BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan
“Menjadi Market Leader dan produsen aquafeed terbaik di Sumbagut”
b. Misi
1. Turut serta membangun industri perikanan budidaya yang berkesinambungan
2. Turut mensejahterakan kehidupan pembudidaya
3. Menjadi wadah bagi petani mengembangkan sistem dan teknologi budidaya 4. Menyediakan aquafeed yang berkualitas, higienis dan aman
Menjadi wadah bagi karyawan untuk tumbuh kembang bersama dengan prinsip growing toward mutual prosperity
Pembina
Ketua
Sekretaris
Wakil Ketua
Safety Audit Investagasi &
Rekomendasii Tanggap Darurat
Hazard &
Operasional Study 4.1.3 Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3)
STRUKTUR KEPENGURUSAN KOMITE P2K3 PT. INDOJAYA AGRINUSA SUB UNIT AQUAFEED
Sumber :
Gambar 4.1 Perusahaan PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed 4.1.4 Jam Kerja
Jam kerja yang berlaku di PT. Indojaya Agrinusa dibagi atas dua bagian, yaitu:
a. Bagian Kantor
Untuk bagian ini hanya ada 1 shift kerja dengan 8 jam per hari dan 40 jam per minggu adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Jam Kerja Karyawan Bagian Kantor PT Indojaya Agrinusa
Hari Kerja Jam Kerja Keterangan
Senin-Jumat 07.30-12.00 12.00-14.30 14.30-17.00
Kerja aktif Istirahat Kerja aktif
b. Bagian Produksi
Untuk bagian pengolahan pekerja dibagi atas 2 shift, yaitu:
1. Shift I : (Pukul 07.30-15.30) 2. Shift II : (Pukul 15.30-23.30) 3. ShiftIII : (Pukul 23.30-07.30)
Waktu istirahat untuk karyawan bagian pengolahan diberikan selama 1 jam tetapi tidak ditentukan jadwal yang tetap. Waktu istirahat tersebut tergantung pada pengaturan waktu tenaga kerja di stasiun kerja masing-masing dengan ketentuan di setiap stasiun tidak boleh kosong. Pergantian shift dilakukan setiap 1 bulan sekali dan mendapat hari libur 1 hari yaitu hari Minggu.
4.1.5 Proses Pengolahan
Sifter
Cooler
Vitamin & air
(QUALITY CONTROL)
PRODUK
Gambar 4.2 Proses Produksi di PT Indojaya Unit Aquafeed Sumber : Profil PT. Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed
INTAKE HAND ADD 1
HAND ADD 2 CHIATUNG
&
PRESSMILL TRIUMP 1 &
TRIUMPH 2
BAGGING
PANEL PRODUKSI
PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed menghasilkan pakan ikan apung dan tenggelam setiap harinya. Untuk mengkasilkan pakan tersebut terdapat tujuh stasiun yaitu stasiun Intake, stasiun Bagging, stasiun Panel Produksi, stasiun Hand Add 1, stasiun Hand Add 2, stasiun Chia-Tung dan Pressmill, stasiun Triump 1 dan Triump 2.
a. Stasiun Intake
Bagian intake merupakan tahapan awal dalam produksi untuk memasukkan semua bahan baku yang dibutuhkan kedalam bin. Penuangan bahan baku dilakukan secara manual dimana pekerja memindahkan karung dari forklift. Pada tahap ini diperlukan peran petugas quality control (QC) untuk memeriksa bahan yang akan dimasukkan apakah sudah sesuai dengan resep atau tidak.
b. Stasiun Hand Add 1
Pada tahap dilakukan pencampuran bahan baku bertujuan untuk meratakan bahan sementara kedalam bahan baku bila bahan belum penuh pada bin sehingga diperlukan peranan petugas quality control (QC) untuk memeriksa dosis/jumlah bahan yang dimasukkan. Setelah itu, semua bahan diaduk dan dicampurkan kemudian dihaluskan sesuai dengan standar partikel dengan menggunakan mesin Penghalusan (Atomizer) dan Mesin Hammer Mill
c. Stasiun Hand Add 2
Pada tahap ini dilakukan penambahan vitamin secara manual, karena apabila dimasukkan melalui mesin, vitamin bisa hilang karena suhu yang terlalu panas.
