• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

2 TINJAUAN PUSTAKA

Nyamuk Ae. aegypti dan Penularan Demam Berdarah Dengue

Nyamuk Aedes tergolong ke dalam filum Arthropoda, kelas Insecta, ordo Diptera dan famili Culicidae. Di Indonesia, khususnya di pulau Jawa telah ditemukan 11 sub genus, di antara sub genus tersebut yang paling penting adalah sub genus Stegomyia, dengan dua spesies vektor yaitu Aedes aegypti dan Aedes. albopictus (vektor sekunder) yang merupakan vektor penyakit demam berdarah (Gubler 1998). Tahun 2010 Indonesia menempati urutan tertinggi kasus demam berdarah dangue (DBD) di Asean dengan jumlah kasus 156.086 dan kematian 1.317 orang (Diana 2013). Kasus DBD di propinsi DKI Jakarta diketahui meningkat cukup tajam. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI menyebutkan bahwa tahun 2012 kasus DBD di Jakarta mencapai 6.669 kasus. Sementara itu di tahun 2013, dalam satu semester pertama jumlahnya meningkat 0,27 % mencapai 4.793 kasus. Ae. aegypti merupakan nyamuk yang bersifat diurnal (aktif siang hari) dan berperan sebagai penular (vektor) flavivirus, yaitu virus penyebab penyakit demam berdarah yang sudah banyak menimbulkan kerugian (Gambar 1). Hanya nyamuk betina yang menggigit, nyamuk betina memerlukan darah untuk merangsang pembentukan dan pematangan telur, sedangkan nyamuk jantan tidak memerlukan darah dalam hidupnya (Womack 1993).

Gambar 1. Profil nyamuk Ae. aegypti Sumber : Hadi dan Koesharto (2006)

Ae. aegypti bersifat antropofilik yaitu lebih menyukai darah manusia dari pada darah hewan (Gunandini 2006). Ae. aegypti dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya, oleh karenanya nyamuk Ae. aegypti yang telah menghisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya (Depkes RI 2005).

Untuk berkembang biak, nyamuk dewasa bertelur di air dengan meletakan telurnya di dinding tempat air, hari 1-2 telur menjadi jentik, dalam kondisi yang

10

sesuai akan berkembang dalam waktu 6-8 hari, dan berubah menjadi pupa (kepompong). Pupa nyamuk berbentuk seperti komo dan dalam waktu kurang lebih dua hari, dari pupa akan muncullah nyamuk dewasa (Hadi dan Koesharto 2006). Jadi total siklus hidup bisa diselesaikan dalam waktu 9-12 hari (Gambar 2).

Gambar 2. Siklus hidup nyamuk Ae. aegypti Sumber : Hadi dan Koesharto (2006)

Larvasida Kimia untuk Nyamuk

Larvasida yang digunakan untuk membunuh atau mengganggu habitat pertumbuhan larva nyamuk pada umumnya berupa bahan kimia. Larvasida digunakan dengan tujuan untuk mengurangi populasi nyamuk di daerah sekitarnya. Larvasida digunakan ketika musim nyamuk bertelur. Larvasida biasa digunakan pada penampungan air yang digunakan bagi kebutuhan sehari-hari terutama untuk minum dan masak, oleh sebab itu larvasida yang digunakan harus bersifat efektif pada dosis rendah, tidak bersifat racun bagi manusia, tidak menyebabkan perubahan rasa, warna dan bau pada air yang diperlakukan, dan efektivitasnya bertahan lama. Beberapa larvasida seperti temephos (abate), methoprene dan diflubensuron telah digunakan secara luas (operasional) dan sebagian lainnya masih dalam tahap uji laboratorium atau uji lapangan skala kecil (Hadi dan Koesharto 2006).

