BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pendidikan Agama Islam
3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam, mencakup beberapa aspek kehidupan manusia di dunia agar manusia mampu memanfaatkan sebagai tempat untuk beramal yang hasilnya akan di peroleh di akhirat nanti.
Menurut (M. Arifin 2006:17) ruang lingkup Pendidikan Agama Islam yaitu sebagai berikut
1. Lapangan hidup keagamaan, agar pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia sesuai dengan norma-norma ajaran Islam.
2. Lapangan hidup keluarga, agar manusia berkembang menjadi manusia yang sejahtera.
3. Lapangan hidup ekonomi, agar manusia dapat berkembang dan terlibat dalam system kehidupan yang bebas dari penghisapan manusia oleh manusia itu sendiri.
4. Lapangan hidup kemasyarakatan, agar supaya terbina masyarakat adil dan makmur, aman dan tentram di bawah naungan ampunan dari ridha Allah Swt.
5. Lapangan hidup politik, agar tercipta system demokrasi yang sehat dan dinamis sesui dengan ajaran-ajaran Islam.
6. Lapangan hidup seni budaya, agar dapat menjadikan hidup ini penuh dengan keindahan dan kegairahan yang tidak gersang dari nilai moral agama.
7. Lapangan hidup ilmu pengetahuan, agar manusia selalu hidup dinamis dan menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan hidup yang terkontrol oleh nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Berdasarkan beberapa poin di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam adalah menjadikan manusia agar mampu hidup dalam kesejahteraan dunia dan akhirat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Adapun teknik analisis data dalam menganalisis data yaitu dengan teknik analisi data deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran pengamatan dan observasi, sedangkan deskriptif kuantitatif digunakan untuk memberikan gambaran atau mengambil kesimpulan berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan.
Model penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang ditawarkan oleh Jonh Elliot. PTK Model ini tampak lebih rinci, karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi (tindakan). Sementara itu, kemungkinan terdiri dari
beberapa langkah (step), yang terialisasi dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. PTK yang ditawarkan oleh Jonh Elliot terdiri dari empat komponen dalam setiap siklusnya, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observasi) dan refleksi (refleck) yang dilakukan secara berulang.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan atas beberapa siklus, dimana setiap siklus merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Dalam arti pelaksanaan tindakan siklus berikutnya merupakan kelanjutan dan perbaikan dan perbaikan dari pelaksanaan tindakan siklus pertama dan seterusnya.
Gambaran Umum Siklus I
Siklus 1 dilakukan selama 3 kali pertemuan yang terdiri dari 2 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus dengan rincian sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan.
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
a. Menelaah kurikulum materi pelajaran PAI untuk kelas VII SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto.
b. Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing serta pihak sekolah mengenai rencana teknis penelitian.
29
c. Membuat skenario pembelajaran di kelas dalam hal ini pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa sesuai dengan materi yang akan di ajarkan setiap pertemuan.
d. Menentukan strategi pembelajaran sesuai dengan metode yang akan digunakan.
e. Mendesain materi yang akan di ajarkan dalam proses pembelajaran.
f. Membuat alat bantu atau media pengajaran bila di perlukan.
g. Membuat lembar observasi untuk mengamati bagaimana kondisi belajar mengajar ketika pelaksanaan tindakan berlangsung.
h. Mendesain alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal.
2. Tahap Pelaksanaan tindakan.
Secara umum, tndakan yang dilakukan pada siklus 1 ini secara operasional di jabarkan sebagai beikut:
a. Membagi siswa dalam beberapa kelompok heterogen.
b. Guru memberikan motivasi kepada siswa dan membahas secara singkat materi pokok.
c. Siswa membahas materi melalui buku siswa sambil diskusi dalam kelompoknya.
d. Siswa mengerjakan LKS, siswa mengerjakan soal yang ada secara individu. Jika mendapat kesulitan disarankan untuk meminta bantuan dalam kelompoknya sebelum meminta bantuan kepada gurunya.
e. Guru membimbing sambil mengamati siswa dalam kelompoknya.
f. Guru memberikan kuis untuk menentukan skor individu dan kelompoknya.
g. Guru memberikan skor individu dan kelompok dan menentukan kriteria kelompok.
h. Melakukan refleksi untuk pertemuan selanjutnya.