Mesin yang digunakan pada sta.siun ini adalah Mixer yang berfungsi untuk menghomogenitaskan bahan
Pada proses ini juga dilakukan pengadukan bahan kemudian menambahkan steam, minyak dan air sesuai dengan kadar yang diperlukan serta dilakukan pengaturan speedfeeder dan speedconditioner dengan menggunakan Mesin Conditioner.
d. Stasiun Chia-Tung dan Pressmill
Pada tahap ini, bahan yang telah diaduk kemudian dicetak dengan menggunakan Mesin Extruder. Pada tahap ini peran quality control(QC) diperlukan untuk memeriksa pakah ukuran sudah sesuai atau tidak dan memeriksa kandungan air pada pakan. Setelah itu dilakukan proses pendinginan selama 5 menit. Mesin yang digunakan ialah Mesin Pendingin dan Pengering.
e. Stasiun Triump 1 dan Triump 2.
Merupakan proses pengayakan yang digunakan untuk memisahkan pakan yang sesuai dengan ukuran yang diinginkan (proper size). Ukuran pakan yang oversize (terlalu besar) atau yang undersize (terlalu kecil) akan digunakan untuk diproduksi kembali, dimana mesin yang digunakan adalah Mesin Sifter.
f. Stasiun Bagging
Pada tahap ini pakan yang dihasilakan akan turun ke dalam karung plastik melalui pipa gravitasi secara otomatis dan sudah ditimbang secara otomatis sesuai dengan berat yang telah ditentukan. Kemudian karung plastik dijahit dengan mesin jahit karung. Selanjutnya produk yang dihasilkan dialirkan melalui conveyor dan disusun ke atas pallet. Di stasiun ini terdapat mesin Hammer Mill, yang berdekatan dengan stasiun Hand Add 1.
g. Stasiun Panel Produksi
Stasiun Panel Produksi merupakan sebuat tempat dengan ruangan tertutup dimana didalamnya berfungsi untuk mengatur dosis/jumlah bahan baku, air, dan steam yang akan dimasukkan kedalam bin, juga dikakukan untuk mengatur proses jalannya produksi, dimana hal tersebut dilakukan dengan menggunakan komputer.
4.2 Karakteristik Pekerja Produksi pada PT Indojaya Agrinusa Unit Aquaafeed
4.2.1 Distribusi Umur Pekerja
Data umur terendah adalah 29 dan data tertingi adalah 49. Data dikelompokkan berdasarkan kelas interval. Gangguan Pendengaran ditandai dengan penurunan persepsi terhadap bunyi frekuensi tinggi dan penurunan kemampuan membedakan bunyi, serta diasumsikan menyebabkan kenaikan ambang dengar 0,5 dB setiap tahun, dimulai dari usia 40 tahun (Djojodibroto,1999). Namun apabila seseorang sering terpapar kebisingan diatas 85 dB, walaupun usianya belum sampai 40 tahun, kemampuan pendengarannya dapat menurun. Distribusi pekerja pabrik berdasarkan umur dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 4.2 Distribusi Pekerja Bagian Produksi Berdasarkan Umur di PT.
Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018
No. Umur (Tahun) Jumlah Persen (%)
Berdasaekan tabel diatas, pekerja pada bagian produksi paling banyak berumur 29-40 tahun yaitu berjumlah 13 orang (77.8%) dan paling sedikit berumur 41-52 tahun yaitu berjumlah 4 orang (22.2%)
4.2.2 Masa Kerja Pekerja
Masa kerja yang paling rendah adalah 2 tahun dan yang paling tinggi adalah 17 tahun. Penurunan kemampuan pendengaran akibat bising dapat terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya lima tahun atau lebih. (Soepardi, dkk). Distribusi pekerja bagian produksi berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 4.3. Distribusi Pekerja Bagian Produksi Menurut Masa Kerja di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018
No. Masa Kerja (Tahun) Jumlah Persen (%)
Dari tabel diatas dapat dilihat distribusi pekerja menurut masa kerja yang terbanyak yakni ≥5 tahun bekerja yaitu sebanyak 13 orang (72.2%) dan masa kerja <5 tahun bekerja sebanyak 5 orang (27.8%)
4.2.3 Riwayat Gangguan Pendengaran
Distribusi pekerja menurut riwayat gangguan pendengaran yakni semua pekerja tidak memiliki riwayat gangguan pendengaran
4.2.4 Stasiun Kerja
Tabel 4.4. Jumlah Pekerja Berdasarkan Stasiun Kerja di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018
No. Stasiun / Bagian Jumlah (Orang) Triumph 1 and Triumph 2
3
Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah pekerja terbanyak berasal dari stasiun bagging sebanyak 6 orang, stasiun intake, chiatung presmill, triumph 1 dan triumph 2, masing-masing sebanyak 3 orang.
