• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KINETIKA PENGERINGAN JAHE (Zingiber officinale Rosc.) SECARA ALAMI (NATURAL DRYING) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI KINETIKA PENGERINGAN JAHE (Zingiber officinale Rosc.) SECARA ALAMI (NATURAL DRYING) SKRIPSI"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KINETIKA PENGERINGAN JAHE (Zingiber officinale Rosc.) SECARA ALAMI

(NATURAL DRYING)

SKRIPSI

Oleh:

MIA YUNITA 140405097

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

JANUARI 2022

(2)

STUDI KINETIKA PENGERINGAN JAHE (Zingiber officinale Rosc.) SECARA ALAMI

(NATURAL DRYING)

SKRIPSI

Oleh:

MIA YUNITA 140405097

SKRIPSI INI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI SEBAGIAN PERSYARATAN MENJADI SARJANA TEKNIK

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)
(5)

(6)

PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Studi Kinetika Pengeringan Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Secara Alami (Natural Drying). Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik pada program S-1 Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Dengan ini, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada:

1. Bapak Bode Haryanto, ST., MT., Ph.D. selaku Dosen Pembimbing atas kesabarannya membimbing Penulis dalam proses penyusunan dan penulisan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Ir. Bambang Trisakti, M.T selaku Koordinator Skripsi Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Ir. Maya Sarah, S.T., M.T., Ph.D., IPM selaku Ketua Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara dan sekaligus dosen penguji II penulis.

4. Bapak Dr. Eng. Rondang Tambun, S.T., M.T selaku dosen penguji I penulis.

5. Para staf pengajar dan pegawai administasi jurusan Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

6. Bapak Alm. Bagio dan Ibu Nunung Purnama selaku kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik materil maupun spiritual.

7. Penghuni kos putri “Gold House”, khususnya Khairintia Humaira Nainggolan, Zaisika Khairunnisak, Tante Sonya Hutasoit, dan Katherine Sabatini S.

8. Seluruh Qatar Family dan Geng Begu yaitu Nazarul Rifki Abrar, Nadira Nauli, Rifqi Umara, Sonya Depari, Elfan Albar, Rissha Laurens, Pronji, Bella Namira dan Eigina Ginting.

9. Sahabat dalam suka dan duka yaitu Sonia Efrida Hasibuan yang selalu

(7)
(8)

DEDIKASI

Skripsi ini saya persembahkan untuk: kedua orang tua saya Bapak Alm. Bagio dan Ibu Nunung Purnama

Mereka yang menjadi salah satu motivasi terbesar saya dalam penyelesaian skripsi ini sebagai tanda bakti, hormat, dan rasa terimakasih saya.

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya Shalawat berangkaikan salam saya hadiahkan kepada junjungan Nabi Muhammad

SAW, yang mana telah mengantarkan kita dari zaman jahiliyah ke zaman terang benderang kaya akan ilmu pengetahuan. Terimakasih yang tiada terhingga saya

ucapkan kepada kedua orang tua saya dan seluruh keluarga atas semua kerpercayaan, pengorbanan, kasih sayang, dukungan, nasehat serta doa yang ditujukan kepada saya sehingga segala perjalanan hidup saya dapat saya lewati.

Terimaksih juga kepada teman-teman juga yang telah mendukung saya dan atas segala bantuan dan doa yang diberikan

Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan kepada orang tua, saya, saudara- saudari saya dan segenap keluarga besar saya agar dapat saling membantu dan memberikan dukungan dalam segala hal yang akan dijalani di dalam kehidupan ini

(9)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama: Mia Yunita NIM: 140405097

Tempat/Tgl. Lahir: Pekanbaru/30 Mei 1995

Nama Orang Tua: Alm. Bagio dan Nunung Purnama

Alamat Orang Tua: Jl. Teratai No.12 Kelurahan Simarito, Kec.

Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara E-mail: [email protected]

Riwayat Pendidikan:

 SD Babussalam Pekanbaru (2001-2010)

 SMP Islam As-Shofa Pekanbaru (2007-2010)

 MAN 2 Model Pekanbaru (2010-2013)

 S-1 Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara (2014-2021) Pengalaman Organisasi/Kerja:

 Pengurus SIMETRIKAL FT USU (2014-2015)

 Anggota Bidang Hubungan Keluar Instansi dan Alumni Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia FT USU (2016-2018)

 Anggota Bidang Seni dan Olahraga Covalen Study Group DTK FT USU (2016-2017)

 Anggota Bidang Seni dan Olahraga Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) FT USU (2016-2018)

 Kerja Praktek di PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk (Agustus 2017- September 2017)

(10)

ABSTRAK

Jahe adalah suatu jenis tanaman obat serta rempah yang berupa tanaman rumpun berbatang semu dan merupakan bagian rimpang dari tanaman yang bernama ilmiah Zingiber officinale Rosc. Jahe termasuk salah satu komoditas pertanian yang memiliki prospek cukup bagus untuk dikomersilkan di Indonesia. Teknik penanganan hasil pertanian merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan, hal ini dikarenakan apabila dengan menguasai teknik penanganannya maka dapat mengurangi tingkat kerusakan dari berbagai produk pertanian.

Pengeringan merupakan salah satu proses pengolahan pangan yang telah lama dikenal. Proses pengeringan pada penelitian ini dilakukan secara pengeringan alamiah (natural drying) dengan kondisi di luar dan di dalam ruangan. Panjang sampel 4 cm, lebar 2 cm, dan tebal sampel yang divariasikan yaitu 0,5 cm; 1 cm; dan 1,5 cm. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kinetika pengeringan jahe menggunakan pengeringan alami terhadap dimensi jahe dan juga menentukan karakteristik pengeringan jahe. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terbaik untuk pengeringan jahe adalah kondisi di luar ruangan terkena sinar matahari secara langsung. Laju Pengeringan terbaik terjadi pada sampel 1 dengan kondisi di luar ruangan. Model persamaan terbaik dalam memprediksi laju pengeringan jahe adalah model Newton dengan R2 sebasar 0,9894 pada luar ruangan dan 0,9929 pada dalam ruangan.

Kata Kunci: Karakteristik, Kinetika, Laju Pengeringan, Pengeringan, Model Matematika.

(11)

ABSTRACT

Ginger is a type of medicinal plant and spice in the form of a pseudo- trunked clump and is part of the rhizome of a plant with the scientific name Zingiber officinale Rosc. Ginger is one of the agricultural commodities that have good prospects for being commercialized in Indonesia. Agricultural product handling techniques are very important things to do, this is because if you master the handling techniques you can reduce the level of damage from various agricultural products.

Drying is a food processing process that has long been known. The drying process in this study was carried out by natural drying (natural drying) with conditions outside and inside the room. The length of the sample is 4 cm, the width is 2 cm, and the thickness of the sample which is varied is 0.5 cm; 1 cm; and 1.5 cm. This research was conducted to determine the drying kinetics of ginger using natural drying on the dimensions of ginger and also to determine the drying characteristics of ginger. The results showed that the best conditions for drying ginger were outdoor conditions exposed to direct sunlight. The best drying rate occurred in sample 1 with outdoor conditions. The best equation model in predicting the drying rate of ginger is Newton's model with R2 of 0.9894 outdoors and 0.9929 indoors.

Keywords: Characteristics, Kinetics, Drying Rate, Drying, Mathematical Model.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI i

PENGESAHAN SKRIPSI ii

LEMBAR PERSETUJUAN iii

PRAKATA ... IIIJNNIIiv

DEDIKASI vi

RIWAYAT HIDUP PENULIS vii

ABSTRAK viii

ABSTRACT ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xixxxiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xxviii

BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah... 6

1.3 Tujuan Penelitian... 7

1.4 Manfaat Penelitian... 7

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9 2.1 Jahe (Zingiber officinale Rosc.) ... 9

2.2 Morfologi Jahe ... 11

2.3 Kandungan Nutrisi pada Jahe ... 12

2.4 Manfaat pada Jahe ... 14

2.4.1 Manfaat Jahe pada Bidang Makanan dan Minuman ... 14

2.4.2 Manfaat Jahe pada Kesehatan ... 15

2.5 Pengeringan ... 17

2.6 Pengeringan Alami dan Artificial ... 18

2.7 Karakteristik Hasil Penelitian... 20

(13)

2.7.2 Uji Densitas... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 22 3.1 Lokasi Penelitian ... 22

3.2 Bahan dan Peralatan ... 22

3.2.1 Bahan ... 22

3.2.2 Peralatan... 23

3.3 Diagram Kerja ... 23

3.4 Prosedur Penelitian ... 24

3.4.1 Prosedur Analisis Massa Jenis ... 24

3.4.2 Pengeringan Sampel ... 24

3.5 Flowchart Penelitian ... 25

3.5.1 Flowchart Analisis Densitas atau Massa Jenis ... 25

3.5.2 Flowchart Penelitian Pengeringan Sampel ... 26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 27 4.1 Sifat Fisik Sampel Berdasarkan Variasi Ukuran ... 27

