HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
2. Sajian Data
a. Pendidikan Karakter Menurut Guru SMA Muhammadiyah 1 dan MA Muallimin Yogyakarta
Penerapan pendidikan karakter diantaranya dilaksanakan melalui proses
pembelajaran. Setiap materi pelajaran dapat memuat pendidikan karakter atau
commit to user
karakter. Dalam proses pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan
dalam ranah pengetahuan (kognitif), ranah sikap (afektif), dan perilaku
(psikomotor) siswa. Menurut Syamsu Widayat guru Pkn MA Muallimin
pendidikan karaker yang melekat dalam pelajaran harus dinilai dari sikap dan
tigkah laku siswa dalam lingkungan sebagaimana dijelaskan dibawah ini.
Nilai harian siswa tidak hanya dilihat dari segi kognitif melainkan juga dari sikap, tingkah laku mereka di kelas maupun di lingkungan Muallimin. Begitu juga dengan karakter anak kita dapat menilai karakter anak. Kita tidak biasa menilai karakter tanpa melihat perkembangan perilaku siswa di lingkungan madrasah, di asrama, bahkan di lingkungan masyarakat. Kita juga sering menanyakan ke musyrif juga bagaimana tingkah laku anak di lingkungan asrama. Kami melakukan penilaian di madrasah dan di asrama rapor di kami ada 2 yakni rapor madrasah dan rapor asrama (Catatan lapangan nomor 2, Minggu 22 Januari 2012, Ruang Tamu MA Muallimin Yogyakarta).
Mengenai rapor sebagaimana dijelaskan di atas Muallimin mempunyai tiga
rapor yakni rapor madrasah, rapor asrama (untuk pelajaran pesantren), dan rapor
kepribadian sebagai alat untuk mengontrol dan mengetahui perkembangan pribadi
siswa. Penanaman karakter dapat dilakukan dengan berbagai hal diantaranya
melalui ajaran agama Islam sebagaimana yang dilakukan di MA Muallimin dan
SMA Muhammadiyah 1. Untuk membentuk pribadi yang baik perlu ditanamkan
nilai-nilai akhlak yang terpuji pada diri siswa. Perlu perpaduan yang baik supaya
pembelajaran tidak melenceng dari rambu-rambu pendidikan nasional. Hal ini
didapat dari penerapan pendidikan Islam sebagaimana di pemaparan oleh Samsu
Widayat sebagai berikut.
. . . yang kita kedepankan harusnya Pancasila tetapi beda antara orientasi antara dengan mereka yang menyandarkan kehidupannya pada agama, jadi kalau kita Pancasila mereka rukun Islam, ada sedikit perbedaan. Memang rukun Islam berada di atas Pancasila, karena mereka sudah terbentuk kesana dan memang kami menuju kearah sana dengan agama berada di
commit to user
atas pemerintahan. Kita akan menyampaikan mengenai Pancasila dengan kondisi pemerintahan seperti ini, dan tetap mengedepankan orientasi keagamaan (Catatan lapangan nomor 2, Minggu 22 Januari 2012, Ruang Tamu MA Muallimin Yogyakarta).
Keterangan di atas menandakan bahwa orientasi pendidikan Islam menjadi
fokus utama bagi MA Muallimin. Pola pendidikan Islam menjadi ruh yang kuat
dalam proses pembentukan karakter siswa. Mengenai pelaksanaan pendidikan
karakter hampir semua guru baik di Muallimin maupun SMA Muhammadiyah 1
mengaku telah melakukannya sebelum ada program dari pemerintah. Tugas guru
yang tidak hanya sekedar mengajar tetapi juga mendidik menjadi suatu alasan
bahwa dalam setiap pembelajaran sebenarnya telah tertanam nilai karakter. Jika
dimaknai lebih mendalam kata pendidikan merupakan suatu usaha membentuk
manusia yang cerdas dan mempunyai karakter baik, kegiatan mendidik tidak
sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan secara kognitif melainkan juga
menerapkan berbagai nilai termasuk membentuk siswa supaya menjadi manusia
yang berakhlak mulia. Lebih jelasnya mengenai pelaksanaan pendidikan karakter
diungkapkan oleh Niken Yuliasih seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan di
SMA Muhammadiyah 1 sebagai berikut.