3. Tahap Observasi dan Evaluasi
Pada prinsipnya tahap ini dilakukan selama penelitian berlangsung . Adapun kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
a. Mengamati tiap kegiatan siswa melalui lembar observasi.
b. Pengumpulan data melalui tes.
c. Melakukan evaluasi terhadap data yang ada.
4. Tahap Refleksi.
Hasil yang diperoleh pada tahap obsevasi dan evaluasi, selanjutnya dikumpulkan dan dianalisis. Refleksi yang dimaksudkan adalah pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapain tujuan sementara. Hasil analisis data yang dilaksanakan pada tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya dalam rangka
pencapaian tujuan akhir. Untuk itu, refleksi dalam penelitian ini akan dilakukan setiap akhir tindakan dan setiap akhir siklus.
Gambaran Umum Siklus II
Langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II relatif sama dengan siklus I dan dengan mengadakan perbaikan sesuai hasil refleksi yang didapatkan pada tindakan pada tindakan evaluasi pada siklus I. Adapun rincian kegiatannya adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil refleksi siklus 1, yaitu dengan memberikan penekanan yang lebih tentang kerja sama siswa dalam kelompoknya.
2. Melaksanakan tindakan siklus II 3. Siswa diberi tes
4. Analisis hasil pemantau siklus II
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto dengan subjek penelitian siswa kelas VII.B yang berjumlah 23 orang siswa, yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 18 orang perempuan.
C. Variabel Penelitian
Menurut Musdiana dalam Setyosari (2010:109-110) mengklasifikasikan variabel menjadi delapan variabel, dua diantaranya variabel bebas dan variabel terikat. Menurutnya:
“Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau mempengaruhi yaitu faktor-faktor yang di ukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Sedangkan variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul atau berubah sesuai yang diperkenalkan oleh peneliti ini”.
Berdasarkan pengertian di atas maka variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization ( variabel bebas)
2. Hasil Belajar PAI (variabel terikat)
D. Definisi Operasional Variabel
Untuk memudahkan pemahaman kita untuk menghindari kesalahpahaman dalam pembahasan, maka peneliti menganggap perlu mengemukakan beberapa definisi variabel terlebih dahulu, yakni sebagai berikut:
1. Team Assisted Individualization merupakan salah satu jenis pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang dapat di artikan sebagai bantuan individu dalam kelompok (BIDak). Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (team assisted individualization)
merupakan pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen yang beranggotakan 4-5 orang siswa, dimana semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
2. Hasil belajar, diharapkan dapat dicapai dari kemampuan yang di peroleh anak setelah melalui kegiatan belajar kooperatif tipe TAI dalam jangka waktu tertentu dimana hasil belajar tersebut diperoleh dari pelaksanaan evaluasi yang dilaksanakan beberapa saat setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, yang dimaksudkan bagaimana kemampuan yang telah dimiliki siswa.
E. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Pengumpulan data dalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan semua objek yang dibutuhkan atau sebagian saja. Keseluruhan dari objek yang akan diteliti dinamakan populasi.
Suharsimi Arikunto,(2008:115) menguraikan pengertian populasi adalah:
Totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun pengurang, kuantitatif maupun kualitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas.
Dari pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat menjadi sumber data yang akurat. Mengenai populasi dalam penelitian ini dapat di lihat pada tabel berikut.
Tabel populasi 3.1 SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto
No Siswa Jumlah
1 Kelas VII,a 23
2 Kelas VII,b 23
3 Kelas VIII,a 27
4 Kelas VIII,b 20
5 Kelas IX,a 23
6 Kelas IX,b 20
Jumlah 136
2. Sampel
Sampel menurut Suharsimi Arikunto(1998:109) sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam menentukan jumlah sampel penulis berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto, (1998:112) dalam prosedur penelitian suatu pendekatan praktek yang memberikan
pedoman sebagai berikut. Apabila subjek kurang dari 100 orang lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi.
