HARIAN UMUM KOMPAS DAN HARIAN UMUM JAWA POS
1. Riwayat Singkat Surat Kabar Kompas
Kompas lahir pada hari Senin 28 Juni 1965 dengan berita utama berjudul “KTT AA Ditunda Empat Bulan”. Kompas lahir di tengah-tengah puncak kehangatan kondisi sosial politik Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.
Kompas terbit lewat proses panjang, pada awal tahun 1965, lebih dari 30 koran anti komunis dituduh revolusioner, sebagai dampaknya, Koran-koran tersebut dilarang terbit. Dalam situasi demikian, Koran pro-komunis praktis tidak memiliki pesaing, kenyataan ini segera saja memunculkan ketimpangan pada penerbitan. Sementara pada saat bersamaan, massa komunis juga semakin meningkatkan tekanannya.
Mereka semakin garang dalam melancarkan taktik “desa mengepung kota”
dengan melaksanakan aksi penyerobotan tanah.
Dalam kondisi demikian, hubungan dua orang pejabat saling berkompeten dengan masalah ini yaitu Menteri/Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Achmad Yani dengan Menteri Perkebunan Drs. Frans Seda, juga ikut bertambah akrab karena mereka mempunyai lawan yang sama.
commit to user 39
Letjen TNI Achmad Yani dengan masalah pengamanan pertanahan dan Drs. Frans Seda harus menghadapai rongrongan di wilayah perkebunan.
Bermula dari kedekatan inilah, Letjen TNI Achmad Yani menghubungi Drs. Frans Seda untuk mengungkapkan gagasan-gagasan dan keinginannya untuk melawan aksi-aksi massa komunis dengan cara memperkuat jajaran koran yang berani melawan aksi-aksi massa komunis tersebut. Hal tersebut dirasa penting sekali karena koran-koran yang mengambil kebijakan anti komunis akhirnya di bredel serentak, segera tanggap ia bertindak cepat membicarakan masalah ini dengan tokoh masyarakat I.J Kasimo (alm) dan dua rekannya yang kebetulan sedang mengelola majalah yaitu P.K Ojong dan Jakob Oetama. Dua orang terakhir inilah yang berperan besar dalam membantu kelahiran Kompas dan sekaligus membesarkannya.
Mereka merencanakan menggunakan nama Bentara Rakjat yang arti harfiahnya “pengawal rakyat” dilandasi harapan bahwa koran ini bisa tampil sebagai pengawal kepentingan rakyat banyak. Namun, atas usul Presiden Soekarno, nama itu diganti dengan Kompas yang berarti sebagai media pencari fakta dari segala penjuru.. Nama Bentara Rakjat tetap digunakan sebagai nama yayasan tempat koran itu bernaung.
Kelahiran Kompas memberikan reaksi pertentangan dan ejekan dari media massa pro komunis. Mereka menuduh Kompas sebagai corong Katolik, dengan mengartikan Kompas sebagai “Komando Pastor”.
Tuduhan itu sama sekali tidak memiliki dasar kuat. Memang benar bahwa
commit to user 40
Kompas berdiri dengan mayoritas orang-orang yang beragama Katolik sebagai pengasuhnya, serta bernaung di bawah yayasan Bentara Rakjat yang notabene dimiliki oleh orang-orang Katolik. Namun demikian sesuai dengan tujuan pendiriannya semula, keberadaan Kompas tidak lain adalah untuk menyelamatkan rakyat dari penyimpangan opini dan hasutan-hasutan massa komunis serta tegaknya orde baru.
Konferensi Asia-Afrika boleh saja ditunda selama empat bulan, tetapi kelahiran koran baru tersebut agaknya memang tidak bisa lagi ditunda-tunda. Belajar dari pengalaman selama mengasuh majalah Intisari, P.K Ojong dan Jakob Oetama dibantu lima belas wartawan muda usia yang masih hijau pengalaman namun memiliki semangat, mulai memadukan talenta untuk menghasilkan sebuah karya.
Kompas pertama kali terbit empat halaman, dengan halaman pojok kiri atas tertulis nama-nama pengurus redaksi Kompas saat itu. Tertulis pemimpin redaksi oleh Drs. Jakob Oetama, sedangkan staf redaksi antara lain, J. Adisubrata, Lie Hwat Nio, S.H Marcel Beding, Th. Susilastuti, Tan Soei Sing, J. Lambangdjaja, Tan Tik Hong, Th. Ponis Purba, Tinon Prabawa, dan Eduard Liem.
