• Tidak ada hasil yang ditemukan

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007 Hak cipta dilindung

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Situbondo pada Tanggal 31 Oktober 1981 dari ayah Ir. Muryono dan ibu Fatmawati, S.Pd. penulis merupakan putri pertama dari dua bersaudara.

Tahun 1999 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Situbondo dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, lulus pada tahun 2003. Tahun 2004, penulis diterima di Program Studi Ilmu Ternak pada Program Pascasarjana IPB.

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ... xii DAFTAR GAMBAR ... xiii DAFTAR LAMPIRAN ... xiv PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 Hipotesa ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 Silase ... 3 Bakteri Asam Laktat ... 5 Asam Organik ... 8 Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat pada Unggas ... 10 Penggunaan Antibiotika ... 11 Salmonellosis pada Unggas ... 11 Organ Vital dan Usus Halus ... 14

Organ Vital ... 14

Usus Halus ... 14 MATERI DAN METODE ... 19 Tempat dan Waktu ... 19 Materi ... 19 Ternak ... 19 Kandang dan Perlengkapan ... 19 Ransum ... 19 Bakteri dan Additive ... 19 Vitamin dan Vaksin ... 21 Metode ... 21 Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 21 Pembuatan Ransum Silase Komplit ... 22 Uji Tantang ... 23

Analisis Kimia dan Histopatologi ... 23 Kualitas Silase ... 23 Jumlah Koloni Salmonella ... 23 Pengamatan Histopatologi Usus Halus ... 23 Peubah yang Diamati ... 25 Prosedur Pelaksanaan ... 25 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26 Silase Ransum ... 26 Kualitas Silase Ransum dan Ransum Kering selama Penyimpanan .... 27 Performa Broiler yang Diberi Ransum Perlakuan dan Ditantang

Salmonella typhimurium ... 28 Konsumsi... 29 Pertambahan Bobot Badan ... 30 Bobot Badan Akhir ... 32 Konversi Ransum ... 32 Organ Dalam Broiler ... 35 Hati ... 35 Empedu ... 36 Limpa ... 37 Jumlah Koloni Salmonella ... 39 Histopatologi Usus Halus ... 41 SIMPULAN DAN SARAN ... 51 DAFTAR PUSTAKA ... 52 LAMPIRAN ... 56

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Enam fase dari fermentasi silase dan penyimpanannya ... 4 2. Susunan dan kandungan zat makanan dalam ransum penelitian ... 20 3. Koloni bakteri asam laktat (BAL) dan pH silase ransum pada minggu

ke 0, 3 dan 6 ... 26 4. Kualitas pakan silase dan pakan kering yang disimpan pada minggu

ke 0, 3 dan 6 ... 27 5. Rata-rata konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB), bobot

badan akhir (BBA) dan konversi ransum broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 29 6. Rata-rata konversi pakan broiler minggu ke 0-3 dan minggu ke 4-6 ... 34 7. Jumlah koloni Salmonella pada isi sekum broiler ... 39 8. Tingkat kerusakan pada usus halus broiler ... 41

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Pembentukan laktat oleh bakteri homofermentatif ... 5 2. Pembentukan laktat oleh bakteri heterofermentatif ... 6 3. Kerja asam organik pada bakteri yang sensitif (Coliform,

Clostridis, Salmonella, Listeria spp) terhadap perubahan pH ... 9 4. Kerja asam organik pada bakteri yang tidak sensitif (Bakteri Asam

Laktat, Bifidobakteria) terhadap perubahan pH ... 10 5. Infeksi pada mukosa usus oleh bakteri Salmonella ... 13 6. pH organ dan saluran pencernaan broiler ... 16 7. Gambaran mikroskopis usus halus normal broiler ... 17 8. Proses pembuatan ransum silase komplit ... 22 9. Proses pembuatan sediaan preparat histopatologi usus halus ... 24 10. Pertambahan bobot badan broiler selama 6 minggu pemeliharaan ... 31 11. Konversi pakan broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 33 12. Persentase hati broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 36 13. Persentase empedu broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 37 14. Persentase limpa broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 38 15. Skema pelepasan proton H+ oleh asam organik ... 40 16. Gambaran mikroskopis usus halus normal broiler umur 9 hari;

