BAB I PENDAHULUAN 1
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di gedung kost peneliti, tepatnya penelitian ini dilaksanakan di Jalan Pembangunan No. 107, Kelurahan Padang Bulan I, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian ini, bahan baku yang digunakan adalah jahe. Penelitian dilakukan dengan kondisi penjemuran di alam terbuka dan di dalam ruangan dengan data temperatur serta kelembaban udara yang diambil dari www.weather.com berdasarkan wilayah penelitian.
Adapun variabel-variabel dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Tetap :
Jenis bahan baku atau umpan yang digunakan: jahe.
Proses yang digunakan adalah pengeringan.
Panjang jahe adalah 4 cm.
Lebar jahe adalah 2 cm.
Interval waktu pengambilan data adalah 1 jam.
2. Variabel bebas:
Variabel yang divariasikan dalam penelitian ini adalah ketebalan bahan baku yaitu 0,5; 1; dan 1,5 cm.
Ruang penjemuran adalah terpapar langsung dibawah sinar matahari dengan di dalam ruangan.
Kondisi lingkungan pengeringan dilihat dari www.weather.com.
3. Parameter yang dipantau:
Analisis massa jenis
Pada analisis ini akan didapatkan data massa dan massa jenis dari sampel jahe.
Analisis SEM
Pada analisis ini akan didapatkan perbandingan karakteristik sampel jahe sebelum pengeringan dengan sesudah pengeringan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jahe (Zingiber officinale Rosc.)
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah salah suatu jenis tanaman yang termasuk ke dalam jenis suku “Zingiberaceae”. Nama “Zingiber” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Singabera” dan Yunani “Zingiberi” yang artinya adalah tanduk.
Hal ini disebabkan oleh bentuk rimpang jahe yang menyerupai dengan bentuk tanduk rusa. Sedangkan “Officinale” berasal dari bahasa latin yakni “officina” yang artinya adalah dapat digunakan dalam bidang obat-obatan.
Di Negara Inggris jahe dikenal dengan sebutan“Ginger” atau “Garden ginger”.
Sebutan “Ginger”itu sendiri berasal dari bahasa Perancis yaitu “Gingembre” dan bahasa Inggris lama yaitu “Gingifere”, bahasa latin yaitu “Ginginer”, bahasa Yunani yaitu “Greek”: “Zingiberis (διγγίβερις)”. Namun kata asli dari zingiber berasal dari bahasa Tamil yaitu “Inji ver”. Istilah botani untuk akar dalam bahasa Tamil adalah
“Ver”, jadi akar inji adalah “Inji ver”.
Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan yang berbeda-beda untuk tanaman jahe, seperti di Sumatera jahe disebut dengan “halia” (Aceh), “beuing” (Gayo),
“bahing” (Karo), “pege” (Toba), “sipode” (Mandailing), “lahia” (Nias), “sipodeh”
(Minangkabau), “page” (Lubu), dan “jahi” (Lampung), di pulau Jawa jahe disebut dengan “jahe” (Sunda), “jae” (Jawa), “jhai” (Madura), dan “jae” (Kangean), di daerah Sulawesi jahe dikenal dengan nama “layu” (Mongondow), “moyuman”
(Poros), “melito” (Gorontalo), “yuyo” (Buol), “siwei” (Baree), “laia” (Makassar), dan “pace” (Bugis), di daerah Nusa Tenggara jahe disebut dengan “jae” (Bali), “reja”
(Bima), “alia” (Sumba), dan “lea” (Flores), di daerah Kalimantan (Dayak), jahe dikenal dengan sebutan “lai”, di Banjarmasin disebut “tipakan”, di Maluku jahe disebut “hairalo” (Amahai), “pusu”,”seeia”, sehi (Ambon), “sehi” (Hila), “sehil”
(Nusalaut), “siwew” (Buns), “garaka” (Ternate), “gora” (Tidore), dan “laian” (Aru), di Papua, jahe disebut “tali” (Kalanapat) dan “marman” (Kapaur). Terdapatnya perbedaan dalam penyebutan atau penamaan untuk tanaman jahe dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa tanaman jahe telah meluas penyebarannya.
Berikut ini adalah klasifikasi atau kedudukan taksonomi dari tanaman jahe:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta/Pteridophyyta Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Liliopsida-Monocotyledoneae Subkelas : Zingiberidae
Ordo : Zingiberales Suku/Famili : Zingiberaceae Genus : Zingiber P. Mill.
