• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Tehnik Analisis Data

Untuk mengelolah data menjadi sebuah pembahasan, peneliti menganalisis data dengan tehnik analisis dekriptif kualitatif yaitu berusaha menggambarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dengan tehnik sebagai berikut:

1. Tehnik analisis induktif adalah metode analisis data yang dimulai dari pembahasan yang bersifat khusus kemudian mengambil suatu kesimpulan yang bersifat umum

2. Tehnik analisis deduktif adalah tehnik anlisis data yang dimulai dari pembahasan yang bersifat umum kemudian mengambil suatu kesimpulan bersifat khusus.

Dengan rumus sebagai berikut : P= F x100 %

N

Keterangan :

P : Angka persentase

F : Frekuensi yang dicari persentasenya N : Banyaknya responden.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Obyektif Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum SMP Negeri 2 Parangloe Kab.Gowa

SMP Negeri 2 Parangloe merupakan lembaga pendidikan tingkat pertama yang berada dibawah naungan Dinas pendidikan Olahraga dan Pemuda yang mempunyai tujuan mencerdaskan anak didik sesuai dengan kurikulum yang berbasis kompetensi.

SMP Negeri 2 Parangloe berdiri pada tahun 2003, yang didirikan oleh pemerintah. Kepala sekolah pertama yang memimpin sekolah ini bernama Nurdin Palalang S.Pd.M,Pd kemudian diganti dengan bapak Drs.Muh.Tato yang berdasarkan Surat Keputusan Dinas Pendidikan Olahraga dan Pemuda dengan nomor Sertifikat:

824/976. a/Dikorda / x / 2012 tanggal 1 Desember 2012 oleh bupati Gowa Iksan Yasin limpo.

Secara umum, SMP Negeri 2 Parangloe ini mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak berdirinya sampai sekarang.

Hal ini ditandai dengan jumlah siswa yang semakin bertambah dari tahun ketahun. Begitu pula dengan sarana dan prasarananya, gedung sekolah ini memiliki 6 ruangan kelas, 1ruangan kepala sekolah,1 ruangan guru,1 ruangan perpustakaan, 1 ruangan labolatorium, 1

38

ruangan dapur, dan 1 ruangan musallah. Awal berdirinya pada tahun 2003 hanya 1ruangan belajar dan 1 ruangan kantor.

Fasilitas yang ada pada SMP Negeri 2 Parangloe sudah memadai. Adapun siswa yang ada di SMP Negeri 2 Parangloe sebagian dari golongan menengah kebawah. Siswa berasal dari penduduk yang tinggal disekitar sekolah, ada pula yang berasal dari tempat lain.

2. Visi Dan Misi SMP Negeri 2 Parangloe

Pendidikan di SMP Negeri 2 Parangloe bertujuan memberi bekal kemampuan dasar tentang ilmu pengetahuan Agama serta pengetahuan teknologi untuk mengembangkan kehidupannya secara pribadi, masyarakat, sebagai warga Negara Indonesia serta untuk mempersiapkan mereka melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Adapun visi SMP Negeri 2 Parangloe yaitu Terwujudnya sekolah idaman.

Sedangkan Misi SMP Negeri 2 Parangloe yaitu:

1. Pengadaan sarana dan prasarana 2. Pengembangan sumber Daya Manusia 3. Peningkatan Kwalitas pembelajaran 4. Administrasi sekolah Berbasis MBS 5. Evaluasi PBM Secara Berkala

3. Keadaan Guru

Guru adalah merupakan salah satu komponen manusia dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan membentuk sumber daya manusia yang berpotensial dibidang pembangunan manusia seutuhnya, yakni utuh jasmani dan rohani, manusia yang berguna dalam pembangunan bangsa dan Negara. Pengarahan dan pengajaran seorang guru terhadap siswanya merupakan tumpuan perhatian dan usaha pembinaan dan pendidikan atau pengajaran yang diberikan, sehingga seorang guru akan mampu memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar dan pendidik.