pewarnaan Haematoxylin Eosin (HE) (pembesaran obyektif 40x) ... 42 17. Gambaran mikroskopis usus halus broiler yang mengalami koyakan

pada permukaan vili-vilinya pewarnaan Haematoxylin Eosin (HE) (pembesaran obyektif 40x) ... 43 18. Ileum broiler yang diberi pakan silase ... 44 19. Ileum broiler yang diberi pakan ransum kering ... 45 20. Ileum broiler yang diberi pakan L. Plantarum melalui air minum ... 45 21. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi pakan silase ... 46 22. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi ransum basal ... 47 23. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi L. Plantarum

melalui air minum ... 48 24. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi Antibiotik ... 49

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Cara Pewarnaan Haematoxyllin dan Eosin ... 57 2. Analisis ragam (ANOVA) konsumsi broiler umur 6 minggu ... 58 3. Analisis ragam (ANOVA) pertambahan bobot badan broiler

umur 6 minggu ... 58 4. Analisis ragam (ANOVA) bobot badan akhir broiler

umur 6 minggu ... 58 5. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur

6 minggu ... 59 6. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur

0-3 minggu ... 59 7. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur

4-6 minggu ... 59 8. Data histopatologi usus halus bagian ileum ... 60

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kondisi pemeliharaan unggas khususnya broiler di Indonesia masih kurang baik. Hal ini telah menyebabkan penyakit sangat mudah menjangkiti ternak. Salah satu penyakit yang sulit dikendalikan adalah Salmonellosis (penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella).

Permasalahan lain peternakan khususnya unggas adalah ketersediaan pakan dan daya tahan pakan dalam penyimpanannya, sehingga teknologi pengawetan dalam bentuk silase merupakan salah satu jalan tepat untuk diterapkan dalam rangka menanggulangi permasalahan tersebut di atas.

Saat ini teknologi pengawetan berupa fermentasi anaerob lebih banyak digunakan pada ternak ruminansia khususnya sapi perah, dan masih sangat terbatas dilaporkan penggunaan silase pada unggas. Kajian awal mengenai penggunaan silase pada broiler menunjukkan bahwa broiler umur 1 minggu dapat menerima silase ransum komplit tanpa ada pengaruh negatif terhadap bobot badan yang dihasilkan maupun terhadap organ vital (Tonnedy 2006).

Aplikasi teknologi silase pada unggas selain dapat menjamin ketersediaan pakan, juga dapat digunakan sebagai sumber bakteri asam laktat (BAL) dan asam organik. BAL dapat berperan sebagai feed additive alternatif antibiotik dan begitu juga halnya dengan asam organik. Asam organik di Eropa telah diklaim dapat digunakan sebagai growth promotor disamping sebagai bahan yang dapat memperpanjang umur simpan bahan pakan.

Terkait dengan hal tersebut maka perlu untuk mengkaji pengaruh bakteri dalam silase dan asam organik terhadap performan dan histopatologi usus halus pada broiler umur 1 minggu samapi 6 minggu yang diberi pakan silase dan ditantang Salmonella typhimurium.

Tujuan

1.Mempelajari pengaruh penggunaan silase ransum terhadap performan, organ dalam dan jumlah koloni Salmonella dalam sekum broiler yang diinfeksi bakteri Salmonella typhimurium.

2.Mempelajari histopatologi jaringan usus halus broiler yang diberi silase ransum setelah broiler tersebut diinfeksi dengan bakteri Salmonella typhimurium.

Hipotesis

1.Pemberian silase ransum pada broiler dapat menekan jumlah Salmonella typhimurium di dalam usus halus, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan bobot badan.

2.Silase ransum mempengaruhi struktur vili usus halus, kecernaan dan metabolisme pakan sehingga dapat meningkatkan performa broiler jika dibandingkan dengan penggunaan antibiotik.

