V. IDENTIFIKASI LANSKAP PECINAN
5.4 Elemen Lanskap Sejarah
5.4.6 Rumah Abu Keluarga Thung
Rumah berpintu tiga ini terletak di Jalan Suryakencana dan hanya berbeda dua rumah saja dengan rumah Keluarga Thung.
5.4.6.1 Sejarah Singkat
Rumah abu yang juga dimiliki oleh Keluarga Thung ini didirikan oleh Kapitan Thung Tjoen Ho (1869-1922). Dulu nama tempat ini adalah Kioe Seng Tong dan digunakan sebagai kantor oleh Kiong Seng Liong (9 Thung Bersaudara). Setelah beberapa lama, rumah dipakai untuk menyimpan abu jenazah leluhur. Rumah ini akhirnya dikenal sebagai Rumah Abu Keluarga Thung. Saat ini rumah dipakai sebagai tempat berkumpul keluarga besar Thung dan bernama Dharma Tirta.
5.4.6.2 Kondisi Fisik
Kondisi bangunan terawat dengan baik. Karena masih dipakai sebagai tempat perkumpulan maka bangunan masih dikelola dengan baik dan masih mempertahankan arsitektur bangunan. Yang unik dari rumah ini adalah jumlah pintu depannya yang berjumlah 3, dengan pintu utama di tengah. Tidak ada jendela sama sekali di bagian depan rumah, hanya ada kaca kecil diatas pintu samping (Gambar 26).
Gambar 26. Rumah Abu Keluarga Thung
5.4.6.3 Pengelolaan Pelestarian
Rumah ini masih terjaga dengan baik. Struktur bangunan lama masih tetap dipertahankan. Pengelolaan rumah dilakukan secara pribadi.
5.4.6.4 Lingkungan
Rumah abu Keluarga Thung terletak sejajar dengan rumah Kapitan dan di tepi Jalan Suryakencana. Walaupun di sebelah rumah terdapat klinik dan apotik, tapi tidak menganggu aktivitas pengguna rumah, hanya saja bangunan menjadi terlihat kurang monumental (Gambar 27).
Gambar 27. Lingkungan Sekitar Rumah
5.4.7 Yayasan Kematian Pulasara
Yayasan Kematian Pulasara terletak di Jalan Roda No. 65 dan no. 84 RT 05 / RW 02, Kecamatan Babakan Pasar. Yayasan kematian ini memiliki dua bangunan yang letaknya saling berseberangan.
5.4.7.1 Sejarah Singkat
Pulasara pada awalnya bernama Fond Miskin yang artinya mengurus dan merawat serta melayani orang yang meninggal.. Bangunan ini merupakan peninggalan perkumpulan orang-orang Cina pada masa pemerintahan Belanda dan didirikan pada tahun 1930. Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, bangunan ini dijadikan sebagai poliklinik. Namun akhirnya poliklinik tersebut dipindahkan ke tempat lain sesuai dengan keinginan pemerintah daerah. Pada tahun 1968, Fond Miskin berubah nama menjadi Pulasara (Gambar 28).
5.4.7.2 Kondisi Fisik
Bentuk bangunan ini tidak mengalami banyak perubahan dan juga tidak mengalami penambahan ruang. Tapi pada tahun 1970, dilakukan pembangunan tempat penitipan jenazah tepat di depan bangunan Pulasara dan bangunan tersebut mengalami renovasi (Gambar 29).
Gambar 29. Bangunan Baru Yayasan Pulasara
5.4.7.3 Pengelolaan Pelestarian
Pulasara sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat mengurus orang yang meninggal. Kondisi pulasara masih dijaga dan dirawat dengan baik oleh Yayasan Pulasara. Bangunan lama masih dipertahankan bentuknya dan sudah termasuk ke dalam daftar Benda Cagar Budaya.
5.4.7.4 Lingkungan
Pulasara terletak di tepi Jalan Roda sehingga cukup strategis dan mudah untuk diakses. Lingkungan sekitar pulasara yaitu pemukiman penduduk juga tidak mengganggu aktivitas yang terjadi di dalam Pulasara. Begitu juga dengan penduduk yang tidak merasa terganggu dengan keberadaan Yayasan Pulasara.
