• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan Masalah

Dalam dokumen Oleh : KHAIRUL RAMADHAN SINAGA (Halaman 17-0)

Dengan didasarkan pada pengamatan pra-penelitian, penelitian ini dilakukan untuk menyoroti persoalan yang terjadi pada masyarakat, yakni faktor-faktor yang memengaruhi TKI pada usia produktif Kecamatan Rambutan, Kelurahan Tanjung Marulak ini melakukan migrasi ke luar negeri untuk bekerja. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan dan dari hasil pengamatan pra penelitian, penulis merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut: “Seperti apa faktor-faktor yang Memengaruhi Usia Produktif menjadi Ekspatriat (TKI) di Kecamatan Rambutan, Kelurahan Tanjung Marulak?”

10 1.3. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi usia produktif menjadi Ekspatriat (TKI) di Kecamatan Rambutan Kelurahan Tanjung Marulak 1.3.2. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi :

1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan dan menambah wawasan penulis tentang faktor-faktor yang memengaruhi usia produktif menjadi Tenaga Kerja Indonesia

2. Bagi Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial

Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi mahasiswa fakultas dan memberikan sumbangan kepustakaan yang berguna bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian yang sama dengan objek dan tempat yang berbeda

3. Bagi Pemerintah

Penelitian ini dapat menjadi referensi kajian bagi pemerintah Indonesia dalam mengambil kebijakan terkait Tenaga Kerja Indonesia

11 1.4. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah : BAB I : Pendahuluan

Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan BAB II : Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan uraian konsep yang berkaitan dengan masalah dan objek yang diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep dan kondisi yang terjadi

BAB III : Metode Penelitian

Bab ini berisikan tentang tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi, teknik pengumpulan data serta teknik analisis data.

BAB IV : Deskripsi Lokasi Penelitian

Bab ini berisikan gambaran umum lokasi penelitian dimana penulis melakukan penelitian.

BAB V : Hasil Penelitian

Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian dilapangan

BAB IV : Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang bermanfaat sehubungan dengan penelitian yang dilakukan

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Faktor Pendorong dan Faktor Penarik

Faktor adalah hal keadaan, peristiwa yang ikut menyebabkan (memengaruhi) terjadinya sesuatu (KBBI). Berdasarkan defenisi tersebut dapat diketahui bahwa faktor dapat memberikan dorongan sebagai landasan seseorang agar melakukan sesuatu terjadi pada dirinya.

Mengenai faktor yang memengaruhi individu menjadi Tenaga Kerja Indonesia dapat dihubungkan dengan adanya mobilitas horizontal. Mobilitas horizontal adalah perpindahan penduduk secara teritorial dan spasial atau geografis (Lembaga Demografi FE UI, 2004). Berdasarkan defenisi tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa adanya individu yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia merupakan bagian dari suatu mobilitas horizontal.

Mobilitas horizontal yang selanjutnya merupakan bagian dari migrasi meninjau kondisi kependudukan. Adanya faktor-faktor pendorong dan penarik bagi orang-orang untuk melakukan migrasi menjadikan arus aktivitas ini semakin meningkat.

Menurut Lembaga Demografi FE Universitas Indonesia (2010), migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/ negara maupun batas administratif bagian dalam suatu negara. Jadi, migrasi dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk yang relatif permanen dari suatu daerah ke daerah lain. Ada 2 dimensi penting yang perlu ditinjau dalam penelaahan migrasi, yakni dimensi waktu dan daerah.

13 Faktor-faktor yang memengaruhi seseorang migrasi pada dasarnya ada dua pengelompokkan, yakni faktor pendorong dan faktor penarik (Lembaga Demografi FE UI, 2010)

Faktor-faktor pendorong dapat berupa hal-hal sebagai berikut ini :

1) Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan, seperti menurunnya daya dukung dalam lingkungan dan menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh, seperti hasil tambang, kayu, atau bahan pertanian

2) Menyempitnya lapangan pekerjaan ditempat asal

3) Adanya tekanan-tekanan politi, agama, dan suku sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal

4) Alasan pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan

5) Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, musim kemarau panjang atau wabah penyakit

Faktor-faktor penarik dapat berupa hal-hal sebagai berikut ini :

1) Adanya harapan untuk memperoleh kesempatan guna memperbaiki kehidupan

2) Adanya kesempatan untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik

3) Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, seperti iklim, perumahan, sekolah, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya

4) Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, atau pusat kebudayaan yang merupakan daya tarik bagi orang-orang daerah lain untuk bermukim di kota besar

14 2.1.2 Perubahan Sosial

Kecenderungan terjadinya perubahan sosial merupakan gejala wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ogburn (dalam Soekanto, 2014) bahwa perubahan sosial juga terjadi disertai adanya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya seperti geografis, biologis, dan ekonomis. Kemudian, perubahan sosial juga bisa terjadi pada yang bersifat periodik dan non periodik. Terlebih bahwa perubahan merupakan lingkaran kejadian-kejadian yang terjadi. Soekanto (2014) dalam karyanya berjudul Sosiologi; Suatu Pengantar, berpendapat bahwa perubahan sosial dapat dimengerti dengan sebagai berikut :

“Selama hidupnya pasti mengalami perubahan. Perubahan bagi masyarakat yang bersangkutan maupun bagi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok.

