, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
2. RISIKO PASAR
Memenuhi keinginan konsumen dengan kendaraan dan perlengkapan kendaraan yang baru dan berkualitas tinggi sangat penting bagi keberhasilan Perseroan sebagai distributor mobil penumpang dan kendaraan komersial di Indonesia. Segala perubahan dalam preferensi konsumen terhadap berbagai jenis kendaraan, yang disebabkan oleh, antara lain, peraturan Pemerintah, masalah lingkungan dan kenaikan harga bahan bakar, dapat mempengaruhi profitabilitas Perseroan. Setiap ketidakmampuan produsen untuk terus meningkatkan kualitas kendaraan yang dijual Perseroan, penundaan dalam memperkenalkan kendaraan baru ke pasar, ketidakmampuan untuk mencapai target efisiensi tanpa mengorbankan kualitas, dan kurangnya penerimaan pasar atas model baru akan mempengaruhi bisnis, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
3. RISIKO FLUKTUASI HARGA BAHAN BAKAR
Kenaikan harga BBM akibat harga minyak global atau perubahan subsidi harga BBM oleh Pemerintah dapat mempengaruhi permintaan kendaraan, dan khususnya penurunan permintaan konsumen untuk mobil penumpang yang lebih besar yang kurang efisien bahan bakar.
Pemerintah telah sebelumnya pada tahun 2005 dan 2008 menurunkan subsidi BBM untuk masyarakat, meskipun didemonstrasi oleh masyarakat. Pada bulan Desember 2010, DPR menyetujui rencana untuk memungkinkan BBM bersubsidi bagi transportasi umum dan sepeda motor, dan untuk membatasi penjualan BBM bersubsidi kepada pengguna mobil penumpang pribadi di Indonesia. Pada bulan Maret 2011, Pemerintah mengumumkan akan menunda pelaksanaan rencana tersebut, tetapi tidak mengindikasikan kapan rencana tersebut dilaksanakan. Jika rencana tersebut dilaksanakan sebagaimana dimaksud, pembatasan seperti itu bisa menurunkan permintaan untuk mobil penumpang yang tidak berbahan bakar efisien dan mobil penumpang secara umum. Perseroan meyakini bahwa beberapa model yang dijual Perseroan, seperti Nissan March dan Nissan Grand Livina, lebih berbahan bakar efisien dibandingkan model kendaraan pesaing Perseroan, Perseroan tidak dapat menjamin bahwa setiap penurunan permintaan konsumen untuk beberapa jenis mobil penumpang atau mobil penumpang pada umumnya tidak akan berdampak negatif terhadap pendapatan Perseroan dan memiliki akibat negatif yang material terhadap bisnis, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
4. RISIKO ADANYA MASALAH DENGAN MITRA USAHA PATUNGAN ATAU MITRA PRINSIPAL
Beberapa kegiatan usaha Perseroan dilakukan dalam hubungannya dengan langsung atau tidak langsung dalam ketergantungan pada pihak usaha patungan tertentu, seperti Nissan Motor Company Ltd dari Jepang atau Hino Motors, Ltd dari Jepang, dimana untuk kendaraan mobil penumpang dan kendaraan komersial, secara berurutan, Perseroan merakit melalui perusahaan asosiasinya dan menjualnya di Indonesia. Selain itu, Perseroan telah menandatangani perjanjian agensi, distribusi atau dealership dengan prinsipal merek otomotif sebagai wakil untuk menjual kendaraan dan peralatan dari prinsipal. Walaupun perjanjian distribusi dan perjanjian lainnya yang mengatur pengaturan distribusi atau dealership dengan mitra usaha diperpanjang secara otomatis setiap tahun dan hubungan Perseroan dengan mitra usaha telah dilakukan selama bertahun-tahun, mitra Perseroan memiliki hak untuk mengakhiri perjanjian untuk alasan tertentu, seperti kegagalan Perseroan untuk mencapai target penjualan minimum tertentu yang telah disepakati penjualan pada tahun tertentu. Misalnya, target penjualan Perseroan untuk kendaraan Nissan meningkat untuk tahun 2011 dan akan meningkat lagi pada tahun 2012 karena diperkenalkannya model baru dan kapasitas perakitan meningkat.