Species : Zingiber officinale Roscoe
Tanaman jahe memiliki nama lain yaitu Amomum angustifolium Salisb dan Amomum zingiber L. Terdapat sekitar 47 genera dan 1.400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam suku Zingiberaceae yang tersebar di seluruh daerah tropis dan sub tropis. Penyebaran Zingiber terbesar berada di bagian timur bumi, khususnya daerah Indo-Malaya yang merupakan tempat asal sebagian besar genus Zingiber. Di daerah Asia Tenggara ditemukan sekitar 80-90 jenis Zingiber yang diperkirakan berasal dari India, Malaya dan Papua. Akan tetapi, hingga saat ini daerah yang menjadi asal muasalnya tanaman jahe belum dapat diidentifikasi secara jelas dimana tanaman jahe berkemungkinan besar berasal dari Cina dan India. Akan tetapi, keanekaragaman genetika yang besar dapat ditemukan di daerah Myanmar dan India yang diduga sebagai pusat dari berbagai jenis jahe (Supriadi, dkk., 2011).
2.2 Morfologi Jahe
Jahe merupakan suatu jenis tanaman tahunan yang berjenis batang semu serta memiliki ketinggian mencapai 30 cm – 1 m (Hapsoh, dkk., 2010). Tanaman jahe terdiri dari akar, batang, bunga, daun, dan rimpang. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing bagian jahe:
a. Akar
Pada bagian akar tanaman jahe, jenis akarnya adalah akar tunggal yang mana pada jenis akar ini akan semakin membesar seiring dengan adanya pertambahan usia tanaman jahe tersebut hingga akan membentuk rimpang serta tunas-tunas yang akan tumbuh menjadi tanaman baru. Akar biasanya tumbuh dari bagian bawah rimpang, sedangkan tunas akan tumbuh dari bagian atas rimpang.
b. Batang
Batang pada tanaman jahe berjenis batang semu yang akan tumbuh secara berdiri tegak lurus, memiliki bentuk bulat pipih, tidak memiliki cabang, serta tersusun atas seludang-seludang dan pelepah daun yang saling menutup sehingga membentuk seperti batang. Untuk bagian luar batang memiliki lapisan berlilin dan mengkilap serta mengandung banyak air atau succulent, memiliki warna hijau pucat dan memiliki warna kemerahan pada bagian pangkalnya. Pada bagian batang yang terdapat di dalam tanah memiliki daging, bernas, berbuku-buku, dan struktur yang bercabang.
c. Bunga
Bagian bunga pada tanaman jahe terletak pada ketiak daun pelindung.
Adapun bentuk bunga adalah bervariasi yang meliputi sebagai berikut: panjang, bulat telur, lonjong, runcing, atau tumpul. Ukuran panjang bunga adalah kisaran 2 cm-2,5 cm dan ukuran lebar bunga adalah kisaran 1,5 cm. Bunga jahe memiliki panjang 30 cm yang berbentuk spika, bunga memiliki warna putih kekuningan dengan bercak bercak ungu merah. Bunga jahe terbentuk langsung dari rimpang, tersusun dalam rangkaian bulir (Spica) berbentuk silinder. Setiap bunga dilindungi oleh daun pelindung berwarna hijau berbentuk bulat telur atau jorong.
Jahe merupakan tanaman dengan jenis berkelamin dua (hermaprodit). Pada masing-masing bunga terdapat dua tangkai sari, dua keping kepala sari dan satu
bakal buah. Diameter serbuk sari memiliki kisaran ukuran 77 - 104 μm dengan dinding yang tebal. Pada bagian kepala putik ujungnya berbentuk bulat berlubang dan berukuran 0,5 mm; serta dikelilingi oleh bulu-bulu yang agak kaku. Jahe merupakan tanaman yang bersifat self incompatible dan posisi kepala putik biasanya berada lebih tinggi bila dibandingkan dengan kepala sari. Adapun struktur seperti ini dapat menyebabkan sistem penyerbukan tanaman jahe menjadi sistem menyerbuk silang.
d. Daun
Bagian daun terdiri dari pelepah dan helaian. Pelepah daun melekat dan membungkus satu sama lain sehingga akan membentuk batang. Helaian daun tersusun secara berselang-seling, tipis berbentuk bangun garis sampai lanset, berwarna hijau gelap pada bagian atas dan biasanya akan lebih pucat pada bagian bawah, memiliki tulang daun yang sangat jelas terlihat dan juga tersusun sejajar. Tanaman jahe memiliki panjang daun dengan kisaran ukuran 5 - 25 cm dan kisaran ukuran lebar sekitar 0,8 - 2,5 cm. Bagian ujung daun agak tumpul dengan kisaran panjang lidah 0,3 - 0,6 cm. Pada permukan atas daun terdapat bulu-bulu putih, ujung daun meruncing, pangkal daun membulat atau tumpul.
