V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Saluran Pemasaran Kopi Arabika
Kegiatan pemasaran kopi pada umumnya dilakukan saat pekan raya. Petani menjual kopi kepada pedagang pengumpul yang ada di desa, kemudian pengumpul yang di desa menjual kopi kepada pedagang pengumpul yang ada dipasar. Tidak jarang juga ditemui bahwa petani menjual langsung kopi kepada pedagang pengumpul di pasar.
Pemasaran (marketing) pada prinsipnya adalah aliran barang dari produsen ke konsumen. Aliran barang ini dapat terjadi karena adanya peranan lembaga pemasaran. Peranan lembaga pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran barang yang dipasarkan.
Pemasaran dalam lingkup pertanian mencakup kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan arus pemindahan barang-barang kebutuhan pertanian dari pihak produsen ke konsumen, yang ditujukan untuk lebih mempermudah penyaluran dan memberikan kepuasan yang lebih kepada konsumen. Sukirno, (2003) mengatakan bahwa, pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang bertalian dengan arus penyerahan barang-barang dan jasa dari produsen ke konsumen.
39 Dalam berbagai kasus terutama di daerah-daerah sentra produksi pertanian banyak dijumpai permasalahan yang paling pokok dan mendasar yaitu masalah pemasaran hasil-hasil pertanian. Adapun dalam kenyataannya meskipun hasil produk pertanian sangat berlimpah, keuntungan yang didapat oleh para petani dapat dikatakan belum maksimal. Hal ini dikarenakan belum diterapkannya suatu manajemen pemasaran yang baik oleh semua pelaku pasar khususnya produsen dan lembaga pemasaran yang terlibat langsung di dalam sistem pemasaran.
Saluran pemaran kopi arabika di Kelurahan Kalimbua, dilibatkan petani sebagai produsen, pedagang pengumpul, dan pedagang besar. Lembaga pemasaran dalam saluran pemasaran kopi arabika berfungsi untuk mempermudah penyaluran kopi gelondongan dari produsen sampai ke konsumen dalam bentuk kopi ready.
Produsen merupakan pihak pertama dari jalur tataniaga kopi arabika. Produsen menjual kopi gelondongan atau cerri ke pedagang pengumpul I Oleh pedagang pengumpul , kopi gelondongan yang sudah diolah akan dijual dalam bentuk kopi ready ke pedagang besar yang kemudian akan dijual lagi ke konsumen atau pedagang pengumpul langsung menjual kepada konsumen.
40 Gambar 2. Saluran Pemasaran Kopi Arabika di Kelurahan Kalimbua.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 2 saluran pemasaran kopi arabika di kelurahan Kalimbua yaitu petani – pedagang pengumpul – pedagang besar – konsumen dan saluran 2 yaitu petani – pedagang pengumpul ke konsumen.
Pada saluran ini, petani menjual kopi dalam bentuk gelondongan yang sudah masak dan berwarna merah dan kuning kepada pedagang pengumpul . harga jual kopi berwarna merah Rp 3.500 per koligram sedangkan harga kopi gelondongan warna kuning Rp 3.000 per kilogram . Harga jual kopi gelondong merah lebih tinggi karena kualitasnya lebih bagus di banding kopi gelondong kuning. Pada umumnya, harga jual petani kepada pedagang pengumpul berkisar Rp 4.500 per kilogram. Biasanya, saluran ini juga disebut saluran pemasaran konvensional karena petani bebas mau menjual kepada pedagang pengumpul yang dikehendakinya, tetapi karena di Keluruhan Kalimbua hanya ada 5 pedagang pengumpul .
Oleh pedagang pengumpul , kopi gelondongan diolah menjadi kopi ready. Gelondongan dimasukkan ke mesin pulper atau pengupas untuk memisahkan biji kopi dengan kulit buah dan kuli arinya. Pada umumnya, pulper yang digunakan adalah vis pulper yang tidak mengikutsertakan proses pencucian sehingga masih
Petani Pedagang
Pengumpul
Pedagang besar (kopi ready)
41 perlu dilakukan proses fermentasi untuk menghilangkan lendir. Fermentasi dilakukan 1 malam dan dilakukan pencucian. Kemudian biji kopi dijemur dibawah sinar matahari langsung selama 8 jam dan biji kopi ini disebut gabah. Gabah akan dipisahkan dari kulit tanduk dan kulit arinya dengan menggunakan huller. Gabah yang sudah dipisahkan dari kulit tanduk dan kulit arinya ini disebut labu dan labu akan dijemur sampai memiliki kadar air 18%. Labu yang sudah memiliki kadar air 18% disebut asalan atau kopi ready.