Ada pula perubahan yang berpengaruh terbatas maupun luas serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga perubahan yang berjalan cepat. Perubahan bisa berkaitan dengan nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga kemasyarakatan, lapisan dalam masyarakat kekuasaan dan wewenang serta lain-lainnya. Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku di antara kelompok dalam masyarakat”

Sugihen (1997) mengemukakan, “Perubahan sosial adalah suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan didalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan”.

Senada dengan pendapat sebelumnya, Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1994; dalam Soekanto 2014) juga mengemukakan pendapatnya bahwa,

15

“Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian memengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya”.

Berdasarakan teori perubahan sosial diatas menunjukkan berbagai hal yang penting pada proses dan mekanisme perubahan, dimensi perubahan sosial serta kondisi dan faktor-faktor perubahan sosial serta dimaknai sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi dari bentuk-bentuk masyarakat.

2.1.3 Migrasi

Peribahasa “ada gula ada semut” menjelaskan kondisi paling cocok dengan adanya fenomena proses migrasi desa-kota. Para migran berperilaku seperti semut, maksudnya bila semut menemukan makanan di suatu tempat, makanan itu tidak dimakan di tempat itu, tetapi dibawa bersama teman-temannya ke sarangnya (Ida Bagoes, 2000). Menurut Oishi (2002; dalam Purnomo, 2009) menjelaskan bahwa “di negara-negara pengirim migran, informasi tentang pekerjaan dan standar hidup di luar negeri secara efisien disampaikan melalui jaringan personal seperti teman dan tetangga yang telah beremigrasi”. Ini menunjukkan adanya pengaruh untuk berpindah tempat atau melakukan migrasi melalui jaringan seperti lingkungan sosial sekitar.

Beberapa bentuk-bentuk mobilitas penduduk, yaitu mobilitas vertikal dan horizontal. Bila dilihat dari ada tidaknya niatan untuk menetap di daerah tujuan, mobilitas penduduk dapat pula dibagi menjadi dua, yaitu mobilitas penduduk

16 permanen atau migrasi; dan mobilitas penduduk non-permanen. Migrasi/

mobilitas permanen adalah gerak penduduk yang melintas batas wilayah asal menuju ke wilayah tujuan dengan niatan menetap. Sebaliknya, mobilitas penduduk non-permanen adalah gerak penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada niatan menetap di daerah tujuan (Mantra, 2000; dalam Purnomo 2009). Sedangkan bila seseorang menuju ke daerah lain dan sejak semula sudah bermaksud tidak menetap di daerah tujuan, orang tersebut digolongkan sebagai pelaku mobilitas non-permanen walaupun bertempat tinggal di daerah tujuan dalam jangka waktu lama. (Mantra, 2000; dalam Purnomo 2009).

Lebih lanjut lagi, dalam arti luas migrasi adalah perubahan tempat tinggal secara pemranen atau semi permanen. Tidak ada pembatasan, baik pada jarak dan perpindahan maupun sifatnya, yaitu apakah tindakan itu bersifat suka rela atau terpaksa, serta tidak diadakan perbedaan antara migrasi dalam negeri dan migrasi keluar negeri (Lee, 1991; dalam Nasution, 1999).

Proses migrasi terjadi sebagai jawaban terhadap adanya sejumlah perbedaan antar tempat. Perbedaan tersebut menyangkut faktor-faktor ekonomi, sosial dan lingkungan baik pada tataran individu maupun masyarakat (Bandiono, 1997:

dalam Nasution, 1999). Banyak studi migrasi menunjukkan bahwa alasan migrasi terutama karena alasan ekonomi, yaitu adanya kesempatan memperoleh pendapatan, pekerjaan dan alasan yang lebih baik. Dengan melakukan migrasi merupakan cara untuk meningkatkan kualitas kehidupnya.

Faktor ekonomi merupakan faktor primer yang memengaruhi migrasi.

