• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISIKO USAHA YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN

Dalam dokumen Prospektus Bank Victoria(3) (Halaman 102-107)

BAB VI. FAKTOR RISIKO

A. RISIKO USAHA YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN

1. RISIKO KREDIT

Risiko Kredit adalah potensi terjadinya default atau gagal bayar selaku penerbit Obligasi pada saat jatuh tempo dimana Perseroan mengalami penurunan kinerja keuangan sehingga terjadi penurunan rating Perseroan.

Pengelolaan Risiko Kredit diantaranya :

• Disesuaikan dengan Rencana Bisnis (business plan) Perseroan yang disusun secara realistis dan komprehensif.

• Dalam rangka mendukung pengembangan usaha dan tetap menjaga kualitas portfolio, Perseroan menyusun kebijakan dan prosedur.

• Menetapkan tingkat risiko yang bersedia diambil, dengan tujuan memitigasi risiko kredit yang mungkin timbul melalui penetapan limit yang dituangkan dalam Rencana Bisnis Perseroan.

• Penerapan four eyes principle

2. RISIKO PASAR

Risiko pasar merupakan risiko kerugian dari portofolio yang dimiliki oleh Perseroan akibat adanya perubahan kondisi pasar yang tercermin pada pergerakan variabel pasar seperti tingkat suku bunga dan nilai tukar. Risiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas fungsional Perusahaan seperti penerbitan Obligasi. Perubahan variabel yang terjadi secara signifikan akan berdampak pada penurunkan nilai portofolio yang dimiliki oleh Perseroan.

Pengelolaan Risiko Pasar diantaranya:

• Pengelolaan risiko pasar dilakukan berdasarkan risk appetite dan risk tolerance dalam bentuk strategi, kebijakan dan prosedur perseroan yang berkaitan dengan produk, jasa dan aktivitas yang terekspos risiko pasar.

• Perseroan juga menerapkan prinsip segregation of duties yaitu memisahkan fungsi dan tanggung jawab secara independen atas front office unit (Treasury), middle office unit (Risk Management) dan back office unit (Settlement).

• Pengelolaan portofolio trading book dan banking book serta metodologi valuasi yang dilakukan dengan memantau limit-limit yang telah ditetapkan Perseroan.

• Perseroan terus mengembangkan dan mengkaji ulang limit-limit risiko pasar seiring dengan berkembangnya produk-produk serta aktivitas fungsional Perseroan yang berpotensi menimbulkan risiko pasar.

• • • • • • • • 3. RISIKO LIKUIDITAS

Risiko likuiditas timbul dari adanya kesenjangan sumber pendanaan karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption), sehingga mempengaruhi keamampuan likuiditas Perseroan. Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas adalah untuk meminimalkan kemungkinan ketidakmampuan Perseroan dalam memperoleh sumber pendanaan.

Pengelolaan Risiko Likuiditas diantaranya:

• Merencanakan dan mengendalikan sumber penggunaan dana Perseroan yang terkoordinasi serta dijalankan secara konsekuen dengan prinsip kehati-hatian dan memperhatikan perkembangan faktor-faktor yang mempengaruhi operasi perbankan (Assets & Liabilities Management-ALMA). • Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan manajemen likuiditas yang diterapkan diantaranya

melalui pengukuran yang digunakan oleh Perseroan dalam mengelola risiko likuiditas, seperti rasio- rasio likuiditas sebagai indikator peringatan dini (eraly warning indicator) dan maturity profile. • Perseroan juga melakukan pemantauan secara berkala terhadap stabilitas pendanaan inti (core

deposits).

4. RISIKO OPERASIONAL

Risiko Operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan.

Pengelolaan risiko operasional yang efektif adalah dengan menekan kerugian potensi kerugian dari risiko operasional Perseroan.

Pengelolaan Risiko Operasional diantaranya : • Risk & Control Self Assessment (RCSA)

RCSA merupakan sarana yang digunakan oleh unit kerja yang terkait secara mandiri untuk mengidentifikasi dan mengukur risiko operasional.

• Key Risk Indicator (KRI)

KRI merupakan serangkaian parameter pengukuran kuantitatif untuk mengindikasikan tingkat risiko pada suatu fungsi/proses/bisnis.

• Loss Event Database (LED)

LED merupakan saran yang digunakan untuk mengadministrasikan kejadian atau kerugian yang disebabkan oleh risiko operasional dan merupakan sumber utama yang digunakan untuk analisa data kerugian dan pelaporannya.

5. RISIKO HUKUM (LEGAL RISK)

Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat kelemahan aspek yuridis, seperti tidak dipenuhinya peraturan dalam penerbitan obligasi sehingga terjadi tuntutan hukum yang dapat berakibat negatif pada kinerja Perseroan.

Pengelolaan risiko hukum diantaranya :

• Menetapkan kebijakan pengendalian risiko hukum terutama yang berpengaruh kepada aktivitas fungsional perseroan.

