• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini terbatas mengenai persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai mengacu pada Standard Nasional Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota yaitu dilihat dari sarana prasarana, koleksi, layanan dan tenaga perpustakaan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Persepsi

2.1.1 Pengertian persepsi

Gambaran, pandangan, ataupun tanggapan sering dinyatakan sebagai persepsi, karena dalam kata persepsi akan terdapat tanggapan seseorang terhadap sesuatu hal ataupun objek yang dilihat, didengar, disentuh, ataupun dirasakan dan diterima tentang sesuatu hal yang kemudian seseorang akan menseleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasikan informasi yang diterimanya menjadi suatu gambaran yang berarti. Berbagai pandangan/pendapat tentang persepsi menurut beberapa sumber literatur menyatakan sebagai berikut :

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Ed. 3 (2005, 880), persepsi diartikan sebagai 1). tanggapan (penerimaan langsung dari sesuatu; 2). proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya.

Sunaryo (2004, 93) menyatakan persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.

Borkowski (2013, 54) menyatakan persepsi adalah proses organisme menginterpretasikan dan mengatur sensasi untuk menghasilkan pengalaman berharga tentang dunia. Pendapat lain dinyatakan oleh Jalaludin (2003, 51) yang menyatakan persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan

pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensori stimuli).

Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori.

Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi itu merupakan proses perlakuan individu yaitu pemberian tanggapan, arti, gambaran, atau penginterpretasian terhadap apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan oleh indranya dalam bentuk sikap, pendapat, dan tingkah laku atau disebut sebagai perilaku individu yang sifatnya subjektif, karena tergantung pada keadaan dan kemampuan tiap-tiap individu, sehingga akan ditafsirkan berbeda oleh individu yang satu dengan yang lain.

2.1.2 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Mubarak dan Chayatin (2009) persepsi atau pandangan merupakan salah satu dasar-dasar komunikasi yang tergantung dari objek yang diperhatikan, tingkat pendidikan, tingkat sosial dan pekerjaan dari sasaran untuk berusaha menyamakan persepsi.

Arisandy (2004, 26) terdapat empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi, antara lain:

1. Perhatian

Terjadinya persepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada disekitar kita dapat kita tangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian kita hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita.

2. Kebutuhan

Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan menetap maupun kebutuhan sesaat.

3. Kesediaan

Adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dulu.

4. Sistem nilai

Sistem nilai yang berlaku dalam diri seseorang atau masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi seseorang.

Selain itu, Sobur (2003, 23) menyebutkan, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut yaitu,

1. Faktor fungsional, dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seorang individu.

2. Faktor struktural, berarti bahwa faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu.

3. Faktor situasional. Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa non verbal.

4. Faktor personal, yang terdiri atas pengalaman, motivasi, kepribadian.

2.2 Pemustaka

Menurut Undang-undang RI. No. 43 tahun 2007 menyatakan bahwa pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perorangan, kelompok orang, masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.

Menurut Suwarno (2009, 80), pemustaka adalah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan baik koleksi maupun buku (bahan pustaka maupun fasilitas lainnya). Pemustaka berbagai macam jenisnya, ada mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat pada umumnya bergantung jenis perpustakaan yang ada.

Sedangkan menurut Sutarno (2008, 150) pemakai perpustakaan adalah kelompok orang dalam masyarakat yang secara intensif mengunjungi dan memakai layanan dan fasilitas perpustakaan.

Menurut pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemustaka adalah mereka yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Dalam bidang usaha jasa, konsep pemustaka adalah raja ini telah banyak diterapkan. Hal ini didukung oleh pendapat Ahmad (2012, 37) yang menyatakan

“pelanggan layaknya seorang raja”. Ini berarti menjadikan pelanggan sebagai pusat organisasi, sehingga pelanggan menggerakkan apa yang dikerjakan oleh sebuah usaha. Ahmad (2012, 37), menyatakan “fakta menunjukkan bahwa organisasi dapat memperlihatkan kinerja yang sangat baik manakala dapat melaksanakan apa yang disebut sebagai keramahan pelanggan”.