Faktor ekonomi tersebut seperti mobilitas jabatan (mobilitas sosial), upah yang

17 lebih tinggi, kesempatan kerja yang lebih banyak dan lainnya. Aswatini (1995;

dalam Nasution, 1999) mengemukakan bahwa alasan pindah biasanya disebabkan faktor ekonomi, sosial, budaya dan keamanan, kesulitan ekonomi, tekanan penduduk dan faktor geografis.

Berdasarkan buku Lembaga Demografi FE UI (2004), ada beberapa jenis migrasi yang diketahui, antara lain adalah :

1) Migrasi Masuk, proses masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan

2) Migrasi Keluar, adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal

3) Migrasi Neto, merupakan selisih amtara jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar. Apabila migrasi yang masuk lebih besar dari pada migrasi keluar maka disebut migrasi neto positif sedangkan jika migrasi keluar lebih besar daripada migrasi masuk disebut migrasi neto negatif

4) Migrasi Bruto, jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar

5) Migrasi Total, adalah seluruh kejadian migrasim mencakup migrasi semasa hidup dan migrasi pulang

6) Migrasi Internasional, merupakan perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi yang merupakan masuknya penduduk ke suatu negara disebut Imigrasi sedangkan sebaliknya jka migrasi itu merupakan keluarnya penduduk dari suatu negara disebut Emigrasi.

7) Migrasi Semasa Hidup, adalah migrasi berdasarkan tempat kelahiran.

Mereka yang pada waktu pencacahan sensus penduduk bertempat tinggal di daerah yang berbeda dengan daerah tempat kelahirannya.

18 8) Migrasi Parsial, adalah jumlah migran ke suatu daerah tujuan dari satu daerah asal, atau dari daerah asal ke suatu daerah tujuan. Migrasi ini merupakan ukuran dari arus migrasi antara dua daerah asal dan tujuan.

9) Arus Migrasi, merupakan jumlah atau banyaknya perpindahan yang terjadi dari daerah asal ke daerah tujuan dalam jangka waktu tertentu.

10) Urbanisasi, bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota disebabkan oleh proses perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan daerah kota. Defenisi urban bisa berbeda-beda, tetapi biasanya pengertian ini berhubungan dengan kota atau daerah pemukiman yang lebih padat.

11) Transmigrasi, adalah salah satu bagian dari migrasi. Istilah ini memiliki arti sama dengan “resettlementí” atau “settlement” dalam literatur.

Tramigrasi adalah pemindahan dan atau kepindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap ke daerah lain yang ditetapkan di dalam wilayah Republik Indonesia guna kepentingan pembangunan negara atau karena alasan-alasan yang dipandang perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan yang diatur dalam undang-undang Trasmigrasi No.3 Tahun 1972.

19 2.1.4 Usia Produktif

Usia produktif adalah umur ketika seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2020. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masuk dalam rentang usia antara 15 - 64 tahun.

Penduduk usia itu dianggap sudah mampu menghasilkan barang maupun jasa dalam proses produksi dan penduduk yang berusia lebih dari 64 tahun sudah tidak mampu lagi menghasilkan barang maupun jasa (Sukmaningrum, 2017)

Penduduk usia produktif dianggap sebagai bagian dari penduduk yang ikut andil dalam kegiatan ketenagakerjaan yang sedang berjalan. Penduduk usia produktif saat ini tidak hanya didominasi oleh masyarakat dengan rentang usia diatas 20 tahun yang sudah selesai menempuh pendidikannya. Saat ini, remaja usia muda yang masih bersekolah pun sudah banyak yang memiliki usahanya sendiri. Di beberapa kota kejadian seperti ini sudah biasa terlihat. Keterlibatan kaum muda dalam bekerja diawali sebagai tenaga pembantu di usaha keluarga, sebelum akhirnya mereka berusaha sendiri (BKKBN, 2014:29).

2.1.5 Tenaga Kerja Indonesia dan Ekspatriat

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003, sebagaimana dimaksud denggan “tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/ atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.”

Masih berdasarkan Undang-undang Republik No 13 Tahun 2003, Tenaga Kerja Asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia. Penduduk yang termasuk angkatan kerja adalah penduduk usia

20 kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya selain kegiatan pribadi (BPS).

Tenaga kerja dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengeluarkan usaha pada tiap satuan waktu guna menghasilkan sesuatu baik berupa barang atau jasa, yang digunakan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain (Handono, 2004; dalam Pratiwi, 2007)

Sumarsono (2003; dalam Pratiwi 2007) mengatakan bahwa

“tenaga kerja adalah semua orang yang bersedia sanggup bekerja, dimana tenaga kerja ini meliputi semua orang yang bekerja baik untuk diri sendiri ataupun untuk anggota keluarganya yang tidak menerima imbalan dalam bentuk upah atau semua orang yang sesungguhnya bersedia dan mampu untuk bekerja, dalam arti mereka yang sesungguhnya bersedia dan mampu untuk bekerja, dalam arti mereka menggangur dengan terpaksa karena tidak adanya kesempatan kerja”.