• Mengidentifikasi dan mengendalikan risiko hukum yang melekat pada produk dan aktivitas baru sebelum diperkenalkan kepada nasabah.

• Pengukuran risiko untuk risiko hukum dilakukan dengan menggunakan indikator seperti potensi kerugian akibat litigasi, pembatalan kontrak akibat perjanjian yang tidak sah, dan perubahan peraturan.

• Melakukan evaluasi atas dokumen-dokumen atau perjanjian-perjanjian guna mengamankan kepentingan hukum perseroan.

6. RISIKO REPUTASI (REPUTATION RISK)

Risiko Reputasi adalah Risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholder) yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Perseroan.

Pengelolaan Risiko Reputasi diantaranya :

• Menetapkan kebijakan komunikasi dalam rangka menghadapi publikasi negatif atau pencegahannya.

• Melakukan pemantauan terhadap setiap berita yang berkaitan dengan Perseroan di media massa.

7. RISIKO STRATEJIK (STRATEGIC RISK)

Risiko Stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

Ketidakmampuan Perseroan dalam melakukan penyusunan strategi yang tepat dapat menimbulkan kegagalan di masa yang akan datang. Risiko ini juga mencakup kemampuan Perseroan dalam mengembangkan daya saing dan menciptakan keunggulan kompetitif Perseroan di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Pengelolaan Risiko Stratejik diantaranya :

• Menyusun Rencana Bisnis Bank (RBB) dengan jangka waktu 3 (tiga) tahun dan selalu direview setiap tahun maupun direvisi pada pertengahan tahun. RBB ini disesuaikan dengan visi dan misi serta strategi Perseroan.

• Melakukan analisis atas lingkungan industri yang dapat mempengaruhi pendapatan dan keberlangsungan bisnis Perseroan, baik dari sisi makro maupun mikro ekonomi secara berkala. • Pemantauan atas realisasi atas rencana strategis Perseroan dilakukan minimal 1 (satu) bulan sekali

atau sewaktu waktu sesuai dengan kebutuhan sehingga memungkinkan Perseroan untuk merespon perubahan lingkungan bisnis dengan cepat sesuai perkembangan industri.

• Sistem pengendalian internal untuk manajemen risiko stratejik mencakup pengawasan secara berkala atas kinerja Perseroan yang berdampak pada pendapatan usaha dan budaya pengendalian risiko stratejik.

• • • • • • • • • •

8. RISIKO KEPATUHAN (COMPLIANCE RISK)

Risiko Kepatuhan adalah Risiko akibat Perseroan tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.

Tujuan utama manajemen risiko untuk risiko kepatuhan adalah untuk memastikan bahwa proses manajemen risiko dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari perilaku Perseroan yang menyimpang atau melanggar standar yang berlaku secara umum, ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pengelolaan risiko kepatuhan dilaksanakan antara lain dengan :

• Perseroan bersama dengan Divisi Compliance, KYC/Integrated & System Procedure bertanggung jawab terhadap penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) di Perseroan. Dalam pelaksananannya untuk mendukung efektifitas kepatuhan Perseroan didukung oleh komite eksekutif yaitu komite Pemantau Pelaksanaan Good Corporate Governance.

• Melakukan uji kepatuhan terhadap kebijakan atau aktivitas perusahaan.

• Melakukan sosialisasi secara berkala berkenaan dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh regulator. • Melakukan pemisahan fungsi yang jelas dalam jenjang organisasi.

• Mendukung budaya kepatuhan, yaitu nilai, perilaku, dan tindakan yang mendukung kepatuhan Perseroan atas hukum dan peraturan yang berlaku.

9. RISIKO ENTITAS ANAK

Perseroan telah melakukan manajemen risiko secara terkonsolidasi dengan Entitas Anak yaitu PT Bank Victoria Syariah (”BVIS”). Risiko-risiko yang material yang dihadapi Entitas Anak Perseroan

yang dapat mempengaruhi pendapatan maupun permodalan, telah disusun berdasarkan bobot dari dampak masing-masing risiko terhadap kinerja adalah sebagai berikut:

a. Risiko Kredit

Entitas Anak yang bergerak di bidang jasa perbankan Syariah dalam keadaan usaha yang normal akan aktif dalam pemberian pembiayaan berbasis Syariah kepada para nasabah. Semakin besar porsi pembiayaan yang bermasalah karena adanya keraguan atas kemampuan nasabah dalam membayar kembali pinjaman yang diberikan, menurunkan pendapatan dan permodalan Entitas Anak. Semakin tinggi tingkat jumlah pembiayaan bermasalah, semakin besar kebutuhan biaya penyisihan kerugian aktiva produktif, yang akan menurunkan keuntungan.

b. Risiko Likuiditas

Sebagian besar keperluan pendanaan Entitas Anak merupakan dana jangka pendek, sedangkan sebagian besar kredit yang disalurkan berjangka menengah dan panjang. Kesenjangan antara sumber pendanaan dengan pemberian kredit maka terdapat Risiko likuiditas yang menyebabkan Entitas Anak tidak dapat memenuhi komitmennya kepada nasabah dan pihak lainnya. Ketidakmampuan Entitas Anak memenuhi komitmen pada nasabah atau pihak lain akan menyebabkan turunnya kepercayaan Nasabah dan penarikan dana secara besar-besaran oleh Nasabah (rush) yang akan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Entitas Anak.