4.2 Kinetika Pengeringan ... 27

4.3 Kinetika Penurunan Berat Perhari ... 30

4.4 Karakteristik Hasil Pengeringan... 33

4.4.1 Bentuk dan Permukaan Sampel ... 33

4.4.2 Hasil Analisa Uji SEM (Scanning Electron Microscopy) ... 34

4.5 Model Matematika Pengeringan ... 35

4.6 Evaluasi dan Perbandingan Berbagai Model Kinetika Pengeringan ... 37

4.6.1 Evaluasi dan Perbandingan Berbagai Model Kinetika Pada Pengeringan Jahe Secara Alami di Luar Ruangan Terbaik ... 37

4.6.2 Evaluasi dan Perbandingan Berbagai Model Kinetika Pada Pengeringan Jahe Secara Alami di Dalam Ruangan ... 39

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 41

5.1 Kesimpulan... 41

5.2 Saran ... 41

(14)

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Jahe (Zingiber officinale Rosc.) ... 10 Gambar 2.2 Prinsip Kerja Pengeringan Alami ... 19 Gambar 3.1 Contoh Tampilan www.weather.com Pengambilan Data

Lingkungan 22

Gambar 3.2 Diagram Kerja Penelitian ... 23 Gambar 3.3 Flowchart Analisis Massa Jenis ... 25 Gambar 3.4 Flowchart Penelitian Pengeringan Sampel. ... 26 Gambar 4.1 Kinetika pengeringan sampel hari pertama (a) luar ruangan, (b)

dalam ruangan 27

Gambar 4.2 Kinetika pengeringan sampel perhari (a) luar ruangan, (b)

dalam ruangan 30

Gambar 4.3 Kondisi Variasi Pengeringan 32

Gambar 4.4 Bentuk dan Permukaan Sampel (a) Luar Ruangan, (b) Dalam

Ruangan 33

Gambar 4.5 Hasil Analisa Uji SEM (a) Sebelum Dikeringkan, (b)

Sesudah Dikeringkan 34

Gambar 4.6 Perbandingan Data Aktual dengan Prediksi Laju Pengeringan Jahe di Luar Ruangan pada Berbagai Persamaan Model Kinetika 38 Gambar 4.7 Perbandingan Data Aktual dengan Prediksi Laju Pengeringan Jahe

Dalam Ruangan pada Berbagai Persamaan Model Kinetika 39 Gambar L2.1 Grafik Model Newton Run I Luar Ruangan 66 Gambar L2.2 Grafik Model Newton Run II Luar Ruangan 67 Gambar L2.3 Grafik Model Newton Run III Luar Ruangan 67 Gambar L2.4 Grafik Model Page Run I Luar Ruangan 68 Gambar L2.5 Grafik Model Page Run II Luar Ruangan 68 Gambar L2.6 Grafik Model Page Run III Luar Ruangan 69 Gambar L2.7 Grafik Model Handerson-Pabis Run I Luar Ruangan 69 Gambar L2.8 Grafik Model Handerson-Pabis Run II Luar Ruangan 70 Gambar L2.9 Grafik Model Handerson-Pabis Run III Luar Ruangan 70

(16)

Gambar L2.10 Grafik Model Newton Run I Dalam Ruangan 71 Gambar L2.11 Grafik Model Newton Run II Dalam Ruangan 71 Gambar L2.12 Grafik Model Newton Run III Dalam Ruangan 72 Gambar L2.13 Grafik Model Page Run I Dalam Ruangan 72 Gambar L2.14 Grafik Model Page Run II Dalam Ruangan 73 Gambar L2.15 Grafik Model Page Run III Dalam Ruangan 73 Gambar L2.16 Grafik Model Handerson-Pabis Run I Luar Ruangan 74 Gambar L2.17 Grafik Model Handerson-Pabis Run II Luar Ruangan 74 Gambar L2.18 Grafik Model Handerson-Pabis Run III Luar Ruangan 75 Gambar L3.1 Foto Sampel Awal (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan 76 Gambar L3.2 Pengukuran Densitas (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 76

Gambar L3.3 Massa sampel pada H0 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 77

Gambar L3.4 Massa sampel pada H1 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 77

Gambar L3.5 Massa Sampel pada H2 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 77

Gambar L3.6 Massa Sampel pada H3 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 78

Gambar L3.7 Massa Sampel pada H4 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 78

Gambar L3.8 Massa Sampel pada H5 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 79

Gambar L3.9 Massa Sampel pada H6 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 79

Gambar L3.10 Massa Sampel pada H0 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 80

Gambar L3.11 Massa Sampel pada H1 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 80

Gambar L3.12 Massa Sampel pada H2 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(17)

Gambar L3.13 Massa Sampel pada H3 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 81

Gambar L3.14 Massa Sampel pada H4 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 82

Gambar L3.15 Massa Sampel pada H5 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 82

Gambar L3.16 Massa Sampel pada H6 (a) Sampel 1, (b) Sampel 2,

(c) Sampel 3 83

Gambar L3.17 Foto Pengukuran Temperatur Pengeringan 83 Gambar L3.18 Foto Hasil Uji SEM Sebelum Pengeringan (a) Perbesaran 1500x, (b) Perbesaran 1000x, (c) Perbesaran 250x 84 Gambar L3.19 Foto Hasil Uji SEM Sesudah Pengeringan (a) Perbesaran 1500x, (b)

Perbesaran 1000x, (c) Perbesaran 250x 84

(18)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu Tentang Pengeringan Hasil Pertanian... 5 Tabel 2.1 Kandungan Nutrisi Jahe per 100 g ... 13

Tabel 4.1 Identifikasi Sifat Fisik Jahe 17

Tabel 4.2 Bentuk Linier Model Kinetika Pengeringan 24 Tabel 4.3 Nilai Konstanta dan Koefisien Model Kinetika Pengeringan 24 Tabel L1.1 Data Pengeringan H1 Run I Luar Ruangan 47 Tabel L1.2 Data Pengeringan H2 Run I Luar Ruangan 47 Tabel L1.3 Data Pengeringan H3 Run I Luar Ruangan 48 Tabel L1.4 Data Pengeringan H4 Run I Luar Ruangan 48 Tabel L1.5 Data Pengeringan H5 Run I Luar Ruangan 48 Tabel L1.6 Data Pengeringan H6 Run I Luar Ruangan 49 Tabel L1.7 Data Pengeringan H7 Run I Luar Ruangan 49 Tabel L1.8 Data Pengeringan H1 Run II Luar Ruangan 50 Tabel L1.9 Data Pengeringan H2 Run II Luar Ruangan 50 Tabel L1.10 Data Pengeringan H3 Run II Luar Ruangan 50 Tabel L1.11 Data Pengeringan H4 Run II Luar Ruangan 51 Tabel L1.12 Data Pengeringan H5 Run II Luar Ruangan 51 Tabel L1.13 Data Pengeringan H6 Run II Luar Ruangan 52 Tabel L1.14 Data Pengeringan H7 Run II Luar Ruangan 52 Tabel L1.15 Data Pengeringan H1 Run III Luar Ruangan 53 Tabel L1.16 Data Pengeringan H2 Run III Luar Ruangan 53 Tabel L1.17 Data Pengeringan H3 Run III Luar Ruangan 53 Tabel L1.18 Data Pengeringan H4 Run III Luar Ruangan 54 Tabel L1.19 Data Pengeringan H5 Run III Luar Ruangan 54 Tabel L1.20 Data Pengeringan H6 Run III Luar Ruangan 54 Tabel L1.21 Data Pengeringan H7 Run III Luar Ruangan 55 Tabel L1.22 Data Pengeringan H1 Run I Dalam Ruangan 55

(19)

Tabel L1.25 Data Pengeringan H4 Run I Dalam Ruangan 57 Tabel L1.26 Data Pengeringan H5 Run I Dalam Ruangan 57 Tabel L1.27 Data Pengeringan H6 Run I Dalam Ruangan 57 Tabel L1.28 Data Pengeringan H7 Run I Dalam Ruangan 58 Tabel L1.29 Data Pengeringan H1 Run II Dalam Ruangan 58 Tabel L1.30 Data Pengeringan H2 Run II Dalam Ruangan 59 Tabel L1.31 Data Pengeringan H3 Run II Dalam Ruangan 59 Tabel L1.32 Data Pengeringan H4 Run II Dalam Ruangan 59 Tabel L1.33 Data Pengeringan H5 Run II Dalam Ruangan 60 Tabel L1.34 Data Pengeringan H6 Run II Dalam Ruangan 60 Tabel L1.35 Data Pengeringan H7 Run II Dalam Ruangan 60 Tabel L1.36 Data Pengeringan H1 Run III Dalam Ruangan 61 Tabel L1.37 Data Pengeringan H2 Run II Dalam Ruangan 61 Tabel L1.38 Data Pengeringan H3 Run II Dalam Ruangan 62 Tabel L1.39 Data Pengeringan H4 Run III Dalam Ruangan 62 Tabel L1.40 Data Pengeringan H5 Run III Dalam Ruangan 63 Tabel L1.41 Data Pengeringan H6 Run III Dalam Ruangan 63 Tabel L1.42 Data Pengeringan H7 Run III Dalam Ruangan 63

