BAB I PENDAHULUAN
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dirumuskan beberapa permasalahan pokok yang dibahas lebih lanjut, yaitu:
1) Bagaimana peranan pendidikan Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Parangloe Kab. Gowa?
2) Bagaimana bentuk penanganan kenakalan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Parangloe Kab. Gowa?
3) Factor apa yang jadi pendukung dan penghambat pada pelaksanaan pengajaran pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Parangloe Kab. Gowa?
C. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui peranan pendidikan Agama Islam dalam
mengatasi kenakalan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Parangloe Kab.
Gowa.
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk penanganan kenakalan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Parangloe Kab .Gowa.
3. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kenakalan siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Parangloe Kab. Gowa.
D. Manfaat/ Kegunaan Penelitian
1. Memiliki wawasan mendalam tentang penyebab terjadinya kenakalan siswa.
2. Menjadi bahan bacaan bagi para praktisi pendidikan dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap remaja-remaja kini.
3. Dapat menjadi referensi bagi calon-calon peneliti selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam merupakan sebutan yang diberikan pada salah satu subyek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa muslim dalam menyelesaikan pendidikannya pada tingkat tertentu, Untuk mengetahui lebih jauh tentang apa itu pendidikan? Berikut beberapa pendapat tentang pengertian pendidikan :
Menurut Driyarkara dalam Fuad Ihsan (1995:4) mengatakan :
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia mudah, pengangkatan manusai ketaraf insan itulah yang disebut mendidik.
Pendidikan ialah pemanusiaan manusia mudah.
Menurut Crow and Crow dalam Fuad Ihsan (1994:4) mengatakan: Pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan social dari generasi ke generasi.
Didalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian
7
dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Menurut Soegarda Poerbakawaca dalam Arianto (2008:2) mengatakan: Pendidikan adalah segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi mudah untuk melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama sebaik-baiknya.
Menurut Kihajar Dewantara Dalam Arianto (2008:2) mengatakan : Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditunjukan untuk keselamatan dan kebahagiaan umat.
Pendidikan dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 (1994:41) tentang system pendidikan nasional, bab I point 1 menyatakan: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spitual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan adalah pertumbuhan yang terus menerus tanpa akhir kearah apa yang terbaik, dan secara praktis tergantung pada kondisi yang ada, beserta problema-problema yang dihadapi , bagi pencapai tujuan hidup masa depan yang lebih baik, sesuai tuntunan hidup individual dan kelompok.
Pendidikan adalah suatu proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan proses perbuatan cara mendidik. Firman Allah dalam Q.S Ar-Rum (30:30) dan Q.S an-Nahl
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.fitrah Allah:
maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid.Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar.mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. ( Kementrian Agama RI 2011:365).
Dan Firman Allah dalam Q.S an-Nahl (16:78)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ( Kementrian Agama RI 2011:249).
Kedua firman Allah tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan yang benar adalah yang memberi kesempatan kepada keterbukaan terhadap pengaruh dari dunia luar dan perkembangan dari dalam diri anak didik sendiri.
Dari beberapa pengertian diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk merubah atau memanusiakan manusia dari generasi kegenerasi agar tercapai tujuan yang di inginkan.
2. Landasan Atau Dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar atau pundamen dari suatu bangunan adalah bahagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan atau keteguhan tetap berdirinya bangunan itu, Demikian pula fungsi dari dasar pendidikan agama Islam fungsinya ialah menjamin sehingga bangunan pendidikan itu teguh berdirinya. Adapun dasar dari pendidikan agama Islam yaitu :
a. Al-qur`an
Al-qur`an adalah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw yang dijadikan petunjuk dan pedoman bagi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.
Firman Allah pada Q.S.An-Nahal (16:44)
Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan, Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. (Kementrian Agama RI 2011:241)
Setelah penulis menganalisis terjemahan ayat tersebut diatas maka penulis dapat memahami bahwa :
Allah telah menurunkan Al-qur`an sebagai pedoman hidup manusia, yakni perintah-perintah, larangan-larangan , aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al-qur`an.
Menurut Khudari Umar dalam Chabib Thoha (1999:24) mengatakan :
Al-Qur`an adalah kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjisat) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril, ditulis dalam Mushab-Mushab yang disampaikan kepada kita secara mutawir, serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dari surat Al-fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas.