4.3 Hasil Pengukuran
4.3.1 Intensitas Kebisingan Lingkungan Kerja
Pengukuran intensitas kebisingan lingkungan kerja dilakukan di 7 titik stasiun kerja.
Tabel 4.5. Intensitas Kebisingan Pada Stasiun Kerja Sampel Tenaga Kerja Bagian Produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018 Stasiun / Bagian Intensitas
Kebisingan Triumph 1 & Triumph 2
86,3
Berdasarkan tabel diatas, terdapat 7 titik pengukuran bising, 6 titik dengan intensitas bising diatas NAB dan 1 titik dengan intensitas dibawah NAB. Bising pada lingkungan kerja berasal dari mesin produksi
Pekerja bagian produksi lebih banyak bekerja di lingkungan kerja dengan intensitas kebisingan >85dB, yaitu berjumlah 17 orang (94,4%), sedangkan pada intensitas kebisingan ≤ 85, yaitu berjumlah 1 orang (5,6%). Pekerja yang terpapar intensitas kebisingan >85dB berada pada stasiun intake (3 orang), bagging (6 orang), hand add 1 (1 orang), hand add 2 (1 orang), chiatung and pressmil (3 orang), dan triumph 1 and 2 (3 orang). Pekerja yang terpapar intensitas bising <85 berada di stasiun panel produksi (1 orang).
4.3.2 Gangguan Pendengaran
Tabel 4.6. Distribusi Pekerja Berdasarkan Klasifikasi Tingkat Gangguan Pendengaran Tenaga Kerja Bagian Produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed Tahun 2018
No. Gangguan
Pendengaran
Telinga Kanan Telinga Kiri
N % N % pendengarannya normal sebanyak 2 orang (11,1%), tuli ringan sebanyak 13 orang (72,2%), dan tuli sedang sebanyak 3 orang (16,7%). Untuk telinga kiri pekerja yang pendengarannya normal sebanyak 2 orang (11,1%), tuli ringan sebanyak 15 orang (83,3%), dan tuli sedang sebanyak 1 orang (5,6%).
4.4 Tabulasi Silang antara Umur dengan Gangguan Pendengaran Tabel 4.7. Tabulasi Silang antara Umur dengan Gangguan Pendengaran
Gangguan Pendengaran Telinga
Dari tabel diatas, dapat dilihat hasil penelitian menunjukkan umur jumlah sampel yang paling banyak mengalami gangguan pendengaran yaitu pada kelompok umur ≤40 tahun dengan tuli ringan sebanyak 9 orang pada telinga kanan dan 11 orang pada telinga kiri, tuli sedang 3 orang pada telinga kanan dan 1 orang tuli sedang pada telinga kanan. Sedangkan pada kelompok umur >40 tahun terdapat 4 orang yang mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan 4 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri. Telinga normal dialami pada kelompok umur <40 tahun sebanyak 2 orang pada telinga kanan dan 2 orang pada telinga kiri.
4.5 Tabulasi Silang antara Masa Kerja dengan Gangguan orang mengalami tuli sedang pada telinga kiri. Pada masa kerja ≥5 tahun terdapat 8 orang mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 3 orang mengalami tuli sedang pada telinga kanan, dan 11 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri. Telinga normal kanan dan kiri terdapat 2 orang pada masa kerja ≥5 tahun.
4.6 Tabulasi Silang antara Intensitas Bising Stasiun Kerja dengan Gangguan Pendengaran
Tabel 4.9. Tabulasi Silang antara Intensitas Bising Stasiun Kerja dengan Gangguan Pendengaran
Pada tabel diatas, didapati bahwa pekerja pada stasiun intake mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan kiri. Pada stasiun bagging, 4 orang pekerja mengalami tuli ringan dan 2 orang mengalami tuli sedang pada telinga kanan, serta tuli 5 orang pekerja mengalami tuli ringan. Pada stasiun Hand Add 1 dan Hand Add 2, semua pekerja mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan kiri.
Pada stasiun Chiatung dan Pressmill, terdapat 2 pekerja mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 2 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri, dan 1 orang mengalami tuli sedang pada telinga kiri. Pada stasiun Triump 1 & 2, 2 orang mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 1 orang tuli sedang pada telinga kanan, dan 3 orang mengalami tuli ringan mengalami tuli ringan pada telinga kiri.
