• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VII"

Copied!
204
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION UNTUK MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VII.B SMP NEGERI 2 TAROWANG

KABUPATEN JENEPONTO

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

AKBAR WIWIN 10519 01167 10

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

1435 H/ 2014 M

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan penuh kesadaran, penulis yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat, di buat atau di bantu orang lain secara keseluruhan atau sebagian, maka skripsi dan gelar yang di peroleh karenanya batal demi hukum.

Makassar, 8 Juni 2014

Penulis

Akbar Wiwin 105190116710

(3)

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Kantor:Jl. Sultan Alauddin No.259(gedung iqra’ lantai IV) Makassar Tlp.0411 866972-881593

BERITA ACARA MUNAQASYAH

Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar, telah mengadakan sidang munaqasyah pada:

Hari/Tanggal : Ahad 31 Agustus 2014/ 5 Dzulqaidah 1435 M Tempat : Kampus Unismuh Makassar

MEMUTUSKAN Nama : AKBAR WIWIN

Nim : 10519 01167 10

Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.

Dinyatakan : LULUS

Mengetahui

Ketua Sekretaris

Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dr. Abd. Rahim Razaq,M.Pd

NBM: 554 612 NIDN: 99090055374

Penguji I : Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd. (...) Penguji II : Dahlan Lama Bawa, S.Ag.M.Ag (...) Pembimbing I : Dra. Mustahidang Usman, M.Si (...) Pembimbing II : Dra ST Rajiah Rusydi, M.Pd.I (...)

Dekan Fakultas Agama Islam

(4)

Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I NBM: 554 612

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripisi yang berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto”. Telah diajukan pada hari Ahad 5 Dzulqaidah 1435H bertepatan dengan 31 Agustus 2014 M, dihadapan tim penguji dan dinyatakan telah dapat diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 5 dzulqaidah 1435 H 31 Agustus 2014 M

Dewan Penguji

1. Ketua : Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I (...)

2. Sekretaris : Dr. Abd. Rahim Razaq, M.Pd (...)

3. Tim penguji : 1. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I (...)

2. Dahlan Lama Bawa, S.Ag, M.Ag (...)

3. Dra. Mustahidang Usman, M.Si (...)

4. Dra. ST Rajiah Rusydi, M.Pd.I (...)

Disahkan Oleh

Dekan Fakultas Agama Islam

(5)

Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I NBM: 554 612

PRAKATA

Tiada kata yang pantas penulis ucapkan yang lebih indah dan lebih bermakna selain puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayatnya kepada kita sekalian, baik berupa nikmat umur, nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan, sekalipun penulis banyak mengalami hambatan dan tantangan baik dalam bentuk materi maupun moril. Akan tetapi semua itu merupakan proses untuk mencapai kesuksesan. Shalawat dan salam kita curahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang telah hadir kemuka bumi ini untuk mengajak dan mengajar manusia kepada yang lebih baik, terutama dalam segi aqidah maupun dalam bidang ilmu pengetahuan.

Di antara persyaratan yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan Studi S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam adalah penyusunan skripsi yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto”.

(6)

Keberadaan skripsi ini tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Olehnya itu patut penulis ucapkan rasa terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat:

1. Kedua orangtua tercinta ayahanda Sumakkara dan ibunda Hafiah, yang telah mengarahkan segala doa dan usaha demi kelancaran studi Ananda.

2. Dr. H. M. Irwan Akib, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Drs. H. Mawardi pewangi, M.Pd.I, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Amirah Mawardi, S.Ag, M.Si, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Dra. Mustahidang Usman, M.Si dan Dra ST Rajiah Rusydi M.Pd.I, Masing-masing pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan.

6. Bapak dan Ibu dosen beserta para pegawai dalam lingkungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar yang ikhlas meluangkan waktunya untuk mengarahkan selama proses perkuliahan.

Akhirnya hanya kepada Allah jualah penulis serahkan segalanya.

Semoga semua pihak yang banyak membantu penulis mendapat pahala di sisi Allah SWT, serta semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua orang khususnya bagi penulis sendiri.

(7)

Makassar, 8 Juni 2014

Akbar Wiwin ABSTRAK

Nama : AKBAR WIWIN, Nim 105190116710, Judul Skripsi: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto (dibimbing oleh Mustahidang Usman dan ST Rajiah Rusydi).

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dengan menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization. Subjek dalam penelitian ini dalah seluruh siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto yang berjumlah 23 orang. Untuk menghimpun data, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan tes setiap siklus, pengamatan, observasi dan evaluasi.

Adapun teknik analisis data dalam menganalisis data yaitu dengan teknik analisi data deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran pengamatan dan observasi, sedangkan deskriptif kuantitatif digunakan untuk memberikan gambaran atau mengambil kesimpulan berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan. Hasil analisis tes hasil belajar siswa setiap siklus menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa mengalami peningkatan setelah menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization.

Hasil Penelitian sebelum menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization hasil belajar dengan nilai rata-rata 67,61 dari 23 orang siswa pada siklus I dan meningkat setelah menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization pada siklus II yaitu nilai rata-rata siswa sebesar 71,52 dan siklus III rata-rata 87,83 dari 23 siswa. Selain itu pembelajaran kooperatif juga dapat menumbuhkan interaksi sosial yang baik. Sebagian besar siswa merasa senang karena metode ini menuntut adanya kerja sama antara sesama kelompok dalam menemukan konsep dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi serta dapat bertukar fikiran untuk mencari jawaban yang benar sehingga berkesan dan mudah diingat.

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iii

PENGESAHAN SKRIPSI... iv

PRAKATA... v

ABSTRAK... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR LAMPIRAN... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat / Kegunaan Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

A. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization ... 8

1. Pembelajaran Kooperatif... 8

2. Model Pembelajaran Kooperatif... 11

(9)

3. Ruang Lingkup Pembelajaran Kooperatif... 12

4. Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization... 14

5. Manfaat pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization ... 18

B. Hasil Belajar ... 21

C. Pendidikan Agama Islam... 23

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam... 23

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam... 26

3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam... 28

BAB III METODE PENELITIAN... 29

A. Jenis Penelitian ... 29

B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 33

C. Variabel Penelitian... 33

D. Definisi Operasional Variabel... 34

E. Populasi dan Sampel... 35

F. Instrumen Penelitian ... 37

G. Teknik Pengumpulan Data... 37

H. Teknik Analisis Data... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN... 40

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 40

B. Hasil Penelitian... 44

BAB V PENUTUP... 68

A. Kesimpulan... 68

B. Saran... 69

(10)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Sintak Pembelajaran Kooperatif... 14 Tabel 3.1 Keadaan Populasi SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto... 35 Tabel 3.2 Keadaan Sampel SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto... 36 Tabel 4.1 Keadaan Tenaga Kependidikan di SMPN 2

Tarowang Kab.Jeneponto... 42 Tabel 4.2 Keadaan Siswa SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto ... 44 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan persentase skor hasil belajar

PAI sebelum diterapkan Model pembelajaran kooperatif

Tipe Team Assisted Individualization pada Siklus I... 46 Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus I... 47 Tabel 4.5 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus II... 53 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar

PAI Pada Siklus II... 54 Tabel 4.7 Diskripsi Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus II... 55 Tabel 4.8 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus III... 60 Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar

PAI pada Siklus III... 61 Tabel 4.10 Diskripsi Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus III... 62

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A.