5.4.8 Kelenteng Pan Koh / Vihara Mahabrahma
Merupakan kelenteng tertua di Kota Bogor yang memuja Dewa Pan Koh
dan terletak di daerah Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar No. 18 RT 02 RW 04, Kecamatan Bogor Tengah (Gambar 30).
5.4.8.1 Sejarah Singkat
Tidak diketahui dengan jelas bagaimana sejarah terbentuknya kelenteng ini. Namun berdasarkan wawancara dengan beberapa nara sumber, kelenteng Pan Koh sudah berdiri sekitar 250 tahun yang lalu dan sudah ada sebelum kelenteng
Hok Tek Bio dibangun. Ada anggapan juga bahwa kampung masyarakat Tionghoa Bogor adalah di Pulo Geulis karena adanya kelenteng Pan Koh. Perkampungan Tionghoa ini baru berpindah ke daerah Suryakencana setelah adanya peraturan
wijkenstelsel.
Gambar 30. Kelenteng Pan Koh / Vihara Mahabrahma
5.4.8.2 Kondisi Fisik
Kondisi bangunan sudah agak rusak, tapi telah mengalami perbaikan. Kelenteng ini juga merupakan kelenteng yang telah mengalami akulturasi budaya dengan budaya lokal. Di dalam kelenteng terdapat empat buah makam, yaitu makam Eyang Jayaningrat, Embah Sakee, Embah Imam dan Raden Mangun Jaya yang dihormati oleh warga setempat. Gambar 31 menunjukkan suasana didalam Kelenteng Pan Koh.
Gambar 31. Suasana Didalam Kelenteng Pan Koh
5.4.8.3 Pengelolaan Pelestarian
Karena masih sering didatangi oleh umat, kelenteng Pan Koh tetap dijaga dan dirawat. Perawatan dan pengelolaan kelenteng dilakukan oleh Yayasan Dhanagun karena tidak adanya pengurus tetap pada kelenteng Pan Koh.
5.4.8.4 Lingkungan
Kelenteng ini terletak di Pulo Geulis, lokasi yang kurang strategis menyebabkan kurangnya masyarakat yang mengetahui keberadaan kelenteng (Gambar 32). Letak yang cukup jauh juga menyebabkan kurangnya umat yang datang ke kelenteng Pan Koh dan lebih memilih menuju kelenteng Hok Tek Bio. Walaupun terletak di sekitar pemukiman warga yang umumnya non-Tionghoa tapi mereka tetap menghormati keberadaan Kelenteng.
5.4.9 Vihara Dharmakaya
Vihara Dharmakaya adalah salah satu vihara tertua di Kota Bogor yang terletak di Jalan Siliwangi, Kelurahan Bogor Timur (Gambar 33).
5.4.9.1 Sejarah Singkat
Awalnya Vihara Dharmakaya merupakan tempat pertapaan milik keluarga
Tan Eng Nio untuk seorang Ma Suhu. Kemudian pertapaan ini berkembang menjadi vihara dan dibuka untuk umum. Tidak diketahui dengan pasti usia dari vihara ini, tapi dipastikan usia vihara ini jauh jauh lebih muda dibandingkan Hok Tek Bio dan kelenteng Pan Koh.
Gambar 33. Vihara Dharmakaya
5.4.9.2 Kondisi Fisik
Bangunan Vihara Dharmakaya ini merupakan perpaduan antara bangunan bertipe villa dengan arsitektur khas Tionghoa. Bagian dalam bangunan juga lebih menyerupai rumah daripada sebuah vihara. Vihara ini terlihat sepi dari umat, mungkin karena vihara ini kurang terkenal dibandingkan vihara lain. Bangunan ini lebih terkenal karena bentuk bangunan dan sejarahnya.
5.4.9.3 Pengelolaan Pelestarian
Secara keseluruhan bangunan vihara masih terlihat dalam kondisi baik. Vihara ini juga masih dijaga oleh pengurus vihara melalui pemeliharaan rutin. Karena terletak agak jauh dari kawasan Pecinan Suryakencana, pengunjung vihara tidak seramai di kelenteng Hok Tek Bio.