TINJAUAN PUSTAKA

Silase

Silase merupakan makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan pakan dengan kandungan kadar air tinggi. Tujuan pembuatan silase ini adalah memaksimalkan nutrient yang dapat diawetkan (Sapienza dan Keith 1993) dan pakan dapat lebih tahan lama dalam penyimpanan.

Untuk meningkatkan kualitas silase sering ditambahkan bahan aditif yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu : 1. sebagai stimulan fermentasi dan 2. sebagai inhibitor fermentasi. Zat aditif stimulan fermentasi bekerja membantu pertumbuhan bakteri asam laktat sehingga kondisi asam dapat segera tercapai. Sedangkan inhibitor fermentasi digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk seperti clostridia agar pakan dapat lebih awet.

Keberhasilan pembuatan silase adalah memaksimalkan nutrien yang dapat diawetkan. Silase yang baik diperoleh dengan menekan berbagai aktivitas enzim yang berada dalam bahan baku yang tidak dikehendaki, dan dapat mendorong berkembangnya bakteri penghasil asam laktat (Sapienza dan Keith 1993). Selain menghasilkan asam laktat, bakteri ini juga mampu menghasilkan berbagai substansi antimikroba yang potensial seperti asam organik, hidrogen peroksida, diasetil, dan bakteriosin (Cintas et al. 1995). Bakteriosin merupakan substansi protein yang memiliki berat molekul kecil dan memiliki efek antagonis sebagai bakterisidal atau bakteriostatik terhadap pertumbuhan bakteri patogen (Suarsana et al. 2001). Bakteriosin akan terbentuk setelah 10 jam sampai 26 jam selama ensilase, bakteriosin ini memiliki aktivitas optimum pada pH 6, bersifat termostabil pada pH 3-5 dengan pemanasan 121oC selama 15 menit (Suarsana 2001). Namun mekanisme antimikroba dari bakteriosin secara detail masih belum diketahui.

Karakteristik silase yang penting dalam hal ini adalah kandungan asam lemak terbangnya (asam asetat, asam propionat dan asam butirat) akan menekan tumbuhnya jamur. Dari ketiga asam lemak terbang tersebut yang paling toksik adalah asam butirat dan yang paling baik adalah asam asetat. Asam butirat dikatakan paling toksik karena memiliki antifungal yang sangat kuat sehingga

menyebabkan bakteri clostridial menjadi stabil (McDonald et al. 1991). Asam laktat dapat menekan pertumbuhan jamur meskipun tidak seefektif asam asetat. Secara keseluruhan, semakin besar tingkat fermentasi asam laktat dan asam asetat maka silase tersebut akan semakin stabil dari kondisi aerob.

Secara garis besar proses pembuatan silase terdiri dari empat fase : (1). Fase aerob (2). Fase fermentasi (3). Fase stabil dan (4). Fase pengeluaran untuk diberikan pada ternak. Untuk lebih detail mengenai fase, aktivitas dan produksi dalam fermentasi silase dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Enam fase dari fermentasi silase dan penyimpanannya Fase Umur Silase

(hari) Aktivitas Suhu (oC) pH Produksi I 0-2 Respirasi sel; produksi CO2, panas dan air

15.5 - 32.2 6.5 - 6.0

II 2-3

Produksi asam asetat dan etanol asam laktat

32.2 - 27.7 6.0 - 5.0

Asam asetat dan bakteri asam laktat III 3-4 Pembentukan asam

laktat 32.2 - 27.7 5.0 - 4.0 Bakteri asam laktat IV 4-21 Pembentukan asam laktat 27.7 4.0 Bakteri asam laktat V 21 Penyimpanan materi 27.7 4.0 VI Dekomposisi aerobik terhadap produksi oksigen 27.7 4.0-7.0 Pembentukan dan aktivitas jamur Sumber : Schroeder (2004)

Selama ini silase pakan hanya digunakan pada ternak ruminansia yaitu sapi perah, karena telah diketahui silase ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain : (1) Ransum lebih awet, (2) Memiliki kandungan bakteri asam laktat (BAL) yang berperan sebagai probiotik, (3) Memiliki kandungan asam organik yang cukup baik, yang berperan sebagai growth promotor dan penghambat penyakit, (4) Kandungan air yang terdapat dalam silase cukup tinggi, kondisi ini sangat bermanfaat bagi ternak.