SILABUS LAMPIRAN B.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN LAMPIRAN C.

LEMBAR OBSERVASI KEHADIRAN SISWA DATA HASIL TES SISWA

ANALISIS KETUNTASAN BELAJAR SISWA LEMBAR OBSERVASI SISWA SIKLUS I

OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN PERTAMA SIKLUS I OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN KEDUA SIKLUS I LEMBAR OBSERVASI SISWA SIKLUS II

OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN PERTAMA SIKLUS II OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN KEDUA SIKLUS II OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN KETIGA SIKLUS II LEMBAR OBSERVASI SISWA SIKLUS III

OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN PERTAMA SIKLUS III OBSERVASI SISWA PADA PERTEMUAN KEDUA SIKLUS III

(12)

LAMPIRAN E.

PERSURATAN

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional). “Pendidikan mencakup kegiatan mendidik, mengajar dan melatih sebagai usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai disamping untuk membentuk kepribadian anak”.

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang didalamnya mengandung komponen belajar dan mengajar. Pendidikan tidak hanya menyangkut satu orang saja melainkan banyak orang yang berperan serta dalam pendidikan tersebut. Belajar dalam kegiatan pendidikan adalah suatu yang paling perlu diperhatikan karena belajar merupakan komponen utama dalam pendidikan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Alaq (96) Ayat 1-5

1

(13)



















































Terjemahnya:

1.Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,2.

Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah,3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,5.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. ( Departemen Agama RI. Hal 904. 2002) Pendidikan agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama di ajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pakerti, saling menghargai, disiplin dan sebagainya.

Mengingat betapa urgennya pendidikan agama bagi umatnya, maka peran guru yang profesional sebagai ujung tombak di dunia pendidikan sangat di harapkan untuk dapat mentransfer ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan agama kepada peserta didiknya dengan berbagai metode.

Namun untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini terlihat dengan masih rendahnya daya serap siswa yang tergambar melalui prestasi belajar.

Karena berdasarkan observasi dengan guru SMPN 2 Tarowang

(14)

khususnya pada pelajaran PAI kelas VII,b mengatakan bahwa aktifitas belajarnya siswa masih kurang dan cenderung bekerja secara individual.

Hal ini dapat dilihat dari nilai harian siswa yang masih di bawah rata-rata yaitu 50,00 atau sekitar 12 orang yang aktif dari 23 siswa ini berarti penguasaan materi masih kurang.

Hal ini mungkin disebabkan penyajian materi Pendidikan Agama Islam masih bersifat menulis dan mendengarkan sehingga siswa tidak tertarik dengan mata pelajaran Agama. Dalam situasi yang demikian siswa belum terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga guru sulit mengembangkan potensi anak didiknya. Akibatnya hasil belajar siswa dari tahun ke tahun relatif sama. Untuk itu perlu dicari solusi agar seluruh siswa merasa menjadi bagian proses belajar mengajar. Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization merupakan salah satu solusi terhadap masalah siswa yang beraneka ragam itu.

Adapun alternatif pemecahan masalahnya adalah menerapkan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yaitu Team Assisted Individualization yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas. Penerapan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki perubahan sikap dan prilaku siswa, seperti kehadiran, keaktifan, keberanian dan rasa percaya diri siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Karena, pembelajaran kooperatif melatih siswa berinteraksi

(15)

sosial dengan teman kelompoknya yang disusun secara heterogen, bekerja bersama, saling membantu melalui suatu kegiatan peertouring secara nonkompetitif sehingga interaksi antara siswa dengan siswa maupun guru dengan siswa berlangsung secara kondusif, harmonis dan demokratis.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization ini, siswa diberi kesempatan bekerja dalam kelomopok-kelompok kecil untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah secara bersama, menentukan strategi pemecahannya dan menghubungkan masalah tersebut dengan masalah-maslah lain yang telah diselesaikan sebelumnya. Selain itu juga, memungkinkan seorang guru untuk mengontrol keaktifan atau peran serta siswa dalam proses belajar mengajar, serta tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang di berikan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis termotivasi untuk meneliti dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto”.

B. Rumusan Masalah

(16)

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto 2. Bagaimana efektifitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui

penerapan metode tipe Team Assisted Individualization bagi siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.

3. Bagaimana pengaruh penerapan metode tipe Team Assisted Individualization terhadap peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui tingkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.

2. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran PAI melalui penerapan metode tipe Team Assisted Individualization bagi siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.

3. Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode tipe Team Assisted Individualization terhadap peningkatan hasil belajar PAI pada siswa kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto.

(17)

D. Manfaat / Kegunaan Penelitian

Selain penelitian ini memiliki tujuan , maka peneliti juga memiliki target atau manfaat penelitian sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

a. Melatih siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.

b. Memberikan motivasi belajar siswa karena bukan hanya hasil belajar yang dinilai tapi setiap aspek yang mempengaruhi hasil belajar.

c. Memotivasi siswa dalam belajar dan memahami tentang Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan iman dan takwa.

2. Bagi Guru

a. Sebagai acuan untuk mengarahkan dan membimbing siswa, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang tinggi dengan jalan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI).

b. Memberikan informasi bagi guru-guru mengenai pembelajaran dengan desain pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI).

3. Bagi Sekolah

(18)

a. Sebagai masukan dalam upaya perbaikan dan peningkatan pembelajaran.

b. Dijadikan bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu sekolah menjadi lebih baik.

4. Bagi Peneliti

Dengan penelitian ini, diharapkan memperoleh pengalaman langsung dengan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) kepada siswa, sekaligus dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization 1. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok- kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Menurut slaving (Taniredja, dkk, 2011:56) pembelajaran kooperatif adalah:

Pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru.