5.4.9.4 Lingkungan
Vihara Dharmakaya ini terletak tepat di tepi jalan raya. Tapi suasananya tidak seramai dibandingkan dengan Jalan Suryakencana. Bangunan ini juga terletak bersebelahan dengan rumah-rumah tipe villa sehingga keberadaanya mudah terlihat. Sayangnya saat malam hari, banyak pedagang yang berjualan di depan vihara yang mengurangi kualitas estetik bangunan (Gambar 34).
Gambar 34. Suasana Sekitar Vihara Saat Menjelang Imlek
5.4.10 Rumah Bekas Keluarga Thung
Rumah yang terletak di Jalan Siliwangi ini juga dimiliki oleh Keluarga Besar Thung. Hanya saja rumah ini sudah tidak ditempati lagi.
5.4.10.1 Sejarah Singkat
Rumah ini awalnya ditinggali oleh Thung Sin Nio. Setelah beliau meninggal tahun 1996, rumah ini diurus oleh keponakanya (Thung Gwat Nio). Kondisi rumah yang berantakan dikarenakan Thung Gwat Nio yang sudah tua tidak sanggup lagi mengurus rumah ini, sedangkan dia tidak berkeluarga dan anak angkatnya sibuk di Jakarta. Gambar 35 adalah rumah bekas Keluarga Thung tahun 1930 dan Gambar 36 adalah rumah bekas Keluarga Thung tahun 2008.
Gambar 35. Rumah Bekas Keluarga Gambar 36. Rumah Bekas Keluarga Thung tahun 1930 (Sumber : Setiadi Thung tahun 2008
Sopandi, 2008)
5.4.10.2 Kondisi Fisik
Bentuk fisik bangunan sejak tahun 1930 sampai sekarang tidak mengalami perubahan yang berarti. Hanya pagarnya saja yang diganti. Sayangnya karena tidak ada yang mengurus membuat rumah ini menjadi terbengkalai dan berantakan.
5.4.10.3 Pengelolaan Pelestarian
Sepintas bangunan masih terlihat dalam kondisi yang baik, hanya saja terkesan suram dan berantakan. Hal ini dikarenakan bangunan yang sudah tua dan sudah tidak ditempati lagi. Tidak adanya pengelolaan dari pemilik juga turut membuat kondisi bangunan seperti sekarang.
5.4.10.4 Lingkungan
Rumah bekas Keluarga Thung ini terletak di Jalan Siliwangi dan dekat dengan perempatan Jalan Roda, Jalan Suryakencana dan Gang Aut. Biasanya saat akhir pekan, daerah sekitar bangunan ramai dikunjungi warga Jakarta. Karena di seberang dan sebelah bangunan merupakan rumah makan yang menjadi tujuan kuliner warga Jakarta. Bangunan rumah makan tersebut sudah merupakan bangunan baru sehingga rumah bekas keluarga Thung terlihat sangat kontras dan dapat mengancam keberlanjutan elemen lanskap bersejarah ini.
5.4.11 Jalan Roda
Di Jalan Roda masih terdapat bangunan khas Cina yang masih cukup terawat. Keberadaan bangunan dan lanskapnya ini menunjukkan bahwa Pemerintah Belanda menempatkan masyarakat Tionghoa sebagai masyarakat kelas atas sehingga mereka diperbolehkan untuk membangun bangunan yang nampak sama dengan bangunan di tanah asal mereka
5.4.11.1 Sejarah Singkat
Sejah dahulu, Jalan Roda memiliki nama yang sama. Nama Jalan Roda ini berasal dari transportasi yang biasa digunakan di Jalan Roda saat itu yaitu kereta kuda yang hanya boleh melewati Jalan Roda. Hal ini dikarenakan Jalan Roda merupakan jalan sekunder dari Handelstraat (Jalan Suryakencana). Bangunan – bangunan yang ada di Jalan Roda memiliki arsitektur bangunan bergaya Cina (Gambar 37). Keberadaannya mengukuhkan akan adanya pemukiman yang khusus dibuat untuk masyarakat Tionghoa di zaman itu. Dulu Jalan Roda menjadi salah satu jalan yang dilewati oleh arak-arakan Cap Go Meh, tapi sekarang sudah tidak dilewati lagi.