Batas antara pelepah dan helaian daun terdapat lidah daun. Jika persediaan air memadai maka bagian pangkal daun ini akan ditumbuhi tunas lalu akan menjadi rimpang yang baru.
e. Rimpang
Untuk bagian rimpang jahe adalah perubahan bentuk dari batang yang tidak beraturan. Pada bagian luar rimpang ditutupi dengan daun yang berbentuk sisik tipis dan tersusun secara melingkar. Bagian rimpang adalah bagian tanaman jahe yang memiliki nilai ekonomi dan digunakan untuk berbagai kepentingan seperti sebagai rempah-rempahan, bumbu masakan, bahan baku obat-obatan tradisional, makanan dan minuman dan juga parfum atau minyak wangi
(Supriadi, dkk., 2011).
2.3 Kandungan Nutrisi pada Jahe
oleh tubuh (Sari, 2011). Dalam menu sehari-hari, jahe dan rempah-rempah lainnya merupakan bahan penyedap rasa alami dengan kandungan zat gizi yang dapat melengkapi nilai gizi menu utama. Jenis zat gizi dan nilai gizi rimpang jahe mentah dapat dilihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Kandungan Nutrisi Jahe per 100 g
Jenis Nutrisi Nilai Nutrisi Persen (%)
Energi 80 Kcal 4 melakukan berbagai aktivifas penting, seperti mempertahankan hidup, melakukan produksi dan untuk menghasilkan energi. Arti gizi atau nutrisi sangat luas karena berkaitan antara pangan yang bergizi/bernutrisi dengan pangan yang tidak memiliki
nilai gizi/nutrisi. Susunan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi atau nutrisi maka akan mendapatkan status gizi atau nutrisi yang baik (Sari, 2011).
2.4 Manfaat pada Jahe
2.4.1 Manfaat Jahe pada Bidang Makanan dan Minuman
Pada zaman sekarang, makanan dan minuman tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut yang lapar atau pengisi dahaga yang haus saja. Namun, makanan dan minuman dioptimalisasi fungsinya sebagai sumber pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika dimungkinkan, makanan dan minuman harus dapat menyembuhkan serta dapat menghilangkan penyakit tertentu. Oleh karena itu, maka muncullah kerangka atau konsep pangan fungsional (functional foods), yang mana pada akhir-akhir ini sangat terkenal di berbagai kalangan masyarakat dunia. Pangan fungsional adalah produk pangan yang dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan, dan juga dapat mencegah serta mengobati berbagai penyakit.
Makna atau maksud dari pangan fungsional menurut BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) adalah pangan yang secara alami maupun yang telah melalui proses sekalipun, yang mana terkandung di dalamnya satu atau lebih senyawa yang berdasarkan berbagai kajian ilmiah dianggap memiliki berbagai fungsi fisiologis tertentu yang berkhasiat untuk kesehatan, serta bisa dikonsumsi sebagaimana layaknya mengkonsumsi makanan dan minuman, memiliki ciri-ciri sensori berupa bentuk, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain itu tidak memberikan memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme tubuh.
Pada umumnya rempah-rempahan mengandung berbagai kandungan bioaktif yang bersifat antioksidan (zat pencegah radikal bebas yang dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai sel tubuh manusia) yang dapat berinteraksi dengan berbagai reaksi fisiologis, sehingga memiliki kemampuan sebagai antimikroba, anti pertumbuhan sel kanker, dan sebagainya. Pada kelompok bahan pangan rempah-rempahan, jahe merupakan jenis komoditas
dikarenakan aroma yang khas dari jahe dan dapat diterima dengan baik, dinikmati dalam lauk pauk (sebagai bumbu masakan dari lauk pauk), kue, permen, maupun minuman seperti bandrek, minuman jahe bubuk, wedang, dan lain sebagainya.