Maka penulis mengambil sampel yaitu kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang sebagai berikut:
Tabel sampel 3.2 SMPN 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto
No Siswa Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Kelas VII.B 5 18 23
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai alat pengumpulan data.
Dengan demikian, instrumen harus relevan dengan masalah dan aspek yang akan diteliti, agar memperoleh data yang akurat.
Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Lembar Observasi
Lembar Observasi digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, keaktifan dan perhatian siswa dalam rangkah mengikuti proses belajar mengajar.
2. Tes hasil belajar.
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran.
G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
1. Data mengenai peningkatan penguasaan materi diperoleh dari tes setiap siklus yang mana tes setiap siklus ini dibuat oleh penulis bekerja sama dengan guru PAI yang mengajar di kelas tersebut.
2. Data tentang pelaksanaan tindakan diperoleh dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan tanggapan pada akhir siklus.
3. Data tentang aktivitas belajar mengajar diambil pada saat dilakukannya tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
H. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara statistik deskriptif yaitu sebagai berikut:
Statistik deskriptif terdiri dari deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data hasil observasi dianalisis secara kualitatif, sadangkan data mengenai hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan rumus:
a. Presentase
P = x 100 % Dimana:
P : Angka Presentase f : Frekuensi
N : Jumlah Frekuensi
Pedoman yang akan digunakan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh siswa menjadi skor standar (nilai) untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa mengikuti prosedur yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003) adalah sebagai berikut:
No Interval Nilai Kategori
1 0-34 Sangat Rendah
2 35-54 Rendah
3 55-64 Sedang
4 65-84 Tinggi
5 85-100 Sangat Tinggi
Sumber: Standar yang ditetapkan oleh DepDikBud, 2003
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Latar belakang Sekolah
SMP Negeri 2 Tarowang Kab. Jeneponto adalah salah satu sekolah menengah yang berada dalam ruang lingkup DepDikNas Kab. Jeneponto.
Tahun berdirinya sekolah tersebut pada tahun 1999 yang berlokasi di Desa Ujung Kec. Tarowang Kab. Jeneponto. SMP Negeri 2 Tarowang di pelopori oleh Ketua Komite Bapak Temba Mappa pada tahun 1999 sampai sekarang.
Kepala Sekolah pertama Bapak Baharuddin BA, 1999- 2002, kemudian
Kepala Sekolah Kedua Drs. M Taibin. M Pd, 2002-2011, kemudian Kepala Sekolah Ketiga Drs. KM. Mahadi Gassing 2011 sampai sekarang.
Visi dan Misi SMPN 2 Tarowang Visi :
Unggul dalam kualitas yang berbasis iptek dan imtak Misi :
1. Melaksanakan PSB yang transparan, akuntabilitas, objektif, sehingga tercipta kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada sekolah.
2. Melaksanakan disiplin, sehingga tercipta sumber daya manusia (SDM) patuh yang menghargai aturan-aturan.
3. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.
4. Memberdayakan guru dan tenaga kependidikan lainnya, sehingga menjadi guru, pegawai profesional dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
5. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang di anut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
6. Menyediakan dan memanfaatkan sarana/prasarana maksimal sehingga tercipta pembelajaran yang cerdas dan menyenangkan.
7. Meningkatkan prestasi siswa dalam kegiatan olahraga, kesenian dan ekstrakurikuler.
8. Menciptakan kehidupan sekolah yang aman, baik indah tertib dan nyaman.
9. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan pihak lain yang terkait dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah.
10. Meningkatkan produktifitas dan kegiatan administrasi sekolah
2. Keadaan Guru
Guru adalah salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar yang berperan dalam pembentukan dengan manusia seutuhya.