Gambar 37. Bangunan di Jalan Roda
5.4.11.2 Kondisi Fisik
Saat ini, kondisi beberapa bangunan masih terjaga dengan baik. Bentuk khas bangunan masih dapat terlihat secara fisik. Tapi pesatnya pertumbuhan penduduk dapat menyebabkan perubahan atau penambahan bangunan baru yang dapat mengurangi karakter Pecinan di Jalan Roda.
5.4.11.3 Pengelolaan Pelestarian
Pengelolaan bangunan dilakukan seadanya sebatas kemampuan dana yang dimiliki sang pemilik, karena umumnya kepemilikan bangunan ini merupakan kepemilikan pribadi.
5.4.11.4 Lingkungan
Jalan Roda sebagian besar terletak sejajar dengan Jalan Suryakencana dan di ujung selatan bertemu dengan Jalan Suryakencana membentuk perempatan, dimana satu cabang jalan yang lain adalah Gang Aut. Aktivitas pada Jalan Roda tidak seramai pada Jalan Suryakencana karena jarangnya penjual berjualan di jalan itu.
Menurut Data Rekapitulasi Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak Tahun 2007, terdapat 47 BCB yang tersebar di Jalan Suryakencana, Jalan Roda, Jalan Ranggagading dan Jalan Siliwangi, termasuk elemen lanskap bersejarah yang telah disebutkan sebelumnya. Data elemen yang termasuk BCB dapat dilihat pada Tabel 7. Sedangkan lokasi elemen bersejarah termasuk BCB dapat dilihat pada Gambar 39.
Tabel 7. Data BCB di Kawasan Pecinan Suryakencana Tahun 2007 1. Kelenteng Hok Tek Bio Jalan Suryakencana No. 1 2. Rumah Tinggal Jalan Suryakencana No. 198 3. Rumah Tinggal (kosong) Jalan Suryakencana No. 176 4. Rumah Tinggal Jalan Suryakencana No. 168
5. Tan Ek Tjoan Jalan Suryakencana No.
6. Rumah Tinggal Jalan Suryakencana No. 184
7. Rumah Tinggal Jalan Suryakencana No. 192
8. Rumah Tinggal Jalan Suryakencana No. 210
9. Rumah Tinggal Jalan Suryakencana No. 134 10. Rumah Tinggal Jalan Ranggagading No. 17 11. Rumah Tinggal Jalan Ranggagading No. 18
12. Bioskop City Jalan Ranggagading
14. Rumah Tinggal Jalan Kelenteng
16. Rumah Tinggal Jalan Roda No. 28
17. Rumah Tinggal Jalan Roda No. 29
18 Rumah Tinggal Jalan Roda No. 59
19 Rumah Tinggal Jalan Roda No.71
20 Rumah Tinggal Jalan Roda No. 147
21 Rumah Tinggal Jalan Roda No. 114 A
22 Rumah Tinggal Jalan Roda
23 Rumah Tinggal Jalan Roda No. 128
24 Perusahaan Meubel / Rumah Tinggal Jalan Roda No. 126
25 Salon “LELY” Jalan Roda No. 130
26 Yayasan Kematian Pulasara Jalan Roda No. 65/91
27 Vihara Mahabrahma Jalan Pulo Geulis, Babakan Pasar No. 18 28 Rumah Tinggal (kosong) Gang Aut No. 278
29 Vihara Dharmakaya Jalan Siliwangi No. 21
30 Rumah Tinggal Jalan Siliwangi
31 Sekolah Minggu Gereja Kristus Jalan Siliwangi No. 51 32 Kantor Perhutani Jalan Siliwangi No. 19
33 Mardi Yuana Jalan Siliwangi No. 50
34 Asrama IPB Sukasari Jalan Siliwangi No. 43
35 Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 48
36 Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 41
37 Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 46
38 Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 39
39. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 37 40. Pabrik Ban “PT. Mutu Mas” Jalan Siliwangi No. 44 41. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 35 42. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 33
43. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi
44. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 27
45. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi
46. Rumah Tinggal (kosong) Jalan Siliwangi No. 18 47. Rumah Tinggal Jalan Siliwangi No. 11 (Sumber : Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bogor, 2007)
Gambar 38. Lokasi Elemen Lanskap Bersejarah yang diamati Hok Tek Bio
Bekas Hotel
Pasar Baroe Kelenteng Pan Koh
Rumah Abu Keluarga Thung
Jalan Suryakencana Pulasara
Rumah Keluarga Thung Rumah Kapitan Tan Rumah Bekas Keluarga Thung Vihara Dharmakaya Kebun Raya Bogor Jalan Roda
Lokasi Elemen Lanskap Bersejarah Elemen Lanskap Bersejarah
5.5 Adat dan Budaya 5.5.1 Adat Sehari-hari
Masyarakat Pecinan Suryakencana adalah keluarga etnis Tionghoa yang masih menjalankan sistem kekeluargaan yang berdasarkan pada sistem kekeluargaan patriarkal. Dalam pemujaan leluhur dengan memelihara abu dalam rumah, ayah menjadi pemuka upacara. Kewajiban ini kemudian turun kepada anak laki-lakinya yang sulung dan begitu seterusnya. Anak perempuan tidak disebutkan dalam pemujaan leluhur, oleh karena anak perempuan sesudah menikah mengikuti suaminya dan dengan begitu yang turut diurusnya ialah pemujaan leluhur pihak suaminya. Hal ini erat hubungannya dengan tradisi Tionghoa, yaitu hanya anak laki-laki tertualah yang merupakan ahli waris dan yang akan meneruskan pemujaan terhadap leluhurnya.
5.5.1.1Pernikahan
Pada masyarakat Tionghoa, pernikahan itu menutup suatu masa tertentu di dalam kehidupan sesorang, yaitu masa hidup membujang dan masa hidup tanpa beban keluarga. Upacara pernikahan harus mahal, rumit dan agung untuk membuat pernikahan itu menjadi suatu kejadian yang penting dalam kehidupan seseorang. Di Indonesia, upacara pernikahan golongan Tionghoa tergantung pada agama atau religi yang dianutnya. Karena itu upacara pernikahan golongan Tionghoa berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Upacara pernikahan golongan Totok berbeda dengan upacara pernikahan golongan Peranakan. Pada golongan peranakan, pernikahan antara orang-orang yang mempunyai nama keluarga atau nama she yang sama tidak dibolehkan, tapi saat kini pernikahan antara orang-orang yang mempunyai nama she yang sama tapi bukan kerabat dekat sudah dibolehkan. Peraturan lain ialah seorang adik perempuan tidak boleh mendahului kakak perempuannya menikah. Peraturan ini berlaku juga bagi saudara-saudara sekandung laki-laki, tetapi adik perempuan boleh mendahului kakak laki-lakinya menikah, demikian juga adik laki-laki boleh mendahului kakak perempuannya.
Proses pernikahan akan dimulai setelah proses lamaran kepada calon mempelai wanita dengan melakukan Shang Jit (Seserahan). Keluarga mempelai
pria mengantarkan mas kawin berupa perhiasan, alat-alat rumah tangga dan pakaian yang dilanjutkan dengan pemberian ‘uang susu’ dan ‘uang pesta’. ‘Uang susu’ adalah uang yang diberikan keluarga mempelai pria kepada mertua perempuannya sebagai tanda jasa karena merawat dan membesarkan putrinya. ‘Uang pesta’ adalah uang yang diberikan sebagai tambahan biaya untuk mengadakan pesta tapi jika keluarga mempelai pria juga akan mengadakan pesta, biasanya uang akan dibagi dua. Proses ini akan dilanjutkan dengan Teh Pay atau upacara minum teh. Upacara ini dapat dilakukan sebelum proses pernikahan atau pada saat pernikahan. Masing-masing mempelai akan mempersembahkan teh kepada orang tua dan kerabat yang dituakan. Setelah mempersembahkan teh, para orang tua akan memberikan perhiasan yang harus langsung dipakai mempelai atau memberikan ampao.