Memenuhi kebutuhan informasi pemustaka bagi perpustakaan merupakan hal yang manarik. Hal ini karena perpustakaan melayani komunitas yang terdiri atas individu-individu yang memiliki kebutuhan yang beragam. Disamping itu, kebutuhan informasi pemustaka umunya selalu berubah dan berkembang mengikuti perkembangan individu itu sendiri maupun lingkungannya.

Munculnya kebutuhan informasi yang beragam dikarenakan adanya faktor-faktor yang melatar belakangi atau mempengaruhi kebutuhan informasi tiap pemustaka. Ahmad (2012, 54) mengungkapkan bahwa kebutuhan informasi pemustaka tergantung pada :

1. Aktivitas pekerjaan(work activity)

2. Disiplin/bidang yang diminati( disciplin/fiel/area of interst) 3. Ketersediaan fasilitas (availability of facilities)

5. Faktor-faktor motifasi terhadap kebutuhan informasi ( motivation factors for information needs)

6. Keperlun untukmmengambil keputusan (need to take decision) 7. Keperluan untuk mencari ide-ide baru ( need to seek new ideas)

8. Keperluan untuk memvalidasi yang benar ( need to validate the correct ones)

9. Keperluan untuk membuat kontribusi professional (need to make professional contribution)

10. Keperluan untuk menentukan prioritas penemuan dll (need to establish proiority far discovery etc)

2.3 Perpustakaan Umum

2.3.1 Pengertian Perpustakaan Umum

Salah satu jenis perpustakaan yang dapat dimanfaatkan dan menyediakan beragam sumber daya informasi yang disesuaikan dengan keberagaman penggunanya adalah perpustakaan umum. Menurut Sutarno (2006, 38) yang dimaksud dengan perpustakaan umum adalah perpustakaan yang didanai dari sumber yang berasal dari masyarakat seperti pajak dan retribusi, yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan. Hal ini berarti perpustakaan umum memberikan dan melayani kebutuhan masyarakat secara gratis, yang didukung dengan menggunakan dana umum.

Menurut Sulistyo-Basuki (2010, 2.7) perpustakaan umum adalah sebuah perpustakaan yang didirikan dan dibiayai oleh pemerintah daerah atau dalam kasus tertentu oleh pemerintah pusat atau badan lain yang diberi wewenang untuk bertindak atau bertindak atas nama badan, tersedia bagi masyarakat bagi siapa yang ingin menggunakannya tanpa bias atau diskriminasi.

Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000, 30) perpustakaan umum adalah perpustakan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum. Perpustakaan umum berdiri sebagai lembaga yang diadakan untuk dan oleh masyarakat. Setiap warga dapat mempergunakan perpustakaan tanpa dibedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama”.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang dibiayai oleh pemerintah dan diperuntukkan bagi masyarakat umum tanpa membedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama.

2.3.2 Tujuan Perpustakaan Umum

Pada dasarnya setiap lembaga atau organisasi pasti memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan merupakan keinginan atau impian yang harus diwujudkan oleh suatu lembaga atau organisasi. Menurut Hermawan dan Zen (2006, 31) mengemukakan tujuan perpustakaan umum adalah:

1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk mengunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi.

4. Bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya dan,

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

Menurut Sutoyo dan Santoso (2001, 185) tujuan perpustakaan umum adalah untuk:

1. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca khususnya, serta mendayagunakan budaya tulisan dalam segala sector kehidupan pada umumnya.

2. Mengembangkan kemampuan mencari, mengolah serta memanfaatkan informasi.

3. Mendidik masyarakat agar dapat memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna.

4. Meletakkan dasar-dasar kearah belajar mandiri.

Sehubungan dengan uraian di atas Sulistyo-Basuki (2010) menyatakan tujuan perpustakaan umum sebagai berikut :

1. Pendidikan, perpustakaan umum bertugas memelihara dan menyediakan sarana untuk pengembangan perorangan atau kelompok pada semua tingkat kemampuan pendidikan.