Melihat penampilan wajah surat kabar Kompas terbitan pertama, disangsikan kompas tidak akan berumur panjang. Tatanan wajahnya tidak beraturan, gambarnya kurang terang dan sama sekali belum mempunyai tambahan aksesoris untuk mempercantik diri. Tetapi dibalik segala keterbatasan serta kekurangan itu, para pengelolanya justru terpacu untuk
commit to user 41
terus-menerus memperbaiki tulisan dan penyajian untuk membuka peluang dan merebut pasar. Berbekal keyakinan, kegigihan dan semangat pejuang pantang menyerah akhirnya mereka dapat membuktikan bahwa koran mereka mampu bertahan hingga hari ini.
Edisi perdana Kompas dicetak 4.800 eksemplar. Seiring dengan perbaikan mutu pemberitaan dengan meningkatkan kualitas cetak serta memperlancar arus distribusinya, hanya satu bulan Harian Kompas dicetak di PN Eka Grafika, yang kemudian dialihkan percetakannya di Percetakan Massa Merdeka di jalan A.M Sangadji. Terbukti dari angka 4.800 eksemplar, begitu mutu percetakannya membaik, Kompas langsung meningkatkan oplah hampir dua kali lipat, tirasnya menjadi 8.000 eksemplar.
Namun hanya sekitar tiga bulan setelah Kompas lahir, datang musibah. Tanggal 30 September 1965 tengah malam, gerombolan G 30 S/PKI melancarkan aksinya. Enam Jendral pucuk pimpinan TNI AD disergap dan dibunuh. Salah seorang korbannya Panglima Angkatan Darat Achmad Yani, tokoh yang ikut menjadi penganjur lahirnya Kompas.
Akibat peristiwa tersebut Kompas hampir semua koran di Jakarta tidak boleh terbit. Pelaksana Penguasa Perang Daerah (Pepelrada) mengumumkan hanya dua koran dan dua kantor berita diijinkan untuk terbit, yaitu; koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha serta LKBN Antara dan Pemberitaan Angkatan Bersenjata (PAB). Kompas sebenarnya boleh beredar, mengingat edisi pda 2 Oktober beritanya berpihak pada
commit to user 42
orde baru. Tetapi suasana menjelang tengah malam dan kekalutan sedang melanda Jakarta, sulit mencari alasan untuk terbit pada kondisi semacam ini.
Sesudah suasana lebih tenang, tanggal 6 Oktober Kompas dan koran lainnya boleh terbit kembali. Dalam kesempatan itu Pepelrada memang tetap melarang beberapa koran tertentu untuk tidak terbit seterusnya. Koran yang tidak boleh terbit tersebut dicetak di PT. Kinta, salah satu percetakan terbaik di Jakarta pada masa itu. Dengan terbukannya lowongan pada percetakan tersebut, Kompas segera pindah cetak ke Kinta. Setelah perpindahan Kompas ke percetakan baru, bukan saja wajahnya yang semakin cantik bahkan tirsanya pun meningkat menjadi 23.268 eksemplar. Tentu saja peningkatan oplah tidak hanya disebabkan makin baiknya mutu percetakan melainkan dipengaruhi pula oleh permintaan masyarakat yang ingin tahu situasi kota Jakarta dimana setelah semua percetakan ditutup, otomatis mereka tidak mengetahui tentang perkembangan situasi kota Jakarta saat itu.
Kompas menyadari selama sebuah koran belum mampu memiliki percetakan sendiri, berbagai macam kendala tetap menghalangi kemajuannya. Sehingga impian atas sebuah percetakan milik sendiri selalu menjadi obsesi mereka. Impian itu baru terwujud pada pertengahan tahun 1972 dengan lahirnya percetakan Gramedia. Secara berangsur-angsur dengan adanya percetakan milik sendiri, seluruh kegiatan redaksional Kompas mulai bisa disatukan di kompleks Palmerah Jakarta Pusat.
commit to user 43
Sekalipun kegiatan administrasinya berada di gedung Perintis Jakarta Barat.
Kompas sempat mengalami pelarangan selama dua minggu pada pertengahan tahun 1978 bersama lima koran lainnya sebagai sanksi akibat melanggar rambu-rambu pemerintah. Dengan lahirnya undang-undang pokok pers tahun 1982 dan diberlakunya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) semua ikut mendewasakan Kompas. Sesuai ketentuan, penerbitannya segera dialihkan dari Yayasan Bentara Rakyat ke PT.
Kompas Media Nusantara.