• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI PEMUSTAKA TENTANG DINAS PERPUSTAKAAN KOTA BINJAI SEBAGAI SUMBER INFORMASI SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERSEPSI PEMUSTAKA TENTANG DINAS PERPUSTAKAAN KOTA BINJAI SEBAGAI SUMBER INFORMASI SKRIPSI"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI PEMUSTAKA TENTANG DINAS PERPUSTAKAAN KOTA BINJAI SEBAGAI

SUMBER INFORMASI

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Studi Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam

Bidang Studi Ilmu Perpustakaan

Oleh:

PUTU GEDE KRISNA YUDHI KARTIKA NIM. 160723006

DEPARTEMEN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(2)

ABSTRAK

Kartika, Putu Gede Krisna Yudhi. 2018. Persepsi Pemustaka Tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai Sebagai Sumber Informasi.

Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan Kota Binjai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai sebagai sumber informasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.

Metode pengumpulan data menggunakan angket, observasi dan studi kepustakaan.

Populasi penelitian ini adalah anggota perpustakan di Dinas Perpustakaan Kota Binjai yang berjumlah 296 orang. Sampel dari penelitian ini ditentukan menggunakan rumus slovin, diperoleh sebanyak 75 orang responden. Hasil dari data yang diperoleh kemudian diolah dengen menyeleksi data dan persentase data.

Untuk mengukur persepsi peneliti menggunakan skala likert yang bertujuan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi pemustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap sarana dan prasarana memperoleh skor 3,48 yaitu memuaskan. Persepsi pemustaka terhadap koleksi perpustakaan memperoleh skor 3,32 yaitu cukup memuaskan. Persepsi pemustaka terhadap layanan perpustakaan memperoleh skor 3,05 yaitu cukup memuaskan. Persepsi pemustaka terhadap tenaga perpustakaan memperoleh skor 3,48 yaitu memuaskan. Hasil penelitian secara keseluruhan mengenai persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai sebagai sumber informasi adalah cukup memuaskan dengan skor 3,32.

Kata Kunci: Persepsi, perpustakaan umum, sarana dan prasarana, koleksi perpustakan, layanan perpustakaan, tenaga perpustakaan

(3)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”Persepsi Pemustaka Tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai Sebagai Sumber Informasi”.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan sarjana dalam Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak terutama dari keluarga tercinta yaitu Bapak penulis I Ketut Karti, S.KM, S.IPI., Ibu penulis Ni Wayan Suti S.Pd., serta adik penulis Kadek Saraswati Widya Kartika. Selain itu penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum., selaku rektor Universitas Udayana.

2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Ishak, S.S, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara serta dosen pembimbing yang telah memberi masukan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

(4)

4. Ibu Laila Hadri Nasution, S.Sos, M.Hum., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera.

5. Ibu Dra. Zaslina Zainuddin, M.Pd., selaku dosen penguji I yang telah memberi masukan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

6. Ibu Dra. Eva Rabbita, M.Hum., selaku dosen penguji II yang telah memberi masukan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

7. Seluruh staff pengajar beserta staff administrasi Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera yang telah mendidik dan membantu penulis selama masa perkuliahan.

8. Fernando Josua Lumbantobing yang telah memberikan penulis dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman-teman jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Ekstensi khususnya angkatan 2016 yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman lintas jurusan dan angkatan serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah memberikan bantuan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan baik dari segi isi, bahasa maupun penulisannya. Maka dari itu penulis mengharapkan tanggapan, kritikan dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

(5)

Akhir kata, penulis mengharapkan agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, Januari 2018

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Ruang Lingkup... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

2.1 Persepsi ... 6

2.1.1 Pengertian Persepsi ... 6

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 7

2.2 Pemustaka ... 8

2.3 Perpustakaan Umum ... 10

2.3.1 Pengertian Perpustakaan Umum ... 10

2.3.2 Tujuan Perpustakaan Umum ... 11

2.3.3 Tugas Perpustakaan Umum ... 12

2.4 Sarana dan Prasarana Perpustakaan Umum ... 14

2.4.1 Gedung Perpustakaan ... 15

2.5 Koleksi Perpustakaan ... 17

2.5.1 Jenis-Jenis Koleksi Perpustakaan ... 18

2.6 Layanan Perpustakaan ... 19

2.7 Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota ... 21

2.7.1 Standar Sarana dan Prasarana ... 21

2.7.2 Standar Koleksi ... 23

2.7.3 Standar Layanan Perpustakaan ... 24

2.7.4 Standar Tenaga Perpustakaan ... 26

BAB III METODE PENELITIAN ... 28

3.1 Metode Penelitian ... 28

3.2 Lokasi Penelitian ... 28

3.3 Populasi dan Sampel ... 29

3.3.1 Populasi ... 29

3.3.2 Sampel ... 30

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 31

3.4.1 Kisi-Kisi Angket ... 32

(7)

3.5 Jenis dan Sumber Data ... 32

3.6 Pengukuran Persepsi ... 33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36

4.1 Identitas Responden ... 36

4.1.1 Jenis Kelamin Responden ... 36

4.1.2 Pekerjaan Responden ... 37

4.2 Persepsi Pemustaka Terhadap Sarana dan Prasarana ... 37

4.3 Persepsi Pemustaka Terhadap Koleksi ... 46

4.4 Persepsi Pemustaka Terhadap Layanan Perpustakaan ... 56

4.5 Persepsi Pemustaka Terhadap Tenaga Perpustakaan ... 66

4.6 Rangkuman Hasil Penelitian ... 75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

5.1 Kesimpulan ... 77

5.2 Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Data Anggota Perpustakaan ... 29

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Strata ... 31

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Angket ... 32

Tabel 3.4 Pengukuran Persepsi ... 34

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Responden ... 36

Tabel 4.2 Pekerjaan Responden ... 37

Tabel 4.3 Lokasi Perpustakaan ... 38

Tabel 4.4 Gedung Perpustakaan ... 39

Tabel 4.5 Penerangan Ruang Baca ... 40

Tabel 4.6 Halaman Parkir Perpustakaan ... 41

Tabel 4.7 Sirkulasi/Ventilasi Udara ... 42

Tabel 4.8 Perabotan dan Perlengkapan Perpustakaan ... 43

Tabel 4.9 Rak Buku ... 44

Tabel 4.10 Ac/Kipas Angin ... 45

Tabel 4.11 Rekapitulasi Skor Rata-Rata Persepsi Pemustaka Terhadap Sarana dan Prasarana ... 46

Tabel 4.12 Kualitas Fisik Koleksi ... 47

Tabel 4.13 Koleksi yang Relevan... 48

Tabel 4.14 Koleksi Mudah Ditemukan ... 49

Tabel 4.15 Pengelompokan Koleksi ... 50

Tabel 4.16 Koleksi Up To Date... 51

Tabel 4.17 Koleksi Elektronik (E-book, E-journal) ... 52

Tabel 4.18 Koleksi Fiksi ... 53

Tabel 4.19 Jumlah Koleksi yang Dapat Dipinjam ... 54

Tabel 4.20 Rekapitulasi Skor Rata-Rata Persepsi Pemustaka Terhadap Koleksi ... 55

Tabel 4.21 Suasana Pada Bagian Layanan Sirkulasi ... 56

Tabel 4.22 Pelayanan Sirkulasi Sudah Baik ... 57

Tabel 4.23 Waktu Pelayanan Sirkulasi... 58

Tabel 4.24 Layanan Referensi ... 59

Tabel 4.25 Internet Cepat ... 60

Tabel 4.26 Sistem Layanan Terbuka ... 61

Tabel 4.27 Jam Layanan Perpustakaan ... 62

Tabel 4.28 Pendaftaran Anggota Baru ... 63

Tabel 4.29 Rekapitulasi Skor Rata-Rata Persepsi Pemustaka Terhadap Layanan ... 64

Tabel 4.30 Petugas Perpustakaan Ramah ... 66

Tabel 4.31 Petugas Perpustakaan Berpakaian Rapi ... 67

(9)

Tabel 4.32 Mampu Memberikan Informasi yang Dibutuhkan ... 68

Tabel 4.33 Berperilaku Sopan ... 69

Tabel 4.34 Petugas Perpustakaan Bertanggung Jawab ... 70

Tabel 4.35 Terbuka Terhadap Masukan dan Kritikan ... 71

Tabel 4.36 Tanggap Dalam Menawarkan Bantuan ... 72

Tabel 4.37 Berkenan Membantu Pengguna yang Kesulitan ... 73

Tabel 4.38 Rekapitulasi Skor Rata-Rata Persepsi Pemustaka Terhadap Tenaga Perpustakaan ... 74

Tabel 4.39 Rangkuman Hasil Penelitian ... 75

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket Penelitian

Lampiran 2 Tabulasi Data Hasil Penelitian

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Suatu negara atau bangsa bisa maju dalam peradaban dan kebudayaan seiring dengan tingkat kecerdasan warga negaranya dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tempat yang dapat dijadikan pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dan kebudayaan tersebut salah satunya adalah perpustakaan. Menurut Sulistyo Basuki (2010) menyatakan perpustakaan merupakan kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemakai.