Tabel L2.1 Identifikasi Sifat Fisik Jahe 65

Tabel L2.2 Bentuk Linier Model Kinetika Pengeringan 66

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman LAMPIRAN 1 DATA HASIL PENELITIAN ... 47

L1.1 Data Hasil Pengeringan ... 47 L1.1.1 Data Hasil Pengeringan Luar Ruangan... 47 L1.1.1.1 Data Run I Luar Ruangan 47 L1.1.1.2 Data Run II Luar Ruangan 50 L1.1.1.3 Data Run III Luar Ruangan 52 L1.1.2 Data Hasil Pengeringan Dalam Ruangan ... 55 L1.1.2.1 Data Run I Dalam Ruangan 55 L1.1.2.2 Data Run II Dalam Ruangan 58 L1.1.2.3 Data Run III Dalam Ruangan 61

LAMPIRAN 2 DATA HASIL PENELITIAN 65

L2.1 Perhitungan Densitas 65

L2.2 Massa Yang Hilang 65

L2.3 Model Matematika Pengeringan 66

LAMPIRAN 3 DOKUMENTASI PENELITIAN 76

L3.1 Foto Hasil Pengeringan 76

L3.2 Foto Pengukuran Densitas 76

L3.3 Foto Pengukuran Sampel Harian 76

L3.3.1 Luar Ruangan 76

L3.3.2 Dalam Ruangan 80

L3.4 Foto Pengukuran Sampel Harian 83

L3.5 Foto Hasil Uji SEM (Scanning Electron Microscopy) 84

L3.5.1 Sebelum Pengeringan 84

L3.5.2 Sesudah Pengeringan 84

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jahe adalah suatu jenis tanaman obat serta rempah yang berupa tanaman rumpun berbatang semu dan merupakan bagian rimpang dari tanaman yang bernama ilmiah Zingiber officinale Rosc. Tanaman jahe berasal dari Asia Pasifik yang pada awalnya tersebar luas dari negara India hingga ke negara Cina, sehingga kedua negara ini disebut juga sebagai negara yang pertama kalinya menggunakan jahe dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang makanan dan minuman, dimana jahe dimanfaatkan sebagai bahan minuman, bumbu masakan serta obat-obatan tradisional.

Jahe adalah salah satu dari jenis temu-temuan suku Zingiberaceae yang cukup berpengaruh bagi perekonomian rakyat Indonesia. Jahe berperan penting dalam berbagai hal, seperti fungsi atau kegunaan, perniagaan, aktivitas kehidupan, adat istiadat dan kebiasaan, serta kepercayaan bagi rakyat Indonesia yang sifatnya beraneka ragam dan tersebar luas. Jahe juga merupakan jenis rempah yang telah digunakan sejak lama sebagai bahan ataupun bagian penting dari ramuan rempah- rempah yang telah diperjualbelikan secara luas. Selain itu, penggunaan jahe sudah berkembang sejak lama dari berbagai segi, baik dari segi jumlah, variasi, fungsi maupun nilai ekonominya.

Jahe adalah tanaman rempah yang telah tersebar luas di daerah tropis, seperti di Benua Asia dan Kepulauan Pasifik. Pada saat ini, jahe telah dikembangkan di berbagai negara, seperti Afrika, Australia, Brazil, Cina, Eropa, Filipina, Hawai, India, Indonesia, Jamaica, Jepang, Selandia Baru dan Thailand. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa tanaman jahe juga telah tersebar luas di Negara Indonesia, dimana penyebarannya dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia yang telah ditanam secara monokultur dan polikultur.

Dalam bidang perniagaan, penamaan jahe didasarkan pada daerah asal pemasok jahe tersebut, misalnya jahe Chochin atau jahe Jamaica dan jahe Afrika. Sejak ratusan tahun yang lalu, di negara Cina tanaman jahe telah digunakan sebagai bumbu masakan dan obat-obatan, di daerah asia tenggara seperti Malaysia, Filipina, dan Indonesia, jahe juga telah banyak digunakan sebagai bumbu masakan dan obat-

(22)

obatan tradisional. Daerah utama yang berperan besar sebagai pemasok atau produsen utama jahe di Negara Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Utara, dan lain-lain (Hapsoh, dkk., 2010).

Seperti yang telah disebutkan di atas, tanaman jahe memiliki banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Pada bidang makanan dan minuman, jahe dapat digunakan dengan berbagai cara seperti sebagai bumbu dapur, penambah aroma dan rasa pada produk makanan seperti biskuit, kue, kembang gula, roti serta pada berbagai jenis minuman. Selain berfungsi sebagai penambah aroma dan rasa pada makanan dan minuman, jahe yang masih muda sekalipun dapat dimakan sebagai lalapan, diolah menjadi acar dan asinan, serta digunakan sebagai bahan rempah- rempah untuk minuman seperti bandrek, sekoteng dan sirup. Pada bidang industri obat-obatan, jahe dapat digunakan sebagai parfum dan jamu tradisional. Jahe memiliki banyak manfaat bagi manusia, adapun manfaatnya adalah sebagai peluruh obat batuk (baik batuk kering dan berdahak), peluntur keringat, peluntur haid, pencegah mual, penambah nafsu makan, membantu untuk membuang angin, memperkuat lambung, memperbaiki siklus pencernaan dan menghangatkan badan (Sari, 2011).

Jahe termasuk salah satu komoditas pertanian yang memiliki prospek cukup bagus untuk dikomersilkan di Indonesia. Selain fungsi diatas, yaitu jahe berfungsi pada bidang makanan dan minuman serta obat-obatan, jahe juga berfungsi pada bidang kosmetik. Hal ini dikarenakan, bahan aktif yang terkandung pada jahe terutama minyak atsiri, gingerol, shogal dan zingeron dapat digunakan sebagai obat herbal yang terstandar maupun fitofarmaka.

Prospek untuk mengembangkan jahe di Indonesia masih cukup bagus, hal ini dapat ditinjau dari segi permintaan pasar dalam negeri untuk keperluan berbagai industri yang belum bisa terpenuhi, sehingga Indonesia masih mendatangkan jahe dari luar negeri, yaitu Negara Cina. Permintaan pasar akan ekspor jahe dari Indonesia cukup besar, contohnya adalah negara Belanda yang membutuhkan sebanyak 40 ton jahe setiap bulannya (Aryanti, dkk., 2015).

(23)

belum bisa diimbangi dengan peningkatan produksi tanaman jahe. Jahe dari Negara Indonesia diekspor ke beberapa Negara tujuan seperti Jepang, Uni Emirat Arab, Malaysia dan Eropa. Adapun bentuk dari jahe yang diekspor keluar negeri adalah dalam berupa jahe segar, jahe kering serta jahe yang sudah diolah.

Pada pasca panen diperlukan penanganan secara khusus terhadap komoditas tanaman jahe dengan tujuan agar komoditas tanaman jahe yang telah dipanen berada dalam kondisi yang baik serta layak untuk dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat.

Penanganan secara khusus terhadap tanaman jahe dapat dilakukan dengan metode pengeringan. Pada metode pengeringan, jahe yang telah dibersihkan lalu dikeringkan dengan cara meletakkan jahe dan membentangkan susunan jahe pada tempat yang memiliki sirkulasi udara yang bagus dengan kondisi kelembaban udara serta suhu pada ruang penyimpanan diperlakukan sama. Ada dua jenis metode untuk mengeringkan jahe, yaitu dengan menggunakan metode sinar matahari langsung dan metode menggunakan alat pengering mekanis.

Teknik penanganan hasil pertanian merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan, hal ini dikarenakan apabila dengan menguasai teknik penanganannya maka dapat mengurangi tingkat kerusakan dari berbagai produk pertanian. Salah satu ciri khas dari produk pertanian yaitu, mudah dan sangat rentan mengalami kerusakan yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor fisik. Telah diketahui bahwa produk pertanian memiliki ciri fisik dengan bentuk dan ukuran yang sangat beranekaragam, sehingga dalam proses penanganannya telah dibuat suatu standar yang telah disetujui yang kemudian akan mempermudah proses penanganan produk pertanian tersebut hingga ke tangan konsumen.

