• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.3. Populasi dan Sanpel

3.3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian kecil populasi yang digunakan dalam uji untuk memperoleh informasi statistik mengenai keseluruhan populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi.

Untuk itu, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 18 orang pekerja.

3.4 Metode Pengumulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer merupakan data hasil pengukuran tes pendengaran audiometri yang bertujuan untuk mengetahui keadaan fungsi pendengaran pada pekerja yang terpapar bising.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed.

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional 3.5.1 Variabel

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai factor yang mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebisingan lingkungan kerja.

2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat adalah variable yang dipengaruhi oleh variable bebas.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah gangguan pendengaran.

3.5.2 Definisi Operasional

a. Intensitas kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari mesin-mesin produksi di pabrik. Pada penelitian ini, kebisingan di tempat kerja diukur dengan alat ukur Sound Level Meter.

b. Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan secara parsial atau total untuk mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Pada penelitian ini gangguan pendengaran diukur dengan tes pendengaran audiometri.

c. Umur adalah lamanya pekerja hidup yang dinyatakan dalam tahun.

d. Masa kerja adalah lamanya pekerja bekerja di perusahaan yang dinyatakan dalam tahun.

e. Riwayat gangguan pendengaran adalah penyakit yang diderita pekerja sebelumnya yang berkaitan dengan pendengaran.

3.6 Metode Pengukuran 3.6.1 Pengukuran Kebisingan

Hasil pengukuran kebisingan dikelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu : 1. Kebisingan diatas Nilai Ambang Batas (>85 dBA)

2. Kebisingan dibawa Nilai Amabang Batas (≤85 dBA)

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat sound level meter, dengan cara pengukuran sebagai berikut :

1. Nyalakan alat terlebih dahulu.

2. Sebelum digunakan, perlu dilakukan pengecekan kalibrasi dari alat ini agar dapat memastikan nilai akurasi pada alat ini sesuai dalam melakukan pengukuran.

3. Menentukan range dan juga satuan yang akan digunakan. Dimana pada umumnya, satuan yang digunakan satuan dB (decibel).

4. Pasang wind screen pada microphone agar suara pada angin tidak ikut masuk didalam Sound Level Meter dan juga mencegah debu jika mengukur pada tempat kerja yang terdapat debu-debu dari kimia korosif supaya tidak merusak microphone.

5. Waktu mengukur, Sound Level Meter diletakkan setinggi telinga.

6. Arahkan mikrophon kearah rambatan gelombang suara dengan membentuk sudut 70 derajat.

7. Lakukan pengukuran dimana tenaga kerja menghabiskan waktu kerjanya.

8. Lalu selanjutnya amati angka yang ada atau tertera pada layar Sound Level Meter.

3.6.2 Pengukuran Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran diukur dengan pemeriksaan audiometri yang bertujuan untuk mengetahui keadaan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni, dengan hasil pengukuran dikelompokkan menjadi :

1. Normal : 0-25 dB 2. Tuli ringan : 26-40 dB 3. Tuli sedang : 41-60 dB

4. Tuli berat : 61-90 dB 5. Tuli sangat berat : >90 dB

Adapun cara pengukuran sebagai berikut :

1. Pengukuran audiometri dilakukan di ruangan kedap suara dengan alat audiologi.

2. Pasien menggunakan headphone, dimana buds yang berwarna biru diletakkan pada telinga kiri dan buds yang berwarna merah di telinga kanan.

3. Kemudian operator akan mengoperasikan audiometer.

4. Pasien akan memberikan respon terhadap rangsangan tone yang diberikan.

5. Tone yang diberikan dengan cara dari frekuensi rendah ke tinggi . Tone sebesar 1000 Hz diberikan kepada pasien sebagai rangsangan awal, jika respon positif maka level tone akan diturunkan menjadi 500 Hz sampai pasien tidak memberikan respon. Pada rangsangan pertama jika pasien tidak mendengar maka level tone dinaikkan menjadi 2000 Hz sampai terdengar oleh pasien.

6. Intensitas bunyi yang diujikan antara 0 – 80 dB.

3.7 Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Teknik Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh, dianalisis melalui proses pengolahan data yang mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Editing, penyuntingan data dilakukan untuk menghindari kesalahan atau kemungkinan adanya kuesioner yang belum terisi.

2. Coding, pemberian kode atau scoring pada tiap jawaban untuk memudahkan entry data.

3. Entry data, data yang telah diberi kode tersebut kemudian dimasukkan dalam program komputer untuk selanjutnya akan diolah.

