• Tidak ada hasil yang ditemukan

SECARA IN VITRO

RIWAYAT HIDUP

Penulis adalah anak ke dua dari empat bersaudara dari pasangan Ayahanda Syafruddin Indra bin M. Thahir dan Ibunda Nurimah binti Sajimin. Penulis dilahirkan di Natar, Lampung Selatan pada tanggal 8 Agustus 1986. Pendidikan dasar ditamatkan di SD II-5 Kartika Candra Kirana pada tahun 1999 di Bandar Lampung, SLTP Negeri 1 Bandar Lampung pada tahun 2001 dan SMU Negeri 3 Bandar Lampung pada tahun 2004. Pada tahun 2009, penulis lulus dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2010, penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan pada Program Studi Magister Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pada tahun 2009, penulis sempat berkerja di UPT Pelatihan Bahasa IPB sebagai tenaga honorer. Pada tahun 2010, bersama pembimbing menulis buku “Sagu di Lahan Gambut”. Karya ilmiah berjudul Stomata Characterization on Several Accessions of Sago Palm telah disajikan dalam bentuk poster pada The 10th International Sago Symposium di Bogor pada bulan Oktober 2011.

Alhamdulillah, buku kedua yang ditulis bersama berjudul Sagu: Mutiara Khatulistiwa yang Dilupakan sudah diterbitkan pada Agustus 2013. Penulis menjadi anggota dalam Sago Network for Asia and Pasific yang baru dibentuk tahun 2013. Bersama dengan pembimbing, penulis ikut serta dalam pengembangan sagu sebagai komoditas unggulan Papua dan Papua Barat yang berkerjasama dengan Unit Percepatan Pengembangan Papua dan Papua Barat (UP4B), Dirjen Perkebunan Kementeria Pertanian RI, dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Komoro, Kabupaten Timika, Provinsi Papua. Selain itu, penulis juga tergabung dalam tim kajian sagu di Pusat Pengkajian Perencanaan Pengembang Wilayah (P4W-IPB).

Latar Belakang

Permasalahan pangan terus menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Peningkatan jumlah populasi dunia, peningkatan suhu bumi yang disebabkan efek pemanasan global, dan berkurangnya luasan panen tanaman pangan merupakan beberapa faktor yang mengiringi masalah pangan dunia. Kegagalan panen karena banjir sebagai akibat pemanasan global dan serangan hama serta penyakit menyebabkan pangan terus menjadi persoalan yang belum teratasi. Meskipun usaha peningkatan produktivitas tanaman pangan terus dilakukan, namun konversi lahan pertanian menjadi area industri dan perumahan tidak dapat terhindarkan.

Populasi Indonesia mencapai 236 331 300 jiwa pada tahun 2011. Saat ini, produksi padi Indonesia sekitar 69 juta ton. Jumlah tersebut berasal dari luas area panen sebesar 13.44 juta ha dengan produktivitas 4.5 ton/ha. Perkiraan jumlah penduduk Indonesia mencapai 273 219 000 jiwa pada tahun 2025 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.49 (BPS 2012). Dengan demikian, Indonesia akan membutuhkan peningkatan produksi padi nasional setara dengan 79.77 juta ton, luas area panen 15.54 juta ha, dengan produktivitas mencapai 5.2 ton/ha. Pemenuhan kebutuhan beras sebagai sumber utama karbohidrat menjadi tantangan tersendiri.

Program diversifikasi pangan seharusnya dapat mengatasi kebutuhan beras nasional yang semakin meningkat. Pangan lokal seperti umbi-umbian, jagung, kacang-kacangan dan sagu dapat dijadikan alternatif untuk pangan selain beras. Indonesia memiliki sekitar 1.25 juta ha (setara dengan 9.3% dari luas panen sagu nasional) hutan sagu alami. Jika potensi tanaman sagu 20-40 ton/ha, maka Indonesia dapat menghasilkan 25-50 juta ton pati.