Jahe memiliki nilai ekonomi cukup tinggi karena bagian rimpangnya banyak digunakan oleh masyarakat, baik digunakan sebagai bumbu dalam berbagai masakan, penambah rasa dan aroma pada makanan ringan seperti roti, kue, permen maupun sebagai bahan dasar dalam pembuatan minuman seperti bandrek, minuman jahe bubuk, sekoteng, sirup maupun wedang.
Di Negara Jepang, bagian rebung atau tunas jahe diolah sebagai bahan sayur mayur, acar, ataupun asinan. Hasil olahan itu sangat terkenal disana karena aroma dan cita rasanya yang khas. Makanan olahan dari rebung jahe memiliki manfaat yang baik untuk tubuh seperti membantu tubuh agar segar dan bugar, memperlancar air seni, dan memperbaiki sistem pencernaan. Di Negara Indonesia, mungkin baru orang Manado yang memanfaatkan rebung jahe sebagai salah satu lauk untuk lalapan didampingi dengan sambal pedas. Cara menyantap makanan ini selalu diikuti dengan meminum saguer (semacam tuak).
Terkadang rebung jahe terlebih dahulu dimasukkan ke dalam saguer, agar rebung jahe tersebut awet maka ke dalam campurannya ditambahkan sedikit garam. Makanan ini dipercaya oleh masyarakat Manado bisa menambah tenaga (Hapsoh, dkk., 2010).
2.4.2 Manfaat Jahe pada Kesehatan
Tanaman jahe sangat bagus untuk mencegah atau menyembuhkan berbagai macam penyakit karena di dalamnya terkandung gingerol yang bersifat anti-inflamasi dan antioksidan yang sangat kuat. Jahe juga bermanfaat untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti mual-mual pada saat wanita sedang hamil, mengurangi rasa sakit dan nyeri otot, membantu menyembuhkan penyakit osteoarthritis, menurunkan kadar gula darah pada pasien yang menderita diabetes tipe II, dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung, membantu mengatasi gangguan pencernaan yang sudah kronis, mengurangi rasa sakit pada wanita yang sedang menstruasi, menurunkan kadar kolesterol jahat dan trigliserida dalam darah, membantu mencegah penyakit kanker (karena
aktivitas 6-gingerol) terutama kanker pankreas, kanker payudara dan kanker ovarium, meningkatkan fungsi otak dan mengatasi penyakit alzheimer, serta dapat membantu mengatasi timbulnya serangan berbagai penyakit infeksi lainnya (Aryanta, 2019).
Jahe tidak mengandung lemak dan gula sehingga dapat ditambahkan pada produk makanan untuk meningkatkan aroma tanpa penambahan kalori. Di India dan Cina, teh jahe yang dibuat dari jahe segar tidak hanya mengurangi berat badan namun dapat membantu proses pencernaan. Enzim pada jahe dapat mengkatalisa protein di dalam pencernaan sehingga tidak menimbulkan mual-mual. Bubuk jahe dapat digunakan sebagai obatan untuk produksi obat-obatan herbal dalam pengobat-obatan demam dingin. Jahe yang segar dapat dimanfaatkan dalam proses produksi anggur jahe dan jus yang digunakan sebagai minuman. Selain itu, terdapat beberapa organisasi dan perusahaan swasta yang ikut andil dalam pembuatan pasta jahe dan produk yang berbasis jahe.
Jahe berkhasiat untuk menstimulasi sirkulasi darah. Jahe mengandung senyawa potensial anti imflamasi yang disebut gingerol. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi bahan segar dan olahan jahe setiap hari akan menurunkan sakit otot dan mencegah salah otot akibat olahraga.
Selain itu, dapat mengurangi kolesterol yang dapat merusak kesehatan jantung.
Jahe dapat mengurangi mual-mual sebagai efek samping dari pengobatan kemoterapi, selain itu jahe juga dapat melawan sel-sel kanker. Hal ini disebabkan oleh adanya efek sinergisitas dari zingiberen dan komponen turunannya yang memberikan efek mengobati. Kandungan sejumlah magnesium, kalsium, protein, besi, sodium, kalium dan fosfor akan memberikan perbaikan untuk otot, depresi, lemah otot, kejang, dan kerusakan lambung. Tingginya kadar kalium akan melindungi kerusakan tulang, paralisis, sterilitas, lemah otot kerusakan ginjal dan hati. Produk-produk olahan dari jahe seperti teh jahe digunakan sebagai karminatif dan mengobati demam, di Cina digunakan sebagai tonik. Di Inggris, jahe ditambahkan pada bir untuk mengobati penyakit diare,
2.5 Pengeringan
Pengeringan adalah suatu proses pemisahan air dalam sejumlah kecil ataupun sejumlah zat cair yang terkandung pada bahan padatan sehingga dapat mengurangi sisa kandungan zat cair yang terdapat di dalam bahan padat tersebut hingga mencapai suatu nilai rendah yang dapat diterima. Prinsip pada proses pengeringan berkaitan dengan proses perpindahan panas dan perpindahan massa yang terjadi secara bersamaan (Ridhatullah dan Rosdanelli, 2019).