Dengan kehadiran perpustakaan kita tidak hanya dapat menjumpai buku yang berisi ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menemukan berbagai jenis informasi dari berbagai sumber tekstual maupun non tekstual. Terlebih saat ini kita telah memasuki era globalisasi dengan keberadaan teknologi yang terus berkembang sehingga peran perpustakaan sangat diperlukan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Terdapat berbagai jenis perpustakaan yang ada di masyarakat, salah satunya adalah perpustakaan umum.

Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000, 30) perpustakaan umum adalah perpustakan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum. Perpustakaan umum berdiri sebagai lembaga yang diadakan untuk dan oleh masyarakat. Setiap warga dapat

(12)

mempergunakan perpustakaan tanpa dibedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama.

Pada hakekatnya, perpustakaan umum mempunyai peran strategis dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, sebagai sarana belajar seumur hidup dan mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang berilmu, sehingga dapat mendukung penyelenggaraan pendidikan guna mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, perpustakaan umum berusaha untuk memasyarakatkan fungsi dan kegunaan perpustakaan dengan cara mendekatkan diri kepada masyarakat. Peran perpustakaan umum sebagai sumber informasi sangat penting dalam menciptakan masyarakat yang literasi karena berfungsi sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan.

Berbagai upaya yang dilakukan agar perpustakaan mampu menarik minat masyarakat datang ke perpustakaan, yaitu dengan membenahi diri dalam segala aspek, mulai dari menentukan lokasi perpustakaan, penataan ruangan perpustakaan, ketersediaan koleksi, layanan, serta kemampuan pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemustaka.

Pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Pemustaka harus dilayani dengan baik agar tercipta persepsi yang positif terhadap perpustakaan.

Perpustakaan umum Pemerintah Kota Binjai berdiri sejak tahun 2007 dengan adanya PERDA No.19 tahun 2007. Sebelumnya perpustakaan hanyalah sebagai seksi yang berada dibawah naungan kantor Arsip, Perpustakaan dan Pengolahan Data Elektronik. Sebelumnya pernah berada dinaungan Bagian Orta

(13)

(Organisasi Tata Laksana Pemerintahan) itu hanya sebagai seksi yang berada disekretariat Walikota Binjai. Namun saat ini sudah berubah menjadi Dinas Perpustakaan Kota Binjai yang beralamat di Jalan Bandung No. 17A, Rambung Barat, Binjai Selatan dengan lahan seluas 700m2.

Dari observasi awal yang penulis lakukan, lokasi Dinas Perpustakaan Kota Binjai saat ini berdekatan dengan Rumah Sakit Tentara Binjai. Sarana yang dimiliki oleh Dinas Perpustakaan Kota Binjai yaitu rak buku 28 buah, ac 4 buah, meja 4 buah, kursi 8 buah, rak majalah 2 buah, 1 loker untuk menyimpan tas, 1 meja sirkulasi. Jika mengacu pada Standar Nasional Perpustakaan maka sarana yang dimiliki belum memenuhi standar untuk memberikan pelayanan kepada 264.687 penduduk Binjai. (sumber: badan pusat statistik kota Binjai tahun 2015)

Dinas Perpustakaan Kota Binjai memiliki 18.494 eksemplar koleksi dan 11.374 judul. Dinas Perpustakaan Kota Binjai belum menggunakan sistem otomasi perpustakaan, bagi pemustaka yang ingin mencari buku akan kesusahan untuk mencarinya sendiri, waktu yang dibutuhkan untuk mencari satu buku juga cukup lama.

Tenaga perpustakaan di Dinas Perpustakaan Kota Binjai berjumlah 25 orang dengan rincian, 16 orang sebagai PNS dan 9 orang honorer. Pegawai yang lulusan Ilmu Perpustakaan berjumlah 2 orang, yaitu 1 orang lulusan S1 Ilmu Perpustakaan dan 1 orang lulusan D3 Perpustakaan. Jika mengacu pada Standar Nasional Perpustakaan maka jumlah tenaga perpustakaan masih kurang memadai.

Beradasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai sebagai sumber informasi.

(14)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah perpsepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai sebagai sumber informasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai sebagai sumber informasi.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini dapat dibagi menjadi 3 yaitu 1. Dinas Perpustakaan Kota Binjai

Dapat dijadikan evaluasi untuk lebih meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.

2. Penulis

Dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan penulis terhadap perpustakaan umum.

3. Penelitian Lanjutan

Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan untuk melakukan penelitian yang sama dalam aspek yang berbeda mengenai perpustakaan umum.

(15)

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini terbatas mengenai persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai mengacu pada Standard Nasional Perpustakaan Umum Kabupaten/Kota yaitu dilihat dari sarana prasarana, koleksi, layanan dan tenaga perpustakaan.

(16)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Persepsi

2.1.1 Pengertian persepsi

Gambaran, pandangan, ataupun tanggapan sering dinyatakan sebagai persepsi, karena dalam kata persepsi akan terdapat tanggapan seseorang terhadap sesuatu hal ataupun objek yang dilihat, didengar, disentuh, ataupun dirasakan dan diterima tentang sesuatu hal yang kemudian seseorang akan menseleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasikan informasi yang diterimanya menjadi suatu gambaran yang berarti. Berbagai pandangan/pendapat tentang persepsi menurut beberapa sumber literatur menyatakan sebagai berikut :

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Ed. 3 (2005, 880), persepsi diartikan sebagai 1). tanggapan (penerimaan langsung dari sesuatu; 2). proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya.

Sunaryo (2004, 93) menyatakan persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.

Borkowski (2013, 54) menyatakan persepsi adalah proses organisme menginterpretasikan dan mengatur sensasi untuk menghasilkan pengalaman berharga tentang dunia. Pendapat lain dinyatakan oleh Jalaludin (2003, 51) yang menyatakan persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan

(17)

pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensori stimuli).

Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori.

Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi itu merupakan proses perlakuan individu yaitu pemberian tanggapan, arti, gambaran, atau penginterpretasian terhadap apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan oleh indranya dalam bentuk sikap, pendapat, dan tingkah laku atau disebut sebagai perilaku individu yang sifatnya subjektif, karena tergantung pada keadaan dan kemampuan tiap-tiap individu, sehingga akan ditafsirkan berbeda oleh individu yang satu dengan yang lain.

2.1.2 Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Mubarak dan Chayatin (2009) persepsi atau pandangan merupakan salah satu dasar-dasar komunikasi yang tergantung dari objek yang diperhatikan, tingkat pendidikan, tingkat sosial dan pekerjaan dari sasaran untuk berusaha menyamakan persepsi.

Arisandy (2004, 26) terdapat empat faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi, antara lain:

1. Perhatian

Terjadinya persepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada disekitar kita dapat kita tangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian kita hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita.

(18)

2. Kebutuhan

Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan menetap maupun kebutuhan sesaat.