Untuk mengetahui secara jelas tentang keberadaan guru di SMP Negeri 2 Parangloe dapat dilihat pada table dibawah ini:

Tabel 3

Keadaan Guru SMP Negeri 2 Parangloe TP.2013/2014

NO Nama/Nip Tempat/tanggal

lahir

NIP.195706271979071002 Limbung/ 27 Juni 1957

3 Syarifuddin, SPd

NIP.195602191984031005

5 Sumiati, SPd

7 Rostina Mansyur, SPd NIP.1980082005022004

Sumber data Kantor SMP Negeri 2 Parangloe 30 Maret, 2013

Dari table diatas, secara singkat dapat dikatakan bahwa jumlah guru yang mengajar di SMP Negeri 2 Parangloe saat ini mengalami peningkatan, yang pada awalnya didirikan jumlah guru hanya 6 orang,

saat ini keseluruhan guru telah berjumlah 13 orang termasuk kepala sekolah.

4. Keadaan Sarana Dan Prasarana SMP Negeri 2 Parangloe

Adapun keadaan sarana dan prasarana di SMP Negeri 2 Parangloe dapat dilihat pada table berikut ini :

TABEL 4

Keadaan Sarana dan Prasarana SMP Negeri 2 Parangloe Tahun Pelajaran 2012/2013 Sumber data :Kantor SMP Negeri 2 Parangloe, 30 Maret 2013

Dari uraian tabel tersebut, dapat diketahui bahwa keadaan sarana dan prasarana SMP Negeri 2 Parangloe, sudah cukup memadai dalam menunjang pelaksanaan proses pembelajaran.

Bahkan lebih dari itu, dengan memperhatikan sarana dan prasarananya yang masih utuh serta masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

5. Keadaan Siswa

Dalam dunia pendidikan formal, siswa adalah objek sasaran utama untuk dididik, untuk itu setiap lembaga pendidikan hendaklah terdapat suatu system yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Yakni disamping terdapat sarana, fasilitas, dan tenaga pendidik, maka tidak terlupakan pula siswa yang merupakan bagian integral yang terdapat dalam lembaga pendidikan formal.

Adapun jumlah siswa SMP Negeri 2 Parangloe, memiliki siswa kelas VII sebanyak 76 siswa, yang terdiri dari kelas VII-1 sebanyak 37 siswa, Kelas VII-2 sebanyak 39 siswa. Rincian keadaan siswa dapat dilihat pada table sebagai berikut :

Tabel 5

Keadaan populasi siswa kelas 1 SMP Negeri 2 Parangloe Kab.Gowa Tahun Ajaran 2013

No Kelas Jumlah

1 Kelas VII-1 37

2 Kelas VII-2 39

Jumlah 76

Sumber data SMP Negeri 2 Parangloe , 18 Januari 2013

B. Peran Pendidikan Agama Islam Dalam mengatasi Kenakalan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe .

Pendidikan agama Islam sangat erat sekali kaitannya dengan pendidikan pada umumnya. Pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkakan ketakwaan siswa terhadap Allah SWT. Tujuan pendidikan agama Islam yang sejalan dengan misi Islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai akhlatul karimah.

SMP Negeri 2 Parangloe kelas VII memilki guru pendidikan Agama Islam satu orang berlatar belakang pendidikan keguruan dengan kualifikasi sarjana ekonomi (S1). SMP Negeri 2 parangloe yang hadir ditengah-tengah masyarakat yang didalamnya masih sebahagian dari pihak keluarga/orang tua kurang memahami akan pentingnya pendidikan tentu sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak.

Siswa atau anak didik adalah sasaran pendidikan, pihak yang didik, diarahkan, dipimpin dan diberi berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itu orang-orang yang berada dalam lingkungan pendidikan harus kompeten dalam melaksanakan tugasnya, hal tersebut juga diungkapkan oleh bapak kepala sekolah SMP Negeri 2 Parangloe.

Para pelajar adalah generasi penerus untuk itu harus dididik dengan baik, adapun kenakalan-kenakalan yang mereka lakukan itu hanyalah semata-mata ingin perhatian lebih dari pihak sekolah dan terutama teman-temannya, adapun mereka sering bolos, merokok itu karena persoalan waktu saja untuk membina mereka karena pada dasarnya mereka anak-anak yang baik dan mau menerima nasehat-nasehat dari pihak sekolah. (Wawancara tanggal 25 Februari 2013 ).

