• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONDISI LINGKUNGAN HIDUP

B.2. Sanitasi lingkungan

Sanitasi lingkungan merupakan sebuah upaya/usaha dalam pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia, yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia. Upaya yang dilakukan meliputi penyediaan air besih, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan sampah dan pengelolaan air limbah.

Sanitasi lingkungan berkaitan erat pada perilaku menjaga kebersihan dan kesehatan pada lingkungan tempat kita berada. Sanitasi lingkungan bertujuan untuk mencegah diri sendiri maupun lingkungan untuk bersentuhan langsung dengan kotoran atau bahan buangan/limbah lainnya. Pemerintah Kabupaten Bantul dalam hal usaha meningkatkan sanitasi lingkungan telah membangun sejumlah sarana maupun prasarana kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat.

1. Air Bersih

Untuk menunjang berbagai aktivitas yang terjadi didalam sebuah pemukiman salah satunya adalah air bersih. Ketersediaan akan air bersih sangatlah penting dalam sebuah pemukiman yang sehat. Untuk itu menjaga agar ketersedian air bersih terus ada, salah satunya dengan cara menjaga hutan kita sehingga peresapan air hujan dapat maksimal. Salah satu kegunaan air bersih adalah sebagai air minum. Pemenuhan kebutuhan akan air minum sebagian besar penduduk kabupaten Bantul berasal dari ledeng, sumur, hujan, dan kemasan

(Tabel SE-2). Penggunaan sumber air minum yang paling besar berasal dari sumur dengan jumlah rumah tangga sebanyak 229.696 KK dan diurutan kedua sebanyak 22.760 KK dengan ledeng sebagai sumber air minum.

Penggunaan sumur sebagai sumber air minum dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun 2010 sebanyak 169.226 KK menjadi 229.696 KK ditahun 2014 atau mengalami peningkatan sebesar 35,73%.Kecamatan Banguntapan merupakan pengguna tertinggi, sebesar 30.602 KK. Sedangkan terendah di kecamatan Dlingo sebesar 5.003 KK.

Untuk penggunaan ledeng sebagai sumber air minum, ditahun 2010 sebanyak 15.379 KK naik menjadi 22.760 KK pada tahun 2014mengalami peningkatan sebesar 48%. Pengguna ledeng tertinggi di kecamatan Panjangan sebanyak 5.001 KK sedangkan terendah di kecamatan Kretek sebanyak 46 KK. Penggunaan air hujan sebagai sumber air minum terbesar terdapat di kecamatan Piyungan sebanyak 1.096 KK, terendah di kecamatan Srandakan sebanyak 6 KK.

2. Limbah Rumah Tangga

Salah satu dari upaya sanitasi lingkungan adalah pengelolaan pembuangan limbah kotoran manusia. Limbah kotoran manusia merupakan hasil ekskresi manusia berupa tinja dan urine. Dan merupakan media kultur yang baik bagi pertumbuhan beberapa spesies mikroba baik yang patogen maupun non patogen. Oleh sebab itu penangan limbah tersebut harus dilaksanakan baik secara pribadi maupun kelompk.

Penangan limbah secara kelompok dilakukan dengan cara pembangunan IPAL komunal seperti di Pendowoharjo kecamatan Sewon. Meskipun IPAL tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat yang disebabkan oleh faktor kemiringan tanah. Namun pemerintah kabupaten Bantul mengambil kebijakan bahwa setiap pengembang rumah yang lokasinya berdekatan dengan jaringan limbah harus menyalurkan limbahnya melalui jaringan terpusat (IPAL Sewon).

Pembangunan fasilitas tempat buang air besar merupakan sarana penting dalam menunjang kesehatan masyarakat dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

Fasilitas tersebut meliputi pembuatan jamban sendiri, bersama maupun umum seperti pada tabel SP-8. Berdasarkan tabel tersebut, jumlah rumah yang memiliki tempat buang air besar sendiri pada tahun 2014 mencapai 281.380 rumah tangga.Kemudian rumah tangga yang tidak mempunyai jamban sebesar 2.678 rumah tangga. Kecamatan Sewonmerupakan kecamatan dengan jumlah rumah tangga yang mempunyai jamban sendiri dengan jumlah rumah tangga sebesar52.995rumah tanggasedangkan terendah di kecamatan Kretek sebanyak 7.881rumah tangga. Untuk tempat buang air besar bersama berjumlah 2.165 rumah tangga.Sedangkan fasilitas tempat buang air besar umum dikabupaten Bantul tidak ada.Jumlah Masyarakat yang tidak mempunyai tempat buang air besar berjumlah 2.678 rumah tangga, tertinggi di Kecamatan Jetis yang mencapai 641rumah tangga dan terendah di Kecamatan Sanden yang mencapai 24rumah tangga.

3. Sampah

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan sampah yang dihasilkan meningkat juga. Untuk itu upaya peningkatan pengelolan sampah terus dilakukan dari tahun ke tahun sehingga sampah yang dihasilkan penduduk tidak menjadi beban lingkungan yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Cara-cara pembuangan sampah yang dilakukan oleh masyarakat adalah diangkut, penimbunan, dibakar, dibuang ke kali atau lainnya.

Di kabupaten Bantul ada sebagian masyarakat yang telah mengelola sampah dengan prinsip 3R dan membentuk jejaring sampah mandiri yang terdiri dari beberapa kelompok pengelola sampah berbasis masyarakat dari beberapa wilayah Kecamatan.Dan berdasarkan data pada tabel SP-9perkiraan jumlah timbulan sampah per hari dengan asumsi satu orang menghasilkan 0,0025 m3/hari. Jumlah sampah yang dihasilkan per hari di 17 kecamatan sebesar 2.282,3375 m3/hari.

Penghasil sampah terbesar ada di kecamatan Piyungan sebesar 262,3625 m3/hari. Dan terendah sebesar 77,7100m3/hari terdapat di kecamatan Srandakan. Tingginya timbulan sampah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kepadatan penduduk yang tinggi dan peningkatan aktivitas serta belum semua pihak mempunyai kemampuan maupun kemauan dalam mengelola sampah dengan prinsip 3R. Berdasarkan data dari tahun 2010 hingga 2014 timbulan sampah yang terjadi tiap tahunnya meningkat dengan kenaikan rata-rata sebesar 28,0595 m3/hari meskipun pada tahun 2014 tidak terjad kenaikkan timbulan sampah. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 72. Grafik Tren Timbulan Sampah

Peningkatan volume sampah rumah tangga maupun industri tidak dapat dihindarkan lagi. Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait menyediakan TPS sebanyak 110 dan kontainer sebanyak 21 buah yang tersebar di berbagai tempat seperti komplek perkantoran, pemukiman, pasar, sekolah dan lain sebagainya untuk kemudian diangkut ke TPA Piyungan yang merupakan kerjasama dari pemerintah kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul (Sekber Kertamantul). Upaya meningkatkan perilaku masyarakat agar terlibat dalam penanganan sampah dilakukan melalui bantuan sarana-prasarana

2142,04 2190,46 2526,6725 2.282,3375 2282,3375 1900 2000 2100 2200 2300 2400 2500 2600 2010 2011 2012 2013 2014 Ti m bu lan S am pah m 3/har i Tahun Timbulan Sampah Timbulan Sampah

penelolaan sampah seperti di sekolah, pemukiman, kelompok pengelola sampah, perkantoran dan tempat-tempat umum dan lain-lain untuk menurunkan volume sampah yang dibuang di TPA (Tempat pemrosesan Akhir)

C.

KESEHATAN

Dokumen terkait