Produktivitas tanaman pangan utama secara nasional mengalami peningkatan yaitu padi 5.1 ton/ha, jagung 4.5 ton/ha, ubi jalar 12.3 ton/ha, dan ubi kayu 20.2 ton/ha (BPS 2012). Luas area panen untuk masing masing tanaman pangan yaitu padi 13.44 juta ha, jagung 3.86 juta ha, ubi jalar 0.18 juta ha, dan ubi kayu 1.18 juta ha. Peningkatan kebutuhan pangan selaras dengan peningkatan jumlah penduduk. Upaya-upaya melalui ekstensifikasi dan intensifikasi perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Ekstensifikasi lahan pertanian untuk tanaman pangan sepertinya sulit untuk dilakukan, mengingat konversi lahan pertanian semakin bertambah setiap tahunnya. Konversi lahan pertanian menjadi area industri dan perumahan di Pulau Jawa, yang merupakan sentra produksi beras nasional, terus mengalami peningkatan. Konversi lahan pertanian mengakibatkan berkurangnya area panen tanaman pangan, sehingga berimplikasi terhadap turunnya produksi pangan. Terbatasnya produksi pangan mengakibatkan mahalnya harga pangan, sehingga tidak terjangkau bagi masyarakat miskin.

Saat ini, jumlah penduduk dunia hampir mencapai 7 milyar jiwa. Angka kelaparan dunia mencapai 868 juta jiwa dan dapat dipastikan mengalami kekurangan nutrisi (Konuma 2013). Di Indonesia, kelaparan terjadi di Yakuhimo,

2

Provinsi Papua. Masyarakat mengalami kekurangan pangan, sehingga membutuhkan suplai pangan darurat.

Data kemiskinan setiap provinsi menunjukkan bahwa masyarakat di bagian timur seolah terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian. Berbagai hasil tambang dan pertanian merupakan kekayaan alam yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal, sehingga berimplikasi terhadap pemerataan pendapatan secara nasional. Sagu merupakan salah satu kearifan lokal bangsa Indonesia.

Keunggulan kompetitif tanaman sagu dibandingkan tanaman penghasil karbohidrat lainnya yaitu penghasil karbohidrat tertinggi 20-40 ton/ha, mengkonservasi air tanah, penanaman hanya dilakukan satu kali seumur hidup, dan dapat dikonversi menjadi etanol dengan tidak berkompetisi penggunaannya sebagai pakan ternak dan pangan. Menurut Bintoro et al. (2007) memposisikan sagu sebagai komponen dalam membangun ketahanan pangan nasional yang tangguh merupakan langkah strategis yang berimplikasi jauh ke depan

Tanaman sagu merupakan tanaman asli Indonesia. Penyebarannya di Indonesia meliputi Aceh, Riau, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Keragaman genetik terbanyak di Papua dan Papua Barat. Tanaman sagu diharapkan mampu menjadi tanaman yang mendatangkan pendapatan bagi masyarakat lokal terutama di Indonesia Bagian Timur, dengan segala potensi besar yang ada pada tanaman tersebut.

Pemanfaatan potensi besar tanaman sagu dapat diupayakan dengan melakukan pengembangan dan penataan hutan alami menjadi kebun sagu, sehingga dapat menjadi pemasukan pendapatan bagi masyarakat lokal. Oleh karena itu, bibit merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk pengembangan sagu. Teknik budidaya tanaman sagu mengenai persemaian anakan tanaman sagu (sucker) menjadi penting untuk dipelajari.

Perbanyakan tanaman sagu dapat dilakukan baik secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan generatif dapat dilakukan dengan menumbuhkan biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan dengan menggunakan anakan tanaman sagu (biasa disebut sucker). Persemaian di kanal di sekitar perkebunan dijadikan salah satu cara pembibitan tanaman sagu sebelum ditanam di lapangan, sedangkan di kebun rakyat bibit sagu langsung ditanam ke lapangan. Anakan sagu disemai selama kurang lebih tiga bulan hingga mengeluarkan 2 sampai 3 helai daun muda dan perakaran yang baik. Pertumbuhan tajuk dan perakaran yang baik diharapkan akan dapat meningkatkan persentase tumbuh tanaman sagu di lapangan.