40
Profesi guru bukan pekerjaan biasa melainkan menyandang tanggung jawab berat dalam dunia pendidikan.
Guru dan siswa merupakan dua hal yang saling berinteraksi dalam proses belajar mengajar. Seorang guru membutuhkan seorang siswa begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, perlu dipertegaskan bahwa guruu mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus dikembangkan dan menempu bagian tersendiri dengan berbagai ciri khusus. Dengan memperhatikan tanggung jawab guru jelas bahwa tugas tidaklah ringan dan menjadi panggilan hati nurani.
Menurut Uzer Usman (1990) dalam Musdalifah (2013) menyatakan bahwa:
Guru merupakan jawaban atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sembarang orang tanpa memiliki keahliansebagai guru, orang yang pandai belum tentu dikatakan guru.
Dari pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pekerjaan guru sebagai pendidik sangat luas, di samping memiliki pengetahuan pendidik di tuntut untuk memiliki keahlian dalam menerapkan metode dalam mengembangkan pikiran , mendidik, mengarahkan dan mengetahui potensi-potensi yang dimiliki peserta didik.
Untuk mengetahui keadaan guru dan tenaga kependidikan SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto dapat di lihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.1 Keadaan Tenaga Kependidikan di SMP Negeri 2 Tarowang
NO NAMA
IJAZAH TERTINGGI JABATAN
MENGAJAR Tingkat Jurusan Thn Lulus
1 Drs. KM. Mahadi GS S1/PNS Bhs Arab 1988 Kasek/PAI
2 H. Idrus, S. Pd S1/PNS Bhs Indo 2006 Wakasek/B. Indo
3 Hapsah. H, S.Pd S1/PNS Mate matika 2007 Mate Matika
4 Amrin, S.Pd,M Pd S2/PNS Fisika 1998 Wakasek/IPA Fis
5 Sahabuddin, S.Pd S1/PNS PPKN 1997 PKN
6 Hj Nurhayati, S.Pd S1/PNS Bhs Inggris 1998 B.Inggris
7 Kasmiaty Syarif, SE S1/PNS Ekonomi 2006 IPS Terpadu
8 Andriana Djaja, S.Pd S1/HNR Bhs Indo 2004 Seni Budaya
9 Eka Hasriani. H, S.Pd S1/HNR Bhs Inggris 2005 TIK
10 Sanariah, S.Pd S1/HNR Bhs Indo 2008 BDM
11 Magfirah, S.Pd S1/HNR Biologi 2012 Biologi
12 M. Yusuf, S.Pd S1/HNR Mate Matika 2010 MMT/PAI
13 Rosmayanti, S.Pd S1/HNR Penjaskes 2011 Penjaskes
14 M. Nasir SMEP/TU 1978 TU
15 Ahriani, S.Pd.I S1/TU PAI 2010 TU
16 Musdalifah, S.Pd.I S1/TU PAI 2012 TU
17 Jasman SMA/TU IPS 2006 TU
18 Sri Ayu SMK/TU Adm. Perktran 2013 TU
3. Keadaan Siswa
Siswa merupakan komponen yang kehadirannya ingin memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan untuk pengembangan minat dan bakat mereka sehingga menghendaki pendidikan yang memadai.
Adapun Jumlah Siswa SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Jumlah Siswa SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto Jumlah Kelas Siswa Jumlah
Kelas VII VII.a 23
VII.b 23
Kelas VIII VIII.a 27
VIII.b 20
Kelas IX IX.a 23
IX.b 20
JUMLAH 136
B . Hasil Penelitian
Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil penelitian yang memperlihatkan peningkatan hasil belajar PAI sebelum dan setelah diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization.
Pada hari Senin 03 Maret 2014 di ruang Guru SMPN 2 Tarowang.
Peneliti bersama guru PAI mendiskusikan rancangan tindakan yang akan dilakukan dalam proses penelitian ini. Peneliti memperoleh informasi dari guru PAI bahwa Mata pelajaran Pendais pada hari kamis pukul 7:30- 8:50.
