BAB V PEMBAHASAN
5.2 Fasilitas Sanitasi Dasar
5.2.1 Sanitasi Dasar di Sekolah yang Memiliki UKS
Sanitasi dasar pada sekolah diatur dalam Kepmenkes RI No. 1429 tahun 2006. Kualitas air pada sekolah ini baik, air tidak berwarna, berasa dan berbau, hal ini dikarenakan sumber air berasal dari PDAM yang telah dijamin kualitasnya, namun kuantitas air di sekolah ini belum baik, air tidak mengalir pada siang hari, hal ini mengakibatkan air yang tersedia hanya sejumlah air yang dapat ditampung didalam bak hingga penuh. Ukuran bak adalah 0,625 m3 sehingga air yang dapat ditampung dalam bak sampai bak penuh adalah 625 liter, sekolah memiliki 2 jamban untuk murid sehingga jumlah air bersih adalah 1250 liter, sedangkan kuantitas air bersih yang ditentukan oleh Kepmenkes RI No. 1429 tahun 2006 adalah 11790 liter (15liter/orang/hari).
Tidak terpenuhinya syarat kuantitas air bersih dikarenakan sumber air sering mengalir hanya pada saat pagi hari, pada siang hari air sering berhenti mengalir. Kurangnya air bersih dapat menjadi faktor yang mengakibatkan murid tidak melaksanakan tindakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) walaupun mereka memiliki pengetahuan dan sikap yang baik mengenai PHBS seperti mencuci tangan dengan air bersih serta menggunakan jamban sekolah untuk buang air besar dan buang air kecil.
Tidak ada yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam menanggulangi hal tersebut selain memberikan izin kepada murid-murid untuk dapat menggunakan jamban guru pada siang hari karena jamban guru biasanya masih memiliki air bersih.
Hal ini perlu diatasi mengingat sarana air bersih merupakan kebutuhan utama dalam sanitasi dasar, kurangnya sanitasi dasar dapat mengakibatkan timbulnya penyakit seperti diare, kecacingan dan penyakit kulit (Azwar,1995).
5.2.1.2 Sarana Jamban
Letak jamban terpisah dari ruang belajar, perpustakaan, ruang guru, ruang UKS dan ruang lainnya, jamban terpisah antara laki-laki dan perempuan, lantai tidak terdapat genangan air, tersedia ventilasi yang langsung berhubungan dengan udara luar, didalam bak tidak ditemukan jentik nyamuk, namun jamban tidak dalam keadaan bersih terutama pada siang hari hal ini dikarenakan air bersih yang tidak cukup, dengan jumlah murid laki-laki 380 murid dan murid perempuan 406 murid proporsi jamban pun tidak memenuhi syarat, untuk laki-laki tidak 1:40 dan untuk perempuan tidak 1:25, hanya terdapat 2 jamban di sekolah tersebut.
Jamban dalam keadaan tidak bersih, terutama ketika siang hari dikarenakan sumber air bersih yaitu PDAM pada siang hari sering tidak mengalir/mati sehingga jamban sering dibiarkan dalam keadaan kotor. Hal ini mengakibatkan timbulnya bau yang tidak sedap dan mengganggu estetika, namun bau yang ditimbulkan tidak mengganggu murid di dalam kelas dikarenakan letak jamban yang tidak bersebelahan dengan ruang belajar.
Jamban yang hanya berjumlah dua buah dianggap sekolah mampu mencukupi kebutuhan murid, hal ini dikarenakan seluruh murid tidak masuk sekolah dalam waktu bersamaan, sebagian murid masuk pagi dan sebagian siang, selama ini tidak pernah terdapat antrian panjang murid didepan jamban.
