BAB I PENDAHULUAN
E. Tinjauan Pustaka
3. Sanksi Pidana menurut KUHP dan Hukum Islam
Sistem hukuman atau sanksi pidana diatur dalam Buku Pertama Bab II, yakni di dalam Pasal 10 sampai dengan Pasal 43. Pasal 10 dari ketentuan tersebut membagi hukuman atau sanksi pidana ke dalam dua kelompok, yaitu hukuman pokok (hukuman utama) dan hukuman tambahan. Untuk jenis-jenisnya dari masing-masing kelompok akan di uraikan sebagai berikut:
1) Hukuman pokok (Hukuman utama)
56 Ibid hal xii
Hukuman pokok ini di dalam KUHP terdiri atas beberapa jenis hukuman atau sanksi pidana, yaitu:
a) Hukuman mati
Hukuman mati merupakan suatu hukuman yang langsung mengenai jiwa seseorang yang melakukan suatu tindak pidana. Oleh karena yang menjadi sasaran dari hukuman ini adalah jiwa seseorang yang merupakan kepentingan manusia yang mahabesar, maka jenis hukuman yang satu ini sangat ditakuti. Setiap orang yang dikenai hukuman mati tidak ada kemungkinan lagi untuk mengulangi perbuatannya, dan karena alasan ini pula seorang hakim yang akan menjatuhkan hukuman mati harus bersikap hati-hati.
Mengingat besarnya konsekuensi yang diterima atas penjatuhan hukuman ini, maka KUHP hanya mencantumkan hukuman mati sebagai sanksi pidana ke dalam beberapa Pasal saja, yaitu Pasal 104 (makar terhadap presiden dan wakil presiden), Pasal 111 ayat (2) (membujuk negara asing untuk bermusuhan atau berperang, jika permusuhan itu dilakukan atau jadi perang), Pasal 123 ayat (3) (membantu musuh waktu perang), Pasal 140 ayat (3) (makar terhadap raja atau kepala negara-negara sahabat yang direncanakan dan berakibat maut), Pasal 340 (pembunuhan berencana), Pasal 365 ayat (4) (pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan luka berat atau mati), Pasal 368 ayat (2) (pemerasan dengan kekerasan yang mengakibatkan luka berat atau mati),
dan Pasal 444 (pembajakan di laut, pesisir dan sungai yang mengakibatkan kematian).
b) Hukuman penjara
Hukuman penjara merupakan hukuman yang dikenakan terhadap kemerdekaan seseorang. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Roeslan Saleh bahwa pidana penjara adalah pidana utama di antara pidana kehilangan kemerdekaan.57 Dalam sejarahnya, hukuman ini baru mulai dipergunakan terhadap orang Indonesia sejak tahun 1918 waktu mulai berlaku KUHP. Sebelum tanggal itu, mereka biasanya dihukum dengan kerja paksa di luar atau di dalam “rantai” (sebetulnya sebuah gelang leher).58
Sesuai dengan Pasal 12 KUHP, hukuman penjara terdiri atas hukuman penjara seumur hidup dan hukuman penjara sementara. Dalam hal hukuman penjara sementara, ayat (2) Pasal tersebut menentukan sekurang-kurangnya satu hari dan selama-lamanya lima belas tahun berturut-turut. Akan tetapi lamanya hukuman tersebut boleh ditambah menjadi selama-lamanya dua puluh tahun dalam hal kejahatan yang menurut pilihan hakim sendiri boleh dihukum mati, penjara seumur hidup dan penjara sementara, dan dalam hal lima belas tahun itu dilampaui, sebab hukuman ditambah, karena ada gabungan kejahatan
57 Roeslan Saleh, Op.cit, hal 62
58 CST. Kansil & Cristine ST. Kansil, Pokok-pokok Hukum Pidana, Hukum Pidana Untuk Tiap Orang, (Jakarta: Pradnya Paramita 2004), hal 59
atau karena berulang-ulang membuat kejahatan atau karena aturan pasal 52.59
c) Hukuman kurungan
Sama halnya dengan hukuman penjara, sasaran dari hukuman kurungan adalah terhadap kemerdekaan seseorang. Akan tetapi jenis hukuman ini lebih ringan dari hukuman penjara. Jika di dalam hukuman penjara sekurang-kurangnya satu hari dan selama-lamanya lima belas tahun, maka dalam hal hukuman kurungan perbedaannya terletak pada batas lamanya dari hukuman tersebut, yakni maksimal satu tahun.