Pengeringan merupakan salah satu proses pengolahan pangan yang telah lama dikenal. Tujuan dari proses pengeringan adalah untuk menurunkan kadar air suatu bahan sehingga bahan tersebut menjadi lebih awet, mengecilkan volume bahan untuk memudahkan, menghemat biaya pengangkutan, pengemasan, dan juga penyimpanan.

Meskipun demikian, terdapat kerugian yang ditimbulkan selama proses pengeringan yaitu terjadinya perubahan sifat fisik dan kimiawi bahan serta terjadinya penurunan mutu bahan (Risdianti, dkk., 2016).

Pengeringan dengan bantuan sinar matahari merupakan metode pengawetan pangan terbesar dan tertua. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan teknologi, kita

(24)

tidak dapat bergantung pada unsur-unsur yang tidak dapat diramalkan secara pasti seperti cuaca. Selain itu, pengeringan dengan sinar matahari biasanya memerlukan wadah atau area yang cukup luas dan tingkat kehigienitasannya tidak terjamin (Lumbantobing, 2015).

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pengolahan pangan dari jahe dengan mengunakan metode pengeringan alami (natural drying) dengan bantuan sinar matahari, serta melihat pengaruh dari variabel pengeringan terhadap laju pengeringan. Pada saat ini, masyarakat belum memiliki pengetahuan yang cukup dalam hal mengolah dan memanfaatkan sumber pangan lokal seperti kunyit, jahe, lengkuas, lobak, kubis, wortel, dan lain sebagainya sehingga perlu adanya kajian mengenai pemanfaatan jahe sebagai salah satu bahan komoditas lokal. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mencari cara lain dalam pengolahan bahan pangan jahe. Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengkaji pengaruh varietas jahe terhadap presentasi kadar air serta pengolahan pangan produk olahan jahe. Penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan penelitian berbasis tanaman lokal khususnya jahe dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyakat dengan pengolahan pangan jahe.

Pada metode pengeringan, ada banyak jenis metode pengeringan yang dapat dilakukan, seperti pengeringan dengan sinar matahari langsung, pengeringan dengan oven, dan kering angin serta sudah banyak juga dilakukan penelitian dengan berbagai variasi, bahan baku, ukuran, maupun lamanya waktu pengeringan. Pengeringan dengan sinar matahari langsung merupakan proses pengeringan yang paling ekonomis dan paling mudah dilakukan. Berikut ini adalah contoh penelitian terdahulu tentang pengeringan hasil pertanian yang ditampilkan pada tabel 1.1.

(25)

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu Tentang Pengeringan Hasil Pertanian

Peneliti (Tahun) Judul Hasil Penelitian

Dessy (2016) Pengaruh Ketebalan Terhadap Kinetika Pengeringan Ubi Kayu (Manihot Utillisima) Menggunakan Pengering Surya secara Tidak Langsung (Indirect Solar Dryer) dan Penjemuran Langsung (Open Sun Drying).

Ketebalan bahan telah berpengaruh pada

hubungan laju

pengeringan terhadap waktu, semakin kecil ketebalan bahan maka laju pengeringannya semakin tinggi sehingga waktu yang diperlukan untuk pengeringan semakin singkat. Waktu paling singkat dicapai pada pengeringan ubi kayu dengan ketebalan 1 cm dengan metode Indirect Solar Drying (ISD) yaitu selama 15 jam.

Haryanto, dkk (2018) Herbal dryer: Drying of Ginger (Zingiber officinale) using Tray Dryer.

Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa laju pengeringan dipengaruhi oleh berbagai variabel, seperti suhu udara pengeringan, aliran udara pengeringan, dan dimensi sampel.

(26)

Laju pengeringan terbaik dalam penelitian ini dicapai dengan menggunakan suhu udara pengeringan 39ºC dan aliran udara pengeringan 4,5 m/s untuk pengeringan sampel jahe dengan dimensi (4x2x0,1) cm (Run VI).

Haryanto, dkk (2020) Simulation of Natural Drying Kinetics of Carrot (Daucus Carota L.) on Thickness Variation.

Hasil penelitian yang didapat adalah pengeringan yang dilakukan sudah mencapai tujuannya, yaitu untuk kelembaban dan kadar air di dalam wortel.

Kondisi wortel yang dihasilkan memiliki permukaan yang kasar dan kering, namun memiliki masa pakai lebih lama.

Penelitian dilakukan selama 5 hari lamanya.

Atas dasar pemikiran yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti melakukan penelitian mengenai kajian kinetika pengeringan jahe secara alami (natural drying).

1.2 Perumusan Masalah

Adapun masalah pokok yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Adakah perbedaan kualitas jahe sebelum pengeringan dan sesudah pengeringan?

(27)

2. Bagaimanakah pengaruh kondisi pengeringan (dalam dan luar ruangan) terhadap kinetika perubahan massa pada sampel jahe?

3. Bagaimanakah pengaruh variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm terhadap waktu pengeringan untuk mencapai massa konstan dari sampel jahe?

4. Bagaimanakah perbedaan ciri fisik dari jahe sebelum dan sesudah pengeringan?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendapatkan kualitas jahe sebelum pengeringan dan sesudah pengeringan.

2. Mendapatkan pengaruh kondisi pengeringan (dalam dan luar ruangan) terhadap kinetika perubahan massa pada sampel jahe.

3. Mendapatkan pengaruh variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm terhadap waktu pengeringan untuk mencapai massa konstan dari sampel jahe.

4. Mendapatkan perbedaan ciri fisik dari jahe sebelum dengan sesudah pengeringan.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Memberikan pengembangan ilmu pengetahuan tentang pemanfaatan jahe.

2. Memberikan sumbangan pemikiran dan menambah perbendaharaan pustaka bagi perguruan tinggi tentang pemanfaatan pengeringan terhadap jahe.

3. Memberikan wawasan ilmu pengetahuan tentang pengeringan jahe kepada peneliti.

(28)

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di gedung kost peneliti, tepatnya penelitian ini dilaksanakan di Jalan Pembangunan No. 107, Kelurahan Padang Bulan I, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian ini, bahan baku yang digunakan adalah jahe. Penelitian dilakukan dengan kondisi penjemuran di alam terbuka dan di dalam ruangan dengan data temperatur serta kelembaban udara yang diambil dari www.weather.com berdasarkan wilayah penelitian.

Adapun variabel-variabel dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Tetap :

 Jenis bahan baku atau umpan yang digunakan: jahe.

 Proses yang digunakan adalah pengeringan.

 Panjang jahe adalah 4 cm.

 Lebar jahe adalah 2 cm.

 Interval waktu pengambilan data adalah 1 jam.

2. Variabel bebas:

 Variabel yang divariasikan dalam penelitian ini adalah ketebalan bahan baku yaitu 0,5; 1; dan 1,5 cm.

 Ruang penjemuran adalah terpapar langsung dibawah sinar matahari dengan di dalam ruangan.

 Kondisi lingkungan pengeringan dilihat dari www.weather.com.

3. Parameter yang dipantau:

 Analisis massa jenis

Pada analisis ini akan didapatkan data massa dan massa jenis dari sampel jahe.

 Analisis SEM

Pada analisis ini akan didapatkan perbandingan karakteristik sampel jahe sebelum pengeringan dengan sesudah pengeringan.

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jahe (Zingiber officinale Rosc.)

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah salah suatu jenis tanaman yang termasuk ke dalam jenis suku “Zingiberaceae”. Nama “Zingiber” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Singabera” dan Yunani “Zingiberi” yang artinya adalah tanduk.

Hal ini disebabkan oleh bentuk rimpang jahe yang menyerupai dengan bentuk tanduk rusa. Sedangkan “Officinale” berasal dari bahasa latin yakni “officina” yang artinya adalah dapat digunakan dalam bidang obat-obatan.

Di Negara Inggris jahe dikenal dengan sebutan“Ginger” atau “Garden ginger”.

Sebutan “Ginger”itu sendiri berasal dari bahasa Perancis yaitu “Gingembre” dan bahasa Inggris lama yaitu “Gingifere”, bahasa latin yaitu “Ginginer”, bahasa Yunani yaitu “Greek”: “Zingiberis (διγγίβερις)”. Namun kata asli dari zingiber berasal dari bahasa Tamil yaitu “Inji ver”. Istilah botani untuk akar dalam bahasa Tamil adalah

“Ver”, jadi akar inji adalah “Inji ver”.

Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan yang berbeda-beda untuk tanaman jahe, seperti di Sumatera jahe disebut dengan “halia” (Aceh), “beuing” (Gayo),

“bahing” (Karo), “pege” (Toba), “sipode” (Mandailing), “lahia” (Nias), “sipodeh”

(Minangkabau), “page” (Lubu), dan “jahi” (Lampung), di pulau Jawa jahe disebut dengan “jahe” (Sunda), “jae” (Jawa), “jhai” (Madura), dan “jae” (Kangean), di daerah Sulawesi jahe dikenal dengan nama “layu” (Mongondow), “moyuman”

(Poros), “melito” (Gorontalo), “yuyo” (Buol), “siwei” (Baree), “laia” (Makassar), dan “pace” (Bugis), di daerah Nusa Tenggara jahe disebut dengan “jae” (Bali), “reja”

(Bima), “alia” (Sumba), dan “lea” (Flores), di daerah Kalimantan (Dayak), jahe dikenal dengan sebutan “lai”, di Banjarmasin disebut “tipakan”, di Maluku jahe disebut “hairalo” (Amahai), “pusu”,”seeia”, sehi (Ambon), “sehi” (Hila), “sehil”

(Nusalaut), “siwew” (Buns), “garaka” (Ternate), “gora” (Tidore), dan “laian” (Aru), di Papua, jahe disebut “tali” (Kalanapat) dan “marman” (Kapaur). Terdapatnya perbedaan dalam penyebutan atau penamaan untuk tanaman jahe dari berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa tanaman jahe telah meluas penyebarannya.

(30)

Berikut ini adalah klasifikasi atau kedudukan taksonomi dari tanaman jahe:

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta/Pteridophyyta Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Liliopsida-Monocotyledoneae Subkelas : Zingiberidae

Ordo : Zingiberales Suku/Famili : Zingiberaceae Genus : Zingiber P. Mill.

Species : Zingiber officinale Roscoe

Tanaman jahe memiliki nama lain yaitu Amomum angustifolium Salisb dan Amomum zingiber L. Terdapat sekitar 47 genera dan 1.400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam suku Zingiberaceae yang tersebar di seluruh daerah tropis dan sub tropis. Penyebaran Zingiber terbesar berada di bagian timur bumi, khususnya daerah Indo-Malaya yang merupakan tempat asal sebagian besar genus Zingiber. Di daerah Asia Tenggara ditemukan sekitar 80-90 jenis Zingiber yang diperkirakan berasal dari India, Malaya dan Papua. Akan tetapi, hingga saat ini daerah yang menjadi asal muasalnya tanaman jahe belum dapat diidentifikasi secara jelas dimana tanaman jahe berkemungkinan besar berasal dari Cina dan India. Akan tetapi, keanekaragaman genetika yang besar dapat ditemukan di daerah Myanmar dan India yang diduga sebagai pusat dari berbagai jenis jahe (Supriadi, dkk., 2011).

(31)

2.2 Morfologi Jahe

Jahe merupakan suatu jenis tanaman tahunan yang berjenis batang semu serta memiliki ketinggian mencapai 30 cm – 1 m (Hapsoh, dkk., 2010). Tanaman jahe terdiri dari akar, batang, bunga, daun, dan rimpang. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing bagian jahe:

a. Akar

Pada bagian akar tanaman jahe, jenis akarnya adalah akar tunggal yang mana pada jenis akar ini akan semakin membesar seiring dengan adanya pertambahan usia tanaman jahe tersebut hingga akan membentuk rimpang serta tunas-tunas yang akan tumbuh menjadi tanaman baru. Akar biasanya tumbuh dari bagian bawah rimpang, sedangkan tunas akan tumbuh dari bagian atas rimpang.

b. Batang

Batang pada tanaman jahe berjenis batang semu yang akan tumbuh secara berdiri tegak lurus, memiliki bentuk bulat pipih, tidak memiliki cabang, serta tersusun atas seludang-seludang dan pelepah daun yang saling menutup sehingga membentuk seperti batang. Untuk bagian luar batang memiliki lapisan berlilin dan mengkilap serta mengandung banyak air atau succulent, memiliki warna hijau pucat dan memiliki warna kemerahan pada bagian pangkalnya. Pada bagian batang yang terdapat di dalam tanah memiliki daging, bernas, berbuku- buku, dan struktur yang bercabang.

c. Bunga

Bagian bunga pada tanaman jahe terletak pada ketiak daun pelindung.

Adapun bentuk bunga adalah bervariasi yang meliputi sebagai berikut: panjang, bulat telur, lonjong, runcing, atau tumpul. Ukuran panjang bunga adalah kisaran 2 cm-2,5 cm dan ukuran lebar bunga adalah kisaran 1,5 cm. Bunga jahe memiliki panjang 30 cm yang berbentuk spika, bunga memiliki warna putih kekuningan dengan bercak bercak ungu merah. Bunga jahe terbentuk langsung dari rimpang, tersusun dalam rangkaian bulir (Spica) berbentuk silinder. Setiap bunga dilindungi oleh daun pelindung berwarna hijau berbentuk bulat telur atau jorong.

Jahe merupakan tanaman dengan jenis berkelamin dua (hermaprodit). Pada masing-masing bunga terdapat dua tangkai sari, dua keping kepala sari dan satu

(32)

bakal buah. Diameter serbuk sari memiliki kisaran ukuran 77 - 104 μm dengan dinding yang tebal. Pada bagian kepala putik ujungnya berbentuk bulat berlubang dan berukuran 0,5 mm; serta dikelilingi oleh bulu-bulu yang agak kaku. Jahe merupakan tanaman yang bersifat self incompatible dan posisi kepala putik biasanya berada lebih tinggi bila dibandingkan dengan kepala sari. Adapun struktur seperti ini dapat menyebabkan sistem penyerbukan tanaman jahe menjadi sistem menyerbuk silang.

d. Daun

Bagian daun terdiri dari pelepah dan helaian. Pelepah daun melekat dan membungkus satu sama lain sehingga akan membentuk batang. Helaian daun tersusun secara berselang-seling, tipis berbentuk bangun garis sampai lanset, berwarna hijau gelap pada bagian atas dan biasanya akan lebih pucat pada bagian bawah, memiliki tulang daun yang sangat jelas terlihat dan juga tersusun sejajar. Tanaman jahe memiliki panjang daun dengan kisaran ukuran 5 - 25 cm dan kisaran ukuran lebar sekitar 0,8 - 2,5 cm. Bagian ujung daun agak tumpul dengan kisaran panjang lidah 0,3 - 0,6 cm. Pada permukan atas daun terdapat bulu-bulu putih, ujung daun meruncing, pangkal daun membulat atau tumpul.

Batas antara pelepah dan helaian daun terdapat lidah daun. Jika persediaan air memadai maka bagian pangkal daun ini akan ditumbuhi tunas lalu akan menjadi rimpang yang baru.

e. Rimpang

Untuk bagian rimpang jahe adalah perubahan bentuk dari batang yang tidak beraturan. Pada bagian luar rimpang ditutupi dengan daun yang berbentuk sisik tipis dan tersusun secara melingkar. Bagian rimpang adalah bagian tanaman jahe yang memiliki nilai ekonomi dan digunakan untuk berbagai kepentingan seperti sebagai rempah-rempahan, bumbu masakan, bahan baku obat-obatan tradisional, makanan dan minuman dan juga parfum atau minyak wangi

(Supriadi, dkk., 2011).

2.3 Kandungan Nutrisi pada Jahe

(33)

oleh tubuh (Sari, 2011). Dalam menu sehari-hari, jahe dan rempah-rempah lainnya merupakan bahan penyedap rasa alami dengan kandungan zat gizi yang dapat melengkapi nilai gizi menu utama. Jenis zat gizi dan nilai gizi rimpang jahe mentah dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Kandungan Nutrisi Jahe per 100 g

Jenis Nutrisi Nilai Nutrisi Persen (%)

Energi 80 Kcal 4

Karbohidrat 17,7 g 13,5

Protein 1,82 g 3

Total Lemak 0,75 g 3

Kolesterol 0 mg 0

Serat 2,0 g 5

Folat (Vitamin B9) 11 μg 3

Niacin 0,750 mg 4,5

Asam Pantotenat 0,203 mg 4

Pyridoxine 0,160 mg 12

Vitamin C 5 mg 8

Vitamin E 0,26 mg 1,5

Vitamin K 0,1 μg 0

Sodium (Na) 13 mg 1

Potassium (K) 415 mg 9

Calcium (Ca) 16 mg 1,6

Zat Besi (Fe) 0,60 mg 7,5

Magnesium (Mg) 43 mg 11

Manganese (Mn) 0,229 mg 10

Phosphorus (P) 34 mg 5

Seng (Zn) 0,34 mg 3

(Supriadi, dkk., 2011)

Nutrisi atau gizi adalah unsur dan senyawa kimia yang terkandung dalam makanan dan minuman yang kemudian diserap oleh tubuh manusia untuk dapat melakukan berbagai aktivifas penting, seperti mempertahankan hidup, melakukan produksi dan untuk menghasilkan energi. Arti gizi atau nutrisi sangat luas karena berkaitan antara pangan yang bergizi/bernutrisi dengan pangan yang tidak memiliki

(34)

nilai gizi/nutrisi. Susunan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi atau nutrisi maka akan mendapatkan status gizi atau nutrisi yang baik (Sari, 2011).