3. Kesediaan

Adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dulu.

4. Sistem nilai

Sistem nilai yang berlaku dalam diri seseorang atau masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi seseorang.

Selain itu, Sobur (2003, 23) menyebutkan, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang dapat dikategorikan sebagai berikut yaitu,

1. Faktor fungsional, dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seorang individu.

2. Faktor struktural, berarti bahwa faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu.

3. Faktor situasional. Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa non verbal.

4. Faktor personal, yang terdiri atas pengalaman, motivasi, kepribadian.

2.2 Pemustaka

Menurut Undang-undang RI. No. 43 tahun 2007 menyatakan bahwa pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perorangan, kelompok orang, masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.

Menurut Suwarno (2009, 80), pemustaka adalah pengguna fasilitas yang disediakan perpustakaan baik koleksi maupun buku (bahan pustaka maupun fasilitas lainnya). Pemustaka berbagai macam jenisnya, ada mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat pada umumnya bergantung jenis perpustakaan yang ada.

(19)

Sedangkan menurut Sutarno (2008, 150) pemakai perpustakaan adalah kelompok orang dalam masyarakat yang secara intensif mengunjungi dan memakai layanan dan fasilitas perpustakaan.

Menurut pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemustaka adalah mereka yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya.

Dalam bidang usaha jasa, konsep pemustaka adalah raja ini telah banyak diterapkan. Hal ini didukung oleh pendapat Ahmad (2012, 37) yang menyatakan

“pelanggan layaknya seorang raja”. Ini berarti menjadikan pelanggan sebagai pusat organisasi, sehingga pelanggan menggerakkan apa yang dikerjakan oleh sebuah usaha. Ahmad (2012, 37), menyatakan “fakta menunjukkan bahwa organisasi dapat memperlihatkan kinerja yang sangat baik manakala dapat melaksanakan apa yang disebut sebagai keramahan pelanggan”.

Memenuhi kebutuhan informasi pemustaka bagi perpustakaan merupakan hal yang manarik. Hal ini karena perpustakaan melayani komunitas yang terdiri atas individu-individu yang memiliki kebutuhan yang beragam. Disamping itu, kebutuhan informasi pemustaka umunya selalu berubah dan berkembang mengikuti perkembangan individu itu sendiri maupun lingkungannya.

Munculnya kebutuhan informasi yang beragam dikarenakan adanya faktor-faktor yang melatar belakangi atau mempengaruhi kebutuhan informasi tiap pemustaka. Ahmad (2012, 54) mengungkapkan bahwa kebutuhan informasi pemustaka tergantung pada :

1. Aktivitas pekerjaan(work activity)

2. Disiplin/bidang yang diminati( disciplin/fiel/area of interst) 3. Ketersediaan fasilitas (availability of facilities)

(20)

5. Faktor-faktor motifasi terhadap kebutuhan informasi ( motivation factors for information needs)

6. Keperlun untukmmengambil keputusan (need to take decision) 7. Keperluan untuk mencari ide-ide baru ( need to seek new ideas)

8. Keperluan untuk memvalidasi yang benar ( need to validate the correct ones)

9. Keperluan untuk membuat kontribusi professional (need to make professional contribution)

10. Keperluan untuk menentukan prioritas penemuan dll (need to establish proiority far discovery etc)

2.3 Perpustakaan Umum

2.3.1 Pengertian Perpustakaan Umum

Salah satu jenis perpustakaan yang dapat dimanfaatkan dan menyediakan beragam sumber daya informasi yang disesuaikan dengan keberagaman penggunanya adalah perpustakaan umum. Menurut Sutarno (2006, 38) yang dimaksud dengan perpustakaan umum adalah perpustakaan yang didanai dari sumber yang berasal dari masyarakat seperti pajak dan retribusi, yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan. Hal ini berarti perpustakaan umum memberikan dan melayani kebutuhan masyarakat secara gratis, yang didukung dengan menggunakan dana umum.

Menurut Sulistyo-Basuki (2010, 2.7) perpustakaan umum adalah sebuah perpustakaan yang didirikan dan dibiayai oleh pemerintah daerah atau dalam kasus tertentu oleh pemerintah pusat atau badan lain yang diberi wewenang untuk bertindak atau bertindak atas nama badan, tersedia bagi masyarakat bagi siapa yang ingin menggunakannya tanpa bias atau diskriminasi.

Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000, 30) perpustakaan umum adalah perpustakan yang menghimpun koleksi buku, bahan cetakan serta rekaman lain untuk kepentingan masyarakat umum. Perpustakaan umum berdiri sebagai lembaga yang diadakan untuk dan oleh masyarakat. Setiap warga dapat mempergunakan perpustakaan tanpa dibedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama”.

(21)

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang dibiayai oleh pemerintah dan diperuntukkan bagi masyarakat umum tanpa membedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama.

2.3.2 Tujuan Perpustakaan Umum

Pada dasarnya setiap lembaga atau organisasi pasti memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan merupakan keinginan atau impian yang harus diwujudkan oleh suatu lembaga atau organisasi. Menurut Hermawan dan Zen (2006, 31) mengemukakan tujuan perpustakaan umum adalah:

1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk mengunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraannya.

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi.

4. Bertindak selaku agen kultural, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya dan,

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang hayat.

Menurut Sutoyo dan Santoso (2001, 185) tujuan perpustakaan umum adalah untuk:

1. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca khususnya, serta mendayagunakan budaya tulisan dalam segala sector kehidupan pada umumnya.

2. Mengembangkan kemampuan mencari, mengolah serta memanfaatkan informasi.

3. Mendidik masyarakat agar dapat memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna.

4. Meletakkan dasar-dasar kearah belajar mandiri.

(22)

Sehubungan dengan uraian di atas Sulistyo-Basuki (2010) menyatakan tujuan perpustakaan umum sebagai berikut :

1. Pendidikan, perpustakaan umum bertugas memelihara dan menyediakan sarana untuk pengembangan perorangan atau kelompok pada semua tingkat kemampuan pendidikan.

2. Informasi, perpustakaan menyediakan kemudahan bagi pemakai berupa akses yang cepat terhadap informasi yang tepat mengenai seluruh jutaan pengetahuan manusia.

3. Kebudayaan, perpustakaan merupakan pusat kehidupan kebudayaan dan secara aktif mempromosikan partisipasi dan apresiasi semua bentuk seni.

4. Rekreasi, perpustakaan memainkan peran penting dalam mendorong penggunaan secara aktif rekreasi dan waktu senggang dengan menyediakan bahan bacaan.

Dari uraian di atas dapat diketahui tujuan dari perpustakaan umum adalah untuk memfasilitasi masyarakat sebagai sarana belajar sepanjang hayat dan meningkatkan minat baca masyarakat sehingga terbentuk masyarakat yang melek informasi.

2.3.3 Tugas Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum dalam penyelenggaraannya juga memiliki tugas yang harus dilakukan. Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 5) menyatakan tugas pokok perpustakaan umum adalah menyediakan, mengolah,

(23)

memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan.

Standar Nasional Indonesia (SNI 7495, 2009, 3), menyatakan tugas perpustakaan umum adalah:

1. Menyediakan sarana pengembangan kebiasaan membaca sejak usia dini.

2. Menyediakan sarana pendidikan seumur hidup.

3. Menunjang sistem pendidikan formal, non formal dan informal.

4. Menyediakan sarana pengembangan kreativitas diri anggota masyarakat.

5. Menunjang terselenggaranya pusat budaya masyarakat setempat sehingga aspirasi budaya lokal dapat terpelihara dan berkembang dengan baik.