Teknik persemaian yang dilakukan di rakit menghasilkan persentase bibit yang tumbuh dengan baik yaitu sekitar 80% (Jong 2007). Persentase tersebut merupakan implikasi dari ketersediaan air yang cukup bagi anakan tanaman sagu. Anakan tanaman sagu sangat membutuhkan air dalam menunjang pertumbuhan tajuk dan perakaran selama dipersemaian sebelum dipindahkan ke lapangan. Pertumbuhan tajuk yang baik disertai dengan perkembangan perakaran yang baik pula akan meningkatkan rata-rata ketahanan hidup pada awal tanam di lapangan.

Namun demikian, persentase bibit sagu yang hidup dari persemaian ke lapangan masih terbilang rendah yaitu sekitar 50%. Teknik persemaian diperlukan untuk meningkatkan persentase bibit hidup ketika ditanam di lapangan.

Ketersediaan air tanah yang cukup dan adanya naungan saat tanaman sagu mulai ditanam di lapangan sangat diperlukan untuk meningkatkan persentase hidup dilapangan.

Induksi perakaran dapat dilakukan dengan mengaplikasikan zat pengatur tumbuh jenis auksin, sehingga diharapkan dapat mengubah perbandingan (rasio) sitokinin dan auksin (endogen) di dalam jaringan tanaman. Perlakuan penambahan auksin tersebut diharapkan mampu meningkatkan induksi perakaran, melalui kombinasi dengan teknik pembibitan yang efektif diterapkan, sehingga diperoleh bibit dengan persentase hidup tinggi.

Beberapa penelitian mengenai kultur jaringan tanaman sagu telah dilakukan, namun masih terdapat kendala-kendala diantaranya jumlah perakaran yang sedikit dan persentase daya hidup planlet yang rendah saat aklimatisasi (Sumaryono et al. 2007), belum adanya penelitian mengenai organogenesis tanaman sagu serta masih kurangnya penelitian kultur jaringan pada beberapa aksesi tanaman sagu.

Pemanfaatan teknik budidaya yang tepat ditambah dengan pemanfaatan biteknologi melalui kultur jaringan secara in vitro dapat membantu upaya penyediaan bibit siap tanam. Pertumbuhan tajuk dan perakaran yang baik pada kedua kultur (ex vitro dan in vitro) dapat meningkatkan kemungkinan anakan sagu tumbuh bertahan hidup lebih baik di lapangan dan keseragaman bahan tanam.

Tujuan Umum Penelitian

Mempelajari teknik perbanyakan tanaman sagu secara ex vitro dan in vitro

Tujuan Khusus Penelitian

1. Memperoleh teknik persemaian dan percepatan pembibitan tanaman sagu jenis molat (tidak berduri), aksesi Dramaga.

2. Mempelajari proses organogenesis dan embriogenesis pada aksesi tanaman sagu (Metroxylon spp.) tidak berduri secara in vitro melalui beberapa komposisi media, kombinasi zat pengatur tumbuh

Hipotesis Hipotesis pada percobaan ini adalah:

1. Memperoleh kombinasi terbaik pengaruh jenis auksin dan bobot sucker di persemaian polibag dan rakit terhadap pertumbuhan bibit sagu, perakaran dan persentase bibit hidup.

2. Memperoleh komposisi media dasar yang optimum aksesi tanaman sagu memberikan respon yang berbeda terhadap organogenesis dan atau embriogenesis tanaman sagu secara in vitro.