Bakteri Asam Laktat

Bakteri asam laktat yang umum digunakan dalam proses fermentasi adalah kelompok Lactobacillus, Pediococcus, Leuconostoc, Enterococcus, Lactococcus and Streptococcus (Stefanie et al. 2000). Bakteri penghasil asam laktat akan memfermentasi gula menjadi asam laktat yang disertai dengan produksi asam asetat, etanol, karbondioksida dan lain-lain. Bakteri ini terbagi kedalam dua ketegori, yaitu yang homofermentatif dan heterofermentatif. Bakteri penghasil asam laktat yang homofermentatif hanya menghasilkan asam laktat dari fermentasi gula, seperti yang terlihat pada Gambar 1.

Sumber : http://www.bact.wisc.edu/Microtextbook (1999) Gambar 1. Pembentukan laktat oleh bakteri homofermentatif

Fermentasi heterofermentatif, selain menghasilkan asam laktat juga menghasilkan etanol, asam asetat dan karbondioksida, seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Sumber : http://www.bact.wisc.edu/Microtextbook (1999) Gambar 2. Pembentukan laktat oleh bakteri heterofermentatif

Oleh karena asam laktat lebih kuat daripada asam asetat maka bakteri penghasil asam laktat homofermentatif lebih diinginkan daripada heterofermentatif di dalam proses fermentasi karena bakteri homofermentatif akan merombak gula dengan tingkat kehilangan bahan kering sangat kecil serta tingkat kehilangan energinya sangat sedikit.

Bakteri asam laktat merupakan golongan mikroorganisme yang bermanfaat karena sifatnya tidak toksik bagi inang dan mampu menghasilkan senyawa yang dapat membunuh mikroorganisme patogen. Sesuai dengan namanya bakteri asam laktat ini menghasilkan asam laktat sebagai hasil metabolismenya yang sangat bermanfaat dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain yang merugikan bagi tubuh. Bakteri asam laktat ini juga memproduksi metabolit sekunder seperti asam hidroksi peroksida, diasetil, amonia, asam lemak dan bakteriosin (Lopez 2000). Produksi bakteriosin ini dapat menghambat perkembangan bakteri patogen (Wiryawan dan Anita 2001).

Mekanisme kerja bakteri asam laktat yang dikemukakan oleh Lopez (2000), yaitu menekan kemampuan hidup mikroorganisme patogen karena mampu memproduksi komponen antibakteria seperti hidroksi peroksida dan asam-asam organik seperti asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan tersebut berguna untuk menurunkan pH. Ada beberapa mekanisme kerja yang dilakukan oleh asam laktat sebagai probiotik, yaitu : (1) Berkompetisi dengan mikroorganisme patogen untuk mendapat nutrisi dan tempat tinggal (2) Menjaga keseimbangan ekosistem melalui penjagaan pH lingkungan agar tetap berada dalam kondisi asam, sehingga perkembangan bakteri patogen dapat terhambat (3) Menyediakan kebutuhan enzim-enzim yang mampu mencerna serat kasar, protein, lemak dan karbohidrat (4) Mendetoksifikasi zat beracun dalam tubuh (5) Mampu menstimulasi kekebalan tubuh dengan cara meningkatkan konsentrasi dari antibodi imunoglobulin (Lopez 2000).

Bakteri asam laktat dalam pengawetan bahan pakan digunakan dalam proses ensilase yang akan menghasilkan suatu produk yaitu silase. Silase ini dapat dikategorikan sebagai probiotik yang bermanfaat sebagai feed additive dengan beberapa kelebihan sebagai berikut : dapat meningkatkan ketersediaan lemak dan protein bagi ternak, mempertahankan konversi pakan, meningkatkan pertumbuhan berat badan, mampu memperbaiki resistensi penyakit akibat stimulasi dan peningkatan natural immunity, selain itu juga dapat meningkatkan kandungan vitamin B komplek melalui proses fermentasi (McDonald et al. 1991).