Selain itu, jika ada perselisihan antara Perseroan dan mitra usaha Perseroan mengenai bisnis dan operasi dari usaha patungan, Perseroan tidak bisa menjamin bahwa Perseroan akan dapat mengatasinya dengan hasil terbaik untuk kepentingan Perseroan. Selain itu, mitra usaha patungan Perseroan dapat (i) memiliki kepentingan ekonomi atau bisnis atau tujuan yang tidak sesuai dengan Perseroan; (ii) mengambil tindakan bertentangan dengan instruksi, permintaan, kebijakan atau tujuan Perseroan; (iii) tidak mampu atau tidak mau memenuhi kewajibannya; (iv) mengalami kesulitan keuangan; atau (v) memiliki perselisihan dengan Perseroan dalam hubungannya dengan lingkup tanggung jawab dan kewajiban. Semua faktor ini dan faktor lainnya dapat menjadi faktor yang secara material dapat mempengaruhi profitabilitas, kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan.
5. RISIKO TERJADINYA BENTURAN KEPENTINGAN ANTARA PEMEGANG SAHAM PENGENDALI DAN PERSEROAN ATAU ANTARA PIHAK PENGENDALI DENGAN PEMEGANG SAHAM MINORITAS
Perseroan terafiliasi dengan Grup Salim. Sebelum PUT II, PT Cipta Sarana Duta Perkasa memiliki 69,80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan dan PT Tritunggal Intipermata, yang sahamnya dimiliki sebanyak 90% oleh Anthoni Salim, memiliki 23,61% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan. Setelah PUT II, PT Cipta Sarana Duta Perkasa akan memiliki 52,34% dan PT Tritunggal Intipermata akan memiliki 17,71% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan. Besarnya kepemilikan ini memungkinkan pihak pengendali Perseroan untuk mengendalikan secara signifikan Perseroan dan kepengurusan Perseroan, strategi dan arah, termasuk susunan Dewan Komisaris dan Direksi. Beberapa anggota komisaris, direksi dan manajemen senior memegang posisi senior di PT Tritunggal Intipermata dan PT Cipta Sarana Duta Perkasa.
Perseroan tidak dapat menjamin bahwa kepentingan pihak pengendali, termasuk kepentingan Grup Salim, akan selalu sejalan dengan Perseroan. Kepentingan pihak pengendali tidak selalu sejalan dengan kepentingan pemegang saham Perseroan. Pihak pengendali Perseroan dapat melaksanakan hak suara dan mempengaruhi tindakan pemegang saham yang dapat bertentangan dengan kepentingan pemegang saham Perseroan yang lain, seperti pembagian dividen atau lainnya. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa pihak pengendali Perseroan akan melaksanakan pengendalian atau pengaruh mereka untuk kepentingan komersial Perseroan atau pemegang saham minoritas Perseroan. Keputusan pihak pengendali Perseroan mengenai Perseroan dapat berpengaruh negatif terhadap harga saham Perseroan.
Transaksi dengan pihak afiliasi atau tindakan lain yang dilaksanakan oleh Perseroan berdasarkan instruksi pemegang saham pengendali Perseroan tunduk kepada Peraturan No. IX.E.1 (yang mensyaratkan persetujuan terlebih dahulu dari pemegang saham independen), namun hanya untuk transaksi dengan benturan kepentingan sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan No. IX.E.1. Perseroan mengetahui bahwa transaksi dengan pihak istimewa sebagaimana diuraikan dalam “Transaksi dengan Pihak Istimewa” bukan merupakan transaksi dengan benturan kepentingan sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan No. IX.E.1 dan karenanya tidak memerlukan persetujuan dari pemegang saham pengendali Perseroan.
