• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan Masalah

Dalam dokumen DISUSUN OLEH : TIKA PURNAMA SARI (Halaman 19-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah “Apakah Terdapat Pengaruh Faktor agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim di Jorong Cingkariang?”

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada perumusan masalah diatas maka dapat dikemukakan tujuan peelitian yaitu Untuk Menguji Pengaruh Faktor Agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim di Jorong Cingkariang

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini adalah : 1. Secara Teoritis

Diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khusunya mengenai ekonomi islam. Sehingga Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan terhadap Pola Konsumsi Rumah Tannga Muslim.

2. Secara Praktis a. Masyarakat

Salah satu bahan yang dijadikan pedoman dalam pola konsumsi yang terdapat di Jorong Cingkariang diharapakan dapat memberikan kontribusi dalam pembuatan yang berhubungan dengan objek penelitian.

b. Bagi Akademis

Diharapakan penelitian ini dapat menjadi sumber pustaka dalam penelitian selanjutnya dan menjadi referensi untuk mahasiswa dan pembaca.

F. Penjelasan Judul

Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman judul dalam memahami judul diatas, maka penulis merasa perlu untuk menjelasakan beberapa kata yang terdapat didalam judul yaitu:

Pengaruh :Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang,benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.11

Faktor agama :Suatu penyebab terjadinya kegiatan yang bersifat positif atau negatif yang dipengaruhi oleh agama

Konsumsi : Suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang maupun jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan.12

Rumah Tangga Muslim : Rumah tangga yang dikendalikan dengan tata nilai dan akhlak islamiyah masing-masing anggotanya hidup secara isalam dan mengindahkan hukum halal dan haram. 13

11 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan, KKBI, (Jakarta: Balai Pustaka,2007),Hlm 849

12 Abdul Aziz, Etika Bisnis...Hlm 159

13 Ali Abdul Halim Mahmud, Dakwah Fardiyah, (Jakarta: Germa Insani 1995),Hlm 30

G. Kajian Terdahulu

Dalam kajian ini penulis memaparkan bebebrapa penelitian terdahulu yang relevan dengan pembahasan yang diteliti tentang pengaruh faktor agama terhadapa pola konsumsi rumah tangga muslim, diantaranya:

1. Hasnira, 2017, Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Wahdah Islamiyah Makassar.14 Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriftif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan dan gaya hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadapa konsumsi masyarakat wahdah islamiyah makassar. Namun variabel pendapatan memiliki pengaruh paling dominan terhadap konsumsi masyarakat wahdah islamiyah makassar.

2. Tanti Dwi Hardiyanti, 2019, Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan.15 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan dan gaya hidup terhadap pola konsumsi masyarakat. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan hasil penelitian uji t menunjukkan hasil variabel pendapatan thitung sebesar 5,712 dan ttabel sebesar 1,66071dengan tingkat signifikan 0,000, dan variabel gaya hidup thitung sebesar 7,937 dan ttabel sebesar 1,66071 dengan tingkat signifikan 0,000. Dan uji f menunjukkan hasil fhitung sebesar 50,268 dan ftabel sebesar 3,09 dengan tingkat signifikan 0,000. Ini menunjukkan bahwa

14Hasnira,”Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Wahdah Islamiyah Makassar”,Skripsi, EI,FEBI,2017, Diakses Pada 5 Februari 2020

15Tanti Dwi Hardiyanti,”Pengaruh Pendapatan Dan Gaya Hidup Terhadap Pola Konsumsi Masyarakat Kecamatan Medan Perjuangan”, Skripsi,EI,FEBI,UINSU,2019,Diakses pada 5 januari 2020

pendapatan dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap pola konsumsi masyarakat kecamatan medan perjuangan.