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pada hakekatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak pendidik yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam cooperative learning karena mereka

8

(20)

beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran cooperative learning dalam bentuk belajar kelompok.

Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Menurut (Muslim Ibrahim 2000:3). Pembelajaran kooperatif adalah Suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar siswa berkelompok untuk menjalin kerja sama dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan dan hadiah.

Pembelajaran kooperatif merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat, meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan yang saling menguntungkan antar mereka. Siswa dalam kelompok akan belajar mendengar ide atau gagasan orang lain, berdiskusi setuju atau tidak setuju, menawarkan, atau menerima kritikan yang membangun, dan siswa tidak merasa terbebani ketika pekerjaannya salah. Siswa bekerja dalam kelompok saling membantu untuk menguasai bahan ajar.

Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi keberhasilan individu yang di tentukan dan dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.

Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah masalah atau mengerjakan

(21)

sesuatu untuk mencapai tujuan bersama dalam kelompok heterogen yang anggotanya empat sampai lima orang.

Kelompok kooperatif berbeda dengan belajar kelompok bersama.

Pada kelompok kooperatif, siswa di bagi untuk berbagi tugas, tidak ada siswa yang mendominasi. Siswa yang lebih tahu melakukan scaffolding bagi siswa yang belum tahu atau kurang tahu. Scaffolding adalah bimbingan yang di berikan secara ketat pada awal, kemudian berangsur- angsur dikurangi dan tanggung jawab diserahkan kepada siswa yang belajar. Dengan demikian kemandirian secara berangsur-angsur dapat dicapai. Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran merupakan upaya penciptaan kondisi yang kondusif, yaitu membangkitkan kegiatan belajar efektif dikalangan para siswa. Perlu disadari, keberhasilan proses pembelajaran tidak ditentukan oleh metode yang digunakan atau modernnya pembelajaran, bukan pula konvensional atau progresifnya pengajaran. Semuanya penting tapi tidak menjadi pertimbangan akhir.

Karena hanya berkaitan dengan alat bukan tujuan. Syarat utama pembelajaran adalah hasil dan hasil hanyalah sebuah akibat dari prosesnya. Proses inilah yang menentukan hasil.

(22)

Pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Menurut (Qadafi 2012) Guna menunjang hasil belajar yang efektif dan efesien maka pendidik memperhatikan hal-hal yaitu sebagai berikut:

a. Kesempatan Belajar, kegiatan pembelajaran perlu menjamin pengalaman siswa untuk secara langsung mengamati dan mengalami proses.

b. Pengetahuan Awal Siswa, kegiatan pembelajaran perlu menyediakan pengalaman belajar yang dikaitkan dengan pengetahuan awal siswa.

c. Refleksi, kegiatan mengajar perlu menyediakan pengalaman belajar bermakna yang mampu mendorong tindakan (aksi) dan renungan (refreksi) pada setiap siswa.

d. Motivasi, kegiatan mengajar harus mampu menyediakan pengalaman belajar yang memberi motivasi dan kejelasan tujuan.

e. Kemandirian dan Kerjasama, kegiatan belajar perlu menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk belajar mandiri maupun belajar kelompok.

f. Belajar untuk Kebersamaan, kegiatan mengajar pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk memiliki simpati, empati dan toleransi pada orang lain.

g. Siswa sebagai Pembangun Gagasan, kegiatan mengajar menyediakan pengalaman yang mengakomodasikan pandangan bahwa pembangunan gagasan adalah siswa, sedangkan guru hanya sebagai penyedia kondisi supaya peristiwa belajar berlansung.

h. Rasa ingin Tahu, Kreativitas dan Ketuhanan, kegiata mengajar menyediakan pengalaman belajar yang memupuk rasa ingin tahu, mendorong kreativitas dan selalu mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

2. Model Pembelajaran Kooperatif

Istilah model dapat diartikan sebagai tampilan grafis, prosedur kerja yang teratur atau sistematis, serta mengandung pemikiran bersifat uraian

(23)

atau penjelasan menunjukkan bahwa suatu desain model pembelajaran menyajikan bagaimana suatu pembelajaran dibangun atas dasar teori seperti belajar, pembelajaran psikologi, komunikasi, sistem dan sebagainya.

Menurut (Ibrahim dkk,2000:63). Model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

Dapat melatih siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkung pendapat atau temuan-temuan dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas kelompok akan dapat memacu para siswa untuk bekerja sama , saling membantu satu sama lain dalam mengintegrasikan penemuan-penemuan baru yang di milikinya.

Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berfikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, prilaku kooperatif dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya.

Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu tradisi pendidikan dimana siswa saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan pekerjaan untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran serta menghormati perbedaan dalam masyarakat yang beraneka ragam budaya.

3. Ruang Lingkup Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang

(24)

ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari Cooperative Learning.

Menurut (Sanjaya 2006:242). Pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan dalam beberapa perspektif, yaitu:

1. Perspektif motivasi artinya penghargaan yang diberikan kepada kelompok yang dalam kegiatannya saling membantu untuk memperjuangkan keberhasilan kelompok.

2. Perspektif sosial artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.

3. Perspektif perkembangan kognitif artinya dengan adanya interaksi antara kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berfikir mengolah berbagai informasi.

Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa ciri khas pembelajaran kooperatif yaitu ada 3 pandangan yaitu motivasi, sosial dan perkembangan kognitif artinya adanya dorongan dari luar untuk mengembangkan prestasi belajar siswa.

Menurut (Risnawati, 2011:16) Ada beberapa hal yang perlu di penuhi dalam pembelajaran kooperatif agar menjamin para siswa bekerja secara kooperatif, hal-hal tersebut meliputi:

a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka

“sehidup sepenanggungan bersama” dan mempunyai tujuan sama yang harus dicapai.

b. Siswa dalam kelompoknya haruslah berinteraksi satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang dihadapinya.

(25)

c. Siswa dalam kelompoknya bertanggung jawab bersama dalam menghadapi masalah.

d. Siswa dalam kelompoknya haruslah menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya.

e. Siswa dalam kelompoknya akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang di tangani dalam kelompok kooperatif.

f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

Langkah-langkah (sintaks) pembelajaran kooperatif di kelas (Rusman,2012:211) disajikan dalam tabel 1.1 sebagai berikut.

FASE TINGKAH LAKU / PERAN GURU

1. Menyampaikan

tujuan dan

memotivasi siswa.

 Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

2. Menyajikan

informasi.  Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.

 Guru menjelaskan kepada siswa bagaiman caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

4. Pembimbing

kelompok bekerja dan belajar.

 Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.

5. Evaluasi  Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing- masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6. Memberikan

penghargaan  Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok.

(26)

4. Pembelajaran Kooperatif tipe Team Assisted Individualization

Pembelajaran kooperatif tipe team assisted individualization merupakan kombinasi antara belajar secara kelompok dengan belajar secara individual. Siswa tetap dikelompokkan, tetapi setiap siswa belajar dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing, setiap anggota kelompok saling membantu dan mengecek.

Pada dasarnya para siswa memasuki kelas dengan berbekal pengetahuan yang berbeda-beda, sehingga ketika guru menyampaikan suatu materi pelajaran dalam kelas yang beragam pengetahuannya, kemungkinan beberapa siswa tidak mempunyai keterampilan prasyarat untuk mempelajari materi tersebut. Sedangkan siswa lain mungkin telah mengetahui materi tersebut, sehingga dapat mempelajari dengan cepat dan waktu yang tersisa akan terbuang percuma.

Salah satu alternatif pemecahan masalah di atas adalah pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization, karena pembelajaran ini merancang sebuah bentuk pembelajaran kelompok dengan cara menyeluruh para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif dan bertanggung jawab dalam memecahkan masalah serta saling memotivasi untuk berprestasi.

Menurut (Slavin,1995) Team Assisted Individualization (TAI) merupakan pembelajaran yang terdiri dari delapan komponen. yaitu:

(27)

1) Team atau kelompok, kelompok yang dibentuk beranggotakan 4 sampai 6 orang siswa. Kelompok tersebut merupakan kelompok heterogen, yang mewakili hasil-hasil akademis dalam kelas, jenis kelamin dan ras. Fungsi kelompok adalah untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok ikut belajar dan lebih khusus adalah mempersiapkan anggotanya untuk mengerjakan tes dengan baik.

2) Tes Penempatan, para siswa diberi pretest pada permulaan program. Soal yang diberikan berkenaan dengan materi yang akan di ajarkan. Hal ini dimaksudkan untuk menempatkan siswa pada kelompok belajar yang didasarkan pada hasil tes mereka.

3) Perangkat Pembelajaran, dalam pembelajaran , strategi pemecahan masalah ditekankan pada semua materi. Masing- masing unit terbagi dalam :

a. Satu lembar petunjuk,berisi tinjauan konsep-konsep yang diperkenalkan oleh guru dalam pengajaran kelompok, dibahas dengan singkat dan pemberian metode pemecahan masalah secara tahap demi tahap.

b. Beberapa lembar praktek keterampilan masing-masing, praktek keterampilan memperkenalkan sebuah sub keterampilan yang membawa kepada ketuntasan keseluruhan keterampilan.

c. Tes formatif, dalam penelitian ini yang dimaksud adalah kuis.

d. Sebuah tes unit atau tes akhir siklus.

4) Belajar Kelompok, setelah ujian tingkat, guru mengajarkan pelajaran pertama. Kemudian para siswa diberi satu unit perangkat pembelajaran secara individual. Para siswa mengerjakan unit-unit tersebut dalam kelompok masing-masing.

5) Skor Kelompok dan Pengakuan Kelompok, diakhir tiap minggu, guru menghitung skor kelompok. Skor ini didasarkan pada unit-unit yang tercangkup oleh anggota kelompok dan akurasi dari tes-tes unit. Kriteria yang dianut untuk prestasi kelompok yaitu kriteria tinggi untuk kelompok super, kriteria menengah untuk kelompok menengah, kriteria minimun untuk kelompok baik.

6) Pengajaran Kelompok, pada saat guru memulai materi baru, guru mengajar materi pokok selama 10-15 menit secara klasikal pada siswa yang telah dikelompokkan dengan anggota yang heterogen.

7) Tes Fakta, dua kali seminggu, para siswa mengambil tes-tes tiga menit berdasarkan fakta.

8) Unit-unit Tes Keseluruhan, setelah tiga minggu, guru menghentikan individual yang digunakan dan menyelesaikan tes dan menggunakan waktu selama satu minggu yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah.

(28)

Berdasarkan kajian teori diatas, langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah mengikuti skema berikut ini:

Langkah 1

Langkah 2

Langkah 3

Langkah 4

Langkah 5

Langkah 6

Langkah 7 guru mengetes keterampilan siswa tentang materi

yang baru dipelajari

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Teaching group, guru mengajarkan materi-materi pokok

Team study, belajar kelompok (materi keseluruhan dibahas siswa secara kelompok)

Team scores, skorsing kelompok (pemberian skor) Siswa mengerjakan LKS secara individu, sementara guru membimbing sambil mengamati

siswa dalam kelompoknya

Student creative, guru menempatkan siswa secara individu untuk menyelesaikan

 Kuis

 Tes akhr siklus

Teams, pembentukan kelompok secara heterogen (Beranggotakan 4-6 orang)

(29)

Langkah 8

Langkah 9

5. Manfaat Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Team Assisted Individualization (TAI) mempunyai manfaat seperti meminimaliskan keterlibatan guru, mengajar kelompok yang heterogen, operasional program yang sederhana, membuat siswa termotivasi dengan materi pengajaran yang tepat dan akurat. Tersedianya banyak pengecekan penguasaan, membuat para siswa dapat melakukan pengecekan satu sama lain, programnya mudah dipelajari oleh guru dan siswa dan membuat siswa bekerja dalam kelompok-kelompok dengan status sejajar.

Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization, merupakan suatu model kooperatif yang menitikberatkan pada proses belajar dalam kelompok. Dalam hal ini siswa yang menentukan dan membangun sendiri pemahaman tentang materi pelajaran. Team Assisted Individualization disusun untuk memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnya dalam hal kesulitan belajar siswa secara individual.

Team recognition, pengakuan kelompok (kriteria kelompok) berupa:

 Kelompok super

 Kelompok hebat

 Kelompok baik

(30)

Siswa masuk dalam sebuah urutan kemampuan individual sesuai dengan hasil tes penempatan dan kemudian maju sesuai dengan kecepatannya sendiri. Pada umumnya, anggota tim bekerja pada unit-unit bahan ajar yang berbeda. Siswa saling memeriksa pekerjaan teman sesama tim dengan dipandu oleh lembar jawaban dan saling membantu dalam memecahkan setiap masalah. Hal ini diterangkan dalam firman Allah di dalam QS. At Taubah (9) ayat 71:



















































Terjemahnya:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.

mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Departemen Agama RI. Hal 266.tahun 2002)

Berdasarkan ayat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa setiap orang harus saling tolong menolong dalam kesusahan tanpa membedakan jenis kelamin dan ras, agar semua dikerjakan terasa mudah. Dengan adanya pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization siswa

(31)

mampu menghargai teman yang kurang mampu di dalam kelompok mereka.