2. Informasi, perpustakaan menyediakan kemudahan bagi pemakai berupa akses yang cepat terhadap informasi yang tepat mengenai seluruh jutaan pengetahuan manusia.

3. Kebudayaan, perpustakaan merupakan pusat kehidupan kebudayaan dan secara aktif mempromosikan partisipasi dan apresiasi semua bentuk seni.

4. Rekreasi, perpustakaan memainkan peran penting dalam mendorong penggunaan secara aktif rekreasi dan waktu senggang dengan menyediakan bahan bacaan.

Dari uraian di atas dapat diketahui tujuan dari perpustakaan umum adalah untuk memfasilitasi masyarakat sebagai sarana belajar sepanjang hayat dan meningkatkan minat baca masyarakat sehingga terbentuk masyarakat yang melek informasi.

2.3.3 Tugas Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum dalam penyelenggaraannya juga memiliki tugas yang harus dilakukan. Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 5) menyatakan tugas pokok perpustakaan umum adalah menyediakan, mengolah,

memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan.

Standar Nasional Indonesia (SNI 7495, 2009, 3), menyatakan tugas perpustakaan umum adalah:

1. Menyediakan sarana pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini.

2. Menyediakan sarana pendidikan seumur hidup.

3. Menunjang sistem pendidikan formal, non formal dan informal.

4. Menyediakan sarana pengembangan kreativitas diri anggota masyarakat.

5. Menunjang terselenggaranya pusat budaya masyarakat setempat sehingga aspirasi budaya lokal dapat terpelihara dan berkembang dengan baik.

6. Mendayagunakan koleksi termasuk akses informasi koleksi perpustakaan lain serta berbagai situs Web.

7. Menyelenggarakan kerja sama dan membentuk jaringan Informasi.

8. Menyediakan fasilitas belajar dan membaca.

9. Menfasilitasi pengembangan literasi informasi dan komputer.

10. Menyelenggarakan perluasan layanan antara lain melalui perpustakaan keliling.

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 13) ada beberapa tugas perpustakaan umum yaitu :

1. Perpustakaan umum disediakan oleh pemerintah dan massyarakat untuk melayani kebutuhan bahan pustaka untuk masyarakat

2. Perpustakaan umum menyediakan bahan pustaka yang dapat menumbuhkan kegairahan masyarakat untuk belajar dan membaca sedini mungkin

3. Mendorong masyarakat untuk terampil memilih bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya dalam meningkatkan pengetahuan untuk menunjang pendidikan formal, nonformal dan informal

4. Menyediakan aneka ragam bahan pustaka yang bermanfaat untuk dibaca agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat yang layak sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.

Sehubungan dengan pendapat di atas dalam buku Pedoman Penyelengaraan Perpustakaan Umum (2006, 6), Tugas Utama perpustakaan yaitu : 1. Menyediakan, menyiapkan, mengelola, dan memelihara koleksi bahan pustaka siap pakai serta sarana informasi lainnya yang sesuai keperluan Pemerintah Daerah dan warga masyarakatnya.

2. Mendayagunakan koleksi, berupa penyediaan sistem layanan, penyiapan tenaga manusia, penyediaan sarana dan prasarana serta menginformasikan/mempromosikan koleksi dan jasa kepada masyarakat.

3. Melaksanakan layanan kepada masyarakat pemakainya.

4. Bekerjasama dengan perpustakaan lain dalam rangka pemanfaatan koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan secara bersama-sama untuk kepentingan masing-masing.

5. Menjalani hubungan baik dengan pihak pimpinan pembina, mitra kerja dan unit-unit kerja terkait untuk kelancaran pelaksanaan tugas pelayanan.

6. Memasyarakatkan perpustakaan.

7. Melakukan pengajian pengembangan.

8. Melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan profesi.

9. Melaksanakan pendidikan masyarakat pemakainya.

10. Melaksanakan pengelolaan/manajemen dan tata usaha, termasuk pengembangan staf dan pegawai serta peningkatan sarana dan prasarana.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan adalah menyediakan, mengelola dan memelihara koleksi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat.