c. Risiko Pasar

Sebagai Bank Syariah non-devisa maka Entitas Anak menghadapi risiko pasar, khususnya Risiko Tingkat Suku Bunga. Karena sumber-sumber dan penggunaan dana Entitas Anak seperti penempatan pada bank lain, investasi dalam surat berharga, deposito berjangka dan kewajiban- kewajiban pasar uang lainnya memiliki berbagai tingkat bunga dan jangka waktu, maka perubahan- perubahan pada tingkat suku bunga mengakibatkan kenaikan atau penurunan pendapatan bunga bersih.

d. Risiko Operasional

Risiko Operasional yaitu ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan berpotensi meningkatkan risiko operasional yang dapat mempengaruhi operasional bank. Lemahnya sistem operasional akan mengakibatkan peningkatan biaya operasional yang pada akhirnya akan mempengaruhi laba usaha. Disamping itu, adanya faktor penyebab risiko operasional secara umum akan mengakibatkan terganggunya kelancaran operasional dan mutu pelayanan kepada nasabah dan pada gilirannya akan menurunkan kinerja dan daya saing Entitas Anak.

e. Risiko Lainnya

Risiko lainnya meliputi yaitu risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik dan risiko kepatuhan, risiko imbal hasil dan risiko investasi, berpotensi muncul bila mutu pelayanan yang diberikan ke nasabah belum maksimal dan tidak mengantisipasi kondisi eksternal serta tidak mematuhi dan menyesuaikan Perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam industri perbankan dari waktu ke waktu yang dapat mempengaruhi kinerja dan kegiatan usaha Entitas Anak karena menuntut dilakukannya penyesuaian-penyesuaian tata cara pelaksanaan kegiatan operasional Perseroan. Ketidakmampuan Entitas Anak dalam mengantisipasi, memenuhi dan/atau menyesuaikan diri dengan kondisi eksternal dan ketentuan-ketentuan tersebut akan menimbulkan kerugian atau dikenakan sanksi yang berdampak negatif terhadap kinerja Entitas Anak.

Selain itu, Kinerja anak perusahaan terhadap Perseroan membawa dapat membawa dampak positif maupun yang kurang menguntungkan bagi perseroan yang dapat memicu risiko reputasi.Sebagai Bank publik dan mengingat usaha Perseroan berlandasan kepercayaan masyarakat. Perseroan wajib memberikan perhatian terhadap potensi timbulnya Risiko Reputasi. Reputasi yang tidak baik pada anak perusahaan dapat mempengaruhi reputasi Perseroan secara umum.

10.RISIKO PERUBAHAN TEKNOLOGI

Dengan semakin ketatnya persaingan dalam industri perbankan, teknologi merupakan salah satu basis keunggulan persaingan suatu bank. Dengan teknologi yang mendukung, kalangan perbankan mampu menciptakan produk baru dan meningkatkan mutu pelayanan serta kenyamanan kepada nasabah yang semakin kritis dalam menilai kualitas pelayanan bank. Apabila Perseroan tidak mengikuti perkembangan teknologi, maka hal ini akan berpengaruh terhadap pelayanan kepada nasabah yang pada gilirannya akan menurunkan daya saing dan kinerja Perseroan.

11.RISIKO KELANGKAAN SUMBER DAYA

Kesuksesan Perseroan bergantung pada komitmen yang berkelanjutan dari manajemen kunci dan tenaga teknis serta kemampuan Persroan dalam memotivasi dan mempertahankan pegawai yang berkualitas. Faktor eksternal seperti tingkat pengangguran, perubahan demografi, upah minimum dan peraturan ketenagakerjaan lain terkait jam kerja minimum dan pemutusan hubungan kerja, dapat mempengaruhi kemampuan perseroan untuk memenuhi kebutuhan dan pengendalian biaya tenaga

kerja. Apabila Perseroan tidak dapat menarik dan mempertahankan pegawai yang berkualitas, maka hal ini dapat mempengaruhi fokus bisnis Perseroan sehingga terdapat kemungkinan bahwa Perseroan tidak bisa mengidentifikasi serta memanfaatkan peluang yang potensial, seperti memperluas jaringan pemasaran. Apabila Perseroan tidak mampu mempertahankan kecukupan jumlah karyawan yang sesuai dengan kapasitas produksi yang dimiliki Perseroan saat ini, atau Perseroan tidak dapat merekrut tambahan karyawan untuk memenuhi rencana ekspansi, maka kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil usaha dan prospek usaha Perseroan dapat terpengaruh dan Perseroan mungkin tidak dapat berhasil menerapkan strategi ekspansi.

Dalam dokumen Prospektus Bank Victoria(3) (Halaman 102-107)

Dokumen terkait