Berbagai keunggulan tersebut dapat dikembangkan sehingga akan benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh setiap siswa. Kepercayaan dalam diri siswa akan tumbuh untuk bersifat kritis atas sesuatu kegiatan.

Siswa juga memiliki kebiasaan untuk menganalisa setiap sikap atau prilaku yang dilakukan oleh orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk selanjutnya dapat mengambil nilai-nilai mana yang benar dan yang mana kurang baik bagi dirinya hal ini diterangkan dalam Hadits Riwayat Abdurrah Rahman:

ﻝ ﻭﺳ ﺭ َﻝﻗ: َﻝَﻗ ﻪﻧﻋ S ﺍ ﻲﺿ ﺭ ﻲِﻧَﻬُﺟﻟ ﺍ ٍﺩﻟ ﺎ ِﺧ َﻥْﻳ ِﺩْﻳ َﺯ ْﻥَﻣْﺣ َﺭﻟ ﺍ ِﺩْﺑَﻋ ْﻲِﺑ َﺃ ْﻥ َﻋ َﻑْﻠَﺧ ْﻥَﻣ ﻭ ﺍ َﺯَﻏ ْﺩَﻘَﻓ ِS ﺍ ﻝْﻳِﺑَﺳ ْﻲِﻓ ًﺎﻳ ِﺯ ﺎَﻏ َﺯﻬَﺟ ْﻥَﻣ : ﻡﻠﺳ ﻭ ﻪﻳﻠﻋ S ﺍ ﻝﺻ S ﺍ

( ﻪﻳﻠﻋ ﻖﻔﺗُﻣ) ﺍ َﺯَﻋ ْﺩَﻘَﻓ ٍﺭْﻳَﺧِﺑ ِﻪِﻠْﻫ َﺃ ْﻲِﻓ ًﺎﻳ ِﺯ ﺎَﻏ

Artinya:

Dari Abdur Rahman Zaid bin khalid al juhani R.A. Ia berkata Nabiyullah SAW bersabda: Barangsiapa yang memberikan persiapan bekal untuk seseorang yang berperang Fisabilillah maka dianggaplah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang yakni sama pahala dengan orang yang ikut berperan itu. Dan barangsiapa yang meninggalkan kepada keluarga orang yang berperang Fisabilillah. Berupa suatu kebaikan apa-apa yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarganya itu, maka dianggaplah

pahala ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang.

( Muttafaku Alaihi)

Dari Hadits di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari baik dalam urusan sosial maupun urusan keamanan

(32)

maka kita perlu menjunjung tinggi rasa solidaritas, yaitu saling membantu satu sama lain dalam hal kebaikan. Karena orang mukmin adalah bersaudara, artinya ikut merasakan apa yang dirasakan saudara kita.

Apabila dalam kehidupan sehari-hari kita saling bantu-membantu akan senantiasa mempererat rasa persaudaraan dan merapatkan silaturahim sehingga akan memperoleh pahala dari Allah yang tak terhitung nilainya.

Metode team assisted individualization merupakan metode pembelajaran secara kelompok dimana terdapat seorang siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual bagi siswa yang kurang mampu dalam kelompoknya. Dalam hal ini peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar.

B. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu yang merupakan hasil dari suatu interaksi belajar dan mengajar. Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut.

Menurut Amir Daim (1973:114) adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:

a. Faktor eksteren (luar) yang meliputi

(33)

1) Faktor lingkungan alam seperti suhu udara dan keadaan alam di sekitar tempat belajar. Siswa yang belajar dengan suhu udara panas akan memperoleh hasil belajar yang berbeda dengan siswa yang belajar diudara sejuk.

2) Faktor instrumental yaitu faktor adanya pendukung kegiatan belajar mengajar misalnya gedung, alat-alat peraga, alat pelajaran dan sebagainya.

b. Faktor sosial

1) Lingkungan keluarga memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa sangat dominan. Karena dalam kehidupan anak sebagian besar waktunya berada dalam keluarga, sehingga di sini anggota keluarga terutama orang tua, bimbingan dan pengarahan orang tua sangat berpengaruh terhadap pencapain hasil belajar siswa.

2) Lingkungan sekolah merupakan lingkungan ketiga yang paling ideal untuk belajar, karena lembaga ini terdapat aturan-aturan yang mengikat antara pendidik dan peserta didik, kegiatan belajar mengajar selalu terprogram dan memilih tujuan yang jelas.

c. Faktor interen(diri sendiri)

1) Faktor fisiologis yaitu kondisi fisik anak, dalam hal ini sangat menentukan keberhasilan anak dalam belajar. Anak yang kelelahan akan mengalami kesulitan mendapat hasil belajar secara maksimal. Di samping itu juga fungsi panca indra yang terdapat pada fisik mereka. Karena dengan panca indra yang masih berfungsi dimungkinkan akan berpengaruh terhadap hasil belajar sesuai keinginan.

2) Faktor psikologis yaitu kondisi jiwa anak, menurut Arden N Fransen dalam bukunya “Principles of learning and teaching”

seperti yang dikutip Sumadi Suryabrata(1995:253) ada dua hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif.

Hasil belajar adalah prestasi yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar, untuk mengetahui keberhasilan siswa tentu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam memahami pelajaran. Untuk itu dilakukanlah beberapa rangkain tes seperti tulisan, lisan, maupun kelompok diskusi.

(34)

Adapun hasil belajar menurut sudjana dalam M. Yusuf (2010:11), bahwa

“hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku setelah terjadi pembelajaran. Tingkah laku sebagai hasil belajar mempunyai pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, psikomotorik”.

DepDikNas (2002:7) menjelaskan bahwa pembelajaran meliputi 3 bidang yaitu:

a. Bidang kognitif yaitu prilaku yang merupakan hasil berfikir (ingatan, pemahaman, aplikasi, analisa dan evaluasi).

b. Bidang efektif yaitu prilaku yang dimunculkan sebagai pertanda suatu kecenderungan untuk memilih/ memutuskan dalam merespon suatu obyek tertentu( penerimaan, tanggapan, penilaian, organisasi dan karakteristik)

c. Bidang psikomotorik yaitu prilaku yang di munculkan oleh hasil kerja tubuh manusia(persepsi, kesiapan, gerak terbimbing, gerak terbiasa, penyesuaian pola gerakan dan kreatifitas)

Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk memperoleh hasil belajar siswa secara utuh tidak terlepas dari bidang- bidang pembelajaran yaitu bidang kognitif, efektif dan psikomotorik.

C. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan merupakan suatu upaya untuk membimbing, mengarahkan dan membina anak didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai- nilai ajaran Islam. Pendidikan agama Islam menempati posisi yang amat

(35)

penting karena tidak hanya bersifat mengajar, dalam arti menyampaikan ilmu pengetahuan tentang pendidikan agama Islam kepada anak didik saja, melainkan penggunaan mental spritual yang sesuai dengan ajaran Islam.

Para ahli mengemukakan berbagai teori tentang agama. Menurut Endang Saifuddin Anshari (1986:122) agama diambil dari bahasa (etimologi) yaitu dari kata a= tidak, dan gama= kacau. Dengan demikian agama berarti tidak kacau tapi teratur. Sedangkan agama di sisi Allah adalah Islam. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali-Imran(3) ayat 19











Terjemahnya :

Sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam. (DepAg RI. Hal 65.

Tahun 2002).

Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu usaha sadar yang dilakukan pendidik secara sadar untuk membina, mengarahkan peserta didik berdasarkan ajaran Islam yaitu Alquran dan Hadits, karena agama islam adalah agama yang diridha oleh Allah

Para ahli memberikan definisi tentang pengertian pendidikan agama Islam yang berbeda-beda sesuai dengan pemahaman masing-masing.

Menurut Khaeruddin (2004:3) “pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa perspektif.

(36)

1. Pendidikan menurut islam atau pendidikan yang berdasarkan Islam yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya yaitu alquran dan hadits. Dalam pengertian yang pertama ini, pendidikan islam dapat terwujud pemikiran dan teori pendidikan yang berdasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber tersebut.

2. Pendidikan keislaman atau pendidikan agama Islam yakni upaya mendidik agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainyaagar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.

3. Pendidikan dala Islam, atau proses praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam. Dalam arti proses pertumbuhkembangnya Islam dn umatnya baik Islam sebagai agama, ajaran maupun sistem budaya dan peradaban, sejak zaman nabi Muhammad SAW sampai sekarang.

Jadi pengertian yang ketiga ini istilah “pendidikan islam” dapat dipahami sebaai proses pembudayaan dan pewarisan ajaran agama, budaya dan peradaban umat islam dari generasi ke generasi sepanjang sejarahnya.

Sementara itu, pendidikan agama Islam menurut Zakiah Darajat(2004:86) mengatakan bahwa pendidikan gama Islam dapat didefinisikan kedala tiga poin yaitu:

a. Pendidikan agama Islam adalah usaha berupaya bimbingan dan asuhan kepada anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta menjadikannya pandangan hidup.

b. Pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.

c. Pendidikan melalui ajaran –ajaran agama Islam yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami ajaran agama islam yang telah diyakinkan secarah menyeluruh serta menjadikan ajaran agama islam itu sebagai pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidupnya didunia dan di akhirat kelak.

(37)

Dari poin-poin di atas penulis menyimpulkan bahwa Allah menjadikan islam sebagai rumah yang disediakan bagi hambanya yang beriman dan bertakwa agar mereka hidup sebagai keluarga muslim.

Dengan demikian, Islam merupakan wadah yang mempersatukan orang yang beriman dan bertakwa dalam melaksanakan dan menegakkan agama Allah dalam kehidupan bermasyarakat.

Jadi sepanjang hidup manusia dapat dibimbing secara berkesinambungan guna meningkatkan ketakwaan kepada allah SWT.

Hasil pendidikan Agama Islam haruslah menyentuh seluruh aspek kepribadian manusia baik batiniyah maupun lahiriyah yang bukan diakibatkan oleh pematangan dalam perkembangan manusia terutama pada masa anak-anak. Pendidikan agama Islam itu berorentsi kepada akhlak atau prilaku yang menumbuhkembangkan kepribadian seseorang sesuai dengan ajaran Islam, agar anak didik kelak menjadi manusia yang mempunyai kepribadian islami serta taat dan patuh kepada Allah SWT.

Taat adalah melaksanakan segala perintah Allah sedangkan patuh adalah tidak melaksanakan atau melanggar segala larangan Allah.

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mewujudkan kesejahteraan manusia di dunia dan diakhirat kelak serta memberikan suatu pemahaman tentang ajaran agama, dimana peserta didik saat

(38)

berada dilingkungan masyarakat mereka mampu mengamalkan apa yang diketahuinya. Pendidikan Islam berlangsung seumur hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula.

Selama itulah pendidikan Islam mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang telah memahami tujuan hidupnya maka dia akan selalu beribadah. Karena tujuan hidup manusia di dunia ini hanya beribadah kepada Allah. Firman Allah dalam QS Azzariyat(51) ayat 56















Terjemahnya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(DepAg RI. Hal 76. Tahun 2002).

Menurut (Al-Rasyidin,2005:37) menyimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam terdiri atas lima sasaran , yaitu:

1. Membentuk akhlak mulia.

2. Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat.

3. Persiapan untuk mendapatkan rezeki dan memelihara segi manfaatnya.

4. Menumbuhkan semangat ilmiah di kalangan peserta didik.

5. Mempersiapkan tenaga profesional yang terampil.

Sedangkan menurut (Al-jamali dan Ramayulis, 2002:20) Tujuan Pendidikan Agama Islam lebih rinci sebagai berikut:

1. Mengenalkan manusia akan peranannya diantara sesama mahluk dan tangung jawab pribadi di dalam hidup ini.

(39)

2. Mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tangung jawabnya dalam tata hidup kemasyarakatan.

3. Mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajak mereka mengetahui hikmah di ciptakannya serta mengambil manfaat dari alam tersebut.

4. Mengenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah) dan memerintahkan untuk beribadah kepada nya.

Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam ialah untuk membentuk akhlak mulia, mencari rejeki dan memanfaatkan di jalan Allah, saling menghormati sesama, mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat dan hanya untuk mengabdi kepada Allah.

3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam, mencakup beberapa aspek kehidupan manusia di dunia agar manusia mampu memanfaatkan sebagai tempat untuk beramal yang hasilnya akan di peroleh di akhirat nanti.

Menurut (M. Arifin 2006:17) ruang lingkup Pendidikan Agama Islam yaitu sebagai berikut

1. Lapangan hidup keagamaan, agar pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia sesuai dengan norma-norma ajaran Islam.

