DAFTAR PUSTAKA
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Blora Jawa Tengah pada tanggal 10 Oktober 1975. Sebagai anak ke enam dari pasangan Agus Munadjat dan Sri Hartini. Seluruh pendidikan dasar dari SD hingga SMA diselesaikan di kota kelahiran. Pada tahun 1996 penulis menamatkan pendidikan D.III Analis Kimia pada Sekolah Tinggi Teknik Kimia Surakarta. Setelah lulus pada tahun yang sama penulis bekerja sebagai Kepala seksi QC bahan baku di PT. Union Chemical Industries Surabaya hingga tahun 1997. Pada tahun 1999 penulis lulus dari pendidikan SEMAPA PK ABRI di Akademi Militer Magelang. Sejak tahun 1999 hingga sekarang penulis bekerja sebagai Perwira di Direktorat Kesehatan TNI-AD. Pendidikan sarjana di tempuh di jurusan Kimia Sekolah Tinggi MIPA Bogor lulus pada tahun 2008. Kesempatan untuk melanjutkan ke Program Magister pada Program Studi Kimia Sekolah Pascasarjana IPB diperoleh pada tahun 2011.
7
1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis. Iklim tropis dapat menimbulkan penyakit tropis yang disebabkan oleh nyamuk, seperti malaria, filariasis, chikungunya dan deman berdarah dengue (DBD). Penyebab utama munculnya berbagai penyakit tersebut adalah perkembangbiakan dan penyebaran nyamuk sebagai vektor penyakit yang tidak terkendali. Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue, ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, khususnya nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus (Gubler 1998). Sampai saat ini belum ada vaksin atau obat-obatan spesifik bagi penderita demam berdarah, cara yang paling tepat untuk pengendaliannya adalah dengan memutus siklus kehidupan nyamuk menggunakan larvasida dan insektisida. Penggunaan insektisida sintetik sering dipilih karena sangat efektif, relatif murah, mudah dan praktis diaplikasikan, tetapi penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai hal yang tidak diinginkan seperti kontaminasi terhadap manusia, hewan, satwa liar, ikan dan biota lainnya.
Untuk mengurangi dampak negatif di atas, perlu dikembangkan insektisida baru yang tidak menimbulkan bahaya dan lebih ramah lingkungan, hal ini diharapkan dapat diperoleh melalui penggunaan insektisida nabati. Indonesia terkenal kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk jenis tumbuhan yang mengandung bahan aktif insektisida. Namun, pemanfaatan tumbuhan sebagai obat-obatan dan insektisida hanya 10% dari 300.000 jenis tumbuhan yang ada (Heyne 1987). Kamandrah (Croton tiglium L.) merupakan tanaman obat yang banyak ditemukan di daerah Kalimantan dan daerah lain di Indonesia. Berdasarkan kearifan lokal masyarakat banyak memanfaatkan biji kamandrah sebagai obat pencahar (Saputera 2008), racun ikan (Heyne 1987), pembunuh jentik nyamuk (Iswantini et al. 2007 ; Riyadi 2008). Di negara China, tanaman kamandrah dimanfaatkan sebagai obat gangguan pencernaan, radang usus, rematik, sakit kepala, radang dinding lambung dan nyeri lambung (Wang et al. 2008). Tanaman kamandrah bila dieksplorasi dan dimanfaatkan dapat menjadi produk bahan baku industri farmasi dan insektisida, sehingga mempunyai nilai tambah dalam pengembangan agroindustri di daerah asalnya.
Iswantini et al. (2007) melaporkan bahwa minyak kamandrah hasil ekstraksi dengan pengempaan terhadap biji kamandrah berpotensi paling tinggi sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar III. Hasil identifikasi komponen minyak biji kamandrah dengan GC-MS menunjukkan bahwa terdapat senyawa piperine yang merupakan suatu golongan alkaloid sejenis piperidine yang diduga berpotensi sebagai larvasida/insektisida (Iswantini et al. 2007; Riyadhi 2008). Penelitian awal tentang potensi minyak kamandrah sebagai larvasida nabati telah dilakukan, formula larvasida nabati berbahan aktif minyak kamandrah telah didapatkan. Iswantini et al. (2009) melaporkan bahwa formula dengan kadar minyak 28% dapat membunuh larva sebesar 90 % dalam waktu 24 jam, sedangkan untuk kadar 7 % mampu mencegah nyamuk untuk bertelur. Formula larvasida nabati dalam bentuk granul lebih baik dibandingkan powder dengan nilai LC50 1.039 ppm (24 jam)
8
dan 718 ppm (48 jam). Formula yang telah ditemukan ini nilai LC50 nya masih relatif besar, sehingga konsentrasi minyak biji kamandrah yang diperlukan masih besar, maka formulasi ini perlu dimantapkan dengan menurunkan nilai LC50, selanjutnya formula yang ditemukan ini perlu diuji stabilitas serta durabilitasnya. Standardisasi terhadap bahan baku minyak kamandrah sebagai zat aktif dari formula tersebut perlu dilakukan untuk mendapatkan ekstrak yang terukur atau terstandar.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas formula larvasida nabati. Peningkatan efektivitas formula dilakukan dengan mencari surfactant yang sesuai sehingga dapat menurunkan nilai LC50, menentukan dan meningkatkan stabilitas, menguji ketahanan formula serta melakukan pengujian terhadap kualitas minyak kamandrah yang akan digunakan sebagai bahan baku produk larvasida.
Perumusan Masalah
Tanaman kamandrah adalah tanaman yang beracun dan berpotensi sebagai larvasida. Penelitian tentang kamandrah sebagai larvasida nabati telah dilakukan, dari beberapa penelitian tersebut diketahui bahwa piperine merupakan salah satu senyawa aktif yang berfungsi sebagai larvasida. Kandungan zat aktif piperine pada tanaman kamandrah tergantung dari lokasi serta kondisi penanaman. Formulasi larvasida nabati berbahan baku minyak biji kamandrah telah dilakukan, formula dalam bentuk granul lebih baik dibandingkan dalam bentuk powder. Formulasi ini memiliki efektivitas yang rendah, hal ini ditunjukkan oleh kecepatan membunuh larva nyamuk yang masih relatif lambat dan nilai LC50 yang masih cukup tinggi. Uji toksisitas terhadap formula juga telah dilakukan, diketahui bahwa formula yang dihasilkan tidak bersifat iritasi pada kulit.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas formula larvasida nabati. Peningkatan efektivitas formula dilakukan dengan menurunkan nilai LC50, menentukan dan meningkatkan stabilitas, menguji ketahanan atau durabilitasnya serta melakukan standardisasi terhadap minyak kamandrah yang akan digunakan sebagai bahan baku produk larvasida.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula larvasida nabati minyak biji kamandrah yang optimal, stabil, memiliki tingkat durabilitas yang tinggi serta efektif dengan nilai LC50 formula yang rendah, mendapatkan standar minyak kamandrah sebagai bahan baku produk larvasida nabati untuk menjamin keterulangan potensi produk larvasida yang dihasilkan.
Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh standar mutu minyak kamandrah yang sesuai sebagai bahan baku produk larvasida nabati. Didapatkan formula yang optimal dari larvasida nabati minyak biji kamandrah sehingga dapat diproduksi larvasida nabati. Produk larvasida nabati minyak biji kamandrah dapat
9 dimanfaatkan secara optimal untuk menanggulangi penyakit demam berdarah dengue yang menjadi masalah nasional, selanjutnya akan berdampak dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.