Telinga normal sebelah kanan dan kiri dialami oleh pekerja yang bekerja pada Stasiun Panel Produksi. Juga dialami oleh satu pekerja pada Stasiun Bagging pada
telinga sebelah kiri, dan pada satu pekerja pada Stasiun Chiatung dan Pressmill pada telinga sebelah kanan.
4.7 Hubungan Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran
Setelah data diperoleh, maka data kebisingan dan gangguan pendengaran telinga kanan dan telinga kiri harus diuji apakah telah berdistribusi normal. Untuk menguji kenormalan data digunakan One Sample Kolmogorof Smirnov Test. Dan untuk melihat hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran tenaga kerja bagian produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed tahun 2018, maka dilakukan Uji Korelasi Spearman dengan taraf signifikansi ( α ) sebesar 0,05.
Hasil pengujian statistik hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10. Hubungan Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran Pekerja Bagian Produksi di PT Indojaya Agrinusa Unit Aquafeed tahun 2018
No. Hubungan Variabel N R P
1.
2.
Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran Telinga Kanan
Kebisingan dengan Gangguan Pendengaran Telinga Kiri Untuk telinga kanan, didapat korelasi positif antara intesitas kebisingan dengan gangguan pendengaran pekerja, artinya terdapat hubungan antara kedua variabel yaitu kenaikan intensitas kebisingan akan diikuti naiknya nilai ambang gangguan pendengaran pada tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien korelasi sebesar 0,040. Dari hasil uji korelasi diatas, didapat p < 0,05 yang artinya ada hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran.
Untuk telinga kiri, didapat korelasi positif antara intensitas kebisingan dengan gangguan pendengaran pekerja, artinya terdapat hubungan antara kedua variabel
yaitu kenaikan intensitas kebisingan akan diikuti naiknya nilai ambang gangguan pendengaran pada tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien korelasi sebesar 0,014. Dari hasil uji korelasi diatas, didapat p < 0,05 yang artinya ada hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Pekerja
5.1.1 Umur Pekerja
Berdasarkan tabel 4.2, pekerja pada bagian produksi paling banyak berumur 29-40 tahun yaitu berjumlah 13 orang (77.8%) dan paling sedikit berumur 41-52 tahun yaitu berjumlah 4 orang (22.2%).
Secara umum faktor usia merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya penurunan pendengaran, walaupun bukan merupakan faktor yang terkait langsung dengan kebisingan di tempat kerja.
Beberapa perubahan yang terkait dengan pertambahan usia dapat terjadi pada telinga. Membran yang ada di telinga bagian tengah, termasuk di dalamnya gendang telinga menjadi kurang fleksibel karena bertambahnya usia. Selain itu, tulang-tulang kecil yang terdapat di telinga bagian tengah juga menjadi lebih kaku dan sel-sel rambut di telinga bagian dalam dimana koklea berada juga mengalami kerusakan.
Gangguan pendengaran ditandai dengan penurunan persepsi terhadap bunyi frekuensi tinggi dan penurunan kemampuan membedakan bunyi, serta diasumsikan menyebabkan kenaikan ambang dengar 0,5 dB setiap tahun, dimulai dari usia 40 tahun (Djojodibroto,1999). Namun apabila seseorang sering terpapar kebisingan diatas 85 dB, walaupun usianya belum sampai 40 tahun, kemampuan pendengarannya dapat menurun. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.7, kelompok umur ≤40 tahun dengan tuli ringan sebanyak 9 orang pada telinga kanan dan 1
orang pada telinga kiri, tuli sedang 3 orang pada telinga kanan dan 1 orang tuli sedang pada telinga kanan.
Usia diatas 40 tahun ditambah terpapar kebisingan yang tinggi dapat memperparah tingkat ketulian, hal ini dapat dilihat untuk untuk kelompok umur
>40 tahun terdapat 4 orang yang mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan 4 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri, artinya semua pekerja mengalami ketulian. Dalam hal ini faktor lain yaitu tingkat kebisingan mempengaruhi tingkat ketulian tersebut (Boeis, 1997).
5.1.2 Masa KerjaPekerja
Lama bekerja sampel yang lebih dari 8 jam sehari menyebabkan sampel terpapar kebisingan lebih lama. NAB kebisingan menurut Permenaker No.13/MEN/X/2011 adalah 85 dB untuk 8 jam kerja perhari. Lama bekerja sampel yang melewati NAB dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan pendengaran pada sampel.