Sebenarnya pendidikan karakter dalam hal pembelajaran kewarganegaraan telah sejak lama ada. Namun karena baru kemarin-kemarin saja pemerintah mengadakan sehingga perlu dituliskan dalam perangkat. Sebagai contoh dalam pembelajaran PKn terdapat pelajaran yang bertemakan keadilan, dalam hal sini kami dapat memasukan nilai pembentuk karakter melalui materi itu (Catatan lapangan nomor 12, Selasa 6 Maret 2012 di Ruang BK 1 SMA Muhamadiyah 1 Yogyakarta).
Senada dengan itu Meiani Ujianti guru sejarah SMA Muhammadiyah 1
mempunyai pendapat yang sama. Menurutnya dalam setiap pembelajaran di SMA
commit to user
melalui pemahaman mengenai organisasi Muhammadiyah. Muhammadiyah ingin
membentuk masyarakat Islam yang sebanar-benarnya, sesuai dengan al-Quran dan
Hadis sehingga siswa yang sekolah di Muhammadiyah itu telah tertanam
kepribadian Muhammadiyah supaya mereka berislam sesuai dengan al-Quran dan
Hadis (Catatan lapangan nomor 12, Rabu 22 Februari 2012 di Ruang Guru Putri
SMA Muhamadiyah 1 Yogyakarta).
Sebuah pemikiran yang baik ketika pendidikan karakter di sekolah dapat
dipadukan dengan mata pelajaran. Namun demikian guru harus tetap mempunyai
pandangan yang bijaksana dalam menanggapi suatu materi dan harus mampu
menyampaikan nilai positif dari materi tersebut. Sarijan guru sejarah sekaligus
bagian pengajaran (kurikulum) MA Muallimin mengatakan bahwa guru harus
mampu untuk memasukan berbagai nilai dalam setiap materi pelajaran.
Guru harus pintar-pintar menyelipkan berbagai kandungan dalam setiap materi. Sebagai contoh dalam pembelajaran Hindu-Buddha yang jika dikaji dengan kacamata Muhammadiyah itu akan banyak sekali menimbulkan bid’ah, bahkan syirik, tapi saya mencoba untuk memahamkan siswa bahwa adanya perbedaan dengan akidah kita harus diketahui. Dengan pembelajaran itu diharapkan karakter anak akan terpupuk secara berkelajutan (Catatan lapangan nomor 4, Minggu 22 Januari 2012 di Ruang Tamu MA Muallimin).
Lebih lanjut Sarijan menerangkan bahwa apabila sampai pada materi
pelajaran mengenai sejarah Islam disampaikan juga mengenai akidah,
kepercayaan, toleransi, nasionalisme sesuai dengan materi yang berkaitan.
Menurutnya disetiap jurusan (IPA, IPS dan Agama) mempunyai perbedaan dalam
materi pelajaran yang tentu akan berbeda pula karakter yang mereka tanamkan.
(Catatan lapangan nomor 4, Minggu 22 Januari 2012 di Ruang Tamu MA
commit to user
Meiani Ujianti guru sejarah SMA Muhammadiyah 1 mengatakan bahwa
ketika materi yang diajarkan mengenai zaman praaksara dan kebudayaan lampau,
maka guru menjelaskan tentang perbedaan pola pikir masyarakat zaman praaksara
dengan pola pikir masyarakat saat ini yang banyak mengalami perubahan. Guru
harus memiliki pemikiran yang baik yakni secara Islam sebagai agama yang
menyempurnakan dalam segala aspek kehidupan kita (Catatan lapangan nomor
12, Rabu 22 Februari 2012 di Ruang Guru Putri SMA Muhamadiyah 1
Yogyakarta).