Tujuan turunnya Al-Qur`an bagi kepentingan Nabi ialah sebagai bukti yang paling kuat terhadap kenabiannya atau sebagai Mu`jizat
nabi Muhammad Saw. Sedangkan tujuan turunnya Al-Qur`an bagi kepentingan umat adalah sebagai sumber hidayah atau petunjuk yang membimbing umat untuk mencapai kehidupan yang baik didunia dan kehidupan yang baik diakhirat.
b. As-Sunnah
As-Sunnah adalah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan rasul Allah Swt. Yang dimaksudkan dengan pengakuan itu adalah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui rasulullah Saw dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan, sunnah dalam istilah ulama ushul adalah apa-apa yang diriwayatkan dari nabi Muhammad Saw baik dalam bentuk perkataan, perbuatan.
Tirmidzi meriwayatkan suatu hadis , bahwa Rasulullah S.AW pernah bersabda,
ْمُكْيِف ُتْكَرَ ت .م.ص ِوَّللا ُلْوُسَر َلاَق .َلاَق .ع.ر ِهِّدَج ْنَع ِوْيِبَا ْنَع ِوَّللا ِدْيَع ِنْب ِرْيِثَك ْنَع اَمِهِب ْمُتْكَّسَمَتاَم اْوُّلِضَت ْنَل ِنْيَرْمَا َةَّنُسَو ِوَّللا َباَتِك ’
وِّيِبَن
Artinya:
“Dari Katsir bin Abdullah dari ayah dari datuknya, r.a., berkata:
rasulullah s.a.w.,pernah bersabda: "Aku pernah meninggalkan kepada kamu sekalian dua perkara yang tidak akan tersesat kamu selama kamu berpegang teguh kepada keduanya yaitu: kitab Allah dan sunnah nabinNya," (HR. Tirmidzi). Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah, (1993: 57).
Dalam hadits ini menegaskan akan jaminannya kepada kita umat Islam, bahwa selama kita mau berpegang teguh kepada kitab Allah, Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, kita tidak akan pernah tersesat selama-lamanya, baik dahulu, sekarang, maupun yang akan datang, bahkan sampai kiamat sekalipun. Maka dari itu Al-Qur’an dan sunnah rasul kita menjadikannya sebagai bacaan sehari-hari, mempelajari kandungannya, mangamalkan ajaran-ajarannya, mengikuti petunjuk dan bimbingannya, serta manjadikannya sebagai pimpinan dan pandangan hidup.
1. Kedudukan Sunnah
a. Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur`an.
Perintah untuk menjadikan sunnah sebagai sumber hukum Islam, setiap mukmin wajib taat kepada Allah Swt dan kepada rasul, Firman Allah dalam Q.S.An-Nisaa (4):59)
Hai orang-orang yang beriman,taatilah Allah dan taatilah Rasul-nya, dan ulil amri diantara kamu,kemudian jika berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (Al-qur`an) dan rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Kementrian Agama RI 2011:176 ).
Setelah penulis menganalisis terjemahan ayat tersebut diatas maka penulis dapat memahami bahwa :
Kita sebagai manusia wajib mengikuti perintah Allah Swt.dan rasulnya dan berpedoman pada Al-Qur`an dan sunnah rasul agar jalan kita tidak tersesat.
b. Sunnah berfungsi menafsirkan Al-Qur’an
Dalam hubungannya dengan Al-Qur’an, maka As-sunnah berfungsi sebagai menafsirkan, mensyarahkan dan menjelaskan ayat Al-Qur’an.
3. Tujuan Pendidikan
Dalam kehidupan ummat manusia setiap yang dilakukan tentu memiliki tujuan, tujuan itu sendiri berarti adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Begitu pula dengan pendidikan berikut beberapa tujuan pendidikan berikut beberapa tujuan pendidikan diantaranya:
1. Tujuan umum
Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan itu meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan
umum ini berbeda pada setiap tingkat umur, kecerdasan, situasi, dan kondisi, dengan kerangka yang sama.
2. Tujuan Akhir
Pendidikan agama Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terhadap pada waktu hidup didunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum yang berbentuk insan kamil dengan pola takwa dapat mengalami perbuatan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang.
Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan agama Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah tercapai. Orang yang sudah takwa dalam bentuk insane kamil, masih perlu pendapat pendidikan dalam pendidikan formal.