SIKLUS I
1. Tahap perencanaan tindakan I meliputi kegiatan sebagai berikut:
Peneliti bersama guru mendiskusikan skenario pembelajaran PAI sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team assisted Individualization sebagai berikut:
a. Pertemuan Pertama ( 6 Maret 2014)
1. Salam pembuka, doa bersama kemudian guru mengabsen siswa.
2. Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
3. Peneliti dibantu oleh guru memperkenalkan diri sebagai peneliti.
4. Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
5. Peneliti menjelaskan sistem pembelajaran yang akan dilakukan kemudian menjelaskan materi ajar.
6. Peneliti membimbing siswa untuk merangkung materi yang telah dipelajari.
7. Peneliti menyampaikan pokok materi yang akan dijelaskan pertemuan selanjutnya dan melakukan evaluasi sesuai intruksi dari guru Pendais.
8. Mengakhiri pembelajaran dengan salam penutup.
b. Pertemuan Kedua (13 Maret 2014 )
1. Peneliti mengucapkan salam pembuka, doa bersama kemudian mengabsen siswa.
2. Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
3. Peneliti membahas materi sebelumnya kemudian melanjutkan materi yang tertinggal.
4. Siswa mempersiapkan diri mengerjakan evaluasi akhir atas materi yang telah dibahas.
5. Peneliti memberikan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan sendiri soalnya.
6. Peneliti dan guru mengawasi jalannya kegiatan evaluasi dengan baik.
7. Peneliti mengumpulkan kertas jawaban jika waktu pengerjaannya telah selesai.
8. Salam penutup.
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi dan persentase skor hasil belajar Pendidikan Agama Islam sebelum diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization.
Tabel 4.4 Deskripsi ketuntasan belajar siswa kelas VII,B
Skor Kategori Frekuensi Persentase(%)
Dari tabel di atas menunjukkan persentase tidak tuntas belajar sebesar 73,91% atau 17 dari 23 siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas,dan persentase sebesar 26,09% atau 6 dari 23 siswa berada dalam kategori tuntas, berarti terdapat 17 orang siswa yang perlu dibimbing dan diadakan
perbaikan karena mereka belum mencapai kriteria ketuntasan belajar dan peneliti menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization.
Di bawah ini Gambar Diagram Lingkaran Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Sebelum diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization pada siklus I.
Gambar : Diagram Lingkaran Pemahaman Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.
SIKLUS II
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization 1. Perencanaan Tindakan Siklus II
Tahap perencanaan tindakan II meliputi kegiatan sebagai berikut:
a) Pertemuan Pertama ( 20 Maret 2014 )
Sangat Tinggi 26,09%
Tinggi 30,43%
Sedang 34,78%
Rendah 8,70%
Sangat Rendah 0,00%
Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah
1. Salam pembuka, doa bersama kemudian peneliti mengabsen siswa.
2. Siswa membaca Alquran dengan bimbingan guru.
3. Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
4. Peneliti membagi kelompok yang terdiri dari 4-6 orang 5. Peneliti menyampaikan materi yang akan didemonstrasikan.
6. Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
7. Peneliti kembali menjelaskan sistem pembelajaran yang akan dilakukan kemudian menjelaskan materi ajar.
8. Peneliti memberikan beberapa pertanyaan yang berupa tes lisan.
9. Peneliti meminta jawaban dari salah satu siswa.
10. Peneliti membimbing siswa untuk merangkung materi yang telah dipelajari dalam kelompok belajar yang telah di bentuk.
11. Peneliti memberikan tes untuk menentukan skor individu maupun kelompok.
12. Peneliti menyampaikan pokok materi yang akan dijelaskan pertemuan selanjutnya
13. Mengakhiri pembelajaran dengan salam penutup.
b) Pertemuan Kedua ( 27 Maret 2014 )
1. Salam pembuka, doa bersama kemudian peneliti mengabsen siswa.
2. Siswa membaca Alquran dengan bimbingan guru.
3. Siswa mempraktikkan tata cara shalat jumat.
4. Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
5. Peneliti bertanya pada siswa tentang materi sebelumnya kemudian melanjutkan materi dan meminta siswa memperhatikan dengan baik atas materi yang disampaikan.