4. Cleaning, dilakukan pengecekan dan perbaikan terhadap data yang masuk sebelum data dianalisis.

5. Data-data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat.

3.7.2 Metode Analisis Data

Data yang telah diolah melalui teknik pengolahan data dengan bantuan komputer menggunakan program pengolahan data statistik :

1. Analisis Univariat

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian yang akan menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan.

Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis dengan menentukan hubungan variabel bebasdan variabel terikatmelalui uji korelasi-spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Analisa data dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas dengan α (0,05). Ho diterima jika p>α berarti tidak ada hubungan dan Ho ditolak jika p<α berarti ada hubungan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1

Gambaran Umum Tempat Penelitian 4.1.1 Sejarah Umum Perusahaan

PT. Indojaya Agrinusa merupakan industri yang memproduksi pakan ternak, seperti pakan ayam, pakan puyuh dan pakan ikan. PT. Indojaya Agrinusa berdiri pada tanggal 26 Oktober 1995. Pada bulan Desember PT. Indojaya Agrinusa mendapatkan surat akte lainnya berupa Surat Penanaman Modal Dalam Negeri SK BKPM No.671/I/PMDN/5 Desember 1995 kemudian pada bulan yang sama perusahaan mendapatkan Izin Lokasi No.640/65/IL/XII/95 Tanggal 12 Desember 1995.

PT. Indojaya Agrinusa berdiri berdasrkan Surat Akte Notaris Nomor 131 oleh Notaris Ishara Wisnurwardani, SH dengan luas bangunan 11.801 m2 pada tanah seluas 11 Ha. Surat Akte ini tercatat dalam Tambahan Berita Negara RI Tanggal 5 Maret 1996 Nomor 19. Pada tahun 1997, PT. Indojaya Agrinusa mendapat Izin Bangunan No.503.647/3498/BG Tanggal 21 Desember 1997, diikuti dengan adanya Izin Usaha Tetap dan Izin Gudang pada tahun 1999.

PT. Indojaya Agrinusa mendapat Izin Usaha Industri dan Tanda Daftar Perusahaan pada tahun 2002, sedangkan pada tahun 2003 perusahaan mendapat izin Gangguan/HO No. 207/I/PENDA/V/2003 Tanggal 01 Mei 2003. PT.

Indojaya Agrinusa beroperasi dengan kapasitas produksi 4000 ton/bulan dan dimulai secara komersial pada tanggal 9 Januari 1997. Sebagai cabang dari PT.

Japfa Comfeed Indonesia yang berpusat di Jakarta. Perkembangan PT. Indojaya

dan peralatan, perluasan tanah, penambahan fasilitas-fasilitas pendukung dan kendaraan. PT. Indojaya Agrinusa juga telah mendapatkan ISO 9001:2008.

Perusahaan ini merupakan bagian dari Japfa Group yang dimana group ini tersebar luas di seluruh Indonesia. Grup yang memproduksikan pakan ternak hanya ada di Sumatera Utara, yakni PT Indojaya Agrinusa, yang memiliki luas tanah sebesar 8 Ha terletak di Jl Raya Medan – Tanjung Morawa KM 12.8 Desa Bangunsari Kab. Deli Serdang, Medan.

Perusahaan Indojaya Agrinusa memiliki dua unit dalam proses produksinya, yakni unit poultryfeed yang memproduksi pakan ternak unggas dan unit aquafeed yang produksi pakan ternak ikan. Pada proses produksi unit aquafeed, bagian dalam unit ini terdiri dari bagian teknik, seperti workshop dan listrik, bagian gudang seperti bahan baku dan bahan jadi, dan bagian produksi

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan a. Visi

“Menjadi Market Leader dan produsen aquafeed terbaik di Sumbagut”

b. Misi

1. Turut serta membangun industri perikanan budidaya yang berkesinambungan

2. Turut mensejahterakan kehidupan pembudidaya

3. Menjadi wadah bagi petani mengembangkan sistem dan teknologi budidaya 4. Menyediakan aquafeed yang berkualitas, higienis dan aman

Menjadi wadah bagi karyawan untuk tumbuh kembang bersama dengan prinsip growing toward mutual prosperity

Pembina

Ketua

Sekretaris

Wakil Ketua

Safety Audit Investagasi &

Rekomendasii Tanggap Darurat

Hazard &

Operasional Study 4.1.3 Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)