Genus bakteri asam laktat yang banyak digunakan dalam fermentasi makanan biakan starter adalah genus Lactococcus, Pediococcus, Leuconostoc,

Lactobacillus dan Carnobacterium (Nettles dan Barefoot 1993). Berdasarkan proses metabolisme gula, BAL dibagai dalam 3 kelompok, yaitu : 1. obligat homofermentatif (Pediococcus damnosus dan Lactobacillus ruminis), 2. fakultatif heterofermentatif (Lactobacillus plantarum, L. pentosus, Pediococcus acidilactici, P. pentosaceus dan Enterococcus faecium), 3. obligat heterofermentatif (Leuconostoc, dan beberapa Lactobacillus spp., seperti Lactobacillus brevis dan Lactobacillus buchneri). Obligat homofermentatif menghasilkan lebih dari 85% asam laktat dari heksosa (C6) seperti glukosa, tapi tidak dapat memecah pentosa (C5) seperti xylosa. Fakultatif heterofermentatif menghasilkan produk utama asam laktat dari heksosa dan dalam jumlah kecil dapat memecah pentosa menjadi asam laktat dan asam asetat atau etanol. Obligat heterofermentatif dapat memecah heksosa dan pentosa, namun berbeda dengan homofermentatif mereka memecah heksosa menjadi sejumlah equimolar dari asam laktat, CO2 dan asam asetat atau

etanol (McDonald et al. 1991).

Habitat dari bakteri asam laktat (BAL) sangat beragam dan bertoleran baik terhadap pH, suhu dan udara. BAL bisa bertahan hidup pada kondisi pH yang beragam mulai dari pH 4.0 - 6.8. BAL dari spesies Streptococcus umumnya bertahan pada pH sekitar 4.5 – 5.0. sedangkan untuk spesies Lactobacillus akan tumbuh subur pada media asam mulai dari pH 4.5 – 6.4. Kisaran suhu hidup BAL sangat luas dan beragam mulai dari 5oC – 50oC. Suhu optimal bakteri asam laktat adalah 30oC (untuk strain L. plantarum) dan 37oC (untuk strain L. paracasei) (Koenen et al. 2004).

Asam Organik

Beberapa asam organik memiliki sifat anti-bakteri. Prinsip dasar kerja asam organik sebagai antibakteri adalah asam organik dapat menembus dinding sel bakteri dan mengganggu fisiologi normal beberapa tipe bakteri. Asam organik dapat berfungsi sebagai growth promotor yang dapat digunakan untuk menstabilkan mikroflora pada saluran pencernaan dan meningkatkan performan secara umum pada unggas (Gauthier 2002). Asam organik meliputi seluruh senyawa asam yang terdiri atas rantai karbon sebagai rantai cabang utama (R-CO- H) atau yang dikenal sebagai golongan asam karboksilat.

Asam-asam karboksilat tersebut umumnya dapat diproduksi oleh mahluk hidup melalui proses metabolisme tubuh. Asam organik dalam saluran pencernaan dapat melakukan proses ionisasi dengan mudah yaitu dengan cara melepaskan ion hidrogen. Peningkatan jumlah ion hidrogen tersebut akan menurunkan pH saluran pencernaan sehingga mikroorganisme yang tidak tahan terhadap kondisi asam akan terhambat pertumbuhannya (Hardy 2003). Pada bakteri yang sensitif terhadap perubahan pH, asam organik menembus dinding sel bakteri sehingga asam organik akan terurai (H+ dan RCOO-), mengakibatkan pH dalam sel akan turun. Pada kondisi tersebut bakteri berusaha melepaskan H+ dari dalam sel agar pH dalam sel menjadi normal, namun proses ini membutuhkan energi yang besar sehingga mengakibatkan bakteri akan berhenti tumbuh dan mati. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Kerja asam organik pada bakteri yang sensitif (Coliform, Clostridis, Salmonella, Listeria spp) terhadap perubahan pH (Gauthier 2002).