Dr. Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan: tujuan akhir pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak al-karimah yang merupakan fadhilah dalam jiwa anak didik, sehingga anak terbiasa dalam perilaku dan fikiran yang Islami.
Tujuan akhir dari pendidikan agama Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah dalam Q.S Ali Imran ayat (3:102).
Wahai orang-orang yang beriman ,bertakwalah kepada Allah sebenar-banar takwa kepadanya dan jangannlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (Kementrian Agama RI 2011:200)
Setelah penulis menganalisis terjemahan ayat tersebut diatas maka penulis dapat memahami bahwa :
Kita diwajibkan untuk mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi semua larangannya, dan bertaubatlah sebelum kita mati.
Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari takwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan kamil yang mati dan akan menghadap tuhannya merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan agama Islam.
3. Tujuan Sementara
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan instruksional yang kembangkan menjadi
tujuan intruksional umum dan khusus (TIU dan TIU), dapat diaanggap tujuan sementara dengan sifat agak berbeda.
Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik.Tujuan pendidikan agama Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling rendah mungkin merupakan suatu lingkaran kecil.Semakin tinggi tingkatan pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar.
4. Tujuan Operasional
Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan tercapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Sifat operasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Ada beberapa pendapat para ahli tentang pengertian pendidikan agama Islam diantaranya:
Menurut Muhaimin (2002:76) pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran atua latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
Menurut Zakiah Daradjat (2009:86) menyatakan :
Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (wai of life) . Menurut Omar Muhammad Al-Thoumi Al-Syaebani dalam Arianto (2008:3) mengatakan :
Pendidikan Agama Islam diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan.
Menurut Berlian Somad (1999:9) mengatakan : pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi mahluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu,yaitu ajaran Allah, ”pendidikan itu disebut pendidikan agama Islam apabila memiliki dua ciri khas, yaitu:
a. Tujuannya membentuk individu menjadi bercorak diri tertinggi menurut aturan Al-qur`an
b. Isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap didalam Al-qur`an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw.
Sedangkan menurut Hasan Langgulung (1999:10) mengatakan :
Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memiliki 4 macam fungsi yaitu:
1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang.
Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup (supervival) masyarakat sendiri.
2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari tua kegenerasi muda.
3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan peradaban. Dengan kata lain, nilai-nilai keutuhan (integrity) dan kesatuan (integration) suatu masyarakat, tidak akan terpelihara yang akhirnya menyebabkan kehancuran masyarakat itu sendiri.
4. Mendidik anak agar beramal didunia untuk memetik hasilnya diakhirat.
Menurut Musthafa Al-Guhulayaini dalam Zakiyah Daradjat (1992:86) mengatakan :
Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yiatu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ini dapat memahami, menghayati, mengamalkan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup didunia maupun diakhirat.
Pendidikan agama Islam adalah menanamkan ahlak mulia didalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga ahlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berujud keutamaan, kebaikan, dan cinta bekerja untuk memanfaatkan tanah air.
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha, asuhan dan latihan terhadap anak didik atau siswa sehingga ia mampu mengetahui dan memahami serta mengamalkan ajaran Islam sehingga terwujud pribadi muslim yang kuat menurut ukuran-ukuran Islam.
c. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau kelompok orang yang melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan ilmu pendidikan agama Islam, yaitu sasaran yang ingin
dicapai oleh seseorang atau kelompok orang yang melaksanakan pendidikan agama Islam.
Secara umum, menurut Imam Al- Ghazali dalam Djlamuddin dan Abdullah Aly (1999:15) mengatakan :
Tujuan pendidikan yaitu pembentukan insane paripurna, baik didunia maupun diakhirat. Manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya.
Usaha pembelajaran pendidikan agama Islam adalah upaya untuk mencerdaskan anak tidak hanya pada aspek intelektualnya saja, tetapi lebih kepada sikap dan perilakunya yang diharapkan sejalan dengan al-qur`an dan sunnah Rasulullah Saw sebagai landasan dalam pendidikan agama Islam. Usaha ini dilakukan dalam bentuk bimbingan, latihan dan pembiasaan dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan terhadap ajaran Islam.
Tujuan pendidikan Agama Islam menurut Dr. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi (2001:22) terdiri 5 sasaran yaitu:
a) Membentuk ahlak mulia
b) Mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat
c) Persiapan untuk mencari rezki dan memelihara segi kemanfaatannya
d) Menumbuhkan semangat ilmiah peserta didik e) Mempersiapkan tenaga professional yang terampil.