Tempat tinggal setelah menikah bagi masyarakat Tionghoa adalah di rumah orang tua si suami. Tapi situasi sekarang telah menuju perubahan mendasar pada sistem keluarga, pada golongan masyarakat Tionghoa Peranakan telah mengadopsi sistem keluarga Bilateral Sunda, pengantin muda pindah bersama orangtua dari pihak istri, berlawanan dengan sistem tradisional dimana istri menjadi bagian keseluruhan dari keluarga suami. Pernikahan boleh diselenggarakan dan kamar pengantin disiapkan di rumah orang tua, baik mempelai wanita maupun mempelai laki-laki. Meja pemujaan dan abu leluhur diwariskan kepada anak perempuan dan suaminya dalam pola tempat tinggal matrilokal.
Berdasarkan pengamatan di lapang, tradisi pernikahan masyarakat Tionghoa masih dilaksanakan walaupun hanya beberapa keluarga saja yang menjalankannya. Banyak generasi muda yang sudah tidak mau menjalankan tradisi karena dirasa kurang praktis. Umumnya mereka hanya melakukan akad nikah/pemberkatan secara agama lalu dilanjutkan dengan resepsi di gedung sewaan, bukan di rumah keluarga. Keluarga yang masih menjalankan tradisi biasanya memasang kain merah di atas pintu.
5.5.1.2Kematian
Bagi masyarakat Tionghoa, kematian itu menutup kehidupan sesorang, tetapi mereka percaya bahwa seseorang yang telah meninggal masih hidup di alam lain. Oleh karena itu, mereka masih sering mengadakan sembahyang dan persembahan kepada yang telah meninggal. Di Indonesia, upacara kematian golongan Tionghoa tergantung pada agama atau religi yang dianutnya. Karena itu upacara kematian berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan pengamatan, upacara kematian terdiri atas empat tahap yaitu saat belum masuk peti, saat masuk peti dan penutupan peti, saat pemakaman/kremasi dan setelah pemakaman/kremasi. Dulu di Bogor tidak ada rumah duka sehingga masyarakat Pecinan Suryakencana biasanya menyemayamkan jenazah di rumah sebelum dimakamkan/dikemasi. Setelah ada Pulasara dan Sinar Kasih, keluarga lebih memilih menyemayamkan jenazah di rumah duka.
5.5.2 Aktivitas Budaya 5.5.2.1 Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek (Sincia) merupakan hari raya terbesar dari serangkaian hari raya yang dikenal masyarakat Tionghoa. Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal satu bulan pertama (Cia Gwe Ce It) menurut perhitungan kalender lunar. Karena berdasarkan sistem kalender lunar, maka jatuhnya yang tepat pada sistem kalender Masehi yang dipakai secara internasional akan selalu berubah. Namun Tahun Baru Imlek dapat dipastikan selalu jatuh pada awal musim semi dan berkisar antara 21 Januari dan 20 Februari. Dahulu Tahun baru Imlek dirayakan setidaknya selama 2 minggu penuh, sejak tanggal 1 bulan pertama Imlek (Goan Tan) hingga tanggal 15 bulan pertama (Goan Siau).
5.5.2.1.1 Aktivitas
Meski secara resmi Tahun Baru Imlek baru jatuh pada tanggal satu bulan pertama, namun persiapannya sudah berlangsung lebih dari seminggu sebelumnya, yakni saat upacara bersih-bersih Dewa-Dewi di kelenteng (Kim Sin), yang kemudian dilanjutkan dengan upacara mengantar Dewa-Dewi (Sin Beng) naik ke langit (Sang An atau Sang Sin) pada tanggal 24 bulan 12 Imlek (Cap Jie
Gwee Jie Sha). Upacara Sang Ang ini dikenal juga sebagai Jie Sha Sang An, artinya Tanggal 24 Mengantar Dewa.