Beberapa bakteri memiliki struktur dinding sel yang berbeda, dinding sel bakteri yang tidak sensitif terhadap perubahan pH memungkinkan jumlah asam organik yang masuk ke dalam sel bakteri berkurang, sehingga bakteri tersebut lebih tahan terhadap lingkungan asam (Gauthier 2002). Proses pelepasan proton asam organik dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Kerja asam organik pada bakteri yang tidak sensitif (bakteri asam laktat, bifidobakteria) terhadap perubahan pH (Gauthier 2002).

Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat pada Unggas

Bakteri asam laktat (BAL) mampu menghasilkan asam laktat, hidrogen peroksida, antimikroba dan hasil metabolisme lain yang memberikan pengaruh positif bagi produktivitas ternak. BAL yang selama ini digunakan terbukti dapat meningkatkan produktivitas ternak. Pemberian BAL sebagai supplemen diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan bakteri (rasio antara bakteri patogen dan nonpatogen) dalam saluran pencernaan ternak terutama dalam usus. BAL adalah pakan imbuhan dalam bentuk mikroorganisme hidup yang berpengaruh positif pada hewan inang dan dapat meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan unggas.

Pemberian BAL pada ayam memiliki dua sasaran, yaitu di saluran pencernaan dan di sekum yang diharapkan dapat menghasilkan senyawa antimikroba sehingga dapat berpengaruh terhadap ternak (Fuller 1992). Watkins dan Miller (1983) menunjukkan adanya penurunan mortalitas pada ayam gnotobiotik yang diberi kultur Lactobacillus acidophilus dua hari sebelum diberi kultur bakteri patogen yaitu Salmonella typhimurium. Suplementasi pakan dengan probiotik ataupun prebiotik nyata meningkatkan bobot badan dan efisiensi serta konversi pakan broiler diusia muda namun tidak berlaku pada broiler berumur lebih dari 2 minggu (Palliyaguru et al. 2004).

Penggunaan Antibiotika pada Unggas

Broiler mampu mengolah makanannya dengan cepat begitu makanan dikonsumsi. Tingkah laku makan yang seperti ini menyebabkan broiler memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat, selain dipengaruhi oleh genetik, cepatnya laju pertumbuhan juga dipicu oleh adanya growth promotor yang umunya menggunakan senyawa antibiotika. Selain sabagai growth promotor, senyawa antibiotika ini juga dapat meningkatkan efisiensi pakan, alternatif pengobatan dan juga dapat meningkatkan reproduksi ternak. Namun akhir-akhir ini penggunaan antibiotika mulai mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan di beberapa negara telah dilarang penggunaannya sebagai aditif, yaitu : Virginamycin, Tylosin, Spiramycin dan Zinc bacitracyn (Bouliane 2003).

Penurunan penggunaan antibiotika ini disebabkan oleh 2 hal utama, yaitu : (1). Antibiotik dapat meninggalkan residu dalam jangka panjang, sehingga dapat membahayakan kesehatan konsumen, (2). Antibiotik menyebabkan mikroorganisme yang berada dalam tubuh manusia ataupun hewan menjadi resisten, terutama bakteri patogen seperti Salmonellae sp, Escherichia coli, dan Clostridium sp. Sehingga penggunaan probiotik sebagai bahan aditif menggantikan antibiotik dalam pakan sebagai growth promotor menjadi suatu pilihan yang tepat.

Salmonellosis pada Unggas

Salmonellosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, dapat terjadi pada ternak maupun manusia. Serotipe bakteri ini potensial bersifat patogen, juga merupakan kontaminan bagi produk ternak seperti daging, telur, dan susu. Salmonellosis merupakan penyakit zoonose ini juga disebut “Food Borne Disease” karena penularannya terjadi melalui makanan dan minuman. Salmonella sp. banyak ditemukan pada saluran pencernaan vertebrata maupun invertebrata, dan juga terdapat pada feses ternak. Bakteri ini juga terdapat pada tembolok broiler sehingga dapat mengkontaminasi karkas (Lee 2000).