STRUKTUR KEPENGURUSAN KOMITE P2K3 PT. INDOJAYA AGRINUSA SUB UNIT AQUAFEED

Sumber :

Gambar 4.1 Perusahaan PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed 4.1.4 Jam Kerja

Jam kerja yang berlaku di PT. Indojaya Agrinusa dibagi atas dua bagian, yaitu:

a. Bagian Kantor

Untuk bagian ini hanya ada 1 shift kerja dengan 8 jam per hari dan 40 jam per minggu adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Jam Kerja Karyawan Bagian Kantor PT Indojaya Agrinusa

Hari Kerja Jam Kerja Keterangan

Senin-Jumat 07.30-12.00 12.00-14.30 14.30-17.00

Kerja aktif Istirahat Kerja aktif

b. Bagian Produksi

Untuk bagian pengolahan pekerja dibagi atas 2 shift, yaitu:

1. Shift I : (Pukul 07.30-15.30) 2. Shift II : (Pukul 15.30-23.30) 3. ShiftIII : (Pukul 23.30-07.30)

Waktu istirahat untuk karyawan bagian pengolahan diberikan selama 1 jam tetapi tidak ditentukan jadwal yang tetap. Waktu istirahat tersebut tergantung pada pengaturan waktu tenaga kerja di stasiun kerja masing-masing dengan ketentuan di setiap stasiun tidak boleh kosong. Pergantian shift dilakukan setiap 1 bulan sekali dan mendapat hari libur 1 hari yaitu hari Minggu.

4.1.5 Proses Pengolahan

Sifter

Cooler

Vitamin & air

(QUALITY CONTROL)

PRODUK

Gambar 4.2 Proses Produksi di PT Indojaya Unit Aquafeed Sumber : Profil PT. Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed

INTAKE HAND ADD 1

HAND ADD 2 CHIATUNG

&

PRESSMILL TRIUMP 1 &

TRIUMPH 2

BAGGING

PANEL PRODUKSI

PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed menghasilkan pakan ikan apung dan tenggelam setiap harinya. Untuk mengkasilkan pakan tersebut terdapat tujuh stasiun yaitu stasiun Intake, stasiun Bagging, stasiun Panel Produksi, stasiun Hand Add 1, stasiun Hand Add 2, stasiun Chia-Tung dan Pressmill, stasiun Triump 1 dan Triump 2.

a. Stasiun Intake

Bagian intake merupakan tahapan awal dalam produksi untuk memasukkan semua bahan baku yang dibutuhkan kedalam bin. Penuangan bahan baku dilakukan secara manual dimana pekerja memindahkan karung dari forklift. Pada tahap ini diperlukan peran petugas quality control (QC) untuk memeriksa bahan yang akan dimasukkan apakah sudah sesuai dengan resep atau tidak.

b. Stasiun Hand Add 1

Pada tahap dilakukan pencampuran bahan baku bertujuan untuk meratakan bahan sementara kedalam bahan baku bila bahan belum penuh pada bin sehingga diperlukan peranan petugas quality control (QC) untuk memeriksa dosis/jumlah bahan yang dimasukkan. Setelah itu, semua bahan diaduk dan dicampurkan kemudian dihaluskan sesuai dengan standar partikel dengan menggunakan mesin Penghalusan (Atomizer) dan Mesin Hammer Mill

c. Stasiun Hand Add 2

Pada tahap ini dilakukan penambahan vitamin secara manual, karena apabila dimasukkan melalui mesin, vitamin bisa hilang karena suhu yang terlalu panas.

Mesin yang digunakan pada sta.siun ini adalah Mixer yang berfungsi untuk menghomogenitaskan bahan

Pada proses ini juga dilakukan pengadukan bahan kemudian menambahkan steam, minyak dan air sesuai dengan kadar yang diperlukan serta dilakukan pengaturan speedfeeder dan speedconditioner dengan menggunakan Mesin Conditioner.

d. Stasiun Chia-Tung dan Pressmill

Pada tahap ini, bahan yang telah diaduk kemudian dicetak dengan menggunakan Mesin Extruder. Pada tahap ini peran quality control(QC) diperlukan untuk memeriksa pakah ukuran sudah sesuai atau tidak dan memeriksa kandungan air pada pakan. Setelah itu dilakukan proses pendinginan selama 5 menit. Mesin yang digunakan ialah Mesin Pendingin dan Pengering.

e. Stasiun Triump 1 dan Triump 2.