Dari tabel 4.3, dapat dilihat distribusi pekerja menurut masa kerja yang terbanyak yakni ≥5 tahun bekerja yaitu sebanyak 13 orang (72.2%) dan masa kerja <5 tahun bekerja sebanyak 5 orang (27.8%). Pada tabel 4.8, Berdasarkan masa kerja dapat dilihat masa kerja <5 tahun terdapat 5 orang mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan 4 orang pada telinga kiri dan 1 orang mengalami tuli sedang pada telinga kiri. Pada masa kerja ≥5 tahun terdapat 8 orang mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 3 orang mengalami tuli sedang pada telinga kanan, dan 11 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri. Telinga normal kanan dan kiri terdapat 2 orang pada masa kerja ≥5 tahun.
Masa kerja yang lama di tempat kerja yang bising merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan pendengaran. Fahri (2009) dalam penelitiannya menemukan ada hubungan antara masa kerja dengan gangguan pendengaran pekerja. Tetapi hal ini tidak berarti semakin lama masa kerja, tingkat kemampuan
pendengarannya lebih buruk dibandingkan dengan yang masa kerjanya lebih sedikit, hal ini dapat dilihat dari hasil dimana masa kerja ≥ 5 tahun terdapat 2 orang yang pendengarannya normal pada telinga kanan dan telinga kiri, sedangkan pada masa kerja <5 tahun tidak ada terdapat pendengaran normal pada telinga kanan dan kiri.
(Soepardi, dkk. 2012) mengatakan masa kerja yang lama di tempat kerja yang bising merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan pendengaran.
Tetapi hal ini tidak berarti semakin lama masa kerja, tingkat kemampuan pendengarannya lebih buruk dibandingkan dengan yang masa kerjanya lebih sedikit. Penurunan kemampuan pendengaran akibat bising dapat terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya lima tahun atau lebih.
5.2 Intensitas Kebisingan
Dari hasil pengukuran dapat dilihat bahwa intensitas kebisingan di beberapa stasiun kerja bagian produksi ini telah melewati NAB kebisingan menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.13/MEN/X/2011 yaitu 85 dB untuk waktu kerja 8 jam sehari. Untuk intake, bagging, hand add 1, hand add 2, Chiatung &
Pressmill, dan Triumph 1 & 2 kebisingannya diatas 85 dB. Untuk stasiun panel produksi mempunyai intensitas kebisingan dibawah 85 dB. Stasiun ini tidak
menggunakan mesin tetapi sumber kebisingannya berasal dari mesin-mesin pada stasiun lain.
Stasiun intake dan bagging mempunyai intensitas kebisingan diatas 85 dB.
Hal ini disebabkan posisi stasiun intake dan bagging berada dekat dan satu lokasi dengan stasiun hand add 1 yang menyebabkan intensitas kebisingannya cukup tinggi, karena di stasiun hand add 1 terdapat mesin hammer mill. Dengan posisi mesin yang saling berdekatan pada stasiun intake, bagging, dan hand add 1, hampir seluruh pekerja beresiko terpapar kebisingan yang tinggi, hal ini dibuktikan semua (10 orang) pekerja mengalami tuli pada telinga kanan, dan 9 pekerja mengalami tuli pada telinga kiri. Walaupun ada stasiun kerja yang tidak menggunakan mesin, tetap saja intensitas kebisingannya cukup tinggi. Adanya kebijakan perusahaan yang melakukan pertukaran pekerja antar stasiun juga menyebabkan setiap pekerja pernah terpapar kebisingan.
Begitu juga stasiun hand add 2 mempunyai kebisingan diatas 85 dB dikarenakan terdapat mesin Mixer pada stasiun itu, sehingga didapati semua pekerja pada stasiun ini mengalami tuli ringan pada telinga kanan dan kiri.
Pada stasiun Chiatung PressMill, dimana ada 3 pekerja disana, 2 pekerja mengalami tuli ringan pada telinga kanan, 2 pekerja mengalami tuli ringan pada telinga kiri, dan 1 orang tuli sedang pada telinga kiri.
Pada stasiun Triumph 1 & 2 , dimana stasiun ini memiliki kebisingan yang sangat tinggi disbanding stasiun lain yakni 91.5dB, didapati didapati 2 pekerja mengalami tuli ringan dan satu tuli sedang pada telinga kanan, dan 3 orang mengalami tuli ringan pada telinga kiri.
5.3 Gangguan Pendengaran
Dari pengukuran audiometri, dapat dilihat klasifikasi tingkat kemampuan pendengaran pekerja. Dari tabel 4.8, telinga kanan pekerja sama banyaknya mengalami gangguan pendengaran dengan telinga kiri, hal ini dapat dilihat 2 orang pekerja normal pada telinga kanan dan kiri.