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung di dalam suatu bahan padat hingga mencapai batas tertentu, dimana perkembangan mikroorganisme yang bisa menyebabkan pembusukan bisa dihambat dan dihentikan sehingga padatan dapat disimpan lebih lama. Sementara itu, volume bahan padatan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan serta pengemasan, bobot bahan juga menjadi berkurang sehingga mempermudah pengangkutan, dengan demikian diharapkan biaya produksi juga dapat lebih murah (Martunis, 2012).
Landasan utama dari proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air yang terkandung pada bahan padatan ke udara yang disebabkan oleh perbedaan kandungan uap air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Agar suatu bahan dapat kering, maka udara harus memiliki kandungan uap air atau kelembaban relatif yang lebih rendah dari bahan yang akan dikeringkan. Telah disebutkan diatas bahwa selama proses pengeringan terjadi dua proses yaitu proses perpindahan panas dan perpindahan massa air yang terjadi secara bersamaan. Untuk menguapkan air dari bahan padatan yang akan dikeringkan maka dibutuhkan energi panas. Penguapan terjadi karena suhu bahan lebih rendah dari pada suhu udara.
Metode pengeringan secara umum terdiri dari dua jenis yakni pengeringan secara manual dan pengeringan secara mekanis. Pengeringan secara manual biasa disebut dengan pengeringan alami (natural drying) dan pengeringan secara mekanis disebut dengan pengeringan buatan (artificial drying). Metode pengeringan alami (natural drying) panas pengeringan dipengaruhi dari udara sekitar tempat pengeringan dan juga sinar matahari. Pengeringan alami ini bisa dilakukan dengan proses penjemuran sedangkan pada pengeringan mekanis (pengeringan buatan) dapat
dilakukan dengan menggunakan panas tambahan yang bersumber dari alat pengering (Sukmawaty dkk., 2019).
2.6 Pengeringan Alami dan Artificial
Matahari merupakan sumber energi gratis yang tidak ada habisnya, selain itu sinar matahari telah digunakan untuk pengeringan makanan sejak zaman dahulu kala (Maisnam dkk., 2017).
Jenis pengeringan yang biasa dilakukan oleh para petani di Indonesia pada umumnya didominasi oleh pengeringan dengan bantuan sinar matahari dan hanya sedikit petani yang melakukan pengeringan dengan menggunakan bantuan alat pengeringan. Pengeringan dengan menggunakan bantuan sinar matahari tidaklah sulit untuk dilakukan, terutama pada daerah tropis seperti Indonesia. Namun, pada umumnya di Indonesia panen jatuh pada musim hujan sehingga pengeringan menjadi suatu permasalahan (Daulay, 2005).
. Pada metode pengeringan alami, bahan yang akan dikeringkan disebar di atas tanah atau lantai semen yang biasanya dialas dengan menggunakan terpal. Pada pengeringan ini, jumlah panas yang diterima bahan tergantung dari intensitas radiasi matahari. Bahan akan menerima energi dari sinar matahari pada siang hari dan mengalami sirkulasi udara secara alami. Selama proses pengeringan, maka sebagian energi matahari akan diradiasikan ke permukaan bahan dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke udara bebas. Kemudian sebagian panas yang dipantulkan ke udara bebas tersebut akan memanaskan udara di sekitar bahan dan terjadi perpindahan massa air dari bahan ke udara sekitar atau perpindahan secara konveksi alami, seperti yang ditunjukan pada gambar 2.1
Gambar 2.2 Prinsip Kerja Pengeringan Alami (Dessy, 2016)
Pada kondisi dimana intensitas radiasi sinar matahari berlebih, maka proses pengeringan berlangsung cepat. Hal ini dikarenakan dapat merusak kualitas bahan.