2.4 Sarana dan Prasarana Perpustakaan Umum

Sarana prasarana merupakan kebutuhan yang wajib dimiliki oleh perpustakaan untuk melakukan seluruh kegiatannya. Sarana dan prasarana diperlukan sebagai penunjang kegiatan pelayanan perpustakaan. Sarana dan prasarana perpustakaan juga bisa menjadi daya tarik bagi pengguna untuk datang

ke perpustakaan. Menurut Sutarno (2006, 122) menyatakan bahwa sarana dan prasarana adalah semua peralatan dan perlengkapan pokok dan penunjang agar kegiatan perpustakaan dapat berjalan dengan baik.

Menurut Widodo (2009,3) menyatakan bahwa sarana perpustakaan adalah peralatan dan perabot yang diperlukan untuk mempermudah pelaksanaan tugas perpustakaan antara lain berupa peralatan ruang pengolahan, peralatan ruang koleksi, peralatan ruang pelayanan, peralatan akses informasi.

Sedangkan Syamrilaode (2011,5) menyatakan bahwa prasarana perpustakaan adalah fasilitas mendasar/penunjang utama terselenggaranya perpustakaan antara lain berupa lahan dan bangunan atau ruang perpustakaan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana penting dalam penyelenggaraan perpustakaan. Sarana sendiri merupakan perlatan yang digunakan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Sedangkan prasarana merupakan lahan dan bangunan atau ruang perpustakaan.

2.4.1 Gedung Perpustakaan

Gedung merupakan faktor penting dalam penyelenggaraan perpustakaan.

Gedung perpustakaan merupakan tempat berlangsungnya seluruh kegiatan pelayanan. Tanpa gedung perpustakaan maka kegiatan akan tersendat, koleksi perpustakaan akan mudah rusak karena terkena air hujan dan sinar matahari secara langsung.

Bangunan gedung menurut UU No. 8 Tahun 2002 adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik

untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya maupun kegiatan khusus.

Buku Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2006, 49) menyatakan bahwa gedung perpustakaan umum dapat terdiri dari 3 ukuran luas yaitu :

1. Gedung untuk perpustakaan umum kabupaten/kota sekurang-kurangnya luas bangunannya 200 m2 dengan luas tanah sekitar 2000 m2.

2. Gedung untuk perpustakaan kecamatan sekurang-kurangnya luas bangunanya 120 m2 dengan luas tanah sekitar 1000 m2.

3. Gedung untuk perpustakaan desa/kelurahan sekurang-kurangnya luas bangunannya 8 m2 dengan luas tanah 500 m2.

Dalam mendirikan gedung perpustakaan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, seperti yang terdapat pada Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2006, 13), aspek yang perlu di perhatikan pada unsur gedung adalah:

1. Lokasi harus di tempat yang mudah dan ekonomis didatangi masyarakat pemakainya.

2. Luas tanah (jika perpustakaan menempatkan gedung sendiri), diusahakan cukup menampung bangunan gedung, dengan kemungkinan perluasan dalam kurung waktu 10-15 tahun mendatang.

3. Ruangan-ruangan lain di perlukan, seperti gudang dan kamar kecil.

4. Konstruksi, mencakup aspek kekuatan dan pengamanan.

5. Cahaya dalam ruangan harus terang.

6. Kesejukan di dalam ruangan dan pertukaran udara/ventilasi harus baik.

7. Lingkungan yang tenang.

8. Tempat parkir kendaraan secukupnya 9. Taman, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gedung perpustakaan dibuat dengan standar yang telah ditetapkan dengan memperhatikan aspek-aspek tertentu agar gedung perpustakaan sesuai dengan yang diharapkan.

2.5 Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan adalah daya jual dari suatu perpustakaan. Koleksi perpustakaan merupakan faktor yang mempengaruhi suatu perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik atau tidak. Agar perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik maka perpustakaan harus memenuhi kebutuhan informasi penggunanya. Menurut Cahyono (2014,35) menyatakan koleksi perpustakaan adalah semua semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah dan dilayankan.