2.4 Manfaat pada Jahe

2.4.1 Manfaat Jahe pada Bidang Makanan dan Minuman

Pada zaman sekarang, makanan dan minuman tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut yang lapar atau pengisi dahaga yang haus saja. Namun, makanan dan minuman dioptimalisasi fungsinya sebagai sumber pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Jika dimungkinkan, makanan dan minuman harus dapat menyembuhkan serta dapat menghilangkan penyakit tertentu. Oleh karena itu, maka muncullah kerangka atau konsep pangan fungsional (functional foods), yang mana pada akhir-akhir ini sangat terkenal di berbagai kalangan masyarakat dunia. Pangan fungsional adalah produk pangan yang dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan, dan juga dapat mencegah serta mengobati berbagai penyakit.

Makna atau maksud dari pangan fungsional menurut BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) adalah pangan yang secara alami maupun yang telah melalui proses sekalipun, yang mana terkandung di dalamnya satu atau lebih senyawa yang berdasarkan berbagai kajian ilmiah dianggap memiliki berbagai fungsi fisiologis tertentu yang berkhasiat untuk kesehatan, serta bisa dikonsumsi sebagaimana layaknya mengkonsumsi makanan dan minuman, memiliki ciri-ciri sensori berupa bentuk, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain itu tidak memberikan memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme tubuh.

Pada umumnya rempah-rempahan mengandung berbagai kandungan bioaktif yang bersifat antioksidan (zat pencegah radikal bebas yang dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai sel tubuh manusia) yang dapat berinteraksi dengan berbagai reaksi fisiologis, sehingga memiliki kemampuan sebagai antimikroba, anti pertumbuhan sel kanker, dan sebagainya. Pada kelompok bahan pangan rempah-rempahan, jahe merupakan jenis komoditas

(35)

dikarenakan aroma yang khas dari jahe dan dapat diterima dengan baik, dinikmati dalam lauk pauk (sebagai bumbu masakan dari lauk pauk), kue, permen, maupun minuman seperti bandrek, minuman jahe bubuk, wedang, dan lain sebagainya.

Jahe memiliki nilai ekonomi cukup tinggi karena bagian rimpangnya banyak digunakan oleh masyarakat, baik digunakan sebagai bumbu dalam berbagai masakan, penambah rasa dan aroma pada makanan ringan seperti roti, kue, permen maupun sebagai bahan dasar dalam pembuatan minuman seperti bandrek, minuman jahe bubuk, sekoteng, sirup maupun wedang.

Di Negara Jepang, bagian rebung atau tunas jahe diolah sebagai bahan sayur mayur, acar, ataupun asinan. Hasil olahan itu sangat terkenal disana karena aroma dan cita rasanya yang khas. Makanan olahan dari rebung jahe memiliki manfaat yang baik untuk tubuh seperti membantu tubuh agar segar dan bugar, memperlancar air seni, dan memperbaiki sistem pencernaan. Di Negara Indonesia, mungkin baru orang Manado yang memanfaatkan rebung jahe sebagai salah satu lauk untuk lalapan didampingi dengan sambal pedas. Cara menyantap makanan ini selalu diikuti dengan meminum saguer (semacam tuak).

Terkadang rebung jahe terlebih dahulu dimasukkan ke dalam saguer, agar rebung jahe tersebut awet maka ke dalam campurannya ditambahkan sedikit garam. Makanan ini dipercaya oleh masyarakat Manado bisa menambah tenaga (Hapsoh, dkk., 2010).

2.4.2 Manfaat Jahe pada Kesehatan

Tanaman jahe sangat bagus untuk mencegah atau menyembuhkan berbagai macam penyakit karena di dalamnya terkandung gingerol yang bersifat anti- inflamasi dan antioksidan yang sangat kuat. Jahe juga bermanfaat untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti mual-mual pada saat wanita sedang hamil, mengurangi rasa sakit dan nyeri otot, membantu menyembuhkan penyakit osteoarthritis, menurunkan kadar gula darah pada pasien yang menderita diabetes tipe II, dapat menurunkan resiko timbulnya penyakit jantung, membantu mengatasi gangguan pencernaan yang sudah kronis, mengurangi rasa sakit pada wanita yang sedang menstruasi, menurunkan kadar kolesterol jahat dan trigliserida dalam darah, membantu mencegah penyakit kanker (karena

(36)

aktivitas 6-gingerol) terutama kanker pankreas, kanker payudara dan kanker ovarium, meningkatkan fungsi otak dan mengatasi penyakit alzheimer, serta dapat membantu mengatasi timbulnya serangan berbagai penyakit infeksi lainnya (Aryanta, 2019).

Jahe tidak mengandung lemak dan gula sehingga dapat ditambahkan pada produk makanan untuk meningkatkan aroma tanpa penambahan kalori. Di India dan Cina, teh jahe yang dibuat dari jahe segar tidak hanya mengurangi berat badan namun dapat membantu proses pencernaan. Enzim pada jahe dapat mengkatalisa protein di dalam pencernaan sehingga tidak menimbulkan mual- mual. Bubuk jahe dapat digunakan sebagai obat-obatan untuk produksi obat- obatan herbal dalam pengobatan demam dingin. Jahe yang segar dapat dimanfaatkan dalam proses produksi anggur jahe dan jus yang digunakan sebagai minuman. Selain itu, terdapat beberapa organisasi dan perusahaan swasta yang ikut andil dalam pembuatan pasta jahe dan produk yang berbasis jahe.

Jahe berkhasiat untuk menstimulasi sirkulasi darah. Jahe mengandung senyawa potensial anti imflamasi yang disebut gingerol. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi bahan segar dan olahan jahe setiap hari akan menurunkan sakit otot dan mencegah salah otot akibat olahraga.

Selain itu, dapat mengurangi kolesterol yang dapat merusak kesehatan jantung.

Jahe dapat mengurangi mual-mual sebagai efek samping dari pengobatan kemoterapi, selain itu jahe juga dapat melawan sel-sel kanker. Hal ini disebabkan oleh adanya efek sinergisitas dari zingiberen dan komponen turunannya yang memberikan efek mengobati. Kandungan sejumlah magnesium, kalsium, protein, besi, sodium, kalium dan fosfor akan memberikan perbaikan untuk otot, depresi, lemah otot, kejang, dan kerusakan lambung. Tingginya kadar kalium akan melindungi kerusakan tulang, paralisis, sterilitas, lemah otot kerusakan ginjal dan hati. Produk-produk olahan dari jahe seperti teh jahe digunakan sebagai karminatif dan mengobati demam, di Cina digunakan sebagai tonik. Di Inggris, jahe ditambahkan pada bir untuk mengobati penyakit diare,

(37)

2.5 Pengeringan

Pengeringan adalah suatu proses pemisahan air dalam sejumlah kecil ataupun sejumlah zat cair yang terkandung pada bahan padatan sehingga dapat mengurangi sisa kandungan zat cair yang terdapat di dalam bahan padat tersebut hingga mencapai suatu nilai rendah yang dapat diterima. Prinsip pada proses pengeringan berkaitan dengan proses perpindahan panas dan perpindahan massa yang terjadi secara bersamaan (Ridhatullah dan Rosdanelli, 2019).

Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung di dalam suatu bahan padat hingga mencapai batas tertentu, dimana perkembangan mikroorganisme yang bisa menyebabkan pembusukan bisa dihambat dan dihentikan sehingga padatan dapat disimpan lebih lama. Sementara itu, volume bahan padatan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan serta pengemasan, bobot bahan juga menjadi berkurang sehingga mempermudah pengangkutan, dengan demikian diharapkan biaya produksi juga dapat lebih murah (Martunis, 2012).

Landasan utama dari proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air yang terkandung pada bahan padatan ke udara yang disebabkan oleh perbedaan kandungan uap air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Agar suatu bahan dapat kering, maka udara harus memiliki kandungan uap air atau kelembaban relatif yang lebih rendah dari bahan yang akan dikeringkan. Telah disebutkan diatas bahwa selama proses pengeringan terjadi dua proses yaitu proses perpindahan panas dan perpindahan massa air yang terjadi secara bersamaan. Untuk menguapkan air dari bahan padatan yang akan dikeringkan maka dibutuhkan energi panas. Penguapan terjadi karena suhu bahan lebih rendah dari pada suhu udara.

Metode pengeringan secara umum terdiri dari dua jenis yakni pengeringan secara manual dan pengeringan secara mekanis. Pengeringan secara manual biasa disebut dengan pengeringan alami (natural drying) dan pengeringan secara mekanis disebut dengan pengeringan buatan (artificial drying). Metode pengeringan alami (natural drying) panas pengeringan dipengaruhi dari udara sekitar tempat pengeringan dan juga sinar matahari. Pengeringan alami ini bisa dilakukan dengan proses penjemuran sedangkan pada pengeringan mekanis (pengeringan buatan) dapat

(38)

dilakukan dengan menggunakan panas tambahan yang bersumber dari alat pengering (Sukmawaty dkk., 2019).

2.6 Pengeringan Alami dan Artificial

Matahari merupakan sumber energi gratis yang tidak ada habisnya, selain itu sinar matahari telah digunakan untuk pengeringan makanan sejak zaman dahulu kala (Maisnam dkk., 2017).

Jenis pengeringan yang biasa dilakukan oleh para petani di Indonesia pada umumnya didominasi oleh pengeringan dengan bantuan sinar matahari dan hanya sedikit petani yang melakukan pengeringan dengan menggunakan bantuan alat pengeringan. Pengeringan dengan menggunakan bantuan sinar matahari tidaklah sulit untuk dilakukan, terutama pada daerah tropis seperti Indonesia. Namun, pada umumnya di Indonesia panen jatuh pada musim hujan sehingga pengeringan menjadi suatu permasalahan (Daulay, 2005).

. Pada metode pengeringan alami, bahan yang akan dikeringkan disebar di atas tanah atau lantai semen yang biasanya dialas dengan menggunakan terpal. Pada pengeringan ini, jumlah panas yang diterima bahan tergantung dari intensitas radiasi matahari. Bahan akan menerima energi dari sinar matahari pada siang hari dan mengalami sirkulasi udara secara alami. Selama proses pengeringan, maka sebagian energi matahari akan diradiasikan ke permukaan bahan dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke udara bebas. Kemudian sebagian panas yang dipantulkan ke udara bebas tersebut akan memanaskan udara di sekitar bahan dan terjadi perpindahan massa air dari bahan ke udara sekitar atau perpindahan secara konveksi alami, seperti yang ditunjukan pada gambar 2.1

(39)

Gambar 2.2 Prinsip Kerja Pengeringan Alami (Dessy, 2016)

Pada kondisi dimana intensitas radiasi sinar matahari berlebih, maka proses pengeringan berlangsung cepat. Hal ini dikarenakan dapat merusak kualitas bahan.

Permukaan bahan yang terlalu cepat kering dan kurang diimbangi dengan kecepatan gerakan air di dalam bahan yang menuju permukaan bahan dapat menyebabkan pengerasan pada permukaan bahan sehingga air di dalam bahan tidak dapat menguap kembali. Hal inilah yang menyebabkan bahan yang dikeringankan dengan metode ini menjadi berwarna kecoklatan (Dessy, 2016).

Metode pengeringan alami ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode ini adalah pengeringan di bawah sinar matahari langsung membutuhkan biaya produksi yang lebih rendah, tidak dibutuhkan bahan penolong lainnya, upah buruh lebih murah karena tidak memerlukan keahlian khusus dan alat-alat yang digunakan lebih sederhana (Hidayat dan Suparman, 1985).

Adapun kerugian dari metode pengeringan alami ini adalah produk yang telah dikeringkan rentan terhadap kontaminasi bakteri dan mikroba, pencurian bahan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, kerusakan oleh burung dan hewan pengerat, proses pengeringan cukup lama dengan kelembaban relatif tinggi yang dapat mendorong pertumbuhan jamur pada bahan, membutuhkan area yang luas, produk harus dibalik secara teratur dan dipindahkan ketika hujan (Dessy, 2016).

Pengeringan artificial adalah pemgeringan yang dilakukan dengan bantuan alat/buatan yang tidak menggunakan matahari sebagai penghantar panasnya. Adapun

(40)

yang digunakan dalam penghantar panasnya dapat berupa udara panas yang dilewatkan. Contoh alat: oven, microwave, tray dryer, dan lain-lain.

2.7 Karakteristik Hasil Penelitian

Beberapa pengujian atau karakterisasi yang dilakukan pada pengeringan jahe adalah sebagai berikut :

2.7.1 Analisis SEM (Scanning Electron Microscopy)

SEM merupakan mikroskop elektron yang bisa digunakan untuk mengamati morfologi permukaan dalam skala mikro dan nano. Teknik analisis SEM menggunakan elektron sebagai sumber pencitraan dan medan elektromagnetik sebagai lensanya (Rianita, dkk., 2014).

Analisis SEM dapat memberikan informasi mengenai bentuk dan perubahan dari suatu sampel atau bahan yang diuji dimana pada prinsipnya adalah perubahan patahan, lekukan dan perubahan struktur serta bahan cenderung mengalami perubahan energi. Energi yang berubah tersebut dapat dipancarkan, dipantulkan dan diserap serta diubah menjadi gelombang elektron yang dapat ditangkap dan dibaca hasilnya pada alat SEM. Analisis morfologi dengan metode SEM bertujuan untuk menentukan homogenitas film, struktur permukaan, retakan dan kehalusan permukaan hasil paduan (Adam, 2017).

Scanning Electron Microscope (SEM) adalah sebuah mikroskop elektron yang didesain untuk mengamati permukaan objek solid secara langsung. SEM memiliki perbesaran 10 – 3.000.000 kali, depth of field 4 – 0.4 mm dan resolusi sebesar 1 – 10 nm. Kombinasi dari perbesaran yang tinggi, depth of field yang besar, resolusi yang baik, kemampuan untuk mengetahui komposisi dan informasi kristalografi membuat SEM banyak digunakan untuk keperluan penelitian dan industri. Pembentukan gambar dengan menggunakan prinsip scanning, dimana elektron diarahkan ke objek, lalu gerakan berkas tersebut mirip dengan “Gerakan Membaca”. Scan unit dibangkitkan oleh scanning coil, sedangkan hasil interaksi berkas elektron

(41)

diperkuat oleh Video Amplifier kemudian disinkronkan oleh scanning circuit terbentuklah gambar pada Tabung Sinar Katoda (CRT) (Farikhin, 2016).

Dapat dikatakan bahwa analisis SEM (Scanning Electron Microscopy) bertujuan untuk menganalisis perubahan dari morfologi permukaan jahe sebagai sampel pengeringan alami dari basah menjadi kering.

2.7.2 Uji Densitas

Densitas atau massa jenis zat atau kerapatan zat adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh suatu zat atau benda baik itu berupa zat padatan maupun cairan. Massa jenis atau kerapatan zat (ρ) adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu dan dinyatakan dalam sistem cgs yaitu gram per sentimeter kubik (g/cm³ = g/mL). Sedangkan, dalam satuan SI kilogram per meter kubik (kg/m³) (Mi’rodji, 2015).

Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.

Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah. Nilai densitas banyak digunakan untuk menenttukan jenis suatu materi. Dalam mengetahui nilai densitas, dapat dengan membagi massa dengan volume benda. Perbedaan nilai kerapatan setiap bahan yang disebabkan oleh komponen penyusunnya akan menyisakan celah celah kosong diantara rapat serbuk penyusun material tersebut (Alim, dkk., 2017).

(42)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Pembangunan No. 107, Kelurahan Padang Bulan I, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Data kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan di lokasi penelitian ini diambil dari www.weather.com, Adapun contoh tampilannya adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Contoh Tampilan www.weather.com Pengambilan Data Lingkungan

3.2. Bahan dan Peralatan 3.2.1. Bahan

Pada penelitian ini bahan yang digunakan antara lain:

1. Aquadest

2. Jahe (Zingiber officinale Rosc.).

(43)

3.2.2. Peralatan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Cutter 2. Gelas ukur 3. Penggaris besi 4. Terpal

5. Timbangan elektrik

3.3. Diagram Kerja Penelitian

Adapun diagram kerja pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2 :

.

Gambar 3.2 Diagram Kerja Penelitian Persiapan alat dan bahan

Pemotongan sampel sesuai dengan variasi ukuran yang

telah ditentukan

Penimbangan massa setiap sampel

Diukur massa jenis setiap sampel

Mulai

Dilakukan pengeringan alami dengan waktu yang telah

ditentukan

Pengolahan dan analisis sampel

Selesai

(44)

3.4. Prosedur Penelitian

3.4.1. Prosedur Analisis Massa jenis

Adapun prosedur analisis densitas atau massa jenis sampel adalah sebagai berikut:

1. Sampel dikupas terlebih dahulu dan kemudian dicuci hingga bersih.

2. Sampel dipotong dengan menggunakan cutter dan penggaris besi. Ukuran sampel adalah sebagai berikut: panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm.

3. Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik lalu dicatat massa dari sampel.

4. Gelas ukur diisi dengan aquadest untuk mengukur perubahan kenaikan volume pada aquadest.

5. Kemudian masukkan sampel dengan variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm ke dalam gelas ukur satu per satu.