3. Sumbu Latim Miatun ,2018, Pengaruh Religiusitas Terhadap Gaya Hidup Konsumen Muslim Toko Artomoro Di Ponorogo,16Metodolodgi penelitian ini menggunakan kuantitatif, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap gaya hidup konsumen muslim konsumen muslim toko Artomoro di Ponorogo. Penelitian ini menggunakan 97 responden konsumen muslim toko Artomoro di Ponorogo. Pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling, kemudian data diolah menggunakan SPSS 16.0. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara religiusitas terhadap gaya hidup.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari religiusitas terhadap gaya hidup konsumen muslim toko Artomoro di Ponorogo sebesar 9,9% dan sisanya 90,1% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian in

4. Agus Putra Sanjaya, 2017, Analisis Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Keluarga Dan Pendidikan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin Di Desa Bebandem, Karangasem,17Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan parsial antara variabel pendapatan, jumlah anggota keluarga

16Sumbu Latim Miatun, “Pengaruh Religiusitas Terhadap Gaya Hidup Konsumen Muslim Toko Artomoro Di Ponorogo”, Skripsi ,MFS,IAINP,2018, Diakses 5 Januri 2020

17Agus Putra Sanjaya,”Analisis Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Kelauarga Dan Pendidikan Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin Di Desa Bebandem Karangasem”, E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol.6, No.8 2017

dan pendidikan terhadap pola konsumsi rumah tangga miskin di Desa Bebandem.

5. Entika Indrianawati, 2015, Pengaruh Tingkat Pendapatan Dan Pengetahuan Ekonomi Terhadap Tingkat Konsumsi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.18Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif , Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendapatan terhadap tingkat konsumsi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas NegeriSurabaya, menganalisis pengaruh pengetahuan ekonomi terhadap tingkat konsumsi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya,menganalisis pengaruh tingkat pendapatan dan pengetahuan ekonomi terhadap tingkat konsumsi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.

6. Heri Pratikto,2012,”Motivasi Spiritual Dan Budaya Sekolah Berpengaruh Terhadap Kinerja Profesional Dan Perilaku Konsumsi Guru Ekonomi,19 Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatifpenelitian ini bertujuan mengungkap pengaruh motivasi spiritual, persepsi dan sikap atas budaya organisasi terhadap perilaku konsumsi yang dimediasi oleh etos kerja dan kinerja professional

Setelah membaca dan menganalisa kajian terdahulu diatas terdapat perbedaan antara yang penulis teliti dengan kajian terdahulu, dimana penulis

18Entika Indrianawati,”Pengaruh Tingkat Pendapatan Dan Pengetahuan Ekonomi Terhadap Tingkat Konsumsi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya”,jurnal Vol 3 No 2,2015

19Heri Pratikto, “Motivasi Spiritual Dan Budaya Sekolah Berpengaruh Terhadap Kinerja Profesional Dan Perilaku Konsumsi Guru Ekonomi” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Volume 19, Nomor 1, April 2012

mengkaji tentang Faktor Agama Terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim. Sedangkan pada kajian terdahulu membahas tentang Pengaruh Pendapatan, Gaya Hidup.

H. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Maslah, Tujuan Penelitian ,Manfaat Penelitian, Penjelasa Jdul Serta Sistematika Penulisan Skripsi.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini terdiri dari Pengertian, Pengukuran nilai-nilai spiritual, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas, Pengertian Konsumsi, Pola Konsumsi, Konsumsi Dalam Ekonomi Syariah , Tujuan Konsumsi Dalam Islam, Prinsip Konsumsi, Unsur-Unsur Penentu Prefensi Konsumen

BAB III METODE PENELITIAN

Jenis penelitian, lokasi dan Waktu Penelitian ,Jenis Dan Sumber Data,Populasi Dan Sampel, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan data yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian di analisa dengan berbagai metode untuk dapat membuktikan kebenaran hipotesis yang telah dibuat agar dapat menarik kesimpulan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir dari skripsi yang berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan saran

16

PEMBAHASAN A. Pola Konsumsi Rumah Tangga Muslim

1. Pengertian Konsumsi

Konsumsi berasal dari bahaa inggris yaitu consume atau bahasa belanda yakni consumptie yang berarti memakai atau menghabiskan.

Konsumsi ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi dan menghabiskan daya guna suatu benda baik berupa barang maupun jasa, baik secara sekaligus maupun berangsur-angsur untuk memenuhi kebutuhan.