Tujuan pendidikan agama Islam menurut Muhaimin (2002:78) adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt serta berahlak mulia.
Sedangkan tujuan utama dari pendidikan Islam adalah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam. Sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai pengetahuan agama.
Sehingga dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah memberikan bimbingan dan pemahaman tentang ajaran agama Islam sehingga tercermin kepribadian yang Islami ,atau dengan kata lain bertujuan membentuk keshalehan pribadi dan keshalehan social pada diri siswa.
B. Kenakalan Siswa
Sebelum membahas tentang apa itu kenakalan remaja, akan dibahas terlebih dahulu tentang “siswa.”
1. Pengertian siswa
Peserta didik/siswa adalah sasaran pendidikan. Pihak yang dididik, diarahkan, dipimpin dan diberi anjuran-anjuran norma-norma dan bermacam-macam ilmu pengetahuan dan keterampilan atau dikatakan juga pihak yang di manusiakan. Anak adalah orang yang senantiasa mengalami perkembangan sejak terciptanya sampai meninggal. Adapun perkembangan itu sendiri adalah perubahan yang terus menerus yang menyangkut diri anak atau penyusuaian dengan lingkungannya. Pendidik dalam hal ini hendaklah selalu memberikan bimbingan secara teratur, memberikan perlindungan dan harus sabar serta tekun dan juga memberikan bimbingan secara teratur, memberikan perlindungan dan harus sabar serta tekun dan juga memberikan bimbingan sesuai dengan perkembangan yang sedang dialami oleh anak.
Siswa atau peserta didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Siswa bukan binatang, tetapi ia adalah manusia yang mempunyai akal. Siswa adalah unsur manusiawi yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia di
jadikan sebagai pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Sebagai pokok persoalan siswa memiliki kedudukan yang menempati posisi yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi. Guru tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran siswa sebagai subjek pembinaan, jadi siswa adalah “kunci” yang mnenentukan untuk terjadinya interaksi edukatif.
Siswa adalah manusia yang memiliki potensi akal untuk dijadikanai kekuatan agar menjadi manusia susila yang cakap.
Sebagai manusia yang memiliki potensi akal untuk dijadikan kekuatan agar menjadi manusia susila yang cakap. Sebagai manusia yang berpotensi, maka didalam diri anak didik/siswa ada suatu daya yang tersedia sedang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk mengembangkan daya itu.
Ada beberapa pengertian siswa dalam berbagai perpspektif yaitu:
a. Dalam perspektif pedagogis, peserta didik/siswa diartikan sebagai makhluk “Homo educandum”makhluk yang menghajatkan pendidikan. Dalam pengertian ini, siswa dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk
mengaktualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengaktualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap.
b. Dalam perspektif psikologis, peserta didik atau siswa adalah individu yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut fitranya masing-masing. Sebagai individu yang berkembang, siswa memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsistem menuju kearah titik optimal kemampuan fitranya.
c. Dalam prespektif Undang-Undang system pendidikan nasional No.20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “Peserta didik/siswa diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu. (UU No. 20 thn 2003 Sistem Pendidikan Nasional).
2. Karasteristik siswa
Sebagai mahluk manusia, siswa memiliki karesteristik menurut Sutari Iman Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati, siswa memiliki karesteristik tertentu yaitu:
a. Belum memilki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
b. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga menjadi tanggung jawab pendidik.
c. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu yaitu kebutuhan biologis, rohani, social, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan, jari) latar belakang social, latar belakang biologis (warna kulit, bentuk tubuh, dan lainnya ), serta perbedaan individual.
d. Siswa atau peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan Psikis khas, sehingga ia merupakan insan yang unik.
e. Siswa atau peserta didik adalah individu yang sedang berkembang.
f. Siswa atau peserta didik adalah individu yang membutuhan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi
g. Siswa atau peserta didik adalah individu yang memilki kemampuan untuk mandiri.
Kenakalan siswa meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh siswa. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya.
Dalam hal ini istilah siswa dan remaja memiliki persamaan dalam hal usia hanya saja penggunaan tempat yang membedakan yakni pada
lingkungan sekolah menengah disebut peserta didik atau siswa
lingkungan sekolah menengah disebut peserta didik atau siswa