2. Lapangan hidup keluarga, agar manusia berkembang menjadi manusia yang sejahtera.

3. Lapangan hidup ekonomi, agar manusia dapat berkembang dan terlibat dalam system kehidupan yang bebas dari penghisapan manusia oleh manusia itu sendiri.

(40)

4. Lapangan hidup kemasyarakatan, agar supaya terbina masyarakat adil dan makmur, aman dan tentram di bawah naungan ampunan dari ridha Allah Swt.

5. Lapangan hidup politik, agar tercipta system demokrasi yang sehat dan dinamis sesui dengan ajaran-ajaran Islam.

6. Lapangan hidup seni budaya, agar dapat menjadikan hidup ini penuh dengan keindahan dan kegairahan yang tidak gersang dari nilai moral agama.

7. Lapangan hidup ilmu pengetahuan, agar manusia selalu hidup dinamis dan menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan hidup yang terkontrol oleh nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Berdasarkan beberapa poin di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam adalah menjadikan manusia agar mampu hidup dalam kesejahteraan dunia dan akhirat.

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Adapun teknik analisis data dalam menganalisis data yaitu dengan teknik analisi data deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran pengamatan dan observasi, sedangkan deskriptif kuantitatif digunakan untuk memberikan gambaran atau mengambil kesimpulan berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan.

Model penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang ditawarkan oleh Jonh Elliot. PTK Model ini tampak lebih rinci, karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi (tindakan). Sementara itu, kemungkinan terdiri dari

(42)

beberapa langkah (step), yang terialisasi dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. PTK yang ditawarkan oleh Jonh Elliot terdiri dari empat komponen dalam setiap siklusnya, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observasi) dan refleksi (refleck) yang dilakukan secara berulang.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan atas beberapa siklus, dimana setiap siklus merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Dalam arti pelaksanaan tindakan siklus berikutnya merupakan kelanjutan dan perbaikan dan perbaikan dari pelaksanaan tindakan siklus pertama dan seterusnya.

Gambaran Umum Siklus I

Siklus 1 dilakukan selama 3 kali pertemuan yang terdiri dari 2 kali proses belajar dan 1 kali tes siklus dengan rincian sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan.

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:

a. Menelaah kurikulum materi pelajaran PAI untuk kelas VII SMPN 2 Tarowang Kab. Jeneponto.

b. Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing serta pihak sekolah mengenai rencana teknis penelitian.

29

(43)

c. Membuat skenario pembelajaran di kelas dalam hal ini pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa sesuai dengan materi yang akan di ajarkan setiap pertemuan.

d. Menentukan strategi pembelajaran sesuai dengan metode yang akan digunakan.

e. Mendesain materi yang akan di ajarkan dalam proses pembelajaran.

f. Membuat alat bantu atau media pengajaran bila di perlukan.

g. Membuat lembar observasi untuk mengamati bagaimana kondisi belajar mengajar ketika pelaksanaan tindakan berlangsung.

h. Mendesain alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal.

2. Tahap Pelaksanaan tindakan.

Secara umum, tndakan yang dilakukan pada siklus 1 ini secara operasional di jabarkan sebagai beikut:

a. Membagi siswa dalam beberapa kelompok heterogen.

b. Guru memberikan motivasi kepada siswa dan membahas secara singkat materi pokok.

c. Siswa membahas materi melalui buku siswa sambil diskusi dalam kelompoknya.

(44)

d. Siswa mengerjakan LKS, siswa mengerjakan soal yang ada secara individu. Jika mendapat kesulitan disarankan untuk meminta bantuan dalam kelompoknya sebelum meminta bantuan kepada gurunya.

e. Guru membimbing sambil mengamati siswa dalam kelompoknya.

f. Guru memberikan kuis untuk menentukan skor individu dan kelompoknya.

g. Guru memberikan skor individu dan kelompok dan menentukan kriteria kelompok.

h. Melakukan refleksi untuk pertemuan selanjutnya.

3. Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada prinsipnya tahap ini dilakukan selama penelitian berlangsung . Adapun kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:

a. Mengamati tiap kegiatan siswa melalui lembar observasi.

b. Pengumpulan data melalui tes.

c. Melakukan evaluasi terhadap data yang ada.

4. Tahap Refleksi.

Hasil yang diperoleh pada tahap obsevasi dan evaluasi, selanjutnya dikumpulkan dan dianalisis. Refleksi yang dimaksudkan adalah pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapain tujuan sementara. Hasil analisis data yang dilaksanakan pada tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya dalam rangka

(45)

pencapaian tujuan akhir. Untuk itu, refleksi dalam penelitian ini akan dilakukan setiap akhir tindakan dan setiap akhir siklus.

Gambaran Umum Siklus II

Langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II relatif sama dengan siklus I dan dengan mengadakan perbaikan sesuai hasil refleksi yang didapatkan pada tindakan pada tindakan evaluasi pada siklus I. Adapun rincian kegiatannya adalah sebagai berikut:

1. Merumuskan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil refleksi siklus 1, yaitu dengan memberikan penekanan yang lebih tentang kerja sama siswa dalam kelompoknya.

2. Melaksanakan tindakan siklus II 3. Siswa diberi tes

4. Analisis hasil pemantau siklus II

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto dengan subjek penelitian siswa kelas VII.B yang berjumlah 23 orang siswa, yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 18 orang perempuan.

C. Variabel Penelitian

(46)

Menurut Musdiana dalam Setyosari (2010:109-110) mengklasifikasikan variabel menjadi delapan variabel, dua diantaranya variabel bebas dan variabel terikat. Menurutnya:

“Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau mempengaruhi yaitu faktor-faktor yang di ukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Sedangkan variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul atau berubah sesuai yang diperkenalkan oleh peneliti ini”.

Berdasarkan pengertian di atas maka variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization ( variabel bebas)

2. Hasil Belajar PAI (variabel terikat)

D. Definisi Operasional Variabel

Untuk memudahkan pemahaman kita untuk menghindari kesalahpahaman dalam pembahasan, maka peneliti menganggap perlu mengemukakan beberapa definisi variabel terlebih dahulu, yakni sebagai berikut:

1. Team Assisted Individualization merupakan salah satu jenis pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang dapat di artikan sebagai bantuan individu dalam kelompok (BIDak). Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (team assisted individualization)

(47)

merupakan pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen yang beranggotakan 4-5 orang siswa, dimana semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

2. Hasil belajar, diharapkan dapat dicapai dari kemampuan yang di peroleh anak setelah melalui kegiatan belajar kooperatif tipe TAI dalam jangka waktu tertentu dimana hasil belajar tersebut diperoleh dari pelaksanaan evaluasi yang dilaksanakan beberapa saat setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, yang dimaksudkan bagaimana kemampuan yang telah dimiliki siswa.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Pengumpulan data dalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan semua objek yang dibutuhkan atau sebagian saja. Keseluruhan dari objek yang akan diteliti dinamakan populasi.