Dalam ekonomi islam, konsumsi diakui sebagai salah satu perilaku ekonomi dan kebetulan asasi dalam kehidupan manusia. Perilaku konsumen diartikan sebagai setiap perilaku seorang konsumen untuk menggunakan dan memanfaatkan barang dan jsa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 20

Aktivitas konsumsi dalam islam merupakan salah satu aktivitas ekonomi manusia yang bertujuan ntuk meningkatkan ibadah dan keimanan kepada allah swt dalam rangka mendapatkan kemenangan, kedamaian dan kesejahteraan akhirat (falah), baik dengan membelanjakan uang atau pendapatan untuk keperluan dirinya maupun untuk amal shaleh bagi sesamanya.21

20 Abdul Ghofur, Pengantar Ekonomi Syriah. (Kaliwungu: Pt Rajagrafindo Persada), 2017,Hlm 76

21 Idri, Hadis ekonomi, Surabaya, Pranadamedia Grup 2014 ...,Hlm 98

Menurut Qardhawy, sebagaimana yang dikutip oleh Rahmat Gunawijaya dalam pemenuhan kebutuhan harus mempertimbangkan kaidah-kaidah berikut:

a. Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang baru diduga adanya, atau masih diragukan.

b. Mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil c. Mendahulukan kepentingan sosial atas kepentingan individual

d. Mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit.

e. Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang yang sementara atau insidentil

f. Mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepentingan yang bersifat formalitas atau tidak penting.22

2. Pola Konsumsi

Pola konsumsi orang berbeda-beda, tetapi secara umum dalam berkonsumsi orang akan mendahulukan kebutuhan pokok, baru kemudian memenuhi kebutuhan lainnya. Berdasarkan teori pola konsumsi, faktor -faktor yang mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga secara garis besar dikelompookkan menjadi :

a. Faktor budaya i. Gaya hidup ii. Nilai tradisi b. Faktor Sosial

22 Rahmat Gunawijaya , kebutuhan manusia dalam pandangan ekonomi kapitalis dan ekonomi islam,jurnal al-maslahah – volume 13 nomor 1 april 2017,diakses pada 15 februari 2020

i. Ukuran rumah tangga ii. Lingkungan

iii. Pendidikan iv. Usia c. Faktor Ekonomi

i. Penghasilan ii. Kekayaan iii. Harga barang iv. Tabungan

v. Kredit

vi. Konsumsi masa lalu vii. Ekspektasi

d. Faktor Agama i. Kepedulian

ii. Pemahaman terhadap harta iii. Pengalaman spiritual 23

3. Konsumsi Dalam Ekonomi Syariah

Konsumsi memliki urgensi yang sangat besar dalam perekonomian, karena tiada kehidupan tanpa konsumsi. Pengabaian terhadapa konsumsi berarti mengabaikan kehidupan sekaligus tugas dalam kehidupan. Manusia diperintahkan untuk mengonsumsi pada tingkat yang layak bagi dirinya, keluarga dan orang paling dekat di sekitarnya. Manusia

23 Fordebi, Ekonomi Dan Bisnis Islam,(Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada,2016 ), hlm 336

dilarang beribadah secara mutlak tanpa mementingkan kebutuhan jasmani bahkan diperbolehkan mengonsumsi makanan yang haram ketika dalam kesulitan. 24

Dalam ajaran islam ada beberapa hal yang menjadi titik tekan dalam konsumsi

a. Konsumsi lebih diarahkan pada aspek maslahah bukak utilitas.

Pencapaian maslahah merupakan tujuan dari syariat islam

b. Dalam islam dilarang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan c. Dalam islam menekankan bahwa konsumsi dapat dilakukan sepanjang

memehartikan pihak lain yang tidak mampu. Sehingga ditekankan aspek zakat, infak dan sadaqah.

Maslahah yang diterima oleh seorang konsumen ketika mengkonsumsi barang dapat berbentuk salah satu diantaranya Manfaat material yaitu diperoleh tambahan harta bagi konsumen berupa harga yang murah, diskon, kecilnya biaya dan sbagainya. Manfaat fisik dan pskikis, yaitu terpenuhinya kebutuhan baik fisik maupun psikis terpenuhinya kebutuhan akal manusia, Manfaat intelektual, yaitu terpenuhinya kebutuhan informasi, pengetahuan, keterampilan dan lain-lain, Manfaat lingkungan, yaitu manfaat yang bisa dirasakan selain pembelian dan Manfaat jangka panjang, yaitu terpeliharanya manfaat untuk generasi yang akan datang.25

24Abdul Ghofur, Pengantar ..Hlm 76

25Abdul Ghofur, Pengantar Ekonomi ...Hlm 79

Disamping itu kegiatan konsumsi akan membawa berkah bagi konsumen jika ,Barang yang dikonsumsi bukan merupakan barang haram, Barang yang dikonsumsi tidak secara berlebihan dan Barang yang dikonsumsi didasari oleh niat untuk mendapatkan rido Allah. Konsep maslahah memiliki makna yang luas dari sedekar utulity atau kepuasan dalam termiologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara‟ yang paling utama.