C. Bentuk Penanganan Kenakalan Siswa

Sebelum membahas tentang bagaimana bentuk penanganan kenakalan siswa peneliti akan membahas factor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kenakalan siswa,

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswa

Kenakalan siswa sebagai suatu fenomena social yang terjadi dilingkungan pendidikan, kenakalan dapat timbul karena disebabkan oleh beberapa hal.

Zakiah Darajat ( 1999 : 41 ) mengemukakan bahwa timbulnya kenakalan siswa antara lain :

a. Lemahnya pendidikan agama dilingkungan keluarga b. Kemerosotan moral dan mental orang dewasa c. Pendidikan dalam sekolah yang kurang baik d. Adanya dampak negative dari kemajuan teknologi e. Tidak stabilnya kondisi social, politik, ekonomi.

Secara luas, sebab-sebab kenakalan siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebab intern yang berasal dari pribadi anak itu sendiri, sedangkan sebab ekstern datang dari lingkungan sekitar anak.

Yang termasuk sebab yang datang dari pribadi anak itu sendiri adalah :

a. Pembawaan negative dan sukar untuk dikendalikan serta mengarah keperbuatan nakal

b. Lemahnya kemampuan pengawasan diri sendiri serta sikap menilai terhadap keadaan sekitarnya

c. Kurang mampu mengadakan penyesuaian dengan lingkungan-lingkungan yang baik,sehingga mencari pelarian dan kepuasan dalam kelompok-kelompok nakal

d. Tidak mempunyai kegemaran yang sehat, sehingga canggung dalam tingkah laku di dalam kehidupan sehari-hari yang akibatnya

dapat mencari pelarian atau mudah dipengaruhi oleh perbuatan maksiat.

Sedangkan penyebab yang datang dari luar di siswa (ekstern) adalah :

a. Kurangnya rasa cinta, terutama dari orang tua dan guru di sekolah.

b. Pengawasan yang kurang dari orang tua dan guru di sekolah.

c. Tidak adanya media penyalur hobinya.

d. Kurangnya penghargaan terhadap siswa oleh lingkungan keluarga dan sekolah.

e. Terbukanya kesempatan terhadap minat buruk siswa untuk berbuat nakal baik oleh orang tua ataupun guru.

2. Usaha-usaha untuk mengatasi kenakalan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe

Masalah kenakalan siswa dilingkungan pendidikan bukan lagi masalah sepeleh dan bias dianggap remeh sebab anak didik/siswa adalah harapan masa depan bangsa yang lebih baik, apabila dibiarkan begitu saja tanpa adanya usaha untuk memperbaikinya mulai dari orang tua, guru dan tidak terlepas lagi dari kerja sama masyarakat, ini karena anak didik / siswa bukan hanya berada dilingkungan sekolah saja, untuk itu perlu adanya usaha untuk mengatasi kenakalan siswa yang bias dilakukan dengan berbagai cara seperti :

a. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman, serta lingkungan untuk melakukan aktivitas

b. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi anak

c. Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun

d. Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak bersifat menekan e. Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi f. Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Parangloe, oleh Rasmah S.Pd.

“Bahwa upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah dengan menambah jam pelajaran untuk bidang studi Agama seperti semua siswa diwajibkan salat duhur di sekolah yang mana setelah salat dilaksanakan siraman-siraman rohani dengan ceramah, oleh karena tujuan pendidikan pada dasarnya mengajarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku, baik intelektual, moral maupun social agar dapat mandiri sebagai individu. Sehingga kehidupan didunia dan akhirat seisuai dengan ajaran Islam.

Oleh demikian, guru harus memberikan motivasi dan ransangan keagamaan. Rasmah S.Pd guru agama Islam, (wawancara,tanggal 3 April 2013).

Berdasarkan penjelasan diatas, menjadi acuan bagi guru Pendidikan Agama Islam senantiasa memberikan yang terbaik kepada siswa SMP Negeri 2 Parangloe dalam memberikan pengajaran dan pemahaman tentang ajaran Islam untuk menuju perubahan tingkah

laku yang baik, berintelektual, bermoral dan menjadi individu yang agamawan.

D. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa

Agama Islam memberikan petunjuk kepada kita dan memberikan alternative tentang sesuatu jalan yang harus ditempuh.

Sehingga peranan pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe melahirkan indeks prestasi yang dominan terhadap pengamalan ajaran Islam yang dapat mewarnai sikap para siswa.

Hal tersebut relevan dengan pendapat guru pendidikan Agama Islam SMP Negeri 2 Parangloe yang menyatakan :

“Bahwa kesadaran beragama tidak hanya mendasari tingkah laku yang Nampak, tetapi mewarnai sikap, pemikiran, etika, niat,dan kemauan serta tanggapan, sehingga agama melahirkan kesadaran seseorang dengan senantiasa menjadikan pasangan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjadikan agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, pengamalan ajaran Islam akan terealisasi dengan baik”. Rasmah S.Pd, guru Agama Islam, ( wawancara, tanggal 3 April 2013).

Walaupun sebelumnya para siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe terlihat sangat memperhatikan tingkah laku yang banyak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam, guru Agama Islam SMP

Negeri 2 Parangloe memberikan bimbingan dan dorongan agar para siswa melahirkan nilai-nilai yang positif.

1. Faktor pendukung

Tugas sebagai seorang pendidik bukanlah tugas yang ringan, dibutuhkan kerja keras, keseriusan, keikhlasan, kesabaran serta upaya yang terus menerus untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar, ataupun factor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 2 Parangloe adalah:

a. Landasan kepribadian, artinya guru memiliki latar belakang pendidikan keilmuan sehingga memiliki keahlian secara akademik dan intelektual, dalam membina dan membimbing peserta didik agar tercapai tujuan pendidikan yaitu menuju perubahan setiap individu kearah yang lebih baik.

b. Pemahaman terhadap peserta didik (siswa), artinya guru dituntut untuk memilki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, serta mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat untuk anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang dialaminya serta dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan problem-problem yang dihadapi anak.

c. Pelaksanaan pembelajaran, artinya dalam hal pembelajaran harus diciptakan suasana belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.

d. Keinginan yang besar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parngloe untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam, sehingga mereka dengan antusias belajar pendidikan agama Islam.

2. Faktor Penghambat

a. Kurangnya pengetahuan siswa terhadap ajaran Islam

Ilmu pengetahuan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebab dengan ilmu pengetahuan orang mengerti akan dirinya beserta segala potensi kemanusiaannya, lingkungan masyarakat, alam sekitar dan ilmu pengetahuan manusia dapat menyadari sekaligus menghayati keberadaannya di hadapan Khaliknya. Selain itu, ilmu pengetahuan merupakan factor penunjang dalaram peningkatan kualitas hidu manusia. Sebagaiman firman Allah dalam surat Al-Mujadilah ayat II menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat seseorang yang memilki ilmu pengetahuan. Untuk lebih jelasnya berikut uraian QS. Al-Mujadhilah (58):11) :



Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka

lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.

dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Kementrian Agama RI, 2006:343).

Dari uaraian ayat diatas memberikan gambaran bahwa, betapa pentingnya ilmu pengetahuan terhadap perkembangan manusia dan Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.

Hasil penilitian menggambarkan bahwa minimnya pengetahuan siswa tentang ajaran Islam merupakan suatu kendala dalam meningkatkan penghayatan dan pengamalan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe terhadap ajaran Islam. Sebagaimana yang diungkapkan kepala sekolah SMP Negeri 2 Parangloe mengatakan:

“ Pada hakikatnya peranan pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa SMP Negeri 2 Parangloe dalam upaya meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran Islam merupakan hal yang sangat baik. Akan tetapi yang menjadi kendala yang sangat besar adalah minimnya pengetahuan siswa tentang ajaran agamanya sendiri”. Drs.Muh.Tato, Kepala sekolah SMP Negeri 2 Parangloe, (wawancara tanggal 4 April 2013).