Insektisida Nabati

Insektisida nabati adalah suatu insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman yang mengandung bahan kimia (bioaktif) yang toksik terhadap serangga namun mudah terurai (biodegradable) di alam. Insektisida nabati tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia, selain itu beberapa insektisida serta larvasida nabati juga bersifat selektif (Moehammad 2005). Beberapa insektisida nabati yang umum dan masih digunakan yaitu piretrum, nikotin, rotenon, limonene dan azadirachtin berfungsi sebagai zat pembunuh, mengganggu habitat ataupun penghambat pertumbuhan serangga. Beberapa insektisida nabati yang telah diteliti di Indonesia antara lain Azadirachtin, Azadirachtin merupakan

11 metabolit sekunder golongan triterpenoid yang terdapat pada tanaman mimba (Azadirachta indica) efektif mengendalikan lebih dari 300 spesies serangga. Azadirachtin bekerja sebagai penolak makan (antifeedancy), penghambat pertumbuhan, menghambat proses ganti kulit (moulting inhibition), sehingga mengakibatkan abnormalitas tubuh dan dapat mematikan serangga atau larva (Samsudin 2011). Piretrin merupakan insektisida nabati yang berasal dari ekstrak bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium). Piretrin bekerja sebagai racun syaraf terhadap serangga dan dapat menghambat peletakan telur serta penetasan telur serangga. Piretrin adalah insektisida kontak dan nyaris tidak meninggalkan residu pada permukaan terbuka, karena piretrin cepat terurai jika terpapar cahaya (Kardinan 2000).

Nikotin adalah suatu alkaloid yang berasal dari ekstrak tanaman tembakau. Nikotin sebagai insektisida bekerja sebagai racun kontak yang baik karena kemampuannya untuk menembus integumen serangga bertubuh lunak seperti aphid dan ulat (Lepidoptera). Nikotin bekerja dengan meniru asetilkholin pada persimpangan neuromuskular binatang yang mengakibatkan kejang, konvulsi dan kematian secara cepat. Pada serangga kejadiannya sama, namun hanya terjadi di ganglia pada sistem saraf pusat (Opender dan Dhaliwal 2005).

Rotenon adalah alkaloid yang terdapat pada akar tuba (Derris Eleptica) dan biji bengkuang. Rotenon bersifat sebagai racun kontak dan racun perut untuk mengendalikan serangga atau organisme penggangu tanaman. Rotenon merupakan pestisida yang selektif untuk membunuh ikan, namun tidak toksik terhadap organisme makanan ikan. Senyawa rotenone mudah rusak dan terurai secara cepat jika terkena sinar matahari (Yun et al. 2006).

Tumbuhan Berkhasiat Larvasida

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk jenis tumbuhan yang mengandung bahan aktif insektisida. Namun, pemanfaatan tumbuhan sebagai obat-obatan dan insektisida hanya 10% dari 300.000 jenis tumbuhan yang ada (Heyne 1987). Kumar et al. (2011) melaporkan bahwa ekstrak heksana dari lada (Piper nigrum L), lada hitam (Black pepper) serta cabe jawa (Piper longum) memberikan potensi yang sangat baik untuk mengendalikan larva Ae. aegypti. Larva yang dipaparkan dengan ekstrak heksana dari Piper longum , Piper nigrum dan Black pepper menunjukkan perilaku abnormal, kejang kejang dan mengalami kelumpuhan yang mengarah pada kematian. Nilai-nilai LC50 yang diperoleh dari ekstrak heksana Piper longum , Piper nigrum dan Black pepper terhadap larva Ae. aegypti instar awal IV adalah 0,017 , 0,024 dan 0,007 ppm. Ekstrak heksana daun tanaman jarak (Croton sparciflorus linn) sangat efektif sebagai larvasida dan pupasida terhadap Culex quinquefasciatus Say dengan nilai LC50 larvasida dan pupasida sebesar 145,3 ppm dan 335,2 ppm (Ramar et al. 2013). Selain jenis ekstrak, minyak atsiri juga memiliki potensi larvasida. Noegroho et al. (1997) melaporkan aktivitas larvasida minyak atsiri daun jukut (Hyptis suaveolens) terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar IV memiliki nilai LC50 dan LC90 sebesar 393,69 ppm dan 1145,92 ppm. Tumbuhan jukut mengandung monoterpen dan seskuiterpen, digunakan oleh masyarakat untuk ramuan obat tradisional, seperti penolak serangga, anti spasmodik, dan anti rematik. Thomas et al. (2004)

12

melaporkan minyak yang diperoleh dari ekstrak Ipomoea cairica pada konsentrasi 100 ppm telah berhasil membunuh 100% larva Culex tritaeniorhynchus dengan nilai LC50 14,8 ppm. Lailatul et al. (2010) melaporkan bahwa minyak akar wangi (Vetiveria zizanoides) memiliki bioaktivitas sebagai larvasida terhadap larva Ae. aegypti, larva Culex sp. dan larva Anopheles sundaicus. Persentase kematian rata- rata larva pada konsentrasi 1000 ppm untuk spesies Ae. aegypti, Culex sp. dan Anopheles sundaicus masing-masing sebesar 56 %, 50 % dan 100 % .