4. Tujuan Konsumsi Dalam Islam

Tujuan konsumsi adalah dalam rangka untuk memenuhi kebuthan manusia. Kebutuhan itu dapat dikategorikan

a. Kebutuhan Primer ( Dharuriyyah)

Kebutuhan yang berkaitan dengan hidup mati seseorang, seperti kebutuhan pada oksigen,makanan dan minuman. Manusia harus terus berusaha untuk memepertahankan kehidupannya dengan melakukan pemenuhan kebutuhan primernya sebatas yang dibutuhkan dan tidak boleh berlebihan.26

Allah berfirman dalam Al-Qur‟an surat al-An‟am ayat 141

ۥُُُوُك ُ

26Idri, Hadis Ekonomi...Hlm 106

Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan

b. Kebutuhan Sekunder (Hajiyat)

Kebutuhan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan, tetapi tidak sampai mengancam kehidupan apabila tidak terpenuhi. Segala sesuatu yang dapat memudahkan dalam melakukan tugas-tugas penting diklasikfikasikan sebagai kebutuhan sekunder

c. Kebutuhan Tersier (Tahsiniyah)

Kebutuhan yang bersifat asesoris,pelengkap dan memberi nilai tambah pada pemenuhan kebutuhan promer dan sekunder.

Dalam menentukan tiga kebutuhan tersebut umat islam tidak semata-mata memeperhatikan aspek terpenuhinya salah satu atau semua kebutuhan itu. Pemenuhan kebutuhan dengan konsumsi dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam bingkaian ketaatan dan pengbdian kepada Allah akan menjadikan bernilai ibadah yang berpahala. 27

Dengan demikian aktivitas konsumsi merupakan aktivitas ekonomi manusia yang bertujuan untuk meningkatkan ibadah dan keimanan kepada Allah dalam rangka mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan, baik dengan membelanjakan uang atau pendapatan untuk keperluan dirinya maupun untuk amal shaleh. Islam mengajatkan agar

27Idri, Hadis Ekonomi...,Hlm 107

dalam memenuhi kebutuhan baik primer, sekunder, mapun tersier manusia melakukannya dengan tujuan untuk ibadah kepada allah dengan mematuhi norma-norma ajaran Islam.28

5. Kebutuhan Menurut Maslow

Maslow‟s Need Hierarchy Theory atau A Theory of Human Motivation, dikemukakan oleh Abraham Maslow tahun 1943 menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasan seseorang itu jamak yaitu meliputi kebutuhan biologis dan psikologis berupa materiil dan non materiil. Dalam teori kebutuhan Maslow, ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi maka kebutuhan berikutnya menjadi dominan. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow adalah sebagai berikut :

a. Kebutuhan Fisiologis (Phisiological Needs)

Kebutuhan fisiologis merupakan hierarki kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup meliputi sandang, pangan, papan seperti makan, minum, perumahan, tidur, dan lain sebagainya.29

b. Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs)

Kebutuhan akan rasa aman ini meliputi keamanan secara fisik dan psikologis. Keamanan dalam arti fisik mencakup keamanan di tempat pekerjaan dan keamanan dari dan ke tempat pekerjaan.

28Idri, Hadis Ekonomi..., Hlm 108

29 Elisa Sari , Pendekatan Hierarki Abraham Maslow Pada Prestasi Kerja Karyawan PT.

Madubaru (Pg Madukismo) Yogyakarta,Jurnal Prilaku Dan Strategi Bisnis, Vol.6 No.1, 2018, Hlm 61

Kemanan fisik ini seperti keamanan dan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja dengan memberikan asuransi dan penerapan prosedur K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), serta penyediaan transportasi bagi karyawan. Sedangkan keamanan yang bersifat psikologis juga penting mendapat perhatian. Keamanan dari segi psikologis ini seperti perlakuan yang manusiawi dan adil, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya, jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak ada lagi.

c. Kebutuhan Sosial (Social Needs)

Meliputi kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi (hubungan antar pribadi yang ramah dan akrab), dan interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan Pendekatan Hierarkhi Abraham berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama.30

d. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)

Kebutuhan ini meliputi kebutuhan dan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas faktor kemampuan dan keahlian seseorang serta efektivitas kerja seseorang.