Permukaan bahan yang terlalu cepat kering dan kurang diimbangi dengan kecepatan gerakan air di dalam bahan yang menuju permukaan bahan dapat menyebabkan pengerasan pada permukaan bahan sehingga air di dalam bahan tidak dapat menguap kembali. Hal inilah yang menyebabkan bahan yang dikeringankan dengan metode ini menjadi berwarna kecoklatan (Dessy, 2016).
Metode pengeringan alami ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode ini adalah pengeringan di bawah sinar matahari langsung membutuhkan biaya produksi yang lebih rendah, tidak dibutuhkan bahan penolong lainnya, upah buruh lebih murah karena tidak memerlukan keahlian khusus dan alat-alat yang digunakan lebih sederhana (Hidayat dan Suparman, 1985).
Adapun kerugian dari metode pengeringan alami ini adalah produk yang telah dikeringkan rentan terhadap kontaminasi bakteri dan mikroba, pencurian bahan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kerusakan oleh burung dan hewan pengerat, proses pengeringan cukup lama dengan kelembaban relatif tinggi yang dapat mendorong pertumbuhan jamur pada bahan, membutuhkan area yang luas, produk harus dibalik secara teratur dan dipindahkan ketika hujan (Dessy, 2016).
Pengeringan artificial adalah pemgeringan yang dilakukan dengan bantuan alat/buatan yang tidak menggunakan matahari sebagai penghantar panasnya. Adapun
yang digunakan dalam penghantar panasnya dapat berupa udara panas yang dilewatkan. Contoh alat: oven, microwave, tray dryer, dan lain-lain.
2.7 Karakteristik Hasil Penelitian
Beberapa pengujian atau karakterisasi yang dilakukan pada pengeringan jahe adalah sebagai berikut :
2.7.1 Analisis SEM (Scanning Electron Microscopy)
SEM merupakan mikroskop elektron yang bisa digunakan untuk mengamati morfologi permukaan dalam skala mikro dan nano. Teknik analisis SEM menggunakan elektron sebagai sumber pencitraan dan medan elektromagnetik sebagai lensanya (Rianita, dkk., 2014).
Analisis SEM dapat memberikan informasi mengenai bentuk dan perubahan dari suatu sampel atau bahan yang diuji dimana pada prinsipnya adalah perubahan patahan, lekukan dan perubahan struktur serta bahan cenderung mengalami perubahan energi. Energi yang berubah tersebut dapat dipancarkan, dipantulkan dan diserap serta diubah menjadi gelombang elektron yang dapat ditangkap dan dibaca hasilnya pada alat SEM. Analisis morfologi dengan metode SEM bertujuan untuk menentukan homogenitas film, struktur permukaan, retakan dan kehalusan permukaan hasil paduan (Adam, 2017).
Scanning Electron Microscope (SEM) adalah sebuah mikroskop elektron yang didesain untuk mengamati permukaan objek solid secara langsung. SEM memiliki perbesaran 10 – 3.000.000 kali, depth of field 4 – 0.4 mm dan resolusi sebesar 1 – 10 nm. Kombinasi dari perbesaran yang tinggi, depth of field yang besar, resolusi yang baik, kemampuan untuk mengetahui komposisi dan informasi kristalografi membuat SEM banyak digunakan untuk keperluan penelitian dan industri. Pembentukan gambar dengan menggunakan prinsip scanning, dimana elektron diarahkan ke objek, lalu gerakan berkas tersebut mirip dengan “Gerakan Membaca”. Scan unit dibangkitkan oleh scanning coil, sedangkan hasil interaksi berkas elektron
diperkuat oleh Video Amplifier kemudian disinkronkan oleh scanning circuit terbentuklah gambar pada Tabung Sinar Katoda (CRT) (Farikhin, 2016).
Dapat dikatakan bahwa analisis SEM (Scanning Electron Microscopy) bertujuan untuk menganalisis perubahan dari morfologi permukaan jahe sebagai sampel pengeringan alami dari basah menjadi kering.
2.7.2 Uji Densitas
Densitas atau massa jenis zat atau kerapatan zat adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh suatu zat atau benda baik itu berupa zat padatan maupun cairan. Massa jenis atau kerapatan zat (ρ) adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu dan dinyatakan dalam sistem cgs yaitu gram per sentimeter kubik (g/cm³ = g/mL). Sedangkan, dalam satuan SI kilogram per meter kubik (kg/m³) (Mi’rodji, 2015).
Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.
Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa
Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa