• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9

2.7 Karakteristik Hasil Penelitian

2.7.2 Uji Densitas

Densitas atau massa jenis zat atau kerapatan zat adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh suatu zat atau benda baik itu berupa zat padatan maupun cairan. Massa jenis atau kerapatan zat (ρ) adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu dan dinyatakan dalam sistem cgs yaitu gram per sentimeter kubik (g/cm³ = g/mL). Sedangkan, dalam satuan SI kilogram per meter kubik (kg/m³) (Mi’rodji, 2015).

Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.

Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah. Nilai densitas banyak digunakan untuk menenttukan jenis suatu materi. Dalam mengetahui nilai densitas, dapat dengan membagi massa dengan volume benda. Perbedaan nilai kerapatan setiap bahan yang disebabkan oleh komponen penyusunnya akan menyisakan celah celah kosong diantara rapat serbuk penyusun material tersebut (Alim, dkk., 2017).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Pembangunan No. 107, Kelurahan Padang Bulan I, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Data kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan di lokasi penelitian ini diambil dari www.weather.com, Adapun contoh tampilannya adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Contoh Tampilan www.weather.com Pengambilan Data Lingkungan

3.2. Bahan dan Peralatan 3.2.1. Bahan

Pada penelitian ini bahan yang digunakan antara lain:

1. Aquadest

2. Jahe (Zingiber officinale Rosc.).

3.2.2. Peralatan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Cutter 2. Gelas ukur 3. Penggaris besi 4. Terpal

5. Timbangan elektrik

3.3. Diagram Kerja Penelitian

Adapun diagram kerja pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2 :

.

Gambar 3.2 Diagram Kerja Penelitian Persiapan alat dan bahan

Pemotongan sampel sesuai dengan variasi ukuran yang

telah ditentukan

Penimbangan massa setiap sampel

Diukur massa jenis setiap sampel

Mulai

Dilakukan pengeringan alami dengan waktu yang telah

ditentukan

Pengolahan dan analisis sampel

Selesai

3.4. Prosedur Penelitian

3.4.1. Prosedur Analisis Massa jenis

Adapun prosedur analisis densitas atau massa jenis sampel adalah sebagai berikut:

1. Sampel dikupas terlebih dahulu dan kemudian dicuci hingga bersih.

2. Sampel dipotong dengan menggunakan cutter dan penggaris besi. Ukuran sampel adalah sebagai berikut: panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm.

3. Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik lalu dicatat massa dari sampel.

4. Gelas ukur diisi dengan aquadest untuk mengukur perubahan kenaikan volume pada aquadest.

5. Kemudian masukkan sampel dengan variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm ke dalam gelas ukur satu per satu.

6. Kenaikan volume air pada gelas ukur dicatat sebagai volume dari sampel.

7. Dihitung massa jenis dari sampel dengan menggunakan rumus:

 =

3.4.2. Pengeringan Sampel

Adapun prosedur pengeringan sampel adalah sebagai berikut:

1. Siapkan sampel yang telah dipotong dengan menggunakan cutter dan penggaris besi dengan ukuran sampel sebagai berikut: panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan 0,5; 1; dan 1,5 cm.

2. Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik lalu dicatat massa dari sampel.

3. Untuk mengukur massa jenis, maka sampel dimasukkan sampel ke dalam gelas ukur lalu dicatat pertambahan volumenya.

4. Kemudian sampel dikeringkan di dalam ruangan dan di luar ruangan dengan menggunakan wadah terpal.

5. Dilakukan penimbangan sampel setiap 1 jam sekali kemudian catat setiap

6. Dilakukan pengeringan lebih lanjut dan penimbangan sampel serta catat semua data hingga sampel mencapai massa konstan.

3.5. Flowchart Penelitian

3.5.1 Flowchart Analisis Densitas atau Massa Jenis

Adapun flowchart proses penyediaan bahan dan pengeringan sampel pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.3 dan gambar 3.4:

Gambar 3.3 Flowchart Analisis Massa Jenis Siapkan sampel yang telah dipotong dengan

menggunakan cutter dan penggaris besi.

Ukuran sampel adalah sebagai berikut:

panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan 0,5; 1;

dan 1,5 cm.

Gelas ukur diisi dengan aquadest untuk mengukur perubahan kenaikan volume pada aquadest.

Mulai

Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik lalu dicatat massa dari sampel yang

didapatkan.

Dihitung massa jenis sampel Dicatat kenaikan volume aquadest

Selesai

3.5.2 Flowchart Penelitian Pengeringan Sampel

Gambar 3.4 Flowchart Penelitian Pengeringan Sampel Tidak Ya

Mulai

Sampel yang telah dipotong dengan menggunakan cutter dan penggaris besi dengan ukuran sampel

sebagai berikut: panjang 4 cm, lebar 2 cm dengan variasi ketebalan

0,5; 1; dan 1,5 cm.

Kemudian sampel dikeringkan di dalam ruangan dan di luar ruangan dengan menggunakan

wadah terpal.

Dilakukan penimbangan sampel setiap 1 jam sekali dan catat setiap hasil dari penimbangan Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan

elektrik lalu dicatat massa dari sampel.

Apakah berat sampel sudah

konstan?

Selesai

Dilakukan kembali pengeringan hingga massa sampel konstan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sifat Fisik Sampel Berdasarkan Variasi Ukuran Tabel 4.1 Identifikasi Sifat Fisik Jahe

Sampel Ketebalan

Pada penelitian ini, dilakukan pengukuran massa jenis (densitas) pada sampel dengan variasi ukuran yang berbeda. Setiap sampel dilakukan penimbangan dan pengukuran volume sehingga dihasilkan data yang terdapat pada tabel 4.1. Data yang didapatkan dapat memperkirakan berat jenis (ρ (g/mL)) pada setiap sampel. Berat jenis yang diperoleh dari seluruh sampel yaitu sebesar 1,07 g/mL.

4.2 Kinetika Pengeringan

(b)

Gambar 4.1 Kinetika Pengeringan Sampel Hari Pertama (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Kinetika pengeringan jahe di luar dan di dalam ruangan dapat dilihat pada gambar diatas. Gambar 4.1 memperlihatkan kinetika pengeringan pada hari pertama.

Proses pengeringan hari pertama menampilkan pengurangan kadar air relatif cepat dan dalam jumlah besar. Hal ini dikarenakan pemanasan awal yang terjadi hanyalah menguapkan air bebas pada permukaan sampel saja. Air bebas merupakan air yang mudah menguap dari bahan makanan dikarenakan ikatan hidrogen yang lemah dalam air bebas (Ramadhani, dkk., 2017).

Kemudian pada hari sesudahnya pengurangan kadar air perlahan menurun hingga mencapai suatu keseimbangan kadar air. Dalam proses pengeringan, semakin lama proses pengeringan terjadi maka kadar air akan semakin rendah juga dan laju pengeringan juga akan semakin melambat. Hal ini disebabkan karena pada saat pengeringan selain adanya air bebas yang cenderung lebih mudah menguap selama periode awal pengeringan, ada pula air terikat yaitu air yang sulit untuk bergerak naik ke permukaan, sehingga laju pengeringan semakin lama, maka pengeringan semakin turun. (Purwanti, dkk., 2017)

Gambar 4.1 menampilkan kinetika pengeringan pada hari pertama di luar

pengeringan selama 8 jam hingga massa sampel konstan per hari-nya. Pada kondisi di luar ruangan terlihat pada 3 jam pertama sampel mengalami perubahan secara drastis dibandingkan dengan dalam ruangan, sampel 1 dengan tebal 0,5 cm berat mula-mula ialah 3,61 g dilakukan dengan waktu 8 jam sehingga beratnya menjadi 0,60 g. Pada sampel 2 dengan tebal 1,0 cm dan berat mula-mulanya 7,08 g dilakukan pengeringan selama 8 jam hingga beratnya menjadi 2,48 g. Pada sampel 3 dengan tebal 1,5 cm dan berat mula-mulanya 14,08 g dilakukan pengeringan selama 8 jam hingga beratnya menjadi 7,47 g. Pada penelitian yang dilakukan di dalam ruangan dengan sampel 1 setebal 0,5 cm dan berat mula-mula 3,20 g dilakukan pengeringan selama 8 jam sehingga beratnya menjadi 2,25 g. Pada sampel 2 dengan tebal 1,0 cm dan berat mula-mula 8,51 dilakukan pengeringan selama 8 jam sehingga beratnya menjadi 7,07 g. Pada sampel 3 dengan tebal 1,5 cm dan berat mula-mula 13,38 dilakukan pengeringan selama 8 jam sehingga beratnya menjadi 11,40 g. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa berat pada sampel perlahan menghilang karena air yang berada pada sampel menguap ke udara dan membuat berat sampelnya berkurang seiring dengan waktu pengeringan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan terdapat 2 golongan yaitu faktor yang berhubungan dengan udara pengering dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yang dikeringkan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan udara pengering yaitu suhu, kecepatan aliran udara pengering, dan kelembapan udara.

Sementara itu faktor -faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yang dikeringkan yaitu ukuran bahan, kadar air awal, dan tekanan parsial di dalam bahan (Hasibuan, 2019). Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa setiap ukuran sampel membutuhkan waktu yang bervariasi untuk mencapai keseimbangan kadar air di dalamnya. Perbedaan ukuran sampel menunjukkan bahwa semakin besar ukuran dan tebal dari sampel, maka waktu pengeringan juga akan semakin lama. Dari hal itu, adanya komponen perbedaan ukuran bahan dan waktu membuat perbedaan pada kinetika pengeringan untuk setiap sampel.

4.3 Kinetika Penurunan Berat Perhari

(a)

(b)

Gambar 4.2 Kinetika pengeringan Sampel (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Dari Gambar 4.2 dapat dilihat grafik kinetika pengeringan sampel di luar ruangan dan di dalam ruangan yang menunjukkan bahwa laju pengeringan pada awal periode mengalami penurunan terhadap waktu. Laju pengeringan yang menurun menjelaskan bahwa air dalam bahan masih berpotensi untuk mengalami penguapan

0

periode awal pengeringan, ada pula air terikat yaitu air yang sulit untuk bergerak naik ker permukaan bahan selama pengeringan sehingga laju penguapan air semakin lama semakin menurun (Ridhatullah dan Rosdanelli, 2019).

Pada kondisi luar ruangan, berat sampel Jahe mengalami Penurunan secara konstan pada run 1 sebesar 0,42 g, run 2 sebesar 0,61 g dan run 3 sebesar 2,20 g.

Penurunan berat secara konstan tersebut terjadi pada hari ketujuh. Pada run 1 mengalami penurunan berat dari awal pengeringan sampai akhir pengeringan, sehingga menghasilkan berat akhir pada run 1 diperoleh sebesar 3,19 g, pada run 2 sebesar 6,47 g, dan pada run 3 sebesar 11,88 g. Sedangkan pada kondisi dalam ruangan, berat sampel jahe mengalami penurunan secara konstan pada run 1 sebesar 0,41, run 2 sebesar 0,81 g dan run 3 sebesar 1,08 g. Penurunan berat secara konstan tersebut terjadi pada hari ketujuh.

Pada run 1 mengalami penurunan berat dari awal pengeringan sampai akhir pengeringan sehingga menghasilkan berat akhir pada run 1 sebesar 2,79 g, run 2 sebesar 6,3 g, dan run 3 sebesar 11,77 g. Hal ini sejalan dengan yang penelitian sebelumnya penurunan berat terbesar terjadi pada bahan dengan ketebalan lebih besar (Haryanto, dkk., 2020).

Berdasarkan Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa semakin lama proses pengeringan maka kadar air semakin rendah. Proses pengeringan jahe di luar ruangan memerlukan waktu 3-7 hari untuk mencapai berat konstannya, sedangkan di dalam ruangan memerlukan waktu 4-7 hari untuk mencapai berat konstannya. Hal ini menunjukkan. semakin tebal tumpukan suatu bahan yang dikeringkan maka akan semakin lama waktu yang diperlukan untuk menguapkan air selama pengeringan (Amin dkk., 2018).

Proses pengeringan akan menyebabkan tejadinya perubahan warna, tekstur dan aroma (Huriawati dkk., 2016). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada dua golongan yaitu faktor yang berhubungan dengan udara pengering dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yang dikeringkan. Faktor-faktor yang termasuk golongan pertama adalah suhu, kecepatan volumetrik, aliran udara pengering dan kelembaban udara. Faktor-faktor yang termasuk golongan kedua adalah ukuran bahan, kadar air awal dan tekanan parsial di dalam bahan (Arsyad, 2019).

Gambar 4.3 Kondisi Variasi Pengeringan

Berdasarkan Gambar 4.3 grafik kondisi variasi pengeringan, menunjukkan variasi pengeringan jahe yang dilakukan dalam penelitian. Variasi yang dilakukan yaitu pengeringan di luar ruangan dan di dalam ruangan. Suhu yang diukur adalah suhu rata-rata, di luar ruangan memiliki suhu rata-rata sebesar 30,31 oC dan di dalam ruangan memiliki suhu rata-rata sebesar 28 oC. Dari Gambar 4.3 dapat terlihat bahwa penurunan berat total tertinggi terjadi pada kondisi pengeringan luar ruangan. Kondisi terbaik untuk pengeringan bahan adalah kondisi terbuka yang langsung terpapar oleh sinar matahari. Selama proses pengeringan, terjadi perpindahan panas dari permukaan bahan sehingga menyebabkan kandungan air pada permukaan bahan berkurang. Semakin tinggi suhu udara pengering, maka semakin besar energi panas yang dibawa udara, sehingga semakin banyak massa cairan yang diuapkan dari permukaan bahan yang dikeringkan (Ramli dkk., 2017).

0 2 4 6 8 10 12 14

1 2 3

Pengurangan Berat (g)

Sampel

Kondisi Variasi Pengeringan

Luar Ruangan Dalam Ruangan

4.4 Karakteristik Hasil Pengeringan 4.4.1 Bentuk dan Permukaan Sampel

H0 H0

H3 H3

H7 H7

(a) (b)

Gambar 4.4 Bentuk dan Permukaan Sampel (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Gambar diatas menunjukkan perubahan bentuk dan permukaan sampel sebelum dan sesudah pengeringan. Perubahan struktur permukaan sampel seiring dengan keluarnya air dari sampel, mengakibatkan terjadinya penyusutan.

Penyusutan merupakan berkurangnya volume, perubahan bentuk, dan meningkatnya kekerasan bahan. Penyusutan meningkat dengan semakin

banyaknya air yang keluar dari dalam bahan. Pengeringan menyebabkan rongga-rongga bahan yang sebelumnya berisi air menjadi saling terhubung sehingga permukaan luar bahan akan mengerut ke dalam dan mengurangi luasan permukaan bahan tersebut (Nurhawa dkk., 2016).

Semakin tinggi suhu pengeringan maka rendemen yang dihasilkan semakin rendah. Besar kecilnya rendemen yang dihasilkan dipengaruhi oleh kadar airnya. Semakin tinggi suhu pengeringan menghasilkan kadar air yang semakin rendah sehingga rendemen yang dihasilkan juga semakin rendah karena kandungan air dalam bahan teruapkan yang menyebabkan berat bahan lebih rendah atau menyusut. Perlakuan dengan menggunakan berbagai suhu pengeringan mempunyai pengaruh yang bervariasi terhadap karakteristik fisik (Andriani dkk., 2013).

4.4.2 Hasil Analisa Uji SEM (Scanning Electron Microscopy)

(a) (b)

Gambar 4.5 Hasil Analisa Uji SEM (a) Sebelum Dikeringkan, (b) Sesudah Dikeringkan

Hasil karakteristik SEM sampel jahe dapat dilihat pada gambar diatas.

Gambar 4.5 menunjukkan permukaan jahe sebelum dan sesudah pengeringan.

Sebelum pengeringan, permukaan jahe tampak berongga yang berisi air dan sesudah dilakukan pengeringan, rongga-rongga jahe yang sebelumnya berisi air

dikeringkan mempunyai dampak negatif terhadap kualitas produk keringnya.

Perubahan lain yang terjadi selama pengeringan adalah perubahan tampilan fisik produk seperti warna, tekstur dan aroma. Salah satu perubahan fisik yang penting selama pengeringan adalah pengurangan volume bahan. Kehilangan air dan pemanasan menyebabkan struktur sel bahan mengalami tekanan diikuti dengan perubahan bentuk dan pengecilan ukuran (Manalu dan Adinegoro, 2016).

4.5 Model Matematika Pengeringan

Proses pengeringan memiliki pemodelan yang didasarkan pada persamaan matematika yang secara khas menjelaskan kinetika pengeringan suatu bahan pangan.

Penggunaan model matematika ini sangat penting untuk memprediksi performansi sistem pengeringan (Rauf, 2021). Model matematika dihitung berdasarkan data MR (Moisture Ratio) hasil percobaan. Data MR (Moisture Ratio) hasil percobaan kemudian dihubungkan terhadap waktu didalam grafik dan dihitung persamaan matematikanya hingga menghasilkan konstanta pengeringan k, a, dan n (Irfan dkk., 2020). Tiga model matematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah

1. Model Newton merupakan sebuah model matematika pengeringan yang juga disebut model Lewis. Lewis mendeskripsikan bahwa perpindahan air dari makanan dan bahan pangan dapat ditunjukkan dengan analogi aliran panas dari tubuh ketika tubuh direndam dalam cairan dingin.