6. Mendayagunakan koleksi termasuk akses informasi koleksi perpustakaan lain serta berbagai situs Web.

7. Menyelenggarakan kerja sama dan membentuk jaringan Informasi.

8. Menyediakan fasilitas belajar dan membaca.

9. Menfasilitasi pengembangan literasi informasi dan komputer.

10. Menyelenggarakan perluasan layanan antara lain melalui perpustakaan keliling.

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 13) ada beberapa tugas perpustakaan umum yaitu :

1. Perpustakaan umum disediakan oleh pemerintah dan massyarakat untuk melayani kebutuhan bahan pustaka untuk masyarakat

2. Perpustakaan umum menyediakan bahan pustaka yang dapat menumbuhkan kegairahan masyarakat untuk belajar dan membaca sedini mungkin

3. Mendorong masyarakat untuk terampil memilih bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya dalam meningkatkan pengetahuan untuk menunjang pendidikan formal, nonformal dan informal

4. Menyediakan aneka ragam bahan pustaka yang bermanfaat untuk dibaca agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat yang layak sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.

(24)

Sehubungan dengan pendapat di atas dalam buku Pedoman Penyelengaraan Perpustakaan Umum (2006, 6), Tugas Utama perpustakaan yaitu : 1. Menyediakan, menyiapkan, mengelola, dan memelihara koleksi bahan pustaka siap pakai serta sarana informasi lainnya yang sesuai keperluan Pemerintah Daerah dan warga masyarakatnya.

2. Mendayagunakan koleksi, berupa penyediaan sistem layanan, penyiapan tenaga manusia, penyediaan sarana dan prasarana serta menginformasikan/mempromosikan koleksi dan jasa kepada masyarakat.

3. Melaksanakan layanan kepada masyarakat pemakainya.

4. Bekerjasama dengan perpustakaan lain dalam rangka pemanfaatan koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan secara bersama-sama untuk kepentingan masing-masing.

5. Menjalani hubungan baik dengan pihak pimpinan pembina, mitra kerja dan unit-unit kerja terkait untuk kelancaran pelaksanaan tugas pelayanan.

6. Memasyarakatkan perpustakaan.

7. Melakukan pengajian pengembangan.

8. Melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan profesi.

9. Melaksanakan pendidikan masyarakat pemakainya.

10. Melaksanakan pengelolaan/manajemen dan tata usaha, termasuk pengembangan staf dan pegawai serta peningkatan sarana dan prasarana.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan adalah menyediakan, mengelola dan memelihara koleksi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat.

2.4 Sarana dan Prasarana Perpustakaan Umum

Sarana prasarana merupakan kebutuhan yang wajib dimiliki oleh perpustakaan untuk melakukan seluruh kegiatannya. Sarana dan prasarana diperlukan sebagai penunjang kegiatan pelayanan perpustakaan. Sarana dan prasarana perpustakaan juga bisa menjadi daya tarik bagi pengguna untuk datang

(25)

ke perpustakaan. Menurut Sutarno (2006, 122) menyatakan bahwa sarana dan prasarana adalah semua peralatan dan perlengkapan pokok dan penunjang agar kegiatan perpustakaan dapat berjalan dengan baik.

Menurut Widodo (2009,3) menyatakan bahwa sarana perpustakaan adalah peralatan dan perabot yang diperlukan untuk mempermudah pelaksanaan tugas perpustakaan antara lain berupa peralatan ruang pengolahan, peralatan ruang koleksi, peralatan ruang pelayanan, peralatan akses informasi.

Sedangkan Syamrilaode (2011,5) menyatakan bahwa prasarana perpustakaan adalah fasilitas mendasar/penunjang utama terselenggaranya perpustakaan antara lain berupa lahan dan bangunan atau ruang perpustakaan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana penting dalam penyelenggaraan perpustakaan. Sarana sendiri merupakan perlatan yang digunakan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Sedangkan prasarana merupakan lahan dan bangunan atau ruang perpustakaan.

2.4.1 Gedung Perpustakaan

Gedung merupakan faktor penting dalam penyelenggaraan perpustakaan.

Gedung perpustakaan merupakan tempat berlangsungnya seluruh kegiatan pelayanan. Tanpa gedung perpustakaan maka kegiatan akan tersendat, koleksi perpustakaan akan mudah rusak karena terkena air hujan dan sinar matahari secara langsung.

Bangunan gedung menurut UU No. 8 Tahun 2002 adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik

(26)

untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya maupun kegiatan khusus.

Buku Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2006, 49) menyatakan bahwa gedung perpustakaan umum dapat terdiri dari 3 ukuran luas yaitu :

1. Gedung untuk perpustakaan umum kabupaten/kota sekurang- kurangnya luas bangunannya 200 m2 dengan luas tanah sekitar 2000 m2.

2. Gedung untuk perpustakaan kecamatan sekurang-kurangnya luas bangunanya 120 m2 dengan luas tanah sekitar 1000 m2.

3. Gedung untuk perpustakaan desa/kelurahan sekurang-kurangnya luas bangunannya 8 m2 dengan luas tanah 500 m2.

Dalam mendirikan gedung perpustakaan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, seperti yang terdapat pada Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2006, 13), aspek yang perlu di perhatikan pada unsur gedung adalah:

1. Lokasi harus di tempat yang mudah dan ekonomis didatangi masyarakat pemakainya.

2. Luas tanah (jika perpustakaan menempatkan gedung sendiri), diusahakan cukup menampung bangunan gedung, dengan kemungkinan perluasan dalam kurung waktu 10-15 tahun mendatang.

3. Ruangan-ruangan lain di perlukan, seperti gudang dan kamar kecil.

4. Konstruksi, mencakup aspek kekuatan dan pengamanan.

5. Cahaya dalam ruangan harus terang.

6. Kesejukan di dalam ruangan dan pertukaran udara/ventilasi harus baik.

7. Lingkungan yang tenang.

8. Tempat parkir kendaraan secukupnya 9. Taman, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa gedung perpustakaan dibuat dengan standar yang telah ditetapkan dengan memperhatikan aspek-aspek tertentu agar gedung perpustakaan sesuai dengan yang diharapkan.

(27)

2.5 Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan adalah daya jual dari suatu perpustakaan. Koleksi perpustakaan merupakan faktor yang mempengaruhi suatu perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik atau tidak. Agar perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik maka perpustakaan harus memenuhi kebutuhan informasi penggunanya. Menurut Cahyono (2014,35) menyatakan koleksi perpustakaan adalah semua semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak dan atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah dan dilayankan.

Koleksi bahan pustaka yang memadai, baik mengenai jumlah, jenis dan mutunya, yang tersusun rapi, dengan sistem pengolahan serta kemudahan akses/

temu kembali informasi, merupakan salah satu kunci keberhasilan perpustakaan.

Oleh sebab itu perpustakaan perlu memiliki koleksi bahan pustaka yang lengkap sesuai dengan misi, visi, perencanaan strategi, kebijakan, dan tujuannya. Koleksi bahan pustaka yang baik adalah dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan pembaca. (Suwarno 2009, 109).

Perpustakaan umum memiliki beragam kelompok pengguna yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kelompok pengguna perpustakaan yang berbeda-beda mendorong perpustakaan memiliki koleksi yang beraneka ragam menyesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Seiring dengan perkembangan teknologi, koleksi perpustakaan makin beraneka ragam. Koleksi perpustakaan bukan hanya koleksi yang tercetak saja namun juga koleksi elektronik. Pada buku pedoman umum penyelenggaraan perpustakaan umum (2000,19) menyatakan bahwa koleksi perpustakaan mencakup bahan pustaka

(28)

tercetak seperti buku, majalah dan surat kabar, bahan pustaka terekam dan elektronik seperti kaset, video piringan (disk) dan lain-lain.

Selain itu, menurut Sutarno (2006, 54), secara umum “koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan ada dua bagian utama yaitu:

1. Bahan pustaka yang tercetak, yang termasuk dalam kelompok ini adalah buku teks, surat kabar, majalah, bulletin, pamplet, kamus, ensiklopedi, direktori, almanak, indeks, bibliografi, buku tahunan, buku pedoman, dan lain-lain.

2. Bahan pustaka yang terekam, yang termasuk dalam kelompok ini adalah slide, kaset, audio, kaset video, film strip, CD, VCD, Film, dan lain-lain”.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa koleksi perpustakaan memegang peranan penting dalam memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna.