4

Manfaat Penelitian Manfaat percobaan ini adalah:

1. Diperoleh informasi teknik persemaian dalam menghasilkan persentase bibit hidup tertinggi

2. Diperoleh informasi jenis auksin terbaik dalam menginduksi perakaran 3. Diperoleh informasi bobot sucker terbaik dalam menghasilkan persentase

pertumbuhan tajuk dan perakaran yang maksimal

4. Diperoleh informasi media kultur dan jenis eksplan yang menghasilkan persentase embrio somatik tertinggi serta organogenesis langsung

Kerangka berpikir dalam penelitian disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Kerangka Berpikir

Meningkatnya Kebutuhan Pangan  Peningkatan Jumlah Penduduk Global warming

Sumber Karbohidrat Alternatif:

Sagu

Kendala:

 Ketersediaan bibit dari aksesi unggul (pati tinggi dan genjah)

 Pendataan luasan areal sagu

 Rendahnya presentase hidup saat tanam di lapangan

Potensi:

 Sekitar 60% tanaman sagu dunia atau 1.128 juta ha tumbuh di Indonesia (Flach 1983)

 Beragam manfaat sagu:

pangan, pakan, plywood, renewable energy, pestisida nabati, dan bio fuel

Perbanyakan bibit secara In vitro:

Organogenesis

Embriogenesis

Perbanyakan bibit secara Ex Vitro:

Polibag

Ruang Lingkup Penelitian

Peningkatan persentase bibit hidup dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pertumbuhan perakaran bibit, sehingga tajuk dapat berkembang baik. Perakaran berfungsi mengabsorbsi berbagai unsur hara, mineral dan air dari dalam tanah yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan bibit. Kondisi lingkungan tumbuh bibit penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan bibit. Teknik persemaian yang umum digunakan untuk bibit sagu yaitu persemaian di rakit. Teknik persemaian di rakit menghasilkan persentase bibit hidup yang cukup tinggi yaitu 80%. Namun demikian, permasalahan yang terjadi di lapangan setelah transplanting yaitu persentase bibit hidup di lapangan yang masih rendah sekitar 50%. Dengan demikian, diperlukan upaya untuk meningkatkan persentase bibit hidup di lapangan dan percepatan pembibitan dengan penggunaa bibit dengan bobot kurang dari 2 kg. Penggunaan bibit yang lebih kecil akan meningkatkan ketersediaan bibit sagu di lapangan. Teknik persemaian menggunakan polibag dapat menjadi alternatif persemaian bibit sagu yang mampu meningkatkan persentase bibit hidup di lapangan. Teknik persemai- an tersebut dapat mengurangi resiko transplanting shock bibit saat bibit dipindahtanamkan ke lapangan. Keberhasilan bibit hidup di lapangan diharapkan akan mengalami peningkatan, dikarenakan penyesuaian bibit dari media polibag ke lapangan lebih mudah hidup dibandingkan dengan bibit yang berasal dari persemaian rakit.

Penelitian ini terdiri atas dua percobaan yaitu aplikasi jenis auksin dan bobot sucker terhadap pertumbuhan bibit sagu di persemaian polibag dan rakit. Percobaan pertama dilakukan untuk memperoleh informasi persentase hidup bibit, induksi perakaran bibit, dan korelasi peubah vegetatif sucker dengan persentase kandungan pati sucker di persemaian polibag. Percobaan kedua dilakukan untuk memperoleh informasi persentase hidup bibit, induksi perakaran bibit di persemaian rakit. Analisis kedua percobaan di atas dilakukan untuk menentukan perlakuan terbaik dari teknik persemaian polibag dan rakit, serta analisis perbandingan keduanya.

Teknik kultur in vitro melalui embriogenesis dan organogenesis diper- lukan untuk memenuhi kebutuhan bibit secara nasional. Percepatan penyediaan bibit sagu diperlukan dalam mendukung pengembangan sagu secara nasional. Penelitian kultur in vitro dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai media terbaik yang dapat menginduksi embrio somatik dan pembentukan organ tanaman secara lansung, sehingga dapat menghasilkan planlet tanaman sagu sebagai bahan tanam di lapangan.