6. Kenaikan volume air pada gelas ukur dicatat sebagai volume dari sampel.

7. Dihitung massa jenis dari sampel dengan menggunakan rumus:

 =

3.4.2. Pengeringan Sampel

Adapun prosedur pengeringan sampel adalah sebagai berikut:

1. Siapkan sampel yang telah dipotong dengan menggunakan cutter dan penggaris besi dengan ukuran sampel sebagai berikut: panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm.

2. Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik lalu dicatat massa dari sampel.

3. Untuk mengukur massa jenis, maka sampel dimasukkan sampel ke dalam gelas ukur lalu dicatat pertambahan volumenya.

4. Kemudian sampel dikeringkan di dalam ruangan dan di luar ruangan dengan menggunakan wadah terpal.

5. Dilakukan penimbangan sampel setiap 1 jam sekali kemudian catat setiap

(45)

6. Dilakukan pengeringan lebih lanjut dan penimbangan sampel serta catat semua data hingga sampel mencapai massa konstan.

3.5. Flowchart Penelitian

3.5.1 Flowchart Analisis Densitas atau Massa Jenis

Adapun flowchart proses penyediaan bahan dan pengeringan sampel pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.3 dan gambar 3.4:

Gambar 3.3 Flowchart Analisis Massa Jenis Siapkan sampel yang telah dipotong dengan

menggunakan cutter dan penggaris besi.

Ukuran sampel adalah sebagai berikut:

panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan 0,5; 1;

dan 1,5 cm.

Gelas ukur diisi dengan aquadest untuk mengukur perubahan kenaikan volume pada aquadest.

Mulai

Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik lalu dicatat massa dari sampel yang

didapatkan.

Dihitung massa jenis sampel Dicatat kenaikan volume aquadest

Selesai

(46)

3.5.2 Flowchart Penelitian Pengeringan Sampel

Gambar 3.4 Flowchart Penelitian Pengeringan Sampel Tidak Ya

Mulai

Sampel yang telah dipotong dengan menggunakan cutter dan penggaris besi dengan ukuran sampel

sebagai berikut: panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan

0,5; 1; dan 1,5 cm.

Kemudian sampel dikeringkan di dalam ruangan dan di luar ruangan dengan menggunakan

wadah terpal.

Dilakukan penimbangan sampel setiap 1 jam sekali dan catat setiap hasil dari penimbangan Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan

elektrik lalu dicatat massa dari sampel.

Apakah berat sampel sudah

konstan?

Selesai

Dilakukan kembali pengeringan hingga massa sampel konstan

(47)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sifat Fisik Sampel Berdasarkan Variasi Ukuran Tabel 4.1 Identifikasi Sifat Fisik Jahe

Sampel Ketebalan (cm)

Panjang (cm)

Lebar (cm)

Berat (g)

Volume (mL)

ρ (g/mL)

1 0,5

4 2

3,20 4,0

1,07

2 1,0 8,51 7,0

3 1,5 13,38 11,25

Pada penelitian ini, dilakukan pengukuran massa jenis (densitas) pada sampel dengan variasi ukuran yang berbeda. Setiap sampel dilakukan penimbangan dan pengukuran volume sehingga dihasilkan data yang terdapat pada tabel 4.1. Data yang didapatkan dapat memperkirakan berat jenis (ρ (g/mL)) pada setiap sampel. Berat jenis yang diperoleh dari seluruh sampel yaitu sebesar 1,07 g/mL.

4.2 Kinetika Pengeringan

(a) 0

3 6 9 12 15

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Berat (g)

Waktu (Jam)

Kinetika Pengeringan Hari Pertama

Tebal 0,5 cm Tebal 1,0 cm Tebal 1,5 cm

(48)

(b)

Gambar 4.1 Kinetika Pengeringan Sampel Hari Pertama (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Kinetika pengeringan jahe di luar dan di dalam ruangan dapat dilihat pada gambar diatas. Gambar 4.1 memperlihatkan kinetika pengeringan pada hari pertama.

Proses pengeringan hari pertama menampilkan pengurangan kadar air relatif cepat dan dalam jumlah besar. Hal ini dikarenakan pemanasan awal yang terjadi hanyalah menguapkan air bebas pada permukaan sampel saja. Air bebas merupakan air yang mudah menguap dari bahan makanan dikarenakan ikatan hidrogen yang lemah dalam air bebas (Ramadhani, dkk., 2017).

Kemudian pada hari sesudahnya pengurangan kadar air perlahan menurun hingga mencapai suatu keseimbangan kadar air. Dalam proses pengeringan, semakin lama proses pengeringan terjadi maka kadar air akan semakin rendah juga dan laju pengeringan juga akan semakin melambat. Hal ini disebabkan karena pada saat pengeringan selain adanya air bebas yang cenderung lebih mudah menguap selama periode awal pengeringan, ada pula air terikat yaitu air yang sulit untuk bergerak naik ke permukaan, sehingga laju pengeringan semakin lama, maka pengeringan semakin turun. (Purwanti, dkk., 2017)

Gambar 4.1 menampilkan kinetika pengeringan pada hari pertama di luar ruangan dan dalam ruangan. Dapat dilihat bahwa selama 8 jam, sampel dilakukan

0 3 6 9 12 15

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Berat (g)

Waktu (Jam)

Kinetika Pengeringan Hari Pertama

Tebal 0,5 cm Tebal 1,0 cm Tebal 1,5 cm

(49)

pengeringan selama 8 jam hingga massa sampel konstan per hari-nya. Pada kondisi di luar ruangan terlihat pada 3 jam pertama sampel mengalami perubahan secara drastis dibandingkan dengan dalam ruangan, sampel 1 dengan tebal 0,5 cm berat mula-mula ialah 3,61 g dilakukan dengan waktu 8 jam sehingga beratnya menjadi 0,60 g. Pada sampel 2 dengan tebal 1,0 cm dan berat mula-mulanya 7,08 g dilakukan pengeringan selama 8 jam hingga beratnya menjadi 2,48 g. Pada sampel 3 dengan tebal 1,5 cm dan berat mula-mulanya 14,08 g dilakukan pengeringan selama 8 jam hingga beratnya menjadi 7,47 g. Pada penelitian yang dilakukan di dalam ruangan dengan sampel 1 setebal 0,5 cm dan berat mula-mula 3,20 g dilakukan pengeringan selama 8 jam sehingga beratnya menjadi 2,25 g. Pada sampel 2 dengan tebal 1,0 cm dan berat mula-mula 8,51 dilakukan pengeringan selama 8 jam sehingga beratnya menjadi 7,07 g. Pada sampel 3 dengan tebal 1,5 cm dan berat mula-mula 13,38 dilakukan pengeringan selama 8 jam sehingga beratnya menjadi 11,40 g. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa berat pada sampel perlahan menghilang karena air yang berada pada sampel menguap ke udara dan membuat berat sampelnya berkurang seiring dengan waktu pengeringan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan terdapat 2 golongan yaitu faktor yang berhubungan dengan udara pengering dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yang dikeringkan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan udara pengering yaitu suhu, kecepatan aliran udara pengering, dan kelembapan udara.

Sementara itu faktor -faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yang dikeringkan yaitu ukuran bahan, kadar air awal, dan tekanan parsial di dalam bahan (Hasibuan, 2019). Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa setiap ukuran sampel membutuhkan waktu yang bervariasi untuk mencapai keseimbangan kadar air di dalamnya. Perbedaan ukuran sampel menunjukkan bahwa semakin besar ukuran dan tebal dari sampel, maka waktu pengeringan juga akan semakin lama. Dari hal itu, adanya komponen perbedaan ukuran bahan dan waktu membuat perbedaan pada kinetika pengeringan untuk setiap sampel.

(50)

4.3 Kinetika Penurunan Berat Perhari

(a)

(b)

Gambar 4.2 Kinetika pengeringan Sampel (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Dari Gambar 4.2 dapat dilihat grafik kinetika pengeringan sampel di luar ruangan dan di dalam ruangan yang menunjukkan bahwa laju pengeringan pada awal periode mengalami penurunan terhadap waktu. Laju pengeringan yang menurun menjelaskan bahwa air dalam bahan masih berpotensi untuk mengalami penguapan

0 2 4 6 8 10 12

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Berat (g)

Waktu (hari)

Kinetika Pengeringan Sampel

Tebal 0,5 cm Tebal 1,0 cm Tebal 1,5 cm

0 2 4 6 8 10 12

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Berat (g)

Waktu (Hari)

Kinetika Pengeringan Sampel

Tebal 0,5 cm Tebal 1,0 cm Tebal 1,5 cm

Gambar

Gambar 2.2 Prinsip Kerja Pengeringan Alami  (Dessy, 2016)
Gambar 3.1 Contoh Tampilan www.weather.com Pengambilan Data Lingkungan
Gambar 3.2 Diagram Kerja Penelitian Persiapan alat dan bahan
Gambar 3.3 Flowchart Analisis Massa Jenis  Siapkan sampel yang telah dipotong dengan
+7

Referensi

Dokumen terkait