Dengan beragam kelompok pengguna, koleksi perpustakaan harus mempunyai beragam judul dan subjek. Koleksi perpustakaan juga harus mengikuti perkembangan jaman agar tidak ditinggalkan penggunanya.

2.5.1 Jenis-Jenis Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan ada beragam jenisnya terlebih perpustakaan umum yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum tentu memiliki beragam jenis koleksi.

Jenis koleksi diperpustakaan umum juga disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Koleksi perpustakaan umum harus mencakup semua disiplin ilmu sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.

Darmono (2007, 65) menyatakan yang termasuk jenis koleksi perpustakaan adalah sebagai berikut:

1. Buku, meliputi beberapa jenis buku teks, buku penunjang, buku-buku jenis fiksi serta buku bergambar dan buku populer (umum).

2. Koleksi referensi, seperti kamus, ensiklopedia, almanak, direktori.

(29)

3. Sumber geografi.

4. Jenis serial (terbitan berkala) seperti majalah, tabloid.

5. Bahan mikro, seperti microfilm, mikrofice, (carik mikro)

6. Bahan pandang dengar (audio visual) seperti video, kaset piringan hitam, Compack Disk-Read Only Memory (CD-ROM), VCD, Slide, film.

Selain itu, menurut Sutarno (2006, 71), pengelompokkan bahan pustaka di perpustakaan terdiri atas :

1. Kelompok bahan pustaka umum.

2. Kelompok bahan pustaka rujukan (referensi).

3. Kelompok bahan pustaka berkala (majalah dan surat kabar).

4. Kelompok bahan pustaka pandang dengar (audio visual).

5. Kelompok bahan pustaka terekam dan elektronik seperti film, kaset, video, dan lain-lain.

6. Kelompok bahan pustaka yang disesuaikan dengan kelompok pembaca, misalnya untuk anak-anak, remaja, dewasa, dan lain-lain.

7. Kelompok bahan pustaka tertentu, misalnya untuk penelitian dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum memiliki berbagai jenis koleksi. Jenis koleksi perpustakaan yang beragam dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang berbeda-beda. Koleksi yang disediakan tentunya harus bisa memenuhi berbagai kebutuhan pengguna.

2.6 Layanan Perpustakaan Umum

Layanan perpustakaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan kepada pengguna dalam memanfaatkan informasi yang terdapat pada perpustakaan. Layanan perpustakaan dilakukan untuk mempermudah pengguna dalam memperoleh informasi. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 7495, 2009, 2) menyatakan bahwa layanan perpustakaan

(30)

merupakan jasa yang diberikan kepada pengguna sesuai dengan misi perpustakaan.

Darmono (2001, 134) menyatakan layanan perpustakaan adalah menawarkan semua bentuk koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada pemakai yang datang ke perpustakaan dan meminta informasi yang dibutuhkannya.

Menurut Sutarno (2006, 90), Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama di setiap perpustakaan. Layanan tersebut merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat, dapat memberikan rasa senang/puas kepada pemakai dan sekaligus merupakan barometer keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan. Bentuk riil layanan tersebut antara lain:

1. Layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakai.

2. Berorientasi kepada pemakai.

3. Berlangsung cepat waktu dan tepat sasaran.

4. Berjalan mudah dan sederhana.

5. Murah dan ekonomis.

6. Menarik dan menyenangkan, dan menimbulkan rasa simpati.

7. Bervariasi dan mengundang rasa ingin kembali.

8. Bersifat informatif, membimbing, dan mengarahkan.

9. Mengembangkan hal-hal yang baru/inovatif.

10. Mampu berkompetisi dengan layanan di bidang lain.

11. Mampu menumbuhkan rasa percaya bagi pemakai dan bersifat mandiri.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa layanan perpustakaan merupakan hal yang penting dan harus dilakukan semaksimal mungkin agar dapat memuaskan pengguna perpustakaan dan memungkinkan pengguna tersebut untuk datang kembali.

(31)

2.7 Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota 2.7.1 Standar Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari suatu lembaga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan.

Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek).

Menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011, 5) standar sarana layanan dan sarana kerja meliputi:

1. Rak buku (30 buah) 2. Rak majalah (3 buah) 3. Rak audio visual (2 buah) 4. Rak buku referensi (7 buah) 5. Meja baca (100 buah) 6. Meja kerja (20 buah) 7. Laci katalog (2 buah) 8. Kursi baca (100 buah) 9. Perangkat komputer (5 unit) 10. Alat baca tunanetra (5 unit) 11. AC (1 buah)

12. Rak display buku baru (1 buah) 13. Rak surat kabar (2 buah) 14. Jaringan internet

15. Lemari penitipan tas (2 buah).

Standar gedung perpustakaan kabupaten/kota menurt Standar Nasional Perpustakaan (2011,4) meliputi:

1. Luas gedung sekurang-kurangnya 0,008 m2 per kapita dikalikan jumlah penduduk

2. Memenuhi standar kesehatan, keselamatan, kenyamanan, ketenangan, keindahan, pencahayaan, keamanan, dan sirkulasi udara.

3. Perencanaan gedung memungkinkan pengembangan fisik.

4. Memenuhi aspek teknologi, ergonomik, konstruksi, lingkungan,

(32)

5. Berbentuk permanen.

6. Memperhatikan kekuatan dan memenuhi persyaratan konstruksi lantai untuk ruang koleksi perpustakaan (minimal 400 kg/m²).

7. Dilengkapi atau difasilitasi sarana kepentingan umum seperti toilet, dan area parkir.

Selain gedung perpustakaan lahan/lokasi juga harus diperhitungkan.

Standar lahan/lokasi perpustakaan menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011,5) yaitu:

1. Berada di lokasi yang mudah dilihat, dikenal dan dijangkau masyarakat.

2. Di bawah kepemilikan atau kekuasaan pihak pemerintah daerah.

3. Memiliki status hukum yang jelas.

4. Jauh dari lokasi rawan bencana.

Lahan/lokasi perpustakaan merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kunjungan perpustakaan. Lokasi perpustakaan yang ideal sebaiknya terletak di tengah-tengah kota yang merupakan jalan utama sehingga mudah dijangkau seluruh masyarakat di wilayah tersebut. Status kepemilikan lahan juga harus di pegang oleh pemerintah daerah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan perpustakaan dapat dinikmati seluruh masyarakat secara gratis.

Ruang perpustakaan juga memiliki standar yang telah ditetapkan oleh Standar Nasional Perpustakaan (2011, 5) yaitu ruang perpustakaan sekurang- kurangnya terdiri dari ruang koleksi, ruang baca, ruang kepala, ruang staf, ruang pengolahan, ruang serba guna, area publik (mushola dan toilet tidak berada di dalam ruang koleksi).

Ruang perpustakaan merupakan suatu area yang digunakan untuk suatu kegiatan khusus sehingga tidak mengganggu kegiatan lainnya. Seperti yang sudah di uraikan di atas perpustakaan harus memiliki beberapa ruangan khusus yang

(33)

digunakan untuk melakukan kegiatan pengolahan dan pelayanan terhadap pengguna perpustakaan serta untuk memfasilitasi kegiatan ibadah dll.

2.7.2 Standar Koleksi

Menurut Darmono (2001, 60) koleksi adalah sekumpulan rekaman informasi dalam berbagai bentuk tercetak (buku, majalah, surat kabar) dan bentuk tidak tercetak (bentuk mikro, bahan audio visual, peta).

Standar koleksi perpustakaan kabupaten atau kota yaitu sekurang- kurangnya 0,025 per kapita dikalikan jumlah penduduk di walayah kabupaten/kota yang bersangkutan (Standar Nasional Perpustakaan, 2011, 3).

Standar koleksi di setiap kabupaten/kota berbeda-beda menyesuaikan dengan jumlah penduduknya, semakin besar jumlah penduduknya maka koleksi yang harus dimiliki perpustakaan tersebut semakin banyak begitu juga sebaliknya.