Merupakan proses pengayakan yang digunakan untuk memisahkan pakan yang sesuai dengan ukuran yang diinginkan (proper size). Ukuran pakan yang oversize (terlalu besar) atau yang undersize (terlalu kecil) akan digunakan untuk diproduksi kembali, dimana mesin yang digunakan adalah Mesin Sifter.

f. Stasiun Bagging

Pada tahap ini pakan yang dihasilakan akan turun ke dalam karung plastik melalui pipa gravitasi secara otomatis dan sudah ditimbang secara otomatis sesuai dengan berat yang telah ditentukan. Kemudian karung plastik dijahit dengan mesin jahit karung. Selanjutnya produk yang dihasilkan dialirkan melalui conveyor dan disusun ke atas pallet. Di stasiun ini terdapat mesin Hammer Mill, yang berdekatan dengan stasiun Hand Add 1.

g. Stasiun Panel Produksi

Stasiun Panel Produksi merupakan sebuat tempat dengan ruangan tertutup dimana didalamnya berfungsi untuk mengatur dosis/jumlah bahan baku, air, dan steam yang akan dimasukkan kedalam bin, juga dikakukan untuk mengatur proses jalannya produksi, dimana hal tersebut dilakukan dengan menggunakan komputer.

4.2 Karakteristik Pekerja Produksi pada PT Indojaya Agrinusa Unit Aquaafeed

4.2.1 Distribusi Umur Pekerja

Data umur terendah adalah 29 dan data tertingi adalah 49. Data dikelompokkan berdasarkan kelas interval. Gangguan Pendengaran ditandai dengan penurunan persepsi terhadap bunyi frekuensi tinggi dan penurunan kemampuan membedakan bunyi, serta diasumsikan menyebabkan kenaikan ambang dengar 0,5 dB setiap tahun, dimulai dari usia 40 tahun (Djojodibroto,1999). Namun apabila seseorang sering terpapar kebisingan diatas 85 dB, walaupun usianya belum sampai 40 tahun, kemampuan pendengarannya dapat menurun. Distribusi pekerja pabrik berdasarkan umur dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Pekerja Bagian Produksi Berdasarkan Umur di PT.

Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018

No. Umur (Tahun) Jumlah Persen (%)

Berdasaekan tabel diatas, pekerja pada bagian produksi paling banyak berumur 29-40 tahun yaitu berjumlah 13 orang (77.8%) dan paling sedikit berumur 41-52 tahun yaitu berjumlah 4 orang (22.2%)

4.2.2 Masa Kerja Pekerja

Masa kerja yang paling rendah adalah 2 tahun dan yang paling tinggi adalah 17 tahun. Penurunan kemampuan pendengaran akibat bising dapat terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya lima tahun atau lebih. (Soepardi, dkk). Distribusi pekerja bagian produksi berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 4.3. Distribusi Pekerja Bagian Produksi Menurut Masa Kerja di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018

No. Masa Kerja (Tahun) Jumlah Persen (%)

Dari tabel diatas dapat dilihat distribusi pekerja menurut masa kerja yang terbanyak yakni ≥5 tahun bekerja yaitu sebanyak 13 orang (72.2%) dan masa kerja <5 tahun bekerja sebanyak 5 orang (27.8%)

4.2.3 Riwayat Gangguan Pendengaran

Distribusi pekerja menurut riwayat gangguan pendengaran yakni semua pekerja tidak memiliki riwayat gangguan pendengaran

4.2.4 Stasiun Kerja

Tabel 4.4. Jumlah Pekerja Berdasarkan Stasiun Kerja di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018

No. Stasiun / Bagian Jumlah (Orang) Triumph 1 and Triumph 2

3

Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah pekerja terbanyak berasal dari stasiun bagging sebanyak 6 orang, stasiun intake, chiatung presmill, triumph 1 dan triumph 2, masing-masing sebanyak 3 orang.

4.3 Hasil Pengukuran

4.3.1 Intensitas Kebisingan Lingkungan Kerja

Pengukuran intensitas kebisingan lingkungan kerja dilakukan di 7 titik stasiun kerja.