Koleksi bahan pustaka yang memadai, baik mengenai jumlah, jenis dan mutunya, yang tersusun rapi, dengan sistem pengolahan serta kemudahan akses/

temu kembali informasi, merupakan salah satu kunci keberhasilan perpustakaan.

Oleh sebab itu perpustakaan perlu memiliki koleksi bahan pustaka yang lengkap sesuai dengan misi, visi, perencanaan strategi, kebijakan, dan tujuannya. Koleksi bahan pustaka yang baik adalah dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan pembaca. (Suwarno 2009, 109).

Perpustakaan umum memiliki beragam kelompok pengguna yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kelompok pengguna perpustakaan yang berbeda-beda mendorong perpustakaan memiliki koleksi yang beraneka ragam menyesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Seiring dengan perkembangan teknologi, koleksi perpustakaan makin beraneka ragam. Koleksi perpustakaan bukan hanya koleksi yang tercetak saja namun juga koleksi elektronik. Pada buku pedoman umum penyelenggaraan perpustakaan umum (2000,19) menyatakan bahwa koleksi perpustakaan mencakup bahan pustaka

tercetak seperti buku, majalah dan surat kabar, bahan pustaka terekam dan elektronik seperti kaset, video piringan (disk) dan lain-lain.

Selain itu, menurut Sutarno (2006, 54), secara umum “koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan ada dua bagian utama yaitu:

1. Bahan pustaka yang tercetak, yang termasuk dalam kelompok ini adalah buku teks, surat kabar, majalah, bulletin, pamplet, kamus, ensiklopedi, direktori, almanak, indeks, bibliografi, buku tahunan, buku pedoman, dan lain-lain.

2. Bahan pustaka yang terekam, yang termasuk dalam kelompok ini adalah slide, kaset, audio, kaset video, film strip, CD, VCD, Film, dan lain-lain”.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa koleksi perpustakaan memegang peranan penting dalam memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna.

Dengan beragam kelompok pengguna, koleksi perpustakaan harus mempunyai beragam judul dan subjek. Koleksi perpustakaan juga harus mengikuti perkembangan jaman agar tidak ditinggalkan penggunanya.

2.5.1 Jenis-Jenis Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan ada beragam jenisnya terlebih perpustakaan umum yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum tentu memiliki beragam jenis koleksi.

Jenis koleksi diperpustakaan umum juga disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Koleksi perpustakaan umum harus mencakup semua disiplin ilmu sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.

Darmono (2007, 65) menyatakan yang termasuk jenis koleksi perpustakaan adalah sebagai berikut:

1. Buku, meliputi beberapa jenis buku teks, buku penunjang, buku-buku jenis fiksi serta buku bergambar dan buku populer (umum).

2. Koleksi referensi, seperti kamus, ensiklopedia, almanak, direktori.

3. Sumber geografi.

4. Jenis serial (terbitan berkala) seperti majalah, tabloid.

5. Bahan mikro, seperti microfilm, mikrofice, (carik mikro)

6. Bahan pandang dengar (audio visual) seperti video, kaset piringan hitam, Compack Disk-Read Only Memory (CD-ROM), VCD, Slide, film.

Selain itu, menurut Sutarno (2006, 71), pengelompokkan bahan pustaka di perpustakaan terdiri atas :

1. Kelompok bahan pustaka umum.

2. Kelompok bahan pustaka rujukan (referensi).

3. Kelompok bahan pustaka berkala (majalah dan surat kabar).

4. Kelompok bahan pustaka pandang dengar (audio visual).

5. Kelompok bahan pustaka terekam dan elektronik seperti film, kaset, video, dan lain-lain.

6. Kelompok bahan pustaka yang disesuaikan dengan kelompok pembaca, misalnya untuk anak-anak, remaja, dewasa, dan lain-lain.

7. Kelompok bahan pustaka tertentu, misalnya untuk penelitian dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum memiliki berbagai jenis koleksi. Jenis koleksi perpustakaan yang beragam dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang berbeda-beda. Koleksi yang disediakan tentunya harus bisa memenuhi berbagai kebutuhan pengguna.