Suharsimi Arikunto,(2008:115) menguraikan pengertian populasi adalah:

Totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun pengurang, kuantitatif maupun kualitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas.

(48)

Dari pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat menjadi sumber data yang akurat. Mengenai populasi dalam penelitian ini dapat di lihat pada tabel berikut.

Tabel populasi 3.1 SMP Negeri 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto

No Siswa Jumlah

1 Kelas VII,a 23

2 Kelas VII,b 23

3 Kelas VIII,a 27

4 Kelas VIII,b 20

5 Kelas IX,a 23

6 Kelas IX,b 20

Jumlah 136

2. Sampel

Sampel menurut Suharsimi Arikunto(1998:109) sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam menentukan jumlah sampel penulis berpedoman pada pendapat Suharsimi Arikunto, (1998:112) dalam prosedur penelitian suatu pendekatan praktek yang memberikan

(49)

pedoman sebagai berikut. Apabila subjek kurang dari 100 orang lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi.

Maka penulis mengambil sampel yaitu kelas VII.B SMP Negeri 2 Tarowang sebagai berikut:

Tabel sampel 3.2 SMPN 2 Tarowang Kabupaten Jeneponto

No Siswa Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Kelas VII.B 5 18 23

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai alat pengumpulan data.

Dengan demikian, instrumen harus relevan dengan masalah dan aspek yang akan diteliti, agar memperoleh data yang akurat.

Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

1. Lembar Observasi

Lembar Observasi digunakan untuk mengetahui data tentang kehadiran siswa, keaktifan dan perhatian siswa dalam rangkah mengikuti proses belajar mengajar.

2. Tes hasil belajar.

(50)

Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa setelah proses pembelajaran.

G. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:

1. Data mengenai peningkatan penguasaan materi diperoleh dari tes setiap siklus yang mana tes setiap siklus ini dibuat oleh penulis bekerja sama dengan guru PAI yang mengajar di kelas tersebut.

2. Data tentang pelaksanaan tindakan diperoleh dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan tanggapan pada akhir siklus.

3. Data tentang aktivitas belajar mengajar diambil pada saat dilakukannya tindakan dengan menggunakan lembar observasi.

H. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara statistik deskriptif yaitu sebagai berikut:

Statistik deskriptif terdiri dari deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data hasil observasi dianalisis secara kualitatif, sadangkan data mengenai hasil belajar Pendidikan Agama Islam siswa dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan rumus:

(51)

a. Presentase

P = x 100 % Dimana:

P : Angka Presentase f : Frekuensi

N : Jumlah Frekuensi

Pedoman yang akan digunakan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh siswa menjadi skor standar (nilai) untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa mengikuti prosedur yang telah ditetapkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2003) adalah sebagai berikut:

No Interval Nilai Kategori

1 0-34 Sangat Rendah

2 35-54 Rendah

3 55-64 Sedang

4 65-84 Tinggi

5 85-100 Sangat Tinggi

Sumber: Standar yang ditetapkan oleh DepDikBud, 2003

(52)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Latar belakang Sekolah

SMP Negeri 2 Tarowang Kab. Jeneponto adalah salah satu sekolah menengah yang berada dalam ruang lingkup DepDikNas Kab. Jeneponto.

Tahun berdirinya sekolah tersebut pada tahun 1999 yang berlokasi di Desa Ujung Kec. Tarowang Kab. Jeneponto. SMP Negeri 2 Tarowang di pelopori oleh Ketua Komite Bapak Temba Mappa pada tahun 1999 sampai sekarang.

Kepala Sekolah pertama Bapak Baharuddin BA, 1999- 2002, kemudian

(53)

Kepala Sekolah Kedua Drs. M Taibin. M Pd, 2002-2011, kemudian Kepala Sekolah Ketiga Drs. KM. Mahadi Gassing 2011 sampai sekarang.

Visi dan Misi SMPN 2 Tarowang Visi :

Unggul dalam kualitas yang berbasis iptek dan imtak Misi :

1. Melaksanakan PSB yang transparan, akuntabilitas, objektif, sehingga tercipta kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada sekolah.

2. Melaksanakan disiplin, sehingga tercipta sumber daya manusia (SDM) patuh yang menghargai aturan-aturan.

3. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki.

4. Memberdayakan guru dan tenaga kependidikan lainnya, sehingga menjadi guru, pegawai profesional dalam melaksanakan tugas- tugasnya.

5. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang di anut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

6. Menyediakan dan memanfaatkan sarana/prasarana maksimal sehingga tercipta pembelajaran yang cerdas dan menyenangkan.

7. Meningkatkan prestasi siswa dalam kegiatan olahraga, kesenian dan ekstrakurikuler.

8. Menciptakan kehidupan sekolah yang aman, baik indah tertib dan nyaman.

9. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan pihak lain yang terkait dalam penyelenggaraan pendidikan sekolah.

10. Meningkatkan produktifitas dan kegiatan administrasi sekolah

2. Keadaan Guru

Guru adalah salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar yang berperan dalam pembentukan dengan manusia seutuhya.

40

Referensi

Dokumen terkait

上述是笔者的结论和建议 ,笔者希望对 Santo Aloysius、

Presentasi dan diskusi (pembelajaran melalui penyampaian gagasan dan argumen secara efektif dan efisien, mendengar, memahami dan menerima gagasan yang berbeda, serta

Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama.. kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai

 Peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya mengenai modifikasi wadah tanam yang dapat digunakan untuk menanam tanaman sayur berdasarkan pengamatan dari gambar berdasarkan

Yang bertanda tangan dibawah ini Kelompok Kerja Barang Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Kepulauan Aru, berdasarkan :. Berita Acara Pemberian Penjelasan (BAPP) Nomor

Selanjutnya penelitian yang juga berperan terhadap efektivitas penaganan gangguan stress yaitu peranan dukungan sosial terhadap tingkat stres siswa kelas unggulan

[r]

(disesuaikan dengan judul dan masalah yang dihadapi perusahaan/lembaga, serta alternatif yang diusulkan serta bagaimana seharusnya yang ideal berdasarkan kajian teori dan