6

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Sagu (Metroxylon spp.)

Tanaman sagu merupakan jenis palma penghasil karbohidrat tinggi yang berasal dari batang. Potensi karbohidrat yang dapat diperoleh berupa pati kering dari tanaman sagu yaitu sekitar 838 kg/pohon (Saitoh et al. 2004) dan Yamamoto dalam Bintoro (2008) melaporkan adanya sagu unggul juga di Sentani yang mengandung 947 kg pati kering/pohon. Selain itu, tanaman sagu yang tergenang sampai dengan satu bulan memiliki kondisi pati tetap baik. Namun sampai dengan saat ini, pemanfaatan tanaman sagu belum memberikan dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat lokal, terutama di daerah Papua.

Indonesia memiliki keragaman genetik tertinggi dan sebaran terluas untuk tanaman sagu. Ehara (2009) menyatakan bahwa sagu merupakan energi pokok di beberapa daerah seperti Pulau Siberut (Sumatera Barat), pulau-pulau di Bagian Timur Indonesia (Maluku dan Papua), Melanesia Bagian Barat (Papua New Guinea). Menurut Bintoro et al. (2010) luas area hutan alami sagu di Indonesia

mencapai lebih dari satu juta hektar dan keragaman sampai dengan 60 jenis sagu di Papua. Daerah sebaran sagu di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Luasan hutan sagu alami sekitar 90% dan keragaman yang tinggi dijumpai di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Tanaman sagu di Indonesia merupakan 60% dari area sagu dunia. Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memiliki biodiversitas sagu terbesar. Kertopermono (1996) melaporkan bahwa luasan sagu di Indonesia sekitar 1 528 917 ha dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Sebaran dan luasan tanaman sagu dibeberapa kawasan di Indonesia diantaranya Irian Jaya 1 406 469 ha, Ambon 41 949 ha, Sulawesi 45 540 ha, Kalimantan 2 795 ha, Jawa Barat 292 ha, dan Sumatra 31 872 ha. Darmoyuwono (1984) menyatakan bahwa luasan hutan sagu untuk Irian Jaya saja sekitar 4.2 juta ha.

Hasil penelitian Abbas et al. (2009) mengelompokkan populasi sagu di Indonesia menjadi dua kelompok besar. Kelompok I yaitu Jayapura, Serui, Sorong, Pontianak, dan Selat Panjang. Kelompok kedua yaitu populasi tanaman sagu dari Manokwari, Ambon, Palopo, dan Bogor. Kelompok pertama dibagi kembali menjadi dua sub kelompok. Sub kelompok pertama yaitu Jayapura, Serui, Sorong, sedangkan sub kelompok kedua yaitu populasi dari Pontianak dan Selat Panjang. Perbedaan hubungan kekerabatan diantara pupulasi tanaman sagu mungkin disebabkan penyerbukan persilangan. Menurut Jong (1995) bahwa secara umum polinasi tanaman sagu terjadi secara menyerbuk silang dengan waktu kedewasaan bunga jantan dan betina yang berbeda. Ditambahkan oleh Latta dan Mitton (1997) bahwa perbedaan populasi mungkin disebabkan adanya migrasi polen.

Ekologi Tanaman Sagu

Tanaman sagu mampu beradaptasi dengan baik pada lahan kering yang lembab dan lahan tergenang. Notohadiprawiro dan Louhenapessy (1993)

menyatakan bahwa habitat asli tanaman sagu di sekitar tepian sungai yang cenderung tergenang dan berlumpur tetapi secara berkala mengering. Ditambahkan oleh Flach (1997) bahwa pada lahan kering yang lembab, tanaman sagu kalah bersaing dengan tumbuhan hutan lainnya, akibatnya jumlah anakan berkurang, namun kadar patinya tinggi.