Sementara itu Abunda Farouk guru Kemuhammadiyahan MA Muallimin
menyatakan bahwa pendidikan karakter yang diterapkan di Muallimin dilakukan
dengan pedoman hidup Islami, menurutnya Muhammadiyah telah melakukan hal
itu dari awal berdirinya “. . . mengenai pedoman hidup Islami Muhammadiyah
ingin membentuk karakter bangsa melalui itu (pendidikan Islam). Konsep itu
sudah lama sekali sebelum Indonesia merdeka Muhammadiyah sudah punya
konsep pendidikan karakter” (Catatan lapangan nomor 5, Kamis 9 Februari 2012
di Ruang Tunggu Direktur MA Muallimin).
Adanya perpaduan konsep pendidikan nasional dengan pendidikan Islam di
kedua sekolah berbasis Islam ini (SMA Muhammadiyah 1 dan Muallimin)
mendorong guru untuk mengkaitkan ajaran-ajaran Islam dalam pembelajaran,
termasuk dalam pembelajaran sejarah, akhlak dan PKn serta yang lainnya.
Miftahul Haq pengajar mata pelajaran akhlak di Muallimin berpendapat bahwa
commit to user
akhlak. Pembelajaran akhlak mengajarkan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan
dan tidak boleh dilakukan.
Pembelajaran akhlak itu kami tegaskan lebih pada penguatan pengetahuan. Saya kalau di kelas selalu mengkaitkan tata tertib Muallimin dengan pelajaran nilai-nilai. Sebagai contoh seorang anak (siswa) Muallimin tidak boleh menonton konser atau film porno, ini untuk memelihara diri dalam pembentukan karakter dan menjaga diri sebagai seorang muslim yang mampu memelihara diri dari tindakan yang tidak baik (Catatan lapangan nomor 5, Kamis 2 Februari 2012 di Perpustakaan MA Muallimin).
Di sekolah yang menjadikan agama Islam sebagai cara pandang pendidikan
seperti SMA Muhammadiyah 1 dan Madrasah Muallimin pendidikan karakter
dapat dilakukan melalui pendidikan akhlak dengan memberikan pemahaman,
bimbingan kepada siswa. Proses pembelajarnnya mengkaitkan dengan kejadian
yang kontektual sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. Dengan
memberikan pengarahan siswa akan mampu berperilaku baik dan memelihara
dirinya dari perbuatan yang tidak terpuji. Pemahaman guru di kedua sekolah
mengenai pendidikan karakter pada intinya mempunyai kesamaan. Pendidikan
karakter merupakan penanaman akhlak yang baik sesuai agama Islam sebagai
agama yang dianutnya.
b. Al-Quran dan Al-Hadis: Sumber Pendidikan Karakter di SMA Muhammadiyah 1 dan MA Muallimin Yogyakarta
Al-Quran diturunkan dalam kehidupan umat Islam tidak hanya untuk dibaca
atau di hafalkan saja melainkan dipahami, dihayati dan diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari. Kalimat-kalimat yang begitu indah yang disajikan dalam
al-Quran akan terasa bermanfaat apabila mampu dipahami dan di amalkan secara
commit to user
menjamin untuk mengantarkan manusia ke dalam kehidupan yang bahagia dengan
mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Hadis memberikan
penjelasan terhadap sesuatu yang belum dijelaskan secara terperinci dalam
al-Quran. Sehingga keduanya mempunyai arti penting bagi umat Islam yang patuh.
Mengenai kebenaran al-Quran Allah berfirman dalam surat as-Sajadah sebagai
berikut “. . . al-Quran itu kebenaran (yang datang) dari Tuhan-mu agar engkau
memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah didatangi orang yang
memberi peringatan sebelum engkau, agar mereka mendapat petunjuk” (QS.
As-sajadah: 3).