Tanaman Kamandrah ( Croton tiglium L. )

Tanaman kamandrah (Croton tiglium L.) diklasifikasikan dalam divisi Spermatophyta, Subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, ordo Euphorbiales, famili Euphorbiaceae, genus Croton, spesies Croton tiglium L. (Ahmadi 2012 ; Riyadi 2008). Kamandrah merupakan nama lokal untuk daerah Kalimantan Tengah, di daerah lain tanaman ini dinamakan simalakian (Sumatera Barat), ceraken (Jawa), roengkok (Sumatera Utara), semoeki (Ternate), dan kowe (Tidore). Kamandrah berupa tanaman semak dengan tinggi sekitar 2-3 m. Bentuk batang tegak, bulat, berambut dan berwarna hijau, dengan daun tunggal, berseling dan lojong. Bentuk tepi daun bergerigi dengan ujung yang runcing. Panjang daun sekitar 3-5 cm, dengan lebar daun sekitar 1-4 cm. Bentuk tangkai silindris dengan panjang 2-3 cm, bentuk pertulangan menyirip dan berwarna hijau. Bunga tanaman kamandrah majemuk dengan bentuk bulir, berada di ujung batang dengan klopak membulat, memiliki banyak benang sari dengan mahkota berbentuk corong. Buah tanaman kamandrah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,5 cm dan berwarna hijau, akar tanaman kamandrah adalah akar tunggang (Gambar 3).

Gambar 3. Profil tanaman kamandrah ( Croton tiglium L.) Sumber : koleksi pribadi

Biji kamandrah mengandung senyawa phorbol 13-decanoate dan phorbol ester yaitu 4-deoxy-4α-phorbol diester, phorbol monoesters dan 4-deoxy-4α-

13 phorbol monoester (Marshall et al. 1984). Menurut Goel et al. (2007) phorbol ester bersifat toksik pada hewan dengan target utama pada sel membrane dengan cara menempel pada reseptor membran fosfolipid dan mengaktivasi enzim protein kinase. Hasil ekstrak atau pengepresan biji yang dikenal dengan minyak kamandrah bersifat jauh lebih toksik dan mengandung phorbol 12 tiglate 13- decanoate (phorbol ester) yang penggunaannya sebagai pestisida cukup efektif (Salatino et al 2007). Minyak kamandrah bersifat seperti racun insektisida nikotin sulfat (Deshumkh dan Borle 1975) dan bersifat aktif sebagai moluskasida terhadap sejenis keong mas Oncomelania quadrasi (Mashiguchi et al. 1977). Sediaan biji kamandrah dilaporkan aktif terhadap beberapa jenis serangga termasuk kepik Dysdercus koenigii, kutu daun Lipaphis erysimi, lalat rumah Musca domestica, ulat bawang Spodoptera exigua dan ulat grayak Spodoptera litura (Grainge dan Ahmad 1998). Thamrin (2002) menyatakan bahwa minyak biji kamandrah cukup ampuh membunuh jentik nyamuk Ae. aegypti hingga 84% dengan LD50 sebesar 0,06%. Ekstrak heksana dan etanol biji kamandrah mengandung senyawa metabolik sekunder golongan alkaloid, flavonoid dan saponin seperti 9,12-octadecadienoic acid (bahan pemutih) dan tertadecanoic acid (bahan laksatif)(Saputera et al. 2006).