6. RISIKO PASAR MODAL DAN PASAR HUTANG SECARA GLOBAL
Pada tahun 2008 dan 2009, pasar modal dan pasar hutang pada kebanyakan negara mengalami peningkatan volatilitas dan disrupsi, menjadikannya semakin sulit bagi perusahaan-perusahaan untuk dapat masuk pada pasar tersebut. Perseroan tergantung pada pasar modal dan hutang yang memiliki kestabilan, likuiditas dan yang berfungsi dengan baik untuk mendanai kegiatan operasional Perseroan. Meskipun krisis keuangan global secara umum tidak mempengaruhi kegiatan usaha dan kesehatan Perseroan dan bank di Indonesia sebagaimana yang dialami bank dan perusahaan di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, krisis keuangan global telah secara signifikan mempengaruhi sektor-sektor tertentu dari perekonomian Indonesia, termasuk industri otomotif Indonesia dan stabilitas pasar uang Indonesia pada akhir 2008 dan 2009. Timbulnya dampak atau kejadian setelah terjadinya dampak dari krisis keuangan dan hutang dapat mempengaruhi Indonesia secara lebih buruk di masa depan, serta mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk memperoleh pembiayaan bank dan akses ke pasar modal atau meningkatnya pembiayaan untuk melakukan hal-hal tersebut. Kegiatan usaha Perseroan juga dapat terpengaruh secara negatif apabila pelanggan-pelanggan Perseroan mengalami gangguan yang diakibatkan oleh lebih ketatnya pasar modal dan hutang atau melemahnya perekonomian secara umum.
7. RISIKO SUKU BUNGA
Sebagian besar pembeli kendaraan Perseroan mengandalkan pada pembiayaan untuk mendanai pembeliannya. Tingkat bunga pembiayaan kendaraan penumpang di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh biaya pendanaan, yang dalam waktu likuiditas normal terkait dengan tolok ukur Bank Indonesia sebagai referensi suku bunga. Meskipun demikian, tingkat suku bunga, pembiayaan kendaraan juga bisa meningkat secara signifikan ketika tingkat tolok ukur suku bunga berada di level rendah karena kekurangan likuiditas, seperti yang terjadi pada akhir tahun 2008 dan sebagian tahun 2009 selama krisis keuangan global, yang mengakibatkan penjualan yang lebih rendah di tahun 2009. Selain itu, meskipun Bank Indonesia menjaga tolok ukur referensi suku bunga pada batas rendah 6,50% untuk seluruhnya pada 2010, namun batas tersebut meningkat menjadi 6,75% di bulan Februari 2011 untuk menghadapi tekanan peningkatan inflasi pada perekonomian Indonesia dan selanjutnya suku bunga dapat meningkat pada ambang batas. Pembiayaan kendaraan untuk
truk dan alat berat pada umumnya dibiayai dalam mata uang Dolar AS dan karenanya suku bunga pembiayaannya terpengaruh oleh suku bunga Dolar AS. Peningkatan suku bunga dapat secara signifikan mengakibatkan kenaikan biaya pembiayaan kendaraan, yang dapat mempengaruhi secara negatif keterjangkauan kendaraan Perseroan, atau menurunkan marjin suku bunga atau marjin laba operasional pembiayaan kendaraan Perseroan. Lebih lanjut, Pemerintah dan bank-bank swasta dapat merubah kerangka aturan dengan cara yang menyebabkan pembiayaan kendaraan tidak tersedia atau tidak menarik bagi pembeli kendaraan yang potensial. Apabila ketersediaan dan ketertarikan atas pembiayaan kendaraan dikurangi atau dibatasi, banyak dari pembeli yang prospektif tidak dapat menyelesaikan atau memperoleh pembiayaan untuk membeli kendaraan Perseroan. Apabila terjadi peristiwa-peristiwa tersebut, maka kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil operasional dan prospek Perseroan dapat terpengaruh secara negatif.