Abunda Farouk tokoh sekaligus guru kemuhammadiyahan di Muallimin
dalam hal ini mengatakan bahwa “. . . kita harus menjadikan al-Quran sebagai
acuan hidup. Segala kendala kehidupan semua ada jawabanya dalam al-Quran ”
(Catatan lapangan nomor 5, Kamis 9 Februari 2012 di Ruang Tunggu Direktur
MA Muallimin). Jelas al-Quran dan Hadis merupakan suatu hal yang penting
dalam kehidupan umat Islam. Meiani juga memberikan keterangan bahwa
Muhammadiyah mendidik siswa dengan landasan al-Quran dan Hadis sehingga
dalam diri siswa akan tumbuh kepribadian Islam. Meiani Ujianti mengatakan
bahwa “Muhammadiyah itu ingin membentuk masyarakat Islam yang
sebanar-benarnya, arti sebenar-benarnya itu sesuai dengan al-Quran dan Hadis sehingga
anak-anak yang sekolah di Muhammadiyah itu ditanamkanlah kepribadian
Muhammadiyah supaya nanti berislam sesuai dengan al-Quran dan Hadis”
(Catatan lapangan nomor 12, Rabu 22 Februari 2012 di Ruang Guru Putri SMA
commit to user
Keterangan yang senada dikemukakan oleh Miftahul Haq yang menekankan
hubungan antara pendidikan akhlak dengan pembentukan karakter siswa.
Menurutnya pembelajaran akhlak disampaikan di dalam kelas sebagai bekal siswa
dalam bertingkah laku. Pembelajaran akhlak di Muallimin dan di SMA
Muhammadiyah 1 merupakan ajaran mengenai hal yang harus dan tidak dilakukan
oleh manusia yang diambil dari al-Quran dan Hadis sebagaimana diungkapkan
oleh Miftahul Haq sebagai berikut.
Sekali lagi memang kalau di kelas itu kami sampaikan untuk menjadi pengetahuan dan bekal bagi anak dalam bertingkah laku, itu yang dibangun, tidak dalam arti bahwa pelajaran akhlak menjadi penanggungjawab dalam pendidikan karakter, karena prinsip asrama bagi kita adalah tempat untuk belajar mengamalkan nilai-nilai terutama yang diterima tidak hanya dari pelajaran akhlak tetapi juga dari al-Quran, Hadis, dan yang dipelajari di kelas-kelas dan di asrama, bagaimana terinternalisasi dalam kehidupan (Catatan lapangan nomor 3, Kamis 2 Februari 2012 di Perpustakaan MA Muallimin).
Penerapan nilai-nilai Qurani dapat dilakukan dalam proses pendidikan
sehingga perilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai Islam. Norma agama selalu
menjadi pegangan utama sebagai bagian dari pendidikan. Hal ini coba diterapkan
oleh Sugihartuti guru BK SMA Muhammadiyah 1 dengan selalu mengingatkan
kepada siswa untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Swt, sebagaimana
pemaparan beliau ketika diwawancara di ruang BK 2 SMA Muhammadiyah 1.
Suatu contoh jika anak menyontek kami mengembalikan kepada norma agama, “apakah anda tidak takut kepada Allah?” kita kembalikan kepada nuansa keagamaan. Terkadang Anak berbuat rusuh ramai atau berkata yang kurang sopan, jika saya tanya tidak ada yang mengaku, mereka saling lempar kesalahan. Tapi saya tegaskan bahwa ada yang lebih mendengar yakni Allah Swt mereka biasanya terdiam. Akhirnya pagi-pagi datang mengaku perbuatannya, mungkin hatinya tidak tenang (Catatan lapangan nomor 13, Rabu 7 Maret 2012 di Ruang BK II SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta).
commit to user
Tidak hanya menanamkan mengenai kepatuhan kepada Tuhannya, hal lain
dalam pembentukan karakter adalah menumbuhkan tanggung jawab kebangsaan
dan nasionalisme juga terkait erat dengan pembentukan karakter sesuai nilai-nilai
Islam dalam kehidupan berbangsa. Dalam proses pelajaran PKn di Muallimin
nasionalisme diajarkan sebagai bagian dari iman dalam slogannya. Nilai-nilai
Islam dalam pelajaran PKn dipadukan dengan cinta tanah air dan keindonesiaan
sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Hal itu ditegaskan oleh
Syamsu Widayat sebagai berikut.