Hasil analisis minyak kamandrah dengan Gas Chromatography (GC) menunjukkan asam lemak yang terbanyak dalam minyak kamandrah adalah asam lemak tidak jenuh (44,36%) terdiri dari asam oleat (42,33%) dan asam linoleat, selanjutnya asam lemak jenuh (23,18%) terdiri atas asam stearat (13,33%), asam miristat 5,02%, asam palmitat 3,81% dan asam laurat (1,02%). Identifikasi senyawa aktif yang terdapat pada minyak biji kamandrah dengan GC-MS dilakukan Ahmadi (2012) menunjukkan bahwa senyawa yang diprediksi sebagai insektisida yaitu butacarboxim, 2,3,6-trichlorphenol, dnoc, propamocarb, 1,4- naphthoquinone dan piperidine,1-(1-oxo-3-phenyl-2-propynyl) (Lampiran 1). Iswantini et al. (2007) dan Riyadhi (2008) melaporkan bahwa salah satu senyawa aktif yang diprediksi sebagai larvasida nabati dari minyak biji kamandrah adalah senyawa piperidine,1-[5-(1,3-benzodioxol-5-yl)-1-oxo-2,4-pentadienyl]- ,(E,E). Senyawa golongan piperidine dapat membunuh nyamuk Ae. aegypti, senyawa yang menunjukan aktivitas sebagai larvasida adalah 2-ethyl-piperidine ; 1-undec-10-enyl-piperidine,2-ethyl-1-undec-10-enoyl-piperidine dan piperine [(E,E)-1-piperoyl-piperidine] (Pridgeon et al. 2007). Beberapa struktur kimia piperidine dapat dilihat pada Lampiran 2.

Metode Ekstraksi dengan Pengempaan

Ekstraksi minyak dan lemak adalah proses pemisahan minyak dan lemak dari bahan-bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak (Ketaren 1986). Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara mekanis atau menggunakan pelarut (Owolarafe et al. 2003). Pengempaan mekanis dengan tekanan hidrolik (screw press) telah umum dilakukan dalam memproduksi minyak secara modern. Alat pengempaan hidrolik saat ini tersedia dalam beberapa versi, namun efisiensinya kurang dari 70%. Ukuran partikel, temperatur pemanasan, waktu pemanasan, kadar air, besarnya tekanan dan waktu penekanan akan mempengaruhi rendemen lemak atau minyak selama pengempaan berlangsung. Untuk memaksimalkan

14

rendemen minyak dan residu minyak yang terdapat dalam bahan atau simplisia diperlukan upaya untuk mengendalikan faktor-faktor selama proses pengempaan minyak atau lemak (Khan dan Hanna 1983). Ekstraksi biji kamandrah (Croton tiglium L.) dengan metode pengempaan pada suhu pemanasan 85 oC, tekanan pengempaan 10,54 MPa dan lama pemanasan selama 15 menit memberikan rendemen yang optimum sebesar 27,97 % (Ahmadi 2012).

Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Ekstrak

Ekstrak sebagai bahan baku, bahan antara maupun bahan utama produk harus memenuhi standar, sehingga ekstrak dapat dipertanggung jawabkan mutu, keamanan, khasiat dan aspek farmakologinya. Mutu ekstrak dipengaruhi oleh bahan asal yaitu tumbuhan, baik untuk bahan dari tumbuhan hasil budidaya (kultivar) ataupun dari tumbuhan liar (wildcrop). Faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak meliputi faktor biologi dan faktor kimia (Ditjen POM 2000). Faktor biologi yang dapat mempengaruhi mutu ekstrak meliputi identitas jenis (spesies), lokasi tumbuhan, periode pemanenan hasil tumbuhan, penyimpanan bahan tumbuhan, umur tumbuhan serta bagian yang digunakan. Faktor kimia yang dapat mempengaruhi mutu ekstrak meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi jenis senyawa aktif, komposisi kualitatif, komposisi kuantitatif, kadar total rata-rata senyawa aktif. Faktor eksternal meliputi metode ekstraksi, perbandingan ukuran alat ekstraksi, ukuran, kekerasan dan kekeringan bahan, pelarut dan cemaran. Senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak berasal dari senyawa kandungan asli dari tanaman asal, senyawa hasil perubahan dari senyawa asli, senyawa kontaminasi (polutan atau aditif proses) dan senyawa hasil interaksi kontaminasi dengan senyawa asli atau senyawa perubahan.