Tuli ringan untuk telinga kiri jumlahnya lebih banyak yaitu sebanyak 15 orang (83,3 %) dibandingkan tuli ringan untuk telinga kanan sebanyak 13 orang (73,3 %). Tuli sedang untuk telinga kanan lebih banyak yaitu sebanyak 3 orang (16,7%) dibandingkan tuli sedang untuk telinga kiri sebanyak satu orang (5,6%).
Untuk tuli berat dan tuli sangat berat pada telinga kanan dan telinga kiri tidak ada.
Terdapat 1 pekerja yang telinga kanan dan kirinya normal bekerja pada stasiun yang intensitas kebisingannya di bawah 85 dB yakni stasiun panel produksi, karena didapati tidak ada mesin pada stasiun ini, dan pekerja bekerja didalam ruangan tertutup.
Untuk tuli ringan pada telinga kanan terdapat pada 13 orang yang bekerja di stasiun dengan intensitas kebisingan diatas 85 dB, yaitu pada pekerja stasiun intake, bagging, stasiun hand add 1 dan 2, stasiun chiatung pressmill, dan stasiun triump 1 dan 2, umur diatas 29 tahun dengan masa kerja diatas 2 tahun. Untuk tuli ringan pada telinga kiri terdapat 15 orang yang bekerja di stasiun dengan intensitas kebisingan diatas 85 dB, yaitu pada pekerja stasiun intake, bagging, stasiun hand add 1 dan 2, stasiun chiatung pressmill, dan stasiun triump 1 dan 2, umur diatas 29 tahun dengan masa kerja diatas 2 tahun.
Ada perbedaan gangguan pendengaran antara telinga kanan dan telinga kiri, namun penyebab pasti adanya perbedaan tersebut belum diketahui. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab perbedaan tersebut.
5.4 Hubungan Intensitas Kebisingan dengan Kemampuan Pendengaran Salah satu faktor lingkungan kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja adalah kebisingan. Kebisingan di tempat kerja dapat mengakibatkan kurangnya kenyamanan, ketenangan kerja, mengganggu indera pendengaran, mengakibatkan penurunan daya dengar dan bahkan mengakibatkan ketulian menetap kepada tenaga kerja yang terpapar kebisingan.
Gangguan pendengaran akibat bising (Noise Induced Hearing Loss/NIHL) adalah penurunan pendengaran tipe sensorineural, yang pada awalnya tidak disadari karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Sifat gangguannya adalah tuli sensorineural tipe koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga.
Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialah intensitas bising, frekuensi, lama pajanan perhari, lama masa kerja, kepekaan individu, umur dan faktor lain yang dapat berpengaruh (Manoppo, N Fauziah. dkk).
Pendengaran normal mempunyai nilai ambang batas pendengaran dari 0 dB sampai 25 dB. Tenaga kerja mengalami gangguan pendengaran akibat bising apabila nilai ambang pendengarannya diatas 25 dB. Dari tabel 4.8 dapat dilihat dari 18 pekerja, sebanyak 16 pekerja mengalami gangguan pendengaran untuk telinga kanan dan telinga kiri. Gangguan pendengaran terjadi secara perlahan, sehingga hal ini sering tidak disadari oleh penderitanya. Ketika penderita mulai
mengeluh kurang pendengaran, biasanya penurunan kemampuan pendengaran sudah dalam tahap yang tidak dapat disembuhkan.
Dari hasil pengukuran diperoleh pekerja yang bekerja pada stasiun yang memiliki intensitas kebisingan yang tinggi mengalami gangguan pendengaran.
Hal ini dapat diakibatkan karena pemaparan yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama sertanya kurangnya pemakaian alat pelindung telinga. Stasiun yang tingkat kebisingannya dibawah 85 dB namun dengan masa kerja yang cukup lama, berpengaruh untuk terjadinya gangguan pendengaran.
Untuk melihat apakah ada hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran pada tenaga kerja bagian produksi digunakan uji korelasi spearman dengan taraf signifikansi α sebesar 0,05. Dari hasil uji diketahui ada hubungan intensitas kebisingan dengan gangguan pendengaran pada tenaga kerja baik untuk telinga kanan maupun telinga kiri dari nilai p < 0,05. Dan didapat korelasi positif antara intensitas kebisingan dengan gangguan pendengaran tenaga kerja, artinya terdapat hubungan antara kedua variabel.
BAB VI
BAB VI