Dengan demikian kebutuhan akan informasi di daerah tersebut akan terpenuhi bagi seluruh masyarakatnya.

Selain jumlah koleksi, usia koleksi juga memiliki standar yang telah ditetapkan yaitu perpustakaan memiliki koleksi terbaru (5 tahun terakhir) sekurang-kurangnya 10% dari jumlah koleksi (Standar Nasional Perpustakaan, 2011, 3).

Jenis koleksi menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011,3) yang harus dimiliki perpustakaan kabupaten/kota yaitu:

1. Perpustakaan memiliki jenis koleksi anak, koleksi remaja, koleksi dewasa, koleksi referensi anak, koleksi referensi remaja/dewasa, koleksi khusus, surat kabar, majalah dan koleksi non cetak

(34)

2. Jenis koleksi perpustakaan mengakomodasikan semua kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan penyandang cacat.

3. Perpustakaan menyediakan koleksi terbitan lokal/muatan lokal.

4. Koleksi perpustakaan terdiri dari berbagai disiplin ilmu sesuai kebutuhan masyarakat.

5. Komposisi dan jumlah masing-masing jenis koleksi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pembangunan daerah.

Jenis koleksi yang beragam tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dari semua golongan baik anak-anak, remaja, hingga dewasa. Jumlah masing-masing koleksi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di daerah tersebut karena setiap daerah memiliki kebiasaan, adat dan budaya yang berbeda-beda.

2.7.3 Standar Layanan Perpustakaan

Layanan perpustakaan adalah menawarkan semua bentuk koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada pemakai yang akan datang ke perpustakaan dan meminta informasi yang dibutuhkan (Darmono 2001,134).

Perpustakaan sebagai salah satu instansi pemerintahan tentu memiliki jam buka yang menyesuaikan dengan jam kerja di lembaga/instansi pemerintahan lainnya. Menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011, 5) jam buka perpustakaan sekurang-kurangnya 8 jam per hari.

Selain itu, layanan yang harus ada di perpustakaan kabupaten/kota menurut standar nasional perpustakaan (2011,5) yaitu:

1. Layanan sirkulasi.

2. Layanan membaca di tempat.

3. Layanan referensi.

4. Layanan bercerita.

(35)

5. Layanan keliling (mobil keliling).

6. Layanan bimbingan pemustaka

Layanan yang beraneka ragam disediakan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berbeda-beda. Layanan seperti mobil keliling diperuntukkan untuk masyarakat yang dipelosok agar tetap dapat menikmati perpustakaan. Semakin banyakanya layanan yang tersedia memungkinkan tingkat kunjungan yang semakin meningkat.

Keanggotaan dari perpustakaan kabupaten/kota memiliki standar yaitu jumlah anggota sekurang-kurangnya 10% dari jumlah penduduk. Bukan hanya keanggotaan yang memiliki standar namun tingkat kunjungan per kapita per tahun, pinjaman per eksemplar (turnover stock) dan sirkulasi (pinjaman) per kapita.

Standar jumlah kunjungan yaitu jumlah kunjungan fisik per kapita per tahun sekurang-kurangnya 0,55 (jumlah kunjungan per tahun / jumlah penduduk).

Standar peminjaman per eksemplar yaitu frekuensi peminjaman koleksi sekurang- kurangnya 0,125 per eksemplar per tahun (jumlah transaksi pinjaman dibagi dengan jumlah seluruh koleksi perpustakaan). Sedangkan standar sirkulasi (pinjaman) per kapita yaitu jumlah transaksi sirkulasi (peminjaman) koleksi sekurang-kurangnya 0,25 per kapita per tahun.

Jumlah kunjungan, peminjaman digunakan sebagai dasar untuk melakukan evaluasi. Setiap tahun suatu lembaga memiliki program kerja yang akan dikerjakan, dengan menghitung jumlah kunjungan, peminjaman maka dapat diketahui apakah program tersebut dapat meningkatkan jumlah kunjungan, peminjaman atau tidak, jika tidak tentu harus membuat program kerja baru yang

(36)

2.7.4 Standar Tenaga Perpustakaan

Menurut UU No. 43 Tahun 2007 menyatakan tenaga perpustakaan terdiri dari.pustakawan dan tenaga teknis. Pustakawan yang dimaksud harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standard nasional perpustakaan.

Standar jumlah tenaga perpustakaan menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011, 6) yaitu jumlah seluruh tenaga perpustakaan (staf) sekurang- kurangnya 1 (satu) orang per 5.000 penduduk di wilayah kewenangan. Sedangkan untuk tenaga berkualifikasi yaitu jumlah tenaga perpustakaan (staf) yang memiliki kualifikasi di bidang perpustakaan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang per 15.000 penduduk di wilayah kewenangan.

Jumlah tenaga yang tersedia ditentukan oleh jumlah penduduk di wilayah kewenangan. Tenaga berkualifikasi yang memiliki keterampilan di bidang perpustakaan dapat melayani penduduk 3 kali lipat lebih banyak dibanding tenaga perpustakaan yang tidak berkualifikasi.

Kepala perpustakaan juga memiliki standar yang telah ditetapkan oleh Standar Nasional Perpustakaan (2011, 6) yaitu kepala perpustakaan sekurang- kurangnya berlatar belakang pendidikan S1/Diploma perpustakaan atau S1/Diploma non perpustakaan dengan pelatihan bidang perpustakaan.

Kepala perpustakaan merupakan pengambil kebijakan tentu harus memiliki pengatahuan yang lebih dibanding staf. Kepala perpustakaan harus memiliki latar belakang atau pengetahuan tentang perpustakaan, jika kepala perpustakaan buka lulusan perpustakaan maka harus mengikuti pelatihan bidang perpustakaan.

(37)

Sedangkan tenaga pengelola perpustakaan terdiri dari pustakawan, tenaga teknis, dan tenaga pendukung yang berstatus tetap atau honorer. Tenaga pengelola perpustakaan bertugas untuk mengelola perpustakaan agar dapat berfungsi untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat.

Tenaga pengelola perpustakaan perlu ditingkatkan kemampuan dan pemahamannya tentang perpustakaan. Pembinaan tenaga pengelola perpustakaan menurut Standar Nasional Perpustakaan (2011, 6) dapat dilakukan dengan cara yaitu:

1. Pembinaan tenaga pengelola perpustakaan dilakukan dengan cara mengikuti diklat perpustakaan, lomba-lomba kepustakawanan, seminar/workshop kepustakawanan, dan menjadi anggota organisasi profesi kepustakawanan.

2. Peningkatan kompetensi tenaga pengelola perpustakaan dilakukan dengan memanfaatkan atau melalui skema sertifikasi kompetensi sekurang-kurangnya 20% jumlah pustakawan.

Pembinaan tenaga pengelola perpustakaan wajib dilakukan oleh setiap perpustakaan tujuannya adalah untuk memberika kesempatan kepada tenaga pengelola perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuannya di bidang perpustakaan. Diharapkan tenaga pengelola perpustakaan dapat melayani pengguna perpustakaan dengan baik dan dapat memuaskan pengguna perpustakaan.

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Nasir (2003, 54), Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti sekelompok manusia, suatu objek tertentu dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Hal yang sama dikemukakan juga oleh Azwar (2004, 7) bahwa “Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.

Penelitian ini berusaha mengambarkan situasi atau kejadian. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi, maupun mempelajari implikasi”.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa metode penelitian deskriptif merupakan metode dalam meneliti sekelompok manusia atau, suatu objek tertentu lalu mendeskripsikannya.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Dinas Perpustakaan Kota Binjai yang beralamat di Jalan Bandung No. 17A, Rambung Barat, Binjai Selatan.

(39)

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi merupakan sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu atau dalam penelitian bisa sebagai subjek penelitian. Menurut Sugiyono (2009 : 80) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan arti populasi yang lebih sederhana lagi diungkapkan oleh Arikunto (2002: 108) yaitu keseluruhan subjek penelitian.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh anggota perpustakaan pada Dinas Perpustakaan Kota Binjai.