5.2.1.3 Sarana Tempat Sampah
Sarana pembuangan sampah, sekolah hanya memenuhi satu komponen yakni tersedianya tempat penampungan sampah sementara dari masing-masing kelas. Terdapat tempat sampah di tiap ruangan kelas namun tempat sampah tidak dilengkapi dengan tutup, sehingga belum memenuhi syarat sanitasi dasar sarana pembuangan sampah, walaupun tanpa tutup namun tidak mengganggu estetika dikarenakan sampah dibuang ketika telah penuh dan walau tidak penuh tetap akan dibuang setiap harinya ke penampungan sampah sementara, tempat penampungan sampah sementara terletak disebelah salah satu ruang kelas, berbentuk kubus dan terbuat dari bahan aluminium, sampah menumpuk melebihi wadah penampungnya hal ini dikarenakan sampah diangkut ketika petugas kebersihan melewati sekolah tersebut, biasanya sekali setiap harinya ketika sore hari dan bila petugas kebersihan tidak mengangkut sampah maka sampah dibiarkan, tidak dibakar ataupun dikubur. Hal ini dapat
menimbulkan bau terutama pada saat hujan dan dapat menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk dikarenakan sampah di sekolah paling banyak adalah sampah plastik yang dapat menampung air saat hujan.
Murid yang bersekolah di sekolah ini memiliki tindakan kesehatan yang baik. Jarang terdapat sampah yang berserakan di dalam kelas maupun dihalaman sekolah, tempat sampah dimasing-masing kelas tidak memiliki tutup namun tidak menganggu dikarenakan dibuang setiap hari, dan tidak terdapat murid yang bermain didekat tempat pembuangan sampah sementara.
5.2.1.4 Sarana Pembuangan Air Limbah
Sekolah yang memiliki UKS ini memenuhi 4 komponen dalam SPAL yakni memiliki SPAL, SPAL terbuat dari bahan kedap air yakni semen, SPAL mengalir lancar sehingga tidak mencemari lingkungan hal ini dikarenakan dibersihkan setiap minggunya terutama saat kegiatan gotong royong dilakukan. SPAL tidak tertutup, namun dibersihkan setiap minggunya oleh petugas kebersihan sekolah sehingga tidak menimbulkan bau atau mengganggu estetika. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) di sekolah ini baik.
Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang baik disekolah didukung oleh tindakan murid yang tidak membuang sampah sembarangan dan ikut serta dalam kegiatan gotong royong membersihkan SPAL.
SPAL yang tidak tertutup tidak mengganggu estetika dikarenakan mengalir lancar dan dibersihkan secara rutin. SPAL yang memenuhi syarat sanitasi tidak menjadi sarang perindukan nyamuk (Fresh,2002).
Total skor maksimal fasilitas sanitasi dasar adalah 20, sekolah ini memiliki total skor 14 dengan persentase 70%, berdasarkan kategori yang ada maka sanitasi dasar di sekolah yang memiliki UKS ini adalah baik.
Keberadaan UKS membantu sekolah dalam menanggulangi kelemahan yang ada pada sanitasi dasar di sekolah tersebut. Berjalannya program UKS memberikan pengetahuan yang lebih pada murid sehingga meminimalisir penyakit yang dapat terjadi akibat kesehatan lingkungan yang tidak baik.
Hal ini sesuai dengan penelitian Simon (2007) mendapatkan bahwa 85% sekolah yang memiliki sanitasi dasar baik telah menjalankan program UKS. Penelitian Ardiana (2011) didapatkan bahwa sanitasi dasar di sekolah-sekolah Kecamatan Medan Barat meliputi ketersediaan air bersih dan SPAL seluruhnya baik, sedangkan jamban dan sarana pembuangan sampah sebagian besar (>50%) tidak baik.
Sesuai dengan uraian dalam Depkes RI (2001) dinyatakan bahwa salah satu program UKS meliputi menyehatkan lingkungan kehidupan sekolah untuk meningkatkan derajat kesehatan murid.
5.2.2 Fasilitas Sanitasi Dasar di Sekolah yang Tidak Memiliki UKS