Tahun Baru Imlek merupakan family affair dan tidak dirayakan di luar keluarga. Pada hari raya ini, seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah anggota keluarga yang paling tua (umumnya kakek atau nenek), mereka melakukan sembahyang bersama di altar leluhur (Meja Abu). Diatas meja abu itu harus disediakan kue keranjang atu yang dikenal dengan dodol Cina.
Perayaan keluarga dimulai menjelang petang tanggal satu. Kepala keluarga mengadakan upacara sembahyang minum teh bagi para leluhur sekaligus memberi undangan pada mereka untuk datang di rumah tersebut besok pagi (Nio, 1961), serta menyapu bersih dan membersihkan segala perabotan dengan maksud agar kesialan segera pergi dari rumah tersebut. Sejak petang hari itu seluruh anggota keluarga berkumpul dan melewatkan malam tahun baru bersama-sama dengan makan minum dan bermain kartu. Tepat tengah malam, petasan dibunyikan untuk menyambut datangnya tahun baru.
Pada harian Tahun Baru Imlek, pada pagi hari pintu dan jendela rumah dibuka untuk menyambut datangnya dewa keberuntungan, dan selama dua hari mendatang rumah tersebut tidak boleh disapu agar keberuntungan tidak pergi. Selanjutnya adalah kegiatan menerima dan melakukan kunjungan ke sanak keluarga dan handai taulan. Generasi yang lebih muda wajib melakukan kunjungan ke rumah keluarga yang mempunyai Meja Abu untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru (Pay Cia), kegiatan ini disebut Mencari Abu. Pada hari raya ini, kepala keluarga memberikan hadiah untuk anak-anak dan remaja yang belum menikah berupa angpau, begitu pula kepada fakir miskin atau pengamen yang datang.
Pada tanggal 3 (Ce Sa) masyarakat melakukan upacara penyambutan para Dewa-Dewi yang turun dari langit (Ci Sin). Keesokan harinya, tanggal 4 (Ce Si) barulah masyarakat pergi bersembahyang kelenteng dan tanggal lima (Ce Go) berziarah ke makam leluhur (Maybong). Seminggu setelah Tahun Baru Imlek, yakni tanggal 8 (Ce Peh) malam tanggal 9 (Ce Kao), tepat saat pergantian hari, diadakan sembahyang Tien Ti Kong atau Sembahyang Tuhan untuk mengucap syukur atas segala berkah yang dilimpahkanNya selama setahun.
5.5.2.1.2 Keberlanjutan Budaya
Tahun baru Imlek masih rutin dijalankan oleh masyarakat Tionghoa, walaupun tidak terlalu semeriah dulu. Acara kunjungan ke keluarga yang paling tua masih rutin dijalankan. Tahun ini, kelenteng Hok Tek Bio mengadakan acara- acara yang berhubungan dengan perayaan Tahun Baru Imlek, seperti pembersihan/pemandian rupang (patung) Dewa-Dewi, 4 hari sebelum tahun baru, penyalaan lilin imlek yang berlangsung selama 2 minggu, Hou Ciang Kun naik joli, arak-arakan Dewa Pan Koh, ritual potong lidah dan akhirnya perayaan Tahun Baru Imlek ditutup dengan pesta rakyat Cap Go Meh.
Tidak hanya ritual saja, tapi beberapa lomba, pameran dan seminar juga diadakan dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek kali ini. Hal ini menunjukkan bahwa euforia Tahun Baru Imlek tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Tionghoa saja, tapi oleh seluruh masyarakat Bogor.
5.5.2.2 Cap Go Meh
Cap Go Meh jatuh pada tanggal 15 bulan pertama (Cia Gwe Cap Go) atau 2 minggu setelah Tahun Baru. Nama resminya adalah Goan Siau atau Malam (Purnama) Pertama. Cap Go Meh merupakan puncak dari segala kemeriahan dan penutupan dari seluruh rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Sesuai dengan namanya, Cap Go Meh selalu dilaksanakan pada malam hari.