Dari wawancara diatas, memberikan gambaran tentang factor yang menjadi hambatan dalam meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran Islam siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe adalah minimnya pengetahuan siswa terhadap ajaran Islam.

b. Kurangnya Keteladanan Orang tua siswa terhadap penghayatan dan pengamalan Ajaran Islam

Keteladanan merupakan hal yang sangat penting dalam menyeruhkan umat untuk mengamalkan Ajaran Islam. Suatu kesalahan besar ketika seseorang menganjurkan saudaranya melaksanakan perintah agama kemudian dia sendiri tidak mengaplikasikannya. Allah Swt juga akan memberikan ganjaran yang sangat besar orang yang tidak melaksanakan apa yang telah dikatakannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur`an surat Ash-shaff (30): 3) sebagai berikut:























Terjemahannya:

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Kementrian Agama RI 2011:243).

Uraian ayat di atas memberikan gambaran bahwa sangat urgennya keteladanan terhadap pengamalan ajaran Islam, karena kebencian yang amat besar di sisi Allah Swt terhadap umat yang

menganjurkan suatu amalan kemudian dia sendiri tidak melaksanakannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya motivatisi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe untuk mengamalkan Ajaran Islam secara berkesinambungan diakibatkan kurangnya keteladanan orang tua terhadap peningkatan pengamalan ajaran Islam. Hal ini menjadi hambatan guru PAI SMP Negeri 2 Parangloe pada peningkatan pengamalan siswa ketika siswa tidak melihat suatu keteladanan dari orang tua siswa.

Pemahaman bagi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe tentang Agama adalah suatu kebutuhan yang dapat menyelamatkan manusia baik di dunia maupun akhirat. Namun yang menjadi kendala adalah dimana siswa tersebut masih diliputi rasa rasa kemalasan dalam melaksanankan ibadah.Khususnya ibadah sholat sebelum mengetahui sepenuhnya tentang cara-cara pelaksanaan ibadah tersebut.

Pada bagian ini akan dibahas beberapa jenis kegiatan yang dilakukan oleh guru agama Islam dalam upaya meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran Islam, antara lain:

1. Kegiatan keagamaan

Guru pendidikan Agama Islam perlu memperhatikan peningkatan pendidikan dan pengajaran siswanya dibidang

keagamaan. Siswa perlu di didik dan diajarkan tentang amalan-amalan yang berkaitan dengan ajaran islam seperti praktek wudhu dan tata cara dan tata cara mendirikan shalat.

Pengamalan ajaran Islam akan sempurna jika seorang muslim mampu membaca Al-qur`an dengan fasih. Oleh karena itu, guru PAI membimbing dan mengajar siswa SMP Negeri 2 Parangloe tata cara melafaskan huruf-huruf hijaiyyah dengan fasih serta membaca Al-qur`an dengan tajwid.

Kegiatan lain yang dilakukan guru PAI menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan Islam dan memberikan kesempatan kepada siswa untukmenanyakan hal-hal yang kurang dipahami tentang ajaran serta memberikan kesempatan menyampaikan masalah yang dihadapinya yang ada kaitannya dengan pengamalan ajaran Islam. Maksud dari kegiatan ini, untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswa tentang ajaran Islam.

2. Keteladanan

Memperhatikan keteladanan dan memberikan alternative tentang jalan kehidupan yang ingin ditempuh. Selain itu, guru agama senantiasa berupaya mengadakan pendekatan terhadap siswanya dalam memberikan kesadaran untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Bila mana perhatian tidak ada terhadap anak tentang bimbingan

Agama bagi seseorang. Sebagai usaha, pengembangan pengamalan ajaran Islam bagi siswa bukan suatu pekerjaan yang mudah, melainkan harus ditunjang oleh berbagai aspek yang dapat mempengaruhi kepribadian para siswa.

Proses pendidikan, setiap pendidik harus berusaha menjadi teladan anak didiknya. Teladan dalam semua kebaikan dan bukan teladan dalam keburukan. Keteladanan itu diharapkan anak didik akan mencontoh atau meniru segala sesuatu yang baik dalam perkataan dan perbuatan pendidiknya.

Penjelasan-penjelasan yang dikemukakan diatas, dapat dipahami bahwa para siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe menilai positif keteladan para guru pendidikan Agama Islam.

E. Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kenakalan Siswa Kelas VII Di SMP Negeri 2 Parangloe

Pendidikan Agama Islam adalah sebutan yang diberikan terhadap salah satu nama mata pelajaran yang diajarkan terhadap siswa di sekolah. Senada dengan pendapat Muhaimin (2002: 76) yang mengatakan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar, yakni suatu bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara sadar dan terencana atas tujuan yang hendak dicapai.

TABEL 6

Jawaban siswa tentang pendidikan Agama Islam itu penting di sekolah No Jawaban Angket Frekuensi Persentase

1

Sumber data : Angket No.1

Pada table diatas menunjukkan bahwa siswa SMP Negeri 2 Parangloe bahwa pendidikan Agama Islam itu sangat penting tergolong cukup tinggi dengan nilai persentase sebesar 63,16

TABEL 7

Adanya perubahan setelah belajar pendidikan agama Islam No Jawaban angket Frekuensi Persentase

1 2 3

Ya Kurang Tidak tau

40 21 15

52,63 27,63 19,74

Jumlah 76 100 %

Sumber data : Angket No.2

Tabel diatas adalah gambaran tentang adanya perubahan kearah yang lebih baik setelah siswa belajar pendidikan agama Islam,data tersebut diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari 76 orang siswa yang diambil sebagai sampel 40 orang siswa atau dengan persentase 52,63 % yang mengatakan Ya, yang menyatakan kurang sebanyak 21 orang siswa atau dengan persentase 27,63 %, yang menyatakan tidak tau sebanyak 15 orang siswa atau dengan persentase 19,74 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa SMP Negeri 2 Parangloe mengalami perubahan kearah yang lebih baik setelah lebih baik setelah belajar pendidikan agama Islam.

TABEL 8

Tingkat Ketekunan Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe Dalam melaksanakan kewajibannya yaitu salat

No Jawaban Angket Frekuensi Persentase

1

Tabel diatas adalah gambaran tentang ketekunan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe dalam melaksanakan kewajibannya yaitu shalat, Dari 76 orang siswa yang diambil sebagai sampel untuk mengetahui bagaiman tingkat ketekunan siswa menyelesaikan tugas, ada 40 0rang siswa atau dengan persentase 52,63 % yang mengatakan Ya, yang menyatakan kadang-kadang 27 orang siswa atau dengan persentase 35,53 %, yang menyatakan tidak sebanyak 9 orang siswa atau dengan persentase 11,84 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat ketekunan siswa dalam hal ibadah yaitu shalat sangat baik.

TABEL 9

Kesadaran siswa akan pentingnya ibadah untuk membentengi diri perbuatan-perbuatan yang salah

No Jawaban Angket Frekuensi Persentase

1

Sumber data : Angket No.4

Tabel diatas adalah gambaran tentang pentingnya membentengi diri dengan memperbanyak ibadah dengan melalui kegiatan keagamaan, data tersebut diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari 76 orang siswa yang diambil sebagai sampel, ada 40 orang siswqa dengan persentase 52,63 %

Yang menyatakan kadang-kadang sebanyak 32 orang siswa atau dengan persentase 42,11 %, yang menyatakan tidak sebanyak tidak sebanyak 5 orang siswa atau dengan persentase 6,53 orang siswa atau 6,58 %.

TABEL 10

Tingkat kesadaran siswa setelah belajar pendidikan Agama Islam

No Jawaban Angket Frekuensi Persentase

1

Tabel diatas adalah gambaran tingkat kesadaran siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe setelah belajar pendidikan agama Islam, data tersebut diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari 76 orang siswa yqng diambil sebagai sampel, ada 47 orang siswa atau dengan persentase 61,84 % yang mengatakan ya, yang menyatakan

Tabel diatas adalah gambaran tingkat kesadaran siswa kelas VII SMP Negeri 2 Parangloe setelah belajar pendidikan agama Islam, data tersebut diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari 76 orang siswa yqng diambil sebagai sampel, ada 47 orang siswa atau dengan persentase 61,84 % yang mengatakan ya, yang menyatakan

Dokumen terkait