2.6 Layanan Perpustakaan Umum

Layanan perpustakaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan kepada pengguna dalam memanfaatkan informasi yang terdapat pada perpustakaan. Layanan perpustakaan dilakukan untuk mempermudah pengguna dalam memperoleh informasi. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 7495, 2009, 2) menyatakan bahwa layanan perpustakaan

merupakan jasa yang diberikan kepada pengguna sesuai dengan misi perpustakaan.

Darmono (2001, 134) menyatakan layanan perpustakaan adalah menawarkan semua bentuk koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada pemakai yang datang ke perpustakaan dan meminta informasi yang dibutuhkannya.

Menurut Sutarno (2006, 90), Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama di setiap perpustakaan. Layanan tersebut merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat, dapat memberikan rasa senang/puas kepada pemakai dan sekaligus merupakan barometer keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan. Bentuk riil layanan tersebut antara lain:

1. Layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakai.

2. Berorientasi kepada pemakai.

3. Berlangsung cepat waktu dan tepat sasaran.

4. Berjalan mudah dan sederhana.

5. Murah dan ekonomis.

6. Menarik dan menyenangkan, dan menimbulkan rasa simpati.

7. Bervariasi dan mengundang rasa ingin kembali.

8. Bersifat informatif, membimbing, dan mengarahkan.

9. Mengembangkan hal-hal yang baru/inovatif.

10. Mampu berkompetisi dengan layanan di bidang lain.

11. Mampu menumbuhkan rasa percaya bagi pemakai dan bersifat mandiri.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa layanan perpustakaan merupakan hal yang penting dan harus dilakukan semaksimal mungkin agar dapat memuaskan pengguna perpustakaan dan memungkinkan pengguna tersebut untuk datang kembali.

2.7 Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota 2.7.1 Standar Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari suatu lembaga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan.

Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek).

Menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011, 5) standar sarana layanan dan sarana kerja meliputi:

1. Rak buku (30 buah) 9. Perangkat komputer (5 unit) 10. Alat baca tunanetra (5 unit) 11. AC (1 buah)

12. Rak display buku baru (1 buah) 13. Rak surat kabar (2 buah) 14. Jaringan internet

15. Lemari penitipan tas (2 buah).

Standar gedung perpustakaan kabupaten/kota menurt Standar Nasional Perpustakaan (2011,4) meliputi:

1. Luas gedung sekurang-kurangnya 0,008 m2 per kapita dikalikan jumlah penduduk

2. Memenuhi standar kesehatan, keselamatan, kenyamanan, ketenangan, keindahan, pencahayaan, keamanan, dan sirkulasi udara.

3. Perencanaan gedung memungkinkan pengembangan fisik.

4. Memenuhi aspek teknologi, ergonomik, konstruksi, lingkungan,

5. Berbentuk permanen.

6. Memperhatikan kekuatan dan memenuhi persyaratan konstruksi lantai untuk ruang koleksi perpustakaan (minimal 400 kg/m²).

7. Dilengkapi atau difasilitasi sarana kepentingan umum seperti toilet, dan area parkir.

Selain gedung perpustakaan lahan/lokasi juga harus diperhitungkan.

Standar lahan/lokasi perpustakaan menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011,5) yaitu:

1. Berada di lokasi yang mudah dilihat, dikenal dan dijangkau masyarakat.

2. Di bawah kepemilikan atau kekuasaan pihak pemerintah daerah.

3. Memiliki status hukum yang jelas.

4. Jauh dari lokasi rawan bencana.

Lahan/lokasi perpustakaan merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kunjungan perpustakaan. Lokasi perpustakaan yang ideal sebaiknya terletak di tengah-tengah kota yang merupakan jalan utama sehingga mudah

Lahan/lokasi perpustakaan merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kunjungan perpustakaan. Lokasi perpustakaan yang ideal sebaiknya terletak di tengah-tengah kota yang merupakan jalan utama sehingga mudah