2. Model Henderson & Pabis telah digunakan pada model pengeringan lapisan tipis untuk berbagai produk pertanian di antaranya digunakan untuk model pengeringan jagung, gandum, beras kasar, kacang dan umbi umbian.

3. Model Page merupakan model yang dimodifikasi dari model Lewis. Page menyarankan model ini dengan tujuan untuk mengoreksi kekurangan kekurangan dari model Lewis. Model Page telah menghasilkan simulasi yang sesuai untuk menjelaskan pengeringan berbagai produk pertanian dan lebih mudah digunakan dibandingkan dengan persamaan lainnya. Perpindahan uap air melalui difusi secara teoritis lebih sulit serta memerlukan waktu komputasi dalam proses pemasangan data (Fithriani dkk., 2016).

Dari ketiga model, model ini dipilih karena berdasarkan persamaan yang simple atau mudah diturunkan.

Tabel 4.2 Bentuk Linier Model Kinetika Pengeringan (Irfan dkk., 2020).

Model Persamaan Bentuk Linier

Page MR = exp (−ktn) ln (-ln MR) = ln k +n ln t

Lewis MR = exp (-kt) ln MR = -kt

Handerson and Pabis MR = a exp (−kt) ln MR = -kt + ln a

Bentuk linier setiap model dapat diplot ke dalam Program Microsoft Excel untuk memperoleh nilai MRpre (MR prediksi yang didapatkan dari persamaan dalam tabel 4.2). Untuk model Newton dan Henderson-Pabis digunakan plot ln MR vs t sedangkan untuk model Page digunakan plot ln (-ln MR) vs ln t.

Berdasarkan hasil pengujian trendline pada setiap grafik model pengeringan, diperoleh nilai konstanta yang ada pada masing-masing model serta nilai R2 seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3 Nilai Konstanta dan Koefisien Model Kinetika Pengeringan Model

Sampel 1 persamaan model lainnya yaitu model Newton dan Henderson-Pabis. Hal ini menunjukkan bahwa model Page memiliki nilai kesesuaian yang mendekati terhadap pengeringan jahe. Koefisien korelasi (R2) dari persamaan laju pengeringan yang menggunakan model page menunjukkan nilai korelasi yang sangat baik (Muhandri dkk., 2015). Dari tabel 4.3 diatas dapat disimpulkan bahwa model page memiliki nilai R2 (Coefficient of Determinant) tertinggi.

4.6 Evaluasi dan Perbandingan Berbagai Model Kinetika Pengeringan

4.6.1 Evaluasi dan Perbandingan Berbagai Model Kinetika pada Pengeringan Jahe Secara Alami di Luar Ruangan Terbaik

Evaluasi berbagai persamaan model kinetika dilakukan dengan menggunakan data yang tersedia dalam praktik untuk melihat seberapa tepatnya prediksi laju pengeringan. Prediksi laju pengeringan dihitung menggunakan persamaan yang sudah ditentukan konstanta kinetiknya pada masing-masing model. Berikut merupakan grafik perbandingan prediksi laju pengeringan dengan data aktual pada masing-masing model kinetika.

Gambar 4.6 Perbandingan Data Aktual dengan Prediksi Laju Pengeringan Jahe di Luar Ruangan pada Berbagai Persamaan Model Kinetika

Gambar 4.6 menunjukkan hasil prediksi laju pengeringan jahe di luar ruangan pada berbagai model yang dibandingkan dengan data aktual. Persamaan regresi yang diperoleh di atas adalah persamaan yang menunjukkan hubungan fungsional antara variabel dependen (Y) dengan variabel indenpenden (X).

Semakin tinggi nilai koefisien korelasi antara dua buah variabel (semakin mendekati 1), maka tingkat keeratan hubungan antara dua variabel tersebut semakin tinggi (Nuryadi dkk., 2017). Gambar 4.6 menunjukkan akurasi berbagai model dalam memprediksi nilai laju pengeringan jahe yang digambarkan pada kedekatan data prediksi pada garis y = x.

Berdasarkan gambar 4.6 diperoleh bahwa prediksi laju pengeringan jahe pada model Newton, Page, dan Henderson-Pabis sama-sama dapat diterima karena nilainya yang hampir mendekati dari data aktual. Model kinetika terbaik yang prediksinya paling mendekati data aktual adalah model Newton dengan nilai prediksi sebesar 0,9894. Nilai prediksi tersebut mendekati data aktual dengan akurasi 98%. Berdasarkan perbandingan tersebut maka model persamaan terbaik dalam mengestimasi laju pengeringan adalah model Newtom.