Bersumber dari data anggota Dinas Perpustakaan Kota Binjai sampai dengan bulan September 2017, pengguna yang terdaftar sebagai anggota berjumlah 296 yang terdiri dari 3 golongan yaitu pelajar SMA, mahasiswa dan umum. Rincian jumlah anggota perpustakaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.1

Data Anggota Perpustakaan

No Golongan Pekerjaan Jumlah Anggota

3. Pelajar SMA 154

2. Mahasiswa 121

3. Umum 21

Jumlah 296

Sumber: Buku Anggota Perpustakaan Tahun 2016

(40)

3.3.2 Sampel

Mengingat jumlah populasi penelitian yang besar sehingga jika semua populasi dijadikan objek penelitian maka akan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, penulis membatasi jumlah populasi untuk dijadikan sampel. Menurut Sugiyono (2009, 81), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif/mewakili. Dalam pemilihan anggota sampel digunakan teknik dan prosedur yang tepat, yang disebut dengan teknik sampling”.

Untuk mengetahui banyaknya sampel yang akan diteliti, maka penulis menentukan ukuran sampel dari populasi dengan menggunakan rumus Slovin yang dikutip oleh Basrowi dan Sudjarwo (2009, 268) adalah sebagai berikut:

Keterangan:

n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi

e = Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, dalam penelitian ini sebesar 10%

Jika dihitung dengan menggunakan rumus tersebut, maka sampel dari penelitian adalah sebagai berikut:

(41)

n = 74,7 dibulatkan menjadi 75

Adapun penentuan kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode proportionate stratified random sampling. Penulis menggunakan metode ini dikarenakan populasi berstrata yang dilihat berdasarkan golongan pekerjaan dari responden (sampel).

Tabel 3.2

Jumlah sampel berdasarkan strata

Golongan Pekerjaan Populasi Perhitungan Sampel Jumlah

Pelajar SMA 154

x75 = 39,02 39

Mahasiswa 121

x75 = 30,6 31

Umum 21

x75 = 5,32 5

Total Populasi 296 Total Sampel 75

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian, teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Angket, yaitu dengan memberikan daftar pernyataan kepada responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian yaitu pengguna perpustakaan umum kota Binjai.

2. Observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung ke perpustakaan umum kota Binjai.

3. Studi Kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan data melalui bahan pustaka yang dijadikan sebagai sumber informasi dan dokumen yang

(42)

3.4.1 Kisi-Kisi Angket

Sebelum penulis membuat kuesioner yang akan disebar kepada responden, terlebih dahulu penulis membuat kisi-kisi kuesioner. Kisi-kisi kuesioner ini akan menggambarkan indikator dari persepsi penguna tentang perpustakaan umum.

Adapun indikator yang dimaksud dapat terlihat pada Tabel 3, adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Angket

Variabel Indikator Item Pertanyaan Jumlah

Item Perpustakaan

Umum

Sarana Prasarana 1,2,3,4,5,6,7,8 8

Koleksi 9,10,11,12,13,14,15,16 8

Layanan 17,18,19,20,21,22,23,24 8

Tenaga Perpustakaan 25,26,27,28,29,30,31,32 8

Total 32

3.5 Jenis dan Sumber Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah dalam bentuk kuantitatif.

Selanjutnya data tersebut akan dianalisis dengan mengunakan analisis deskriptif.

Hasil analisis disajikan dalam bentuk angka-angka persentase yang kemudian dijelaskan dan diinterpretasikan dalam suatu uraian untuk memperjelas dari hasil angka dalam bentuk kuantitatif.

Untuk menghitung presentase jawaban yang diberikan responden, peneliti menggunakan rumus presentase sebagai berikut:

(43)

Keterangan

P = Persentase

f = Jumlah jawaban yang diperoleh N = Jumlah responden (Hadi, 2001, 421)

Penafsiran data dilakukan dengan menggunakan pedoman penafsiran data sebagaimana dikemukakan oleh Supardi (1979, 20), sebagai berikut:

1% - 25% = sebagian kecil 26% - 49% = hampir setengahnya 50% = setengahnya

51% - 75% = sebagian besar 76% - 99% = pada umumnya 100% = keseluruhan

3.6 Pengukuran Persepsi

Data yang telah dihitung persentasenya kemudian dianalisis dengan menggunakan skala likert. Skala Likert paling sering digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi responden terhadap suatu objek (Usma 2009, 65).

Untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial jawaban setiap item instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang dapat berupa kata-kata sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju (sugiyono 2005, 133).

Untuk menilai kepuasan yang dinyatakan dengan kuesioner, setiap jawaban diberikan nilai sebagai berikut :

(44)

Tabel 3.4 Pengukuran Persepsi

Pernyataan Kepuasan Nilai

Sangat Setuju 5

Setuju 4

Kurang Setuju 3

Tidak Setuju 2

Sangat Tidak Setuju 1

Agar dapat mengetahui penilaian terhadap suatu objek, maka skor-skor akan dijumlahkan kemudian dicari skor rata-rata tersebut. Skor rata-rata adalah hasil dari penjumlahan skor dari tiap skala yang dikalikan dengan frekuensinya masing-masing. Kemudian hasil dari penjumlahan tadi dibagi dengan jumlah sampel atau total frekuensi. Perhitungan skor rata-rata dapat sebagai berikut:

Keterangan:

X = skor rata-rata

S5-S1 = skor pada skala 5 sampai 1 F = frekuensi jawaban

N = Jumlah sampel yang diolah atau total frekuensi

Skala di atas adalah skala ordinal yang didasarkan pada urutan rangking dari jenjang yang lebih tinggi sampai terendah atau sebaliknya (Riduan 2010, 82).

Yang mana skala ordinal memiliki keterbatasan analisa yang hanya menyatakan bahwa objek yang diteliti sangat baik ataupun sangat tidak baik. Agar analisa menjadi luas, maka skala ordinal dapat diubah menjadi skala interval yaitu skala

(45)

yang menunjukkan jarak antara satu data dengan data yang lain dan mempunyai bobot yang sama.

Skala interval diperlukan untuk mendapatkan posisi responden dalam suatu objek penilaian apakah termasuk kriteria sangat memuaskan, memuaskan, cukup memuaskan, kurang memuaskan dan tidak memuaskan.

Untuk menentukan skala interval yaitu dengan cara membagi selisih antara skor terendah dengan banyak skala. Berikut rumusan skala interval:

Skala interval : { a (m – n) : b} (Simamora, 2004, 18) Keterangan:

a = jumlah atribut m = skor tertinggi n = skor terendah

b = jumlah skala penilaian yang ingin dibentuk/diterapkan

Jika skala penilaian yang diterapkan berjumlah 5 dimana skor terendah adalah 1 dan skor tertinggi adalah 5, maka skala interval dapat dihitung sebagai berikut : { 1 (5 – 1) : 5 }. Jadi jarak setiap titik adalah 0,8 sehingga dapat diperoleh penilaian sebagai berikut:

1. Sangat memuaskan : 4,24 – 5,00 2. Memuaskan : 3,43 – 4,23 3. Cukup Memuaskan : 2,62 – 3,42 4. Kurang memuaskan : 1,81 – 2,61 5. Tidak memuaskan : 1,00 – 1,80

Penggunaan interval pada skor di atas dalam penerapannya pada analisa data untuk mengartikan persepsi pemustaka terhadap Dinas Perpustakaan Kota Binjai sebagai sumber informasi.

(46)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hasil dan pembahasan penelitian dari pengumpulan data yang dilakukan lewat angket yang dibagikan kepada responden dengan memberi daftar pernyataan kepada responden tersebut untuk dijawab. Angket diberikan kepada pemustaka di Dinas Perpustakaan Kota Binjai.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi pemustaka tentang Dinas Perpustakaan Kota Binjai menggunakan indikator Standard Nasional Perpustakaan Kabupaten/ Kota yaitu sarana dan prasarana, koleksi, layanan dan tenaga perpustakaan.