Kami selipkan mengenai kewarganegaraan karena disini sekolah keagamaan maka kita sesuaikan dengan situasi di sini (Muallimin). Jika mengajarkan mengenai nasionalisme maka kami menggali dari sejarah Muahammadiyah, bahwa Muhammadiyah juga merupakan suatu organisasi yang mempunyai peran penting dalam masa pergerakan nasional. Saya menerangkan Budi Utomo baru kemudian organisasi Muhammadiyah (Catatan lapangan nomor 2, Minggu 22 Januari 2012, Ruang Tamu MA Muallimin Yogyakarta).
Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Sarijan guru sejarah
Muallimin yang menjelaskan bahwa materi dalam pembelajaran sejarah dikaitkan
dengan nasionalisme seperti pergerakan nasional, sehingga siswa akan
mengetahui hal-hal yang menjadi muatan karakter itu. Dalam proses pembelajaran
sejarah menurutnya selalu mengkaitkan dengan aspek kehidupan Muhammadiyah
ataupun Muallimin sendiri yang berkaitan dengan kurikulum khas Muallimin
(Catatan lapangan nomor 4, Minggu 22 Januari 2012 di Ruang Tamu MA
Muallimin). Islamisasi yang berdasar pada al-Quran dan Hadis dalam proses
pembelajaran merupakan langkah pemasukan nilai-nilai Islam kepada setiap
siswa. Al-Quran menjadi sumber yang paling dominan bagi sekolah berbasis
commit to user
berakhlak Islami. Siswa SMA Muhammadiyah 1 dan Muallimin mempunyai tugas
untuk membaca maupun menghafal surat-surat dalam al-Quran. Hal itu juga di
ungkapkan oleh Slamet Purwo sebagai berikut.
Kita mempunyai keinginan selama siswa sekolah di Muhi mereka akan hatam al-Quran secara bersamaan, sehingga diatur untuk kelas 10 juz satu sampai dengan 10 dan itu ada kartu kendalinya yang dibawa oleh pengelola kelas. Untuk kelas XI juz 11-20 dan kelas XII juz 21-30. Kemudian mereka juga harus hafal surat-surat pendek minimal sampai dengan ad-Duha plus al-Gosyia dan al-A’la (Catatan lapangan nomor 14, Selasa 22 Februari 2012 di Kantor Humas SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta).
Begitu juga di Muallimin selain wajib membaca al-Quran siswa juga wajib
hafal sebanyak 6 juz. Muallimin telah mempunyai agenda yang telah benar-benar
dijalankan. Dalam buku panduan siswa telah tercantum target hafalan untuk siswa
dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 (MTS kelas 1-3 dan MA kelas 4-6). Juz yang
harus dihafal yakni juz 30, 29, 28 dan juz 1,2 dan 3 (Dokumen Buku Panduan
Siswa, 2011: 24).
c. Penanaman Nilai Pembentuk Karakter di Siswa SMA Muhammadiyah 1 dan MA Muallimin Yogyakarta
Penanaman nilai pembentuk karakter dapat didukung oleh beberapa faktor
yakni lingkungan siswa baik lingkungan formal (sekolah) maupun lingkungan
nonformal dengan melakukan penugasan, pembiasaan, pelatihan, pengajaran,
pengarahan, serta keteladanan. Hal tersebut mempunyai pengaruh yang besar
dalam pembentukan karakter siswa. Jika lebih dikembangkan lagi terdapat
setidaknya 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan
Nilai-commit to user
nilai itu yakni (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras,
(6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat
Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13)
Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli
Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab.