Tanaman sagu umumnya tumbuh di daerah marginal, seperti halnya di tanah gambut, dibandingkan dengan dengan tanaman lainnya. Tanaman tersebut juga banyak tumbuh di daerah rawa, lebak dan di daerah tergenang. Menurut Bintoro (2008) tanaman sagu masih dapat menghasilkan pati sagu pada lama genangan 9-12 bulan. Notohadiprawiro dan Louhenapessy (1993) menyatakan bahwa pada agro iklim Oldeman, sagu dapat tumbuh di zone A, B1, B2, C1, C2, D1, D2, dan E1 di Maluku dan Irian Jaya. Sagu dapat tumbuh pada kawasan yang memiliki bulan basah lebih dari 3-9 bulan, tetapi bulan keringnya kurang dari 2 bulan.

Pati sagu yang dihasilkan bervariasi dari 200-900 kg per pohonnya, bergantung pada daerah tumbuh, asal bibit (unggul), kerapatan pertanaman, dan teknik budidaya. Jenis tanah berpengaruh terhadap produksi pati per pohon. Mulyanto dan Suwardi (2000) menyatakan bahwa jenis tanah Sufic fluvaquent (tanah alluvial), Mollic psammaquent (tanah berpasir), Typic sulfaquent (mengandung bahan sulfidik), Typic (normal) dan Vertic (liat) tropaquent (kawasan iklim tropika) memberikan produksi pati per pohon berturut-turut 153, 160, 223, dan 345 kg.

Teknik budidaya juga diperlukan pada tanaman sagu untuk mendapatkan potensi optimal. Bahan tanam, jarak tanam, pemangkasan anakan (thinning out), pengontrolan jumlah anakan, pemenuhan kebutuhan nutrisi, sistem drainase dan periode panen merupakan hal-hal penting terkait budidaya tanaman sagu.

Media Persemaian Polibag

Media yang biasa digunakan sebagai media perbibitan adalah tanah. Selain itu, arang sekam juga dapat digunakan sebagai campuran media pembibitan. Octaviani (2009) menyatakan bahwa arang sekam memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan stek nenas (Ananas comosus L Merr) terutama pada pertumbuhan tinggi tunas, panjang akar, jumlah akar dan persentase stek berakar. Selain itu, media arang sekam lebih mudah diaplikasikan dan sudah dapat dianggap steril, karena proses pembuatannya.

Warna hitam pada media arang sekam menyebabkan daya serap terhadap panas tinggi sehingga menaikkan suhu dan mempercepat perkecambahan. Campuran media tanah dan arang sekam (1:1) lebih baik dibandingkan media tanah, media tersebut menyebabkan media tanam menjadi lebih berpori, sehingga memungkinkan terjadinya aerasi yang lebih baik untuk pertumbuhan tanaman Ki pahang (diameter batang, jumlah helai daun, luas daun, panjang akar, dan jumlah akar). Pencampuran media antara tanah dan arang sekam juga meningkatkan daya pegang air, tanpa menimbulkan air jenuh (Sabur 2011).

Djajadi et al. (2010) menambahkan bahwa pencampuran media yang menyebabkan aerasi yang lebih baik memudahkan respirasi akar. Acquaah (2002) menyatakan bahwa semakin besar ruang pori suatu media tanam akan semakin