Sementara untuk batas terendah tidak ada ubahnya dengan hukuman penjara yaitu satu hari. Namun untuk hal-hal tertentu, batas selama-lamanya satu tahun dari hukuman kurungan dapat dilampaui menjadi selama-lamanya satu tahun empat bulan dalam hal dimana hukuman ditambah lantaran ada beberapa kejahatan yang dilakukan berulang-ulang, atau karena hal-hal yang ditentukan dalam pasal 52 (Pasal 18 ayat (2) KUHP).60
d) Hukuman denda
Berdasarkan urutan pidana pokok dalam pasal 10 KUHP, terkesan bahwa pidana denda adalah pidana pokok yang paling ringan. Walaupun tidak ada ketentuan yang dengan tegas menyatakan demikian. Pidana denda dalam KUHP diancamkan terhadap seluruh tindak pidana pelanggaran (dalam Buku III KUHP) dan juga terhadap tindak pidana
59 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politea 1998), hal 38.
60 Ibid, hal 47
kejahatan (dalam Buku II KUHP), tetapi kejahatan-kejahatan ringan dan kejahatan yang dilakukan dengan tidak sengaja.
Kebanyakan pidana denda itu diancamkan sebagai alternative dari pidana kurungan atau penjara. Di dalam KUHP sendiri, sedikit sekali tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana denda. Untuk kejahatan dalam Buku II hanya terdapat satu delik, yaitu dalam Pasal 403 (pengurus atau komisaris perseroan membantu atau mengizinkan perbuatan yang berlawanan dengan anggaran dasar), sedangkan untuk pelanggaran dalam Buku III hanya terdapat dalam 40 pasal dari keseluruhan pasal-pasal tentang pelanggaran.
Sistem KUHP tidak mengenal batas maksimum umum pidana denda, melainkan hanya batas maksimum khusus dalam pasal-pasalnya.
Sebaliknya dalam KUHP ditentukan batas minimum umum pidana denda yaitu sebesar dua puluh lima sen (Rp 250,-). Bila ditelusuri maka jumlah pidana denda paling tinggi dalam KUHP adalah sebesar Rp 150.000,- sebagaimana diancamkan dalam Pasal 251 (tanpa izin menyediakan atau memasukkan ke Negara Indonesia keping-keping atau papan-papan dari perak) dan Pasal 403 (pengurus atau komisaris perseroan membantu atau mengizinkan perbuatan yang berlawanan dengan anggaran dasar), sedangkan untuk pelanggaran (Buku III) pidana denda paling tinggi adalah Rp. 75.000,- yang terdapat dalam Pasal 568 (menandatangani surat izin pengangkutan di laut yang bertentangan dengan peraturan) dan
Pasal 569 (menanatangani surat jalan yang bertentangan dengan ketentuan).
Jika dicermati, tentu saja jumlah denda yang diancamkan dalam KUHP sangat ringan bila dibandingkan dengan kerugian akibat delik yang dilakukan. Untuk mengatasi hal tersebut dikeluarkanlah PERPU No. 18 Tahun 1960 untuk menyesuaikan jumlah denda yang ada di dalam KUHP dengan melipatgandakankanya menjadi lima belas kali.