Tabel 4.5. Intensitas Kebisingan Pada Stasiun Kerja Sampel Tenaga Kerja Bagian Produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018 Stasiun / Bagian Intensitas

Kebisingan Triumph 1 & Triumph 2

86,3

Berdasarkan tabel diatas, terdapat 7 titik pengukuran bising, 6 titik dengan intensitas bising diatas NAB dan 1 titik dengan intensitas dibawah NAB. Bising pada lingkungan kerja berasal dari mesin produksi

Pekerja bagian produksi lebih banyak bekerja di lingkungan kerja dengan intensitas kebisingan >85dB, yaitu berjumlah 17 orang (94,4%), sedangkan pada intensitas kebisingan ≤ 85, yaitu berjumlah 1 orang (5,6%). Pekerja yang terpapar intensitas kebisingan >85dB berada pada stasiun intake (3 orang), bagging (6 orang), hand add 1 (1 orang), hand add 2 (1 orang), chiatung and pressmil (3 orang), dan triumph 1 and 2 (3 orang). Pekerja yang terpapar intensitas bising <85 berada di stasiun panel produksi (1 orang).

4.3.2 Gangguan Pendengaran

Tabel 4.6. Distribusi Pekerja Berdasarkan Klasifikasi Tingkat Gangguan Pendengaran Tenaga Kerja Bagian Produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018

No. Gangguan

Pendengaran

Telinga Kanan Telinga Kiri

N % N % pendengarannya normal sebanyak 2 orang (11,1%), tuli ringan sebanyak 13 orang (72,2%), dan tuli sedang sebanyak 3 orang (16,7%). Untuk telinga kiri pekerja yang pendengarannya normal sebanyak 2 orang (11,1%), tuli ringan sebanyak 15 orang (83,3%), dan tuli sedang sebanyak 1 orang (5,6%).

4.4 Tabulasi Silang antara Umur dengan Gangguan Pendengaran Tabel 4.7. Tabulasi Silang antara Umur dengan Gangguan Pendengaran

Gangguan Pendengaran Telinga

Dari tabel diatas, dapat dilihat hasil penelitian menunjukkan umur jumlah sampel yang paling banyak mengalami gangguan pendengaran yaitu pada kelompok umur ≤40 tahun dengan tuli ringan sebanyak 9 orang pada telinga kanan dan 11 orang pada telinga kiri, tuli sedang 3 orang pada telinga kanan dan 1 orang tuli sedang pada telinga kanan. Sedangkan pada kelompok umur >40 tahun terdapat 4 orang yang mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan 4 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri. Telinga normal dialami pada kelompok umur <40 tahun sebanyak 2 orang pada telinga kanan dan 2 orang pada telinga kiri.

4.5 Tabulasi Silang antara Masa Kerja dengan Gangguan orang mengalami tuli sedang pada telinga kiri. Pada masa kerja ≥5 tahun terdapat 8 orang mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 3 orang mengalami tuli sedang pada telinga kanan, dan 11 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri. Telinga normal kanan dan kiri terdapat 2 orang pada masa kerja ≥5 tahun.

4.6 Tabulasi Silang antara Intensitas Bising Stasiun Kerja dengan Gangguan Pendengaran

Tabel 4.9. Tabulasi Silang antara Intensitas Bising Stasiun Kerja dengan Gangguan Pendengaran

Pada tabel diatas, didapati bahwa pekerja pada stasiun intake mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan kiri. Pada stasiun bagging, 4 orang pekerja mengalami tuli ringan dan 2 orang mengalami tuli sedang pada telinga kanan, serta tuli 5 orang pekerja mengalami tuli ringan. Pada stasiun Hand Add 1 dan Hand Add 2, semua pekerja mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan kiri.

Pada stasiun Chiatung dan Pressmill, terdapat 2 pekerja mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 2 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri, dan 1 orang mengalami tuli sedang pada telinga kiri. Pada stasiun Triump 1 & 2, 2 orang mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 1 orang tuli sedang pada telinga kanan, dan 3 orang mengalami tuli ringan mengalami tuli ringan pada telinga kiri.

Telinga normal sebelah kanan dan kiri dialami oleh pekerja yang bekerja pada Stasiun Panel Produksi. Juga dialami oleh satu pekerja pada Stasiun Bagging pada

telinga sebelah kiri, dan pada satu pekerja pada Stasiun Chiatung dan Pressmill pada telinga sebelah kanan.

4.7 Hubungan Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran

Setelah data diperoleh, maka data kebisingan dan gangguan pendengaran telinga kanan dan telinga kiri harus diuji apakah telah berdistribusi normal. Untuk menguji kenormalan data digunakan One Sample Kolmogorof Smirnov Test. Dan untuk melihat hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran tenaga kerja bagian produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed tahun 2018, maka dilakukan Uji Korelasi Spearman dengan taraf signifikansi ( α ) sebesar 0,05.