8. RISIKO PERSAINGAN
Perseroan menghadapi persaingan ketat pada seluruh kegiatan usahanya. Operasional distributor dan dealer Perseroan mengalami persaingan dari perusahaan otomotif lain di Indonesia, yang mendistribusikan kendaraan penumpang, kendaraan komersial dan alat berat yang bersaing dengan model kendaraan Perseroan. Produk pembiayaan Perseroan bersaing dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan pembiayaan kendaraan lain dan bank-bank besar di Indonesia. Kegiatan usaha suku cadang Perseroan bersaing dengan baik suku cadang asli yang dijual oleh produsen atau suku cadang after market yang dijual oleh perusahaan penjual suku cadang. Persaingan ketat pada industri otomotif Indonesia dapat mengakibatkan peningkatan biaya suku cadang, tenaga kerja serta promosi dan iklan, yang mana dapat mempengaruhi kegiatan usaha Perseroan. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa Perseroan dapat bersaing secara baik di masa depan dalam menghadapi pesaing yang ada maupun yang potensial atau peningkatan persaingan tersebut terkait dengan kegiatan Perseroan dapat berpengaruh secara negatif terhadap kegiatan usaha, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
9. RISIKO HUKUM
Industri otomotif di Indonesia bergantung pada berbagai macam peraturan, perundang-undangan dan kebijakan yang dikenakan oleh instansi yang berwenang di Indonesia. Pemerintah dapat menerbitkan kebijakan baru atau mengubah atau menghilangkan kebijakan yang telah ada setiap saat. Perubahan-perubahan ini dapat berdampak negatif secara material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan atau hasil operasional Perseroan. Sebagai contoh, perubahan apapun dari kerangka bea impor di Indonesia dapat secara potensial mengganti secara signifikan insentif bagi perusahaan-perusahaan untuk merakit kendaraan dari suku cadang CKD yang diimpor, atau melemahkan produsen kendaraan asing untuk melanjutkan kemitraan usaha patungannya dengan mitra Indonesia seperti Perseroan. Apabila terdapat perubahan yang signifikan yang diimplementasikan oleh instansi berwenang di Indonesia, hal tersebut dapat berpengaruh secara negatif terhadap kegiatan usaha, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
Lebih lanjut, Perseroan bergantung pada peraturan lingkungan hidup Indonesia oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan instansi lingkungan hidup yang berada di tingkat provinsi dimana Perseroan mengoperasikan fasilitas perakitan. Perseroan berkeyakinan bahwa kendaraan dan alat berat yang dijual Perseroan telah memenuhi standar emisi kendaraan dan Perseroan telah memenuhi secara material peraturan mengenai lingkungan hidup yang berlaku, namun perubahan atau penegasan atas standar tersebut dapat meningkatkan biaya produksi kendaraan dan dapat berdampak negatif bagi kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan. Selanjutnya, segala perubahan dalam peraturan perpajakan yang berlaku bagi pelanggan kendaraan dapat mengarah pada pengurangan permintaan dari produk Perseroan dan karenanya dapat berdampak negatif bagi kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
10. RISIKO KEGAGALAN PENGEMBANGAN USAHA
Perseroan adalah perusahaan otomotif yang terintegrasi, dengan operasional yang tersebar dari perakitan kendaraan dan distribusi sampai dengan pembiayaan kendaraan dan penjualan suku cadang. Di masa mendatang, strategi usaha Perseroan dimaksudkan untuk, antara lain, pengembangan Perseroan pada industri kontraktor pertambangan. Meskipun Perseroan menjual alat berat kepada industri kontraktor pertambangan, Perseroan tidak memiliki pengalaman di bidang kontraktor pertambangan, yang memerlukan keahlian khusus selain yang telah dikembangkan oleh Perseroan. Apabila Perseroan tidak berhasil melaksanakan strategi usaha Perseroan, maka dapat berdampak negatif secara material terhadap kegiatan usaha, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
11. RISIKO FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH
Mata uang yang berlaku bagi Perseroan adalah Rupiah. Salah satu penyebab yang krusial atas krisis ekonomi yang mulai pada pertengahan 1997 adalah depresiasi dan volatilitas atas nilai tukar Rupiah dibandingkan dengan mata uang lainnya, seperti Dolar AS. Meskipun Rupiah telah diapresiasi sedemikian rupa dari titik rendah kurang lebih Rp17.000 pada Januari 1998, namun mata uang Rupiah terus mengalami volatilitas yang signifikan.