15

3 METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB, Insektarium laboratorium Entomologi, Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Laboratorium Biodisel Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balitri) Sukabumi dan Lembaga Biomedis Direktorat Kesehatan TNI- AD Jakarta.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, adapun diagram alir proses penelitian yang dilakukan seperti pada Lampiran 3. Secara umum penelitian ini dilaksanakan dalam empat tahapan. Tahap pertama adalah persiapan bahan baku dan ekstraksi minyak biji kamandrah dengan metode pengempaan. Tahap kedua adalah melakukan standardisasi terhadap minyak biji kamandrah. Tahap ketiga adalah melakukan formulasi minyak biji kamandrah sebagai larvasida nabati. Tahap keempat adalah melakukan serangkaian uji terhadap formula larvasida yang dihasilkan.

Ekstraksi Minyak Biji Kamandrah Metode Pengempaan

Buah kamandrah disortir untuk memisahkan buah yang baik dan yang rusak. Buah dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari sampai kulit luar kering, kemudian dikupas. Selanjutnya biji digiling menggunakan hammer mill sebanyak 2 kali agar ukurannya lebih kecil (lolos 40 mesh), simplisia biji kamandrah ditimbang dan dimasukkan kedalam kantong yang terbuat dari kain berukuran 20 cm x 40 cm, kemudian dimasukkan kedalam alat pengempa yang memiliki elemen pemanas pada landasan tekan. Ekstraksi dilakukan dengan menekan tuas hidrolik secara berulang -ulang sampai dicapai tekanan piston yang diinginkan yaitu pada tekanan 10,54 MPa dengan temperatur 70 – 80 0C selama 15 menit, minyak yang dihasilkan ditampung dalam gelas piala dan disaring menggunakan kertas saring. Diagram alir proses ekstraksi minyak biji kamandrah seperti pada Lampiran 4.

Penentuan Mutu Minyak Biji Kamandrah Sebagai Larvasida Nabati

Standardisasi terhadap ekstrak minyak biji kamandrah sebagai bahan baku dari suatu produk larvasida perlu dilakukan untuk menjamin keterulangan khasiat

16

dari produk yang akan dihasilkan. Uji kualitas minyak kamandrah sebagai bahan baku larvasida nabati dilakukan dengan melakukan serangkaian uji fisiko kimia berdasarkan SNI 02-3127-1992 tentang cara uji fisiko kimia pestisida bentuk pekatan dalam minyak (Oil Concentrate,OC). Standar ini meliputi cara uji kadar air, keasaman, kebasaan, viskositas, berat jenis, asam lemak bebas. Sampel minyak kamandrah yang di uji sebanyak tiga macam yaitu minyak kamandrah hasil budidaya Balitri Sukabumi, minyak kamandrah dari tanaman tanpa budidaya di daerah Sukabumi dan Kalimantan.

Kadar Air dengan Pereaksi Karl Fischer

Penentuan kadar air contoh dilakukan dengan pereaksi Karl Fisher. Prinsip kerja penentuan kadar air metode Karl Fisher adalah contoh didispersikan dalam metanol, kemudian dititar dengan pereaksi Karl Fisher yang telah diketahui equivalen airnya (F). Prosedur kerja dilakukan dengan memipet sebanyak 20 mL metanol, dimasukkan dalam erlenmeyer 250 mL, kemudian dititrasi dengan pereaksi Karl Fisher sampai titik akhir (c mL). Contoh ditimbang sebanyak 2 g kemudian dimasukkan ke dalam labu titrasi, titrasi dilajutkan sampai titik akhir (d mL). Perhitungan kadar air dilakukan dengan rumus berikut :

F x ( c - d )

Kadar air, % b/b = x 100 Berat contoh (gram) x 1000

Keasaman

Keasaman dihitung sebagai H2SO4. Keasaman ditetapkan secara titrimetri, contoh dilarutkan dalam aseton, dititar dengan larutan NaOH. Sebanyak 10 gram contoh dimasukkan dalam erlenmeyer 250 mL, lalu ditambah dengan 25 mL aseton dan 75 mL aquades. Larutan tersebut kemudian dititrasi dengan NaOH (a mL), menggunakan indikator merah metil sampai terbentuk warna merah jambu, dilakukan titrasi blanko (b mL). Perhitungan keasaman dilakukan dengan rumus berikut :

49,004 x ( a - b ) x N

Keasaman, % b/b = x 100

Berat contoh (gram) x 1000

Viskositas

Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer Brokfild LV. Sebanyak 100 mL contoh dimasukkan ke dalam gelas piala kemudian diletakkan pada spindle rotasi. Pengukuran dilakukan pada kecepatan 100 rpm hingga dicapai kestabilan pengukuran. Viskositas sampel langsung dapat diketahui dengan membaca nilai yang ditunjukkan oleh alat tersebut.