R² = 0,9894

4.6.2 Evaluasi dan Perbandingan Berbagai Model Kinetika pada Pengeringan Jahe Secara Alami di Dalam Ruangan Terbaik

Evaluasi berbagai persamaan model kinetika dilakukan dengan menggunakan data yang tersedia dalam praktik untuk melihat seberapa tepatnya prediksi laju pengeringan. Prediksi laju pengeringan dihitung menggunakan persamaan yang sudah ditentukan konstanta kinetiknya pada masing-masing model. Berikut merupakan grafik perbandingan prediksi laju pengeringan dengan data aktual pada masing-masing model kinetika.

Gambar 4.7 Perbandingan Data Aktual dengan Prediksi Laju Pengeringan Jahe di dalam Ruangan pada Berbagai Persamaan Model Kinetika

Gambar 4.7 menunjukkan hasil prediksi laju pengeringan jahe di dalam ruangan pada berbagai model yang dibandingkan dengan data aktual. Persamaan regresi yang diperoleh di atas adalah persamaan yang menunjukkan hubungan fungsional antara variabel dependen (Y) dengan variabel indenpenden (X).

Semakin tinggi nilai koefisien korelasi antara dua buah variabel (semakin mendekati 1), maka tingkat keeratan hubungan antara dua variabel tersebut semakin tinggi (Nuryadi dkk., 2017). Gambar 4.7 menunjukkan akurasi berbagai model dalam memprediksi nilai laju pengeringan jahe yang digambarkan pada kedekatan data prediksi pada garis y = x.

R² = 0,9929

Berdasarkan gambar 4.7 diperoleh bahwa prediksi laju pengeringan jahe pada model Newton, Page, dan Henderson-Pabis sama-sama dapat diterima karena nilainya yang hampir mendekati dari data aktual. Model kinetika terbaik yang prediksinya paling mendekati data aktual adalah model Newton dengan nilai prediksi sebesar 0,9929. Nilai prediksi tersebut mendekati data aktual dengan akurasi 99%. Berdasarkan perbandingan tersebut maka model persamaan terbaik dalam mengestimasi laju pengeringan jahe adalah model Newton.

Berdasarkan gambar 4.7 dapat disimpulkan juga bahwa semua model persamaan cocok untuk memprediksi laju pengeringan jahe.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pada penelitian ini didapatkan perubahan kualitas jahe dari segi bentuk dan permukaan sampel sebelum dan sesudah pengeringan, dimana pada jahe terjadi perubahan struktur permukaan sampel seiring dengan keluarnya air dari sampel yang mengakibatkan terjadinya penyusutan.

2. Pada penelitian ini, pengaruh kondisi pengeringan memberikan hasil yang signifikan, terkhusus pada pengeringan hari pertama. Hal ini disebabkan karena air yang menguap pada hari pertama merupakan air bebas yang cenderung mudah untuk menguap pada pengeringan pertama.

3. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa semakin besar ukuran dan tebal dari sampel, maka waktu pengeringan juga akan semakin lama, karena adanya komponen perbedaan ukuran bahan dan waktu membuat perbedaan pada kinetika pengeringan untuk setiap sampel.

4. Ciri fisik yang dihasilkan pada pengeringan jahe, dapat dilihat pada permukaan sampel yang dilihat pada SEM, pada hasil pengeringan diperoleh bentuk fisik sampel jahe mengalami pengerasan dan pengecilan pori.

5. Model kinetika terbaik untuk laju pengeringan jahe secara alami di luar ruangan adalah model Newton dengan nilai prediksi sebesar 0,9894 dan Model kinetika terbaik untuk laju pengeringan jahe secara alami di dalam ruangan adalah model Newton dengan nilai prediksi sebesar 0,9929.

5.2 Saran

Adapun saran pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Disarankan menggunakan penambahan uji pada sampel, seperti XRD, TEM, atau uji lainnya yang mendukung.

2. Disarankan untuk meneliti lebih lanjut tentang kandungan yang hilang pada sampel uji.

3. Disarankan untuk penelitian selanjutnya digunakan alat pengering, seperti oven, microwave, tray dryer, dan lain sebagainya.

4. Disarankan sebaiknya gunakan suhu diatas suhu udara sekitar atau suhu yang ditentukan agar waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan lebih singkat dan

4. Disarankan sebaiknya gunakan suhu diatas suhu udara sekitar atau suhu yang ditentukan agar waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan lebih singkat dan

Dokumen terkait