Selanjutnya, berdasarkan ketentuan Pasal 30 ayat (2) KUHP, pidana denda dapat diganti dengan pidana kurungan dalam hal si terpidana tidak mampu atau tidak mau membayar denda yang dibebankan kepadanya, hal ini disebut juga sebagai hukuman kurungan pengganti (subsider). Tidak ada alat pemaksa agar terpidana denda membayar denda yang dijatuhkan kepadanya. Adapun hukuman kurungan pengganti denda tersebut ditentukan oleh hakim dalam surat keputusannya (vonis) tentang berapa lama hukuman kurungan harus dijalani bila denda tidak dibayar.
2) Hukuman tambahan
Berbeda dengan hukuman pokok yang sifatnya imperatif, hukuman tambahan merupakan hukuman yang bersifat fakultatif, artinya: jika sesuatu delik diancam juga dengan satu (atau beberapa) hukuman tambahan, maka hakim harus menjatuhkan kepada si tersalah satu
hukuman utama, akan tetapi hukuman tambahan yang diancam baru dijatuhkan oleh hakim jika dianggapnya perlu.61
Berikut akan diuraikan secara ringkas masing-masing dari jenis hukuman tambahan ini:
a) Pencabutan hak-hak yang tertentu
Pencabutan hak-hak tertentu diatur dalam Pasal 35 sampai dengan 38, Pasal 47 ayat (3) dan Pasal 67 KUHP. Hak-hak tersebut terdiri atas hak menjabat segala jabatan atau jabatan tertentu, hak masuk pada angkatan bersenjata (angkatan darat, laut dan udara), hak memilih dan hak boleh dipilih pada pemilihan yang dijalankan menurut undang-undang umum, hak menjadi wali atau kurator atas orang lain yang bukan anaknya sendiri.62
Selengkapnya Pasal 35 ayat (1) KUHP menyebutkan bahwa hak-hak yang dengan putusan hak-hakim dapat dicabut dalam hal-hal yang ditentukan dalam kitab undang-undang ini, atau dalam aturan umum lainnya ialah:63
1. Hak-hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan yang tertentu;
2. Hak masuk Angkatan Bersenjata;
3. Hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturan-aturan umum;
61CST. Kansil & Cristine ST. Kansil, Op.cit, hal 64
62 Ibid, hal 65
63 KUHP & KUHAP, (Permata Press, 2007) hal 24
4. Hak menjadi penasihat hukum atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menjadi wali, wali pengawas, pengampu atau pengampu pengawas, atas orang yang bukan anak sendiri;
5. Hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian, atau pengampuan atas anak sendiri;
6. Hak menjalankan mata pencaharian tertentu.
Dalam hal dilakukan pencabutan hak, pasal 38 ayat (1) KUHP mengatur bahwa hakim menentukan lamanya pencabutan hak sebagai berikut:64
1. dalam hal pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, lamanya pencabutan seumur hidup;
2. dalam hal pidana penjara untuk waktu tertentu atau pidana kurungan, lamanya pencabutan paling sedikit dua tahun dan paling banyak lima tahun lebih lama dari pidana pokoknya;
3. dalam hal pidana denda, lamanya pencabutan paling sedikit dua tahun dan paling banyak lima tahun.
Pencabutan hak tersebut mulai berlaku pada hari putusan hakim dapat dijalankan. Dalam hal ini hakim tidak berwenang memecat seorang pejabat dari jabatannya jika dalam aturan-aturan khusus ditentukan penguasa lain untuk pemecatannya.
b) Perampasan barang-barang yang tertentu
64 Ibid, hal 25
Pidana perampasan barang-barang tertentu merupakan jenis pidana harta kekayaan, seperti halnya pidana denda. Ketentuan mengenai perampasan barang-barang tertentu terdapat dalam Pasal 39 KUHP yaitu:65
(1) Barang-barang kepunyaan terpidana yang diperoleh dari kejahatan atau yang disengaja dipergunakan untuk melakukan kejahatan dapat dirampas;
(2) Dalam hal pemidanaan karena kejahatan yang tidak dilakukan dengan sengaja atau karena pelanggaran dapat juga dijatuhkan putusan perampasan berdasaran hal-hal yang ditentukan dalam undang-undang;
(3) Perampasan dapat dilakukan terhadap orang yang bersalah yang diserahkan kepada pemerintah tetapi hanya atas barang-barang yang telah disita.