Mata uang Rupiah, dengan beberapa pengecualian, telah dipertukarkan dan dialihkan secara bebas. Namun, dari waktu ke waktu, Bank Indonesia telah mengintervensi pasar tukar mata uang, baik dengan cara menjual Rupiah atau dengan menggunakan cadangan mata uang asing untuk membeli Rupiah. Perseroan tidak dapat menjamin bahwa kebijakan kurs mata uang mengambang oleh Bank Indonesia tidak akan diubah, dan depresiasi tambahan atas Rupiah terhadap mata uang lainnya, termasuk Dolar AS, tidak akan terjadi, atau Pemerintah akan mengambil langkah tambahan untuk menstabilkan, menjaga atau meningkatkan nilai tukar Rupiah, atau jika langkah-langkah tersebut dilakukan, dapat terlaksana dengan baik. Perubahan terdapat kebijakan kurs nilai tukar di Indonesia saat ini dapat mengakibatkan suku bunga domestik yang lebih tinggi, kekurangan likuiditas atau modal atau pengendalian atas nilai tukar. Hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan terhadap kegiatan perekonomian, resesi ekonomi, kegagalan pembayaran hutang dan kenaikan harga impor. Konsekuensi-konsekuensi tersebut dapat berdampak negatif secara material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
Pembelian suku cadang CKD oleh Perseroan untuk kendaraan yang dirakit dan dijual oleh Perseroan didenominasikan dalam mata uang Dolar AS atau Euro, karenanya depresiasi atas Rupiah terhadap mata uang tersebut dapat berdampak negatif terhadap beban pokok penghasilan Perseroan. Selanjutnya, meskipun Perseroan membeli kendaraan Nissan dengan mata uang Rupiah, pembelian NMI atas suku cadang CKD didenominasikan dalam Dolar AS dan depresiasi atas Rupiah terhadap Dolar AS mengakibatkan biaya tinggi bagi NMI yang akan diteruskan kepada Perseroan. Peningkatan beban pokok penghasilan menyebabkan Perseroan harus menaikan harga kendaraan, yang dapat mengakibatkan penurunan penjualan. Perseroan pun memiliki kewajiban dalam mata uang asing yang utamanya diakibatkan oleh hutang bank jangka pendek dan jangka panjang dengan denominasi Dolar AS, depresiasi atas Rupiah terhadap Dolar AS dapat mempengaruhi peningkatan biaya kewajiban bunga dengan denominasi Dolar AS, begitupun apabila Perseroan masih memiliki kewajiban bersih dengan mata uang Dolar AS, yang mengakibatkan kerugian bersih atas nilai tukar asing.
12. RISIKO KONDISI PEREKONOMIAN
Kinerja keuangan Perseroan selalu dihubungkan dengan kondisi ekonomi di Indonesia. Permintaan produk Perseroan secara historis, dan kemungkinan di masa depan, dipengaruhi oleh salah satu dari berikut :
- Kenaikan tingkat suku bunga dan inflasi
- Kelemahan dalam perekonomian nasional, regional dan lokal - Kondisi keuangan yang merugikan dari beberapa perusahaan besar - Perubahan perpajakan
- Peraturan Pemerintah yang merugikan
Jika kondisi-kondisi tersebut terjadi, maka akan berdampak pada kondisi pasar dan pada akhirnya berdampak juga terhadap kegiatan usaha, prospek, profitabilitas, kondisi keuangan dan hasil operasional Perseroan.
13. RISIKO SUMBER DAYA MANUSIA
Bisnis perseroan bergantung pada kemampuan Perseroan untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja yang berkualifikasi tinggi dalam industri otomotif. Perseroan bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja tersebut dengan perusahaan asing dan domestik lainnya serta beberapa perusahaan industri pelanggan Perseroan, dan kemudian dibutuhkan pengembangan dan peningkatan keahlian dan kompetensi, yang pada umumnya sangat memakan waktu, seperti teknisi bengkel, yang pelatihannya dapat memakan waktu lebih dari 2 tahun untuk mencapai level kualifikasi terendah sebagai mekanik. Perseroan sangat tergantung pada manajemen senior Perseroan dalam kaitannya dengan keahlian mereka dalam industri otomotif dan tenaga kerja lainnya seperti manajer, teknisi, insinyur dan penjual retail outlet. Kehilangan dari salah satu manajemen senior Perseroan maupun ketidakmampuan untuk mempekerjakan atau mempertahankan tenaga kerja Perseroan yang terampil dapat berdampak secara negatif terhadap bisnis, prospek, kondisi finansial dan operasional Perseroan.
14. RISIKO ASURANSI
Perseroan memiliki pertanggungan asuransi sehubungan dengan operasi Perseroan. Namun, Perseroan mungkin menanggung kerugian yang mungkin tidak dapat dikompensasi oleh klaim asuransi. Selain itu, Perseroan tidak memiliki pertanggungan asuransi secara penuh terhadap setiap kerugian yang timbul dari gangguan bisnis atau dari pengambilalihan. Perseroan juga tidak mempertahankan asuransi
product liability. Akibatnya, asuransi Perseroan mungkin tidak cukup untuk menutupi kerugian jika kerugian-kerugian tersebut timbul. Segala bentuk kerugian yang tidak tercakup oleh asuransi dapat merugikan bisnis, prospek, kondisi keuangan dan hasil operasional