Senada dengan pendapat Sumarsono, Dumairy (2004; dalam Pratiwi, 2007), mengatakan bahwa, “tenaga kerja adalah semua penduduk yang mempunyai umur didalam batas usia kerja”. Berdasarkan definisi sebelumnya, dapat dipahami bahwa setiap negara berhak menentukan batas usia yang berbeda dan masing-masing tergantung dari situasi tenaga kerja di negara yang bersangkutan.

Dalam Sensus Penduduk tahun 2000, yang termasuk tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun atau lebih (Badan Pusat Statistik). Hal ini

21 menunjukkan dengan jelas rentang usia yang dimulai untuk seseorang dapat dikatakan tenaga kerja diakui oleh negara

Berdasarkan UU No 39 Tahun 2004 disebutkan bahwa, Tenaga Kerja Indonesia atau disebut dengan TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.

Berdasarkan definisi diatas dapat dikatakan bahwa Tenaga Kerja Indonesia dan/ atau calon TKI adalah warga negara Indonesia (WNI) baik laki-laki maupun perempuan yang telah dan/ atau akan bekerja di luar negeri dengan jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja dan mendapatkan upah melalui prosedur penempatan TKI.

22 2.2 Penelitian Yang Relevan

Adapun penelitian yang relevan dalam penulisan skripsi berjudul Faktor-faktor yang Memengaruhi Usia Produktif Menjadi Ekspatriat (TKI) Kelurahan Tanjung Marulak, Kecamatan Rambutan adalah sebagai berikut :

1. Kurnia Giawa, Agus Joko Pitoyo dan Djaka Marwasta (2017)

Judul Jurnal : Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Ke luar Negeri Tahun 2013-2015

Tujuan Penelitian : Untuk mengkaji fenomena pekerja migran Indonesia yaitu distribusi (status pekerja, negara-negara tujuan pekerja migran Indonesia), dan karakteristik pekerja migran (jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lapangan usaha).

Kesimpulan : Fenomena pekerja migran Indonesia disimpulkan bahwa pekerja migran perempuan lebih dominan yang bekerja keluar negeri daripada lakilaki lebih kecil. Penempatan TKI terbanyak berdasarkan tingkat pendidikan di tingkat pertama yaitu SMP SD, SMU dan perguruan tinggi. Dominan pekerja migran yang bekerja di sektor lapangan usaha yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pengolahan industri, jasa ke masyarakat, dan perorangan.

2. Maulidyah Amalina Rizqi (2018)

Judul Jurnal : Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Untuk Menjadi Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri (Studi Kasus Pada Masyarakat Gresik Utara)

23 Tujuan Penelitian : untuk mengungkap faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat Kabupaten Gresik Utara untuk menjadi TKI di Luar Negeri selain faktor ekonomi (finansial).

Kesimpulan : Banyaknya Masyarakat Indonesia yang menjadi TKI tidak menghiraukan faktor legalitas yang berdampak pada banyak hal, seperti asuransi kerja, keamanan dan kenyamanan saat hidup saat berada di negara yang mereka tinggali, serta kepemilikan akan properti di negara tersebut, karena sesungguhnya apabila TKI tersebut legal maka akan mudah pula untuk berganti status kewarganegaraan. Faktor yang mempengaruhi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Kabupaten Gresik Utara untuk menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri ada berbagai hal. Diantaranya faktor ekonomi (finansial), sempitnya lahan pekerjaan di Indonesia, rendahnya tingkat pendidikan di wilayah pedesaan, dan juga pengaruh lingkungan sekitar. Menjadi TKI tidak menjadi jaminan untuk merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, karena untuk menjadi lebih baik semuanya tergantung kepada individu yang menjalaninya. Karena setiap kehidupan manusia memiliki resiko dan ujiannya masing-masing tetapi tidak semua manusia dapat menghadapi dan berlaku bijaksana dalam menghadapinya.

3. Khusnatul Zulfa Wafirotin, (2013)

Judul Jurnal : Dampak Migrasi Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga TKI Di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo

Tujuan Penelitian : Faktor- faktor yang menyebabkan TKI di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo melakukan migrasi ke luar negeri.