Hasil pengujian statistik hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.10. Hubungan Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran Pekerja Bagian Produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed tahun 2018

No. Hubungan Variabel N R P

1.

2.

Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran Telinga Kanan

Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran Telinga Kiri Untuk telinga kanan, didapat korelasi positif antara intesitas kebisingan dengan gangguan pendengaran pekerja, artinya terdapat hubungan antara kedua variabel yaitu kenaikan intensitas kebisingan akan diikuti naiknya nilai ambang gangguan pendengaran pada tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien korelasi sebesar 0,040. Dari hasil uji korelasi diatas, didapat p < 0,05 yang artinya ada hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran.

Untuk telinga kiri, didapat korelasi positif antara intensitas kebisingan dengan gangguan pendengaran pekerja, artinya terdapat hubungan antara kedua variabel

yaitu kenaikan intensitas kebisingan akan diikuti naiknya nilai ambang gangguan pendengaran pada tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien korelasi sebesar 0,014. Dari hasil uji korelasi diatas, didapat p < 0,05 yang artinya ada hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Pekerja

5.1.1 Umur Pekerja

Berdasarkan tabel 4.2, pekerja pada bagian produksi paling banyak berumur 29-40 tahun yaitu berjumlah 13 orang (77.8%) dan paling sedikit berumur 41-52 tahun yaitu berjumlah 4 orang (22.2%).

Secara umum faktor usia merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya penurunan pendengaran, walaupun bukan merupakan faktor yang terkait langsung dengan kebisingan di tempat kerja.

Beberapa perubahan yang terkait dengan pertambahan usia dapat terjadi pada telinga. Membran yang ada di telinga bagian tengah, termasuk di dalamnya gendang telinga menjadi kurang fleksibel karena bertambahnya usia. Selain itu, tulang-tulang kecil yang terdapat di telinga bagian tengah juga menjadi lebih kaku dan sel-sel rambut di telinga bagian dalam dimana koklea berada juga mengalami kerusakan.

Gangguan pendengaran ditandai dengan penurunan persepsi terhadap bunyi frekuensi tinggi dan penurunan kemampuan membedakan bunyi, serta diasumsikan menyebabkan kenaikan ambang dengar 0,5 dB setiap tahun, dimulai dari usia 40 tahun (Djojodibroto,1999). Namun apabila seseorang sering terpapar kebisingan diatas 85 dB, walaupun usianya belum sampai 40 tahun, kemampuan pendengarannya dapat menurun. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.7, kelompok umur ≤40 tahun dengan tuli ringan sebanyak 9 orang pada telinga kanan dan 1

orang pada telinga kiri, tuli sedang 3 orang pada telinga kanan dan 1 orang tuli sedang pada telinga kanan.

Usia diatas 40 tahun ditambah terpapar kebisingan yang tinggi dapat memperparah tingkat ketulian, hal ini dapat dilihat untuk untuk kelompok umur

>40 tahun terdapat 4 orang yang mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan 4 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri, artinya semua pekerja mengalami ketulian. Dalam hal ini faktor lain yaitu tingkat kebisingan mempengaruhi tingkat ketulian tersebut (Boeis, 1997).

5.1.2 Masa KerjaPekerja

Lama bekerja sampel yang lebih dari 8 jam sehari menyebabkan sampel terpapar kebisingan lebih lama. NAB kebisingan menurut Permenaker No.13/MEN/X/2011 adalah 85 dB untuk 8 jam kerja perhari. Lama bekerja sampel yang melewati NAB dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan pendengaran pada sampel.

Dari tabel 4.3, dapat dilihat distribusi pekerja menurut masa kerja yang terbanyak yakni ≥5 tahun bekerja yaitu sebanyak 13 orang (72.2%) dan masa kerja <5 tahun bekerja sebanyak 5 orang (27.8%). Pada tabel 4.8, Berdasarkan

Dari tabel 4.3, dapat dilihat distribusi pekerja menurut masa kerja yang terbanyak yakni ≥5 tahun bekerja yaitu sebanyak 13 orang (72.2%) dan masa kerja <5 tahun bekerja sebanyak 5 orang (27.8%). Pada tabel 4.8, Berdasarkan

Dokumen terkait