17

Berat Jenis

Bobot jenis adalah perbandingan berat dari volume sampel minyak dengan berat air pada suhu dan volume yang sama. Penentuan berat jenis dilakukan dengan cara: piknometer dibersihkan dan dikeringkan, di isi piknometer tersebut dengan aquades bersuhu 20 – 30 oC. Pengisian dilakukan sampai air dalam piknometer meluap dan tidak ada gelembung udara didalamnya. Setelah ditutup, piknometer di rendam dalam bak air yang bersuhu 20 oC dengan toleransi 0,2 oC selama 30 menit. Piknometer diangkat dari bak dan dikeringkan dengan kertas penghisap, kemudian di timbang berat piknometer dengan isinya. Contoh minyak / lemak cair yang akan ditentukan berat jenisnya, sebelumnya disaring terlebih dahulu dengan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk membuang benda- benda asing dan kandungan air. Selanjutnya contoh minyak diperlakukan seperti langkah – langkah diatas. Berat jenis dapat dihitung dengan rumus berikut :

Berat botol dan minyak – berat botol Berat jenis pada suhu 20/20oC =

Berat air pada suhu 20oC

Indeks Bias

Indeks bias berdasarkan SNI 02-3127-1992, prinsip pengukuran indeks bias adalah jika cahaya datang dan menembus dua media dengan kerapatan yang berbeda maka akan dibelokkan atau dibiaskan mendekat atau menjauh garis normal. Pengukuran indeks bias dilakukan dengan membersihkan terlebih dahulu prisma pada refraktometer menggunakan alkohol, kemudian diatas prisma tersebut diteteskan sampel menggunakan pipet tetes. Prisma dirapatkan dan diatur slidnya sehingga diperoleh garis batas yang jelas antara terang dan gelap, saklar diatur sampai garis batas berhimpit dengan titik potong dari dua garis bersilangan, kemudian dibaca indeks bias yang ditunjukkan pada alat refraktometer.

Asam Lemak Bebas

Asam lemak bebas ditetapkan secara titrimetri, contoh dilarutkan dalam bensena dan alkohol, dititar dengan larutan KOH. Asam lemak bebas dihitung sebagai KOH. Sebanyak 10 gram contoh dimasukkan dalam erlenmeyer 250 mL, kemudian ditambahkan 50 mL benzena, dikocok hingga larut. Ditambahkan 50 mL alkohol 95% netral, dipanaskan sampai mendidih (+ 10 menit) dalam penangas air sambil diaduk. Larutan ini kemudian dititrasi dengan KOH 0,1 N menggunakan indikator fenolftalein sampai terbentuk warna merah jambu yang stabil ( a mL). Asam lemak bebas dapat dihitung dengan rumus berikut :

56,1 x a x N

Asam lemak bebas, % b/b = x 100 Berat contoh (gram) x 1000

18

Analisis Kandungan Piperine Metode Spektrofotometri i) Pembuatan kurva spektrum absorpsi piperine

Larutan standar piperine dibuat dengan cara melarutkan 5 mg piperine dengan etilena diklorida dalam labu ukur 50 mL. Dipipet 1 mL larutan standar tersebut kedalam labu ukur 25 mL kemudian dilarutkan dengan etilene diklorida sampai tanda batas, sehingga diperoleh larutan piperine dengan konsentrasi 5 ppm. Diukur serapannya pada panjang gelombang 200 – 400 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Ditentukan panjang gelombang maksimal piperine.

ii)Pembuatan kurva kalibrasi

Standar piperine dilarutkan dalam etilena diklorida, dimasukkan dalam labu ukur untuk membuat larutan standar piperine dengan konsentrasi 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm dan 6 ppm. Larutan standar diukur absorbannya pada λ max.

iii) Penetapan kadar piperin dalam minyak biji kamandrah.