24 Kesimpulan : Ada empat faktor yang menyebabkan tenaga kerja asal Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo melakukan migrasi ke luar negeri yaitu ada 4 faktor-faktor pendorong yang berasal dari daerah asal seperti Pendapatan yang rendah, sempitnya lapangan pekerjaan, dan kondisi fisik Kecamatan Babadan yang tidak mendukung, sehingga dengan melakukan migrasi ke luar negeri dapat meningkatkan pendapatan, dan memperoleh pekerjaan dengan gaji yang relatif tinggi.

Sedangkan faktor-faktor penarik yang berasal dari negara tujuan yaitu gaji yang tinggi, peluang kerja yang luas dan pengalaman. Faktor Rintangan menunjukkan bahwa tidak ada factor rintangan yang menghambat mereka untuk melakukan migrasi ke luar negeri. Baik dari faktor jarak, biaya, maupun keluarga. Secara pribadi para migran memutuskan untuk bermigrasi dan bekerja ke luar negeri karena ingin hidup mandiri atau bergantung pada orang lain dan semata-mata demi masa depan keluarga mereka. Sedangkan dampak dari hasil menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri adalah mampu meningkatkan status sosial ekonomi mereka dan keluarga mereka di tengah kehidupan masyarakat walaupun ada juga dampak negatifnya.

25 2.3 Kerangka Pemikiran

Kemiskinan adalah gejala penurunan kemampuan seseorang atau sekelompok orang atau wilayah sehingga mempengaruhi daya dukung hidup seseorang atau sekelompok orang tersebut, dimana pada suatu titik waktu yang secara nyata mereka tidak mampu mencapai kehidupan yang layak”.

Kemudian dengan keadaan atau kondisi kurang seperti ini menambah kesulitan kelompok dalam melakukan aktivitas ekonomi. Pendapatan yang kiranya tidak dapat memenuhi kebutuhan satu keluarga menyulitkan dalam berbagai aspek kehidupan juga, seperti akses pendidikan, akses transportasi dan sebagainya.

Melakukan aktivitas ekonomi yang serba kekurangan memberikan dorongan untuk berbuat lebih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak secara keseluruhan mau dan memiliki etos kerja demi membangkitkan daya ekonomi kelompok dan mencari penghasilan tambahan baru.

Kasus kemiskinan bukan merupakan kasus yang baru di Indonesia dan negara lain. Kasus ini sudah menjadi isu global yang setiap negara masing-masing masih mencari solusi dan alternatif terbaik bagi bangsa mereka. Upaya dalam memberantas kemiskinan masih juga dinilai kurang masif dan memuaskan.

Kemiskinan merupakan fakta yang sepanjang masa dan dimana saja dapat dilihat.

Hal ini di luar menunjukkan bahwa kemiskinan itu dekat dan menyatu dengan masyarakat dan tidak mudah dipahami secara holistik.

Tekanan-tekanan baik itu bersifat melalui internal dan eksternal terhadap kondisi kemiskinan mendorong individu/ kelompok harus berjuang keras dan

26 bertahan untuk hidup. Strategi bertahan hidup dimaknai sebagai rangkaian tindakan yang dipilih secara standar oleh individu dan rumah tangga yang Menengah ke bawah secara sosial ekonomi.

Melalui strategi yang dilakukan oleh seseorang, bisa menambah penghasilan lewat pemanfaatan sumber-sumber yang lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pengurangan kuantitas dan kualitas barang atau jasa. Selain itu, strategi bertahan hidup menerapkan pola nafkah ganda yang merupakan bagian dari strategi ekonomi. Dalam meningkatkan taraf hidup, individu dapat menambahkan jenis pekerjaan dan merubah pola mata pencaharian. Pola nafkah ganda yang dilakukan perempuan biasanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Sulitnya menemukan lapangan pekerjaan di dalam negeri menyebabkan individu harus mengadu nasib keluar untuk mencari penghidupan layak.

Pemerintah juga yang kurang melihat keadaan masyarakat yang tertekan, sehingga mereka memaksa dirinya untuk bekerja di luar.

Kemudahan akses globalisasi yang semakin canggih, menemukan akses informasi lapangan pekerjaan di luar negeri. Sebagai kondisi yang memastikan keamanan dan keselamatan pekerja migran ini, pemerintah memberikan akses legalitasnya melalui Badan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI)

Kemudahan akses globalisasi yang semakin canggih, menemukan akses informasi lapangan pekerjaan di luar negeri. Sebagai kondisi yang memastikan keamanan dan keselamatan pekerja migran ini, pemerintah memberikan akses legalitasnya melalui Badan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI)

Dalam dokumen Oleh : KHAIRUL RAMADHAN SINAGA (Halaman 17-0)