Perampasan atas barang-barang yang tidak disita sebelumnya diganti menjadi pidana kurungan apabila barang-barang itu tidak diserahkan atau harganya menurut taksiran dalam putusan hakim tidak dibayar. Kurungan pengganti paling sedikit satu hari dan paling lama enam bulan. Kurungan pengganti ini juga dihapus jika barang-barang yang dirampas diserahkan.
65 Ibid
c) Pengumuman putusan hakim
Pengumuman putusan hakim diatur dalam Pasal 43 KUHP yang mengatur bahwa:66
“Apabila hakim memerintahkan supaya putusan diumumkan berdasarkan kitab undang-undang ini atau aturan-atauran umum lainnya maka ia harus menetapkan pula bagaimana cara melaksanakan perintah itu atas biaya terpidana.”
Pidana tambahan pengumuman putusan hakim ini dimaksudkan terutama untuk pencegahan agar masyarakat terhindar dari kelihaian busuk atau kesembronoan seorang pelaku. Pidana tambahan ini hanya dapat dijatuhkan apabila secara tegas ditentukan berlaku untuk pasal-pasal tindak pidana tertentu.
b. Sanksi Pidana menurut kajian Hukum Islam
Berbicara mengenai sanksi pidana atau hukuman dalam hukum pidana Islam tidak lepas dari tuduhan-tuduhan terhadap hukuman tersebut yang kerap kali digambarkan sebagai sesuatu yang kejam, tidak manusiawi dan bar-bar. Hal ini dapat dimaklumi oleh karena ketidaktahuan dari yang menilai tersebut terhadap hukum pidana Islam itu sendiri. Seringkali bentuk-bentuk hukuman tersebut hanya dilihat dari satu sisi saja, yaitu kemanusiaan menurut standard abad 20 yang dianggap paling beradap. Tidak dilihat alasan, maksud, tujuan, dan keefektifan hukuman-hukuman tersebut.67
66 Ibid, hal 26
67 Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam, Op.cit, hal 185
Pandangan yang tidak objektif seperti di atas hanya menilai sanksi dalam hukum pidana Islam dari sisi kejamnya saja, tanpa melihat sisi lainnya, seperti kejamnya perbuatan kriminal dari si pelaku itu sendiri, kokohnya landasan dari hukuman tersebut berupa Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi SAW sehingga keadilan yang terkandung dalam setiap hukumannya merupakan apa yang adil bagi hambanya menurut Allah SWT. Selain itu, hukuman yang langsung ditentukan oleh Allah SWT memiliki kadar kepastian hukum yang tinggi oleh karena adanya larangan bagi manusia untuk mengubah hukuman tersebut. Sementara, dari sisi pelaksanaannya sendiri, suatu hukuman yang dijatuhkan hanya dapat dilakukan jika telah memenuhi syarat-syarat yang ketat, sehingga menjauhnkannya dari unsur kesewenang-wenangan.
Berikut ini berdasarkan penggolongan oleh Topo Santoso akan diuraikan macam-macam sanksi atau hukuman dalam hukum pidana Islam yang dapat dibagi menjadi beberapa penggolongan, yaitu:68
Penggolongan pertama didasarkan atas pertalian satu hukuman dengan hukuman lainnya, dalam hal ini ada empat jenis hukuman:
1) Hukuman pokok („uqubah asliah), misalnya hukuman qisas untuk tindak pidana penganiayaan.