Minyak kamandrah hasil pengempaan dihomogenkan, kemudian di timbang dengan neraca analitik. 0,5 gram sampel dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 125 mL. Labu di tutup alumunium foil untuk melindungi sampel dari cahaya. Etilena diklorida ditambahkan ke dalam labu sebanyak 50 mL, direfluks dan di aduk selama 1 jam, didinginkan pada suhu kamar, disaring kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL dan ditambah dengan Etilena diklorida sampai tanda batas. Absorban sampel diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada λ max. Kandungan piperine diperoleh dari kurva standar piperine.

Uji Efikasi Larvasida Minyak Biji Kamandrah

Sampel minyak kamandrah yang di uji sebanyak tiga macam yaitu minyak kamandrah hasil budidaya Balitri Sukabumi serta minyak kamandrah dari tanaman tanpa budidaya di daerah Sukabumi dan Kalimantan. Uji efikasi minyak biji kamandrah sebagai larvasida Ae. aegypti dilakukan untuk mengetahui konsentrasi terendah dari minyak biji kamandrah yang dapat membunuh 50% larva Ae. aegypti instar III. Uji efikasi dilakukan dengan menyiapkan larutan emulsi minyak kamandrah air dengan berbagai seri konsentrasi yaitu 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm. Emulsi dari setiap seri konsentrasi diambil 200 mL dan dimasukkan dalam gelas plastik, kemudian dimasukkan 25 ekor larva Ae. aegypti instar III. Diulangi perlakuan ini untuk 5 ulangan. Pengamatan dilakukan setelah 24 dan 48 jam dengan menghitung banyaknya larva Ae. aegypti instar III yang mati. Untuk menentukan angka kematian 50% dan 90% (LC50 dan LC90) dilakukan dengan metode probit analisis (Finney Method) menggunakan software SPSS versi 17.

19

Formulasi Larvasida Nabati Minyak Biji Kamandrah.

Formulasi larvasida minyak kamandrah dibuat dengan cara granulasi basah menggunakan larutan amylum sebagai bahan pengikat dan laktosa sebagai bahan pengisi. Konsentrasi minyak biji kamandrah serta emulsifier yang digunakan masing-masing formula dikombinasikan, sehingga terdapat enam variasi formula larvasida. Komposisi dari masing-masing formula dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi formula larvasida nabati minyak biji kamandrah Komposisi Rancangan Formula

F.1 F.2 F.3 F.4 F.5 F.6 Minyak Kamandrah ( gram ) 5 5 10 10 15 15

Gom Arab ( gram ) 20 - 20 - 20 -

Maltodekstrin ( gram ) - 20 - 20 - 20

Amylum ( gram ) 5 5 5 5 5 5

Laktosa ( gram ) 70 70 65 65 60 60

Persiapan formulasi dilakukan dengan mengayak terlebih dahulu semua bahan serbuk yang akan digunakan dengan menggunakan pengayak ukuran mesh 30, setelah itu bahan-bahan di timbang sesuai dengan kebutuhan. Disiapkan larutan amylum 5% sebagai bahan pengikat, dengan melarutkan amylum menggunakan aquades hingga larut. Minyak kamandrah diemulsikan dengan emulsifier (Gom Arab atau Maltodekstrin) dengan cara di aduk hingga terbetuk emulsi minyak kamandrah yang baik. Laktosa ditambahkan sebagai bahan pengisi dan di aduk hingga homogen, kemudian dimasukkan larutan amylum 5% bahan pengikat yang telah dibuat sebelumnya. Pengadukan dilanjutkan hingga di peroleh campuran yang homogen dan terbentuk massa yang basah dan dapat di kepal. Massa di ayak menggunakan pengayak dengan ukuran mesh 12, lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 40 oC selama 24 jam. Granul yang sudah kering dilakukan pengayakan kembali menggunakan ayakan dengan ukuran mesh 16, hasil ayak dengan mesh 16 ini disebut dengan granul . Diagram alir proses

Dokumen terkait