Kemudian pedagang pengumpul menjual kopi ready kepada pedagang besar . Pada umumnya harga jual pedagang pengumpul kepada pedagang besar berkisar Rp 10.000 per kilogram. Oleh pedagang besar , kopi ready dijual kembali kepada konsumen .
Tanaman kopi yang dikembangkan oleh petani di daerah penelitian, umumnya (80%) adalah tanaman kopi rakyat yang diusahakan pada kebun-kebun yang terpencar pada kawasanyang cukup luas. Tanaman ini juga bnyak juga diusahakan pada lahan pekarangan danditanam disekitar rumah. Tanaman kopi rakyat sebagian besar tanaman tua, tanaman semaian dari bibit tanaman lokal dan umumnya merupakan kegiatan usaha sampingan selain ladang, untuk padi dan sayuran. Perluasan tanaman kopi rakyat masih terus berlangsung, terutama di daerah luar pulau Jawa.
Struktur pemasaran kopi di daerah penelitian, dimulai dari petani sampai eksportir. Struktur pemasaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang meliputi: (a) faktor topografi dan letak wlayah produsen kopi. Faktor tofografi yang dimaksudkan sebagai suatu faktor alami dimana tanaman kopi tumbuh. Umumnya
42 lahan yang sesuai untuk tanaman kopi adalah daerah yang berbukit sampai bergunung-gunung yang elavasi optimumnya berkisar 400-800 m dari permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan 210 – 240C. Wilayah penelitian merupakan daerah yang memenuhi persyaratan tersebut karena termasuk dalam tipe iklim Adan B (klasifikasi Schmidt Furgusson) yang curah hujan tahunannya tinggi. Letak lokasi yang memenuhi persyaratan tersebut berada dala klasifikasi hujan tropic yang ketinggian (elevasi) kurang dari 1000 m dari permukaan laut. (b), faktor jarak desa dan kota wilayah penelitian.
Petani di sentra produksi kopi sebagai produsen kopi harus membawa kopinya melalui pusat kota kecamatan, kota kabupaten dan kota propinsi (eksportir). Pedagang pengumpul desa sebenarnya ada yang merupakan kaki tangan pedagang pengumpul kecamatan tetapi ada pula usahanya mandiri. Untuk pedagang kecamatan umumnya telah mempunyai hubungan tertentu dengan eksportir dan apabila mereka kekurangan modal maka, eksportir biasanya akan membantu tanpa persyaratan bunga modal. Di samping itu ada juga hubungan eksportirdengan pedagang kecamatan; (c) faktor modal. Modal pedagang pengumpul desa berasal daripedagang pengumpul kecamatan. Untuk pedagang pengumpul kecamatan umumnya telah mempunyai hubungan tertentu dengan pedagang eksportir.
Secara umum jaringan pemasaran kopi yaitu, sebagian besar hasil produksi dari petani langsung kepada pedagang pengumpul desa setelah kopi disortir. Dari pedagang pengumpul desa kemudian ke pedagang pengumpul kecamatan,
43 selanjutnya pedagang pengumpul kecamatan menjual ke pedagang kabupaten. Dari pedagang kabupaten menjual ke eksportir untuk konsumen luar negeri.
Menurut Silitonga (2008), harga kopi nasional yang berlaku selama ini merupakan harga kopi nasional yang ditentukan berdasarkan harga kopi internasional sehingga perubahan yang terjadi pada harga kopi internasional akan mempengaruhi harga nasional, dimana untuk kopi jenis arabika ditentukan di Terminal New York. Dari harga kopi internasional inilah para pengekspor menerima harga dan akan menjadi dasar penentuan harga yang akan ditetapkan kepada pedagang perantara dan secara berantai akhirnya kepada petani produsen. Oleh sebab itu, jika harga kopi di pasar dunia sangat fluktuatif, maka akan berpengaruh pada harga kopi di pasar domestik yang akan berdampak pada harga kopi di tingkat petani. Fluktuasi harga kopi ini dapat disebabkan karena kelebihan pasokan dan siklus produksi.