2) Hukuman pengganti („qubah badaliah), merupakan pengganti hukuman pokok yang tidak dapat dilaksanakan karena alas an yang sah, seperti hukuman diat sebagai pengganti hukuman qisas, atau hukuman ta‟zir sebagai pengganti hukuman had atau qisas yang tidak dapat
68 Ibid. hal 188
dilaksanakan. Sebenarnya hukuman diyat itu sendiri adalah hukuman pokok untuk pembunuhan semi sengaja (menyerupai sengaja), demikian pula hukuman ta‟zir merupakan hukuman pokok untuk tindak pidana ta‟zir.
3) Hukuman tambahan („uqubah taba‟iah), yaitu hukuman yang mengikuti hukuman pokok tanpa memerlukan keputusan tersendiri seperti larangan menerima warisan bagi pelaku pembunuhan terhadap keluarganya sebagai tambahan hukuman qisas, atau hukuman pencabutan hak sebagai saksi bagi orang yang melakukan tindak pidana qadzaf (memfitnah orang lain berzina).
4) Hukuman pelengkap („uqubah takmillah), yaitu hukuman yang mengikuti hukuman pokok dengan syarat ada keputusan tersendiri dari hakim.
Penggolongan kedua, ditinjau dari segi kekuasaan hakim dalam menentukan berat ringannya hukuman. Dalam hal ini ada dua macam hukuman, yaitu:
1) Hukuman yang hanya mempunyai satu batas, artinya tidak ada batas tertinggi atau batas terendahnya, seperti hukuman cambuk sebagai hukuman had (80 atau 100 kali).
2) Hukuman yang mempunyai batas tertinggi dan batas terendah, hakim diberi kebebasan memilih hukuman yang sesuai antara kedua batas itu, seperti hukuman penjara atau cambuk pada tindak pidana ta‟zir.
Penggolongan ketiga, ditinjau dari segi besarnya hukuman yang telah ditentukan, yaitu:
1) Hukuman yang telah ditentukan macam dan besarnya, dimana hakim harus melaksanakan tanpa dikurangi atau ditambah, atau diganti dengan hukuman lain. Hukuman ini disebut dengan hukuman keharusan („uqubah lazimah).
2) Hukuman yang diserahkan kepada hakim untuk dipilihnya dari sekumpulan hukuman yang ditetapkan oleh syari‟at agar bisa disesuaikan dengan keadaan pelaku dan perbuatannya. Hukuman ini disebut hukuman pilihan („uqubah mukhayyarah).
Penggolongan keempat, ditinjau dari segi tempat dilakukannya hukuman, yaitu:
1) Hukuman badan;
2) Hukuman jiwa;
3) Hukuman harta;
Penggolongan kelima, merupakan yang terpenting dan yang nantinya akan dibahas lebih jauh. Penggolongan ini ditinjau dari segi jenis tindak pidana yang diberi ancaman hukuman, yaitu:
1) Hukuman hudud, yaitu hukuman yang ditetapkan atas tindak pidana hudud.
2) Hukuman qisas-diyat, yaitu hukuman yang ditetapkan atas tindak pidana qisas-diyat.
3) Hukuman kifarat, yaitu hukuman yang ditetapkan untuk sebagian tindak pidana qisas-diyat dan beberapa tindak pidana ta‟zir.
4) Hukuman ta‟zir yaitu hukuman yang ditetapkan untuk tindak pidana ta‟zir.
Sementara itu, Zainuddin Ali membagi jenis hukuman yang menyangkut tindak pidana kriminal dalam hukum pidana Islam kedalam dua bagian, yaitu:69
1) Ketentuan hukuman yang pasti mengenai berat ringannya hukuman termasuk qhisash dan diat yang tercantum di dalam Al-Qur‟an dan Hadis.
Hal dimaksud disebut hudud.
2) Ketentuan hukum yang dibuat oleh hakim melalui putusannya byang disebut hukuman ta‟zir.