Pembentukan karakter pada siswa di MA Muallimin dan di SMA
Muhammadiyah 1 pada prinsipnya tidak jauh berbeda, yakni dilakukan melalui
poses pembinaan. Perbedaanya adalah sistem di Muallimin yang menggunakan
sistem pondok (boarding school) sehingga mempunyai waktu yang lebih banyak
untuk mengembangkan nilai-nilai pembentuk karakter. Sementara SMA
Muhammadiyah 1 hanya mempunyai waktu sekitar 8 jam saja untuk
menggembleng siswa dalam menerapkan nilai-nilai pembentuk karakter hampir
sama seperti sekolah umum lainnya. Adapun aspek-aspek pembinaan itu yakni
sebagai berikut.
1) Ketakwaan, setiap siswa dibimbing menjadi pribadi muslim yang berjiwa
mukmin (orang yang beriman), mukhsin (orang yang berbuat baik), muttaqin
(orang yang bertakwa), yang gemar beribadah dan beramal soleh sesuai paham
keyakinan persyarikatan Muhammadiyah. Untuk mencapai tujuan ini maka
siswa dibimbing untuk memiliki prinsip hidup dan kesadaran berupa tauhid,
keikhlasan, dan ketundukan. Setiap siswa dibimbing untuk memiliki sikap dan
perilaku akhlaqul karimah. Membudayakan kehidupan yang mendorong
commit to user
siswa memiliki jiwa dan hati yang bersih (Dokumen Badan Pembina
Madrasah, 2009: 12).
Proses memupuk ketakwaan tersebut dilakukan dengan memberikan
berbagai kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, tadarus al-Quran,
hafalan al-Quran, pengajian sebagai upaya menguatkan keimanan dan
ketakwaan siswa kepada Allah SWT. Pelaksanaan hafalan al-Quran dilakukan
setelah shalat Magrib dan setelah shalat Isya atau pada waktu senggang
lainnya. Di Muallimin proses hafalan dilakukan di depan musyrif yang
disaksikan oleh teman-temannya yang menganti menunggu giliran. Sedangkan
pengajian kitab Riyadus Sholihin dilaksanakan setelah shalat Magrib selama
10 menit sampai dengan 15 menit (Catatan lapangan nomor 19, Rabu 28
Maret 2012 observasi di MA Muallimin). Sedangkan di SMA Muhammadiyah
1 tadarus al-Quran dilaksanakan pagi hari selama 10 menit sebelum mata
pelajaran dimulai (Catatan lapangan nomor 14, Selasa 22 Februari 2012 di
Kantor Humas SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta) walaupun terkadang
waktu tersita untuk persiapan.
2) Intelektualitas, pembinaan pengetahuan berupa bimbingan para siswa agar
memiliki kemampuan akademik intelektual dan keterampilan yang sesuai
dengan perkembangan siswa sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri
dan mampu bersaing dalam berbagai bidang. Untuk meningkatkan
intelektualitas siswa maka perlu dilakukan pembimbingan untuk menguasai
mata pelajaran sesuai dengan ketentuan pendidikan nasional. Suasana
commit to user
dalam proses pembelajaran. Selain itu sarana yang memadai, guru yang
mempunyai kemampuan (kompeten), adalah bagian lainnya yang harus
terpenuhi dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain dalam
proses pembelajaran siswa juga digembleng dalam kegiatan ekstrakurikuler
sebagai bagian untuk mengembangkan minat dan bakatnya (Dokumen Badan
Pembina Madrasah, 2009: 13). Kegiatan ekstrakurikuler itu diantaranya Tapak
Suci, Hizbul Wathan, karya ilmiah, IPM, dll (Catatan lapangan nomor 19,
Rabu 28 Maret 2012 observasi di MA Muallimin).