4.1 Identitas Responden 4.1.1 Jenis Kelamin Responden

Tabel di bawah ini menunjukkan jenis kelamin responden:

Tabel 4.1

Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

Laki-Laki 28 37,3%

Perempuan 47 62,7%

Jumlah (N) 75 100%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa total ada 75 reponden.

Adapun karakteristiknya yaitu 28 (37,3%) responden berjenis kelamin laki-laki dan 47 (62,7%) responden berjenis kelamin perampuan.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar

(47)

responden berjenis kelamin perempuan dan kurang dari setengah responden berjenis kelamin laki-laki.

4.1.2 Pekerjaan Responden

Tabel di bawah ini menunjukkan pekerjaan responden:

Tabel 4.2 Pekerjaan Responden

Pekerjaan Frekuensi Persentase

Siswa SMA 39 52%

Mahasiswa 31 41,3%

Umum 5 6,7%

Jumlah (N) 75 100%

Dari table di atas dapat diketahui bahwa total ada 75 responden.

Adapun pekerjaan dari responden adalah 39 (52%) responden sebagai siswa SMA, 31 (41,3%) responden sebagai mahasiswa dan 5 (6,7%) responden sebagai masyarakat umum. Berdasarkan data di atas maka dapa disimpulkan sebagian besar responden adalah siswa SMA, kurang dari setengahnya sebagai mahasiswa dan sebagian kecil sebagai masyarakat umum.

4.2 Persepsi Pemustaka Terhadap Sarana dan Prasarana

Untuk mengetahui sejauh mana persepsi pemustaka terhadap sarana dan prasarana di Dinas Perpustakaan Kota Binjai, peneliti menggunakan beberapa pernyataan sebagai berikut:

(48)

a. Lokasi Dinas Perpustakaan Kota Binjai Strategis dan Mudah dijangkau Tabel 4.3

Lokasi Perpustakaan

Jawaban F P S

Sangat Setuju 6 8% 30

Setuju 25 33,3% 100

Kurang Setuju 31 41,3% 93

Tidak Setuju 13 17,4% 26

Sangat Tidak Setuju 0 0% 0

Jumlah 75 100% 249

Skor Rata-Rata X = 249/75 = 3,32

Tabel di atas menjelaskan tentang lokasi Dinasi Perpustakaan Kota Binjai strategis dan mudah dijangkau. Dapat diketahui bahwa 6 (8%) responden menjawab sangat setuju, 25 (33,3%) responden menjawab setuju, 31 (41,3%) responden menjawab kurang setuju, 13 (17,4%) responden menjawab tidak setuju. Hasil skor rata-rata persepsi pada tabel ini adalah 3,32. Skor ini didapatkan dari pengolahan data menggunakan skala likert. Skor ini berada pada interval 2,62 – 3,42. Skala ini menunjukkan bahwa persepsi pengguna tentang lokasi Dinas Perpustakaan Kota Binjai strategis dan mudah dijangkau adalah cukup memuaskan.

Berdasarkan hasil di atas dapat di interpretasikan bahwa sebagian besar responden menganggap bahwa lokasi Dinas Perpustakaan Kota Binjai kurang strategis dan kurang dari setengah responden menganggap lokasinya strategis dan mudah terjangkau. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa lokasi Dinas Perpustakaan Kota Binjai kurang strategis karena tidak berada di pusat kota namun masih dekat dengan sekolah-sekolah.

(49)

b. Gedung Perpustakaan Luas dan Nyaman Tabel 4.4 Gedung Perpustakaan

Jawaban F P S

Sangat Setuju 4 5,3% 20

Setuju 29 38,7% 116

Kurang Setuju 30 40% 90

Tidak Setuju 12 16% 24

Sangat Tidak Setuju 0 0% 0

Jumlah 75 100% 250

Skor Rata-Rata X = 250/75 = 3,33

Tabel di atas menjelaskan tentang gedung perpustakaan luas dan nyaman. Dapat diketahui bahwa 4 (5,3%) responden menjawab sangat setuju, 29 (38,7%) responden menjawab setuju, 30 (40%) responden menjawab kurang setuju, 12 (16%) responden menjawab tidak setuju.

Hasil skor rata-rata persepsi pada tabel ini adalah 3,33. Skor ini didapatkan dari pengolahan data menggunakan skala likert. Skor ini berada pada interval 2,62 – 3,42. Skala ini menunjukkan bahwa persepsi pengguna tentang gedung perpustakaan luas dan nyaman adalah cukup memuaskan.

Berdasarkan hasil di atas dapat di interpretasikan bahwa sebagian besar responden menganggap gedung perpustakaan kurang luas dan nyaman dan kurang dari setengah responden menganggap gedung perpustakaan luas dan nyaman. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa gedung perpustakaan kurang luas dan nyaman dikarenakan ruangan baca, ruang koleksi, referensi, sirkulasi ada di dalam 1 ruangan sehingga terasa sempit.

(50)

c. Penerangan Pada Ruangan Baca Baik Tabel 4.5

Penerangan Ruang Baca

Jawaban F P S

Sangat Setuju 0 0% 0

Setuju 35 46,7% 140

Kurang Setuju 30 40% 90

Tidak Setuju 10 13,3% 20

Sangat Tidak Setuju 0 0% 0

Jumlah 75 100% 250

Skor Rata-Rata X = 250/75 = 3,33

Tabel di atas menjelaskan tentang penerangan pada ruangan baca baik. Dapat diketahui bahwa 35 (46,7%) responden menjawab setuju, 30 (40%) responden menjawab kurang setuju, 10 (13,3%) responden menjawab tidak setuju. Hasil skor rata-rata persepsi pada tabel ini adalah 3,33. Skor ini didapatkan dari pengolahan data menggunakan skala likert.

Skor ini berada pada interval 2,62 – 3,42. Skala ini menunjukkan bahwa persepsi pengguna tentang penerangan pada ruangan baca baik adalah cukup memuaskan.

Berdasarkan hasil di atas dapat di interpretasikan bahwa sebagian besar responden menganggap penerangan di ruang baca kurang baik dan kurang dari setengahnya menganggap penerangan di ruang baca baik. Hal tersebut memperlihatkan bahwa penerangan di ruang baca kurang baik dikarenakan kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan melalui ventilasi ditambah dengan kurangnya pencahayaan dari lampu jarang dihidupkan guna menghemat listrik.

Gambar

Tabel 3.3   Kisi-Kisi Angket
Tabel 3.4   Pengukuran Persepsi
Tabel di bawah ini menunjukkan jenis kelamin responden:
Tabel di bawah ini menunjukkan pekerjaan responden:
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa keanekaragaman spesies insekta pada Tanaman Rambutan di Perkebunan Masyarakat Gampong Meunasah Bak ‘U Kecamatan Leupung

Mekanisme koping berpengaruh terhadap kualitas hidup penderita mellitus tipe 2, upaya yang dapat dilakukan dengan memberikan edukasi terkait pentingnya mekanisme

Berdasarkan judul “Retorika Dakwah Buya Yahya Pada Channel Youtube Al-Bahjah TV”, maka yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah gaya retorika dakwah yang

(16%, 55%) pemustaka menyatakan sangat setuju dan setuju bahwa informasi yang disajikan di dalam OPAC sudah jelas dan dapat dikategorikan baik.. Namun pada kenyataannya

seksama membaca dan mempelajari dan meneliti dengan cermat berkas perkara dan turunan resmi putusan Pengadilan Negeri Bangkinang Nomor : 38/PDT.G/2013/PN.BKN

Berdasarkan uraian hasil penelitian tentang persepsi pemustaka terhadap pustakawan dalam pelayanan referensi di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, maka dapat

Bahwa terdakwa BAGAS DWITYA PRADIPTA Bin YITNO ATMAJIE pada hari Rabu tanggal 01 Februari 2017 sekitar pukul 05.30 Wib atau setidak-tidaknya pada waktu lain

Berdasarkan analisis hasil temuan data dan maksud tabel diatas dari sepuluh sampel yang diwawancarai 8 orang pengunjung 1 orang pihak pengelola dan 1 orang ahli