8

baik aerasinya. Selain itu, media tanam juga harus mempunyai kemampuan memegang air yang baik, drainase yang baik, dan pH yang sesuai dengan jenis tanaman serta mengandung unsur hara untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Pada pertumbuhan vegetatif yang pesat, karbohidrat yang diangkut ke akar lebih sedikit jika dibandingkan ke tajuk, sehingga petumbuhan akar lebih lambat dari pertumbuhan tajuk. Porsi yang didapatkan oleh tajuk lewat indikator luas dan jumlah daun serta tinggi dan diameter lebih tinggi dibandingkan dengan akar. Hal tersebut dibuktikan dengan bobot tajuk yang lebih besar dibandingkan dengan bobot akar. Rasio tajuk akar banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, seperti konsentrasi nitrat pada media tanam. Semakin rendah rasio tajuk akar maka konsentrasi nitrat di media tersebut juga rendah. Pada fase vegetatif yang pesat, karbohidrat yang diangkut ke akar relatif sedikit. Akar kekurangan karbohidrat jika dibandingkan tajuk sehingga pertumbuhan akar lebih lambat dibandingkan dengan tajuk, akibatnya rasio tajuk akar menjadi lebih tinggi. Rasio tajuk akar pada tanaman juga berkaitan dengan asimilat yang ditranslokasikan ke daun dan akar. Setelah tanaman membentuk cabang, pembagian asimilat lebih banyak ditrasnlokasikan ke tajuk (batang, cabang, dan daun). Tajuk yang sedang berkembang menyerap karbohidrat lebih banyak, sedangkan akar menyerap lebih sedikit (Darmawan dan Baharsjah 2010).

Hartmann et al. (2002) juga mengemukakan bahwa tidak maksimalnya pertumbuhan vegetatif pada fase bibit disebabkan hambatan fisik media tumbuh. Perubahan diameter batang tanaman Ki pahang ternyata mirip dengan perubahan tinggi bibit pada fase vegetatif. Pengaruh media tanam cukup dominan dalam meningkatkan pertumbuhan.

Setiap tanaman memiliki kemampuan hidup yang relatif sama, namun kemampuan adaptasi dan pertumbuhan masing-masing tanaman pada media baru setelah disapih ternyata relatif bervariasi (Sofyan dan Islam 2007). Kondisi seperti ini diduga menjadi penyebab bertambahnya jumlah daun dan luas daun pada media yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda pula. Wicaksono (2009) menyatakan bahwa media tanam cemara gunung (Casuarina junghuhniana Miq) tidak perlu disiapkan secara khusus, campuran antara tanah dan arang sekam sudah dapat meningkatkan pertumbuhan semai.

Rofik dan Murniati (2008) menyatakan bahwa penggunaan media porous dari media arang sekam menghasilkan respon pertumbuhan panjang akar tertinggi pada benih aren jika dibandingkan dengan media lainnya karena banyaknya ruang pori yang memungkinkan akar dapat tumbuh dan berkembang baik. Gruda dan Schnitzler (2004) menambahkan bahwa ketersediaan O2 di dalam media tumbuh sangat esensial untuk respirasi dan pertumbuhan akar. Keberadaan O2 di dalam media tumbuh dipengaruhi oleh kadar air media dan sifat fisik media seperti distribusi ukuran pori, jaringan arsitektur pori, dan tingkat pemadatan media.

Fungsi air sebagai penyusun utama protoplas, bahan baku dalam proses fotosintesis, dan pelarut dalam sejumlah proses hidrolisis. Serapan air yang terbatas akan menyebabkan terhambatnya berbagai aktivitas sel (Taiz dan Zeiger 2012). Stress air yang ringan saja (sekitar -1 sampai -3 bar) sudah dapat menghambat pembelahan dan pembesaran sel, bahkan dapat berhenti sama sekali (Harjadi dan Yahya 1988).

Ketersediaan bibit tanaman sagu sangat diperlukan untuk pengembangan sagu secara nasional. Teknologi persemaian dilakukan dengan mengelola

lingkungan tumbuh yang disesuaikan dengan karakteristik tanaman. Media tanam, kecukupan aerasi tanah, ketersediaan air, dan kondisi bahan tanam berpengaruh terhadap keberhasilan persemaian.

Media tanam yang memiliki aerasi baik akan memberikan pertumbuhan dan perkembangan akar yang lebih baik. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Gardner et al. (1991) bahwa peningkatan porositas akan meningkatkan aerasi sehingga mendorong peningkatan respirasi akar. Dresboll dan Kristensen (2011) menambahkan bahwa melalui proses respirasi akar dihasilkan sejumlah energi yang antara lain digunakan mendukung pertumbuhan