6. Peneliti membuka kesempatan untuk bertanya bagi siswa yang belum paham atas materi yang telah diajarkan.
7. Memberikan pemahaman sebagai tindakan lebih lanjut.
8. Peneliti memberikan tes untuk menentukan skor individu maupun kelompok.
9. Peneliti menyampaikan pokok materi yang akan dibahas pertemuan selanjutnya dan menyampaikan akan diadakan evaluasi siklus II pada pertemuan berikutnya.
10. Peneliti memberikan tugas Rumah dan Mengakhiri pembelajaran dengan salam penutup.
c) Pertemuan Ketiga ( 3 April 2014 )
1. Peneliti mengucapkan salam pembuka kemudian melanjutkan dengan mengabsen siswa.
2. Menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
3. Peneliti melanjutkan materi pada pertemuan sebelumnya kemudian meminta siswa memperhatikan dengan baik atas materi yang disampaikan.
4. Guru membuka kesempatan untuk bertanya bagi siswa yang masih kurang paham atas materi yang dipelajari.
5. Memberikan pemahaman sebagai tindakan lebih lanjut.
6. Peneliti memberikan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan sendiri soalnya.
7. Peneliti dan guru mengawasi jalannya kegiatan evaluasi dengan baik.
8. Peneliti mengumpulkan kertas jawaban jika waktu pengerjaannya telah selesai.
9. Mengakhiri pembelajaran dengan salam penutup.
1) Peneliti dan guru menyusun Rencana Pelaksanaan Program (RPP) untuk materi yang akan dijelaskan.
2) Peneliti dan guru menyusun instrumen penelitian, yang berupa tes dan non tes berdasarkan pedoman observasi selama proses belajar mengajar berlansung.
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Urutan pelaksanaan tindakan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pertemuan Pertama penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI Pada awal pertemuan, peneliti mengalami kewalahan mengatur atau menguasai siswa yang terdiri dari berbagai macam karakteristik sehingga untuk menentukan strategi belajarnya sangat sulit sehingga peneliti
menggunakan beberapa strategi pembelajaran yang berbeda-beda. Dalam proses pembelajaran siklus II banyak aktivitas siswa di luar proses pembelajaran diantaranya ada yang menganggu temannya, bahkan apabila ada siswa tanya-jawab sebagian siswa berteriak sehingga mengganggu konsentrasi siswa dalam menerima atau memahami materi yang di ajarkan.
Pada pertemuan pertama peneliti melakukan perkenalan pada siswa dan memberikan gambaran materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya dan meminta siswa banyak baca buku yang ada kaitannya dengan materi yang akan diajarkan pertemuan selanjutnya, kemudian menutup pelajaran dengan salam.
2) Pertemuan Kedua
Pada proses pembelajaran pertemuan kedua, peneliti mengalami kewalahan dalam mengajar karena banyak aktivitas siswa yang mengganggu proses pembelajaran, tapi itu tidak berlangsung lama karena peneliti di bantu guru PAI sehingga siswa mudah dikontrol. Siswa juga mulai ada tanggapan tentang materi yang di ajarkan.
3) Pertemuan ketiga
Peneliti melanjutkan materi yang belum selesai, sekaligus memberikan evaluasi dilanjutkan dengan refleksi untuk mengetahui apa yang perlu dikembangkan dalam siklus selanjutnya baik itu proses maupun mutunya.
Peneliti menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
3. Observasi Dan Evaluasi Tindakan Siklus I
Berikut ini adalah data dari hasil observasi yang di dapatkan selama penelitian di SMP Negeri 2 Tarowang dengan tujuan dapat mengidentifikasi tingkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam.
Dari awal pertemuan peneliti telah mengobservasi keaktifan siswa
Dari awal pertemuan peneliti telah mengobservasi keaktifan siswa