(Sunyoto, Danang, 2013: 3) Maslow membagi kebutuhan akan rasa harga diri/penghargaan ke dalam dua sub, yakni penghormatan dari diri sendiri dan penghargaan dari orang lain. Sub pertama mencakup hasrat

30 Elisa Sari , Pendekatan Hierarki ...Hlm 61

dari individu untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan.

Kesemuanya mengimplikasikan bahwa individu ingin dan perlu mengetahui bahawa dirinya mampu menyelesaikan segenap tugas atau tantangan dalam hidupnya. Sub yang kedua mencakup antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya. Penghargaan ini dapat berupa pujian, pengakuan, piagam, tanda jasa, hadiah, kompensasi, insentif, prestise (wibawa), status, reputasi, dls. (Koeswara, E., 1995: 228-229)

e. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization Needs)

Aktualisasi diri merupakan hierarki kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi. Aktualiasasi diri berkaitan dengan proses pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang.

(Sunyoto, Danang, 2013: 3). Pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan oleh para pimpinan perusahaan dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, memberikan otonomi untuk berkreasi, memberikan pekerjaan yang menantang.31

6. Prinsip Konsumsi

Ajaran islam tidak melarang manusia untuk memenuhi kebutuhan ataupun keinginannya, selama dengan pemenuhna tersebut, martabat manusia bisa meningkat. Islam telah mengatur bahwa setiap muuslim

31 Elisa Sari , Pendekatan Hierarki ...Hlm 62

dalam berkonsumsi harus sejalan dengan prinsip konsumsi yang didasarkan pada nilai-nilai islam antara lain:

a. Prinsip Kehalalan Dan Thayyib

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa mengkonsumsi segala sesuatu yang dihalalkan dengan cara yang baik. Setiap individu dibatasi oleh atura-aturan syariat, dimana ada beberapa barang yang tidak boleh dkonsumsi karena suatu alasan tertentu,barang ini haram.

Seingga konsumen hanya boleh mengonsumsi barng atau objek yang halal, baik produknya maupun prosesnya. 32

Tuntutan untuk mengkonsumsi barang-barang ekonomi yang halal lagi baik, pada prinsipnya diarahkan pada tidak hanya kepada umat islam semata, melainkan kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, status sosial, suku, bangsa, dan negara atau bahkan juga tidak atas dasar agama sekalipun.

b. Prinsip kesederhanaan

Islam memerintahkan manusia untuk lebih efesien dalam menggunakan pendapatannya dan tidak boleh menghabur-hamburkan hartanya, karena itu adalah perbuatan mubazir dan dapat merusak keseimbangan sosial, kesejahteraan dan berakibat kepada kemiskinan dan kehinaan. 33

32 Havis Aravik, Ekonomi Islam,(Jakarta: Empatdua,2016), Hlm 117

33Havis Aravik, Ekonomi Islam.. Hlm 120

c. Prinsip Kebersihan

Prinsip ini mengandung arti bahwa setiap mengkonsumsi sesuatu baik atau cocok untuk dimakan, sehingga tidak merusak selera. Artinya tidak semua yang diperkenankan dapat dimakan atau diminum dalam semua keadaan, keculai yang bersih dan bermanfaaat.

d. Prinsip Kemurahan Hati

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dengan menaati prinsip islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita makan dan meminum makanan halal yang disediakan Allah karena kemurahan hati-Nya. Selama maksudnya untuk kelansungan hidup dan kesehatan yang lebih baik dengan tujuan menunaikan perintah Allah dengan keimanan yang kuat dalam tuntutan-Nya, dan perbuatan adil sesuai dengan itu, yang menjamin persesuaian bagi semua perintah-Nya.

e. Prinsip Moralitas

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa bukan hanya mengenai makanan dan minuman langsung tetapi dengan tujuan terakhir yakni peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan spriritual. 34:

7. Unsur-Unsur Penentu Prefensi Konsumen

Dalam mambahas teori perilaku konsumen dalam berkonsumsi, diasumsikan bahwa seseorang konsumen merupakan sosok yang cerdas.

dalam ekonomi islam kecerdasan konsumen tidak bersifat mutlak. Allah

34 Havis Aravik, Ekonomi Islam...Hlm 123

telah memberikan beberapa kenikmatan dan kemampuan kepada manusia, diantaranya yang paling agung adalah kenikmatan akal dan nalar. Yang mampu membedakan kemaslahatan dan kemudharatan.35

Allah berfirman dalam Al-Qur‟an Ali-Imran 14

ِبََِّلَّٱ ٌَِي ِةَر َطََقًُ ۡ لٱ ِيِۡطَٰ َنَقۡهٱَو َينِنَ ۡلۡٱَو ِءٓاَسِّنهٱ ٌَِي ِتََٰوََّّشلٱ ُّبُح ِساََّوِل ٌَِّيُز

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)

Penjelasan diatas telah membentuk beberapa aturan dan kaidah dan kosep yang dapat dijadikan oleh konsumen sebagai pegangan dalam melakukan konsumsi. Danya aturan tersebut dimaksudkan untuk meningkatakn utility yang didapatkan konsumen searta mewujudkan kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat. Ada beberapa aturan yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk mewujudkan rasionalitas dalam berkonsumsi:

a. Mengkonsumsi Yang Halal

Halal memiliki definisi “tindakan yang dibenarkan untuk dilakukan oleh syara”. Halal dibagi menjadi tiga yaitu halal menurut

35Said Sa‟ad Marthon, Ekonomi Islam, (Jakarta: Zikrul Hakim), 2007,Hlm74

sifat zat, cara memperolehnya, dan cara pengolahannya. Keimanan seorang Muslim dapat diukur dengan bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupannya sehari-hari sesuai dengan tuntunan Al Qur‟an dan hadits.

Dalam konteks ekonomi, seorang Muslim diwajibkan untuk mengkonsumsi hal-hal yang baik saja. Yaitu halal, baik halal menurut sifat zat, cara pemprosesan, dan cara mendapatkannya. Mengkonsumsi barang dan jasa yang halal saja merupakan bentuk kepatuhan manusia kepada Allah SWT, sebagai balasannya, manusia akan mendapatkan pahala sebagai bentuk berkah dari barang dan jasa yang dikonsumsi.

Islam melarang untuk menghalalkan apa yang sudah ditetapkan haram dan mengharamkan apa-apa yang sudah menjadi halal. 36

b. Pelangaran Israf,Tabdzir, Dan Safih

Israf adalah melalmpaui batas hemat dan keseimbangan dalam bekonsumsi. Israf merupakan prilaku dibawah tarf. Tabzir adalah melakukan konsumsi secara berlebihan dan tidak proposional. Safih adalah orang yang tidak cerdas dimana ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariah dan senantiasa menuruti hawa nafsu37. Dalam Al-Qur‟an surat al-Isra‟ 26-27

اًريِذۡبَت ۡرِّذَبُت َ

لََّو ِنيِب َّسلٱ ٌَۡبٱَو َينِم ۡسًِ ۡ لٱَو ۥَُُّقَح َٰ َبَۡرُقۡهٱ اَذ ِتاَءَو ٢٦

ِّذَبًُ ۡ لٱ َّنِإ

36 Zulfikar Alkautsar, Implementasi Pemahaman Konsumsi Islam Pada Perilaku Konsumsi Konsumen Muslim, JESTT Vol. 1 No. 10 Oktober 2014, Diakses pada 2 April 2020,Hlm 748

37Said Sa‟ad Marthon, Ekonomi Islam...Hlm78

اٗرُْفَل ۦُِِّبَرِل ٌَُٰ َطۡي َّشلٱ َن َكََو ِِۖينِطََٰيَّشلٱ َنََٰوۡخِإ ْآٍَُْكَ ٌَيِر ٢٧

Artinya : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. 27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu

Artinya : Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. 27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu

Dalam dokumen DISUSUN OLEH : TIKA PURNAMA SARI (Halaman 19-0)

Dokumen terkait