Salmonella adalah bakteri berbentuk batang langsing. Ukuran lebar Salmonella antara 0.3 – 0.5 µm dan panjang 0.7 – 2.5 µm. Pertumbuhan optimal

pada temperatur 37.0 – 37.5oC (Shivaprasad 1997). Di alam bakteri Salmonella tidak tahan hidup lama, terutama bila keadaan sekitarnya kering. Sumber infeksi Salmonella yang paling sering terjadi pada flock unggas diduga berasal dari pakan. Cox et al. (1996) melaporkan bahwa tempat penetasan merupakan sumber penularan Salmonella yang dominan pada peternakan ayam broiler.

Infeksi Salmonella terjadi melalui 3 cara yaitu kongenital, oral dan aerogen (Ressang 1984). Secara kongenital yaitu penularan melalui telur, sehingga anak ayam yang menetas melalui telur tersebut akan terinfeksi Salmonella. Infeksi secara oral terjadi melalui pakan dan air minum yang tercemari Salmonella. Sedang aerogen adalah infeksi yang terjadi di dalam mesin penetas telur dimana masa tunas penyakit berkisar antara 1 minggu. Penularan melalui vektor juga lazim terjadi, penyebaran ini terjadi melalui hewan-hewan kecil seperti tikus, lalat, burung liar dan peralatan yang mengandung bakteri Salmonella yang digunakan di dalam kandang (Cox et al. 1996).

Daging dan telur unggas merupakan sumber utama tertularnya Salmonella pada manusia. Banyak cara organisme tersebut dapat masuk, menyebar, dan bertahan di dalam tubuh unggas yang pada akhirnya produk yang dihasilkan oleh unggas juga akan terinfeksi oleh Salmonella. Baik perusahaan kecil maupun besar telah menggalakkan kebijakan kontrol dalam mengurangi berkembangnya bakteri Salmonella, jika gagal kemungkinan terinfeksi bakteri Salmonella akan lebih besar. Peningkatan monitoring dan kontrol di dalam kawasan peternakan lebih di fokuskan pada bagian breeding, umumnya lebih menekan berkembangnya S. Enteritidis dan S. Typhimurium. Kawasan breeding, pabrik pakan dan kawasan hatcheries merupakan kawasan utama terjadinya kontaminasi Salmonella. Kontaminasi pada kawasan tersebut umumnya melalui sistem ventilasi (Davis dan Breslin 2004).

Bentuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella antara lain : fowl typoid, pullorum dan fowl paratyphoid. Pada kasus fowl typoid, akan terjadi hepatitis parenkimatosa yang menyebar dan pada kasus akut akan terjadi distrofi lemak, sedang pada usus dan ginjal akan ditemukan adanya infiltrasi limfosit dan heterofil, sehingga jumlah eritrosit dapat menurun dari 3.5 juta menjadi 1.5 juta

per ml dan leukosit akan meningkat dari 18 000 menjadi 240 000 per ml (Tabbu 2000).

Pada ayam muda yang mengalami pullorum akan menunjukkan peradangan dan pendarahan pada hati, paru-paru dan ginjal. Demikian pula dengan sekum pada ayam muda ini akan mengalami nekrosis pada mukosa dan submukosa dengan akumulasi nekrosis debris dengan campuran fibrin dan heterofil dalam lumen (Shivaprasad 1997). Perubahan yang terjadi pada kasus fowl paratyphoid adalah adanya pendarahan dan infiltrasi heterofil pada berbagai jaringan seperti hati, limpa, ginjal, usus dan paru-paru (Tabbu 2000).

Mekanisme infeksi Salmonella di dalam usus dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Infeksi pada mukosa usus oleh bakteri Salmonella (Giannella 1996) Pada saat Salmonella masuk ke dalam usus halus, maka sel goblet akan menghasilkan mukus yaitu cairan yang berfungsi untuk mengusir benda asing seperti bakteri patogen, jika ternyata mukus ini tidak dapat mengusir bakteri patogen (Salmonella) maka Salmonella ini akan tetap bertahan dan masuk ke dalam sel epitel usus menembus lapisan atas vili. Selanjutnya, Salmonella ini akan

Dokumen terkait