3) Kemandirian, dalam hal ini sekolah membimbing siswa supaya mereka dapat
mengetahui potensi, minat, dan bakat pribadinya serta kecenderungan untuk
bersikap dan perilaku yang dimilikinya. Upaya ini bertujuan agar siswa
mempunyai rasa empati, kepekaan sosial, dan sikap positif lainnya. Selain
kepekaan sosial siswa juga dilatih mengenai kemandirian dan kedewasaan
cara berpikir serta kedisiplinannya, sebagai bagian dari cara menentukan sikap
dan tindakan yang logis dan kritis terhadap segala hal yang akan dilakukan
oleh siswa. Dengan demikian siswa akan memiliki kepribadian yang baik.
Siswa dibimbing untuk memiliki rasa percaya diri optimis, berperilaku hidup
sehat, kebersihan diri, kebersihan lingkungan dan ramah terhadap alam sekitar
(Dokumen Badan Pembina Madrasah, 2009: 14).
Madrasah Muallimin mengadakan kegiatan pelatihan konselor sebaya.
Kegiatan diselenggarakan pada hari Kamis dan Jumat, 12 dan 13 Januari 2012
bertempat di Gedung Wisma Dharmais Kulon Progo DIY. Tujuan khusus dari
commit to user
Muallimin yaitu kompetensi dasar kepribadian, kecakapan, dan sosial
kemanusiaan untuk membangun pribadi dan masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya. Kegiatan ini mengajarkan kepada siswa untuk menjadi konselor
bagi rekan-rekannya sesama teman sebaya (Dokumen Humas Muallimin).
Sementara SMA Muhammadiyah 1 sebagaimana yang dikemukakan oleh
Anditta Tavani Winati selalu melaksanakan program-program IPM (Ikatan
Pelajar Muhammadiyah) seperti bakti sosial sebagai latihan kepemimpinan
dan cara berorganiasi yang baik (Catatan lapangan nomor 17, Sabtu 14 April
2012 di Ruang Kelas SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta).
Kemandirian akan tampak dalam perilaku siswa sehari-hari yang
berhubungan langsung dengan budaya lingkungan. Melatih kemandirian
berarti melatih siswa untuk mampu mengambil keputusan, terlatih memilih
dan memilah berbagai pengaruh yang datang dari luar. Kemandirian yang
sudah mapan akan mampu menangkal pengaruh negatif yang datang, bahkan
justeru siswa akan mampu mengembangkan softskill dalam kehidupannya
(Hadi Suyono, 2010: 51). Mandiri bukan berarti egois, ataupun tidak mau
bekerjasama. Kemandirian selalu berkaitan dengan orang lain dalam semangat
bertumpu kepada kemampuan sendiri. Kemandirian akan melahirkan sosok
manusia dan bangsa yang kuat, bermartabat, dan berdaulat, jika kemandirian
itu dibangun di atas sifat-sifat baik dan bukan karena dibuat-buat untuk
kepentingan sesaat (Tim Redaksi Suara Muhammadiyah, Mei 2011: 3).
4) Kepeloporan, siswa diarahkan untuk menjadi seorang pemimpin dan memiliki
commit to user
inovatif yang didasarkan kedalaman berpikir, kekuatan metodologis, kritis dan
transformatif. Untuk menciptakan orang yang menjadi pelopor di masyarakat
maka siswa di Muallimin dibimbing untuk sanggup menjadi pionir kebaikan
dalam setiap gerak hidupnya dengan didukung sikap ikhlas dan bertanggung
jawab dan yang tidak kalah penting harus membawa rahmat dan manfaat bagi
kemanusiaan (Dokumen Badan Pembina Madrasah, 2009: 15).
Salah satu kegiatan itu dituangkan dalam berbagai program seperti
Mubaligh Hijrah, khotbah Jumat, mengurus TPA di masjid sekitar, melakukan
pengajian di masyakarat sekitar. Mengenai hal ini cukup menarik apa
ditegaskan oleh Ahmad Salim, dia menyatakan sebagai berikut dibawah ini.